Penjelajah Hadis Bahasa Indonesia مكتشف الحديث باللغة الإنجليزية
 
Hadith   565   الحديث
الأهمية: كنا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تسعة أو ثمانية أو سبعة، فقال: ألا تُبايعون رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
Tema: Kami sedang duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Waktu itu jumlah kami sembilan atau delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, "Apakah kalian tidak mau membaiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?"

عن عوف بن مالك الأشجعي -رضي الله عنه- قال: كنا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تسعة أو ثمانية أو سبعة، فقال: «ألا تُبايعون رسول الله -صلى الله عليه وسلم-؟» وكنَّا حَدِيث عهد بِبَيْعة، فقلنا: قد بايَعْنَاك يا رسول الله، ثم قال: «ألا تُبايعون رسول الله» فبَسَطْنَا أيْدِينا، وقلنا: قد بَايَعْناك فَعَلَام نُبايِعُك؟ قال: «على أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئًا، والصلوات الخمس وتطيعوا الله» وأَسَر كلمة خفيفة «ولا تسألوا الناس شيئًا» فلقد رأيت بعض أولئك النَّفرَ يسقط سَوطُ أحدهم فما يسأل أحدًا يناولُه إيَّاه.

Dari Abu Abdirrahman 'Auf bin Malik Al-Asyja'i -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami sedang duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Waktu itu jumlah kami sembilan atau delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, "Apakah kalian tidak mau membaiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Padahal kami baru saja melakukan baiat. Kami berkata, "Bukankah kami sudah membaiatmu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Apakah kalian tidak bersedia membaiat Rasulullah?" Lantas kami mengulurkan tangan sambil berkata, "Kami telah membaiatmu, dalam hal apa lagi kami harus membaiatmu?" Beliau bersabda, "Kalian harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menunaikan salat lima waktu dan menaati Allah," beliau membisikkan satu kalimat, "Janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia!". Sungguh aku saksikan bahwa salah seorang di antara kelompok tersebut ada yang cambuknya terjatuh dan ia tidak mau meminta kepada seseorang untuk mengambilkan cambuknya.

عن عوف بن مالك الأشجعي -رضي الله عنه- قال: (كنا جلوساً عند رسول الله، فقال: ألا تبايعون رسول الله وكنا حديث عهد ببيعة) كانت هذه البيعة ليلة العقبة قبل بيعة الهجرة وبيعة الجهاد والصبر عليه.
فقلنا: (قد بايعناك يا رسول الله)
ثم قال: (ألا تبايعون رسول الله) زاد أبو داود في روايته بعد قولهم: قد بايعناك حتى قالها ثلاثاً.
قوله: (فبسطنا أيدينا) أي نشرناها للمبايعة.
وقلنا: (قد بايعناك يا رسول الله) يعني: أولاً (فعلام نبايعك) أي فعلى أيّ شيىء نبايعك الآن.
قال: (أن تعبدوا) أي أبايعكم على عبادة الله (وحده) أي منفرداً وهو حال من الجلالة (ولا تشركوا به شيئاً) أي من الشرك أو من المعبودات.
و (الصلوات الخمس) أي وتصلوا الصلوات كما صرح به أبو داود.
و (تطيعوا الله) أي في كل ما أمركم به أو اجتناب ما نهاكم عنه.
و (أسر كلمة خفية) إنما أسر هذه الكلمة دون ما قبلها لأن ما قبلها وصية عامة وهذه الجملة مختصة ببعضهم، والمراد بالكلمة المعنى اللغوي وهي الجملة المبيّنة بقوله: (ولا تسألوا الناس شيئاً) قال القرطبي: هذا حمل منه على مكارم الأخلاق والترفع عن تحمل منن الخلق وتعظيم الصبر على مضض الحاجات والاستغناء عن الناس وعزّة النفس.
قال عوف: (فلقد رأيت بعض أولئك النفر يسقط سوط أحدهم فما يسأل أحدًا يناوله إياه) والمراد منه: سؤال الناس أموالهم فحملوه على عمومه، وفيه التنزّه عن جميع ما يسمى سؤالاً وإن كان حقيراً. وهذا بيان لما كان عليه السلف الصالح من إتباع القول العمل، وتطبيق العلم الذي أخذوه من النبي -صلى لله عليه وسلم-، وروى الإمام أحمد عن أبي ذرّ: "لا تسألنّ أحداً شيئاً وإن سقط سوطك ولا تقبض أمانة".

Dari 'Auf bin Malik Al-Asyja'i -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Kami sedang duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bersabda, "Apakah kalian tidak mau membaiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Padahal kami baru saja melakukan baiat." Bai'at ini terjadi pada malam 'Aqabah sebelum baiat hijrah dan baiat jihad serta bersabar di dalamnya. Kami berkata, "Bukankah kami sudah membaiatmu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Apakah kalian tidak bersedia membaiat Rasulullah?" Abu Daud menambahkan redaksi dalam riwayatnya setelah ucapan mereka, "Kami sudah membaiatmu," hingga mengucapkan perkataan itu tiga kali. Ucapannya, "Lantas kami mengulurkan tangan," Yakni, kami bentangkan tangan untuk baiat. Kami berkata, "Kami telah membaiatmu, wahai Rasulullah?" Yakni, pertama. "dalam hal apa lagi kami harus membaiatmu?" Yakni, sekarang kami harus berbaiat apa kepadamu? Beliau bersabda, "Kalian harus menyembah Allah," Yakni, aku membaiat kalian untuk ibadah kepada Allah "semata" Yakni, esa, dan ini salah satu bentuk keagungan. "dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun," Yakni, sesuatu yang syirik atau hal-hal yang disembah. "menunaikan salat lima waktu" Yakni, kalian harus melaksanakan salat lima waktu sebagaimana dijelaskan oleh Abu Daud. "mendengar dan mentaati," Yakni, penguasa dan orang yang diperintahkan oleh Allah untuk dipatuhi selain dalam kemaksiatan kepada-Nya. "beliau membisikkan satu kalimat," Sesungguhnya beliau membisikkan kata ini yang berbeda dengan sebelumnya, karena kata-kata sebelumnya adalah pesan umum. Sedangkan kalimat yang dibisikkan ini khusus untuk mereka. Yang dimaksud dengan Al-Kalimah adalah secara bahasa yaitu ungkapan yang terdiri dari "Janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia." Al-Qurṭubi berkata, "Kalimat ini ditafsirkan sebagai bagian dari kemuliaan akhlak, tidak mau membebani orang lain, mengagungkan kesabaran menghadapi penderitaan dalam memenuhi kebutuhan, tidak bergantung pada manusia, dan menjaga harga diri." 'Auf berkata, "Sungguh, aku saksikan bahwa salah seorang di antara kelompok tersebut ada yang cambuknya terjatuh dan ia tidak mau meminta tolong kepada seseorang untuk mengambilkannya." Maksudnya, meminta harta dari manusia. Kemudian ditafsirkan secara umum. Di dalamnya terkandung menahan diri dari segala bentuk permintaan, meskipun barang sepele. Ini merupakan penjelasan mengenai perilaku golongan salaf yang baik, yang mengaplikasikan ucapan dalam amal dan menerapkan ilmu yang mereka ambil dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Żarr, "Janganlah sekali-kali engkau meminta sesuatu kepada siapapun, meskipun cambukmu jatuh darimu dan janganlah engkau memikul amanat."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4176

 
Hadith   566   الحديث
الأهمية: مثل الذي يَذْكُر رَبَّهُ والذي لا يَذْكُره مثل الحيِّ والميِّت
Tema: Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya, seperti orang hidup dengan orang mati.

عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكره مثل الحي والميت»
وفي رواية: «مثل البيت الذي يُذْكَرُ الله فيه، والبيت الذي لا يُذْكَرُ الله فيه، مثل الحيِّ والميِّت».

Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya, seperti orang hidup dengan orang mati."
Dalam satu riwayat disebutkan, "Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dengan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti orang yang hidup dengan orang yang mati."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن الذي يَذْكر الله -تعالى- قد أحيا الله قلبه بذكره وشرح له صدره، فكان كالحي بسبب ذكر الله -تعالى- والمداومة عليه، بخلاف من لا يَذْكر الله -تعالى-، فهو كالميت الذي لا وجود له. فهو حيٌّ ببدنه ميتٌ بقلبه.
وهذا مَثَل ينبغي للإنسان أن يعتبر به وأن يَعْلَم أنه كلما غَفَل عن ذكر الله عز وجل، فإنه يقسو قلبه وربما يموت قلبه والعياذ بالله.    
قال -تعالى-: (أومن كان ميتا فأحييناه وجعلنا له نورًا يمشي به في الناس كمن مثله في الظلمات ليس بخارج منها).

Tema: Makna hadis: Sesungguhnya orang yang berzikir kepada Allah -Ta'ālā-, berarti Allah telah menghidupkan hatinya dengan zikir kepada-Nya dan melapangkan dadanya. Ia seperti orang yang hidup disebabkan zikir kepada Allah -Ta'ālā- dan kontinu melaksanakannya. Ini berbeda dengan orang yang tidak berzikir kepada Allah -Ta'ālā-. Orang itu seperti mayit yang tidak ada wujudnya. Tubuhnya hidup, tetapi hatinya mati. Inilah perumpamaan yang harus dijadikan cermin oleh manusia dan ia harus tahu bahwa ketika ia lalai dari zikir kepada Allah -'Azza wa Jalla-, maka hatinya mengeras dan mungkin saja hatinya mati. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga ia tidak dapat keluar dari sana?"

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4177

 
Hadith   567   الحديث
الأهمية: فوالله للدُّنْيَا أهونُ على الله من هذا عليكم
Tema: Demi Allah, sungguh dunia lebih hina bagi Allah dari (bangkai) ini di mata kalian

عن جابر -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- مر بالسوق والناس كَنَفَتَيَهِ، فمر بِجَدْيٍ أَسَكَّ ميت، فتناوله فأخذ بأذنه، ثم قال: «أيكم يحب أن يكون هذا له بدرهم؟» فقالوا: ما نحب أنه لنا بشيء وما نصنع به؟ ثم قال: «أتحبون أنه لكم؟» قالوا: والله لو كان حيا ًكان عيباً، إنه أسك فكيف وهو ميت! فقال: «فو الله للدنيا أهون على الله من هذا عليكم».

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati pasar, dan orang-orang berada di kedua sisi beliau. Lantas beliau melintasi bangkai kambing kecil yang telinganya terpotong. Beliau memungut anak kambing itu dan memegang telinganya lalu bersabda, "Siapakah di antara kalian yang mau membeli bangkai anak kambing ini dengan satu dirham?" Mereka menjawab, "Kami tak sudi dengan berapa pun. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?" Beliau bertanya, "Apakah kalian mau anak kambing ini untuk kalian (cuma-cuma)?" Mereka menjawab, "Seandainya ia masih hidup, kambing ini tetap cacat, telinganya putus. Apalagi sudah jadi bangkai." Lantas beliau bersabda, "Demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah dari bangkai ini di mata kalian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبرنا جابر -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- مرَّ في السوق بجدي أسك، والجدي من صغار الماعز، وهو أسك: أي مقطوع الأذنين، فأخذه النبي -عليه الصلاة والسلام- ورفعه وقال: هل أحد منكم يريده بدرهم؟" قالوا: يا رسول الله، ما نريده بشيء قال: هل أحد منكم يود أن يكون له؟ قالوا: لا. قال: إن الدنيا أهون عند الله -تعالى- من هذا الجدي.
أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يبين لأصحابه ولأمته من بعده أن الدنيا أهون وأحقر عند الله -تعالى- من هذا الجدي الأسك الميت، التي ترغب عنه النفوس السليمة، فهذا حال الدنيا بالنسبة للآخرة، لا قيمة لها عند الله ولا تزن جناح بعوضة، كما في حديث سهل بن سعد -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه    وسلم-: (لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة، ما سقى كافرا منها شربة ماء). رواه الترمذي.
وأراد النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يحث أصحابه وأمته من بعده على أن يجعلوا الدنيا وسيلة إلى الوصول إلى مراد الله، لا أن تكون غايتهم ومقصدهم، فإن في ذلك هلاكهم.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melintasi bangkai anak kambing yang telinganya putus di pasar. "Al-Jadyu" adalah anak kambing. "Asakku" artinya kedua telinganya terputus. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya dan mengangkatnya lalu bersabda, "Apakah ada di antara kalian yang menginginkannya dengan satu dirham?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, kami tidak menginginkannya meskipun cuma-cuma." Beliau bersabda, "Apakah ada di antara kalian yang menginginkannya untuk dirinya?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah -Ta'ālā- dari bangkai anak kambing ini." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ingin menjelaskan kepada para sahabatnya dan umatnya setelah mereka bahwa dunia itu lebih hina dan lebih rendah di sisi Allah -Ta'ālā- dari bangkai anak kambing yang kedua telinganya terputus, yang tidak disukai oleh jiwa-jiwa yang sehat. Ini keadaan dunia dibandingkan dengan akhirat. Ia tidak ada harganya di sisi Allah walau seberat sayap nyamuk. Hal ini sebagaimana (dijelaskan) dalam hadis Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Seandainya dunia ini sebanding dengan satu sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau satu teguk air." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bermaksud menganjurkan para sahabatnya dan umat setelahnya agar menjadikan dunia sebagai sarana untuk sampai kepada jalan Allah, bukan sebagai tujuan dan maksud mereka. Sebab, hal itu merupakan kebinasaan bagi mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4178

 
Hadith   568   الحديث
الأهمية: مُرُوا أبا بكر فَلْيُصَلِّ بالناس
Tema: Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!

عن ابن عمر -رضي الله عنهما- قال: لما اشتد برسول الله -صلى الله عليه وسلم- وجعه، قيل له في الصلاة، فقال: «مروا أبا بكر فليُصَلِّ بالناس» فقالت عائشة -رضي الله عنها-: إن أبا بكر رجل رقيق، إذا قرأ القرآن غلبه البكاء، فقال: «مُرُوه فليُصَلِّ».
وفي رواية عن عائشة -رضي الله عنها-، قالت: قلت: إن أبا بكر إذا قام مقامك لم يُسْمعِ الناس من البكاء.

Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat. Beliau bersabda, "Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!" Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya (sensitif). Apabila ia membaca Al-Qur`ān, ia tidak dapat menahan tangisnya." Namun beliau bersabda, "Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk menjadi imam!" Dalam satu riwayat dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak dapat mendengar bacaan salatnya karena tangisnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لما اشتد الوجع برسول الله -صلى الله عليه وسلم- لم يتمكن من إمامة الناس أمر من عنده أن يأمر أبا بكر -رضي الله عنه- بالإمامة، وكان كثير البكاء عند قراءة القرآن، فاعتذرت عائشة -رضي الله عنها- بذلك لكن في حديث الباب أنه لم يكن بكاؤه من قراءة القرآن مقصودها الأول، بل كان مرادها الأول خشية أن يتشاءم الناس من أبيها، فأظهرت -رضي الله عنها- خلاف ما تسره في باطنها.
ففي رواية في مسلم: "قالت: والله، ما بي إلا كراهية أن يتشاءم الناس، بأول من يقوم في مقام رسول الله -صلى الله عليه وسلم-"، قالت: فراجعته مرتين أو ثلاثا، فقال: "ليصل بالناس أبو بكر فإنكن صواحب يوسف" والمراد "بصواحب يوسف" إنهن مثل صواحب يوسف في إظهار خلاف ما في الباطن، وهذا الخطاب وإن كان بلفظ الجمع فالمراد به واحدة هي عائشة فقط كما أن المراد بصواحب يوسف: زليخا    فقط كذا قال الحافظ وهي زوجة عزيز مصر آنذاك.
ووجه المشابهة بينهما في ذلك أن زليخا استدعت النسوة وأظهرت لهن الإكرام بالضيافة ومرادها زيادة على ذلك وهو أن ينظرن إلى حسن يوسف ويعذرنها في محبته، إن عائشة أظهرت أن سبب إرادتها صرف الإمامة عن أبيها كونه لا يسمع المأمومين القراءة لبكائه ومرادها زيادة وهو أن لا يتشاءم الناس به، كما صرحت بذلك في بعض طرق الحديث فقالت: "وما حملني على مراجعته إلا أنه لم يقع في قلبي أن يحب الناس بعده رجلاً قام مقامه".
Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras dan tidak mampu untuk menjadi imam, maka beliau memerintahkan orang yang ada di dekatnya agar menyuruh Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengimami salat. Abu Bakar adalah sosok yang banyak menangis (sensitif) ketika membaca Al-Qur`ān. Karena itu, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- beralasan dengan hal tersebut. Hanya saja dalam sebuah hadis pada bab ini dijelaskan bahwa tangisannya karena membaca Al-Qur`ān bukan tujuan pertama Aisyah, tetapi tujuan utamanya karena dikhawatirkan orang-orang merasa pesimis dengan ayahnya. Lantas Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan sesuatu yang berbeda dengan apa yang tersimpan dalam batinnya. Dalam sebuah riwayat dari Muslim disebutkan, Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak ada maksud apa-apa selain karena tidak suka kalau orang-orang merasa pesimis dengan orang yang pertama kali mengganti kedudukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aisyah berkata, "Aku menemui beliau dua atau tiga kali." Namun beliau bersabda, "Hendaknya Abu Bakar mengimami salat manusia. Sesungguhnya kalian itu seperti teman-teman Yusuf." Maksud "teman-teman Yusuf" yaitu mereka itu laksana teman-teman Yusuf dalam menampakkan kebalikan apa yang ada dalam batinnya. Seruan ini meskipun dengan lafal jamak, tetapi maksudnya satu, yaitu Aisyah saja. Sama halnya dengan maksud teman-teman Yusuf adalah Zulaikha saja. Demikian dikatakan oleh Al-Ḥāfiẓ (Ibnu Hajar) bahwa wanita itu adalah istri penguasa Mesir saat itu. Aspek persamaan antara keduanya bahwa Zulaikha mengundang para wanita dan menampakkan penghormatan dengan jamuan, padahal tujuannya lebih dari itu, yaitu agar para wanita tersebut memandang sendiri ketampanan Yusuf dan memaklumi dirinya yang mencintai Yusuf. Sedangkan itu Aisyah menampakkan bahwa sebab keinginannya ialah memalingkan keimaman dari ayahnya, karena para makmum tidak akan mendengar bacaannya yang berbaur dengan tangisannya, sementara maksudnya lebih dari itu agar orang-orang tidak merasa pesimis dengannya, sebagaimana hal ini dijelaskan dari berbagai jalur hadis. Aisyah berkata, "Tidak ada hal yang mendorongku untuk memohon peninjauan ulang, melainkan karena di dalam hatiku terbersit bahwa orang-orang tidak akan mencintai sosok yang menggantikan kedudukan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah wafat.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4179

 
Hadith   569   الحديث
الأهمية: إنَّ مما أخاف عليكم من بَعْدِي ما يُفْتَحُ عليكم من زَهرة الدنيا وزِيَنتها
Tema: Sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian.

عن أبي سعيد الخُدْرِي -رضي الله عنه- قال: جلس رسول الله -صلى الله عليه وسلم- على المِنْبَر، وجلسنا حوله، فقال: «إنَّ مما أخاف عليكم من بَعدي ما يُفتح عليكم من زهرة الدنيا وزِيَنتها».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekitarnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى هذا الحديث أن النبي -صلى الله عليه وسلم- يخاف على أمته بعد موته مما سيفتح عليهم من زخارف الدنيا وزينتها.
وهذا من كمال رحمته وشفقته -صلى الله عليه وسلم- بأمته أن بين لهم ما يخشاه عليهم من زخرفة الدنيا وزينتها، فيضلوا طريق الهدى والفلاح والنجاة إلى أن يفجأهم الموت، فلا اعتذار بعد ذلك.
Makna hadis ini adalah bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- khawatir terhadap umatnya sepeninggalnya dengan dibukakannya keindahan harta dunia dan perhiasannya. Ini merupakan kesempurnaan kasih dan sayang beliau kepada umatnya. Beliau menjelaskan kepada mereka tentang hal yang ditakutkan menimpa mereka berupa keindahan harta dunia dan perhiasannya sehingga membuat mereka tersesat dari jalan petunjuk, keberuntungan dan keselamatan sampai ajal merenggut mereka secara tiba-tiba. Setelah itu tidak ada lagi alasan/maaf.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4180

 
Hadith   570   الحديث
الأهمية: مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا في سَبِيل الله، إيمانًا بالله، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِه، فإن شِبَعَهُ وريَّه ورَوْثَهُ وبَوْلَه في مِيْزَانه يوم القيامة
Tema: Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا في سَبِيل الله، إيمانًا بالله، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِه، فإن شِبَعَهُ وريَّه ورَوْثَهُ وبَوْلَه في مِيْزَانه يوم القيامة».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أن مَن أوقَف فرسًا للجهاد في سبيل الله تعال وابتغاء مرضاته لكي يُحَارب عليه الغزاة، ابتغاء وجه الله تعالى، وتصديقاً بوعده الذي وعَدَ به، حيث قال: (وما تنفقوا من شيء في سبيل الله يوف إليكم) فإن الله يُثِيْبُه عن كل ما يأكله أو يشربه أو يخرجه من بول أو روث، حتى يَضعه له في كِفَّة حسناته يوم القيامة.
وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الطويل: "الخَيل ثلاثة: هي لرَجُلٍ وِزْرٌ، وهي لرَجُل سِتْر، وهي لِرَجُلٍ أجْرٌ . . ثم قال: وأما التي هي له أَجْرٌ، فرَجُل ربَطَها في سبيل الله لأهل الإسلام في مَرْج، أو رَوْضَةٍ فما أكلت من ذلك المَرْجِ أو الرَّوْضَةِ من شيء إلا كُتِبَ له عَدَدَ ما أكَلَتْ حسنات وكتب له عَدَد أرْوَاثِهَا وَأبْوَالِهَا حسنات، ولا تَقْطَعُ طِوَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفاً أو شَرَفَيْنِ إلا كَتَب الله له عَدَد آثَارِهَا، وَأرْوَاثِهَا حسنات، ولا مَرَّ بها صَاحِبُها على نَهْر، فشَربَت منه، ولا يُريد أن يَسْقِيهَا إلا كَتَب الله له عَدَد ما شَرَبت حسنات" متفق عليه.
Orang yang mewakafkan kuda untuk jihad di jalan Allah -Ta'ālā- dan mencari keridaan-Nya supaya para pejuang dapat berperang di atasnya demi mencari keridaan Allah -Ta'ālā- dan membenarkan janji yang telah diberikan-Nya, di mana Dia berfirman, "Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu," maka sesungguhnya Allah memberinya pahala dari segala apa yang dimakan, diminum oleh kuda itu, dan apa yang dikeluarkannya berupa kencing atau tinja, hingga Allah meletakkan pahala itu baginya di piringan timbangan kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat. Dalam hadis panjang dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- disebutkan, "Kuda itu ada tiga macam: Kuda yang menjadi dosa bagi seseorang, menjadi penutup bagi seseorang dan menjadi ladang pahala bagi seseorang... Selanjutnya beliau bersabda, "Adapun kuda yang menjadi pahala, yaitu seseorang mengikatnya di jalan Allah untuk umat Islam, yang digembalakan di tempat penggembalaan atau kebun. Tidaklah kuda itu makan sedikit saja dari tempat penggembalaan atau kebun itu, melainkan dicatat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak yang dimakan kudanya. Dicatat juga kebaikan untuknya sebanyak kotoran dan kencingnya. Tidak pula kuda itu menempuh dengan kakinya lalu berlari ke satu atau dua bukit, melainkan Allah catat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak jejak dan kotorannya. Tidak juga pemiliknya melewati sebuah sungai dengan kudanya itu, lalu kuda tersebut minum dari sungai itu dan ia pun tidak ingin memberinya minum, melainkan Allah catat untuknya kebaikan sebanyak yang diminum kudanya." (Muttafaq 'alaih).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4181

 
Hadith   571   الحديث
الأهمية: يا رسول الله، مَنْ أحقُّ بِحُسْن الصُّحبة؟ قال: أمك، ثم أمك، ثم أمك، ثم أباك، ثم أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ
Tema: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak aku pergauli dengan baik? Beliau menjawab, "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu bapakmu. Kemudian orang yang terdekat denganmu, dan yang terdekat denganmu."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، مَنْ أحقُّ الناس بِحُسن صَحَابَتِي؟ قال: «أمك» قال: ثم مَنْ ؟ قال: «أمك»، قال: ثم مَنْ؟ قال: «أمك»، قال: ثم مَنْ؟ قال: «أبوك». متفق عليه. وفي رواية: يا رسول الله، مَنْ أحقُّ بحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ قال: «أمك، ثم أمك، ثم أمك، ثم أباك، ثم أدْنَاك أدْنَاك».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Seorang lelaki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata,"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Nabi bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau bersabda, "Bapakmu." Muttafaq 'alaih. Dalam riwayat lain disebutkan, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu bapakmu. Lalu orang yang terdekat denganmu, dan yang terdekat denganmu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
هذا الحديث يدل على أن لكل من الأبوين حقًا في المصاحبة الحسنة؛ والعناية التامة بشؤونه (وصاحبهما في الدنيا معروفًا )، ولكن حق الأم فوق حق الأب بدرجات، إذ لم يذكر حقه إلا بعد أن أكد حق الأم تمام التأكيد، بذكرها ثلاث مرات، وإنما علت منزلتها منزلته مع أنهما شريكان في تربية الولد هذا بماله ورعايته؛ وهذه بخدمته في طعامه وشرابه، ولباسه وفراشه و ... إلخ.
لأن الأم عانت في سبيله ما لم يعانه الأب، فحملته تسعة أشهر وهنًا على وهنٍ، وضعفًا إلى ضعف؛ ووضعته كرهًا؛ يكاد يخطفها الموت من هول ما تقاسي، وكذلك أرضعته سنتين، ساهرة على راحته، عاملة لمصلحته وإن برحت بها في سبيل ذلك الآلام وبذلك نطق الوحي: (ووصينا الإنسان بوالديه إحسانا حملته أمه كرها ووضعته كرها وحمله وفصاله ثلاثون شهرا)، فتراه وصى الإنسان بالإحسان إلى والديه؛ ولم يذكر من الأسباب إلا ما تعانيه الأم إشارة إلى عظم حقها.
ومن حسن المصاحبة للأبوين الإنفاق عليهما طعامًا وشراباً، ومسكناً ولباسًا؛ وما إلى ذلك من حاجات المعيشة، إن كانا محتاجين، بل إن كانا في عيشة دنيا أو وسطى؛ وكنت في عيشة ناعمة راضية فارفعهما إلى درجتك أو زد، فإن ذلك من الإحسان في الصحبة.
واذكر ما صنع يوسف مع أبويه وقد أوتي الملك إذ رفعهما على العرش بعد أن جاء بهما من البدو. ومن حسن الصحبة بل جماع أمورها ما ذكره الله بقوله: ( وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولاً كريمًا. واخفض لهما جناح الذل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربياني صغيرا )    فامنع عنهما لسان البذاءة، وجنبهما أنواع الأذى. وأَلن لهما قولك؛ واخفض لهما جناحك؛ وذلل لطاعتهما نفسك، ورطب لسانك بالدعاء لهما من خالص قلبك وقرارة نفسك وقل: (رب ارحمهما كما ربياني صغيرا)، ولا تنس زيادة العناية بالأم، عملا بإشارة الوحي؛ ومسايرة لمنطق الحديث.
Hadis ini menunjukkan bahwa masing-masing dari kedua orang tua memiliki hak untuk mendapatkan pergaulan yang baik dan perhatian yang sempurna terhadap berbagai urusannya, "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara makruf." Hanya saja, hak ibu beberapa derajat di atas hak bapak. Sebab, hak bapak tidak disebutkan kecuali setelah memberikan penegasan yang sempurna mengenai hak ibu dengan menyebutnya tiga kali. Derajat ibu menjadi lebih tinggi dari derajat seorang ayah, padahal kedua-duanya sekutu (partner) dalam mendidik anak. Sang bapak dengan harta dan perhatiannya, dan seorang ibu dengan pelayanannya dalam memberikan makanan, minuman, pakaian, kasur dan sebagainya. Juga karena seorang ibu menderita kepayahan memelihara anaknya yang tidak pernah dirasakan seorang bapak. Ibu mengandungnya sembilan bulan dengan kelemahan di atas kelemahan, keletihan di atas keletihan, dan ia pun melahirkannya dengan susah payah. Kematian hampir saja menyambarnya karena kesusahan yang dideritanya. Demikian juga seorang ibu menyusui anaknya selama dua tahun sambil begadang demi kenyamanan anaknya dan bekerja untuk kemaslahatannya, meskipun rasa pedih tetap ada padanya dalam menjalankan semua itu. Karena itu, wahyu berbicara, "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan." Engkau lihat Allah memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Allah tidak menyebutkan sebab-sebab kecuali apa yang diderita oleh seorang ibu sebagai isyarat besarnya hak ibu. Di antara etika mempergauli kedua orang tua dengan baik yaitu memberi mereka nafkah berupa makanan, minuman, tempat tinggal dan pakaian serta berbagai kebutuhan hidup lainnya, jika keduanya membutuhkannya. Bahkan, jika keduanya ada dalam kehidupan yang minim atau pertengahan, sedangkan engkau hidup nyaman dan sejahtera, maka angkatlah keduanya ke derajat kehidupanmu atau lebih. Sesungguhnya itu adalah bentuk berbuat baik dalam mempergauli keduanya. Ingatlah apa yang dilakukan Yusuf terhadap kedua orang tuanya saat dirinya sudah diberi kekuasaan, ia mengangkat mereka ke atas singgasananya setelah membawa mereka dari perkampungan. Di antara pergaulan yang baik, bahkan penghimpun semua urusan ialah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkahlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." Cegahlah lisan yang buruk dari keduanya, jauhkanlah keduanya dari berbagai gangguan, lembutkanlah ucapanmu kepada keduanya, rendahkanlah dirimu terhadap keduanya, tundukkanlah dirimu untuk mentaatinya, basahilah lidahmu dengan doa bagi keduanya dari sanubari hatimu dan relung jiwamu, serta ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil" Jangan lupa untuk menambah perhatian terhadap ibu sebagai implementasi dari isyarat wahyu dan penyesuaian (adaptasi) dengan logika hadis.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4182

 
Hadith   572   الحديث
الأهمية: من أصابته فَاقَة فأنزلها بالناس لم تُسَدَّ فَاقَتُهُ، ومن أنْزَلها بالله، فَيُوشِكُ الله له بِرزق عاجل أو آجل
Tema: Siapa didera kefakiran, lalu mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah, maka pasti Allah akan segera memberinya rezeki, cepat atau lambat.

عن ابن مسعود -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من أصابته فَاقَة فأنْزَلها بالناس لم تُسَدَّ فَاقَتُهُ، ومن أنْزَلها بالله، فَيُوشِكُ الله له بِرزق عاجل أو آجل».

Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa didera kefakiran, lalu mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah, maka pasti Allah akan segera memberinya rezeki, cepat atau lambat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر ابن مسعود -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: "من أصابته فاقة" أي: حاجة شديدة، وأكثر استعمالها في الفقر وضيق المعيشة.
"فأنزلها بالناس" أي: عرضها عليهم، وأظهرها بطريق الشكاية لهم، وطلب إزالة فاقته منهم.
فالنتيجة: "لم تسد فاقته" أي: لم تقض حاجته، ولم تزل فاقته، وكلما تسد حاجة أصابته أخرى أشد منها
وأما "من أنزلها بالله" بأن اعتمد على مولاه فإنه "يوشك الله" أن يُعجِّل "له برزق عاجل" قريب بأن يعطيه مالا ويجعله غنيا "أو آجل" في الآخرة.
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa didera kesulitan," yaitu kebutuhan yang mendesak. Kata tersebut banyak digunakan untuk menunjukkan kefakiran dan kesempitan hidup. "lalu mengadukannya kepada manusia," yakni memperlihatkan dan menampakkannya dengan cara mengadu kepada mereka serta meminta agar mereka menghilangkannya. Hasilnya, "maka kefakirannya tidak akan terpenuhi." Yakni, kebutuhannya tidak akan terpenuhi dan akan tetap dalam kefakiran. Setiap kali kebutuhannya terpenuhi, maka datang kebutuhan lain yang lebih dahsyat lagi. Sedangkan "Siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah," dengan cara bersandar kepada Tuhannya, maka pasti Allah akan memberinya rezeki yang cepat (di dunia) dengan harta dan kekayaan, atau lambat di akhirat.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4183

 
Hadith   573   الحديث
الأهمية: مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرا، أو وضَع له، أظَلَّهُ الله يوم القيامة تحت ظِل عَرشه يوم لا ظِلَّ إلا ظِلُّه
Tema: Siapa yang menangguhkan (pembayaran hutang) orang yang kesusahan atau menghapusnya, niscaya Allah akan menaunginya pada hari Kiamat di bawah naungan Arasy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرا، أو وضع له، أظَلَّهُ الله يوم القيامة تحت ظِل عرشه يوم لا ظِلَّ إلا ظِلُّه».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang menangguhkan (pembayaran hutang) orang yang kesusahan atau menghapusnya, niscaya Allah akan menaunginya pada hari Kiamat di bawah naungan Arasy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر أبو هريرة أن النبي عليه الصلاة والسلام قال:
(من أنظر معسراً) أي أمهل مديوناً فقيراً، فالإنظار التأخير المرتقب نجازه.
قوله: (أو وضع عنه) أي حط عنه من دينه، وفي رواية أبي نعيم (أو وهب له).
   فالجزاء: (أظله الله يوم القيامة تحت ظل عرشه) أظله في ظل عرشه حقيقة أو أدخله الجنة؛ فوقاه الله من حر يوم القيامة.
وهذا الجزاء يحصل: (يوم لا ظل إلا ظله) أي ظل الله، وإنما استحق المُنظِر ذلك لأنه آثر المديون على نفسه وأراحه فأراحه الله والجزاء من جنس العمل.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang menangguhkan (pembayaran utang) orang yang kesusahan"; yakni, menangguhkan orang fakir yang berutang. Al-Inẓār (penangguhan) adalah menunda sesuatu yang diharapkan bakal dilaksanakan.
Sabda beliau: "atau menghapusnya"; yakni, menggugurkan utangnya. Dalam riwayat Abu Nu'aim: "atau menghibahkannya kepadanya." Adapun balasan Allah untuknya adalah "Allah akan menaunginya pada hari Kiamat di bawah naungan Arasy-Nya"; yakni, Allah menaunginya di bawah naungan Arasy-Nya secara hakiki atau memasukkannya ke surga, lalu Allah melindungi dirinya dari panasnya hari Kiamat. Balasan ini tercapai pada: "hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya"; yakni, naungan Allah. Orang yang menangguhkan pembayaran utang berhak memperoleh balasan seperti itu karena ia telah mengutamakan orang yang berutang terhadap dirinya dan membuatnya tenang, sehingga Allah pun menjadikan dirinya tenang. Dan balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4186

 
Hadith   574   الحديث
الأهمية: من أنْفَق زوْجَيْن في سَبيل الله نُودِي من أبْوَاب الجنَّة، يا عبد الله هذا خَيْرٌ، فمن كان من أهل الصلاة دُعِي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجِهاد دُعِي من باب الجِهاد
Tema: Siapa bersedakah dengan sepasang (hewan, dll) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa yang gemar salat, maka dia dipanggil dari pintu salat, siapa yang gemar berjihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad.

عن أبي هريرة - رضي الله عنه- مرفوعاً: «من أنْفَق زوْجَيْن في سَبيل الله نُودِي من أبْوَاب الجنَّة، يا عبد الله هذا خَيْرٌ، فمن كان من أهل الصلاة دُعِي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجِهاد دُعِي من باب الجِهاد، ومن كان من أهل الصيام دُعِي من باب الرَّيَّانِ، ومن كان من أهل الصَّدَقة دُعِي من باب الصَّدَقة» قال أبو بكر -رضي الله عنه-: بأبي أنت وأمي يا رسول الله! ما على من دُعِي من تلك الأبواب من ضَرورة، فهل يُدْعَى أحَدٌ من تلك الأبواب كلِّها؟ فقال: «نعم، وأرْجُو أن تكون منهم».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa bersedakah dengan sepasang (hewan, dll) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa yang gemar salat, maka dia dipanggil dari pintu salat; siapa yang gemar berjihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang gemar berpuasa, maka dia akan dipanggil dari pintu Rayyān; siapa yang gemar bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah." Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, tidak penting bagiku orang yang dipanggil dari tiap-tiap pintu (untuk masuk surga). Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu?" Beliau bersabda, "Ya, dan aku berharap, engkaulah salah satu orangnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
من تصدق بشيئين من أي شيء مثل المأكولات أو الملبوسات أو المركوبات أو النقود، ابتغاء رضوان الله نادته الملائكة من أبواب الجنَّة مُرَحِّبة بقدومه إليها، وهي تقول: لقد قدمت خيرا ًكثيراً تثاب عليه اليوم ثَوابا ًكبيراً.
فالمكثرون من الصلاة ينادون من باب الصلاة، ويدخلون منه، والمكثرون من الصدقة ينادون من باب الصدقة، ويدخلون منه، والمكثرون من الصوم تستقبلهم الملائكة عند باب الرَّيَّان داعية لهم بالدخول منه، ومعنى الرَّيان: الذي يَروي من العطش؛ لأن الصائمين يمتنعون عن الماء فيصابون بالعطش ولاسيما في أيام الصيف الطويلة الحارة، فيجازون على عطشهم بالري الدائم في الجنة التي يدخلون إليها من ذلك الباب.
فلما سمع أبو بكر -رضي الله عنه- هذا الحديث، قال: يا رسول الله: "بأبي أنت وأمي" من دخل من هذه الأبواب لا نقص عليه ولا خسارة، ثم قال: "فهل يُدْعى أحدٌ من تلك الأبواب كلها"، فقال -صلى الله عليه وسلم-: "نعم وأرجو أن تكون منهم".
Siapa bersedekah dengan sepasang hartanya, apakah berbentuk makanan, pakaian, kendaraan atau uang karena mengharap rida Allah, maka malaikat akan memanggilnya dari pintu surga dan menyambut kedatangannya. Dia berkata, "Engkau telah mempersembahkan banyak kebaikan, dan engkau akan dibalas dengan pahala yang banyak juga. Orang yang banyak salat, akan dipanggil dari pintu salat dan masuk surga dari pintu tersebut. Orang yang sering sedekah, dia akan masuk surga dari pintu tersebut. Yang banyak berpuasa, akan disambut malaikat dari pintu Rayyān seraya mengajak mereka untuk masuk surga dari pintu Rayyān. Arti kata Rayyan adalah meminum sampai lega dan hilang dahaganya. Karena orang-orang berpuasa menahan diri dari minum air sehingga mereka kehausan, khususnya pada musim panas yang panjang, maka haus mereka dibalas dengan minuman abadi di surga yang mereka masuki. Ketika Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar hadis ini, dia berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, siapa saja yang masuk di antara pintu-pintu tersebut tidak akan merasakan kekurangan dan kerugian." Lalu dia bertanya, "Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintunya?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab: "Ya, aku berharap, engkau termasuk salah seorang dari mereka."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4187

 
Hadith   575   الحديث
الأهمية: مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً في سَبِيل الله كُتب له سَبْعُمِائَةِ ضِعْفٍ
Tema: Barangsiapa berinfak satu kali di jalan Allah, maka ditulis untuknya pahala tujuh ratus kali lipat.

عن أبي يحيى خُرَيْم بن فَاتِك -رضي الله عنه- مرفوعاً: «مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً في سَبِيل الله كُتب له سَبْعُمِائَةِ ضِعْفٍ».

Dari Abu Yaḥya Khuraim bin Fātik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa berinfak satu kali di jalan Allah, maka ditulis untuknya pahala tujuh ratus kali lipat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
من أنْفَقَ نفقة قليلة أو كثيرة في سبيل الله -تعالى-، سواء كان في الجهاد في سبيل الله -تعالى- أو في غيره من وجوه البِّر والطاعات، ضاعف الله له الأجر يوم القيامة إلى سبعمائة ضِعف.
Barangsiapa berinfak dengan infak yang sedikit atau banyak di jalan Allah -Ta'ālā-, baik dalam jihad di jalan Allah -Ta'ālā- atau dalam berbagai segi kebajikan dan ketaatan lainnya, niscaya Allah akan melipat gandakan baginya pahala pada hari kiamat sampai tujuh ratus kali lipat.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4188

 
Hadith   576   الحديث
الأهمية: من تَكَفَّلَ لي أن لا يسأل الناس شيئًا، وأَتَكَفَّلُ له بالجنة؟
Tema: Siapakah yang mau memberikan jaminan padaku bahwa ia tidak akan meminta apapun kepada manusia maka aku memberikan jaminan surga baginya?

عن ثوبان -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من تَكَفَّلَ لي أن لا يسأل الناس شيئًا، وأَتَكَفَّلُ له بالجنة؟» فقلت: أنا، فكان لا يَسأل أحدًا شيئًا.

Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapakah yang mau memberikan jaminan padaku bahwa ia tidak akan meminta apapun kepada manusia maka aku memberikan jaminan surga baginya? Aku menjawab, "Saya." Sejak saat itu, Ṡaubān tidak pernah meminta apapun kepada orang lain."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن من التزم للنبي -صلى الله عليه وسلم- ترك سؤال الناس أموالهم أو الاستعانة بهم في قضاء شؤونه مما قل أو كثر، ضمن له -عليه الصلاة والسلام- الجنة؛ ذلك لأن ترك سؤال المخلوقين فيه توكل على الله ودليل على قوة الرَّجاء والثقة بالله -تعالى-، فكان جزاؤه أن يدخله الله -تعالى- الجنة.
    بعد أن سمع ثوبان -رضي الله عنه- هذا الحديث، التزم للنبي -صلى الله عليه وسلم- أن لا يسأل الناس شيئا، حتى جاء عنه -رضي الله عنه- كما في رواية ابن ماجه: "أنه كان يقع سَوْطُه وهو راكب فلا يقول لأحدٍ ناولنيه حتى ينزل فيأخذه".
وفاء بالعهد الذي قطعه على نفسه مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم-.
Makna hadis:
Barangsiapa berjanji kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk meninggalkan meminta-minta kepada manusia; harta mereka ataupun meminta bantuan mereka dalam melaksanakan urusannya, baik sedikit ataupun banyak, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjamin surga baginya. Ini menunjukkan bahwa tidak meminta-minta kepada manusia merupakan tawakkal kepada Allah, kuatnya harapan dan kepercayaan kepada Alllah. Dengan demikian, balasannya adalah Allah memasukkannya ke dalam surga.
Setelah Ṡaubān mendengar hadis ini, ia pun berjanji untuk tidak meminta apa pun kepada manusia hingga dalam sebuah riwayat Ibnu Majah disebutkan, "Cemetinya jatuh pada saat berkendara, lalu ia tidak mengatakan kepada seseorang, "Tolong ambilkan! sampai ia turun dan mengambil cemetinya sendiri. Ini merupakan bentuk komitmen Ṡaubān yang ditetapkan pada dirinya bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4189

 
Hadith   577   الحديث
الأهمية: من خَرج في طلب العلم فهو في سَبِيلِ الله حتى يرجع
Tema: Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.

عن أنس -رضي الله عنه- مرفوعاً: «من خَرج في طلب العلم فهو في سَبِيلِ الله حتى يرجع».

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن مَنْ خَرج من بيته أو بلده؛ بَحثا عن العلم الشرعي، فهو في حكم من خرج للجهاد في سبيل الله -تعالى-، حتى يعود إلى أهله؛ لأنه كالمجاهد في إحياء الدِّين وإذلال الشيطان وإتعاب النَفْس.
Makna hadis: Sesungguhnya orang yang keluar dari rumahnya atau negerinya demi menuntut ilmu agama, maka ia dianggap sebagai orang yang keluar untuk berjihad di jalan Allah -Ta'ālā- sampai ia kembali ke keluarganya, karena ia laksana mujahid dalam menghidupkan agama, menghinakan setan, dan mengorbankan dirinya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4191

 
Hadith   578   الحديث
الأهمية: من رآني في المنام فَسَيَرَانِي في اليقظة -أو كأنما رآني في الْيَقَظَةِ- لا يَتَمَثَّلُ الشيطان بي
Tema: Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من رآني في المنام فَسَيَرَانِي في اليَقظة -أو كأنما رآني في الْيَقَظَةِ- لا يَتَمَثَّلُ الشيطان بي».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
اختلف العلماء في بيان معنى هذا الحديث، على عدة اتجاهات:
الأول: أن المراد به: أهل عصره، ومعناه أن من رآه في النوم ولم يكن هاجر يوفقه الله تعالى للهجرة ورؤيته -صلى الله عليه وسلم- في اليقظة عيانًا.
والثاني: أن الذي يظهر له في المنام هو النبي -صلى الله عليه وسلم- حقيقة، أي في عالم الروح، وأن رؤياه صادقة، بشرط أن يكون بصفته المعروفة -صلى الله عليه وسلم-.
والثالث: أنه يرى تصديق تلك الرؤيا في اليقظة في الدار الآخرة؛ رؤية خاصة في القرب منه وحصول شفاعته ونحو ذلك.
قوله: "أو فكأنما رآني في اليقظة" هذه رواية مسلم فقد رواها على الشك: هل قال -صلى الله عليه وسلم-: "فسيراني في اليقظة" أو قال: "فكأنما رآني في اليقظة".
ومعناه: أن من رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- في المنام على صفته التي هو عليها فكأنما رآه في حال اليقظة، فهو كقوله -صلى الله عليه وسلم-، كما    في الصحيحين: "من رآني في المنام، فقد رآني" وفي رواية في الصحيحين أيضًا: "من رآني في المنام فقد رأى الحق".
قوله: "لا يتمثل الشيطان بي"، وفي لفظ آخر: "من رآني في النوم فقد رآني، إنه لا ينبغي للشيطان أن يتمثل في صورتي".
والمعنى: أن الشيطان لا يمكنه أن يتمثل بالنبي -صلى الله عليه وسلم- على هيئته الحقيقية، وإلا فقد يأتي الشيطان ويقول: إنه رسول الله ويكون على هيئة ليست هي هيئته -صلى الله عليه وسلم-، فهذا ليس رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فإذا رأى الإنسان شخصا ووقع في نفسه أنه النبي -صلى الله عليه وسلم- فليبحث عن أوصاف هذا الذي رآه، هل تطابق أوصاف النبي -عليه الصلاة والسلام- أو لا ؟
فإن طابقت: فقد رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- وإن لم تطابق فليس هو النبي -صلى الله عليه وسلم- وإنما هذه أوهام من الشيطان أوقع في نفس النائم أن هذا هو الرسول -صلى الله عليه وسلم- وليس هو الرسول، وقد روى أحمد والترمذي في الشمائل: عن يزيد الفارسي قال: رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في النوم، فقلت لابن عباس: إني رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في النوم، قال ابن عباس: فإن رسول الله كان يقول: "إن الشيطان لا يسِتطيع أن يتشبَّه بي، فمن رآني في النوم فقد رآني"، فهل تستطيع أن تنعت هذا الرجل الذي رأيتَ؟    قلت: نعم، فلما وصفه، قال: ابن عباس: لو رأيتَه في اليقظة ما استطعتَ أن تنعتَه فوق هذا" والمعنى: أنك لو رأيت النبي -صلى الله عليه وسلم- في حال اليقظة لا يمكن أن تصفه بأكثر مما وصفت،
وهذا معنى أنه رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- حقا.
Para ulama berbeda pendapat mengenai penjelasan makna hadis ini menjadi beberapa pandangan, di antaranya:
Pertama: Maksudnya adalah orang-orang yang hidup pada masa beliau. Artinya, orang yang melihat beliau dalam tidurnya dan tidak hijrah, niscaya Allah -Ta'ālā- memberikan taufik kepadanya untuk hijrah, dan melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di alam sadar dengan mata kepala sendiri.
Kedua: Orang yang dilihat ketika itu benar-benar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, artinya di alam ruh, dan bahwa mimpinya tersebut adalah benar, dengan syarat dia melihat beliau sesuai dengan ciri-ciri beliau yang sudah dikenal.
Ketiga: Dia akan melihat realisasi mimpi tersebut dalam kondisi sadar di akhirat dengan penglihatan khusus sebagai bentuk kedekatan dengannya, mendapatkan syafaatnya dan sebagainya.
Sabda beliau, "atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya " ini merupakan riwayat Muslim. Ia meriwayatkannya dengan ragu, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya" atau beliau bersabda, "Seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya." Artinya, orang yang melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika tidur dalam bentuk sebagaimana aslinya, seakan-akan orang itu melihatnya saat sadar. Ini seperti sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihatku (dengan sebenarnya)." Dalam satu riwayat masih dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihat kebenaran." Sabda beliau, "Setan tidak bisa menyerupaiku," Dalam redaksi lain, "Siapa melihatku dalam tidur, maka ia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai wujudku." Maksudnya, bahwa setan tidak mungkin bisa menyerupai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam bentuk yang sebenarnya. Kalau tidak, maka setan akan datang dan berkata, "Sesungguhnya dia itu Rasulullah dalam wujud yang bukan wujud beliau, tentu ini bukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Jika seseorang melihat manusia dan timbul dalam dirinya bahwa manusia itu adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, hendaknya ia meneliti sifat-sifat orang yang dilihatnya, apakah sesuai dengan sifat-sifat Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- atau tidak? Jika sesuai, maka ia telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan jika tidak sesuai maka itu bukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi itu khayalan dari setan yang ditimpakan kepada orang yang tidur bahwa wujud itu adalah Rasulullah, padalah itu bukan beliau. Ahmad dan At-Tirmiżi meriwayatkan dalam Asy-Syamā`il dari Yazid Al-Fārisi seraya berkata, Aku pernah melihat Rasulullah dalam tidur, lalu aku berkata kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam tidur." Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda, 'Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku. Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah melihatku.' Apakah engkau bisa menggambarkan orang yang engkau lihat?" Aku jawab, "Ya." Setelah selesai menggambarkannya, Ibnu Abbas berkata, "Seandainya engkau melihatnya saat sadar, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkannya lebih dari itu." Maksudnya, seandainya engkau melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi terjaga, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkan lebih dari apa yang engkau gambarkan. Ini berarti bahwa ia benar-benar telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4192

 
Hadith   579   الحديث
الأهمية: مَنْ رَضِيَ بالله رَبَّاً، وبالإسلام دِيْنَا، وبمحمد رسولا، وجَبَتْ له الجنة
Tema: Siapa yang rida kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, maka ditetapkan baginya surga.

عن أبي سعيد الْخُدْرِي -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ رَضِيَ بالله رَبًّا، وبالإسلام دِيْنًا، وبمحمد رسولًا، وجَبَتْ له الجنة»، فَعَجِبَ لها أبو سعيد، فقال: أَعِدْهَا عَلَيَّ يا رسول الله، فَأَعَادَهَا عليه، ثم قال: «وأُخْرَى يَرْفَعُ الله بها العَبْد مائة دَرَجَة في الجنة، ما بين كل دَرَجَتَينِ كما بين السماء والأرض» قال: وما هي يا رسول الله؟ قال: «الجهاد في سَبِيل الله، الجهاد في سَبِيل الله».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang rida kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, maka ditetapkan baginya surga." Abu Sa'id heran dengan hal ini lalu berkata, "Ulangilah untukku, wahai Rasulullah?" Beliau pun mengulanginya lalu bersabda, "Ada amalan yang lain, Allah mengangkat hamba dengannya seratus derajat di surga. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi." Abu Sa'īd bertanya, "Apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Jihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن مَنْ آمن بالله ربَّا وبالإسلام دِيناً وبمحمد -صلى الله عليه وسلم- رسولاً وجبت له الجنة.
وفي رواية عند أحمد: "يا أبا سعيد ثلاثة من قالهن: دخل الجنة" قلت: ما هن يا رسول الله؟ قال: "من رضي بالله رباًّ، وبالإسلام ديناً، وبمحمد رسولاً".    
فلما سمع أبو سعيد الخدري -رضي الله عنه- هذه المقولة من النبي -صلى الله عليه وسلم- تَعَجَّب لها وطلب من النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يعيدها عليه مرة أخرى، فأعَادها عليه، -عليه الصلاة والسلام-، ثم قال له: "وأُخْرَى" أي: من أعمال البِرِّ والطاعات " يَرْفَعُ الله بها العَبْد مائة دَرَجَة في الجنة، ما بَيْن كل دَرَجَتَينِ كما بَيْن السماء والأرض".
فالنبي -صلى الله عليه وسلم- أخبره أن هناك عملاً يرفع الله به صاحبه في الجنة مائة درجة، ولم يخبره بذلك ابتداء؛ ليتشوق لها أبوسعيد -رضي الله عنه- لأجل أن يسأل عنها، فإذا علمها بعد الإبهام كانت أوقع في نفسه، فقال: وما هي يا رسول الله؟    قال -صلى الله عليه وسلم-: " الجهاد في سَبِيل الله، الجهاد في سَبِيل الله".
فالمجاهد مع كونه من أهل الجنة، إلا أن منزلته أرفع من غيره ممن آمن بالله ربَّا وبالإسلام دِيناً وبمحمد -صلى الله عليه وسلم- رسولاً ولم يجاهد في سبيل الله تعالى، وهذا من فضل الله -تعالى- وكرمه للمجاهدين في سبيله، فلما جادوا بأنفسهم في سبيل الله -تعالى- أكرمهم الله تعالى وأنزلهم في الجنة أفضل المنازل وأعلى الدرجات، والجزاء من جنس العمل.
Makna hadis: Orang yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagai Rasul, maka ditetapkan baginya surga. Dalam satu riwayat Ahmad disebutkan, "Wahai Abu Sa'īd, siapa saja mengucapkan tiga hal ini, niscaya dia masuk surga." Aku bertanya, "Apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Siapa yang rida kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul." Saat Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar perkataan tersebut dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia merasa heran dan meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengulanginya sekali lagi. Beliau pun mengulanginya lalu bersabda kepadanya, "Dan ada amalan yang lain" yaitu berbagai amal kebajikan dan ketaatan. "Allah mengangkat hamba dengan perkataan itu seratus derajat di surga. Jarak antara dua derajat seperti antara langit dan bumi." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepadanya bahwa selain itu ada amalan yang membuat Allah mengangkat pelakunya seratus derajat di surga. Awalnya beliau tidak memberitahukan hal itu, agar Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- menjadi penasaran lalu menanyakannya. Jika dia mengetahuinya setelah disembunyikan, tentu itu akan lebih mengena (membekas) pada dirinya. Ia bertanya, "Apakah amalan itu, wahai Rasulullah?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah." Seorang mujahid meskipun termasuk ahli surga, hanya saja kedudukannya lebih tinggi dari orang lain yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagai Rasul, namun tidak berjuang di jalan Allah -Ta'ālā-. Ini adalah karunia Allah -Ta'ālā- dan kedermawanan-Nya kepada orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Saat mereka mendermakan jiwa-jiwa mereka di jalan Allah -Ta'ālā-, maka Allah memuliakan mereka dan menempatkannya dalam surga di tempat yang paling utama dan derajat yang tinggi. Balasan itu pasti sesuai dengan jenis amal.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4193

 
Hadith   580   الحديث
الأهمية: من رَمَى بسهم في سَبِيلِ الله فهو له عِدْلُ مُحَرَّرَةٍ
Tema: Siapa yang memanah satu anak panah di jalan Allah, maka pahalanya sebanding dengan membebaskan hamba sahaya.

عن عمرو بن عَبَسَة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «من رمى بسهم في سبيل الله فهو له عِدْلُ مُحَرَّرَةٍ».

Dari Amru bin Abasah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang memanah satu anak panah di jalan Allah, maka pahalanya sebanding dengan membebaskan hamba sahaya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن مَنْ رَمَى بسهم في وجوه أعداء الله -تعالى-، فإن له أجر مَنْ أعتق رقبة في سبيل الله -تعالى-، سواء أصاب به عدوًا أو لم يُصب، كما هي رواية النسائي: "ومَن رَمَى بسهم في سبيل الله تعالى بَلَغَ العدو أو لم يَبْلُغ".
أما إذا أصاب به عدوا كان له به درجة في الجنة، كما هي رواية أبي داود: "من بلغ بسهم في سبيل الله -عز وجل- فله درجة.
   "وفي رواية أحمد: "في الجنة".
Makna hadis: Orang yang memanah dengan satu anak panah di hadapan musuh-musuh Allah -Ta'ālā-, maka baginya pahala seperti orang yang memerdekakan seorang hamba sahaya di jalan Allah -Ta'ālā-, baik tepat mengenai musuh atau meleset. Hal ini berdasarkan riwayat An-Nasā`i, "Siapa yang memanah dengan satu anak panah di jalan Allah -Ta'ālā-, sampai kepada musuh atau tidak sampai." Adapun jika anak panah itu mengenai musuh, maka baginya satu derajat di surga sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Daud, "Siapa mengenai (musuh) dengan satu anak panah di jalan Allah -'Azza wa Jalla-, maka baginya satu derajat." Dalam riwayat Ahmad, "Dalam surga."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4194

 
Hadith   581   الحديث
الأهمية: من سَرَّهُ أَن يُنَجِّيَه الله من كَرْبِ يوم القيامة، فَلْيُنَفِّسْ عن مُعْسِر أو يَضَعْ عنه
Tema: Siapa yang senang diselamatkan Allah dari kesulitan di hari kiamat, hendaklah ia memberi kelonggaran pada orang yang kesulitan (dalam membayar utang) atau membebaskan utangnya.

عن أبي قتادة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «من سَرَّهُ أَن يُنَجِّيَه الله من كَرْبِ يوم القيامة، فَلْيُنَفِّسْ عن مُعْسِر أو يَضَعْ عنه».

Dari Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang senang diselamatkan Allah dari kesulitan di hari kiamat, hendaklah ia memberi kelonggaran pada orang yang kesulitan (dalam membayar utang) atau membebaskan utangnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث : "من سَرَّهُ"
أي: أفرحه وأعجبه.
"أَن يُنَجِّيَه الله من كَرْبِ يوم القيامة"
أي يخلِّصُه من شَدائد ومِحَن يوم القيامة.
"فَلْيُنَفِّسْ عن مُعْسِر"
أي يؤخر مطالبته بالدَّين عند حلول أجله ويفسح له في الأجل إلى أن يَجد ما يقضي به الدَّيْن.
"أو يَضَعْ عنه"
أي: يسامحه بالدَّين الذي عليه، كله أو بعضه، قال -تعالى-: (وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ).

Tema: Makna hadis: "Siapa yang senang" yakni, dijadikan gembira dan puas, "diselamatkan Allah dari kesulitan di hari kiamat," yakni, Dia menyelamatkannya dari kesusahan dan ujian hari kiamat. "hendaklah ia memberi kelonggaran pada orang yang kesusahan (dalam membayar utang)" yakni, menangguhkan tuntutan pembayaran utang ketika sudah jatuh tempo, dan menundanya sampai orang itu punya kemampuan untuk membayarnya. "atau membebaskan utangnya." Yakni, memaafkan utangnya seluruhnya atau sebagiannya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4195

 
Hadith   582   الحديث
الأهمية: من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه
Tema: Siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap keridaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap keridaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن من صام شهر رمضان إيمانا بالله مصدقا بوعده محتسبا ثوابه قاصدا به وجه الله -تعالى-، لا رياء ولا سُمعة، غُفِر له ما تقدم من ذنبه.
Makna hadis: Sesungguhnya orang yang berpuasa wajib pada bulan Ramadan karena dorongan iman kepada Allah, membenarkan janji-Nya, serta mengharapkan pahala Allah dan keridaan-Nya, bukan karena ria dan sumah, maka diampuni dosanya yang telah berlalu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4196

 
Hadith   583   الحديث
الأهمية: مَنْ صام يومًا في سَبِيل الله جَعل الله بينه وبَيْن النِّار خَنْدَقًا كما بين السماء والأرض
Tema: Siapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah, pasti Allah menjadikan diantara dirinya dan api neraka satu parit yang luasnya seperti antara langit dan bumi.

عن أبي أمامة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «مَنْ صام يومًا في سَبِيل الله جَعل الله بينه وبَيْن النِّار خَنْدَقًا كما بين السماء والأرض».

Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah, pasti Allah menjadikan diantara dirinya dan api neraka satu parit yang luasnya seperti antara langit dan bumi."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
من صام يومًا في سبيل الله، يُريد بذلك ثواب الله -تعالى- "جَعل الله بينه وبَيْن النِّار خَنْدَقًا" أي حجابًا شديدًا ومانعًا بعيدًا بمسافة مَدِيدَة، قَدْرُها: "كما بَيْنَ السماء والأرض" أي مسافة خمسمائة سنة، كما في حديث العباس بن عبد المطلب -رضي الله عنه-، قال: "كنا عند النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: " أتدرون كم بين السماء والأرض"؟ قلنا: الله أعلم ورسوله، قال: "بينهما مسيرة خمسمائة سنة".
Siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah dengan cita mendapatkan pahala dari Allah -Ta'ālā-, "niscaya Allah menjadikan satu parit antara dirinya dengan neraka," yakni, tabir yang kokoh dan penghalang yang jauh dengan jarak yang membentang, ukurannya, "sejauh antara langit dengan bumi." Yakni, jarak lima ratus tahun. Sebagaimana dalam hadis Al-Abbās bin Abdil Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami sedang berada di sisi Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tahukah kalian jarak antara langit dengan bumi?" Kami jawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Jarak antara keduanya sejauh perjalanan lima ratus tahun."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4197

 
Hadith   584   الحديث
الأهمية: من صلى البَرْدَيْنِ دخل الجنة
Tema: Siapa melaksanakan 'dua salat yang dingin' niscaya masuk surga.

عن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من صلى البَرْدَيْنِ دخل الجنة».

Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa melaksanakan dua salat yang dingin (Subuh dan Asar) niscaya masuk surga."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى هذا الحديث: أن المحافظة على هاتين الصلاتين من أسباب دخول الجنة.
والمراد بهما: صلاة الفجر والعصر، ويدل على ذلك قوله -صلى الله عليه وسلم- في حديث جرير: "صلاة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها" زاد في رواية لمسلم يعني: " العصر والفجر " ثم قرأ جرير: (وسبح بحمد ربك قبل طلوع الشمس وقبل غروبها).
وسميتا: "بردين"؛ لأنهما تصليان في بردي النهار وهما طرفاه حين يطيب الهواء وتذهب شدة الحر.
وقد جاءت أحاديث كثيرة تدل على فضل هاتين الصلاتين، من ذلك ما رواه عمارة بن رُؤيبة عن أبيه عن النبي -صلى الله عليه وسلم-: (لا يلج النار رجلٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل أن تغرب) رواه مسلم (634).
ووجه تخصيصها بالذكر أن وقت الصبح يكون عند النوم ولذته، ووقت العصر يكون عند الاشتغال بتتمات أعمال النهار وتجارته، ففي صلاته لهما مع ذلك دليل على خلوص النفس من الكسل ومحبتها للعبادة، ويلزم من ذلك إتيانه بجميع الصلوات الأخر، وأنه إذا حافظ عليهما كان أشد محافظة على غيرهما، فالاقتصار عليهما لما ذكر لا لإفادة أن من اقتصر عليهما؛ بأن أتى بهما دون باقي الخمس يحصل له ذلك؛ لأنه خلاف النصوص.
وقوله -عليه الصلاة والسلام-: (من صلى البردين) المراد صلاهما على الوجه الذي أمر به، ذلك بأن يأتي بهما في الوقت، وإذا كان من أصحاب الجماعة كالرجال فليأت بهما مع الجماعة؛ لأن الجماعة واجبة، ولا يحل لرجل أن يدع صلاة الجماعة في المسجد وهو قادر عليها.
Makna hadis: Menjaga kedua salat ini merupakan sebab masuk surga. Maksudnya kedua salat ini ialah salat Subuh dan Asar. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis Jarir, "salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya" Di dalam riwayat Muslim ditambahkan, "Yaitu Asar dan Fajar," lantas Jarir membaca, "Dan ia memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya." Keduanya dinamakan 'Dua salat yang dingin' karena keduanya ditunaikan di permulaan dan akhir siang, yaitu dua tepi siang saat udara sejuk dan terik panas hilang. Banyak sekali hadis yang menunjukkan keutamaan dua salat ini, diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh 'Imārah bin Ru`aibah dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Tidak akan masuk neraka orang yang melaksanakan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya" HR. Muslim (634). Segi pengkhususan disebutkannya salat ini karena waktu Subuh merupakan saat nikmat tidur dan saat Asar ketika sibuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan siang hari dan perdagangannya. Dengan melaksanakan kedua salat ini maka menunjukkan bersihnya jiwa orang tersebut dari kemalasan dan adanya kecintaan kepada ibadah, dengan demikian ia akan melaksanakan semua salat yang lainnya. Sebab, jika ia sudah memelihara kedua salat ini, niscaya ia akan sangat menjaga salat yang lainnya. Membatasi penyebutan dua salat ini tidak menunjukkan bahwa dengan melaksanakan kedua salat ini tanpa melaksanakan salat yang lainnya sudah cukup untuk mendapatkan pahala, karena hal ini bertentangan dengan nas. Sabda Nabi -'alaihiṣṣalatā was salām-, "Siapa melaksanakan dua salat dingin", maksudnya melaksanakan kedua salat ini sesuai yang diperintahkan, yaitu menunaikannya pada waktunya. Jika termasuk orang yang wajib berjemaah, seperti para lelaki, maka hendaknya ia menunaikan kedua salat ini secara berjama'ah. Sebab, salat berjemaah itu wajib dan tidak dihalalkan bagi seseorang untuk meninggalkan salat berjemaah di masjid padahal ia mampu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4198

 
Hadith   585   الحديث
الأهمية: مَنْ عُلِّمَ الرَّمْيَ، ثم تَرَكَه، فليس مِنَّا، أو فقد عَصَى
Tema: Siapa yang telah diajari memanah lalu meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami, atau dia telah bermaksiat.

عن عقبة بن عامر-رضي الله عنه- مرفوعاً: «مَنْ عُلِّمَ الرَّمْيَ، ثم تَرَكَه، فليس مِنَّا، أو فقد عَصَى».

Dari 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa yang telah diajari memanah lalu meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami, atau dia telah bermaksiat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن من تَعَلَّم الرَّمي بالسهام ومثله الرمي بآلات الجهاد الحديثة، ثم تركه وأهمله، "فليس منِّا"، أي ليس من أهل هديْنَا وسُنتنا.
"أو قد عصى" وهذا شك من الراوي، هل قال -صلى الله عليه وسلم-: "فليس منِّا أو فقد عصى".
Makna hadis: Orang yang sudah belajar memanah dengan anak panah dan hal yang serupa adalah memanah dengan alat-alat jihad yang modern, lalu meninggalkannya dan mengabaikannya, "maka ia bukan golongan kami," yakni, tidak termasuk orang yang mengikuti petunjuk dan sunnah kami. "atau dia telah bermaksiat." Ini adalah keraguan dari perawi, apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, " maka ia bukan golongan kami, atau dia telah bermaksiat."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4199

 
Hadith   586   الحديث
الأهمية: مَنْ قاتل في سَبِيل الله من رَجُل مُسْلم فُوَاقَ نَاقَة، وجَبَتْ له الجنة، ومن جُرح جُرْحًا في سَبِيل الله أو نُكِبَ نَكْبَةً فإنها تَجِيء يوم القيامة كَأَغزَرِ ما كانت: لونُها الزَّعْفَرَانُ، وريُحها كالمِسك
Tema: Lelaki Muslim mana saja yang berperang di jalan Allah meskipun sejenak, maka wajib baginya mendapatkan surga, dan siapa yang terluka di jalan Allah atau dia mendapatkan suatu musibah, maka luka tersebut akan datang kepadanya pada hari kiamat dengan mengeluarkan darah yang banyak: warnanya seperti warna za’farān dan wanginya seperti wangi minyak kasturi.

عن معاذ -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قاتل في سَبِيل الله من رَجُل مُسْلم فُوَاقَ نَاقَة، وجَبَتْ له الجنة، ومن جُرح جُرْحًا في سَبِيل الله أو نُكِبَ نَكْبَةً فإنها تَجِيء يوم القيامة كَأَغزَرِ ما كانت: لونُها الزَّعْفَرَانُ، وريُحها كالمِسك».

Dari Mu’āż -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia bersabda, “Lelaki Muslim mana saja yang berperang di jalan Allah meskipun sejenak, maka wajib baginya mendapatkan surga, dan siapa yang terluka di jalan Allah atau dia mendapatkan suatu musibah, maka luka tersebut akan datang kepadanya pada hari kiamat dengan mengeluarkan darah yang banyak: warnanya seperti warna za’farān dan wanginya seperti wangi minyak kasturi."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
ما من مسلم يقاتل في سبيل الله ولو بمقدار يسير، كمقدار ما بَيْن الحلْبَتَين، والمقصود بذلك أن تُحلب الناقة ثم تُترك ليَرضع الفَصِيل، ثم يرجع إلى الضَرع فيحلبه مرة ثانية؛ إلا وجبت له الجنة، ومن أُصيب في سبيل الله تعالى، كما لو سقط من على فرسه فجُرح أو ضربة سيف أو غير ذلك ولو كانت إصابته يسيرة، جاء يوم القيامة وجرحه يتصبب منه الدم بَغَزارة، إلا أن لونه لون الزَعْفَران وتفوح منه أطيب الروائح التي هي رائحة المسك.
Tidaklah seorang Muslim berperang di jalan Allah meskipun waktunya sebentar seperti waktu atau tempo di antara dua perahan susu -yaitu; jeda waktu antara unta diperah susunya kemudian dibiarkan untuk menyusui anaknya, kemudian pemerah kembali memerahnya untuk yang kedua kalinya-, melainkan telah wajib baginya surga. Dan barangsiapa yang mendapat musibah di jalan Allah -Ta’ālā- seperti jika dia jatuh dari kudanya lalu ia terluka, terkena sabetan pedang atau selain itu meskipun sedikit, maka ia akan datang pada hari kiamat sedangkan lukanya mengalirkan darah dengan deras, namun warnanya seperti warna za’farān dan tercium darinya aroma yang sangat wangi yaitu wangi minyak kasturi.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4200

 
Hadith   587   الحديث
الأهمية: من قال: سُبحان الله وبِحَمْدِه، غُرِسَتْ له نَخْلة في الجنة
Tema: Siapa yang mengucapkan "Subḥānallāh Wabiḥamdihi" (Mahasuci Allah dan segala puji milik-Nya), niscaya ditanam satu pohon kurma baginya di surga.

عن جابر -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «من قال: سُبحان الله وبِحَمْدِه، غُرِسَتْ له نَخْلة في الجنة».

Dari Jabir -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkan 'Subḥānallāh Wabiḥamdihi' (Mahasuci Allah dan segala puji milik-Nya), niscaya ditanam satu pohon kurma baginya di surga."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبرنا النبي -صلى الله عليه وسلم-: أن من سَبَّحَ الله فقال: سبحان الله وبحمده. غُرست له نخلة في الجنة عن كل تسبيحة قالها.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda bahwa siapa yang bertasbih kepada Allah lalu mengucapkan, "Subḥānallāh Wabiḥamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji milik-Nya), niscaya ditanam satu pohon kurma baginya di surga untuk setiap tasbih yang diucapkannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ṭabarāni]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4201

 
Hadith   588   الحديث
الأهمية: من قام ليلة القَدْر إيِمَانا واحْتِسَابًا غُفِر له ما تَقدم من ذَنْبِه
Tema: Siapa yang mengerjakan salat malam pada Lailatulkadar dengan iman dan mengharap keridaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «من قام ليلة القَدْر إيمَانا واحْتِسَابًا غُفِر له ما تَقدم من ذَنْبِه».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang mengerjakan salat malam pada Lailatulkadar dengan iman dan mengharap keridaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحديث وارد في فضل قيام ليلة القدر والحث على ذلك ،فمن وافق قيامه ليلة القدر، مؤمنا بها وبما جاء في فضلها راجيًا بعمله ثواب الله    تعالى، لا يقصد من ذلك رياء ولا سُمعة، ولا غير ذلك مما يخالف الإخلاص والاحتساب، فإنه يُغفر له جميع صغائر ذُنوبه، أما الكبائر فلا بد من إحداث توبة صادقة، إن كانت في حق الله تعالى، أما إن كانت متعلقة بحق آدمي، فالواجب أن يتوب إلى الله تعالى وأن يَبْرأ من حق صاحبها.
Hadis ini mengemukakan tentang keutamaan salat malam di saat Lailatulkadar dan anjuran untuk melaksanakannya. Siapa yang mendapatkan taufik untuk melaksanakan salat pada Lailatulkadar atas dorongan keimanan pada wujud dan keutamaan yang dibawanya, serta mengharapkan pahala Allah -Ta'ālā-, tanpa berniat ria, sumah (ingin tenar), dan niat-niat lainnya yang merusak keikhlasan dan pahala, maka diampuni semua dosa-dosa kecilnya. Adapun dosa-dosa besar, maka ia harus dihapus dengan tobat yang sebenarnya jika berkaitan dengan hak Allah -Ta'ālā-, sedangkan jika berkaitan dengan hak manusia, maka dia wajib bertobat kepada Allah -Ta'ālā- dan melepaskan diri dari keterkaitan dengan pemilik hak tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4202

 
Hadith   589   الحديث
الأهمية: من يُرِدِ الله به خيرا يُصِبْ مِنه
Tema: Siapa yang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan memberinya musibah

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من يُرِدِ الله به خيرا يُصِبْ مِنه».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan memberinya musibah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إذا أراد الله بعباده خيرًا ابتلاهم في أنفسهم وأموالهم وأولادهم؛ ليكون ذلك سببًا في تكفير ذنوبهم ورفعة في درجاتهم، وإذا تأمل العاقل عواقب البلاء وجد أن ذلك خيرٌ في الدنيا وفي الآخرة، وإنما الخيرية في الدنيا؛ لما فيه من اللجوء إلى الله تعالى بالدعاء والتضرع وإظهار الحاجة، وأما مآلًا فلما فيه من تكفير السيئات ورفع الدرجات.   
قال تعالى: (وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ)، ولكن هذا الحديث المطلق مقيد بالأحاديث الأخرى التي تدل على أن المراد: من يرد الله به خيراً فيصبر ويحتسب، فيصيب الله منه حتى يبلوه، أما إذا لم يصبر فإنه قد يصاب الإنسان ببلايا كثيرة وليس فيه خير، ولم يرد الله به خيراً، فالكفار يصابون بمصائب كثيرة، ومع هذا يبقون على كفرهم حتى يموتوا عليه، وهؤلاء بلا شك لم يرد بهم خيرًا.
Jika Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya, maka Dia akan menguji mereka terkait diri, harta, dan anak-anak mereka; agar itu semua menjadi sebab penghapus dosa-dosa dan pengangkat derajat mereka. Jika orang yang berakal mencermati dampak positif musibah yang terjadi maka dia akan mendapati itu merupakan kebaikan di dunia dan akhirat. Dampak positifnya di dunia ialah karena menyebabkan seseorang kembali kepada Allah -Ta'ālā- dengan berdoa, ketundukan, serta memperlihatkan kebutuhan kepada-Nya. Adapun di akhirat, tidak lain karena hal itu akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya. Allah -Ta'ālā- berfirman, “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” Namun hadis yang bersifat mutlak ini dibatasi maknanya oleh hadis-hadis lain yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah orang yang dikehendaki oleh Allah akan mendapatkan kebaikan, hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala ketika Allah memberinya musibah dan ujian. Adapun jika ia tidak bersabar, maka mungkin saja seseorang ditimpa banyak ujian, namun sama sekali tidak ada kebaikan padanya, dan Allah tidak mengingingkan kebaikan untuknya. Orang-orang kafir juga mendapatkan banyak musibah, namun mereka tetap dalam kekufuran hingga mati. Mereka itu -tidak diragukan lagi- bahwa Allah tidak menginginkan kebaikan untuk mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4204

 
Hadith   590   الحديث
الأهمية: مرَّ علينا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ونحن نُعالج خُصًّا لنا
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah lewati saat kami sedang memperbaiki gubug kami.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص -رضي الله عنهما- قال: مرَّ علينا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ونحن نُعالج خُصًّا لنا، فقال: «ما هذا؟» فقلنا: قد وَهَى، فنحن نُصلحه، فقال: «ما أرى الأمر إلا أَعْجَل من ذلك».

Dari Abdullah bin Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah lewat saat kami sedang merenovasi gubug kami. Lalu beliau bertanya, "Apa ini?" Kami menjawab, "Ia sudah rusak, maka kami memperbaikinya." Beliau berkata, "Aku tidak melihat urusan ini (maut) melainkan lebih cepat dari itu (renovasi).”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث : أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بعمرو بن العاص وهو يصلح ما قد فسد من بيته أو يعمل فيه لتقويته.
وفي رواية لأبي داود : "وأنا أطين حائطاً لي" فقال: "ما أرى الأمر إلا أَعجل من ذلك" يعني: أن الأجل أقرب من أن تصلح بيتك خشية أن ينهدم قبل أن تموت وربما تموت قبل أن ينهدم، فإصلاح عملك أولى من إصلاح بيتك.
والظاهر أن عمارته لم تكن ضرورية، بل كانت ناشئة عن أمل في تقويمه، أو صادرة عن ميل إلى زينته، فبين له أن الاشتغال بأمر الآخرة أولى من الاشتغال بما لا ينفع في الآخرة.
Makna hadis: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah lewat di dekat 'Amr bin Al-'Āṣ saat ia sedang merenovasi bagian rumahnya yang rusak atau saat ia sedang bekerja untuk mengokohkannya. Dalam riwayat Abu Daud, “Sementara aku sedang menambal dindingku dengan tanah liat.” Lalu beliau bersabda, “Aku tidak melihat urusan ini (maut) melainkan lebih cepat dari itu (renovasi)”. Maksudnya adalah bahwa ajal itu lebih dekat dari waktu yang engkau gunakan untuk merenovasi rumahmu karena takut roboh sebelum engkau mati, bahkan bisa jadi engkau mati sebelum ia roboh. Maka memperbaiki amalmu lebih utama daripada memperbaiki rumahmu. Tampaknya usaha (‘Amr bin Al-'Āṣ) memperbaikinya belumlah mendesak, bahkan mungkin didorong oleh keinginan untuk memperkokohnya, atau timbul dari keinginan untuk mempercantiknya. Kemudian Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwa menyibukkan diri dengan urusan akhirat jauh lebih utama daripada menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4205

 
Hadith   591   الحديث
الأهمية: المسلمُ إذا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ، وأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فذلك قولُهُ تعالى: يُثَبِّتُ اللهُ الذِينَ آمَنُوا بالقَوْلِ الثَّابِتِ في الحَيَاةِ الدُّنْيَا وفي الآخِرَةِ
Tema: Seorang muslim apabila ditanya di kubur, tentu dia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman Allah -Ta'ālā-, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat."

عن البراء بن عازب -رضي الله عنه- مرفوعاً: «المسلمُ إذا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ، وأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فذلك قولُهُ تعالى: (يُثَبِّتُ اللهُ الذِينَ آمَنُوا بالقَوْلِ الثَّابِتِ في الحَيَاةِ الدُّنْيَا وفي الآخِرَةِ) [إبراهيم: 27]».
Tema: Dari Al-Barrā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seorang muslim apabila ditanya di kubur, tentu dia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman Allah -Ta'ālā-, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrāhīm: 27)

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يُسأل المؤمن في القبر، يسأله الملكان الموكلان بذلك وهما منكر ونكير، كما جاء تسميتهما في سنن الترمذي، فيشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله. قال النبي -صلى الله عليه وسلم- هذا هو القول الثابت الذي قال الله فيه: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ} [إبراهيم: 27].
Tema: Seorang mukmin akan ditanya di dalam kuburnya. Ia ditanya oleh dua malaikat yang diberi tugas untuk itu. Keduanya adalah Munkar dan Nakir. Lantas orang mukmin itu bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Inilah perkataan yang teguh dimana Allah -Ta'ālā- berfirman, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrāhīm: 27)

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4206

 
Hadith   592   الحديث
الأهمية: أَمَا إِنَّهُ لَوْ سَمَّى لَكَفَاكُمْ
Tema: Andai saja ia menyebut nama Allah, niscaya makanan tersebut cukup untuk kalian semua.

عن عائشة -رضي الله عنها- كان رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ طَعَامًا في سِتَّةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ، فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ، فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «أَمَا إِنَّهُ لَوْ سَمَّى لَكَفَاكُمْ».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyantap satu makanan bersama enam orang sahabatnya. Lantas datanglah seorang Arab Baduwi lalu makan dua suap. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Andai saja ia menyebut nama Allah, niscaya makanan tersebut cukup untuk kalian semua."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يأكل مع ستة من أصحابه، فجاء أعرابي فدخل معهم فأكل الباقي بلقمتين، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: أما إنه لو سمى لكفاكم، لكنه لم يُسَمِّ فأكل الباقي كله بلقمتين، ولم يكفه، وهذا يدل على أن الإنسان إذا لم يُسَمِّ نُزِعَت البركة من طعامه.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan bersama enam orang sahabatnya. Tiba-tiba datang orang Arab baduwi dan bergabung dengan mereka ikut menyantap makanan yang tersisa sebanyak dua suap. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Andai saja ia menyebut nama Allah, niscaya makanan tersebut cukup untuk kalian semua." Tetapi dia tidak menyebut nama Allah dan langsung menyantap makanan yang tersisa seluruhnya sebanyak dua suap dan tidak cukup untuknya. Ini merupakan dalil bahwa apabila seseorang tidak menyebut nama Allah (saat makan), maka dicabutlah keberkahan dari makanannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4209

 
Hadith   593   الحديث
الأهمية: أُمِرْتُ أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، ويُقيموا الصلاة، ويُؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءَهم وأموالَهم إلا بحق الإسلام وحسابُهم على الله -تعالى-
Tema: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka pada Allah -Ta'ālā-.

عن عمر بن الخطاب وابنه عبد الله وأبي هريرة -رضي الله عنهم- مرفوعاً: «أُمِرْتُ أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، ويُقيموا الصلاة، ويُؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءَهم وأموالَهم إلا بحق الإسلام وحسابُهم على الله -تعالى-».

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb dan putranya Abdullah dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhum- secara marfū', "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka kembali pada Allah -Ta'ālā-."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إن الله -تعالى- أمر بمقاتلة المشركين حتى يشهدوا بأن لا معبود بحق إلا الله وحده لا شريك له، ويشهدوا لمحمد -صلى الله عليه وسلم- بالرسالة، والعمل بمقتضى هذه الشهادة من المحافظة على الصلوات الخمس، والزكاة عند وجوبها، فإذا قاموا بهذه الأركان مع ما أوجب الله عليهم، فقد منعوا وحفظوا دماءهم من القتل، وأموالهم لعصمتها بالإسلام، إلا بحق الإسلام بأن يصدر من أحد ما تحكم شريعة الإسلام بمؤاخذته من قصاص أو حدٍّ أو غير ذلك، ومن فعل ما أُمر به فهو المؤمن، ومن فعله تقية وخوفا على ماله ودمه فهو المنافق، والله يعلم ما يسره فيحاسبه عليه.
Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- memerintahkan kita agar memerangi orang-orang musyrikin sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bersaksi bahwa Muhammad pembawa risalah, dan beramal sesuai dengan konsekuensi persaksian itu seperti menjaga salat lima waktu, zakat ketika sudah wajib. Apabila mereka telah melaksanakan berbagai rukun ini disertai dengan apa yang telah diwajibkan kepada mereka, maka mereka telah terjaga dan darahnya tak boleh ditumpahkan, serta harta-harta mereka dijaga dengan masuknya Islam, kecuali dengan hak Islam, yaitu pelanggaran dari seseorang di mana syariat Islam menetapkan untuk menghukumnya, berupa kisas atau hukuman (had) atau lainnya. Siapa yang melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, maka dia orang mukmin. Siapa yang melaksanakan apa yang diperintahkan Allah karena melindungi diri dan khawatir terhadap harta dan darahnya, maka dia orang munafik. Allah mengetahui apa yang dia sembunyikan sehingga Dia akan menghisabnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih dengan seluruh riwayat-riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4211

 
Hadith   594   الحديث
الأهمية: فَاجْتَمِعُوا على طَعَامِكُمْ، واذْكُرُوا اسمَ اللهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ
Tema: Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, pasti Allah memberkahi kalian pada makanan tersebut.

عن وَحْشِيِّ بنِ حَرْبٍ -رضي الله عنه-: أَنَّ أصحابَ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قالوا: يا رسولَ اللهِ، إِنَّا نَأْكُلُ ولا نَشْبَعُ؟ قال: «فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ» قالوا: نعم، قال:«فَاجْتَمِعُوا على طَعَامِكُمْ،واذْكُرُوا اسمَ اللهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ».

Dari Waḥsyi bin Ḥarb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, "Wahai Rasulullah, kami makan namun tidak merasa kenyang." Beliau bersabda, "Mungkin kalian berpisah-pisah." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, pasti Allah memberkahi kalian pada makanan tersebut."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال الصحابة للنبي -صلى الله عليه وسلم-: إنهم يأكلون ولا يشبعون، فأخبرهم النبي -صلى الله عليه وسلم- أن لذلك أسبابا منها: التفرق على الطعام؛ فإن ذلك من أسباب نزع البركة؛ لأن التفرق يستلزم أن كل واحد يجعل له إناء خاص فيتفرق الطعام وتنزع بركته، ومنها أيضا: عدم التسمية على الطعام؛ فإن الإنسان إذا لم يسم الله على الطعام أكل الشيطان معه ونزعت البركة من طعامه.
Para sahabat mengabarkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa mereka makan namun tidak merasa kenyang. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa hal itu pasti karena beberapa faktor, diantaranya makan secara terpisah-pisah. Sesungguhnya hal ini menjadi sebab dicabutnya keberkahan, karena dengan terpisah-pisah mengharuskan setiap orang memiliki wadah khusus sehingga makanan pun terbagi-bagi dan keberkahan tercabut. Bisa juga karena tidak membaca basamalah saat makan. Ketika seseorang tidak mengucapkan basmalah saat makan, maka setan ikut makan bersamanya dan tercabutlah keberkahan dari makanannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4212

 
Hadith   595   الحديث
الأهمية: إن الله تَجَاوزَ لِي عن أمتي الخطأَ والنِّسْيانَ وما اسْتُكْرِهُوا عليه
Tema: Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa kesalahan umatku dikarenakan keliru, lupa, dan karena dipaksa.

عن عبد الله ابن عباس -رضي الله عنهما- مرفوعاً: «إن الله تَجَاوزَ لِي عن أمتي الخطأَ والنِّسْيانَ وما اسْتُكْرِهُوا عليه».

Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhuma- secara marfū', "Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa kesalahan umatku dikarenakan keliru, lupa, dan karena dipaksa."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
من رحمة الله -تعالى- بهذه الأمة أن عفا عن إثم الخطأ -وهو ما لم يتعمدوه من المعاصي- والنسيان للواجبات أو فعل المحرمات، لكن إذا تذكر الواجب لاحقًا أتى به، وكذلك ما استكرهوا عليه وأرغموا على فعله من المعاصي والجنايات، فقال -تعالى-: {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ}.
Di antara rahmat Allah -Ta'ālā- kepada umat ini ialah mengampuni dosa karena kekeliruan. Yaitu kemaksiatan yang dilakukan dengan tidak sengaja, lupa melaksanakan berbagai kewajiban atau mengerjakan hal-hal yang diharamkan. Hanya saja jika selanjutnya ia ingat akan kewajiban tersebut, maka ia harus mengerjakannya. Demikian juga berbagai kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan karena dipaksa. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan Dia tidak menjadikan kesukaran bagimu dalam beragama."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Sahih dengan jalan-jalan periwayatan dan syahid-syahidnya]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4216

 
Hadith   596   الحديث
الأهمية: إن الله -عز وجل- تَابَعَ الوَحْيَ عَلَى رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ وَفَاتِهِ حَتَّى تُوُفِّيَ أَكْثَرَ مَا كَانَ الوَحْيَ
Tema: Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga beliau tutup usia dengan wahyu yang sangat banyak.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- مرفوعاً: إن الله -عز وجل- تابع الوحي على رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قبل وفاته حتَّى تُوُفِّيَ أكثر ما كان الوحي.

Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga beliau tutup usia dengan wahyu yang sangat banyak."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أكثر الله -عز وجل- من إنزال الوحي على رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قبل وفاته؛ حتى تكمل الشريعة؛ حتى توفي الرسول -صلى الله عليه وسلم- في وقت كثرة نزوله.
Allah -'Azza wa Jalla- banyak menurunkan wahyu kepada Rasulullah-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga syariat sempurna sampai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat pada saat banyak-banyaknya wahyu turun.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4217

 
Hadith   597   الحديث
الأهمية: لا تُقَارِنُوا، فإنَّ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- نهى عن القِرَانِ، ثم يقولُ: إلا أَنْ يَسْتَأْذِنَ الرجلُ أَخَاهُ
Tema: Janganlah kalian mengumpulkannya (makan dua biji sekaligus), karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengumpulkan makanan (di mulut)! Selanjutnya ia berkata, "Kecuali orang tersebut meminta izin kepada saudaranya.

عن جَبَلَةَ بنِ سُحَيْمٍ، قال: أَصَابَنَا عَامُ سَنَةٍ مع ابنِ الزبيرِ؛ فَرُزِقْنَا تمرًا، وكان عبدُ اللهِ بنُ عمرَ -رضي الله عنهما- يَمُرُّ بنا ونحن نَأْكُلُ، فيقول: لا تُقَارِنُوا، فإنَّ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- نهى عن القِرَانِ، ثم يقولُ: إلا أَنْ يَسْتَأْذِنَ الرجلُ أَخَاهُ.

Dari Jabalah bin Suḥaim, ia berkata, "Kami ditimpa tahun paceklik bersama Ibnu Az-Zubair, kemudian kami diberi rezeki kurma. Saat itu Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- melewati kami yang sedang makan, lalu ia berkata, "Janganlah kalian mengumpulkannya (makan dua biji sekaligus), karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengumpulkan makanan (di mulut)!" Selanjutnya ia berkata, "Kecuali orang tersebut meminta izin kepada saudaranya."

عن جبلة بن سحيم قال: أصابنا عام قحط مع ابن الزبير -رضي الله عنهما-، فأعطانا تمرا، فكان ابن عمر -رضي الله عنهما- يمر بنا ونحن نأكل، فيخبرنا أن النبي -صلى الله عليه وسلم- نهى أن يقرن الرجل بين التمرتين ونحوهما مما يؤكل أفرادا، إذا كان مع جماعة إلا بإذن أصحابه.
فالشيء الذي جرت العادة أن يؤكل واحدة واحدة، كالتمر إذا كان معك جماعة فلا تأكل تمرتين في لقمة واحدة؛ لأن هذا يضر بإخوانك الذين معك، فلا تأكل أكثر منهم إلا إذا استأذنت، وقلت: تأذنون لي أن آكل تمرتين في آن واحد، فإن أذنوا لك فلا بأس.
ملحوظة: في صحيح البخاري: فرزقنا بأربع فتحات، والفاعل ابن الزبير، والمعنى أعطانا، وفي رواية البيهقي: فرزقنا بضم الراء بالبناء للمجهول، ويحتمل الرازق الله -تعالى-.

Dari Jabalah bin Suḥaim, ia berkata, "Kami ditimpa tahun paceklik bersama Ibnu Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā-, lalu dia memberi kami kurma. Saat itu Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- melewati kami yang sedang makan. Ia mengabarkan kepada kami bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang mengumpulkan antara dua biji kurma atau makanan lain yang biasa dimakan satu demi satu apabila makan bersama jemaah, kecuali seizin para sahabatnya. Sesuatu yang sudah biasa dimakan satu demi satu seperti kurma, jika engkau bersama satu jemaah, maka engkau tidak boleh sekaligus memakan dua butir kurma dalam satu suapan, karena hal ini merugikan saudara-saudaramu yang ada bersamamu. Engkau tidak boleh makan lebih banyak dari mereka, kecuali apabila minta izin dan engkau katakan, "Apakah kalian mengizinkanku untuk makan dua biji kurma sekaligus?" Jika mereka mengizinkanmu, maka tidak masalah." Catatan: Dalam Sahih Al-Bukhari disebutkan, "Farazaqana" dengan empat fatḥah, dan yang melakukannya adalah Ibnu Az-Zubair. Artinya dia memberi kami. Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan, "Faruziqnā" dengan bentuk pasif dan ditafsirkan bahwa yang memberi rezeki adalah Allah -Ta'ālā-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4219

 
Hadith   598   الحديث
الأهمية: إِنَّ أَهْوَن أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ في أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغه، ما يَرَى أَنَ أَحَدًا أَشَدَّ مِنْهُ عَذَابًا، وَإنَّهُ لَأَهْوَنهُم عَذَابًا
Tema: Sesungguhnya siksa ahli neraka yang paling ringan pada hari kiamat ialah orang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia beranggapan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka.

عن النعمان بن بشير -رضي الله عنهما- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «إن أَهْوَنَ أهل النار عذابا يوم القيامة لرجل يوضع في أَخْمَصِ    قدميه جمرتان يغلي منهما دماغه ما يرى أن أحدا أشد منه عذابا وإنه لَأَهْوَنُهُم عذابا».

Dari An-Nu'mān bin Basyir -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya siksa ahli neraka yang paling ringan pada hari kiamat ialah orang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia beranggapan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
بين النبي -صلى الله عليه وسلم- أن أهون أهل النار عذابًا يوم القيامة، مَن يوضع في قدميه جمرتان من نار يغلي منهما دماغه، وهو يرى أنه أشد الناس عذابًا، وهو أخفهم؛ لأنه لو رأى غيره؛ لهان عليه الأمر، وتسلى به، ولكنه يرى أنه أشد الناس عذابًا، فحينئذ يتضجر ويزداد بلاء.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa penghuni neraka yang paling ringan azabnya pada hari kiamat adalah orang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal itu siksa yang paling ringan. Andai dia melihat siksa orang lain, pasti hal itu akan ringan baginya dan merasa terhibur. Hanya saja ia melihat bahwa dialah orang yang paling berat siksaannya. Saat itulah dia merasa gelisah dan bertambah musibahnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4220

 
Hadith   599   الحديث
الأهمية: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- أُتِيَ بِلَبَنٍ قد شِيبَ بماءٍ، وعن يمينهِ أَعْرَابِيٌّ، وعن يَسَارِه أبو بكرٍ -رضي الله عنه- فَشَرِبَ، ثم أَعْطَى الأَعْرَابِيَّ، وقال: الأَيْمَنَ فَالأَيْمَنَ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi segelas susu yang telah dicampur dengan air. Di sebelah kanan beliau ada seorang Arab Baduwi, dan di sebelah kirinya ada Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, maka beliau minumnya kemudian memberikan susu itu kepada orang Arab Baduwi. Beliau bersabda, "Dahulukan yang kanan seterusnya ke kanan!"

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- أُتِيَ بِلَبَنٍ قد شِيبَ بماءٍ، وعن يمينهِ أَعْرَابِيٌّ، وعن يَسَارِه أبو بكرٍ -رضي الله عنه- فَشَرِبَ، ثم أَعْطَى الأَعْرَابِيَّ، وقال: «الأَيْمَنَ فَالأَيْمَنَ».

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi segelas susu yang telah dicampur dengan air. Di sebelah kanan beliau ada seorang Arab Baduwi, dan di sebelah kirinya ada Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, maka beliau minumnya kemudian memberikan susu itu kepada orang Arab Baduwi. Beliau bersabda, "Dahulukan yang kanan seterusnya ke kanan!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أُتِي النبي -صلى الله عليه وسلم- بلبن قد خُلِطَ بالماء، وعلى يمينه رجل من الأعراب وعلى يساره أبو بكر، فشرب النبي -صلى الله عليه وسلم- ثم أعطى الأعرابي، فأخذ الإناء وشرب، وأبو بكر أفضل من الأعرابي؛ لكن فضَّله النبي -صلى الله عليه وسلم- عليه لأنه عن يمينه، وقال: الأيمن فالأيمن، أي: قدموا وأعطوا الأيمن فالأيمن.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi susu yang sudah dicampur air. Di sebelah kanan beliau ada seorang lelaki Arab Baduwi dan di sebelah kiri beliau ada Abu Bakar. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminumnya kemudian menyerahkannya kepada orang Arab Baduwi itu. Orang itu mengambil wadah dan meminumnya, padahal Abu Bakar lebih utama dari orang tersebut. Hanya saja Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih mengutamakannya, karena ia berada di sebelah kanannya. Beliau bersabda, "Dahulukan yang kanan seterusnya ke kanan!" Yakni, dahulukan dan berikanlah kepada orang yang berada di sebelah kanan dan begitu seterusnya ke kanan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4221

 
Hadith   600   الحديث
الأهمية: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ يومَ فَتْحِ مَكَّةَ وعليه عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk (ke Mekkah) pada hari pembebasan kota Mekkah dengan mengenakan sorban hitam.

عن جابرٍ -رضي الله عنه-: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ يومَ فَتْحِ مَكَّةَ وعليه عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ.
عن أبي سعيدٍ عمرو بنِ حُرَيْثٍ -رضي الله عنه- قال: كَأَنِّي أَنْظُرُ إلى رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وعليه عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ، قَدْ أَرْخَى طَرَفَيْهَا بَيْنَ كَتِفَيْهِ.
في رواية: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- خَطَبَ النَّاسَ، وعليه عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ.

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk (ke Mekkah) pada hari penaklukan kota Makkah dengan mengenakan sorban hitam."
Dari Abu Sa'īd Amru bin Ḥuraiṡ -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Seolah-olah aku masih melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenakan sorban hitam. Beliau menjulurkan kedua ujungnya di antara kedua pundaknya."
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah di hadapan orang-orang dengan mengenakan sorban hitam.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في حديث جابر أخبر -رضي الله عنه- أن النبي -عليه الصلاة والسلام- دخل عام الفتح وعليه: (عمامة سوداء) ففيه جواز لباس الثياب السود، وفي الرواية الأخرى: خطب الناس وعليه عمامة سوداء فيه جواز لباس الأسود، وإن كان الأبيض أفضل منه كما ثبت في الحديث الصحيح: "خير ثيابكم البياض"، وإنما لبس العمامة السوداء في هذا الحديث بيانا للجواز.
   وأما قول عمرو بن حريث في الحديث الآخر: (كأني أنظر إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وعليه عمامة سوداء قد أرخى طرفيها بين كتفيه)، فهو يدل على جواز كون العمامة سوداء ومدلاة بين الكتفين.
Dalam hadis Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk (ke Mekkah) pada tahun pembebasan kota Mekkah dengan mengenakan sorban hitam." Di dalam hadis ini terdapat isyarat bolehnya mengenakan pakaian hitam. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa "beliau berkhotbah kepada orang-orang dengan mengenakan sorban hitam," meskipun sorban putih lebih afdal, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih, "Sebaik-baik pakaian kalian yang putih." Adapun memakai sorban hitam dalam hadis adalah untuk menunjukkan hukumnya boleh. Sedangkan ucapan Amru bin Ḥuraiṡ dalam hadis lain, "Seolah-olah aku masih melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenakan sorban hitam. Beliau menjulurkan kedua ujungnya diantara kedua pundaknya." Ini menunjukkan dibolehkannya sorban berwarna hitam dan dijulurkan di antara dua pundak.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim dengan dua riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4222

 
Hadith   601   الحديث
الأهمية: نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل
Tema: Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
وعن سالم بن عبد الله بن عمر بن الخطاب -رضي الله عنهم- عن أبيه: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: « نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل» قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا.
Dari Sālim bin Abdillah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- dari bapaknya bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia shalat di sebagian malam." Sālim berkata, "Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن عبد الله بن عمر رجل صالح وحضه على القيام بالليل، فكان -رضي الله عنه- لا ينام في الليل إلا قليلا.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Abdullah bin Umar adalah seorang lelaki saleh dan beliau menganjurkannya untuk melaksanakan shalat malam. Sejak itu, Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4223

 
Hadith   602   الحديث
الأهمية: هذا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عليك السَّلام
Tema: Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: قال لي رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «هذا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عليك السَّلام» قالت: قلت: وعليه السلام ورحمة الله وبركاته.   
وهكذا وقع في بعض روايات الصحيحين: «وبركاته» وفي بعضها بحذفها، وزيادة الثقة مقبولة.

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, 'Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.' Aku berkata, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh (Semoga atasnya keselamatan, Rahmat Allah dan berkah-Nya)," Demikianlah terdapat di beberapa riwayat Aṣ-Ṣaḥiḥain (Bukhari dan Muslim), "Wabarakātuh", dan di sebagian riwayat yang lain dengan membuang kata itu, dan tambahan periwayat terpercaya bisa diterima.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبرنا عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال لها: "يا عائشة هذا جبريل يقرأ عليك السلام" وفي رواية "يقرئك السلام" أي: يهديك السلام، ويحييك بتحية الإسلام.
فقالت: "وعليه السلام ورحمة الله وبركاته".
ثم إنه من السنة: إذا نُقل السلام من شخص إلى شخص أن يَرُّد عليه بقوله: "وعليه السلام ورحمة الله وبركاته"؛ لظاهر حديث عائشة -رضي الله عنها-.
وإن قال: "عليك وعليه السلام أو عليه وعليك السلام ورحمة الله وبركاته" فحسن؛ لأن هذا الذي نقل السلام محسن فتكافئه بالدعاء له.
ولكن هل يجب عليك أن تنقل الوصية إذا قال: سلِّم لي على فلان أو لا يجب؟
فصَّل العلماء ذلك فقالوا: إن التزمت له بذلك وجب عليك؛ لأن الله -تعالى- يقول: (إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها)،[ النساء : 58] وأنت الآن تحملت هذا أما إذا قال: سلم لي على فلان وسكت أو قلت له مثلاً إذا تذكرت أو ما أشبه ذلك فهذا لا يلزم إلا إذا ذكرت، وقد التزمت له أن تسلم عليه إذ ذكرت، لكن الأحسن ألا يكلف الإنسان أحدًا بهذا؛ لأنه ربما يشق عليه ولكن يقول: سلم لي على من سأل عني، هذا طيب، أما أن يحمله فإن هذا لا ينفع؛ لأنه قد يستحي منك فيقول نعم أنقل سلامك ثم ينسى أو تطول المدة أو ما أشبه ذلك.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan kepada kita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, "Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu." Di dalam satu riwayat, "Memberikan salam kepadamu," yakni, mempersembahkan salam kepadamu dan menghormatimu dengan salam penghormatan Islam. Aisyah berkata, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh (Semoga atasnya keselamatan, Rahmat Allah, dan berkah-Nya)," Selanjutnya termasuk sunnah, apabila menyampaikan salam dari seseorang, maka hendaknya dibalas dengan ucapan, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh," berdasarkan makna literal hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Jika orang tersebut mengucapkan, "Alaika wa 'alaihissalām atau 'Alaihi wa Alaikassalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh," maka ini baik, karena orang yang menyampaikan salam tersebut adalah orang baik. Karena orang yang menyampaikan salam itu telah berbuat baik, maka engkau membalasnya dengan mendoakannya. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah engkau wajib atau tidak menyampaikan pesan, jika seseorang berkata, "Sampaikan salamku kepada si A?" Para ulama merincinya dan mengatakan, "Jika engkau memandang harus menyampaikan salam itu kepadanya, maka engkau berkewajiban melakukannya. Sebab, Allah berfirman, "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya," (QS. An-Nisa" 58) Sekarang engkau menanggung amanat tersebut. Adapun jika orang itu mengatakan, "Sampaikan salamku kepada si fulan," dan engkau diam atau engkau mengatakan kepadanya sebagai contoh, "Jika aku ingat," dan sebagainya, maka hal ini tidak menjadi keharusan kecuali apabila engkau ingat. Saat itulah engkau diharuskan untuk menyampaikan salam kepadanya, jika engkau ingat. Hanya saja sebaiknya seseorang tidak membebani orang lain dengan hal ini. Sebab, mungkin saja ia merasa kesusahan, tetapi hendaknya ia mengucapkan, "Sampaikan salamku kepada orang yang menanyakanku." Ini baik. Adapun jika ia harus menanggungnya, maka ini tidak ada gunanya karena ia terkadang sungkan kepadamu lalu berkata, "Ya, aku akan sampaikan salammu," kemudian ia lupa atau rentang waktunya lama dan sebagainya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4224

 
Hadith   603   الحديث
الأهمية: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كان يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bernafas tiga kali saat minum.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كان يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا.

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bernafas tiga kali saat minum.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا شرب تنفس في الشراب ثلاثاً، يشرب ثم يفصل الإناء عن فمه، ثم يشرب الثانية ثم يفصل الإناء عن فمه، ثم يشرب الثالثة، ولا يتنفس في الإناء.
Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau minum lalu melepaskan wadah dari mulutnya, lalu minum kedua kalinya lalu melepaskan wadah dari mulutnya, kemudian minum ketiga kalinya. Jadi beliau tidak bernafas di dalam wadah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4225

 
Hadith   604   الحديث
الأهمية: صَليت مع النبي -صلى الله عليه وسلم- ليلة، فَأَطَالَ القيام حتى هَمَمْتُ بأمر سُوء! قيل: وما هَمَمْتَ به؟ قال: هَمَمْتُ أن أجْلِس وأَدَعَهُ
Tema: Suatu malam aku salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau terus berdiri (lama) sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang jelek." Ibnu Mas'ūd ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ia menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau."

عن ابن مسعود -رضي الله عنه- قال: صليت مع النبي -صلى الله عليه وسلم- ليلة، فأطال القيام حتى هَمَمْتُ بأمْرِ سُوءٍ! قيل: وما هَمَمْتَ به؟ قال: هَمَمْتُ أن أجلس وأَدَعَه.

Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu malam aku salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau terus berdiri (lama) sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang jelek." Ibnu Mas'ūd ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ia menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
صلى ابن مسعود -رضي الله عنه- مع النبي -صلى الله عليه وسلم- ذات ليلة، فقام النبي -صلى الله عليه وسلم-، قياما طويلا، وهذا هو دأبه -صلى الله عليه سلم- فشق عليه -رضي الله عنه- طول القيام، حتى هَمَّ بأمر ليس يسر المرء فعله، فسئل -رضي الله عنه-: ما هَمَمْت به؟ قال: هَمَمْتُ أن أجلس وأدعه قائما؛ مما لحقه من المشقة.
Suatu malam Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- salat bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berdiri lama, ini merupakan kebiasaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- tidak kuat berdiri lama ini hingga ia hendak melakukan sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Ia ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau terus berdiri." Hal ini disebabkan kepayahan yang dialaminya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4226

 
Hadith   605   الحديث
الأهمية: أَرَأَيتَ إنْ قُتِلْتُ في سَبِيلِ اللهِ، أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟
Tema: Bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?

عن أبي قتادة الحارث بن رِبْعِيِّ -رضي الله عنه- عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أَنَّهُ قامَ فيهم، فذكرَ لهم أَنَّ الجهادَ في سبيلِ اللهِ، والإيمانَ باللهِ أفضلُ الأعمالِ، فقامَ رَجُلٌ، فقال: يا رسولَ اللهِ، أرأيتَ إن قُتِلْتُ في سبيلِ اللهِ، تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فقالَ له رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «نعم، إنْ قُتِلْتَ في سبيلِ اللهِ، وأنتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ». ثم قال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «كَيْفَ قُلْتَ؟» قال: أَرَأَيتَ إنْ قُتِلْتُ في سَبِيلِ اللهِ، أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فقالَ له رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «نعم، وأنتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إلا الدَّيْنَ؛ فَإنَّ جِبْرِيلَ -عليه السلام- قالَ لِي ذَلِكَ».

Dari Abu Qatādah Al-Ḥāriṡ bin Rib'i -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat lalu menyebutkan bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amal yang paling utama. Lantas seorang lelaki berdiri lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya, kalau engkau bersabar dan mengharap pahala, maju menghadap musuh tidak mundur." Kemudian Rasululullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bagaimana pertanyaanmu?" Orang itu menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya, kalau engkau bersabar dan mengharap pahala, maju menghadap musuh tidak mundur, kecuali utang. Sesungguhnya Jibril -'alaihissalām- mengatakan hal itu kepadaku."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قام النبي -صلى الله عليه وسلم- في الصحابة خطيبًا، فذكر لهم أن الجهاد لإعلاء كلمة الله والإيمانَ بالله أفضل الأعمال، فقام رجل فسأل النبي -صلى الله عليه وسلم-: أرأيت إن قتلتُ لإعلاء كلمة الله أتغفر لي ذنوبي، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: نعم، ولكن بشرط أن تكون قُتِلتَ صابرا مُتحملاً ما أصابك، مخلصا لله -تعالى-، غير فارٍّ من ساحة الجهاد، ثم استدرك النبي -صلى الله عليه وسلم- شيئاً وهو الدَّين، منبها على أن الجهاد والشهادة لا تكفر حقوق الآدميين.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri di tengah-tengah para sahabatnya sambil berpidato lalu menyebutkan kepada mereka bahwa jihad untuk meninggikan kalimat Allah dan iman kepada-Nya adalah amal yang paling utama. Lantas seorang lelaki berdiri dan bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Bagaimana pendapatmu jika aku gugur terbunuh untuk meninggikan kalimat Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Ya, tetapi dengan syarat engkau terbunuh dalam keadaan bersabar dan menanggung apa yang menimpamu dengan ikhlas kepada Allah -Ta'ālā-, tanpa melarikan diri dari medan jihad." Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menimpali dengan sesuatu, yaitu utang, dengan mengingatkan bahwa jihad dan mati syahid tidak akan menghapus hak-hak manusia.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4227

 
Hadith   606   الحديث
الأهمية: إِنْ كَانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيَدَعُ العَمَلَ، وهو يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؛ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ
Tema: Sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah meninggalkan suatu amal, padahal beliau suka mengerjakannya, karena takut orang-orang mengikutinya (mencontohnya) lalu diwajibkan kepada mereka.

عن أم المؤمنين عائشة -رضي الله عنها- قالت: إِنْ كَانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيَدَعُ العَمَلَ، وهو يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؛ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ.

Dari Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah meninggalkan suatu amal, padahal beliau suka mengerjakannya, karena takut orang-orang mengikutinya (mencontohnya) lalu diwajibkan kepada mereka.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يترك العمل وهو يحب أن يفعله، لئلا يعمل به الناس، فيكون سببًا في فرضه عليهم، فتلحقهم بذلك مشقة عظيمة وهو -عليه الصلاة والسلام- يكره إلحاق المشقة بهم.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah biasa meninggalkan suatu amalan padahal beliau suka mengerjakannya, agar orang-orang tidak mengamalkannya, yang bisa menyebabkan amalan tersebut diwajibkannya kepada mereka. Dan hal itu bakal menimbulkan kesulitan yang besar bagi mereka. Padahal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka menimpakan kesulitan pada mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4228

 
Hadith   607   الحديث
الأهمية: لما عُرِجَ    بي مَرَرْتُ بقوم لهم أظْفَارٌ من نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُم فقلت: مَنْ هؤُلاءِ يا جِبْرِيل؟ قال: هؤلاء الذين يَأكُلُونَ لحُوم الناس، ويَقَعُون في أعْرَاضِهم
Tema: “Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya, "Siapakah mereka ya Jibril?” Dia menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia ( menggunjing ) dan mereka menjatuhkan kehormatan-kehormatan manusia."

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- مرفوعاً: «لما عُرِجَ    بي مَرَرْتُ بقوم لهم أظْفَارٌ من نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُم فقلت: مَنْ هؤُلاءِ يا جِبْرِيل؟ قال: هؤلاء الذين يَأكُلُونَ لحُوم الناس، ويَقَعُون في أعْرَاضِهم!».
Tema: Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “ Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya, "Siapakah mereka ya Jibril?” Dia menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia (menggunjing) dan mereka menjatuhkan kehormatan-kehormatan manusia.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى هذا الحديث: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- لما صُعِد به إلى السماء في ليلة المعراج مَرَّ بقوم يَخْدِشُون أجسامهم بأظفارهم النحاسية، فتعجب من حالهم -صلى الله عليه وسلم- فسأل جبريل من هؤلاء ولماذا يفعلون بأنفسهم هذا الفعل، فأخبره جبريل؛ بأن هؤلاء من يغتابون الناس، ويقعون في أعراضهم، أي يسبونهم.
Makna hadis ini:
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika diangkat ke langit, beliau melewati satu kaum yang mencakar tubuh-tubuh mereka dengan kuku-kuku tembaga. Beliau heran dengan kondisi mereka lalu beliau bertanya kepada Jibril, "Siapakah mereka itu? Kenapa mereka melakukan perbuatan itu terhadap diri mereka sendiri?" Lantas Jibril memberitahu beliau bahwa mereka itu adalah orang-orang yang suka membicarakan orang (menggunjing) dan menjatuhkan kehormatan mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan]    ← →    Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4229

 
Hadith   608   الحديث
الأهمية: إِنْ كان عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هذه الليلةَ في شَنَّةٍ وإِلَّا كَرَعْنَا
Tema: Adakah engkau mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit malam ini? Jika tidak kami ‎akan minum langsung dari mulut kami.‎

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ على رجلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، ومعه صاحبٌ له، فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «إِنْ كان عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هذه الليلةَ في شَنَّةٍ وإِلَّا كَرَعْنَا».

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhumā-, Bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk ke rumah salah ‎seorang lelaki Ansar bersama seorang sahabatnya, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadanya, “Adakah engkau mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit ‎malam ini? Jika tidak kami akan minum langsung dari mulut kami.”‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال جابر -رضي الله عنهما-: دخل رسول الله -صلى الله عليه وسلم- على رجل من الأنصار، يقال: إنه أبو الهيثم بن التيهان الأنصاري -رضي الله عنه-، ومعه صاحب له وهو أبو بكر -رضي الله عنه-، فسأله النبي -صلى الله عليه وسلم- إن كان عنده ماء بائت في قربة، وكان الوقت صائفا، والحكمة من ذلك أن الماء البائت يكون باردا، وإلا تناولنا الماء بالفم من غير إناء ولا كف.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ‎masuk ke rumah salah seorang lelaki Ansar, ada yang mengatakan: dia ‎adalah Abu Haiṡam bin at-Tihān al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-, beliau ‎bersama sahabatnya yaitu Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepadanya: Adakah ia memiliki air ‎yang telah diinapkan dalam sebuah bejana dari kulit, dan pada waktu ‎itu sedang musim panas. Hikmah dari hal itu adalah bahwa air yang ‎diinapkan akan menjadi dingin/segar. Jika tidak maka kami akan minum ‎langsung dengan mulut tanpa menggunakan bejana dan tidak juga telapak ‎tangan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4230

 
Hadith   609   الحديث
الأهمية: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- اشْتَرَى منه بَعِيرا، فَوَزَنَ له فَأرْجَح
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membeli seekor unta darinya, maka beliau menimbangkan untuknya lalu melebihkannya.

عن جابر -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- اشْتَرَى منه بَعِيراً، فَوَزَنَ له فَأرْجَح.

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membeli seekor unta darinya, maka beliau menimbangkan untuknya lalu melebihkannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
هذا    الحديث له قصة، وهي هنا مختصرة، "أن النبي -صلى الله عليه وسلم- اشْتَرَى منه بَعِيراً" أي: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- اشترى من جابر -رضي الله عنه- بعيراً.
"فَوَزَنَ له" أي: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- وَزَن له ثَمن البعير، وهذا من باب التجوز، وإلا فإن حقيقة الوزَّان في هذا الحديث: بلال -رضي الله عنه- بأمر النبي -صلى الله عليه وسلم- كما هو في أصل الحديث: "فأمر بلالا أن يَزِن لي أوقية، فوزن لي بلال، فأرجح في الميزان" أي: زاد في الوَزْن أكثر مما يستحقه جابر -رضي الله عنه- من ثَمن البعير، وكانوا فيما سبق يتعاملون بالنقود وزناً لا عدداً وإن كانوا يتعاملون أيضا بها عدداً لكن الكثير وزناً.
Hadis ini punya kisah dan di sini diringkas bahwa Nabi --ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membeli unta darinya. Yakni, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membeli unta dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-. "Maka beliau menimbangkan untuknya" yakni, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menimbang harga unta untuknya. Ini termasuk kalimat majaz, karena pada hakekatnya orang yang menimbang dalam hadis ini adalah Bilal -raḍiyallāhu 'anhu- berdasarkan perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana dalam asal hadis itu, "Lantas beliau menyuruh Bilal guna menimbang untukku satu ūqiyah. Bilal pun menimbang untuknya lalu dia melebihkan timbangan." "lalu melebihkannya," yakni, menambah berat timbangan melebihi harga unta yang pantas diperoleh oleh Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-. Orang-orang dahulu bertransaksi memakai uang dengan timbangan bukan bilangan, meskipun mereka juga bertransaksi memakai uang dengan bilangan. Hanya saja mayoritas memakai timbangan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4231

 
Hadith   610   الحديث
الأهمية: أنا أحَقُّ بِذَا مِنك تَجَاوزُوا عن عَبْدِي
Tema: Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau, maafkanlah hamba-Ku ini!

عن حذيفة -رضي الله عنه - قال: أُتَي الله تعالى بِعبْد من عِباده آتاه الله مالاً، فقال له: ماذا عَمِلْت في الدنيا؟ -قال: «ولَا يَكْتُمُونَ اللهَ حَدِيثًا»- قال: يا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَك، فكُنت أُبَايعُ الناس، وكان من خُلُقِي الجَوَاز، فكُنت أَتَيَسَّرُ على المُوسِرِ، وأنْظِر المُعْسِر. فقال الله -تعالى-: «أنا أحَقُّ بِذَا مِنك تَجَاوزُوا عن عَبْدِي» فقال عُقْبَة بن عَامر، وأبو مسعود الأنصاري -رضي الله عنهما-: هكذا سَمِعْنَاه من فِيِّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-.

Dari Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Seorang hamba yang telah Allah berikan harta dibawa menghadap kepada Allah. Allah berfirman kepadanya, "Apa yang telah engkau lakukan di dunia?" Hużaifah berkata, "dan mereka tidak dapat menyembunyikan satu perkataan pun dari Allah." Hamba tersebut berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan harta-Mu, lalu aku berbisnis dengan orang lain, dan di antara akhlakku adalah pemaaf, maka aku memberi kemudahan kepada orang yang berkelapangan dan memberi tempo kepada orang yang kesulitan." Allah berfirman, "Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau, ampunilah hamba-Ku ini." 'Uqbah bin 'Āmir dan Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demikianlah kami mendengarnya dari bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر حذيفة -رضي الله عنه- أنه يُؤتى برجل من عباد الله تعالى يوم القيامة آتاه الله مالًا، فيسأله ربه عن ماله: ماذا عمل به ؟ قال: أي حذيفة -رضي الله عنه-: "ولَا يَكْتُمُونَ اللهَ حَدِيثًا" أي: لا يستطيعون إخفاء شيء عن الله تعالى يوم القيامة، كما قال تعالى: (يوم تشهد عليهم ألسنتهم وأيديهم وأرجلهم بما كانوا يعملون). "قال: يا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَك، فكنت أُبَايعُ الناس" أي: أعَامل الناس بالبيوع والمداينة    وكان مما اتصفت به من أخلاق: الجواز، ثم فسره بقوله: "فكنت أَتَيَسَّرُ على المُوسِرِ" أي: أُسَهِّل عليه وأقبل منه ما جاء مع نقص يسير. "وأنْظِر المُعْسِر" أي: أصبر على المُعْسِر، فلا أطالبه وأفسح له في الأجل. فقال الله تعالى: "أنا أحَقُّ بِذَا مِنك" أي: فما دمت قد تجاوزت عن عبادي وتخلقت بخلقي، فنحن أحق بالتجاوز والعفو عنك. "تَجَاوزُوا عن عَبْدِي"
أي: عفا الله عنه، وغَفَر له ما كان من سيئاته، بسبب عفوه وسماحته وحسن معاملته لعباد الله تعالى، وهل جزاء الإحسان إلا الإحسان. "فقال عُقْبَة بن عَامر، وأبو مسعود الأنصاري -رضي الله عنهما-: هكذا سَمِعْنَاه من فِيِّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-." والمعنى: أنهما سمعا ما حدث به حذيفة -رضي الله عنه- من النبي -صلى الله عليه وسلم- كما حدث به حذيفة -رضي الله عنه- من غير زيادة ولا نقص.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa seorang hamba yang telah Allah berikan harta dibawa kepada Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat, lantas Tuhannya bertanya kepadanya tentang harta tersebut, "Apa yang dilakukannya dengan harta itu?" Ḥużaifah berkata, "Dan mereka tidak dapat menyembunyikan satu perkataan pun dari Allah." Yakni, mereka tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dari Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." Hamba tersebut berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan harta-Mu, lalu aku berbisnis dengan orang lain," yakni, aku bertransaksi dengan mereka dalam jual-beli dan utang-piutang. Dan di antara akhlak yang aku miliki adalah memberi maaf." Selanjutnya ia menjelaskannya dengan ucapannya, "aku memberi kemudahan kepada orang yang berkelapangan," yakni, aku memberikan kemudahan kepadanya dan menerima darinya meskipun disertai sedikit kekurangan. " dan memberi tempo kepada orang yang kesulitan." Yakni, bersabar terhadap orang yang kesulitan. Aku tidak menuntutnya dan aku memberinya tempo. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau," yakni, selama engkau memaafkan hamba-Ku dan berakhlak dengan akhlak-Ku, maka Kami lebih berhak memberi ampunan dan maaf daripada kamu." "maafkanlah hamba-Ku ini." Yakni, Allah memaafkannya dan mengampuni kesalahan-kesalahannya disebabkan maafnya, kelapangan dadanya, dan interaksinya yang baik kepada hamba-hamba Allah -Ta'ālā-. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). 'Uqbah bin 'Āmir dan Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demikianlah kami mendengarnya dari bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Artinya bahwa keduanya mendengar apa yang diceritakan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- itu langsung dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana yang dituturkan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- tanpa ada tambahan atau pengurangan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4232

 
Hadith   611   الحديث
الأهمية: إنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الهُدَى والعِلْمَ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فكانتْ مِنها طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبِلَتْ الماءَ فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ والعُشْبَ الكَثِيرَ، وكَان مِنها أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الماءَ فَنَفَعَ اللهُ بها النَّاسَ، فَشَرِبوا مِنْهَا وسَقوا وزرعوا
Tema: Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya, bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang baik sehingga dapat menerima air dan menyimpannya kemudian menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang gersang (keras) tapi dapat menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya, sehingga manusia bisa minum, menyiram dan bercocok tanam.

عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الهُدَى والعِلْمَ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فكانتْ مِنها طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبِلَتْ الماءَ فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ والعُشْبَ الكَثِيرَ، وكَان مِنها أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الماءَ فَنَفَعَ اللهُ بها النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وسَقَوا وَزَرَعُوا، وأَصَابَ طَائِفَةً مِنها أُخْرَى إنَّما هِي قِيعَانٌ لا تُمْسِكُ مَاءً ولا تُنْبِتُ كَلَأً، فذلك مَثَلُ مَنْ فَقُهَ في دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِما بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وعَلَّمَ، ومَثَلُ مَنْ لم يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ولم يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الذي أُرْسِلْتُ بِهِ».

Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya, bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang baik sehingga dapat menerima air dan menyimpannya kemudian menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang gersang (keras) tapi dapat menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya, sehingga manusia bisa minum, menyiram dan bercocok tanam. Sedang sebagian yang lain bagaikan tanah gersang yang tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang pandai dalam agama Allah dan ilmu atau petunjuk-petunjuk dari Allah yang bisa memberi manfaat pada dirinya, dia belajar hingga pandai lalu mengajarkan ilmunya (kepada orang lain). Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak dapat menerima petunjuk ajaran Allah yang dengannya aku diutus."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل مطر أصاب أرضًا" فشبه -عليه الصلاة والسلام- من ينتفع بهذا العلم والهدى المشبه بالمطر بمثابة الأرض، فكانت هذه الأرض ثلاثة أقسام: أرض طيبة قبلت الماء، وأنبتت العشب الكثير والزرع، فانتفع الناس بها، وأرض لا تنبت ولكنها أمسكت الماء فانتفع الناس به فشربوا منه ورووا وزرعوا، وأرض لا تمسك الماء ولا تنبت شيئًا.
فهكذا الناس بالنسبة لما بعث الله به النبي -صلى الله عليه وسلم- من العلم والهدى، منهم من فقه في دين الله، فعَلِمَ وعَلَّمَ، وانتفع الناس بعلمه وانتفع هو بعلمه.
والقسم الثاني: قوم حملوا الهدى، ولكن لم يفقهوا في هذا الهدى شيئًا، بمعنى أنهم كانوا رواة للعلم والحديث، لكن ليس عندهم فقه.
والقسم الثالث: من لم يرفع بما جاء به النبي -صلى الله عليه وسلم- من العلم والهدى رأسًا، وأعرض عنه، ولم يبال به، فهذا لم ينتفع في نفسه بما جاء به النبي -صلى الله عليه وسلم- ولم ينفع غيره.
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku, bagaikan hujan yang jatuh ke bumi." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyerupakan orang yang memanfaatkan ilmu dan petunjuk laksana hujan bagi bumi. Bumi tersebut terbagi tiga: tanah yang baik, menerima air, dan menumbuhkan rumput yang banyak dan tanaman sehingga manusia bisa memanfaatkannya. Ada juga tanah yang tidak menumbuhkan tanaman, tetapi ia menahan air sehingga manusia bisa memanfaatkannya; mereka meminumnya, menyiram dan bercocok tanam. Ada juga bumi yang tidak bisa menahan air dan tidak menumbuhkan sesuatu pun. Demikianlah keadaan manusia berkenaan dengan ilmu dan petunjuk di mana Allah mengutus Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengannya. Diantara mereka ada yang memiliki pemahaman agama; ia mengetahui dan mengajarkan, orang-orang memanfaatkannya dan ia juga mendapatkan manfaat dengan ilmunya. Bagian kedua adalah kaum yang membawa petunjuk, tetapi mereka tidak memahami sesuatu pun dari petunjuk ini. Artinya bahwa mereka itu adalah orang-orang yang meriwayatkan ilmu dan hadis, tapi mereka tidak memahaminya. Bagian ketiga adalah orang yang tidak memperhatikan ilmu dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, berpaling darinya, dan tidak mempedulikannya. Ini adalah orang yang tidak mendapatkan manfaat dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan manfaat kepada orang lain.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4233

 
Hadith   612   الحديث
الأهمية: إِنَّ نَاسًا كانوا يُؤْخَذُونَ بالوَحْيِ في عَهْدِ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وإِنَّ الوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ، وإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الآنَ بما ظَهَرَ لنا مِنْ أَعْمَالِكُمْ، فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وقَرَّبْنَاهُ، ولَيْسَ لَنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ، اللهُ يُحَاسِبُهُ في سَرِيرَتِهِ، ومَنْ أَظْهَرَ لنا سُوءًا لم نَأْمَنْهُ ولم نُصَدِّقْهُ
Tema: "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu, dan wahyu kini sudah terputus. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami. Sedangkan urusan dalam hatinya tidak sedikit pun kami mengetahuinya, karena Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan mempercayai ucapannya."

عن عبد الله بن عتبة بن مسعود، قال: سمعت عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- يقول: إن ناسا كانوا يُؤْخَذُونَ بالوحي في عهد رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وإن الوحي قد انقطع، وإنما نأخذكم الآن بما ظهر لنا من أعمالكم، فمن أظهر لنا خيرًا أَمَّنَّاهُ وقَرَّبْنَاهُ، وليس لنا من سريرته شيء، الله يحاسبه في سريرته، ومن أظهر لنا سوءًا لم نأمنه ولم نصدقه وإن قال: إن سريرته حسنة.

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ūd, ia berkata, "Aku pernah mendengar Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu, dan wahyu kini sudah terputus. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya. Sedangkan urusan dalam hatinya kami tidak menhgetahuinya sedikitpun, karena Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya ucapannya, sekalipun ia mengatakan, "Sesungguhnya niat hatinya itu baik."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تحدث عمر بن الخطاب رضي الله عنه عمن أسر سريرة باطلة في وقت الوحي لا يخفى أمره على النبي صلى الله عليه وسلم بما ينزل من الوحي؛ لأن أناسًا في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام كانوا منافقين يظهرون الخير ويبطنون الشر، ولكن الله تعالى كان يفضحهم بما ينزل من الوحي على رسوله صلى الله عليه وسلم، لكن لما انقطع الوحي صار الناس لا يعلمون من المنافق؛ لأن النفاق في القلب، فيقول رضي الله عنه: وإنما نأخذكم الآن بما ظهر لنا فمن أظهر لنا خيرًا؛ عاملناه بخيره الذي أبداه لنا وإن أسر سريرة سيئة، ومن أبدى شرًّا؛ عاملناه بشره الذي أبداه لنا، وليس لنا من نيته مسؤولية، النية موكولة إلى رب العالمين عز وجل، الذي يعلم ما توسوس به نفس الإنسان.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- membahas tentang orang yang menyembunyikan isi hatinya yang batil pada waktu wahyu turun, bahwa perkara orang itu tidak tersembunyi dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena ada wahyu yang turun. "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada orang-orang munafik yang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Hanya saja Allah -Ta'ālā-menguak cacat mereka dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi ketika wahyu terhenti, maka orang-orang menjadi tidak mengetahui siapa orang munafik, karena kemunafikan itu dalam hati. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami akan memperlakukannya dengan baik sesuai dengan yang diperlihatkannya kepada kami, meskipun isi hatinya buruk. Siapa yang memperlihatkan keburukan, maka kami akan memperlakukannya dengan keburukan yang telah diperlihatkannya kepada kami. Kami tidak memiliki tanggung-jawab terhadap niatnya. Niat diserahkan kepada Rabb alam semesta -'Azza wa Jalla- yang mengetahui apa yang disembunyikan dan dibisikkan oleh jiwa manusia.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4234

 
Hadith   613   الحديث
الأهمية: إنَّ هذه النارَ عَدُوٌّ لَكُمْ، فَإِذَا نِمْتُم، فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ
Tema: "Sesungguhnya api ini musuh bagi kalian. Jika kalian tidur, maka padamkanlah!"

عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- قال: احْتَرَقَ بَيْتٌ بالمَدِينَةِ عَلَى أهْلِهِ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَمَّا حُدِّثَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشَأنِهِم، قالَ: «إنَّ هذه النارَ عَدُوٌّ لَكُمْ، فَإِذَا نِمْتُم، فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ».

Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu malam sebuah rumah terbakar bersama penghuninya. Saat keadaan mereka (penghuni rumah) diceritakan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya api ini musuh bagi kalian. Jika kalian tidur, maka padamkanlah!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
احترق بيت بالمدينة في الليل، فبلغ ذلك النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- فأخبرهم بأن هذه النار عدو لأهلها إذا لم يتحرزوا من شر لهيبها وإحراقها، ثم أمرهم -عليه الصلاة والسلام- بإطفائها قبل النوم دفعاً لشرها من الاشتعال والحريق ونحو ذلك.
Suatu malam ada satu rumah terbakar di Madinah. Berita ini sampai kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau memberitahu orang-orang bahwa api adalah musuh bagi pemiliknya jika dia tidak berhati-hati terhadap bahaya jilatannya dan daya bakarnya. Selanjutnya beliau -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- memerintahkan mereka untuk memadamkannya sebelum tidur untuk mencegah keburukannya seperti bara nyalanya, kebakaran dan sebagainya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4235

 
Hadith   614   الحديث
الأهمية: انْصُرْ أخاكَ ظالمًا أو مَظْلُومًا
Tema: Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau dizalimi

عن أنس بن مالك رضي الله عنه-مرفوعاً: «انْصُرْ أخاك ظالمًا أو مظلومًا» فقال رجل: يا رسول الله، أَنْصُرُهُ إذا كان مظلومًا، أرأيت إِنْ كان ظالمًا كيف أَنْصُرُهُ؟ قال: «تَحْجِزُهُ -أو تمْنَعُهُ- من الظلم فإنَّ ذلك نَصْرُهُ».

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau dizalimi." Ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, aku dapat menolong jika memang ia dizalimi. Namun, bagaimana pendapat Anda jika ia adalah pelaku kezaliman, bagaimanakah cara aku menolongnya?" Beliau menjawab, "Hendaklah engkau mencegah dia atau engkau larang dari kezaliman itu. Demikianlah cara menolongnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال النبي صلى الله عليه وسلم: انصر أخاك ولا تخذله ظالما أو مظلوما. فقال رجل: أنصره إن كان مظلوما بدفع الظلم عنه؛ فكيف أنصره إن كان ظالما بالتعدي على غيره. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: تمنعه من ظلمه لغيره؛ فإن ذلك نصره.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tolonglah saudaramu dan janganlah menghinakannya ketika dia berbuat zalim atau dizalimi." Seorang lelaki berkata, "Aku dapat menolongnya jika ia dizalimi dengan mencegah kezaliman darinya. Bagaimana aku menolongnya jika ia adalah pelaku kezaliman yang menganiaya orang lain?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Cegahlah ia dari melakukan kezaliman pada orang lain. Itulah cara menolongnya."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4236

 
Hadith   615   الحديث
الأهمية: إِنَّمَا يَلْبَسُ الحَرِيرَ مَنْ لا خَلَاقَ له
Tema: Orang yang mengenakan sutra adalah orang yang tidak mendapatkan bagiannya (di akhirat)

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-:"لا تلبسوا الحرير فإن من لبسه في الدنيا لم يلبسه في الآخرة".
وفي رواية: «إِنَّمَا يَلْبَسُ الحَرِيرَ مَنْ لا خَلَاقَ له».
وفي رواية للبخاري: «مَنْ لا خَلَاقَ له في الآخرةِ».

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jangan kalian memakai sutra. Sesungguhnya orang yang memakainya di dunia maka dia tidak akan memakainya di akhirat." Dalam riwayat lain, "Orang yang mengenakan sutra adalah orang yang tidak mendapatkan bagiannya." Dalam riwayat Bukhari disebutkan, "Orang yang tidak mendapat bagiannya di akhirat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن الحرير لا يلبسه من الرجال إلا من لا حظ له ولا نصيب له في الآخرة، وهذا فيه وعيد شديد، لأن الحرير من لباس النساء ومن لباس أهل الجنة، ولا يلبسه في الدنيا إلا أهل الكبر والعجب والخيلاء ولهذا نهى عن لبسه عليه الصلاة والسلام، والنهي مختص بالحرير الطبيعي، لكن ينبغي للإنسان ألا يلبس حتى الحرير الصناعي لما فيه من الميوعة، وليس محرمًا، كما أفتت بإباحته اللجنة الدائمة.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa sutra itu hanya dipakai oleh laki-laki yang tidak mendapatkan bagian dan jatah di akhirat. Ini adalah ancaman keras, karena sutra itu pakaian wanita dan pakaian penghuni surga. Pakaian itu tidak dipakai di dunia ini kecuali oleh orang yang sombong, takabur, dan congkak. Karena itulah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengenakannya. Larangan di sini khusus untuk sutra alami. Akan tetapi, seyogianya orang tidak memakai sutra, meskipun sutra buatan karena mengandung sifat feminin (kemayu) meskipun tidak haram. Komisi Tetap Fatwa membolehkan pemakaian sutra buatan tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4237

 
Hadith   616   الحديث
الأهمية: كَلَّا، إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ
Tema: Tidak, sesungguhnya aku melihatnya di neraka mengenakan pakaian atau mantel yang diambilnya.

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- مرفوعاً: لما كان يوم خيبر أقبل نَفَرٌ من أصحاب النبي -صلى الله عليه و سلم- فقالوا: فلان شهيد وفلان شهيد. حتى مَرُّوا على رجل فقالوا: فلان شهيد. فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "كلا إني رَأَيْتُهُ في النار في بُرْدَةٍ غَلَّهَا أو عباءة".

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Seusai perang khaibar, sejumlah sahabat pulang dari peperangan dan mereka mengatakan si Fulan syahid, si Fulan syahid, hingga mereka melewati seseorang lalu mereka berkata, Fulan mati syahid. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ”Tidak, aku melihatnya masuk neraka karena pakaian atau mantel yang diambilnya.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال عمر بن الخطاب -رضي الله عنه-: لما كان يوم غزوة خيبر أقبل أناس من أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- على النبي -صلى الله عليه وسلم- وهم يقولون: فلان شهيد، فلان شهيد حتى مروا على رجل فقالوا: فلان شهيد، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: كلا إني رأيته في النار بسبب عباءة قد كتمها يريد أن يختص بها لنفسه، فعُذب بها في نار جهنم، وانتفت عنه هذه الصفة العظيمة وهي الشهادة في سبيل الله -عز وجل-.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Saat usai perang Khaibar ada sekelompok sahabat datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengatakan, "Fulan mati syahid. Fulan mati syahid hingga mereka melewati seseorang lalu berkata, "Fulan mati syahid." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak, sesungguhnya aku melihatnya berada di neraka akibat mantel yang disembunyikannya dengan maksud khusus untuk dirinya sehingga ia disiksa karenanya di dalam neraka Jahannam." Dengan demikian, hilanglah darinya predikat terhormat, yaitu mati syahid di jalan Allah 'Azza wa Jalla.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4238

 
Hadith   617   الحديث
الأهمية: توفي رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وما في بَيْتِي من شيء يأكُلُه ذُو كَبدٍ إلا شَطْرُ شعير في رَفٍّ لي، فأكَلتُ منه حتى طال عليَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup kecuali sedikit gandum di rak ku. Maka akupun memakannya dalam waktu cukup lama. Lalu aku menimbangnya (untuk disedekahkan), sampai habis.

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: تُوُفِّيَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وما في بيتي من شيء يَأكُلُهُ ذُو كَبدٍ إلا شَطْرُ شَعير في رَفٍّ لي، فأكَلتُ منه حتى طال عليَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ.

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup kecuali sedikit gandum di rak ku. Maka akupun memakannya dalam waktu cukup lama. Lalu aku menimbangnya (untuk disedekahkan), sampai habis.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبر عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- توفي وما في بيتها إلا شطر شعير، ومعناه: شيء من شعير، كما فسره الترمذي، فظلت تأكل من الشعير الذي تركه -صلى الله عليه وسلم- زمنًا، فلما وزنته نفد، وهذا دليل على استمرار بركته -صلى الله عليه وسلم- في ذلك الطعام القليل، مع عدم الكيل الدال على التوكل، فالكيل عند المبايعة مطلوب من أجل تعلق حق المتابعين، أما الكيل عند الإنفاق فغير مستحب.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahnya tidak ada sesuatu pun selain sedikit gandum. Dia senantiasa memakan gandum yang ditinggalkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersebut beberapa waktu. Ketika dia menimbangnya (untuk dibagikan), gandum itupun habis. Ini menunjukkan keberlanjutan keberkahan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-di makanan yang sedikti tersebut tanpa perlu ditakar yang menunjukkan tawakal yang penuh kepada Allah. Takaran dibutuhkan untuk jugal beli, karena terkait dengan hak orang lain. Adapun takaran untuk beriinfak, maka tidak dianjurkan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4239

 
Hadith   618   الحديث
الأهمية: يتبع الميت ثلاثة: أهلُه ومالُه وعملُه، فيرجع اثنان ويَبقى واحد: يرجع أهلُه ومالُه، ويَبقى عمله
Tema: Mayat itu akan diikuti oleh 3 perkara: keluarga, harta dan amalnya. Dua perkara akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya.

عن أنس -رضي الله عنه- مرفوعاً: «يَتْبَعُ الميتَ ثلاثةٌ: أهْلُه ومَالُه وعَمَلُه، فيرجع اثنان ويَبْقى واحد: يرجع أهْلُه ومَالُه، ويبقى عَمَلُه».

Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Mayat itu akan diikuti oleh 3 perkara: keluarga, harta dan amalnya. Dua perkara akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: إذا مات الإنسان تبعه المشيعون له؛ فيتبعه أهله يشيعونه إلى قبره، ويتبعه ماله: أي عبيده وخدمه المماليك له، ويتبعه عمله معه، فيرجع اثنان، ويبقى معه عمله، فإن كان خيرًا فخير وإن كان شرًّا فشر.
Makna hadis: Jika manusia mati, ia akan diikuti oleh para pengantarnya: keluarganya akan ikut mengantarkannya ke kubur; Hartanya juga akan mengikutinya, yaitu para budak dan hamba sahaya yang dimilikinya; Dan amalnya juga ikut serta bersamanya. Dua pengiring itu akan kembali, dan yang tinggal bersama hanyalah amalnya. Jika amalnya baik, maka kebaikanlah yang ia dapatkan. Jika amalnya buruk, maka keburukanlah yang ia dapatkan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4240

 
Hadith   619   الحديث
الأهمية: يُدْنَى المؤمنُ يومَ القيامة من ربه حتى يضع كَنَفَهُ عليه، فيُقرِّرُه بذنوبِه
Tema: Pada hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Tuhannya hingga Dia meletakkan tabir dan rahmat-Nya kepadanya. Kemudian menjadikannya mengakui dosa-dosanya.

عن ابن عمر -رضي الله عنهما- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «يُدْنَى المؤمنُ يومَ القيامة من ربه حتى يضع كَنَفَهُ عليه، فيُقرِّرُه بذنوبِه، فيقول: أَتَعْرِفُ ذنبَ كذا؟ أَتَعْرِفُ ذنبَ كذا؟ فيقول: ربِّ أعرف، قال: فإني قد سَترتُها عليك في الدنيا، وأنا أغْفِرُها لك اليوم، فيعطى صحيفة حسناته».

Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Tuhannya hingga Dia meletakkan tabir dan rahmat-Nya kepadanya. Kemudian menjadikannya mengakui dosa-dosanya. Allah bertanya, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?" Orang mukmin menjawab, "Wahai Tuhanku, aku tahu." Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosamu itu di dunia dan sekarang Aku ampuni dosa-dosamu." Lantas Allah memberikan catatan kebaikannya kepadanya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يقرب الله -عز وجل- عبده المؤمن يوم القيامة، ويستره عن أهل الموقف ويقرره بذنوبه ومعاصيه سرًّا، أَتعرفُ ذنبَ كذا؟ أَتعرف ذنبَ كذا؟ فيقر بها، فيقول: فإني قد سترتها عليك في الدنيا ولم أفضحك بها بين الخلائق، وأنا كذلك أسترها عنهم اليوم، وأغفرها لك.
Pada hari Kiamat, Allah -'Azza wa Jalla- dekat dengan hamba-Nya yang mukmin dan menutupinya dari orang-orang yang berada di tempat tersebut. Kemudian Dia menjadikan hamba mukmin itu mengakui dosa-dosanya secara rahasia. Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu? Orang mukmin tersebut mengakuinya lantas Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa itu untukmu di dunia dan Aku tidak menyingkapkan aibmu di depan umum. Demikian juga hari ini Aku menutupi dosa-dosa itu dari mereka dan Aku ampuni dosa-dosamu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4242

 
Hadith   620   الحديث
الأهمية: يُسَلِّمُ الراكِبُ على الماشي، والماشي على القاعد، والقليلُ على الكثير
Tema: Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: « يُسَلِّمُ الراكِبُ على الماشي، والماشي على القاعد، والقليلُ على الكثير».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث: بيان من هو الأولى بالتسليم.
الأول: يسلِّم الراكب على الماشي؛ لأن الراكب يكون مُتَعَلِّيَا، فالبدء من جهته دليل على تواضعه لأخيه المسلم في حال رفعته، فكان ذلك أجلب لمحبته ومودته.
ثانيًا: يسلم الماشي على القاعد لتشبيهه بالداخل على أهل المنزل، وحكمة أخرى: أن القاعد قد يشق عليه مراعاة المارين مع كثرتهم: فسقطت البداءة عنه دفعا للمشقة.
ثالثًا: تسليم القليل على الكثير تعبيرا عن الاحترام والإكرام لهذه الجماعة.
رابعًا: الصغير يسلم على الكبير؛ لأن الكبير له حق على الصغير.
ولكن لو قُدِّر أن القليلين في غفلة ولم يسلموا، فليسلم الكثيرون ولو قُدِّر أن الصغير في غفلة، فليسلم الكبير ولا تترك السنة.
وهذا الذي ذكره النبي -صلى الله عليه وسلم- ليس معناه: أنه لو سلم الكبير على الصغير كان حرامًا ولكن المعنى الأولى: أن الصغير يسلم على الكبير، فإنه لولم يسلم فليسلم الكبير، حتى إذا بادرت بالسلام لما تقدم في حديث أبي أمامة: "إن أولى الناس بالله من بدأهم بالسلام".   
وهكذا لو حصل التلاقي، فإن أولاهم بالله من بدأ بالسلام، وفي الحديث الآخر: "وخيرهما الذي يبدأ بالسلام".
Di dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang siapa yang paling pantas mendahului dalam pengucapan salam.
Pertama: yang berkendara hendaknya mengucapkan salam kepada yang berjalan; karena yang berkendara berada dalam posisi yang lebih tinggi, sehingga memulai (salam) dari pihaknya menunjukkan sikap tawadu terhadap saudara muslimnya ketika ia dalam posisi lebih tinggi. Hal itu akan lebih mengundang rasa cinta dan sayang kepadanya.
Kedua: yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, karena kondisinya serupa dengan tamu yang masuk menemui penghuni suatu rumah. Hikmah lainnya adalah bahwa orang yang duduk kesulitan memperhatikan orang-orang yang melintas karena banyaknya jumlah mereka, sehingga keharusan memulai ucapan salam gugur baginya untuk menghilangkan kesulitan itu darinya.
Ketiga: yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang jumlahnya banyak, sebagai bentuk ungkapan penghormatan dan pemuliaan terhadap jamaah/kelompok orang banyak tersebut.
Keempat: yang muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua; karena yang tua mempunyai hak atas yang lebih muda. Namun jika ditakdirkan bahwa yang berjumlah sedikit lupa mengucapkan salam, maka hendaklah yang berjumlah banyak tetap mengucapkan salam jika ternyata yang berjumlah sedikit lupa melakukannya. Begitu pula yang lebih tua (jika yang lebih muda lupa mengucapkannya), dan sunnah ini hendaknya tidak ditinggalkan (karena terikat pada hal seperti itu). Yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ini bukan berarti jika yang lebih tua mengucapkan salam kepada yang lebih muda itu haram. Tapi maksudnya adalah bahwa yang lebih utama/pantasnya adalah jika yang lebih muda lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang lebih tua. Namun jika ia tidak mengucapkan salam, maka hendaknya yang lebih tua-lah yang mengucapkan salam, meskipun harus mendahuluinya mengucapkan salam, berdasarkan hadis Abu Umāmah yang terdahulu: “Sesungguhnya manusia yang paling layak di sisi Allah adalah orang yang lebih dulu bersalam.” Begitu pula jika terjadi pertemuan, maka yang paling baik di sisi Allah adalah siapa yang lebih dahulu mengucapkan salam. Dan dalam hadis yang lain disebutkan: “Yang terbaik diantara mereka berdua adalah yang mengawali pengucapan salam.”

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4243

 
Hadith   621   الحديث
الأهمية: لقد رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يَظَلُّ اليومَ يَلْتَوِي ما يجدُ من الدَّقَلِ ما يَمْلأُ به بَطنه
Tema: Sungguh aku telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sepanjang hari kelaparan, karena beliau tidak mendapatkan kurma (meskipun) jelek untuk mengisi perutnya.

عن النعمان بن بشير -رضي الله عنهما- قال: ذكر عمرُ بن الخطاب -رضي الله عنه- ما أصَاب الناس من الدنيا، فقال: لقد رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يَظَلُّ اليومَ يَلْتَوِي ما يَجدُ من الدَّقَلِ ما يَمْلأُ به بَطنه.

Dari An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan tentang apa yang telah didapatkan oleh manusia dari dunia, ia berkata, "Sungguh aku telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sepanjang hari kelaparan, karena beliau tidak mendapatkan kurma (meskipun) jelek untuk mengisi perutnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
ذكر عمر -رضي الله عنه- ما أصاب الناس من الدنيا لما فتح الله عليهم من الأمصار، وما جمعوا من الغنائم، فقال: لقد رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يلتوي من الجوع، وما يجد ما يملأ به بطنه حتى رديء التمر، لا يجد منه ما يسد به جوعه.
Umar -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan tentang karunia yang telah didapatkan oleh kaum Muslimin ketika Allah -Ta'ālā- membebaskan berbagai kota untuk mereka dan harta rampasan telah mereka kumpulkan. Ia berkata, "Sungguh aku telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sepanjang hari kelaparan, karena beliau tidak mendapatkan sesuatu meskipun kurma jelek yang dapat mengganjal perutnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4244

 
Hadith   622   الحديث
الأهمية: لما نزلت آية الصدقة كنَّا نُحَامل على ظُهورنا، فجاء رَجُل فَتَصَدَّقَ بشيء كثير، فقالوا: مُراءٍ، وجاء رَجُل آخر فَتَصَدَّقَ بصاع، فقالوا: إن الله لَغَنيٌّ عن صاع هذا! فنزلت: {الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات}
Tema: Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami (bekerja) mengangkut (hasil sedekah) dengan punggung kami. Maka seseorang datang menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak. Mereka (orang-orang munafik) berkata, "Ini orang yang ria (pamer)." Seorang lain datang lalu menyedekahkan satu ṣā'. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan ṣā' orang ini." Maka turunlan ayat, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela..."

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري -رضي الله عنه- قال: لما نزلت آية الصدقة كنَّا نُحَامِلُ على ظُهُورِنَا، فجاء رجل فتصدق بشيء كثير، فقالوا: مُراءٍ، وجاء رجل آخر فتصدق بصاع، فقالوا: إن الله لَغَنيٌّ عن صاع هذا!؛ فنزلت: (الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم).
Tema: Dari Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amru Al-Anṣāri Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami (bekerja) mengangkut (hasil sedekah) dengan punggung kami. Maka seseorang datang menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak. Mereka (orang-orang munafik) berkata, "Ini orang yang ria (pamer)." Seorang lain datang lalu menyedekahkan satu ṣā'. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan ṣā' orang ini." Maka turunlan ayat, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال أبو مسعود -رضي الله عنه- لما نزلت آية الصدقة: يعني الآية التي فيها الحث على الصدقة قال الحافظ: كأنه يشير إلى قوله -تعالى-: (خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا) جعل الصحابة -رضي الله عنهم- يبادرون ويسارعون في بذل الصدقات إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، كل واحد يحمل بقدرته من الصدقة إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، فجاء رجل بصدقة كثيرة، وجاء رجل بصدقة قليلة، فكان المنافقون إذا جاء الرجل بالصدقة الكثيرة؛ قالوا: هذا مُراءٍ، ما قصد به وجه الله، وإذا جاء الرجل بالصدقة القليلة؛ قالوا: إن الله غني عنه، وجاء رجل بصاع، قالوا: إن الله غني عن صاعك هذا.
فأنزل الله -عز وجل-: (الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم) أي: يعيبون المتطوعين المتصدقين، والذين لا يجدون إلا جهدهم، فهم يلمزون هؤلاء وهؤلاء، (فيسخرون منهم سخر الله منهم ولهم عذاب أليم)، فهم سخروا بالمؤمنين؛ فسخر الله منهم، والعياذ بالله.
Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, ketika turun ayat sedekah, yakni ayat yang menganjurkan bersedekah. Al-Hāfiẓ mengatakan, "Sepertinya ia menunjuk pada firman Allah -Ta'ālā-, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." Maka para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bersegera dan berlomba-lomba memberikan sedekah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setiap orang membawa sedekah semampunya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ada orang yang datang dengan sedekah yang banyak dan ada orang yang datang dengan sedekah yang sedikit. Ketika seseorang datang membawa sedekah banyak, orang-orang munafik mengatakan, "Orang ini ria, tidak meniatkan sedekahnya untuk mencari rida Allah." Dan apabila seseorang membawa sedekah sedikit mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak membutuhkannya." Ada orang yang datang membawa sedekah satu ṣā', mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan satu ṣā'-mu ini." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya." Yaitu, mereka mencibir orang-orang yang sukarela bersedekah dan orang-orang yang tidak mendapatkan sedekah selain sekedar kemampuannya. Orang-orang munafik ini mencela mereka semua. "Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4245

 
Hadith   623   الحديث
الأهمية: قد كان من قَبْلَكم يُؤخذ الرَّجُل فَيُحْفَرُ له في الأرض، فيُجعل فيها، ثمَّ يُؤتى بالمنشار فيوضع على رأسه فيُجعل نِصْفَين، ويُمْشَطُ بأمْشَاطِ الحديد ما دون لحْمِه وعظمه، ما يَصُدُّه ذلك عن دِينِه
Tema: Sungguh pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, ada seorang yang diculik, lalu dibuatkan lubang di tanah, kemudian dijebloskan ke dalamnya, lalu didatangkan gergaji dan diletakkan di bagian kepalanya (selanjutnya dibelah) hingga menjadi dua bagian. Selain itu dia pun disayat dengan sisir dari besi yang diletakkan antara daging dan tulangnya, tetapi semua siksaan itu tidak memalingkan dia dari agamanya.

عن أبي عبد الله خباب بن الأرت -رضي الله عنه- قال: شكونا إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وهو مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً له في ظِلِّ الكعبة، فقلنا أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لنا، ألا تدعو الله لنا؟ فقال: «قد كان من قبلكم يُؤخذ الرجل فيُحفر له في الأرض، فيُجعل فيها، ثمَّ يُؤتى بالمِنْشَارِ فيوضع على رأسه فيُجعل نصفين، ويُمشط بأمشاطِ الحديد ما دون لحمه وعظمه، ما يَصُدُّهُ ذلك عن دينه، والله لَيُتِمَّنَّ الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غَنَمِه، ولكنكم تستعجلون». وفي رواية: «هو مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً، وقد لقينا من المشركين شدة».

Dari Abu Abdillah Khabbāb bin Al-Aratt -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Suatu saat kami pernah mengadu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana beliau sedang berbantal jubahnya di naungan bayangan Ka'bah. Kami berkata, "Tidakkah engkau meminta pertolongan Allah. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah?" Maka beliau menjawab, "Sungguh pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian ada seorang yang diculik, lalu dibuatkan lubang di tanah, kemudian dijebloskan ke dalamnya, lalu didatangkan gergaji dan diletakkan di bagian kepalanya (selanjutnya dibelah) hingga (tubuhnya) menjadi dua bagian. Selain itu dia pun disayat dengan sisir dari besi yang diletakkan antara daging dan tulangnya, tetapi semua siksaan itu tidak memalingkan dia dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah senantiasa menyempurnakan agama ini hingga seorang penunggang unta berjalan dari Ṣan'ā` sampai Haḍramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan tidak khawatir srigala memangsa kambingnya. Tetapi sungguh kalian tergesa-gesa." Dalam sebuah riwayat, "Di mana beliau berbantal jubahnya dan kami telah menerima penganiayaan tak terhingga dari orang-orang musyrik."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث يحكي خباب -رضي الله عنه- ما وجده المسلمون من الأذية من كفار قريش في مكة، فجاؤوا يشكون إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة، فبين النبي -عليه الصلاة والسلام- أن من كان قبلنا ابتلي في دينه أعظم مما ابتلي به هؤلاء، يُحفر له حفرة، ثم يُلقى فيها، ثم يؤتى بالمنشار على مفرق رأسه ويشق نصفين، ويمشط بأمشاط الحديد ما بين جلده وعظمه، وهذه أذية عظيمة.
ثم أقسم -صلوات الله وسلامه عليه- أن الله -سبحانه- سيتم هذا الأمر، يعني: سيتم ما جاء به الرسول -عليه الصلاة والسلام- من دعوة الإسلام، حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخشى إلا الله والذئب على غنمه،
ثم أرشد -عليه الصلاة والسلام- صحبه الكرام إلى ترك العجلة؛ فقال: "ولكنكم تستعجلون" أي: فاصبروا وانتظروا الفرج من الله، فإن الله سيتم هذا الأمر، وقد صار الأمر كما أقسم النبي -عليه الصلاة والسلام-.
Di dalam hadis ini Khabbāb -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan penderitaan kaum Muslimin yang disebabkan perlakuan menyakitkan kaum kafir Quraisy di Makkah. Mereka datang mengadu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana saat itu beliau sedang rebahan di bawah naungan bayangan Ka'bah dengan berbantal jubahnya. Maka beliau menjelaskan bahwa orang sebelum kita (umat terdahulu) telah diuji dalam (mempertahankan) agamanya dengan siksaan yang lebih dahsyat daripada mereka. Yaitu dibuatkan lubang di tanah, lalu dimasukkan ke dalamnya dan digergaji mulai kepalanya hingga (tubuhnya) terbelah menjadi dua bagian. Juga dicabik-cabik dagingnya dengan sisir besi hingga terlihat tulang belulangnya. Ini siksaan yang sangat dahsyat. Kemudian beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersumpah bahwa Allah senantiasa akan menyempurnakan agama yang beliau bawa ini, hingga penunggang unta sendirian dari Ṣan'ā` ke Ḥadramaut tidak ada yang ditakutkan kecuali Allah dan tidak pula khawatir srigala memangsa kambingnya. Lalu beliau memberikan pengertian kepada para sahabatnya agar tidak tergesa-gesa seraya bersabda, "Tetapi sungguh kalian tergesa-gesa." Artinya, bersabarlah dan tunggulah kemenangan dari Allah, karena Allah pasti menyempurnakan keberadaan agama ini. Dan terjadilah apa yang disumpahkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4246

 
Hadith   624   الحديث
الأهمية: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يَنَام أول اللَّيل، ويقوم آخره فَيُصلِّي
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat

عن عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يَنَام أول اللَّيل، ويقوم آخره فَيُصلِّي.

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تُخبر عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان ينام أول الليل، وذلك بعد صلاة العشاء، ويقوم آخره، وهو: الثلث الثاني من الليل، فإذا فَرَغ من صلاته، رجع إلى فراشه ليَنَام، وذلك في السُدس الأخير من الليل؛ ليستريح بَدَنه من عَنَاء قيام الليل، وفيه من المصلحة أيضاً استقبال صلاة الصبح، وأذكار النهار بنشاط وإقبال، ولأنه أقرب إلى عدم الرياء؛ لأن من نام السدس الأخير أصبح ظاهر اللون سليم القوى، فهو أقرب إلى أن يخفي عمله الماضي عمن يراه.
ولهذا جاء أن الأذان الأول؛ ليوقظ النائم ويرجع القائم، فالقائم يرجع إلى النوم؛ ليَكتَسِب بدنه قوة ونشاطاً، وأما النائم، فيستيقظ حتى يَستعد للصلاة، وحتى يصلي وتره إذا لم يوتر أول الليل.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam setelah salat Isya dan bangun di akhirnya, yaitu di sepertiga malam kedua. Lalu melaksanakan salat malam. Jika beliau selesai salat maka beliau kembali lagi ke kasurnya untuk tidur, yaitu di seperenam malam yang terakhir, agar beliau bisa istirahat dan menghilangkan kelelahan salat malam. Maslahat lainnya adalah agar melaksanakan salat Subuh dan wirid siang dengan vitalitas dan semangat baru, karena itu bisa menghilangkan pamer. Sebab, orang yang tidur di seperenam malam, wajahnya tampak cerah dan tubuhnya kuat. Jadi ini lebih tepat untuk menyembunyikan amalan yang sudah dilakukannya dari orang yang melihatnya. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa azan pertama untuk membangunkan orang yang tidur dan menyuruh orang yang salat untuk kembali (tidur). Orang yang salat segera tidur agar tubuhnya kembali kuat dan bersemangat. Adapun orang yang tidur, agar bangun untuk persiapan salat malam sekaligus salat witir jika ia belum salat witir di awal malam.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4247

 
Hadith   625   الحديث
الأهمية: الترغيب في نعيم الجنة الدائم والترهيب من عذاب النار الأليم
Tema: Motivasi untu mendapatkan kenikmatan Surga yang kekal, dan mewaspadai azab neraka yang sangat pedih.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- مرفوعاً: «يُؤتى بأنعم أهل الدنيا من أهل النار يوم القيامة، فَيُصْبَغُ في النار صَبْغَةً، ثم يقال: يا ابن آدم، هل رأيت خيرًا قطُّ؟ هل مَرَّ بك نَعِيمٌ قطُّ؟ فيقول: لا والله يا رب، وَيُؤْتَى بأشدِّ الناس بُؤسًا في الدنيا من أهل الجَنَّة، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً في الجنَّة، فيقال له: يا ابن آدم، هل رأيت بُؤسًا قط؟ هل مَرَّ بك شِدَّةٌ قط؟ فيقول: لا والله، ما مَرَّ بي بُؤْسٌ قطٌّ، ولا رأيت شِدةً قَطُّ».

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Pada hari kiamat kelak akan dihadirkan orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’
Dan akan dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga lalu dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat adanya kesengsaraan sedikitpun.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يؤتى يوم القيامة بأنعم أهل الدنيا وهو من أهل النار، فيغمس في جهنم، فيأتيه من حرها ولهيبها وسمومها ما ينسيه ما كان فيه من نعيم في الدنيا، عند ذلك يسأل ربه وهو أعلم بحاله، هل رأيت خيرًا قط؟ هل مر بك نعيم قط؟ فيقول: لا والله يا رب.
وفي المقابل يؤتى بأشقى أهل الدنيا وأشدهم بؤسًا وفقرًا وحاجة وهو من أهل الجنة، فيغمس في الجنة غمسة، فينسى ما كان عليه من حال في الدنيا من النكد والشقاء والبؤس والفقر والشدة؛ لما يجد من لذة ومتعة لا توصف، عند ذلك يسأل ربه وهو أعلم بحاله، فيقال له: يا ابن آدم، هل رأيت بُؤسًا قط؟ هل مَرَّ بك شدة قط؟ فيقول: لا والله، ما مرَّ بي بؤس قطُّ، ولا رأيت شِدة قَطُّ.
Makna hadis ini:
Pada hari kiamat nanti akan ada penghuni neraka yang ketika di dunia ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya, lalu ia dicelupkan ke dalam Jahannam sehingga ia pun terkena panasnya, nyalanya, anginnya yang membuatnya melupakan kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya. Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. Apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?" Orang itu menjawab, "Tidak demi Allah, wahai Tuhanku." Sebaliknya, akan didatangkan seorang penghuni surga yang merupakan penduduk dunia paling sengsara, paling melarat, fakir dan membutuhkan, lalu ia dicelupkan di surga satu kali celupan sehingga dia melupakan kondisi yang pernah terjadi di dunia berupa keletihan, kesengsaraan, kesusahan, kefakiran dan kepayahan, saat dirinya mendapatkan kelezatan dan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan. Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. Dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan suatu kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan suatu penderitaan?" Orang itu menjawab, "Tidak demi Allah, aku tidak pernah merasakan suatu penderitaan pun yang menghampiriku dan aku pun tidak melihat suatu kesengsaraan pun.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4248

 
Hadith   626   الحديث
الأهمية: إِنِّي لَأَقُومُ إلى الصلاةِ، وأُرِيُد أَن أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّه
Tema: Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan aku bermaksud hendak memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, lalu aku ringankan salatku karena aku tak mau merisaukan ibunya.

عن أبي قتادة وأنس بن مالك -رضي الله عنهما- مرفوعاً: «إني لأقوم إلى الصلاة، وأريد أن أُطَوِّلَ فيها، فأسمع بكاء الصبي فأَتَجَوَّزُ في صلاتي كراهيةَ أن أَشُقَّ على أمه».

Dari Qatādah dan Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan aku bermaksud hendak memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, lalu aku ringankan salatku karena aku tak mau merisaukan ibunya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- يدخل في صلاة الجماعة إمامًا وهو يريد أن يطيل فيها، فإذا سمع بكاء الطفل خفف مخافة أن يشق التطويل على أمه؛ لانشغال قلبها بطفلها.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat berjama'ah. Beliau ingin memanjangkan salatnya. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan anak, beliau pun meringankan salatnya karena khawatir bila panjang dapat merisaukan ibu anak itu yang mana hatinya terpaut dengan anaknya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4249

 
Hadith   627   الحديث
الأهمية: يا رسولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فإلى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قال: إلى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
Tema: Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku beri hadiah? Nabi menjawab, "Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu."

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: يا رسولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فإلى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قال: «إلى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku beri hadiah?" Nabi menjawab, "Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
سألت عائشة -رضي الله عنها- النبي -صلى الله عليه وسلم-: إن لي جارين وقد أمرت بإكرام الجار مطلقًا؛ ولا أقدر على الإهداء إليهما معًا، فإلى أيهما أهدي ليحصل لي الدخول في جملة القائمين بإكرام الجار؟ فقال -صلى الله عليه وسلم-: "إلى أقربهما منك بابًا".
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya, "Aku memiliki dua tetangga. Engkau telah memerintahkan kami untuk memuliakan mereka. Aku tidak mampu menghadiahi keduanya sekaligus. Kepada siapakan aku berikan hadiah hingga aku termasuk orang yang telah memuliakan tetangga?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Yang paling dekat pintu rumahnya dari pintu rumahmu."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4250

 
Hadith   628   الحديث
الأهمية: تقبيل الصبيان ورحمتهم والشفقة عليهم
Tema: Mencium anak-anak, merahmati dan menyayangi mereka

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: قَدِمَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ عَلَى رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فقالوا: أَتُقَبِّلُونَ صِبْيَانَكُمْ؟ فقال: «نعم» قالوا: لَكِنَّا واللهِ ما نُقَبِّلُ! فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «أَوَ أَمْلِكُ إن كانَ اللهُ نَزَعَ مِنْ قُلُوبِكُم الرَّحْمَةَ!».
Tema: Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara marfū'. Sekelompok Arab Badui mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, "Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian?" Nabi menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Namun, demi Allah, kami tidak mencium mereka." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku tak dapat berbuat apa-apa jika Allah telah mencabut rasa sayang dari hati-hati kalian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء قوم من الأعراب إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فسألوا: هل تقبلون صبيانكم؟ قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "نعم"، والأعراب عندهم غلظة وشدة؛ فقالوا: إنا لسنا نقبل صبياننا، فقال النبي -عليه الصلاة والسلام-: "إذا نزع الله من قلوبكم الرحمة فلا أملك وضعها في قلوبكم".
Salah satu suku dari Arab Badui datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, "Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian?" Nabi menjawab, "Ya." Sedang Arab Badui terkenal bertemperamen keras dan kasar. Mereka berkata, "Namun, demi Allah, kami tidak mencium anak-anak kecil kami." Nabi -salallahu alaihi wasallam- berkata, "Jika Allah mencabut rasa sayang dari hati kalian, aku tak dapat meletakkannya di hati-hati kalian."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4251

 
Hadith   629   الحديث
الأهمية: أَيُّ الصَّدَقةِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قال: أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الفَقْرَ وتَأْمَلُ الغِنَى، ولا تُمْهِلُ حتى إذا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ قُلْتَ لفلانٍ كَذَا ولفلانٍ كَذَا، وقد كان لفلانٍ
Tema: Sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, "Kamu bersedekah pada saat kamu sehat, saat kamu kikir, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si fulan (ahli waris)".

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، أي الصدقة أعظم أجرًا؟ قال: «أن تَصَدَّقَ وأنت صحيحٌ شَحِيحٌ، تخشى الفقر وتَأَمَلُ الغِنى، ولا تُمْهِلْ حتى إذا بلغتِ الحُلْقُومَ قلت: لفلان كذا ولفلان كذا، وقد كان لفلان».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, "Kamu bersedekah pada saat kamu sehat, saat kamu kikir, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si fulan (ahli waris)".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- يسأله    أفضل الصدقة، فقال له: أن تتصدق وأنت صحيح البدن شحيح النفس، تخاف من الفقر إن طالت بك حياتك، وتطمع في الغِنى؛ ولا تؤخر الصدقة حتى إذا جاءك الموت وعلمت أنك خارج من الدنيا قلت لفلان كذا من المال صدقة أو وصية، ولفلان كذا من المال صدقة أو وصية؛ وقد كان المال لغيرك الذي يرثك.
Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk bertanya mengenai sedekah paling utama. Beliau bersabda kepada orang itu, "Kamu bersedekah pada saat badanmu sehat, jiwamu kikir, saat takut menjadi fakir jika usiamu panjang dan saat berangan-angan kaya. Janganlah engkau mengakhirkan sedekah hingga ketika kematian datang kepadamu dan engkau tahu bahwa engkau akan meninggalkan dunia, engkau katakan bahwa untuk si fulan sekian dari harta yang didapat sebagai sedekah atau wasiat. Untuk si fulan harta sekian sebagai sedekah atau wasiat. Padahal harta itu sudah menjadi milik orang lain yang mewarisimu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4252

 
Hadith   630   الحديث
الأهمية: تُدْنَى الشمسُ يومَ القيامةِ مِنَ الخَلْقِ حتى تكونَ منهم كَمِقْدَارِ مِيلٍ
Tema: Pada hari kiamat, matahari didekatkan kepada segenap makhluk hingga jaraknya kira-kira hanya satu mil.

عن المقداد بن الأسود -رضي الله عنه- مرفوعاً: «تُدْنَى الشمسُ يوم القيامة من الخلق حتى تكون منهم كمقدار مِيل». قال سليم بن عامر الراوي عن المقداد: فوالله ما أدري ما يعني بالميل، أمسافةَ الأرض أم الميلَ الذي تكتحل به العين؟ قال: «فيكون الناس على قدر أعمالهم في العرق، فمنهم من يكون إلى كعبيه، ومنهم من يكون إلى ركبتيه، ومنهم من يكون إلى حِقْوَيْهِ، ومنهم من يُلْجِمُهُ العرقُ إلجامًا». قال: وأشار رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بيده إلى فيه.
عن أبي هريرة -رضي الله عنه-: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «يَعْرَقُ الناس يوم القيامة حتى يذهب عرقهم في الأرض سبعين ذراعا، ويُلْجِمُهُمْ حتى يبلغ آذانهم».

Dari Al-Miqdād bin Al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Pada hari kiamat, matahari didekatkan kepada para makhluk hingga jaraknya kira-kira hanya satu mil." Sulaim bin 'Āmir yang meriwayatkan dari Al-Miqdād berkata, "Demi Allah, saya tidak tahu yang dimaksud oleh Rasulullah dengan mil itu, apakah ukuran jarak pada perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki mata?" Rasulullah bersabda lagi, "Manusia tenggelam dalam keringat mereka sesuai dengan amal perbuatannya. Diantara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas lututnya, sebatas pusarnya dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya." Perawi berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan isyarat dengan tangannya ke arah mulut beliau." Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat nanti manusia akan berkeringat, sampai-sampai keringat mereka menggenangi tanah setinggi tujuh puluh hasta, dan mereka akan tenggelam dalam lautan keringat hingga ada yang mencapai telinga mereka."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يُقرِّب الله -تبارك وتعالى- الشمس يوم القيامة من المخلوقين حتى تصير المسافة كمقدار أربعة آلاف ذراع، فيكون الناس على قدر أعمالهم؛ فاختلافهم في مكان العرق بحسب اختلافهم في العمل صلاحًا وفسادًا، فمنهم من يصل العرق إلى كعبيه، ومنهم من يصل إلى ركبتيه، ومنهم من يصل إلى موضع معقد الإزار منه، ومنهم من يصل العرق إلى فيه وأذنيه فيلجمه إلجامًا، وذلك من شدة كرب يوم القيامة وأهوالها.
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- mendekatkan matahari pada hari kiamat kepada makhluk-makhluk-Nya hingga jaraknya kira-kira sejauh empat ribu hasta. Manusia dalam kondisi sesuai amal perbuatannya. Perbedaan mereka di tempat puncak keringat sesuai dengan perbedaan amal perbuatan mereka; amal baik dan amal buruk. Ada diantara mereka yang keringatnya sampai ke kedua mata kakinya. Ada juga yang keringatnya sampai pada kedua lututnya. Ada juga yang keringatnya sampai ke tempat sarungnya (pinggangnya). Bahkan ada yang keringatnya sampai ke mulut dan kedua telinganya lalu keringat itu membelenggunya. Hal ini terjadi karena dahsyatnya kesengsaraan hari kiamat dan kengeriannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4289

 
Hadith   631   الحديث
الأهمية: بَخْ! ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، وَقَدْ سَمِعْتُ ما قُلْتَ، وإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا في الأَقْرَبِينَ
Tema: Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan kamu agar membagikannya kepada para kerabatmu!

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال: كان أبو طلحة -رضي الله عنه- أكثر الأنصار بالمدينة مالا من نخل، وكان أحب أمواله إليه بَيْرَحَاء، وكانت مُسْتَقبِلَةَ المسجد وكان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يدخلها ويشرب من ماء فيها طيب. قال أنس: فلما نزلت هذه الآية: {لن تنالوا البر حتى تُنِفُقوا مما تُحبون} قام أبو طلحة إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، إن الله -تعالى- أنزل عليك: {لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون} وإن أحب مالي إلي بَيْرَحَاء، وإنها صدقة لله -تعالى-، أرجو بِرَّهَا وذُخْرَهَا عند الله -تعالى-، فَضَعْهَا يا رسول الله حيث أَرَاكَ الله، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «بَخٍ ذلك مال رَابِحٌ، ذلك مال رابح، وقد سمعتُ ما قلتَ، وإني أرى أن تجعلها في الأقربين»، فقال أبو طلحة: أفعل يا رسول الله، فقسمها أبو طلحة في أقاربه، وبني عمه.

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Abu Ṭalḥah adalah seorang sahabat Ansar yang terkaya di Madinah karena pohon kurma yang dimilikinya. Sedangkan harta yang paling disukainya adalah kebun Bairuḥā` yang terletak di dekat mesjid. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya." Anas berkata, "Ketika turun ayat, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Lantas Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha'. Maka kebun itu aku sedekahkan untuk Allah -Ta'ālā-. Aku mengharapkan kebajikan dan pahala dari Allah. Untuk itu, pergunakanlah wahai Rasulullah sesuai petunjuk Allah kepadamu!"
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar kamu membagikannya kepada para kerabatmu!" Abu Ṭalḥah berkata, "Wahai Rasulullah, saya akan melaksanakan petunjukmu." Selanjutnya Abu Ṭalḥah membagi-bagi kebun itu kepada kerabat dan anak-anak pamannya.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان أبو طلحة -رضي الله عنه- أكثر الأنصار بالمدينة مزارع، وكان له بستان في قبلة المسجد فيه ماء طيب، وكان النبي -صلى الله عليه وسلم- يأتيه ويشرب منه، فلما نزل قوله -تعالى-: (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ) بادر -رضي الله عنه- وسابق وسارع وجاء إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- وقال: يا رسول الله، إن الله -تعالى- أنزل قوله: (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ) وإن أحب أموالي إلي بيرحاء -وهذا اسم ذلك البستان- وإني جعلتها بين يديك صدقة لله ورسوله؛ فقال النبي -صلى الله عليه وسلم- متعجبًا: بخ بخ ذاك مال رابح، ذاك مال رابح، أرى أن تجعلها في أقاربك. ففعل -رضي الله عنه-، وقسمها في أقاربه وبني عمه.
Abu Ṭalḥah adalah seorang sahabat Ansar yang terkaya di Madinah karena pohon kurma yang dimilikinya. Dia memiliki satu kebun di depan masjid dan di dalamnya ada air yang segar. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air darinya. Saat turun firman Allah -Ta'ālā-, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Abu Ṭalḥah segera datang cepat-cepat kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan firman-Nya, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuḥā` - ini adalah nama kebunnya-. Sesungguhnya aku menyerahkan kebun itu di hadapanmu sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda dengan penuh kagum, "Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar kamu membagikannya kepada para kerabatmu!"
Abu Ṭalḥah pun melakukannya dan membagi-bagikan kebun itu kepada para kerabatnya dan anak-anak pamannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4290

 
Hadith   632   الحديث
الأهمية: جَعَلَ اللهُ الرحمةَ مائة جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وأَنْزَلَ في الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلَائِقُ، حتى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ
Tema: Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Dia tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi hingga seekor binatang itu mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «جَعَلَ اللهُ الرحمةَ مائة جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وأَنْزَلَ في الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلَائِقُ، حتى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ».
وفي رواية «إِنَّ للهِ تعالى مئةُ رحمةٍ، أَنْزَلَ منها رحمةً واحدةً بَيْنَ الجِنِّ والإنسِ والبَهَائِمِ والهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وبها يَتَرَاحَمُونَ، وبِهَا تَعْطِفُ الوَحْشُ على وَلَدِهَا، وأَخَّرَ اللهُ تعالى تِسْعًا وتِسْعِينَ رحمةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يومَ القِيَامَةِ».
وعن سلمان الفارسي -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّ للهِ تعالى مئةُ رحمةٍ فمنها رحمةٌ يَتَرَاحَمُ بها الخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وتِسْعٌ وتِسْعُونَ لِيَومِ القِيَامَةِ».
وفي رواية: «إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ والأَرْضَ مئةَ رحمةٍ كُلُّ رحمةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إلى الأَرْضِ، فَجَعَلَ منها في الأَرْضِ رَحْمَةً فبها تَعْطِفُ الوَالِدَةُ على وَلَدِهَا، والوَحْشُ والطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ، فإذا كانَ يومُ القيامةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِه الرحمةِ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Dia tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi hingga seekor binatang mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya." Dalam satu riwayat disebutkan, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- mempunyai seratus rahmat dan ia menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin, manusia, binatang dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah masih menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hamba-Nya." Dari Salmān Al-Fārisi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- mempunyai seratus rahmat, satu di antaranya adalah rahmat yang menjadikan makhluk itu saling menyayangi. Dan yang sembilan puluh sembilan akan diberikan pada hari kiamat." Dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, Dia juga menciptakan seratus rahmat. Setiap rahmat memenuhi antara langit dan bumi. Satu di antaranya Dia jadikan rahmat di muka bumi. Dengan satu rahmat itulah seorang ibu mempunyai rasa sayang terhadap anaknya. Demikian pula binatang dan burung, mereka saling menyayangi. Apabila hari kiamat tiba, Dia menyempurnakan rahmat itu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جعل الله -تبارك وتعالى- الرحمة مائة جزء، فأنزل رحمة في الدنيا وأمسك تسعة وتسعين ليوم القيامة، فمن هذه الرحمة الواحدة يتراحم الخلائق جميعهم من الإنس والجن والبهائم والهوام؛ حتى إن الفرس المعروفة بالخفة والتنقل تتجنب أن يصل الضرر إلى ولدها، فترفع حافرها مخافة أن تصيبه، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله -تبارك وتعالى- تسعة وتسعين رحمة ليرحم بها عباده يوم القيامة.
الحديث الثاني:
إن الله -تبارك وتعالى- يوم خلق السموات والأرض خلق مائة رحمة، كل رحمة تملأ ما بين السماء والأرض، فجعل في الدنيا واحدة، تعطف بها الوالدة على ولدها، ويتعاطف بها الحيوانات والطير بعضها على بعض، ثم في يوم القيامة يكملها الله رب العالمين بالتسعة والتسعين، فإذا كان ما يحصل للإنسان من عظيم نعم الله -عز وجل- عليه في هذه الدار المبنية على الأكدار بسبب رحمة واحدة، فكيف الظن بمائة رحمة في الدار الآخرة دار القرار والجزاء.
Allah -Tabarāka wa Ta'ālā- menjadikan rahmat seratus bagian. Lalu Dia menurunkan rahmat di dunia dan menahan sembilan puluh sembilan (rahmat) untuk hari kiamat. Dari satu rahmat itulah makhluk-makhluk, saling menyayangi seluruhnya dari bangsa manusia, jin, binatang buas dan berbagai serangga yang merugikan hingga kuda yang terkenal dengan ketangkasan (gerak) dan ringan berpindah akan berusaha menghindarkan bahaya sampai kepada anaknya. Dia mengangkat kuku kakinya karena khawatir menimpanya. Dengan rahmat itu maka binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah -Tabarāka wa Ta'ālā- menunda sembilan puluh sembilan rahmat untuk menjadi rahmat bagi hamba-hamba-Nya pada hari kiamat." hadis Kedua: "Sesungguhnya Allah -Tabarāka wa Ta'ālā- pada hari penciptaan langit dan bumi menciptakan seratus rahmat. Setiap rahmat memenuhi antara langit dan bumi. Dia menjadikan rahmat itu satu di bumi. Dengan rahmat itu seorang ibu mengasihi anaknya dan hewan-hewan serta burung saling menyayangi satu dengan lainnya. Selanjutnya pada hari kiamat kelak Allah Tuhan semesta alam akan menyempurnakan rahmat itu menjadi sembilan puluh sembilan. Jika di dunia yang tegak di atas berbagai kekeruhan ini manusia mendapatkan berbagai kenikmatan Allah -'Azza wa Jalla- karena satu rahmat, bagaimana kiranya dengan rahmat Allah di perkampungan akhirat, tempat abadi dan negeri balasan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4291

 
Hadith   633   الحديث
الأهمية: حُرِّمَ لِباسُ الحَرِيرِ والذَّهَبِ على ذُكُورِ أُمَّتِي، وأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ
Tema: Pakaian sutra dan emas diharamkan bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.

عن عليٍّ -رضي الله عنه- قال: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- أَخَذَ حَرِيرًا، فجعله في يمينه، وذَهَبًا فجعله في شماله، ثم قال: «إِنَّ هَذَيْنِ حرامٌ على ذُكُورِ أُمَّتِي».
عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه-: أَنَّ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قال: «حُرِّمَ لِباسُ الحَرِيرِ والذَّهَبِ على ذُكُورِ أُمَّتِي، وأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ».

Dari Ali -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil sutra dan menjadikannya di sebelah kanannya. Lantas beliau mengambil emas dan menjadikannya di sebelah kirinya. Selanjutnya beliau bersabda, "Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku."
Dari Abu Musa Al-Asy'ari --raḍiyallāhu 'anhu--, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Pakaian sutra dan emas diharamkan bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم حريراً فجعله في يده اليمنى، وأخذ ذهباً فجعله في يده اليسرى، ثم قال: إن هذين –الحرير والذهب- حرام على ذكور أمتي؛ فلبس الحرير والذهب حرام على ذكور هذه الأمة؛ إلا فيما استثني كلباس الحرير لحكة أو جرب لا يقوم فيها غيره مقامه، وكأنف الذهب؛ أما النساء فهما حلال لهن، فلهن أن يلبسن منهما ما شئن؛ إلا إذا بلغ حد الإسراف، فإن الإسراف لا يحل؛ لقول الله تعالى: (وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ).
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil sutra lalu meletakkannya di tangan kanannya. Beliau mengambil emas dan meletakkannya di tangan kirinya lalu bersabda, "Sesungguhnya kedua benda ini - sutra dan emas - diharamkan bagi laki-laki dari umatku." Dengan demikian, mengenakan sutra dan emas adalah haram bagi laki-laki dari umat ini, kecuali bagi yang diperkecualikan, seperti memakai sutra karena gatal-gatal atau kudis yang tidak bisa digantikan oleh kain lain, dan seperti hidung emas (emas untuk menyambung hidung). Adapun bagi wanita, kedua benda ini halal. Mereka boleh memakai sesukanya, kecuali apabila sudah melewati batas berlebih-lebihan. Sesungguhnya berlebih-lebihan itu tidak boleh berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Sahih dengan dua riwayatnya]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4292

 
Hadith   634   الحديث
الأهمية: خَرَجَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ غَدَاةٍ، وعليه مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ
Tema: Suatu pagi Rasulullah-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dengan mengenakan kain yang bergambar pelana unta yang terbuat dari bulu hitam.

عن عائشةَ -رضي الله عنها- قالت: خَرَجَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ غَدَاةٍ، وعليه مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ.

Dari 'Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Suatu pagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dengan mengenakan kain yang bergambar pelana unta yang terbuat dari bulu hitam."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تصف أم المؤمنين عائشة -رضي الله عنها- بعض أحوال النبي -عليه الصلاة والسلام- في لباسه، ومن ذلك أنه    خرج في ساعة من أول النهار على أصحابه، وعليه كساء فيه صورة رحال الإبل من شعر أسود، أو هو الكساء الذي فيه خطوط كالتي في الرحل.
Ummul Mu'minin 'Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menggambarkan sebagian keadaan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hal pakainnya. Seperti di suatu pagi beliau keluar bersama para sahabatnya dengan mengenakan pakaian yang bergambar pelana unta dari bulu hitam.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4293

 
Hadith   635   الحديث
الأهمية: إِنَّ هذا تَبِعَنَا، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ له، وإِنْ شِئْتَ رَجَعَ
Tema: Orang ini ikut dengan kami, jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya (masuk). Jika engkau tak berkenan, ia bisa kembali pulang.

عن أبي مسعود البدري -رضي الله عنه- قال: دَعَا رَجُلٌ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- لِطَعَامٍ صَنَعَهُ له خَامِسَ خَمْسَةٍ، فَتَبِعَهُمْ رجلٌ، فلَمَّا بَلَغَ البابَ، قال النبيُّ -صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّ هذا تَبِعَنَا، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ له، وإِنْ شِئْتَ رَجَعَ» قال: بَلْ آذَنُ له يا رسولَ اللهِ.

Dari Abu Mas'ūd Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang sahabat mengundang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan yang dibuatnya untuk beliau yang cukup untuk lima orang. Lalu ada seseorang yang ikut dengan mereka. Ketika sampai di pintu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini ikut dengan kami, jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya (masuk). Jika engkau tak berkenan, ia bisa kembali pulang." Ia berkata, "Tentu aku mengizinkannya, wahai Rasulullah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
دعا رجلٌ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- إلى طعام فكانوا خمسة، فتبعهم رجل فكانوا ستة، فلما بلغ النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- منزلَ الداعي استأذن للرجل السادس، فقال -صلى الله عليه وسلم-: إن هذا تبعنا، فإن شئت أن تأذن له، وإن شئت رجع، فأذن صاحب الدعوة للرجل إكرامًا لرسول الله -صلى الله عليه وسلم- ومن معه.
Seseorang mengundang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk makan. Jumlah mereka lima orang, lalu ada seseorang yang mengikuti mereka sehingga jumlahnya menjadi enam. Saat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di rumah orang yang mengundang, beliau meminta izin untuk orang keenam. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini ikut dengan kami, jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya (masuk). Jika engkau tak berkenan, ia bisa kembali pulang." Orang yang mengundang itu mengizinkan lelaki tersebut bergabung sebagai penghormatan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersamanya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4294

 
Hadith   636   الحديث
الأهمية: دَعُونِي ما تَرَكْتُكُم، إنما أَهْلَكَ مَنْ كانَ قَبْلَكُم كَثْرَةُ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فإذا نَهَيْتُكُم عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Tema: Biarkan aku terkait apa yang aku tinggalkan! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan perselisihan mereka dengan para Nabinya. Jika aku melarang sesuatu, jauhilah! Jika aku memerintahkan sesuatu, lakukanlah semampu kalian!

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «دَعُونيِ ما تركتكم، إنما أهلك من كان قبلكم كثرة سُؤَالهم واختلافهم على أنبيائهم، فإذا نَهَيتُكم عن شيء فاجتَنِبُوه، وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم»
Tema: Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Biarkan aku terkait apa yang aku tinggalkan! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan perselisihan mereka dengan para Nabinya. Jika aku melarang sesuatu, jauhilah! Jika aku memerintahkan sesuatu, lakukanlah semampu kalian!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان الصحابة -رضي الله عنهم- يسألون النبي -صلى الله عليه وسلم- عن أشياء قد لا تكون حراماً فتحرم من أجل مسألتهم، أو قد لا تكون واجبة، فتجب من أجل مسألتهم، فأمرهم النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يتركوا ما تركه ما دام لم يأمرهم ولم ينههم، ثم علل ذلك بأن من قبلنا أكثروا المسائل على الأنبياء، فشُدِّدَ عليهم كما شددوا على أنفسهم، ثم خالفوا أنبياءهم.
ثم أمرنا بأن نجتنب أي شيء ينهانا عنه، وما أمرنا بفعله فإننا نأتي منه ما استطعنا، وما لا نستطيعه يسقط عنا.
Dulu para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- biasa bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai berbagai hal yang terkadang tidak haram, lalu diharamkan karena pertanyaan mereka; atau sesuatu yang tidak wajib, lalu diwajibkan karena pertanyaan mereka. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan mereka mengabaikan apa yang beliau tinggalkan selama beliau tidak menyuruh atau melarang mereka. Selanjutnya beliau memberikan alasan bahwa orang-orang sebelum kita banyak bertanya kepada para nabi sehingga mereka dipersulit sebagaimana mereka mempersulit diri mereka sendiri. Setelah itu mereka menentang para Nabinya. Kemudian beliau memerintahkan kita untuk menjauhi apa yang dilarangnya. Sedangkan apa yang diperintahkannya untuk dikerjakan, maka kita mengerjakannya sesuai kemampuan kita dan apa yang tidak mampu kita lakukan, maka itu gugur dari kita.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4295

 
Hadith   637   الحديث
الأهمية: رَأَيْتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا
Tema: Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas pantat lalu menegakkan betisnya sambil memakan kurma.

عن أنسٍ -رضي الله عنه- قال: رَأَيْتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا.

Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, “Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas pantat lalu menegakkan betisnya sambil memakan kurma.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال أنس -رضي الله عنه-: رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- جالسًا لاصقًا أليَتَيْهِ بالأرض ناصبا ساقيه يأكل تمرًا؛ لئلا يأكل كثيرًا، فإنه في هذه الحالة لا يكون مطمئنًا في الجلوس فلن يأكل كثيرًا.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk sambil menempelkan pantatnya ke tanah lalu menegakkan betisnya sambil memakan kurma agar tidak makan banyak. Sesungguhnya dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak akan mewujudkan ketenangan dalam duduknya sehingga ia tidak akan makan banyak.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4296

 
Hadith   638   الحديث
الأهمية: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وعليه ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ
Tema: Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai dua baju hijau.

عن أبي رمثة التيمي -رضي الله عنه- قال: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وعليه ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ.

Dari Abu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai dua baju hijau."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر أبو رمثة -رضي الله عنه- أنه رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- وعليه لباس أخضر.
Abu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dirinya pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai pakaian yang berwarna hijau.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4297

 
Hadith   639   الحديث
الأهمية: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يأكلُ بثلاثِ أَصَابِعَ، فإذا فَرَغَ لَعِقَهَا
Tema: Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan tiga jarinya. Apabila sudah selesai, beliau menjilatinya.

عن كعب بن مالك -رضي الله عنه- قال: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يأكلُ بثلاثِ أَصَابِعَ، فإذا فَرَغَ لَعِقَهَا.

Dari Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan tiga jarinya. Apabila sudah selesai, beliau menjilatinya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يأكل بثلاث أصابع، وهي الوسطى والمسبحة والإبهام، وهذا يدل على عدم الشَّرَه والنَّهَم في الأكل، وإذا فرغ من أكله لحس أصابعه، فالمستحب أن يكون الأكل بثلاث أصابع إلا إذا كان الطعام لا يمكن تناوله بثلاث أصابع فيأكل بما يتيسر.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan menggunakan tiga jari, yaitu jari tengah, telunjuk dan jempol. Ini menunjukkan sifat tidak rakus ketika makan. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilati jari-jarinya. Jadi dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, kecuali jika makanan itu tidak mungkin diambil dengan tiga jari, maka makan dengan cara yang memungkinkan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4298

 
Hadith   640   الحديث
الأهمية: سَاقِي القَوْمِ آخِرُهُمْ شُرْبًا
Tema: Orang yang memberi minum kepada satu kaum adalah orang yang paling akhir minum.

عن أبي قتادة الأنصاري وابن أبي أوفى -رضي الله عنهما- مرفوعاً: «سَاقِي القَوْمِ آخِرُهُمْ شُرْبًا».

Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri dan Ibnu Abi Aufa -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Orang yang memberi minum kepada satu kaum adalah orang yang paling akhir minum."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الذي يسقي القوم ماء أو لبنا أو قهوة أو شايًا أو غير ذلك هو آخر من يشرب.
Orang yang memberi minum air atau susu atau kopi atau teh atau minuman lainnya kepada suatu kaum, maka dia adalah orang yang terakhir minum.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Sahih dengan dua riwayatnya]    ← →    Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4299

 
Hadith   641   الحديث
الأهمية: سَقَيْتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وهو قَائِمٌ
Tema: Aku memberi minum kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari air Zamzam, lalu beliau pun meminumnya sambil berdiri.

عن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: سَقَيْتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وهو قَائِمٌ.
عن النَّزَّالِ بنِ سَبْرَةَ -رضي الله عنه- قال: أَتَى عَلِيٌّ -رضي الله عنه- بَابَ الرَّحَبَةِ، فَشَرِبَ قَائِمًا، وقال: إِنِّي رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ.
عن عمرو بن شُعّيْبٍ، عن أبيه، عن جَدِّهِ -رضي الله عنه- قال: رأيتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَشْرَبُ قَائِمًا وقَاعِدًا.

Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku memberi minum kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari air Zamzam, lalu beliau pun meminumnya sambil berdiri." Dari An-Nazzāl bin Sabrah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ali -raḍiyallāhu 'anhu- mendatangi pintu Ar-Rahabah (pintu di Kufah) lalu ia minum sambil berdiri dan berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan ini sebagaimana kalian melihatku melakukannya." Dari Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- minum sambil berdiri dan sambil duduk."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر ابن عباس -رضي الله عنهما- أنه سقى النبي -صلى الله عليه وسلم- من ماء زمزم فشرب وهو قائم، وقد شرب علي بن أبي طالب -رضي الله عنه- قائمًا وقال: إن النبي -صلى الله عليه وسلم- فعل كما رأيتموني فعلت، وكذلك أخبر عبد الله بن عمرو -رضي الله عنهما- أنه رأى النبي -صلى الله عليه وسلم - يشرب قائمًا وقاعدًا.

Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa ia memberi minum kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari air Zamzam, lalu beliau meminumnya sambil berdiri. Ali bin Abi Thalib -raḍiyallāhu 'anhu- pun minum sambil berdiri dan berkata, "Sesungguhnya Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukannya sebagaimana kalian melihatku melakukannya." Demikian juga Abdullah bin Amru -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa dia pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- minum sambil berdiri dan duduk."
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4300

 
Hadith   642   الحديث
الأهمية: دَخَلَ عَلَيَّ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشَرِبَ مِنْ فِي قِرْبَةٍ مُعَلَّقَةٍ قائمًا، فقُمتُ إلى فِيها فَقَطَعْتُهُ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri. Aku pun memotong bibir geriba bekas minum beliau.

عن أم ثابتٍ كَبْشَةَ بنتِ ثابتٍ أُخْتِ حَسَّانَ بنِ ثابتٍ -رضي الله عنهما-، قالت: دَخَلَ عَلَيَّ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشَرِبَ مِنْ فِي قِرْبَةٍ مُعَلَّقَةٍ قائمًا، فقُمتُ إلى فِيها فَقَطَعْتُهُ.

Dari Ummu Ṡābit, Kabsyah binti Ṡābit saudari Hassân ibnu Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri. Aku pun memotong bibir geriba bekas minum beliau.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قالت كبشة بنت ثابت رضي الله عنها: دخل عليَّ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فشرب من فم قربة معلقة قائما، وقد فعل ذلك صلى الله عليه وسلم لعدم إمكان الشرب حينئذ إلا كذلك، قالت: فقمت إلى فيها فقطعته؛ لتحفظ موضع فم رسول الله صلى الله عليه وسلم وتتبرك به، وتصونه عن الامتهان.
Kabsyah binti Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri." Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan demikian karena tidak memungkinkan minum kecuali dengan cara itu. Kabsyah berkata, Aku pun memotong bibir geriba bekas bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menyimpannya dan bertabarruk dengannya juga menjaganya dari penistaan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4301

 
Hadith   643   الحديث
الأهمية: اتق الله حيثما كنت، وأَتْبِع السيئةَ الحسنةَ تمحها، وخالقِ الناسَ بخلقٍ حسن
Tema: Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, tutupilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.

عن أبي ذر و معاذ بن جبل -رضي الله عنهما- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «اتق الله حيثما كنت، وأَتْبِع السيئةَ الحسنةَ تمحها، وخالقِ الناسَ بخلقٍ حسنٍ».

Dari Abu Żar dan Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhuma-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, tutupilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
اتق الله بامتثال أوامره واجتناب نواهيه في أي مكان كنت, وبادر على فعل الحسنة بعد وقوعك في السيئة، لتكفرها وتزيل أثرها السيئ في القلب وعقابها من الصحف، وعامل الناس بمثل ما تحب أن يعاملوك به.
Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya di mana saja engkau berada! Dan segeralah melakukan kebaikan setelah kamu terjerumus ke dalam kejahatan untuk menutupi dan menghapus jejaknya yang jelek dalam hati dan hukumannya dalam lembaran catatan (amal)! Serta perlakukanlah manusia seperti dirimu ingin diperlakukan dengannya (baik)!

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4302

 
Hadith   644   الحديث
الأهمية: يا رسول الله أخبرني بعمل يُدخِلُنِي الجنة ويُبَاعِدُني عن النار، قال: لقد سألت عن عظيم وإنه ليَسير على من يَسَّره الله -تعالى- عليه
Tema: Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukkanku ke Surga dan menjauhkanku dari Neraka. Beliau bersabda, "Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Sesungguhnya hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah -Ta'āla- untuk melakukannya."

عن معاذ بن جبل -رضي الله عنه- قال: قلت: يا رسول الله أخبرني بعمل يُدخِلُنِي الجنة ويُبَاعِدُني عن النار، قال: لقد سألت عن عظيم وإنه ليَسير على من يَسَّره الله تعالى عليه:
تعبدُ الله لا تشركُ به شيئًا، وتُقيمُ الصلاةَ، وتُؤتي الزكاةَ، وتَصومُ رمضانَ، وتَحجُّ البيتَ.
ثم قال: ألا أدلُّك على أبواب الخير؟ الصومُ جُنة، والصدقة تُطفئ الخطيئةَ كما يطفئ الماءُ النارَ، وصلاة الرجل في جَوف الليل ثم تلا: {تتجافى جنوبهم عن المضاجع}... حتى إذا بلغ {يعملون}
ثم قال ألا أُخبرك برأس الأمر وعموده وذِروة سَنامه؟ قلت: بلى يا رسول الله.
قال رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وذُروة سَنامه الجهاد.
ثم قال: ألا أُخبرك بمِلاك ذلك كله؟ قلت: بلى يا رسول الله.
فأخذ بلسانه وقال كُفَّ عليك هذا.
قلت: يا نبي الله، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به؟
فقال: ثَكِلَتْكَ أُمُّك، وهل يكُبُّ الناسَ في النارِ على وجوههم (أو قال على مَنَاخِرِهم) إلا حَصائدُ ألسنتِهِم؟.

Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukkanku ke Surga dan menjauhkanku dari Neraka." Beliau bersabda, "Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Sesungguhnya hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah -Ta'āla- untuk melakukannya: Engkau menyembah Allah tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, menegakkan salat, membayar zakat, puasa Ramadan, dan menunaikan haji." Selanjutnya beliau bersabda, "Maukah engkau aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah dapat menghapuskan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api, dan salat seseorang di tengah malam". Lalu beliau membaca (firman Allah), "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya..." hingga firman-Nya, "...apa yang mereka kerjakan." Lantas beliau bertanya, "Maukah engkau aku beritahukan kepadamu pokok dari segala perkara, tiangnya, dan puncaknya?" Aku menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pokok dari segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad." Selanjutnya beliau bertanya, "Maukah engkau aku beritahukan kepadamu kunci semua perkara ini?" Aku jawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Lantas beliau memegang lidahnya dan bersabda, "Jagalah ini olehmu!" Aku bertanya, "Wahai Nabiyullah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab, "Semoga ibumu kehilangan kamu (ungkapan terkejut), tidakkah manusia itu akan tersungkur di mukanya atau di atas lubang hidungnya melainkan karena perbuatan lidah mereka?"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يرشدنا هذا الحديث إلى أن العمل الذي ينجى من النار ويدخل الجنة هو عبادة الله وحده دون من سواه، مع القيام بما فرض الله على العبد من صلاة وزكاة وصوم وحج، وأن الجامع لوجوه الخير صدقة التطوع والصوم والتهجد في جوف الليل، وأن رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وأعلاه الجهاد في سبيل إعلاء كلمة الله، وأن ملاك ذلك كله بأن يمسك الإنسان عن الكلام الذي يفسد هذه الأعمال إذا عملها.
فليحذر كل مسلم إذا عمل أعمالا صالحة أن يطلق لسانه بما ينفعها أو يبطلها؛ فيكون من أصحاب النار.
Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa amal yang dapat menyelamatkan dari neraka dan memasukkan ke Surga adalah ibadah kepada Allah semata tanpa selain-Nya, sertai melaksanakan berbagai kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah kepada manusia berupa salat, zakat, puasa, dan haji. Selanjutnya, amalan yang menghimpun berbagai bentuk kebaikan adalah sedekah sunah, puasa, dan salat tahajud di tengah malam. Dan, pokok dari segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah demi meninggikan kalimat Allah. Sesungguhnya kunci semua itu adalah hendaknya manusia menahan diri dari pembicaraan yang dapat merusak amal-amal tersebut jika dia melakukannya. Setiap Muslim apabila melakukan berbagai amal saleh, hendaknya dia berhati-hati dalam menggunakan lisannya, baik hal yang bermanfaat atau membatalkan amalnya, jangan sampai dia jadi penghuni neraka!

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4303

 
Hadith   645   الحديث
الأهمية: إذا التَقَى المسلمانِ بسَيْفَيْهِمَا فالقاتلُ والمقْتُولُ في النَّارِ
Tema: "Apabila ada dua orang Islam yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka."

عن أبي بكرة نفيع بن الحارث الثقفي -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «إذا التَقَى المسلمانِ بسَيْفَيْهِمَا فالقاتلُ والمقْتُولُ في النَّارِ». قلت: يا رسول الله، هذا القاتلُ فما بالُ المقتولِ؟ قال: «إنه كان حريصًا على قَتْلِ صَاحِبِهِ».

Abu Bakrah Nufai' bin Al-Ḥāriṡ Aṡ-Ṡaqafiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila ada dua muslim yang bertikai dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Pembunuh ini wajar masuk neraka, lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إذا التقى المسلمان بسيفيهما، قاصدًا كلٌّ منهما إتلاف صاحبه؛ فالقاتل في النار بسبب مباشرته قتل صاحبه، والمقتول في النار لحرصه على ذلك، إلم يعف الله عنهما، وإذا لم يكن الاقتتال بوجه حق، كما في قول الله تعالى: (فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حتى تفيء إلى أمر الله).
Tema: Apabila dua orang muslim bertikai dengan menghunus pedangnya dan masing-masing bertujuan ingin melenyapkan nyawa sahabatnya, maka orang yang membunuh masuk neraka karena tindakannya membunuh sahabatnya; dan orang yang terbunuh masuk neraka karena berambisi untuk membunuh sahabatnya. Hal itu jika Allah tidak mengampuni keduanya, dan jika pertikaian itu bukan karena kebenaran, sebagaimana dalam firman Allah -Ta'ālā-: "Jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai kembali pada perintah Allah."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4304

 
Hadith   646   الحديث
الأهمية: ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس
Tema: Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di tangan manusia maka manusia akan mencintaimu!"

عن سهل بن سعد الساعدي -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- فقال: يا رسول الله، دُلَّنِي على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس؟
«فقال ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس».

Dari Sahal bin Sa'ad As-Sā'idi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku lakukan, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia?" Beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di tangan manusia maka manusia akan mencintaimu!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء رجل إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يطلب منه أن يرشده إلى عمل إذا عمله يكون سببا لمحبة الله له ومحبة الناس، فأرشده النبي -صلى الله عليه وسلم- إلى عمل جامع شامل يسبب له محبة الله ومحبة الناس.
فقال له -صلى الله عليه وسلم-: "ازهد في الدنيا".
أي: فلا تطلب منها إلا ما تحتاجه وتترك الفاضل، وما لا ينفع في الآخرة، وتتورع مما قد يكون فيه ضرر في دينك، وازهد في الدنيا التي يتعاطاها الناس، فإذا صار بينك وبين أحد منهم حق أو عقد من العقود فكن كما ورد في الحديث: "رحم الله امرءا سمحا إذا باع، سمحا إذا اشترى, سمحا إذا قضى، سمحا إذا اقتضى"؛ لتكون محبوبا عند الناس ومرحوما عند الله -تعالى-.
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta kepada beliau agar menunjukkan kepadanya suatu amal, apabila dia mengerjakannya maka akan menjadi sebab kecintaan Allah kepadanya dan kecintaan manusia. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan kepadanya satu amal komprehensif yang menyebabkan kecintaan Allah dan kecintaan manusia kepadanya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia!" yakni, janganlah engkau mencari dunia kecuali apa yang engkau butuhkan, tinggalkan selebihnya dan apa yang tidak bermanfaat di akhirat, serta bersikap wara' terhadap sesuatu yang mengandung bahaya dalam agamamu. Berzuhudlah terhadap dunia yang ada di tangan manusia. Apabila ada hakmu di tangan salah seorang dari mereka atau akad tertentu, maka bersikaplah sebagaimana yang telah dikemukakan dalam hadis, "Semoga Allah merahmati orang yang berlapang dada ketika menjual dan berlapang dada ketika membeli. Berlapang dada ketika menetapkan keputusan dan berlapang dada ketika menuntut." sehingga ia menjadi orang yang dicintai oleh manusia dan disayangi di sisi Allah."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4307

 
Hadith   647   الحديث
الأهمية: البر حسن الخلق، والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس
Tema: Kebajikan itu adalah baiknya budi pekerti sedang dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam dirimu dan engkau tidak mau diketahui orang lain.

عن النواس بن سمعان -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «البِرُّ حُسْنُ الخُلق، والإثم ما حَاكَ في نفسك وكرهت أن يَطَّلِعَ عليه الناس».
وعن وابصة بن معبد -رضي الله عنه- قال: «أتيت رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- فقال:
جئتَ تسأل عن البِرِّ؟ قلت: نعم، وقال: اسْتَفْتِ قلبك، البِرُّ ما اطمأنت إليه النفسُ واطمأن إليه القلب،
والإثم ما حَاكَ في النفس وتَرَدَّدَ في الصدر -وإن أفتاك الناس وأَفْتَوْكَ-».

Dari An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Kebajikan itu adalah baiknya budi pekerti sedang dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam dirimu dan engkau tidak mau diketahui orang lain."
Dari Wabishah bin Ma'bad -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda, "Apakah engkau datang untuk menanyakan tentang kebajikan?" Aku jawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tentram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwa dan menyebabkan keraguan dalam dada, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
فسر الحديثُ البرَّ بأنه حسن الخلق، وهو شامل لفعل جميع ما من شأنه أن يوصف بالحسن من الأخلاق، سواء فيما بين العبد وربه، أو ما بين العبد وأخيه المسلم، أو ما بينه وبين عموم الناس مسلمهم وكافرهم.
أو هو ما اطمأنت إليه النفس كما في الحديث الثاني، والنفس تطمئن إلى الحسن من الأعمال والأقوال، سواء في الأخلاق أو في غيرها.
والإثم ما تردد في النفس، فهو كالشبهة تردَّدُ في النفس فمن الورع تركها والابتعاد عنها، حماية للنفس من الوقوع في الحرام.
فالورع ترك ذلك كله، والاتكاء على ما اطمأن إليه القلب.
وأنَّ ما حاك في صدر الإنسان، فهو إثمٌ، وإنْ أفتاه غيرُه بأنَّه ليس بإثمٍ، وهذا إنَّما يكون إذا كان صاحبُه ممَّن شرح صدره بالإيمان، وكان المفتي يُفتي له بمجرَّد ظن أو ميلٍ إلى هوى من غير دليلٍ شرعيٍّ، فأمَّا ما كان مع المفتي به دليلٌ شرعيٌّ، فالواجب على المستفتي الرُّجوعُ إليه، وإنْ لم ينشرح له صدرُه.

Hadis ini menafsirkan tentang kebajikan, bahwa kebajikan itu adalah akhlak baik yang mencakup perbuatan semua yang keadaannya menjadikan suatu akhlak itu disifati terpuji, baik antara seorang hamba dengan Tuhannya atau antara seorang hamba dengan saudaranya yang muslim atau antara dia dengan manusia secara umum; muslim dan kafir. Atau sesuatu yang membuat jiwa tenang kepadanya sebagaimana dalam hadis kedua. Jiwa itu memang merasa tenang kepada perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang baik; dalam akhlak atau selainnya. Dosa itu adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwa. Ia seperti syubhat yang meragukan dalam jiwa. Karena itu, termasuk sifat wara' (hati-hati) ialah meninggalkan syubhat dan menjauhinya demi menghindari jiwa terperosok ke dalam keharaman. Sifat wara' adalah meninggalkan semua itu dan bersandar kepada apa yang membuat hati tenang kepadanya. Sesungguhnya apa yang meragukan dalam dada manusia, itu adalah dosa meskipun orang lain memfatwakan bahwa itu bukan dosa. Ini terjadi apabila orang itu termasuk yang dadanya dilapangkan dengan keimanan. Sementara muftinya memberikan fatwa dengan sekedar dugaan atau kecenderungan kepada hawa nafsu tanpa ada dalil syar'i. Adapun apabila mufti itu memiliki dalil syar'i, maka kewajiban orang yang meminta fatwa untuk merujuk kepadanya meskipun dadanya tidak lapang untuk itu.

 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4308

 
Hadith   648   الحديث
الأهمية: الدين النصيحة
Tema: Agama itu nasihat

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «الدين النصيحة» قلنا: لمن؟ قال: «لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامتهم».

Abu Ruqayyah Tamīm bin Aus Ad-Dāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Agama itu nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Nabi menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan semua kaum muslimin pada umumnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء الدين الحنيف بإخلاص النصيحة وبذلها، وبأن نؤمن ونعترف بوحدانية الله -عز وجل-، وننزهه عن النقائص ونصفه بصفات الكمال، وأن القرآن كلامه منزل غير مخلوق، نعمل بمحكمه ونؤمن بمتشابهه، ونصدق الرسول -صلى الله عليه وسلم- بما جاء به ونمتثل أمره ونجتنب ما نهى عنه، وننصح لأئمة المسلمين بمعاونتهم على الحق وإرشادهم إلى ما جهلوه ونذكرهم ما نسوه أو غفلوا عنه، ونرشد عامة المسلمين إلى الحق، ونكف عنهم الأذى منا ومن غيرنا على حسب الاستطاعة، ونأمرهم بالمعروف وننهاهم عن المنكر، والجامع للنصح لهم: أن نحب لهم ما يحب كل منا لنفسه.
Agama yang lurus ini datang membawa kemurnian nasihat dan penegakannya; agar kita beriman dan mengakui keesaan Allah -'Azza wa Jalla-, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, dan menyifatinya dengan berbagai sifat kesempurnaan. Dan agar beriman bahwa Al-Qur`ān adalah firman Allah yang diturunkan dan bukan makhluk; kita mengamalkan ayatnya yang muḥkam (mudah dipahami) dan mengimani ayatnya yang mutasyābih (sulit dipahami). Juga agar kita membenarkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan berbagai ajaran yang dibawanya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya. Lalu menasihati para pemimpin kaum muslimin dengan cara membantu mereka dalam kebenaran, membimbing mereka pada hal yang mereka tak ketahui, serta mengingatkan mereka terkait apa yang mereka lupakan atau lalaikan. Kita juga menunjukkan kaum muslimin secara umum kepada kebenaran, menjauhkan mereka dari gangguan kita dan gangguan orang lain sesuai kemampuan, menyuruh mereka kepada yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar; dan definisi nasihat yang komprehensif terkait mereka adalah: "Kita mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana setiap kita mencintai kebaikan itu untuk dirinya sendiri."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4309

 
Hadith   649   الحديث
الأهمية: كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فقتله
Tema: Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya seraya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertobat?" Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Ia pun membunuh pendeta itu.

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- أن نبي الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسًا، فسأل عن أعلم أهل الأرض، فَدُلَّ على راهب، فأتاه فقال: إنه قتل تسعة وتسعين نفسا فهل له من توبة؟ فقال: لا، فقتله فكمَّل به مئة، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض، فَدُلَّ على رجل عالم، فقال: إنه قتل مائة نفس فهل له من توبة؟ فقال: نعم، ومَنْ يَحُولُ بينه وبين التوبة؟ انْطَلِقْ إلى أرض كذا وكذا فإن بها أناسا يعبدون الله -تعالى- فاعبد الله معهم، ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء، فانطلق حتى إذا نَصَفَ الطريقَ أتاه الموت، فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب، فقالت ملائكة الرحمة: جاء تائبا، مُقْبِلا بقلبه إلى الله -تعالى-، وقالت ملائكة العذاب: إنه لم يعمل خيرا قط، فأتاهم ملك في صورة آدمي فجعلوه بينهم -أي حكمًا- فقال: قِيسُوا ما بين الأرضين فإلى أَيَّتِهِمَا كان أدنى فهو له، فقاسوا فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد، فقبضته ملائكة الرحمة».
وفي رواية في الصحيح: «فكان إلى القرية الصالحة أقرب بشبر فجعل من أهلها».
وفي رواية في الصحيح: «فأوحى الله -تعالى- إلى هذه أن تَبَاعَدِي، وإلى هذه أن تَقَرَّبِي، وقال: قيسوا ما بينهما، فوجدوه إلى هذه أقرب بشبر فغُفِرَ له».
وفي رواية: «فَنَأَى بصدره نحوها».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabiyullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya seraya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertobat?" Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Ia pun membunuh pendeta itu. Dengan demikian genaplah (jumlah korbannya) menjadi seratus. Lantas ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, kemudian ia ditunjukkan kepada seorang yang alim. Selanjutnya ia mengatakan bahwa sebenarnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima tobatnya?" Orang alim itu menjawab, "Ya, masih bisa. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dia dengan tobat itu? Pergilah engkau ke tanah ini (satu wilayah), sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk." Ia pun bergegas pergi sehingga ketika tiba di tengah jalan, tiba-tiba tibalah ajalnya. Lantas terjadilah perselisihan mengenai orang tersebut antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, "Orang ini telah datang untuk bertobat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta'ālā-." Malaikat azab berkata, "Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan." Selanjutnya ada malaikat mendatangi mereka dalam wujud manusia, lalu mereka menjadikannya sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi - sebagai hakim -. Ia berkata, "Ukurlah jarak antara dua tempat itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka ia adalah untuknya." Para malaikat pun mengukur. Ternyata mereka mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada tanah yang dikehendaki (yang dituju untuk bertobat). Ia pun dibawa oleh malaikat rahmat." Di riwayat lain dalam Aṣ-Ṣaḥiḥ disebutkan, "Orang tersebut lebih dekat sejengkal saja ke perkampungan yang baik itu, maka ia pun dijadikan termasuk penduduknya." Dalam satu riwayat dalam Aṣ-Ṣaḥiḥ disebutkan, "Lantas Allah -Ta'ālā- mewahyukan kepada tanah yang ini (tanah asalnya), "Hendaknya engkau menjauh." Dan kepada tanah yang ini (tanah yang dituju), "Hendaknya engkau mendekat." kemudian Allah berfirman, "Ukurlah antara keduanya!" Ternyata para malaikat mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat satu jengkal kepada tanah yang dituju sehingga ia pun diampuni." Dalam satu riwayat, "Orang tersebut bergerak dengan membusungkan dadanya ke arah tempat yang dituju."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: كان في أمة من الأمم قبلنا رجل قتل تسعة وتسعين نفسًا، ثم إنه ندم وسأل عن أعلم أهل الأرض يسأله: هل له من توبة؟ فدل على رجل، فوجد عابدًا ولكنه ليس عنده علم، فلما سأله قال إنه قتل تسعة وتسعين نفسًا، فهل له من توبة؟ فاستعظم الراهب هذا الذنب وقال: ليس لك توبة! فغضب الرجل وانزعج وقتل الراهب، فأتم به مائة نفس، ثم إنه سأل عن أعلم أهل الأرض، فدل على رجل عالم فقال له: إنه قتل مائة نفس فهل له من توبة؟ قال: نعم! ومن الذي يحول بينه وبين التوبة؟ باب التوبة مفتوح، ولكن اذهب إلى القرية الفلانية؛ فإن فيها قومًا يعبدون الله، والأرض التي كان فيها كأنها -والله أعلم- دار كفر فأمره هذا العالم أن يهاجر بدينه إلى هذه القرية التي يعبد فيها الله -سبحانه وتعالى-، فخرج تائبا نادمًا مهاجرًا بدينه إلى الأرض التي فيها القوم الذين يعبدون الله عز وجل، وفي منتصف الطريق أتاه الموت، فاختصمت فيه ملائكة العذاب وملائكة الرحمة، تقول ملائكة الرحمة: إنه تاب وجاء نادمًا تائبًا، فحصل بينهما خصومة، فبعث الله إليهم ملكًا ليحكم بينهم، فقال: قيسوا ما بين الأرضين فإلى أيتها كان أقرب فهو من أهلها.
   فإن كانت أرض الكفر أقرب إليه فملائكة العذاب تقبض روحه، وإن كان إلى بلد الإيمان أقرب فملائكة الرحمة تقبض روحه.
فقاسوا ما بينهما؛ فإذا البلد التي اتجه إليها -وهي بلد الإيمان-أقرب من البلد التي هاجر منها بنحو شبر -مسافة قريبة- فقبضته ملائكة الرحمة.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Selanjutnya ia menyesal dan menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi untuk bertanya apakah masih ada tobat baginya? Ia pun ditunjukkan kepada seorang lelaki. Lelaki itu seorang ahli ibadah, tetapi dia tidak memiliki ilmu. Setelah ia bertanya kepadanya, ia mengatakan bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Adakah tobat baginya?" Rahib tersebut memandang bahwa dosa tersebut besar. Ia pun berkata, "Tidak ada tobat bagimu!" Seketika orang itu pun marah, gelisah dan ia pun membunuh rahib itu. Dengan demikian, ia telah genap membunuh seratus orang. Selanjutnya ia menanyakan tentang orang yang paling alim di bumi. Lantas ia ditunjukkan kepada seorang lelaki alim. Ia berkata kepadanya bahwa dirinya telah membunuh seratus jiwa, adakah tobat baginya?" Orang alim menjawab, "Ya! Siapa yang menghalangi antara dirinya dengan tobat? Pintu tobat masih terbuka. Hanya saja engkau harus pergi ke kampung fulan, karena di dalamnya ada kaum yang menyembah Allah. Sedangkan bumi yang ditempatinya - hanya Allah Yang Maha Tahu - adalah negara kafir. Orang alim ini memerintahkan orang itu untuk hijrah membawa agamanya ke kampung di mana Allah di sembah di sana. Ia pun keluar dalam keadaan tobat dan hijrah membawa agamanya menuju bumi yang di dalamnya ada kaum yang menyembah Allah -'Azza wa Jalla-. Di tengah jalan, tibalah ajalnya sehingga terjadilah perselisihan antara malaikat azab dan malaikat rahmat mengenai orang itu. Malaikat rahmat berkata, "orang ini telah bertobat dan datang dalam keadaan menyesal dan bertobat." Terjadilah perselisihan di antara keduanya. Lantas Allah mengutus satu malaikat kepada mereka untuk menetapkan keputusan diantara mereka. Malaikat itu berkata, "Ukurlah antara dua tanah, kemana saja ia lebih dekat, maka ia miliknya. Yakni, ia termasuk penduduk tanah itu." Jika tanah kafir lebih dekat kepadanya, maka malaikat azab mencabut rohnya. Jika ia lebih dekat kepada negeri orang mukmin, maka malaikat rahmat yang mencabut rohnya." Para malaikat pun mengukur antara kedua tanah itu. Ternyata negeri di mana orang itu menuju kepadanya - yaitu negeri tujuan - lebih dekat satu jengkal dari negeri yang ia tinggalkan, - jarak yang dekat - lalu malaikat rahmat pun mencabut nyawanya."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4310

 
Hadith   650   الحديث
الأهمية: الرَّضاعة تحرم ما تحرم الولادة
Tema: Susuan itu mengharamkan seperti pengharaman karena kelahiran.

عن عائشة -رضي الله عنها- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «الرَّضاعة تحرم ما تحرم الولادة».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anha-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Susuan itu mengharamkan seperti pengharaman karena kelahiran (nasab dan keturunan)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
المحرمات من النساء بسبب النسب كالأم والأخت يحرم مثلهن بسبب الرضاعة كالأم المرضعة والأخت من الرضاعة؛ لذا جاء في حديث آخر: (يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب)، سواء من قبل الزوجة أو من قبل الزوج، فكل ما يحرم على الإنسان من قراباته من النسب بأن يتزوجها كأخته وخالته وعمته، فحرام عليه أن يتزوج بهؤلاء إذا كانت قرابتهن بالرضاع، وكذلك الزوجة يحرم عليها أن تتزوج بولدها وأخيها وعمها وخالها، فكذلك حرام عليها أن تتزوج بهؤلاء إذا كانوا من الرضاع.
ونوع التحريم هو تحريم النكاح وانتشار الحرمة بين الرضيع والأولاد المرضعة، وتنزيلهم منزلة الأقارب في حل نظر وخلوة وسفر، لا في باقي الأحكام، كتوارث ووجوب الإنفاق ونحو ذلك، ثم التحريم المذكور بالنظر إلى المرضع فإن أقاربه أقارب للرضيع وأما أقارب الرضيع ما عدا أولاده فلا علاقة بينهم وبين المرضع، فلا يثبت لهم شيء من الأحكام.
Wanita-wanita yang diharamkan karena nasab seperti ibu dan saudari, maka yang semisalnya dari sesusuan juga haram karena sebab persusuan tersebut, seperti ibu susuan dan saudari sesusuan, sebagaimana disebutkan dalam hadis lain, "Susuan memahramkan sebagaimana mahram yang disebabkan oleh garis keturuan," baik dari pihak ibu susuan maupun bapak susuan. Siapa pun yang diharamkan bagi seseorang dari keluarganya untuk dinikahi, seperti saudara perempuan, bibi dari bapak dan ibu, maka diharamkan baginya menikahi mereka jika sebab persaudaraan sesusuan. Demikian pula seorang perempuan diharamkan menikahi anaknya, saudara laki-lakinya dan paman dari ayah atau ibunya, maka diharamkan pula menikahi mereka jika sebab persaudaraannya adalah karena sesusuan. Jenis pengharamannya adalah pengharaman nikah, dan tersebarnya kemahraman antara anak sususan dan anak-anak wanita yang menyusui tersebut, dan menetapkan mereka seperti kedudukan para kerabat terkait kebolehan untuk melihat, berkhalwat dan safar; bukan terkait hukum-hukum seperti warisan dan kewajiban memberi nafkah. Kemudian keharaman tersebut terkait orang yang menyusui, maka kerabatnya merupakan kerabat bagi anak susuan. Sementara kerabat anak susuan selain anak-anaknya maka tidak ada hubungan antara mereka dengan ibu sususan, sehingga tidak berlaku hukum-hukum tersebut bagi mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4311

 
Hadith   651   الحديث
الأهمية: للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَة
Tema: Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ».
وفي رواية: «لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، وقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ! أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَح».

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir." Dalam riwayat lain, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang awalnya berada di atas tunggangannya di gurun pasir, kemudian tunggannya itu terlepas darinya, padahal di situ ada bekal makan dan minumnya. Saat putus asa, dia mendatangi sebuah pohon untuk berteduh di bawahnya. Dia telah putus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Dalam keadaan demikian itu, tunggangannya kembali, berada disisinya. Dia pun mengambil tali kekang tunggangannya dan berujar kegirangan, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku tuhan-Mu.' Dia keliru karena sangat bergembira."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر -صلى الله عليه وسلم- أن الله أشد فرحًا برجوع عبده إليه بطاعته وامتثال أمره مخلصا من قلبه، من فرح أحدكم كان في أرض فلاة، ليس حوله أحد، لا ماء ولا طعام ولا أناس، وضاع بعيره، فجعل يطلبه فلم يجده، فذهب إلى شجرة ونام تحتها ينتظر الموت! قد أيس من بعيره، وأيس من حياته؛ لأن طعامه وشرابه على بعيره، والبعير قد ضاع، فبينما هو كذلك وجد بعيره فجأة عنده قد تعلق خطامه بالشجرة التي هو نائم تحتها، فبأي شيء يقدر هذا الفرح؟ هذا الفرح لا يمكن أن يتصوره أحد إلا من وقع في مثل هذه الحال! لأنه فرح عظيم، فرح بالحياة بعد الموت، ولهذا أخذ بالخطام، وقال: "اللهم أنت عبدي وأنا ربك"! أراد أن يثني على الله فيقول: "اللهم أنت ربي وأنا عبدك" لكن من شدة فرحه أخطأ.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Allah lebih gembira dengan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan mentaati dan menjalankan perintah-Nya, ikhlas dari hatinya, daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di tengah gurun pasir, tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada air, makanan maupun manusia. Kemudian tunggangannya hilang. Ia berusaha keras mencarinya tetapi tidak menemukannya. Kemudian dia berteduh di bawah sebatang pohon. Tiduran sambil pasrah menunggu kematian. Dia sudah putus asa dengan tunggangannya juga dengan hidupnya, karena bekal makan dan minumnya ada ditunggangannya yang hilang entah ke mana. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba tunggangannya sudah berada di sisinya. Tali kekangnya tersangkut di ranting pohon tempat dia berteduh. Dapatkah terbayangkan betapa bahagianya dia. Kegembiraannya tidak terbayangkan oleh siapa pun, kecuali oleh mereka yang mengalaminya. Kebahagiaan yang besar, kegembiraan dengan kehidupan setelah mengira akan mati. Karenanya, dia segera mengambil kekang tunggangannya seraya berujar, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.' Sebenarnya ia ingin memuji Allah, "'Wahai Allah, aku hamba-Mu dan Engkau tuhan-Ku." Tapi karena sangat gembira, ia jadi keliru.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4313

 
Hadith   652   الحديث
الأهمية: إن الحلال بيِّن وإن الحرام بين، وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد اسْتَبْرَأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام
Tema: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Di antara keduanya terdapat hal-hal samar yang banyak manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menjaga dirinya dari perkara yang samar, maka ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Namun, Siapa yang terjatuh ke dalam perkara yang samar, maka ia jatuh dalam perkara yang haram.

عن النعمان بن بشير -رضي الله عنه- قال: سمعت النبي -صلى الله عليه وسلم- يقول: «إن الحلال بيِّن وإن الحرام بين، وبينهما أمور مُشْتَبِهَاتٌ لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشُّبُهات فقد اسْتَبْرَأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحِمى يوشك أن يَرْتَع فيه، ألا وإن لكل مَلِك حِمى، ألا وإن حِمى الله محارمه، ألا وإن في الجسد مُضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب».

An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Saya mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Di antara keduanya terdapat hal-hal samar yang banyak manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menjaga dirinya dari perkara yang samar, maka ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Namun, Siapa yang terjatuh ke dalam perkara yang samar, maka ia jatuh dalam perkara yang haram.; bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap penguasa mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, bahwa daerah larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
القاعدة العامة أن ما أحله الله ورسوله، وما حرمه الله ورسوله، كل منهما بَيِّن واضح، وإنما الخوف على المسلم من الأشياء المشتبهة، فمن ترك تلك الأشياء المشتبهة عليه سَلِم دينه بالبعد عن الوقوع في الحرام، وتم له كذلك صيانة عرضه من كلام الناس بما يعيبون عليه بسبب ارتكابه هذا المشتبه.
ومن لم يجتنب المشتبهات، فقد عرض نفسه إما إلى الوقوع في الحرام، أو اغتياب الناس له ونيلهم من عرضه.
   وضرب الرسول -صلى الله عليه وسلم- مثلا لمن يرتكب الشبهات كراع يرعى إبله أو غنمه قرب أرض قد حماها صاحبها، فتوشك ماشية ذلك الراعي أن ترعى في هذا الحمى لقربها منه، فكذلك من يفعل ما فيه شبهة، فإنه بذلك يقترب من الحرام الواضح، فيوشك أن يقع فيه.
وأشار النبي -صلى الله عليه وسلم- إلى أن الأعمال الظاهرة تدل على الأعمال الباطنة من صلاح أو فساد، فبين أن الجسد فيه مضغة (وهي القلب) يصلح الجسد بصلاحها، ويفسد بفسادها.
Ada kaidah umum bahwa segala yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya, dan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, keduanya adalah jelas dan terang. Hanya saja yang dikhawatirkan terhadap orang muslim adalah hal-hal yang samar. Siapa yang meninggalkan hal-hal samar itu, maka agamanya selamat, yaitu terjauhkan dari perbuatan yang haram serta kehormatannya terjaga secara sempurna dari celaan manusia lantaran mengerjakan hal-hal yang samar ini. Orang yang tidak menghindari hal-hal yang samar, maka dia telah membiarkan dirinya terjerumus, baik ke dalam hal haram ataupun gunjingan manusia terhadapnya serta penodaan mereka atas kehormatannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan permisalan tentang orang yang mengerjakan hal yang samar, bahwa ia laksana penggembala yang menggembala untanya atau kambingnya di dekat tanah yang telah dijaga oleh pemiliknya. Dikhawatirkan binatang ternak penggembala itu merumput di tempat terlarang itu karena dekat dengannya. Demikian juga halnya dengan orang yang mengerjakan sesuatu yang mengandung kesamaran, karena ia sangat dekat dengan keharaman yang jelas sehingga dikhawatirkan dia terperosok di dalamnya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengisyaratkan bahwa kesalehan atau keburukan amal-amal lahir menunjukkan kesalehan atau keburukan amalan-amalan hati. Beliau menjelaskan bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging (yaitu hati); tubuh menjadi baik dengan kebaikannya dan rusak dengan kerusakannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4314

 
Hadith   653   الحديث
الأهمية: إن اللهَ -عَزّ وَجَلَّ- يَقْبَل تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَم يُغَرغِر
Tema: Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «إن الله -عز وجل- يقبل تَوْبَةَ العَبْدِ ما لم يُغَرْغِرْ».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الله -عز وجل- يقبل توبة العبد ما لم تصل الروحُ الحلقومَ، فإذا وصلت الروحُ الحلقومَ فلا توبة، ولقوله -تعالى-: {وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآن}، [النساء: 18].
Tema: Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan. Apabila nyawa sudah sampai ke tenggorokan, maka tidak ada tobat baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang dari mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." (QS. An-Nisa': 18).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4315

 
Hadith   654   الحديث
الأهمية: إن الله تعالى طيبٌ لا يقبل إلا طيبًا، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال تعالى: يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحًا
Tema: Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali perkara yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai para Rasul, makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh!"

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟.

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali perkara yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul, Allah berfirman, "Wahai para Rasul, makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mu`minūn: 51). Dan Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (sembari berkata), "Ya Rabb, ya Rabb," sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan yang haram, lalu bagaimana bisa doanya dikabulkan?”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إن الله -تعالى- منزه عن النقائص والعيوب، موصوف بصفات الجلال والجمال والكمال؛ فلا يتقرب إليه بنفقة أو صدقة من حرام أو ما فيه شبهة أو بالرديء من الطعام، وأن الله قد أباح للمؤمنين الأكل من الطيبات كما أباحه للمرسلين مع العمل الصالح والشكر لله على نعمه.
ثم بين الرسول -صلى الله عليه وسلم- أن الله -سبحانه- كما يحب الإنفاق من الطيب، فإنه تعالى كذلك لا يحب من الأعمال إلا طيبها، ولا تطيب الأعمال إلا بالمتابعة والإخلاص.
ثم ذكر -صلى الله عليه وسلم- تحذيرا لأمته من الحرام، فذكر -صلى الله عليه وسلم- الرجل يطيل السفر، أي: في وجوه الطاعات من حج وجهاد واكتساب معيشة، أشعث شعر الرأس مُغبرَّ اللون من طول سفره في الطاعة، يمد يديه إلى السماء بالدعاء إلى الله والتضرع إليه والتذلل بين يديه، ومع ذلك يبعد أن يستجاب له، لخبث كسبه، حيث كان مطعمه ومشربه من الحرام.
Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- suci dari segala sifat kekurangan dan cela, Dia memiliki sifat kagungan, keindahan dan kesempurnaan; maka tidak mungkin seseorang mendekatkan diri kepada-Nya dengan nafkah atau sedekah yang berasal dari sesuatu yang haram, mengandung syubhat atau dari jenis makanan yang buruk. Allah membolehkan orang-orang yang beriman untuk mengkonsumsi makanan yang baik sebagaimana Dia telah membolehkannya pada para Rasul serta memerintahkan untuk beramal saleh dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Kemudian Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyukai infak yang berasal dari harta yang baik, maka Dia juga tidak menyukai amalan kecuali amalan yang baik, dan amalan itu tidak akan baik kecuali bila dilakukan atas dasar mutāba'ah (sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah) dan keikhlasan. Selanjutnya Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperingatkan umatnya dari perkara yang haram. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengisahkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh; yakni melakukan perjalanan dalam rangka ketaatan seperti perjalanan ibadah haji, berjihad dan mencari nafkah penghidupan, rambut kusut dan berdebu karena jauhnya perjalanan yang ia tempuh. Lalu ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa kepada Allah dengan mengiba dan penuh kerendahan hati, meskipun demikian kondisinya, namun doanya tidak dikabulkan karena pekerjaannya yang buruk, di mana makanan dan minuman yang ia konsumsi berasal dari sesuatu yang haram.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4316

 
Hadith   655   الحديث
الأهمية: إنَّ الله -تعالى- يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Tema: Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat.

عن أبي موسى عبد الله بن قيس الأشعري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ الله -تعالى- يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا».

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الله -عز وجل- يقبل التوبة -حتى وإن تأخرت- فإذا أذنب الإنسان ذنبًا في النهار، فإن الله- تعالى- يقبل توبته ولو تاب في الليل، وكذلك إذا أذنب الإنسان ذنبًا في الليل، فإن الله- تعالى- يقبل توبته ولو تاب في النهار؛ ما لم تطلع الشمس من مغربها وهي من علامات الساعة الكبرى.
Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat, bahkan meskipun terlambat, apabila seorang manusia melakukan dosa di siang hari, maka Allah -Ta'ālā- menerima tobatnya, seandainya ia bertobat di malam hari. Demikian juga apabila dia melakukan dosa di malam hari, maka Allah -Ta'ālā- menerima tobatnya meskipun ia bertobat di siang hari, selama matahari belum muncul dari barat dimana ini adalah salah satu tanda kiamat besar.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4318

 
Hadith   656   الحديث
الأهمية: إن الله كتب الإحسانَ على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسِنوا القِتلةَ وإذا ذبحتم فأحسِنوا الذِّبحة، وليحد أحدُكم شَفْرَتَه ولْيُرِحْ ذبيحتَهُ
Tema: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula, dan hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya.

عن شداد بن أوس -رضي الله عنه- مرفوعًا:« إن الله كتب الإحسانَ على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسِنوا القِتلةَ وإذا ذبحتم فأحسِنوا الذِّبحة، وليحد أحدُكم شَفْرَتَه ولْيُرِحْ ذبيحتَهُ».

Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat iḥsān (baik) terhadap segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula, dan hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
المسلم مطالب بإحسان نيته وسريرته، ومطالب بإحسان طاعته وعبادته، ومطالب بإحسان عمله وصنعته، ومطالب بالإحسان إلى الناس والحيوان؛ بل وإلى الجماد أيضا.
ولا شك أن ذابح الحيوان سيؤلمه بالذبح، ولا بد من ذبحه للانتفاع به، إذا فالمقصود من ذلك هو تربية الرحمة والرأفة والشفقة والرفق في نفس المؤمن حتى لا يغفل عن تلك المعاني ولو كان ذابحا أو قاتلا بحق، وهو تنبيه على أن الإحسان إذا طلب في القتل والذبح فطلبه في غيره من الأعمال آكد وأشد، ومن الإحسان تحديد السكين وإراحة الحيوان.
Seorang muslim dituntut untuk memperbaiki niat dan kepribadiannya, ketaatan dan ibadahnya, amal perbuatan dan profesinya, serta dituntut berbuat baik kepada manusia dan binatang; bahkan juga kepada benda-benda mati. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menyembelih hewan sudah tentu akan menyakiti sembelihannya, namun ia mesti menyembelihnya untuk mengambil manfaat dari hewan tersebut. Jadi, maksud dari hadis ini adalah menanamkan rasa kasih sayang, kemurahan hati, dan simpati pada diri orang yang beriman agar tidak lalai dari sifat-sifat terpuji tersebut meskipun ia seorang jagal atau orang yang membunuh karena alasan yang hak. Hadis ini juga sebagai peringatan bahwa jika dalam membunuh dan menyembelih saja dituntut untuk berbuat baik, maka dalam amalan lainnya tentu lebih dituntut untuk berbuat baik. Dan termasuk dari berbuat baik (ketika menyembelih) adalah menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4319

 
Hadith   657   الحديث
الأهمية: إن الله كَتَبَ الحسناتِ والسيئاتِ ثم بَيَّنَ ذلك، فمَن هَمَّ بحسنةٍ فَلم يعمَلها كَتبها الله عنده حسنةً كاملةً، وإن هَمَّ بها فعمِلها كتبها اللهُ عندَه عشرَ حسناتٍ إلى سَبعِمائةِ ضِعْفٍ إلى أضعافٍ كثيرةٍ
Tema: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, lalu menjelaskannya. Siapa yang berniat melaksanakan kebaikan namun tidak jadi mengerjakannya, Allah tetap mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat kebaikan di sisi-Nya

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- عن رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- فيما يرويه عن ربه -تبارك وتعالى- قال: «إن الله كَتَبَ الحسناتِ والسيئاتِ ثم بَيَّنَ ذلك، فمَن هَمَّ بحسنةٍ فَلم يعمَلها كَتبها الله عنده حسنةً كاملةً، وإن هَمَّ بها فعمِلها كتبها اللهُ عندَه عشرَ حسناتٍ إلى سَبعِمائةِ ضِعْفٍ إلى أضعافٍ كثيرةٍ، وإن هَمَّ بسيئةٍ فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة، وإن هَمَّ بها فعمِلها كتبها اللهُ سيئةً واحدةً».
زاد مسلم: «ولا يَهْلِكُ على اللهِ إلا هَالِكٌ».

Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya -Tabāraka wa Ta'ālā-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, lalu menjelaskannya. Siapa yang berniat melaksanakan kebaikan namun tidak jadi mengerjakannya, Allah tetap mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat kebaikan di sisi-Nya. Jika seseorang berniat melakukan keburukan namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, Allah pun mencatatnya sebagai satu kejahatan." Muslim menambahkan lafal, "Tidak ada yang akan dibinasakan oleh Allah selain orang yang pantas binasa."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث العظيم أن الهم بالحسنة مع الحرص على عملها يُكتب حسنة وإن لم تُعمل، وإذا عُملت الحسنة فإنها تُضاعف بعشر أمثالها إلى أضعاف كثيرة، ومن هم بالسيئة ثم تركها لله كُتبت له حسنة، ومن عمل سيئة كُتبت له سيئة واحدة، ومَن هم بالسيئة ثم تركها لم تُكتب شيئا، وكل ذلك يدل على سَعة رحمة الله عز وجل، حيث تفضل عليهم بهذا الفضل العظيم والخير الجزيل.
Dalam hadis yang agung ini dijelaskan bahwa niat berbuat kebaikan disertai keinginan keras untuk melakukannya dicatat sebagai satu kebaikan meskipun tidak dikerjakan. Jika kebaikan itu dilaksanakan maka kebaikan itu dilipat menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat. Siapa yang berniat melakukan keburukan lalu meninggalkannya karena Allah, Allah pun mencatatnya sebagai satu kebaikan. Siapa yang melakukan satu keburukan maka dicatat baginya satu kejahatan, dan Siapa yang berniat melakukan kejahatan lalu meninggalkannya, maka hal itu tidak dicatat sama sekali. Semua ini menunjukkan luasnya rahmat Allah -'Azza wa Jalla-, karena Dia memberikan kemuliaan kepada mereka dengan kemuliaan yang besar dan kebaikan yang melimpah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4322

 
Hadith   658   الحديث
الأهمية: من صام يومًا في سبيل الله بَعَّدَ الله وجهه عن النار سبعين خريفًا
Tema: Siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, pasti Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejarak tujuhpuluh musim gugur (tahun).

عن أبي سعيد الخُدْرِي -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «من صام يومًا في سبيل الله بَعَّدَ الله وجهه عن النَّار سَبْعِين خريفا».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, pasti Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejarak tujuhpuluh musim gugur (tahun)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن من صام يوما واحدا في سبيل الله كان جزاؤه أن يُبَعِّد الله تعالى وجهه عن النار سبعين عاماً؛ لأنه جمع بين مشقة الجهاد والمرابطة ومشقة الصيام، وإبعاده عن النار، يقتضي تقريبه من الجنة، إذ ليس هناك إلا طريق للجنة وطريق للسعير.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa orang yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka balasannya adalah Allah -Ta'ālā- akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejarak tujuh puluh tahun karena dia telah menggabungkan antara kesulitan jihad dan menjaga wilayah Islam dengan kesulitan berpuasa. Dijauhkan dari neraka konsekuensinya didekatkan ke surga. Sebab, di sana tidak ada jalan selain jalan ke Surga dan jalan ke neraka Sa'īr.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4436

 
Hadith   659   الحديث
الأهمية: لا يزال الناس بخير ما عَجَّلُوا الفطر
Tema: Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa.

عن سهل بن سعد الساعدي -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يزال الناس بخير ما عَجَّلُوا الفطر».

Dari Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- في هذا الحديث أن الناس لا يزالون بخير، ما عجلوا الفطر؛ لأنهم ـ بذلك يحافظون على السنة.
فإذا خالفوا وأخروا الفطر، فهو دليل على زوال الخير عنهم ؛ لأنهم تركوا تمسكهم بالسنة التي ترك النبي -صلى الله عليه وسلم- عليها أمته وأمرهم بالمحافظة عليها .

Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam hadis ini bahwa orang-orang senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa. Sebab, dengan hal itu mereka telah memelihara Sunnah. Jika mereka menentangnya dan mengakhirkan buka puasa, itu pertanda hilangnya kebaikan dari mereka, karena mereka tidak berpegang teguh kepada Sunnah yang telah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk umatnya dan beliau memerintahkan mereka untuk menjaganya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4438

 
Hadith   660   الحديث
الأهمية: ذهب المفطرون اليوم بالأجر
Tema: Orang-orang yang berbuka pada hari ini telah bepergian dengan mendapatkan pahala.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال: كنَّا مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في السفر فمنَّا الصائم، وَمِنَّا المُفطر، قال: فنزلنا مَنْزِلًا فِي يوم حارٍّ، وأكثرنا ظِلًّا صاحب الْكِسَاءِ، وَمِنَّا من يَتَّقِي الشمس بيده، قال: فَسقط الصُّوَّامُ، وقام المُفْطِرُونَ فَضربوا الْأَبْنِيَةِ، وَسَقَوْا الرِّكَاب، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: "ذهب المُفْطِرُونَ اليوم بالأجر".

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Kami pernah melakukan safar bersama ‎Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di antara kami ada yang berpuasa dan ada juga yang ‎tidak berpuasa”. Kemudian di hari yang sangat terik itu kami berhenti di suatu tempat dan ‎orang yang bisa berteduh hanyalah orang yang mempunyai pakaian, bahkan di antara kami ada ‎yang berlindung dari sinar matahari hanya dengan tangannya saja. Maka orang-orang yang ‎berpuasa pun berjatuhan, dan sebaliknya orang-orang yang tidak berpuasa bangkit, kemudian mendirikan tenda dan memberi minum hewan tunggangan mereka. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersabdaو "Hari ini mereka yang berbuka telah menuai pahala."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان الصحابة مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في أحد أسفاره، ويحتمل أنها غزوة الفتح، فكان بعضهم مفطرًا، وبعضهم صائمًا، والنبي -صلى الله عليه وسلم- يُقر كلًّا منهم على حاله.
فنزلوا في يوم حار ليستريحوا من عناء السفر وحر الهاجرة، فلما نزلوا في هذه الهاجرة، سقط الصائمون من الحر والظمأ، فلم يستطيعوا العمل، وقام المفطرون، فضربوا الأبنية، بنصب الخيام والأخبية، وسقوا الإبل، وخدموا إخوانهم الصائمين، فلما رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- فعلهم وما قاموا به من خدمة الجيش شجعهم، وبين فضلهم وزيادة أجرهم وقال: "ذهب المفطرون اليوم بالأجر".
Para sahabat pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah safar. Di antara ‎mereka ada yang tidak melaksanakan puasa dan ada juga yang berpuasa. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membenarkan setiap dari mereka berdasarkan kondisinya.‎
Kemudian pada suatu hari yang sangat terik, mereka berhenti di suatu tempat untuk ‎beristirahat dari lelahnya perjalanan dan teriknya suasana yang sangat panas. Ketika mereka ‎berhenti di waktu yang sangat panas di tengah hari tersebut, orang-orang yang berpuasa ‎berjatuhan karena panas dan kehausan sehingga mereka tidak dapat bekerja. ‎Adapun orang-orang yang tidak berpuasa mereka bangkit lalu mendirikan kemah-kemah, memberi minum unta dan membantu ‎saudara-saudara mereka yang berpuasa. Tatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat ‎pekerjaan mereka dan apa yang mereka lakukan untuk membantu pasukan, ‎beliaupun memotivasi mereka serta menjelaskan keutamaan mereka dan bersabda, “Hari ini ‎mereka yang berbuka telah menuai pahala."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4439

 
Hadith   661   الحديث
الأهمية: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- دخل مكة عام الفَتح، وعلى رأسه المِغْفَرُ، فلما نَزعه جاءه رجل فقال: ابن خَطَلٍ متعَلِّقٌ بأستار الكعبة، فقال: اقْتُلُوهُ
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memasuki Makkah pada hari pembebasan kota ‎Makkah dengan memakai topi besi di atas kepalanya. Ketika beliau melepasnya, seorang lelaki ‎datang dan berkata, “Ibnu Khaṭal bergantung pada tirai Ka'bah”. Lalu beliau bersabda, ‎‎“Bunuhlah dia!".‎

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه-: «أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- دخل مكة عام الفَتح، وعلى رأسه المِغْفَرُ، فلما نَزعه جاءه رجل فقال: ابن خَطَلٍ متعَلِّقٌ بأستار الكعبة، فقال: اقْتُلُوهُ».

Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memasuki Makkah pada hari pembebasan kota ‎Makkah dengan memakai topi besi di atas kepalanya. Ketika beliau melepasnya, seorang lelaki ‎datang dan berkata, “Ibnu Khaṭal bergantung pada tirai Ka'bah”. Lalu beliau bersabda, ‎‎“Bunuhlah dia!".‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان بين النبي -صلى الله عليه وسلم- وبين كفار قريش عهد, وكان قد أهدر دم بعض المشركين وأمر بقتلهم، وهم تسعة فقط، فلما كان فتح مكة، دخلها -صلى الله عليه وسلم- في حالة حيطة وحذر، فوضع على رأسه المِغْفَر، ووجد بعض الصحابة ابنَ خَطَل متعلقاً بأستار الكعبة، عائذاً بحرمتها من القتل؛ لمِا يعلم من سوء صنيعه، وقبح سابقته، فتحرجوا من قتله قبل مراجعة النبي -صلى الله عليه وسلم- فلما راجعوه قال: اقتلوه، فقتل بين الحجر والمقام.
Terjadi perjanjian antara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan orang-orang kafir Quraisy, dan beliau telah menumpahkan darah sebagian kaum musyrikin dan memerintahkan ‎untuk membunuh mereka yang berjumlah hanya sembilan orang. Maka ketika terjadi ‎pembebasan kota Makkah, beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memasukinya dalam kondisi ‎waspada dan penuh kehati-hatian, beliaupun memakai pelindung kepala (topi besi). Sebagian ‎sahabat menemukan Ibnu Khaṭal bergantung pada tirai Ka'bah untuk memohon perlindungan ‎dengan kehormatan Ka'bah dari pembunuhan; karena dia mengetahui keburukan perbuatannya ‎dahulu, sehingga para sahabat merasa kebingungan dan canggung untuk membunuhnya sebelum ‎berkonsultasi terlebih dahulu dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setelah mereka ‎berkonsultasi kepada beliau, maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda:, “Bunuhlah dia!” Lalu dia dibunuh di antara Hijir Ismail dan Maqām Ibrahim.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4440

 
Hadith   662   الحديث
الأهمية: جعل ابن مسعود -رضي الله عنه- البيت عن يساره ومنى عن يمينه، ثم قال: هذا مَقَامُ الذي أُنْزِلَتْ عليه سورة البقرة -صلى الله عليه وسلم-
Tema: Lalu ia menjadikan baitullah berada disebelah kirinya, dan Mina berada disebelah kanannya, ‎lalu berkata, “Ini adalah tempat diturunkannya surah Al-Baqarah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.”

عن عبد الرحمن بن يزيد النَّخَعِي: «أنه حج مع ابن مسعود فرآه يَرمي الجَمْرَةَ الكبرى بسبع حصَيات، فجعل البيت عن يساره، ومِنى عن يمينه، ثم قال: هذا مَقَامُ الذي أُنْزِلَتْ عليه سورة البقرة -صلى الله عليه وسلم-».

Dari Abdurrahman bin Yazīd An-Nakha'i, bahwa dirinya pernah berhaji bersama Ibnu Mas'ūd. ‎Dia melihatnya melempar Jumrah kubra dengan tujuh butir kerikil. Lalu ia menjadikan Baitullah ‎berada disebelah kirinya, dan Mina berada disebelah kanannya, lalu berkata, “Ini adalah tempat ‎diturunkannya surah Al-Baqarah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-”‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
رميُ الجمار في يوم النحر وأيام التشريق عبادة جليلة، فيها معنى الخضوع لله تعالى، وامتثال أوامره والاقتداء بإبراهيم الخليل عليه الصلاة والسلام، وأول ما يبدأ به الحاج يوم النحر هو رمي الجمرة الكبرى لتكون فاتحة أعمال ذلك اليوم الجليلة، فيقف منها موقف النبي صلى الله عليه وسلم حيث الكعبة المشرفة عن يساره ومني عن يمينه واستقبلها ورماها بسبع حصيات يكبر مع كل واحدة كما وقف ابن مسعود رضي الله عنه هكذا وأخبر أن هذا هو مقام الذي أنزلت عليه سورة البقرة، صلى الله عليه وسلم.
Melempar jumrah pada hari nahr (kurban) dan hari-hari tasyrik adalah ibadah yang agung. ‎Didalamnya terkandung makna ketundukan kepada Allah Ta`ala dan juga sebagai bentuk ‎pelaksanaan atas perintah-perintah-Nya serta mencontoh Nabi Ibrahim al-Khalil `Alaihish Shalaatu was Salaam. Yang pertama kali dimulai oleh seseorang yang sedang menunaikan ibadah ‎haji pada hari nahr adalah melempar jumrah kubra sebagai pembuka amalan pada hari yang ‎agung tersebut. Ia berdiri pada posisi sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu ‎menjadikan Ka`bah musyarrafah berada disebelah kirinya dan Mina berada disebelah kanannya. Dia ‎menghadap kepada jumrah dan melemparnya dengan tujuh butir kerikil seraya bertakbir ‎bersama setiap satu lemparan kerikil, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- dan dia bersumpah bahwa ini adalah tempat di mana surah Al-Baqarah ‎diturunkan kepada beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4448

 
Hadith   663   الحديث
الأهمية: لا يَصُومَنَّ أحدكم يوم الجمعة، إلا أن يَصوم يومًا قبله أو بعده
Tema: Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jumat kecuali dia berpuasa sehari ‎sebelumnya atau sesudahnya.‎

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «لا يَصُومَنَّ أحدكم يوم الجمعة، إلا أن يصومَ يومًا قبله أو بعده».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jumat kecuali ‎dia berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.”‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- عن صوم يوم الجمعة، إلا أن يُقرن به صوم يومٍ قبله أو بعده، أو يكون ضمن صوم معتاد.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika dibarengi ‎dengan puasa satu hari sebelum atau setelahnya, atau termasuk dari puasa yang biasa dilakukan.‎

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4449

 
Hadith   664   الحديث
الأهمية: يا عمر، أما شَعَرْتَ أن عمَّ الرجل صِنْوُ أبيه؟
Tema: Wahai Umar, tidakkah engkau tahu bahwa paman seseorang itu adalah saudara sekandung bapaknya?

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: «بعث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عمر -رضي الله عنه- على الصدقة. فقيل: منع ابن جميل وخالد بن الوليد، والعباس عم رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ما يَنْقِم ابن جميل إلا أن كان فقيرا: فأغناه الله؟ وأما خالد: فإنكم تظلمون خالدا؛ فقد احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتَادَهُ في سبيل الله. وأما العباس: فهي عليَّ ومثلها. ثم قال: يا عمر، أما شَعَرْتَ أن عمَّ الرجل صِنْوُ أبيه؟».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Umar -raḍiyallāhu 'anhu- untuk memungut zakat." Lantas dikatakan bahwa Ibnu Jamīl, Khālid bin Al-Walīd, dan Al-Abbās, paman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menolak berzakat. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ibnu Jamīl tidak berzakat karena dia orang fakir, maka Allah akan menjadikannya kaya. Sedangkan Khālid, sesungguhnya kalian telah menzalimi Khālid. Ia telah menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Al-Abbās, maka zakatnya dan yang serupa dengannya menjadi kewajibanku." Selanjutnya beliau bersabda, "Wahai Umar, tidakkah engkau tahu bahwa paman seseorang itu adalah saudara sekandung bapaknya?".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
بعث النبي -صلى الله عليه سلم- عمر بن الخطاب، لجِبَايَةِ الزكاة، فلما جاء عمر إلى العباس بن عبد المطلب يريد منه الزكاة منعها، وكذلك خالد بن الوليد وابن جميل.
فجاء عمر إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- يشتكي هؤلاء الثلاثة.
فقال صلى الله عليه وسلم: أما ابن جميل، فليس له من العذر في منعها إلا أنه كان فقيرا فأغناه الله وهذا الإغناء يقتضي أن يكون أول الناس تسليما.
وأما خالد فإنكم تظلمونه بقولكم منع الزكاة وقد احتبس أدراعه وأعتاده في سبيل الله، فكيف يقع منع الزكاة من رجل تقرب إلى الله تعالى بإنفاق ما لا يجب عليه ثم هو يمنع ما أوجبه الله عليه فإن هذا بعيد. وأما العباس، فقد تحملها صلى الله عليه وسلم عنه.
ويحتمل أن ذلك لمقامه ومنزلته. ويدل عليه قوله: "أما علمت أن عم الرجل صِنْوُ أبيه؟".
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- untuk memungut zakat. Tatkala Umar datang kepada Al-Abbās bin Abdil Muṭṭalib untuk mengambil zakat darinya, ternyata ia menolaknya. Demikian juga Khālid bin Al-Walīd dan Ibnu Jamīl. Lantas Umar datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan tiga orang tersebut. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Adapun Ibnu Jamīl, tidak ada alasan baginya untuk menolak zakat melainkan karena ia orang fakir, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Kecukupan ini mengharuskannya menjadi orang yang pertama kali menyerahkan zakat, menjadikannya kaya. Sedangkan Khālid, sesungguhnya kalian telah menzaliminya dengan ucapan kalian bahwa ia menahan zakat. Padahal ia telah mewakafkan baju-baju besinya dan peralatan-peralatan perangnya di jalan Allah. Bagaimana mungkin terjadi penolakan zakat dari seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan menginfakkan sesuatu yang tidak wajib baginya, lalu ia menolak kewajiban yang telah ditetapkan Allah kepadanya? Sungguh, ini jauh sekali (kemungkinannya/ mustahil). Adapun Al-Abbās, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menanggung zakatnya. Ada kemungkinan karena kedudukan dan derajat Al-Abbās. Hal ini ditunjukkan oleh sabdanya, "tidakkah engkau tahu bahwa paman seseorang itu adalah saudara sekandung bapaknya?"

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4450

 
Hadith   665   الحديث
الأهمية: كنا نعطيها في زمن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صاعًا من طعام، أو صاعًا من شعير، أو صاعًا من أَقِطٍ، أو صاعًا من زبيب. أي زكاة الفطر
Tema: Kami membayar zakat fitrah pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berupa satu ṣā' makanan; satu ṣā' gandum; satu ṣā' keju; atau satu ṣā' kismis.

عن أبي سعيد الخُدْريِّ -رضي الله عنه- قال: "كنا نعطيها في زمن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صاعًا من طعام، أو صاعًا من شعير، أو صاعًا من أَقِطٍ، أو صاعًا من زبيب، فلما جاء معاوية، وجاءت السَّمْرَاءُ، قال: أرى مُدّاً من هذه يعدل مُدَّيْنِ. قال أبو سعيد: أما أنا: فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه على عهد رسول الله -صلى الله عليه وسلم-".

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami membayar zakat fitrah pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berupa satu ṣā' makanan; satu ṣā' gandum; satu ṣā' keju; atau satu ṣā' kismis. Tatkala Mu'awiyah datang, dan datang pula gandum Syam (as-Samrā`), ia berkata, "Aku berpendapat bahwa satu mudd (543 gram) gandum Syam setara dengan dua mudd." Abu Sa'īd berkata, "Adapun diriku, maka aku tetap mengeluarkan zakat fitrah sebagaimana biasa aku mengeluarkannya di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر أبو سعيد -رضي الله عنه- أن الناس كانوا يدفعون زكاة الفطر على عهد رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صاعًا من طعام، فلما قدم معاوية -رضي الله عنه- المدينة في خلافته، قال: أرى أن نصف صاع من القمح الشامي يعدل صاعًا من غيرها، فتكون الزكاة من سائر الأصنف صاعًا، ومن القمح الشامي نصف صاع، وهذا اجتهادٌ منه فيما لم يرد به النص، وهو هذا النوع من القمح ويسمى السمراء، والذي حمله على ذلك أنه أغلى وأجود عند الناس من التمر والشعير والأصناف الأخرى، فأخذ الناس برأيه، أما أبو سعيد -رضي الله عنه- فأنكر هذا الرأي، والتزم بالزكاة بصاع من أي طعام كان، كما كان يخرجه في زمن النبي -صلى الله عليه وسلم-، إيثارًا للاتباع، وليحصل بالصدقة الإغناء المطلوب، ومقدار الصاع بالتقدير المعاصر ثلاث كيلو جرامات مع جبر الكسر.
Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa orang-orang pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membayar zakat fitrah dengan satu ṣā' makanan. Ketika Mu'awiyah -raḍiyallāhu 'anhu- datang ke Madinah pada masa kekhilafahannya, ia berkata, "Aku berpendapat bahwa setengah ṣā' gandum Syam setara dengan satu ṣā' gandum daerah lainnya. Dengan demikian maka zakat dari semua jenis makanan adalah satu ṣā', sementara gandum Syām sebanyak setengah ṣā'. Ini merupakan ijtihad Mu'awiyah terkait hal-hal yang tidak ada nasnya, yaitu jenis gandum ini, yang biasa disebut gandum As-Samrā`. Dasar pemikirannya adalah bahwa gandum tersebut merupakan jenis gandum yang paling mahal dan paling bagus yang ada dibandingkan dengan kurma, gandum biasa dan jenis lainnya. Orang-orang pun memegang pendapatnya. Sedangkan Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- menolak pendapat ini dan ia tetap mengharuskan untuk mengeluarkan satu ṣā' dari makanan apa pun sebagaimana yang biasa dikeluarkan pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sebagai bentuk prioritas mengikuti (sunnahnya), dan supaya dengan sedekah itu tercapai standar yang ditargetkan. Ukuran satu ṣā' dalam ukuran modern adalah tiga kilogram kurang sedikit.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4454

 
Hadith   666   الحديث
الأهمية: تَسَحَّرْنَا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم قام إلى الصلاة. قال أنس: قلت لزيد: كم كان بين الأذان وَالسَّحُورِ ؟ قال: قَدْرُ خمسين آية
Tema: Kami makan sahur bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mendirikan salat. Anas berkata, Aku bertanya kepada Zaid, "Berapa jarak antara adzan dan sahur?" Ia menjawab, "Seukuran (bacaan) lima puluh ayat."

عن أنس بن مالك عن زيد بن ثابت -رضي الله عنهما- قال: «تَسَحَّرْنَا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم قام إلى الصلاة. قال أنس: قلت لزيد: كم كان بين الأذان وَالسَّحُورِ؟ قال: قدر خمسين آية».

Dari Anas bin Mālik dari Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Kami makan sahur bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mendirikan salat." Anas berkata, Aku bertanya kepada Zaid, "Berapa jarak antara adzan dan sahur?" Ia menjawab, "Seukuran (bacaan) lima puluh ayat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر زيد بن ثابت -رضي الله عنه- أنه -صلى الله عليه وسلم- لما تسحر قام إلى صلاة الصبح، فسأل أنس زيدًا: كم كان بين الإقامة والسحور؟ قال: "قدر خمسين آية" أي مدة قراءة خمسين آية، والظاهر أن هذا التقدير يكون من الآيات الوسط التي هي بين الطويلة جدًّا كما في آخر سورة البقرة وأول سورة المائدة والقصيرة جدًّا كما في سورة الشعراء والصافات والواقعة وما أشبه ذلك.
Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau selesai makan sahur, beliau berdiri melaksanakan salat shubuh. Lantas Anas bertanya kepada Zaid, "Berapa jarak antara iqamat dan sahur?" Ia menjawab, "Seukuran (bacaan) lima puluh ayat." Yang jelas, penaksiran ini pada ayat-ayat pertengahan diantara ayat yang panjang sekali. Sebagaimana di akhir surat Al-Baqarah dan awal surat Al-Mā`idah, dan yang pendek sekali sebagaimana dalam surat Asy-Syu'arā`, Aṣ-Ṣāffāt, Al-Wāqi'ah dan sebagainya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4457

 
Hadith   667   الحديث
الأهمية: يا معشر الأنصار، ألم أجدكم ضُلاَّلاً فهداكم الله بي؟ وكنتم متفرقين فَأَلَّفَكُمُ الله بي؟ وَعَالَةً فأغناكم الله بي؟
Tema: Wahai kaum Ansar, bukankah aku dapati kalian dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Dahulu kalian berpecah-belah kemudian Allah persatukan kalian denganku? Dahulu kalian kekurangan kemudian Allah cukupkan kalian dengan kedatanganku?

عن عبد الله بن زيد بن عاصم قال: «لما أفَاء الله على رسوله يوم حُنَيْنٍ؛ قَسَم في الناس، وفي المُؤَلَّفَةِ قلوبهم، ولم يعطِ الأنصار شيئا. فكأنهم وجدوا في أنفسهم؛ إذ لم يُصِبْهُمْ ما أصاب الناس.
فخطبهم؛ فقال: يا معشر الأنصار، ألم أجدكم ضُلاَّلاً فهداكم الله بي؟ وكنتم متفرقين فَأَلَّفَكُمُ الله بي؟ وَعَالَةً فأغناكم الله بي؟ كلما قال شيئًا؛ قالوا: اللهُ ورسولُه أمَنُّ. قال: ما يمنعكم أن تجيبوا رسول الله؟ قالوا: الله ورسوله أمَنُّ. قال: لو شِئْتُمْ لقلتم: جئتنا كذا وكذا. أَلَا تَرْضَوْنَ أن يذهب الناس بالشاة والبعير، وتذهبون برسول الله إلى رحَالِكُم؟ لولا الهجرة لكنت امْرَأً من الأنصار، ولو سلك الناس واديًا أو شِعْبًا، لَسَلَكْتُ وادي الأنصار وَشِعْبَهَا. الأنصار شِعَارٌ، والناس دِثَارٌ، إنكم ستلقون بعدي أَثَرَةً ، فاصبروا حتى تلقوني على الحوض».

Dari Abdullah bin Zaid bin 'Āshim berkata ketika Allah mengaruniakan rampasan perang (fai) kepada Rasul-Nya pada perang Hunain, beliau membagikannya kepada kaum muslimin dan para muallaf, dan beliau tidak memberikan kepada kaum Ansar sedikitpun, maka merekapun merasa kecewa karena tidak mendapatkan apa diberikan kepada orang lain. Kemudian Rasulullah berkhutbah di hadapan mereka dengan berkata, "Wahai kaum Ansar! Bukankah aku dapati dahulu kalian dalam kesesatan kemudian Allah berikan kalian petunjuk denganku? Dahulu kalian berpecah belah kemudian Allah persatukan kalian denganku? Dahulu kalian kekurangan kemudian Allah cukupkan kalian dengan kedatanganku?" Setiap Rasulullah mengatakan sesuatu merekapun menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih baik." Beliau berkata, "Apa yang menghalangi kalian tidak menjawab pertanyaan Rasullullah?" Mereka berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih baik." Beliau bersabda, "Seandainya kalian mau, kalian akan mengatakan, Engkau telah datang kepada kami dengan begini dan begitu. Tidakkah kalian rida jika manusia pulang membawa kambing dan unta sedang kalian pulang bersama Rasulullah menuju tempat tinggal kalian, seandainya bukan karena hijrah maka sungguh aku adalah orang Ansar, seandainya orang-orang berjalan melewati suatu lembah dan bukit maka sungguh aku akan melewati lembah dan bukit kaum Ansar. Kaum Ansar laksana orang-orang yang memakaikan (mengenakan) dan selain mereka bagaikan selimutnya. Sesungguhnya kalian akan mendapati sesudahku orang-orang yang egois, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di telaga".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لما فتح الله على نبيه محمد -صلى الله عليه وسلم- من الغنائم الكثيرة في موقعة حُنَيْنٍ وبعد أن ترك حصار الطائف عاد إليها أي إلى الغنائم، فأعطى النبي -صلى الله عليه وسلم- أقوامًا حديثي عهد بالإسلام ليتألفهم فأنكر ذلك بعض الأنصار أما خيارهم فإنهم يعلمون أن تصرف رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تصرف بحق فلما بلغته مقالتهم حيث قال بعضهم يعطي رسول الله -صلى الله عليه وسلم- الغنائم لأقوام تقطر سيوفنا من دمائهم ويدعنا، فأمر النبي -صلى الله عليه وسلم- بجمعهم له في قبة فاجتمعوا، فقال: ما مقالة بلغتني عنكم .. إلخ ما ذكر. فعاتبهم واعترف لهم بما قدموه من نصرة له وللإسلام الذي جاء به فطابت نفوسهم وعرفوا بذلك عظيم ما ذخر الله لهم من صحبة رسوله ورجوعهم به إلى رحالهم بالإضافة إلى ما ادخره الله لهم في الدار الأخرى على ما قدموه وبذلوه فأمرهم -صلى الله عليه وسلم- بالصبر على ما سيلقونه بعده من الأَثَرَةِ.
Ketika Allah mengaruniakan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- harta rampasan perang yang banyak pada perang Ḥunain dan setelah beliau selesai mengepung kota Ṭāif, beliau kembali mendatangi harta rampasan perang tersebut. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikannya kepada orang-orang yang baru masuk Islam untuk melembutkan hati mereka, akan tetapi sebagian orang Ansar tidak setuju dengan tindakan ini. Adapun orang-orang pilihan dari mereka, mereka tahu bahwa apa yang Rasulullah lakukan adalah benar. Ketika sampai ke telinga beliau apa yang mereka katakan; yang mana sebagian mereka mengatakan, "Rasulullah memberikan rampasan perang kepada kaum yang mana pedang-pedang bertetesan darah mereka dan tidak memberikan kepada kita", maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- segera mengumpulkan mereka di suatu kubah dan mereka pun berkumpul, kemudian Rasulullah mengatakan, "Perkataan apa yang sampai kepadaku dari kalian...dst. Maka Rasulullah pun menegur mereka dan mengakui jasa- jasa besar mereka (kaum Ansar) dalam menolong Rasulullah dan agama Islam yang ia bawa. Hati merekapun menjadi tenanglah dan mereka pun tahu besarnya nikmat yang Allah berikan untuk mereka yaitu bersahabat dengan Rasulullah, dan mereka pun pulang bersama Rasulullah ke kampung mereka, ditambah lagi dengan apa yang Allah siapkan untuk mereka di akhirat; yaitu balasan atas apa yang telah mereka kerjakan dan mereka korbankan. Oleh sebab itu, Rasulullah menyuruh mereka untuk bersabar menghadapi sifat keegoisan yang akan mereka hadapi sepeninggal beliau.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4458

 
Hadith   668   الحديث
الأهمية: من اعتكف معي فَلْيَعْتَكِفِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ فقد أُرِيتُ هذه اللَّيْلة ثم أُنْسِيتُهَا، وقد رَأَيْتُنِي أَسْجُد فِي ماءٍ وطِينٍ من صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي العشْر الأَوَاخِر
Tema: Siapa ingin beriktikaf denganku, hendaknya ia beriktikaf pada sepuluh hari terakhir karena pada malam ini telah diperlihatkan kepadaku, lalu aku terlupa. Telah diperlihatkan kepadaku bahwa aku sujud di atas air dan tanah pada pagi itu. Karena itu, carilah (lailatul qadar) di sepuluh hari terakhir.

عن أبي سعيد الخُدْري -رضي الله عنه-: «أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يَعْتَكِفُ في العَشْرِ الأَوْسَطِ من رمضان. فاعتكف عامًا، حتى إذا كانت لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ -وهي اللَّيْلَةُ التي يخرج من صَبِيحَتِهَا من اعتكافه- قال: من اعتكف معي فَلْيَعْتَكِفِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ فقد أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثم أُنْسِيتُهَا، وقد رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ من صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، والتمسوها في كل وِتْرٍ. فَمَطَرَتِ السَّمَاءُ تلك الليلة، وكان المسجد على عَرِيشٍ، فَوَكَفَ المسجد، فَأبْصَرَتْ عَيْنَايَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وعلى جَبْهَتِهِ أَثَرُ المَاءِ وَالطِّين من صُبْحِ إحْدَى وَعشْرِيْنَ».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadan. Beliau beriktikaf di bulan Ramadan tahun itu, hingga ketika malam keduapuluh satu - yaitu malam ketika ia keluar di pagi harinya dari iktikafnya - beliau bersabda, "Siapa ingin beriktikaf denganku, hendaknya ia beriktikaf pada sepuluh hari terakhir karena pada malam ini telah diperlihatkan kepadaku, lalu aku terlupa. Telah diperlihatkan kepadaku bahwa aku sujud di atas air dan tanah pada pagi itu. Karena itu, carilah (lailatul qadar) di sepuluh hari terakhir dan carilah di setiap malam ganjil. Pada malam itu langit hujan dan masjid seperti naungan lalu meneteslah air dari atapnya." Aku lihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan di keningnya ada bekas air dan tanah dari pagi malam keduapuluh satu."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر أبو سعيد الخُدْري -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يعتكف العشر الأوسط من رمضان طلبًا لليلة القدر، فاعتكف عامًا -كعادته- حتى إذا كانت ليلة إحدى وعشرين، وهي الليلة التي كان يخرج في صبيحتها من اعتكافه، عَلِم أن ليلة القدر في العشر الأواخر، فقال لأصحابه: من اعتكف معي في العشر الوسطى، فليواصل اعتكافه وليعتكف العشر الأواخر.
وأخبر بأن الله -تعالى- أراه إياها في المنام ثم أنساه إياها، لكنه رأى في المنام لها علامات في تلك السنة وهي: سجوده في صلاة الصبح على ماء وطين.
فصدق الله رؤيا نبيه -صلى الله عليه وسلم-، فمطرت السماء ليلة إحدى وعشرين وكان مسجده -صلى الله عليه وسلم- مبنيًا كهيئة العريش، عمده من جذوع النخل، وسقفه من جريدها، فَوَكَفَ المسجد من أثر المطر، فسجد -صلى الله عليه وسلم- صبيحة إحدى وعشرين، في ماء وطين.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadan untuk mencari lailatul qadar. Beliau beriktikaf di bulan Ramadan di tahun itu - sebagaimana kebiasaannya - hingga ketika malam keduapuluh satu, yaitu malam ketika pagi harinya beliau keluar dari iktikaf, beliau tahu bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir. Lantas beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Barangsiapa beriktikaf denganku di sepuluh malam pertengahan, hendaknya ia meneruskan ik'tikafnya dan beriktikaflah di sepuluh hari terakhir." Beliau mengabarkan bahwa Allah -Ta'ālā- telah memperlihatkan malam itu kepadanya dalam tidur kemudian beliau terlupa. Hanya saja dalam mimpi itu beliau melihat tanda-tandanya pada tahun itu, yaitu beliau sujud dalam shalat shubuh di atas air dan tanah. Allah membenarkan mimpi Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Malam keduapuluh satu itu langit menurunkan hujan dan masjid Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dibangun seperti tempat bernaung; tiangnya dari batang korma dan atapnya dari pelepahnya. Masjid itu pun meneteskan air bekas hujan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sujud di pagi keduapuluh satu di atas air dan tanah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4459

 
Hadith   669   الحديث
الأهمية: إنَّ الله أذِن لرسوله ولم يأذن لكم، وإنما أذِنَ لي ساعة من نهار، وقد عادت حُرْمَتُهَا اليوم كَحُرمتها بالأمْسِ، فلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الغائب
Tema: Sesungguhnya Allah telah memberikan izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberikan izin kepada kalian. Sesungguhnya aku mendapatkan izin sesaat di siang hari. Hanya saja sekarang sudah diharamkan kembali sebagaimana telah diharamkan kemarin. Hendaknya orang yang menyaksikan sabda ini menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir.

عن أبي شُريح -خُوَيْلِدِ بن عمرو الخُزَاعي العدوي رضي الله عنه-: أنه قال لعمرو بن سعيد بن العاص -وهو يبعث الْبُعُوثَ إلى مكة- ائْذَنْ لي أيها الأمير أن أُحَدِّثَكَ قولا قام به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- الغد من يوم الفتح؛ فسمعَتْه أُذُنَايَ ، وَوَعَاهُ قلبي، وأبصرته عيناي حين تكلم به أنه حمد الله وأثنى عليه، ثم قال: «إن مكة حَرَّمَهَا الله تعالى، ولم يُحَرِّمْهَا الناس، فلا يحل لِامْرِئٍ يؤمن بالله واليوم الآخر: أن يسفك بها دمًا، ولا يعضد بها شجرة، فإن أحد ترخص بقتال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقولوا: إنَّ الله أذِن لرسوله ولم يأذن لكم. وإنما أذِنَ لي ساعة من نهار، وقد عادت حُرْمَتُهَا اليوم كَحُرمتها بالأمْسِ، فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغائب».
فقيل لأبي شريح: ما قال لك؟ قال: أنا أعلم بذلك منك يا أبا شريح، إن الحرم لَا يُعِيذُ عاصيا،    وَلَا فَارًّا بدمٍ، ولَا فَارًّا بِخَرْبَةٍ.

Dari Abu Syuraiḥ Khuwailid bin 'Amru Al-Khuzā'i Al-'Adawi -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya ia berkata kepada Amru bin Sa'īd bin Al-'Āṣ - saat ia mengirimkan utusan ke Makkah -, "Izinkanlah aku wahai gubernur untuk memberitahumu satu ucapan yang disampaikan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehari setelah hari pembebasan (Makkah). Kedua telingaku mendengarnya, hatiku menguasainya dan mataku melihatnya saat beliau mengucapkannya. Sesungguhnya beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu bersabda, "Sesungguhnya Makkah telah diharamkan oleh Allah -Ta'ālā- dan tidak diharamkan oleh manusia. Karena itu, tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan memotong pohon di sana. Jika ada seseorang yang beralasan dengan peperangan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka katakanlah oleh kalian, 'Sesungguhnya Allah telah memberikan izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberikan izin kepada kalian. Aku hanya mendapatkan izin sesaat di siang hari. Hanya saja sekarang sudah diharamkan kembali sebagaimana telah diharamkan kemarin. Hendaknya orang yang menyaksikan sabda ini menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir." Abu Syuraiḥ ditanya, "Apa yang telah dikatakan Amru bin Sa'īd kepadamu?" Abu Syuraiḥ menjawab, "Ia berkata, "Aku lebih tahu darimu, wahai Abu Syuraiḥ. Sesungguhnya tanah haram itu tidak bisa melindungi orang durhaka, orang yang lari karena menumpahkan darah, dan orang yang kabur karena melakukan kerusakan."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لما أراد عمرو بن سعيد بن العاص، المعروف بالأَشْدَق، أن يجهز جيشًا إلى مكة المكرمة وهو يومئذ أمير ليزيد بن معاوية على المدينة المنورة، لقتال عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما، جاءه أبو شُرَيْحٍ خُوَيْلِدِ بن عمرو الخُزَاعي -رضي الله عنه-، لينصحه في ذلك.
ولكون المنصوح كبيرًا في نفسه، تلطَّف أبو شُريح معه في الخطاب، حكمة منه ورشدًا، ليكون أدعى إلى قبول النصيحة وسلامة العاقبة، فاستأذنه ليلقي إليه نصيحة في شأن بعثه الذي هو ساعٍ فيه، وأخبره أنه متأكد من صحة هذا الحديث الذي سيلقيه عليه، وواثق من صدقه إذ قد سمعته أذناه ووعاه قلبه، وأبصرته عيناه حين تكلم به النبي صلى الله عليه وسلم، فأذن له عمرو بن سعيد في الكلام.
فقال أبو شريح: إن النبي صلى الله عليه وسلم صبيحة فتح مكة حمد الله وأثنى عليه ثم قال: "إن مكة حرمها الله يوم خلق السماوات والأرض" فهي عريقة بالتعظيم والتقديس، ولم يحرمها الناس كتحريم الحمى المؤقت والمراعي والمياه، وإنما الله الذي تولَّى تحريمها، ليكون أعظم وأبلغ.
فإذا كان تحريمها قديمًا ومن الله فلا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر - إن كان يحافظ على إيمانه - أن يسفك بها دماً، ولا يعضدها بها شجرة.
فإن أحد ترخص بقتالي يوم الفتح، فقولوا: إنك لست كهيئة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقد أُذِنَ له ولم يُؤذن لك.
على أنه لم يحل القتال بها دائمًا، وإنما هي ساعة من نهار، بقدر تلك الحاجة، وقد عادت حرمتها كما كانت، فليبلغ الشاهد الغائب.
لهذا بلغتك أيها الأمير، لكوني شاهدًا هذا الكلام، صبيحة الفتح، وأنت لم تشهده.
فقال الناس لأبي شريح: بماذا أجابك عمرو ؟ فقال: أجابني بقوله : "أنا أعلم بذلك منك يا أبا شريح، إن الحرم لا يُعِيذُ عاصياً ولا فارًّا بِخَرْبَةٍ"
فعارض الحديث برأيه، ولم يمتنع عن إرسال البعوث لقتال ابن الزبير، بل استمر على ذلك.
Tatkala 'Amru bin Sa'īd bin Al-'Āṣ yang dikenal dengan Al-Asydaq hendak mempersiapkan pasukan ke Makkah Al-Mukarramah, dan ia saat itu adalah gubernur Madinah Al-Munawwarah yang diangkat oleh Yazid bin Mu'awiyah untuk memerangi Abdullah bin Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhuma-. Abu Syuraiḥ Khuwailid bin 'Amru Al-Khuzā'i datang untuk menasehatinya terkait hal itu. Karena orang yang akan dinasehat ini terhormat, maka Abu Syuraiḥ berbicara ramah kepadanya, sebagai bentuk kebijaksanaan dan kedewasaannya. Juga supaya nasehat tersebut lebih diterima dan selamat dari dampaknya. Syuraiḥ meminta izin kepada Amru bin Sa'īd bin Al-'Āṣ untuk menyampaikan nasehat kepadanya mengenai pengiriman pasukan yang akan dilakukannya. Ia memberitahu 'Amru bin Sa'īd bin Al-'Āṣ bahwa dirinya meyakini kesahihan hadis yang akan disampaikan kepadanya dan mempercayai kebenarannya, karena ia telah mendengar hadis itu dengan kedua telinganya, telah dihafal oleh hatinya, dan telah dilihat oleh kedua matanya saat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengatakannya. 'Amru bin Sa'īd memberinya izin berbicara. Kemudian Abu Syuraiḥ berkata, "Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada pagi hari (setelah) pembebasan Makkah memuji Allah dan menyanjung-Nya. Setelah itu bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah pada hari penciptaan langit dan bumi." Makkah adalah mulia dengan adanya penghormatan dan pensucian, dan manusia tidak mengharamkannya sebagaimana mengharamkan tempat menetap sementara, tempat penggembalaan dan air. Sesungguhnya hanya Allah yang menetapkan pengharaman Makkah agar lebih agung dan lebih sampai ke tujuan. Jika pengharaman Makkah sudah berlaku dari dulu dan dari Allah, maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir - meskipun ia memelihara imannya - untuk menumpahkan darah di dalamnya dan tidak menebang pohonnya. Jika ada seorang yang berdalil dengan peperanganku pada hari pembebeasan, maka katakanlah kepada mereka, "Sesungguhnya engkau tidak seperti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau telah diberi izin, sedangkan engkau belum diberi izin. Hanya saja, tidak dihalalkan berperang di Makkah untuk selama-lamanya. Penghalalan itu pun hanya beberapa saat di siang hari sesuai dengan kebutuhan. Sekarang sudah kembali haram sebagaimana semula. Karena itu, hendaknya orang yang hadir menyaksikan sabda ini, harus menyampaikannya kepada orang yang absen/tidak hadir. Untuk itulah, wahai amir, aku menyampaikan kepadamu karena aku menjadi saksi terhadap sabdanya pada pagi hari penaklukan dan engkau sendiri tidak menyaksikannya." Orang-orang berkata kepada Abu Syuraiḥ, "Bagaimana jawaban 'Amru kepadamu?" Abu Syuraiḥ menjawab, "Ia menjawabku dengan ucapannya, 'Aku lebih tahu darimu, wahai Abu Syuraih. Sesungguhnya tanah haram itu tidak bisa melindungi orang durhaka dan orang yang buron karena melakukan kerusakan.'" Amru menentang hadis tersebut dengan pendapatnya dan tidak membatalkan pengiriman pasukan untuk membunuh Ibnu Az-Zubair. Justru ia melanjutkan pengiriman ekspedisi tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4491

 
Hadith   670   الحديث
الأهمية: لا هجرة بعد الفتح، ولكن جهاد ونية، وإذا اسْتُنْفِرْتُم فَانْفِرُوا
Tema: Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi ada jihad dan niat. Jika kalian disuruh untuk pergi berjihad, maka pergilah.

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يوم فتح مكة: «لا هجرة بعد الفتح، ولكن جهاد ونية. وإذا اسْتُنْفِرْتُم فَانْفِرُوا. وقال يوم فتح مكة: «إن هذا البَلد حَرَّمَهُ الله يوم خلق الله السموات والأرض، فهو حَرَامٌ بحُرْمَةِ الله إلَى يوم القيامة، وإنه لم يحل القتال فيه لِأَحَدٍ قَبْلِي، ولم يَحِلَّ لي إلا ساعة من نهار، حرام بِحرمة الله إلى يوم القيامة، لا يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهُ، وَلاَ يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إلا من عَرَّفَهَا، ولاَ يُخْتَلَى خَلاَهُ». فقال العباس: يا رسول الله، إلا الإِذْخِرَ؛ فإنه لِقَيْنِهِمْ وبيوتهم؟ فقال: «إلا الإِذْخِرَ».

Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada hari pembebasan Makkah, "Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi ada jihad dan niat. Jika kalian disuruh untuk pergi berjihad, maka pergilah." Beliau bersabda pada hari pembebasan Makkah, "Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan Allah pada hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Ia haram dengan pengharaman Allah sampai pada hari kiamat. Sesungguhnya tidak dihalalkan berperang di dalamnya bagi seorang pun sebelumku, dan tidak dihalalkan bagiku kecuali sesaat di siang hari. Ia haram dengan pengharaman Allah sampai hari kiamat. Durinya tidak boleh dipotong, binatang buruannya tidak boleh diganggu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali oleh orang yang ingin mengumumkannya, dan rumputnya tidak boleh dipotong." Al-Abbās berkata, "Wahai Rasulullah, kecuali tanaman Al-Iżkhir, karena ia untuk pandai besi dan rumah-rumah (penduduk Makkah)?" Beliau bersabda, "Kecuali Al-Iżkhir."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما-، أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قام خطيبًا يوم فتح مكة، فقال: لا هجرة أي من مكة ؛ لأنها صارت بلاد إسلام، ولكن بقي الجهاد في سبيل الله، وأمر من طلب منه الخروج إلى الجهاد أن يخرج طاعة لله وطاعة لرسوله وأولي الأمر، ثم ذكر حرمة مكة، وأن ذلك منذ خلق الله السموات والأرض وأنها لم تحل لأحد قبل النبي -صلى الله عليه وسلم-    ولن تحل لأحد بعده وإنما أُحلت له ساعة من نهار، ثم عادت حرمتها ، ثم ذكر حرمة مكة وأن لا يُعضد شوك الحرم ولا يُنَفَّرُ صيده ولا تُلْتَقَطُ لُقَطَتُه إلا لمن يريد تعريفها، ولا يؤخذ خلاه وهو العلف والحشيش واستثني من ذلك الإذخر لمصلحة أهل مكة، وذلك أن الحدادين يستعملونه في إيقاد النار لأعمالهم.
Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpidato pada hari pembebasn Makkah. Beliau bersabda, "Tidak ada hijrah," yakni dari Makkah, karena ia sudah menjadi negara Islam. Tetapi yang tersisa adalah jihad dan perintah bagi orang yang diminta keluar untuk berjihad, hendaknya ia keluar demi ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan pemerintahnya. Selanjutnya beliau menyebutkan keharaman Makkah dan itu sudah ditetapkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Makkah tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelum Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak dihalalkan untuk seorang pun setelahnya. Sesungguhnya ia hanya dihalalkan bagi beliau sesaat di siang hari, selanjutnya kembali menjadi haram. Kemudian beliau menyebutkan keharaman Makkah bahwa pohon tanah haram tidak boleh ditebang, binatang buruannya tidak boleh diganggu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali oleh orang yang ingin mengumumkannya, dan tanaman serta rumputnya tidak boleh dibabat, tapi ada pengecualian yaitu tanaman Al-iżkhir untuk kepentingan penduduk Makkah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4494

 
Hadith   671   الحديث
الأهمية: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يعتكف في الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ من رمضان، حتى توفاه الله -عز وجل-، ثم اعتكف أزواجه بعده
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan iktikaf di sepuluh akhir bulan Ramadan hingga Allah -'Azza wa Jalla- mewafatkannya. Selanjutnya para istrinya beriktikaf setelah itu.

عن عائشة -رضي الله عنها-: «أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يعتكف في الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ من رمضان، حتى توفاه الله -عز وجل-، ثم اعتكف أزواجه بعده».
وفي لفظ «كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يَعتكِفُ في كلِّ رمضان، فإذا صلى الغَدَاةَ جاء مكانه الذي اعْتَكَفَ فيه».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan iktikaf di sepuluh akhir bulan Ramadan hingga Allah -'Azza wa Jalla- mewafatkannya. Selanjutnya para istrinya beriktikaf setelah itu. Dalam satu lafal disebutkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan iktikaf di setiap Ramadan. Jika beliau telah selesai salat Subuh, beliau mendatangi tempat yang biasa untuk beriktikaf."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبر عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان، طلبًا لليلة القدر، بعد أن عَلم أنها في العشر الأواخر، وأنه لازمَ ذلك حتى توفاه الله -تعالى-.
وأشارت -رضي الله تعالى عنها- إلى أن الحكم غير منسوخ، ولا خاص بالنبي -صلى الله عليه وسلم-، فقد اعتكف أزواجه من بعده -رضي الله عنهن- .
وفي اللفظ الثاني: تبين -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان إذا صلى صلاة الفجر دخل معتكفه؛ ليتفرغ لعبادة ربه ومناجاته، ويكون تحقيق ذلك بقطع العلائق عن الخلائق.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan untuk mencari lailatul qadar setelah mengetahui bahwa lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir. Beliau senantiasa melakukan hal itu hingga Allah -Ta'ālā- mewafatkannya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengisyaratkan bahwa hukum ini tidak dihapus dan tidak khusus bagi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saja, karena para istrinya pun melakukan iktikaf sepeninggalnya. Dalam lafal (redaksi) kedua, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan bahwa jika telah selesai salat fajar, beliau masuk ke tempat i'tikafnya demi mencurahkan waktunya untuk ibadah kepada Tuhannya dan bermunajat kepadanya. Hal itu dilakukan dengan memutuskan berbagai keterkaitan dengan makhluk.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4495

 
Hadith   672   الحديث
الأهمية: تَسَحَّرُوا؛ فإن في السَّحُورِ بَركة
Tema: Hendaknya kalian makan sahur, karena dalam makan sahur terdapat berkah.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- «تَسَحَّرُوا؛ فإن في السَّحُورِ بَركة».

Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Hendaknya kalian makan sahur, karena dalam makan sahur terdapat berkah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يأمر النبي -صلى الله عليه وسلم- بالتَّسَحُّرِ، الذي هو الأكل والشرب وقت السحر، استعدادًا للصيام، ويذكر الحكمة الإلهية فيه، وهى حلول البركة، والبركة تشمل منافع الدنيا والآخرة.
فمن بركة السَّحُورِ، ما يحصل به من الإعانة على طاعة الله -تعالى- في النهار.
ومن بركة السَّحُورِ أن الصائم إذا تسحر لا يمل إعادة الصيام، خلافا لمن لم يتسحر، فإنه يجد حرجا ومشقة يثقلان عليه العودة إليه.
ومن بركة السَّحُورِ، الثواب الحاصل من متابعة الرسول -عليه الصلاة والسلام-، ومخالفة أهل الكتاب.
ومن بركته إذا قام للسحور ربما صلى وربما تصدق على بعض المحاويج الذين يعلمهم، بل وربما قرأ شيئاً من القرآن.
ومن بركة السَّحُورِ، أنه عبادة، إذا نوي به الاستعانة على طاعة الله -تعالى-، والمتابعة للرسول -صلى الله عليه وسلم-، ولله في شرعه حكم وأسرار.
ومن أعظم الفوائد فيه الاستيقاظ لصلاة الفجر ولهذا أمر بتأخير السَّحُورِ حتى لا ينام بعده فتفوت عليه صلاة الفجر بخلاف من لم يتسحر، وهذا مشاهد، فإن عدد المصلين في صلاة الصبح مع الجماعة في رمضان أكثر من غيره من أجل السَّحُورِ.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk makan sahur, yaitu makan dan minum pada waktu sahur sebagai persiapan untuk puasa. Beliau menyebutkan hikmah ilahi dalam sahur, yaitu datangnya keberkahan dan keberkahan itu mencakup segala manfaat dunia dan akhirat. Di antara keberkahan sahur; - Tercapainya maksud untuk taat kepada Allah -Ta'ālā- di siang hari. - Orang yang puasa jika makan sahur dahulu, ia tidak akan merasa bosan untuk mengulangi puasa. Ini berbeda dengan orang yang tidak sahur, ia akan merasakan kesempitan dan kepayahan yang membuatnya berat untuk mengulangi puasa. - Mendapatkan pahala mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyelisihi Ahli Kitab. - Jika seseorang bangun untuk makan sahur, mungkin saja ia melaksanakan salat dan bisa saja bersedekah kepada beberapa orang yang membutuhkan yang dia ketahui. Bahkan mungkin saja membaca sebagian dari Al-Qur`ān. - Sahur adalah ibadah jika diniatkan sebagai sarana untuk ketaatan kepada Allah -Ta'ālā- dan mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. - Sungguh, dalam syariat Allah ada beragam hikmah dan rahasia. Diantara hikmah paling besar yaitu bangun untuk melaksanakan salat shubuh. Karena itu, kita diperintahkan untuk mengakhirkan makan sahur sehingga kita tidak tidur setelahnya lalu tertingal salat fajar. Ini berbeda dengan orang yang tidak makan sahur, hal ini terbukti dengan fakta. Jumlah orang yang salat subuh berjama'ah di bulan Ramadan lebih banyak dari bulan lainnya karena berkah makan sahur.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4498

 
Hadith   673   الحديث
الأهمية: عليكم بِرُخْصَة الله الَّذِي رَخَّصَ لكم
Tema: Hendaknya kalian mengambil keringanan Allah yang telah diperbolehkan untuk kalian.

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- قال: «كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في سفر. فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قد ظُلِّلَ عليه، فقال: ما هذا؟ قالوا: صائم. قال: لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ»، وفي لفظ لمسلم: « عَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ الله الَّذِي رَخَّصَ لكم».

Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada dalam suatu perjalanan lalu beliau melihat kerumunan orang dan seorang lelaki yang sedang dinaungi. Lantas beliau bertanya, "Kenapa ini?" Mereka menjawab, "Orang ini berpuasa." Beliau bersabda, "Tidak termasuk kebaikan berpuasa dalam perjalanan." Dalam lafal Muslim disebutkan, "Hendaknya kalian mengambil keringanan Allah yang telah diperbolehkan untuk kalian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يُخبر جابر -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان في سفره عام الفتح في رمضان فرأى الناس متزاحمين ورجلا قد ظُلل عليه وكان مُضْطَجِعًا، كما في رواية ابن جرير، فسألهم عن أمره. قالوا: إنه صائم وبلغ به الظمأ هذا الحد.
فقال -صلى الله عليه وسلم-: إن الصيام في السفر ليس من البر، ولكن عليكم بِرُخْصَةِ الله التي رخص لكم. فهو لم يرد منكم بعبادته تعذيب أنفسكم، وهذا في حال المشقة الشديدة، وجاءت نصوص أخرى بجواز الصيام في السفر.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan perjalanan pada tahun penaklukan Makkah di bulan Ramadan. Lalu beliau melihat orang-orang berkerumun dan seorang lelaki yang sedang dinaungi dalam keadaan berbaring, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Jarir.
Lantas beliau bertanya kepada mereka mengenai lelaki tersebut. Mereka menjawab, "Lelaki ini berpuasa dan menderita kehausan seperti ini." Manusia Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya puasa dalam perjalanan bukan suatu kebajikan. Hendaknya kalian mengambil keringanan yang telah dibolehkan oleh Allah untuk kalian. Dia tidak menghendaki ibadah kepada-Nya dengan menyiksa diri kalian."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4503

 
Hadith   674   الحديث
الأهمية: خَرَجْنَا مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم- في شهر رمضان، في حَرٍّ شَدِيدٍ، حتى إن كان أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ على رأسهِ من شِدَّةِ الْحَرِّ، وما فِينَا صائمٌ إلا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وعبد الله بن رَوَاحَةَ
Tema: Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada bulan Ramadan di tengah panas yang terik sehingga ada seseorang dari kami yang meletakan tangannya di kepalanya karena teriknya panas. Saat itu tidak ada seorang pun di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abdullah bin Rawāḥah.

عن أَبِي الدَّرْدَاءِ -رضي الله عنه- قال: «خَرَجْنَا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في شهر رمضان، في حَرٍّ شَدِيدٍ ، حتى إن كان أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ على رأسهِ من شِدَّةِ الْحَرِّ. وما فِينَا صائمٌ إلا رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- وعبد ُالله بن رَوَاحَةَ».

Dari Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada bulan Ramadan di tengah panas yang terik sehingga ada seseorang dari kami yang meletakan tangannya di kepalanya karena teriknya panas. Saat itu tidak ada seorang pun di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abdullah bin Rawāḥah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر أبو الدَّرْدَاءِ -رضي الله عنه- أنهم خرجوا في سفر في شهر رمضان، وكان ذلك في حرٍ شديد، حتى إنه من شدة الحر ليَضع الرجل يده على رأسه ليقي رأسه بيده من شدة الحر ، وما فيهم صائم إلا النبي -صلى الله عليه وسلم-، وعبد الله بن رَوَاحَةَ الأنصاري -رضي الله عنه-، فقد تحملا الشدة وصاما، مما يدل على جواز الصيام في السفر مع المشقة التي لا تصل إلى حد التَّهْلُكَةِ.
Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka (para sahabat) keluar dalam suatu perjalanan di bulan Ramadan. Itu terjadi saat panas terik sehingga karena panas yang sangat terik panas, seorang lelaki meletakan tangan di kepalanya untuk melindungi kepalanya dengan tangan itu dari teriknya panas. Dan di antara mereka tidak ada seorang pun yang berpuasa kecuali Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abdullah bin Rawāḥah Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-. Keduanya menahan terik panas dan berpuasa. Ini menjadi dalil dibolehkannya berpuasa dalam perjalanan yang disertai kepayahan tetapi tidak sampai membinasakan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4505

 
Hadith   675   الحديث
الأهمية: أن رجلاً سأل النبي -صلى الله عليه وسلم- عن الصيام في السفر فقال: إن شئتَ فصُم، وإن شئت فَأَفْطِرْ
Tema: Seseorang bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang puasa dalam perjalanan. Beliau bersabda, "Jika kau mau, silakan puasa dan jika kau mau, silakan berbuka."

عن عائشة -رضي الله عنها- : "أن حَمْزَةَ بن عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ قال للنبي -صلى الله عليه وسلم-: أصوم في السفر؟ - وكان كثير الصيام- فقال: "إن شئتَ فصُم، وإن شئت فَأَفْطِرْ".

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Ḥamzah bin 'Amru Al-Aslami bertanya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Haruskan aku berpuasa dalam perjalanan?" -Dia (Ḥamzah) adalah orang yang sering berpuasa-. Nabi menjawab, "Jika kau mau, silakan puasa dan jika kau mau, silakan berbuka."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبرت عائشة -رضي الله عنها- أن حَمْزَةَ بن عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ -رضي الله عنه- سأل النبي -صلى لله عليه وسلم- عن الصوم في السفر؟   
فخيره النبي -صلى الله عليه وسلم- بين الصيام والفطر، فقال: "إن شئت فصم، وإن شئت فأفطر".
ومراده بالصوم هنا: صوم الفريضة؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم-: "هي رُخْصَةٌ من الله".
وهذا يشعر ؛ بأنه سأل عن صيام الفريضة، ويدل لذلك ما أخرجه أبو داود ، قال رضي الله عنه :    يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي صَاحِبُ ظَهْرٍ أُعَالِجُهُ أُسَافِرُ عَلَيْهِ وَأَكْرِيهِ وَإِنَّهُ رُبَّمَا صَادَفَنِي هَذَا الشَّهْرُ يَعْنِي رَمَضَانَ وَأَنَا أَجِدُ الْقُوَّةَ.." الحديث.
ويحتمل أنه سؤال عن الصوم مطلقًا الواجب والنفل؛ لقولها: (وكان كثير الصيام).
ومن هذا يتبين، أن الفطر في السفر رخصة من الله ، فمن أخذ بالرخصة أصاب ومن صام جاز له ذلك، واعتبر صيامه مؤدياً للواجب عليه.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Ḥamzah bin 'Amru Al-Aslami -raḍiyallāhu 'anhu- memberitahu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa dirinya berpuasa dalam perjalanan. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya pilihan antara puasa dan berbuka. Beliau bersabda, "Jika kau mau, silakan puasa dan jika kau mau, silakan berbuka." Yang dimaksud puasa di sini oleh Ḥamzah bin mru Al-Aslami di sini adalah puasa wajib, karena berdasarkan sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Itu adalah keringanan dari Allah." Ini menunjukkan bahwa ia bertanya tentang puasa wajib dan hal ini juga sebagaimana ditunjukkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ḥamzah bin 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pemilik kendaraan; aku menggunakan kendaraan itu untuk bepergian dan menyewakannya. Mungkin saja bulan ini aku memasuki Ramadan dan aku memiliki kekuatan (untuk puasa)..." Dan mungkin juga dia menanyakan tentang puasa secara mutlak, baik yang wajib ataupun sunnah, berdasarkan perkataan Aisyah, "Dia (Ḥamzah) adalah orang yang sering berpuasa". Dari hadis tersebut jelas bahwa berbuka puasa dalam perjalanan adalah keringanan dari Allah. Barangsiapa mengambil keringanan, maka ia telah tepat, dan barangsiapa berpuasa maka itu boleh baginya. Dan puasanya itu dihukumi menggugurkan kewajibannya (sah).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4507

 
Hadith   676   الحديث
الأهمية: لا تَقَدَّمُوا رمضان بصوم يوم، أو يومين إلا رجلاً كان يصوم صومًا فَلْيَصُمْهُ
Tema: Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari (sebelumnya), kecuali seseorang yang sudah biasa berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa!

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «لا تَقَدَّمُوا رمضان بصوم يوم، أو يومين إلا رجلًا كان يصوم صومًا فَلْيَصُمْهُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali seseorang yang sudah biasa berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث يخبر أبو هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- نهى عن التقدم في صيام رمضان بصوم يوم أو يومين قبله متصلا به إلا أن يكون له عادة بصوم يوم معين كيوم الاثنين مثلا، فيصادف ذلك قبل رمضان بيوم أو يومين، فلا بأس بذلك حينئذ؛ لزوال المحذور؛ وهو إدخال ما ليس من العبادة فيها.
Dalam hadis ini, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk mendahului puasa Ramadan satu atau dua hari sebelumnya secara bersambung kecuali orang yang sudah terbiasa berpuasa pada hari tertentu, seperti puasa hari senin, kemudian ia mendapatkan hari itu satu atau dua hari menjelang Ramadan, maka pada saat itu tidak ada dosa baginya berpuasa, karena hilangnya larangan, yaitu memasukkan sesuatu yang bukan ibadah ke dalam ibadah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4508

 
Hadith   677   الحديث
الأهمية: ليس على المُسلِم في عبدِهِ وَلاَ فَرَسهِ صَدَقَة
Tema: Seorang muslim tidak berkewajiban mengeluarkan zakat atas budaknya dan kudanya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «ليس على المُسلِم في عبدِهِ وَلاَ فَرَسهِ صَدَقَة».
   وفي لفظ: «إلا زكاة الفِطر في الرقيق».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang muslim tidak berkewajiban mengeluarkan zakat atas budaknya dan kudanya." Dalam riwayat lain, "Kecuali zakat fitrah untuk hamba sahaya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
مبنى الزكاة على المساواة والعدل، لذا أوجبها الله تعالى في أموال الأغنياء النامية والمعدة للنماء، كالخارج من الأرض، وعروض التجارة.
أما الأموال التي لا تنمو -وهي باقية لِلقُنية والاستعمال- فهذه ليس فيها زكاة على أصحابها؛ لاختصاص المسلم بها لنفسه.
وذلك كمركبه، من فرس، وبعير، وسيارة، وكذلك عبده المعد للخدمة، وفرشه وأوانيه المعدة للاستعمال.
لكن يستثنى من ذلك زكاة الفطر للعبد، فإنها تجب وإن لم يُعدَّ للتجارة، لأنها متعلقة بالبدن لا بالمال.
Landasan zakat adalah persamaan dan keadilan. Untuk itu, Allah mewajibkan zakat pada harta yang berkembang milik orang kaya dan harta yang disiapkan untuk dikembangkan, seperti harta yang keluar dari hasil bumi dan barang-barang perniagaan. Sedangkan harta benda yang tidak berkembang - dan harta itu ada untuk dimiliki dan digunakan - maka tidak mengandung kewajiban zakat atas pemiliknya karena seorang muslim mengkhususkan harta itu untuk dirinya sendiri. Contohnya kendaraan baik berupa kuda, unta dan mobil. Demikian pula budak sahaya yang disiapkan untuk pelayanan, kasurnya dan perabot-perabotnya yang disiapkan untuk dipakai. Hanya saja ada pengecualian dari itu, yaitu zakat fitrah untuk budak sahaya. Zakat tersebut wajib meskipun tidak disiapkan untuk perniagaan, karena berkaitan dengan badan bukan dengan harta.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4519

 
Hadith   678   الحديث
الأهمية: فَرَضَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صَدَقَةَ الفِطر -أو قال رمضان- على الذَّكر والأنثى والحُرِّ والمملوك
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mewajibkan zakat fitrah -atau beliau bersabda Ramadan- kepada laki-laki dan perempuan, merdeka dan hamba sahaya.

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- قال: «فَرَضَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صَدَقَةَ الفطر -أو قال رمضان- على الذَّكر والأنثى والحُرِّ والمملوك: صاعا من تمر، أو صاعا من شعير، قال: فَعَدَل الناس به نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ، على الصغير والكبير».
   وفي لفظ: « أن تُؤدَّى قبل خروج الناس إلى الصلاة»

Tema: Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mewajibkan zakat fitrah -atau beliau bersabda Ramadan- kepada laki-laki dan perempuan, merdeka dan hamba sahaya, berupa satu ṣā' kurma atau satu ṣā' gandum. Abdullah bin Umar berkata, "Selanjutnya orang-orang mengganti dengan setengah ṣā' bur (sejenis gandum) kepada anak kecil dan orang dewasa." Dalam satu redaksi disebutkan, "Hendaknya zakat ini ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju salat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أوجب النبي -صلى الله عليه وسلم- صدقة الفطر على جميع المسلمين: الذين يملكون زيادة عن قوتهم في ذلك اليوم بمقدار الصاع، كبيرهم، وصغيرهم، ذكرهم وأنثاهم، حرهم وعبدهم، أن يخرجوا صاعا من تمر، أو صاعا من شعير.
ليكون دليلًا على البذل والمواساة في حق أغنياء المسلمين، ففرض زكاة الفطر وجعل هذا الفرض متجهاً على رئيس الأسرة وكافل العائلة يقوم به عمن تحت يده من النساء والأطفال والمماليك.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mewajibkan zakat fitrah kepada semua kaum muslimin yang punya kelebihan makanan pokok pada hari itu seukuran satu ṣā'; orang-orang dewasa dan anak-anak kecil, laki-laki dan perempuan, merdeka dan hamba sahaya. Hendaknya mereka mengeluarkan satu ṣā' kurma atau satu ṣā' gandum, agar hal itu menjadi tanda pengorbanan dan tenggang rasa dari pihak kaum muslimin yang kaya. Selanjutnya beliau mewajibkan zakat fitrah dan menjadikan kewajiban itu diarahkan kepada kepala keluarga dan penanggung jawab rumah tangga yang mengurusi orang-orang yang berada di bawah naungan (tanggung jawab)nya dari kalangan wanita dan anak-anak serta hamba sahaya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4520

 
Hadith   679   الحديث
الأهمية: لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مَسِيرَةَ يومٍ وليلةٍ ليس معها حُرْمَةٌ
Tema: Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan sehari semalam tanpa didampingi mahramnya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مَسِيرَةَ يومٍ وليلةٍ ليس معها حُرْمَةٌ ».   
وفي رواية: «لا تُسافر مَسِيرَةَ يومٍ إلا مع ذي مَحْرَم».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- , beliau bersabda, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan sehari semalam tanpa didampingi mahramnya.” Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar dengan jarak sehari (perjalanan) kecuali disertai mahramnya.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
المرأة مظنة الشهوة والطمع، وهي لا تكاد تقي نفسها لضعفها ونقص عقلها، ومن ثَمَّ كان من الضروري، أن يخرج معها زوجها أو أحد محارمها؛ يصون عرضها ويحفظ كرامتها من أن يُعتدى عليها، ولهذا اشترطوا أن يكون المَحْرَم بالغًا عاقلًا؛ ليتحقق به المقصود.
وناشدها الشارع في إيمانها بالله واليوم الآخر، إن كانت تحافظ على هذا الإيمان، وتنفذ مقتضياته، أن لا تسافر إلا مع ذي مَحْرَم.
Wanita adalah sumber nafsu syahwat dan keserakahan. Ia hampir tidak dapat melindungi ‎diri sendiri karena kelemahannya dan kurang akalnya. Oleh karena itu sangat penting ‎baginya untuk keluar bersama suami atau salah satu mahramnya guna menjaga ‎kehormatan dan martabatnya dari gangguan. Karena itulah disyaratkan yang menjadi ‎mahramnya adalah orang yang sudah balig dan berakal agar tercapai maksud yang ‎dicanangkan‏.‏ Dan syariat menyerunya dengan keimanannya kepada Allah dan hari Akhir, apabila ia ‎menjaga keimanan ini dan melaksanakan konsekuensi-konsekuensinya, maka janganlah ia ‎melakukan safar kecuali bersama mahramnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4521

 
Hadith   680   الحديث
الأهمية: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يُدْرِكُهُ الفجر وهو جُنٌبٌ من أهله، ثم يغتسل ويصوم
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendapati waktu fajar (Subuh) dalam ‎keadaan junub karena usai berhubungan intim dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.‎

عن عائشة وأم سلمة -رضي الله عنهما- «أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يُدْرِكُهُ الفجر وهو جُنٌبٌ من أهله، ثم يغتسل ويصوم ».
Tema: Dari Aisyah dan Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendapati waktu fajar (Subuh) dalam ‎keadaan junub karena usai berhubungan intim dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.‎"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبر عائشة وأم سلمة -رضي الله عنهما- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يجامع في الليل، وربما أدركه الفجر وهو جنب لم يغتسل، ويتم صومه ولا يقضي، وكان إخبارهما بذلك جوابا لمَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ حين بعث إليهما؛ ليسألهما عن ذلك.
وهذا الحكم في رمضان وغيره.
Aisyah dan Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhumā- menginformasikan ‎bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berhubungan intim (dengan istrinya) pada ‎suatu malam, kemudian beliau mendapati waktu fajar sedangkan beliau ‎dalam keadaan junub dan belum mandi, namun beliau tetap ‎menyempurnakan puasanya dan tidak mengkadanya. Informasi mereka ‎berdua tentang hal itu merupakan jawaban untuk Marwān bin Al-Ḥakam ‎tatkala ia mengutus suruhannya untuk bertanya kepada mereka berdua tentang perkara ‎tersebut. Hukum ini berlaku untuk bulan Ramadan dan selainnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4522

 
Hadith   681   الحديث
الأهمية: نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن صوم يومين: الفطر والنحر، وعن اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وأن يَحْتَبِيَ الرَّجُل في الثوب الواحد، وعن الصلاة بعد الصبح والعصر
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa pada dua hari, yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Idul Adha; juga (melarang) menutupi seluruh badan dengan satu kain (tanpa ada celah untuk tangan); dan duduk dengan menegakkan lutut sambil menutup punggung dan badan dengan satu pakaian; serta beliau juga melarang salat setelah Subuh dan Asar

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: «نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن صوم يومين: الفطر والنحر، وعن اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وأن يَحْتَبِيَ الرجل في الثوب الواحد، وعن الصلاة بعد الصبح والعصر».

Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa pada dua hari, yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Idul Adha; juga (melarang) menutupi seluruh badan dengan satu kain (tanpa ada celah untuk tangan); dan duduk dengan menegakkan lutut sambil menutup punggung dan badan dengan satu pakaian; serta beliau juga melarang salat setelah Subuh dan Asar."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- في هذا الحديث، عن صيام يومين، وعن لبستين، وعن صلاتين.
فأما اليومان المحرم صومهما، فيوم الفطر، ويوم النحر، وحكمة تحريم الصيام فيهما أنه لا يناسب الصوم في يوم الأكل والسرور.
وأما اللبستان، فاشتمال الصَّمَّاءِ، والِاحْتِبَاء بثوب واحد، وهو أن يقعد الرجل على إليتيه وينصب ساقيه ويشدهما بيديه أو بثوب واحد، وأما اشتمال الصماء فهو أن يرتدي الرجل ثوبًا ليس له منافذ، وقد قُيد في رواية البخاري: " إذا لم يكن على فرجه منه شيء".
وأما الصلاتان، فالصلاة بعد صلاة الصبح، والصلاة بعد صلاة العصر؛ لسد الذريعة عن التشبه بالكفار الذين يسجدون للشمس عند طلوعها وعند غروبها، ولكن يجوز أن يصلي فيهما الفريضة إذا لم يصلها وكذلك ذوات الأسباب.
Dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa dua hari, dua pakaian dan dua salat.
Adapun dua hari yang diharamkan berpuasa yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Kurban. Hikmah diharamkannya puasa di kedua hari itu karena puasa tidak sesuai pada hari (untuk) makan-makan dan bersenang-senang.
Adapun dua cara berpakaian, yaitu menutupi seluruh badan dengan satu kain tanpa mengeluarkan tangan dan duduk dengan menegakkan lutut dan menutup punggung dan lutut hanya dengan satu kain.
Dalam riwayat Bukhari diberi batasan, "Jika di atas kemaluannya tidak ada (penutup) apapun."
Sedangkan dua salat, yaitu salat setelah ṣubuh dan salat setelah aṣar agar tidak menjadi sarana menyerupai orang-orang kafir yang sujud ke matahari saat terbit dan terbenam. Tetapi tetap dibolehkan melaksanakan salat farḍu di kedua waktu itu jika belum melaksanakannya. Demikian juga salat yang ada sebabnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4523

 
Hadith   682   الحديث
الأهمية: نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن الْوِصَالِ. قالوا: إنك تواصل؟ قال: إني لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إني أُطْعَمُ وَأُسْقَى
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa wiṣāl (puasa terus menerus tanpa ‎berbuka). Orang-orang berkata, “Namun, bukankah anda melakukan puasa wiṣāl?” Beliau ‎bersabda, “Sungguh aku tidak sama seperti keadaan kalian, karena aku diberi makan dan minum.”

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- قال: «نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن الْوِصَالِ، قالوا: إنك تواصل؟ قال: إني لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إني أُطْعَمُ وَأُسْقَى».
وفي رواية أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه-: «فَأَيُّكُمْ أراد أن يواصل فليواصل إلى السَّحَرِ».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa wiṣāl (puasa terus menerus tanpa ‎berbuka). Orang-orang berkata, “Namun, bukankah anda melakukan puasa wiṣāl?”. Beliau ‎bersabda, “Sungguh aku tidak sama seperti keadaan kalian, karena aku diberi makan dan minum. Maka siapa saja dari kalian yang ingin ‎melanjutkan puasa maka hendaklah dia melanjutkannya hingga waktu sahur.”‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- أصحابه عن الْوِصَالِ رحمة بهم وإشفاقاً عليهم، ولكن الصحابة لمحبتهم للفضل وحرصهم على ما يقرب من الله رغبوا في الْوِصَالِ تأسياً بالنبي في كونه يواصل وقالوا: إنك تواصل، فأخبرهم بأنه له مُطعِم يطعمه وساق يسقيه بما يعوضه عن الطعام والشراب، ولكن من أراد منكم الوصال، فله أن يواصل إلى السَّحَرِ.
فالشريعة الإسلامية سمحة مُيَسَّرة لا عَنَتَ فيها ولا مشقة، ولا غٌلُوُّ ولا تعمق؛ لأن في ذلك تعذيباً للنفس وإرهاقاً لها، واللَه لا يكلف نفساً إلا وسعها.
ولأن التيسير والتسهيل أبقى للعمل وأسلم من السأم والملل، وفيه العدل الذي وضعه الله في الأرض، وهو إعطاء الله ما طلبه من العبادة، وإعطاء النفس حاجتها من مقوماتها.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang para sahabatnya dari melakukan puasa wiṣāl ‎sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka. Akan tetapi karena kecintaan para sahabat untuk ‎melakukan keutamaan serta perhatian mereka yang sangat besar terhadap apa yang dapat ‎mendekatkan diri kepada Allah, mereka bersemangat dalam melakukan puasa wiṣāl mengikuti ‎Nabi karena beliaupun melakukan puasa wiṣāl, mereka berkata, “Anda juga melakukan puasa ‎wiṣāl”. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan kepada mereka bahwa ‎dirinya diberi makan dan minum yang menggantikannya dari makanan dan minuman. Namun, ‎bagi siapa saja dari kalian yang ingin melakukan puasa wiṣāl, maka dibolehkan baginya hingga ‎waktu (makan) sahur.‎
Syariat Islam adalah syariat yang toleran dan mudah, tidak ada kesukaran dan guluw ‎‎(berlebihan) di dalamnya; karena hal tersebut adalah suatu bentuk siksaan dan beban bagi jiwa ‎seseorang, dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.‎
Dan juga karena kemudahan itu lebih melanggengkan dalam pengamalan dan lebih selamat dari ‎kebosanan dan kejenuhan. Didalamnya terdapat keadilan yang Allah letakkan di atas bumi, yaitu ‎mempersembahkan kepada Allah apa yang diwajibkan-Nya dari berbagai peribadatan dan memberikan ‎kepada jiwa segala macam kebutuhannya mencakup berbagai penopangnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4524

 
Hadith   683   الحديث
الأهمية: من نَسِيَ وهو صَائِمٌ فأَكل أو شَرِب، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ الله وَسَقَاهُ
Tema: Siapa ‎lupa ketika puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia ‎sempurnakan puasanya karena saat itu Allah yang memberinya makan dan minum.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فأَكل أو شَرِب، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ الله وَسَقَاهُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Siapa ‎lupa ketika puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia ‎sempurnakan puasanya karena saat itu Allah yang memberinya makan dan minum.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
بُنيت الشريعة الإسلامية على اليسر والسهولة، والتكليف بقدر الطاقة، وعدم المؤاخذة بما يخرج عن الاستطاعة أو الاختيار.
ومن ذلك : أن من أكل أو شرب، أو فعل مفطراً غيرهما في نهار رمضان، أو غيره من الصيام، فَلْيُتِمَّ صَومه، فإنه صحيح؛ لأن هذا ليس باختياره، فما فعله الإنسان ناسياً من غير نية فإنه لا يقدح في صومه ولا يؤثر فيه وإنما هو من الله الذي أطعمه وسقاه.
Syariat Islam dibangun di atas keringanan dan kemudahan, taklif ‎‎diberikan sesuai dengan kemampuan, dan tidak ada ‎sanksi jika tidak melakukan sesuatu yang di luar kemampuan ‎atau pilihan. Di antara hal tersebut adalah orang yang makan, minum, ‎atau melakukan pembatal puasa lainnya pada siang hari bulan Ramadan, ‎atau puasa lainnya, maka hendaklah ia melanjutkan puasanya karena ‎puasa tersebut sah, sebab hal ini tidak terjadi karena pilihan/kehendaknya. Jadi apa yang dilakukan oleh seseorang karena lupa dan tanpa diniatkan ‎maka tidak membuat cacat puasanya dan tidak mempengaruhinya karena ‎sesungguhnya hal itu dari Allah yang telah memberinya makan dan ‎minum.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4525

 
Hadith   684   الحديث
الأهمية: أنهى النبي -صلى الله عليه وسلم- عن صوم يوم الجمعة؟ قال: نعم
Tema: Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk berpuasa pada ‎hari Jumat? Ia menjawab, "Iya.‎"

عن محمد بن عباد بن جعفر قال: «سألت جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما-: أَنَهَى النبي -صلى الله عليه وسلم- عن صوم يوم الجمعة ؟ قال: نعم».
وفي رواية: «وَرَبِّ الْكَعْبَة».

Dari Muhammad bin ‘Abbād bin Ja’far, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‎Jābir bin ‘Abdillah, Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang ‎untuk berpuasa pada hari Jumat? Ia menjawab, "Iya.” Dan Imam Muslim ‎menambahkan, “Demi Rabb Ka’bah (Allah).”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لما كان يوم الجمعة يوم عيد للمسلمين، نهى الشارع عن تخصيصه بصيام أو قيام، إلا أن يصوم يوماً معه قبله أو بعده أو يكون ضمن صوم معتاد، ولئلا يظن العامة أيضاً تخصيص يوم الجمعة بزيادة عبادة على غيره واجبة.
Tatkala hari Jumat menjadi hari raya bagi kaum muslimin, ‎maka Syariat melarang untuk mengkhususkannya dengan suatu puasa atau ‎salat malam, kecuali jika menyertainya dengan puasa sehari ‎sebelumnya atau sesudahnya atau jika termasuk puasa yang biasa ‎dilakukan. Dan supaya orang-orang juga tidak mengira wajib ‎pengkhususan hari Jumat dengan penambahan ibadah dibandingkan ‎hari lainnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Nasā`i - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4526

 
Hadith   685   الحديث
الأهمية: هذان يومان نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن صِيَامِهِمَا: يوم فِطْرِكُمْ من صِيَامِكُمْ، واليوم الآخَرُ: تَأْكُلُونَ فيه من نُسُكِكُمْ
Tema: Pada dua hari ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang kita untuk berpuasa; hari berbuka dari puasa kalian (Idul Fitri) dan hari lainnya saat kalian makan sembelihan kalian (Idul Adha).

عن أبي عبيد، مولى ابن أزهر، قال: شهدت العيد مع عمر بن الخطاب -رضي الله عنه-، فقال: هذان يومان نهى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن صيامهما: يوم فطركم من صيامكم، واليوم الآخر تأكلون فيه من نُسُكِكُم.

Dari Abu Ubaid, mantan budak sahaya Ibnu Azhar, ia berkata, "Aku menghadiri hari raya bersama Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia berkata, 'Pada dua hari ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang kita untuk berpuasa; hari berbuka dari puasa kalian (Idul Fitri) dan hari lainnya saat kalian makan sembelihan kalian (Idul Adha).'"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جعل الله -عز وجل- للمسلمين يومين عيدين للمسلمين، وكل منهما مرتبط بشعيرة دينية، فيوم عيد الفطر مرتبط بتمام الصيام، فكان الواجب على المسلم أن يفطر هذا اليوم شكراً لله عز وجل على تمام نعمة الصوم وإظهاراً لنعمة الفطر التي أمر الله بها بعد الصوم، قال -تعالى-: (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)، وأما اليوم الثاني فهو يوم عيد الأضحى وهو مرتبط بشعيرة الهدايا والأضاحي، فإن الناس يهدون ويضحون ويظهرون شعائر الله -تعالى- بالأكل من ذلك فوجب على المسلم إفطار هذين اليومين وحرم عليه صومهما.
Allah -'Azza wa Jalla- menjadikan dua hari untuk kaum muslimin. Masing-masing hari raya ini berkaitan dengan syiar agama. Hari raya Idul fitri berkaitan dengan kesempurnaan puasa. Dengan demikian, kewajiban seorang muslim adalah berbuka pada hari itu untuk bersyukur kepada Allah -'Azza wa Jalla- atas kesempurnaan nikmat puasa dan memperlihatkan kenikmatan berbuka yang telah diperintahkan Allah setelah puasa. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." Adapun hari kedua adalah hari Idul adha. Ini berkaitan dengan syiar sembelihan dan kurban. Sesungguhnya manusia memberikan sembelihan, berkurban dan memperlihatkan syiar-syiar Allah -Ta'ālā- dengan makan sembelihan itu. Dengan demikian, diwajibkan bagi orang muslim untuk berbuka di kedua hari itu dan diharamkan untuk berpuasa padanya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4527

 
Hadith   686   الحديث
الأهمية: كيف كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يغسل رأسه وهو محرم؟
Tema: Bagaimana dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membasuh kepala ketika beliau sedang ‎ihram?

عن عبد الله بن حنين أن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما-، وَالْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ -رضي الله عنهما- اختلفا بِالْأَبْوَاءِ:
فقال ابن عباس: يغسل الْمُحْرِمُ رأسه.   
وقال الْمِسْوَر: لا يغسل رأسه.     
قال: فأرسلني ابن عباس إلى أبي أيوب الأنصاري -رضي الله عنه- فوَجَدْتُهُ يغتسل بين الْقَرْنَيْنِ، وهو يستر بثوب، فَسَلَّمْتُ عليه، فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله بن حُنَيْنٍ، أرسلني إليك ابن عباس، يسألك: كيف كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يغسل رأسه وهو مُحرِمٌ؟ فوضع أبو أيوب يده على الثوب، فَطَأْطَأَهُ، حتى بَدَا لي رأسه، ثم قال لإنسان يَصُبُّ عليه الماء: اصْبُبْ، فَصَبَّ على رأسه، ثم حَرَّكَ رأسه بيديه، فأقبل بهما وَأَدْبَرَ. ثم قال: هكذا رأيته -صلى الله عليه وسلم- يغتسل».
وفي رواية: «فقال المسور لابن عباس: لَا أُمَارِيكَ أبدًا».

Dari Abdullah bin Ḥunain, bahwa Abdullah bin ‘Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dan Al-Miswar ‎bin Makhramah -raḍiyallāhu 'anhumā- berbeda pendapat ketika keduanya berada di Abwā`. Ibnu ‘Abbās berkata, "Orang yang sedang ihram membasuh kepalanya." Sedangkan Al-Miswar berkata, ‎"Orang yang sedang ihram tidak boleh membasuh kepalanya." Ia (Abdullah bin Ḥunain) berkata, Maka ‎Ibnu 'Abbās mengutusku untuk menemui Abu Ayyūb Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu Aku jumpai dia sedang mandi di antara dua ‎kayu dan berlindung di balik baju. Maka aku memberi salam kepadanya. Dia bertanya, "Siapa ‎itu?" Aku jawab, "Aku Abdullah bin Ḥunain, Ibnu 'Abbās mengutusku kepadamu untuk menanyakan, bagaimana dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membasuh kepala ketika beliau sedang ‎ihram?" Maka Abu Ayyub menyingkap kain penutup dengan tangannya sehingga kepalanya nampak ‎olehku, lalu dia berkata kepada seseorang yang bertugas menyiramkan air kepadanya, "Siramkan air itu." ‎Maka orang itu menyiramkan air ke kepalanya, lalu dia menggosok kepalanya dengan kedua ‎tangannya, ia menarik tangannya ke depan dan ke belakang, Kemudian ia berkata, "Begitulah aku ‎pernah melihat beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mandi."‎ Dan dalam suatu riwayat disebutkan, “Lalu Al-Miswar berkata kepada Ibnu ‘Abbās, Aku tidak akan ‎mendebatmu selamanya.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تحاور عبدالله بن عباس وَالْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ -رضي الله عنهم- في الغُسل للمُحرم هل يغسل المحرم رأسه أم لا وموضع الشبهة فيه أنه لو حرك شعر رأسه لأمكن أن يكون متسبباً في سقوط بعض الشعر، فأرسلا عبدالله بن حنين إلى أبي أيوب -رضي الله عنه-، فوجده يغتسل، فقال له أرسلني إليك ابن عباس يسألك كيف كان رسول الله -عليه الصلاة والسلام- يغتسل، فقال للذي يصب عليه الماء: اصبُبْ. بعد أن طأطأ الثوب الذي يستره، حتى بدا رأسه، ثم حرك رأسه بيديه، فأقبل بهما وأدبر، ثم قال: هكذا رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يفعل.
فلما جاء الرسول وأخبرهما بتصويب ما رآه عبد الله بن عباس -وكانوا يطلبون الحق-، رجع الْمِسْوَرُ -رضي الله عنه-، واعترف بالفضل لصاحبه، فقال: لا أُمَارِيكَ أبداً.
Abdullah bin ‘Abbās dan Al-Miswar bin Makhramah -raḍiyallāhu 'anhumā- sedang asyik berdiskusi soal mandi bagi orang yang ‎ihram; apakah orang yang ihram membasuh kepalanya ataukah tidak. Dan ‎letak syubhat (ketidak jelasan hukum) di dalamnya adalah ‎apabila ia menggerakkan rambut kepalanya maka bisa menjadi sebab ‎rontoknya sebagian rambut tersebut. Lalu Abdullah bin Ḥunain datang ‎kepada Abu Ayyūb, dan ia mendapatinya sedang mandi, maka ia berkata ‎kepadanya, "Ibnu ‘Abbās mengutusku untuk bertanya kepadamu ‎bagaimana dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mandi." Lalu ‎Abu Ayyub berkata kepada orang yang menyiramkan air untuknya ‎‎“Siramkanlah!” Setelah ia menyingkap kain yang menutupinya, hingga ‎tampak kepalanya, kemudian ia menggosok kepalanya dengan kedua ‎tangannya, ia meratakannya ke depan dan ke belakang, kemudian ia ‎berkata, "Begitulah aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukannya." Maka tatkala utusan itu (Abdullah bin Ḥunain) datang dan menginformasikan ‎tentang kebenaran pendapat Abdullah bin ‘Abbās –sedang mereka pencari ‎kebenaran-, maka Al-Miswar rujuk (kembali pada kebenaran) dan ‎mengakui keutamaan kawannya, lalu ia berkata, "Aku tidak akan ‎mendebatmu selamanya."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4528

 
Hadith   687   الحديث
الأهمية: قَدِمْنَا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ونحن نقول: لَبَّيْكَ بالْحَجِّ. فأمرنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فَجَعَلْنَاهَا عُمرةً
Tema: Kami datang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sambil mengucapkan, "Labbaika Bil Hajj" (kami menyambut panggilan-Mu untuk berhaji). Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami, lalu kami pun merubah haji tersebut menjadi umrah."

عن جابرٍ-رضي الله عنه- قال: قدِمنا مع رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم-، ونحنُ نقولُ: لبيك بالحجِّ, فأمرَنا رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- فجعلناها عُمرةً.

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami datang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sambil mengucapkan, "Labbaika Bil Hajj" (kami menyambut panggilan-Mu untuk berhaji). Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami, lalu kami pun merubah haji tersebut menjadi umrah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر جابر -رضي الله عنه- أنهم قدموا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في حجة الوداع والكثير منهم يقولون: "لَبَّيْكَ حجًّا"، أي أنهم أفردوا الحج،
فأمر النبي -صلى الله عليه وسلم- من لم يسق الهَدْيَ منهم أن يفسخ حجه إلى عُمرة؛ ليصيروا متمتعين بها إلى الحج، ففعلوا ذلك -رضي الله عنهم-.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka (para sahabat) datang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam haji wada', kebanyakan dari mereka mengucapkan, "Labbaika Hajjan" yaitu, mereka berniat melakukan haji ifrad. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kepada orang yang tidak menggiring binatang sembelihan agar merubah ibadah hajinya menjadi umrah supaya mereka bisa melaksanakan haji tamattu'. Mereka pun melaksanakan perintah tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4529

 
Hadith   688   الحديث
الأهمية: من مات وعليه صِيَامٌ صَامَ عنه وَلِيُّهُ
Tema: Siapa yang meninggal dunia sedangkan ia masih memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya berpuasa ‎untuknya.‎

عن عائشة -رضي الله عنها- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «من مات وعليه صِيَامٌ صَامَ عنه وَلِيُّهُ».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Siapa yang meninggal dunia sedangkan ia masih memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya berpuasa ‎untuknya.‎”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبر عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أمر ولي من مات، وفي ذمته صوم مفروض من نَذْرٍ، أو كفارة، أو قضاء رمضان، بأن يصوم عنه؛ لأنه دين عليه، وقريبه أولى الناس بقضائه عنه؛ لأنه إحسان إليه وبر وصلة، وهذا أمر استحباب لا إيجاب.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ‎memerintahkan kepada wali orang yang meninggal dunia yang masih memiliki kewajiban puasa, ‎seperti puasa nazar, puasa kafarat, atau kada Ramadan, agar ia berpuasa untuknya; karena itu ‎merupakan utangnya, dan kerabatnya adalah orang yang paling berhak mengkada untuk ‎dirinya; karena hal itu adalah sebagai bentuk berbuat baik kepadanya dan juga menyambung ‎ikatan persaudaraan. Perintah ini bersifat anjuran dan bukan perkara yang diwajibkan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4530

 
Hadith   689   الحديث
الأهمية: إن أمي ماتت وعليها صوم شهر. أَفَأَقْضِيهِ عنها؟ فقال: لو كان على أمك دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عنها؟ قال: نعم. قال: فَدَيْنُ الله أَحَقُّ أن يُقْضَى
Tema: Ibundaku wafat sedang ia memiliki utang puasa sebulan. Apakah aku boleh menunaikannya? Nabi bersabda, "Seandainya ibumu punya utang (pada orang), apakah engkau akan membayarnya?" Lelaki itu menjawab, "Tentu." Nabi bersabda, "Utang pada Allah lebih patut untuk dilunasi."

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- قال: «جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صوم شهر. أَفَأَقْضِيهِ عنها؟ فقال: لو كان على أمك دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عنها؟ قال: نعم. قال: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أن يُقْضَى ».
وفي رواية: «جاءت امرأة إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقالت: يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صوم نذر. أفأصوم عنها؟ فقال: أرأيت لو كان على أمك دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ ، أكان ذلك يُؤَدِّي عنها؟ فقالت: نعم. قال: فَصُومِي عن أمك».

Dari Abdullah Ibn Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, ibundaku wafat sedang ia memiliki utang puasa sebulan. Apakah boleh aku menunaikannya?' Nabi bersabda, "Seandainya ibumu punya utang, apakah engkau akan membayarnya?' Lelaki itu menjawab, 'Tentu.' Nabi bersabda, 'Utang pada Allah lebih patut untuk dilunasi'." Dalam riwayat lain: "Seorang wanita datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, ibundaku wafat dan dia punya utang puasa nazar. Apakah boleh aku mengganti puasanya?' Nabi bersabda, 'Bagaimana menurutmu jika ibumu punya utang, lalu engkau membayarnya, apakah itu melunasi utangnya?' Dia menjawab, 'Tentu.' Nabi bersabda, 'Berpuasalah untuk ibumu!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
وقع في هذا الحديث روايتان، والظاهر من السياق، أنهما واقعتان لا واقعة واحدة.
فالأولى: - أن رجلاً جاء إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فأخبره أن أمه ماتت وعليها صوم شهر فهل يقضيه عنها.
والرواية الثانية: أن امرأة جاءت إليه -صلى الله عليه وسلم- فأخبرته أن أمها ماتت وعليها صوم نَذَرَ: فهل تصوم عنها؟
فأفتاهما جميعًا بقضاء ما على والديهما من الصوم، ثم ضرب لهما مثلاً يُقرب لهما المعنى، ويزيد في التوضيح.
وهو: أنه لو كان على والديهما دَيْنٌ لآدمي، فهل يقضيانه عنهما؟ فقالا: نعم.
فأخبرهما : أن هذا الصوم دَيْنٌ لله على أبويهما، فإذا كان دَيْنُ الآدمي يُقضى، فدَيْنُ الله أحق بالقضاء.
Hadis ini punya dua riwayat. Tampak dari konteksnya ada dua peristiwa, bukan satu. Yang pertama, Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mengabarkan bahwa ibunya wafat dan memiliki utang puasa sebulan, apakah boleh baginya menunaikannya? Yang kedua: seorang wanita datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mengabarkan bahwa ibunya wafat dan memiliki tangungan puasa nazar. Apakah boleh baginya berpuasa menggantikan ibunya? Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memfatwakan kepada keduanya untuk menunaikan tanggungan puasa orang tua mereka dan memberi permisalan yang menambah penjelasan maknanya. Yaitu: seandainya orang tua mereka memiliki utang pada seseorang, apakah keduanya harus membayar utang tersebut? Keduanya menjawab, tentu. Kemudian beliau menyampaikan bahwa puasa adalah utang terhadap Allah -Ta'ālā-, jika utang kepada manusia harus dibayar, maka utang kepada Allah tentunya lebih patut untuk dibayar.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4531

 
Hadith   690   الحديث
الأهمية: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يخطب بِعَرَفَاتٍ: من لم يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الخُفَّيْنِ، ومن لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ السَّرَاوِيلَ-للمحرم-
Tema: Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah di Arafah, "Siapa yang tidak menemukan sandal, hendaknya ia mengenakan sepatu. Siapa yang tidak menemukan sarung (pakaian bagaian bawah), hendaknya ia mengenakan celana panjang - bagi orang yang ihram-"

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- قال: «سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يخطب بِعَرَفَاتٍ: من لم يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الخُفَّيْنِ، ومن لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ السَّرَاوِيلَ -للمحرم-».

Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah di Arafah, "Siapa yang tidak menemukan sandal, hendaknya ia mengenakan sepatu. Siapa yang tidak menemukan sarung (pakaian bagaian bawah), hendaknya ia mengenakan celana panjang - bagi orang yang ihram-"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر ابن عباس -رضي الله عنهما- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- خطب الناس يوم عَرَفَة بعَرَفَات، فأباح لهم لبس الخُفَين في حال عدم وجود النَّعْلين، ولم يذكر قطعهما أسفل من الكَعْبَيْن، وأباح لهم لبس السراويل لمن لم يجد إزارا ولم يشترط شقه تخفيفاً من الشارع الحكيم -سبحانه-.
Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah kepada manusia di hari Arafah di Arafah. Beliau membolehkan bagi mereka untuk mengenakan sepatu pada saat tidak ada sandal, dan beliau tidak menyebutkan memotong keduanya di bagian bawah mata kaki. Beliau membolehkan bagi mereka untuk mengenakan celana panjang bagi orang yang tidak mendapatkan sarung, dan tidak disyaratkan merobeknya sebagai bentuk keringanan dari Allah Yang Maha Bijaksana -Subḥānahu-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4532

 
Hadith   691   الحديث
الأهمية: العَجْمَاءُ جُبَارٌ، والبئر جُبار، وَالمَعْدِنُ جُبَار، وفي الرِّكَازِ الْخُمْسُ
Tema: Pencederaan oleh binatang tidak dikenakan denda, cedera karena (masuk) sumur juga tidak dikenakan denda, cedera karena masuk tempat barang tambang juga tidak dikenakan denda, dan dalam harta karun (zakatnya) seperlima

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «العَجْمَاءُ جُبَارٌ، والبئر جُبارٌ، وَالمَعْدِنُ جُبارٌ، وفي الرِّكَازِ الْخُمْسُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Pencederaan oleh binatang tidak dikenakan denda, cedera karena (masuk) sumur juga tidak dikenakan denda, cedera karena masuk tempat barang tambang juga tidak dikenakan denda, dan dalam harta karun (zakatnya) seperlima".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر أبو هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- عن حكم ضمان التلف أو النقص الحاصل بفعل البهيمة أو بنزول البئر أو المعدن، حيث بين -عليه الصلاة والسلام- أن ما حصل من تلف أو نقص بفعل البهيمة فلا ضمان فيه على أحد، وكذلك ما حصل من تلف أو نقص بالبئر ينزل فيه الرجل فيهلك، أو المَعْدِنُ ينزل فيه فيهلك؛ لأن البهيمة والبئر والمعدن لا يمكن إحالة الضمان عليها، ولا على مالكها إذا لم يحصل منه اعتداء أو تفريط، ثم ذكر أن من وجد كنزًا قليلًا أو كثيرًا فعليه إخراج خمسه؛ لأنه حصله بلا كُلْفَةٍ ولا تعب، والباقي له.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai hukum jaminan kerusakan atau cedera yang disebabkan oleh perbuatan binatang atau dengan turun ke sumur atau tempat tambang. Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- menjelaskan bahwa kerusakan atau kekurangan yang disebabkan perbuatan binatang, maka tidak ada denda atas siapa pun. Demikian juga kerusakan atau cedera yang terjadi jika seorang turun ke sumur atau pertambangan, lalu celaka alias binasa. Sebab, binatang, sumur dan tempat menambang barang tidak bisa dibebani tanggung jawab, demikian juga pemiliknya (tidak dibebani tanggung jawab) jika dia tidak melakukan penganiayaan atau kelalaian. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa siapa saja yang menemukan harta terpendam; sedikit atau banyak, hendaknya ia mengeluarkan seperlimanya karena dirinya memperoleh harta itu tanpa ada kepayahan dan keletihan. Sedangkan sisanya untuk dirinya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4533

 
Hadith   692   الحديث
الأهمية: إن الشَّيْطان يَجْرِي من ابن آدم مَجْرَى الدَّم، وإني خَشِيتُ أن يَقْذِفَ في قُلُوبِكُمَا شرَّا
Tema: Sesungguhnya setan masuk ke anak keturunan Adam melalui aliran darah. Aku khawatir setan membisikkan ke hati kalian berdua kejahatan

عن صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ -رضي الله عنها- قالت: «كان النبي -صلى الله عليه وسلم- مُعْتَكِفًا، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ ليلا، فَحَدَّثْتُهُ، ثمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ، فقام معي لِيَقْلِبَنِي -وكان مسكنها    في دار أُسَامَةَ بن زَيْدٍ-، فَمَرَّ رَجُلاَنِ من الأنصار، فلما رأيا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أسرعا، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: على رِسْلِكُمَا، إنها صَفِيَّةَ بِنْتُ حُيَيٍّ، فقالا: سبحان الله يا رسول الله، فقال: إن الشَّيْطَانَ يَجْرِي من ابن آدم مَجْرَى الدَّمِ، وإني خَشِيتُ أن يَقْذِفَ في قُلُوبِكُمَا شرا -أو قال شيئا-».
وفي رواية: «أنها جاءَت تَزُورُهُ في اعْتِكَافِهِ في الْمَسْجِدِ، فِي العَشْرِ الأوَاخِرِ من رمضان، فتَحدَّثَتْ عنده ساعة، ثم قامت تَنقَلِبُ، فقام النبي -صلى الله عليه وسلم- معها يَقْلِبُهَا ، حتى إذا بَلَغَتْ باب المسجد عند باب أم سلمة...» ثم ذكره بمعناه.

Dari Ṣafiyyah binti Ḥuyay (istri Nabi) -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Dahulu, saat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf, aku mengunjunginya pada malam hari, lalu berbicara dengannya, kemudian aku bangkit untuk pulang. Beliau pun bangkit mengantarku–Ṣafiyyah tinggal di rumah Usamah Ibn Zaid-. Kemudian dua orang lelaki Ansar melintas. Saat keduanya melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka mempercepat langkah. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berseru kepada mereka, "Santai saja, wanita ini adalah Ṣafiyyah binti Ḥuyay." Keduanya berkata, "Mahasuci Allah, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Sesungguhnya setan menyusup ke anak keturunan Adam melalui aliran darah. Aku khawatir setan membisikkan ke hati kalian berdua kejahatan–atau beliau mengucapkan 'sesuatu'-." Dalam riwayat lain, "Ṣafiyyah datang mengunjungi beliau ketika beriktikaf di masjid sepuluh hari terakhir Ramadan, lalu ia berbicara dengan beliau beberapa saat, kemudian beranjak untuk pulang. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ikut mengantarnya, hingga tatkala dia sampai ke pintu masjid (dekat) pintu Ummu Salamah... (kemudian perawi melanjutkan makna hadis).

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- معتكفًا في العشر الأواخر من رمضان، فزارته    زوجه صَفِيَّةَ -رضي الله عنها- في إحدى الليالي فحدثته ساعة، ثم قامت لتعود إلى بيتها ، فقام معها يشيعها، ويؤنسها، فمر رجلان من الأنصار، فلما رأيا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أسرعا في مشيهما حياء من النبي ـصلى الله عليه وسلم ـ حين رأيا معه أهله، فقال لهما على رِسْلِكُمَا، أي: تأنيا في المشي، فإنما هي زوجتي صَفِيَّةَ، فقالا سُبْحَان الله، وهل يتطرق إلى الوهم ظن السوء بك، فأخبرهما: أن الشيطان حريص على إغواء بني آدم، وله قدرة عليهم عظيمة، فإنه يجري منهم مجرى الدم من لطف مداخله، وخَفِيِّ مسالكه، وخشي أن يقذف في قلوبهما شيئًا.
Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Istri beliau Ṣafiyyah -raḍiyallāhu 'anhā- pada suatu malam mengunjunginya, bercengkerama beberapa saat, kemudian beranjak pulang ke rumahnya. Nabi pun beranjak untuk menemani dan mengantarnya pulang. Saat itulah, dua orang lelaki Ansar melintas ditempat itu. Ketika melihat Nabi, mereka mempercepat langkah lantaran sungkan kepada beliau, saat mengetahui ada wanita bersama beliau. Nabi berkata kepada keduanya agar santai saja, maksudnya tidak perlu tergesa-gesa berjalan, karena wanita ini adalah Ṣafiyyah , istrinya. Mereka berdua berujar, 'Subḥānallāh. Apakah mungkin terbersit prasangka buruk kepadamu.' Nabi pun mengabarkan kepada keduanya bahwa setan berupaya untuk menggelincirkan anak Adam, dan dia memiliki kemampuan besar untuk itu. Dia menyusupi mereka melalui aliran darah, begitu halus pintu masuk dan samar tak terlihat jalannya, sehingga beliau khawatir setan membisikkan suatu prasangka ke dalam hati mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4534

 
Hadith   693   الحديث
الأهمية: أن تَلْبِيَةَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لا شريك لك لَبَّيْكَ، إن الحمد والنعمة لك والملك، لا شريك لك
Tema: Sesungguhnya (bacaan) talbiah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah, “Labbaik Allāhumma labbaik. Labbaik lā syarīka laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk lā syarīka lak (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).”

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-: «أن تَلْبِيَةَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: لَبَّيْكَ اللهم لَبَّيْكَ، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك، لا شريك لك».
قال: وكان عبد الله بن عمر يزيد فيها: «لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، والخير بيديك، وَالرَّغْبَاءُ إليك والعمل».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā, "Sesungguhnya (bacaan) talbiah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah, 'Labbaik Allāhumma labbaik. Labbaik lā syarīka laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk lā syarīka lak' (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).” Perawi (Nāfi') berkata, "Ibnu Umar menambahkan lafal: Labbaik, labbaik wa sa’daik wal khairu biyadaik war ragbā`u ilaika wal ‘amal (Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Segala harapan (pahala) dan amalan hanya untuk-Mu).”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يبين عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- أن كيفية تلبية النبي -صلى الله عليه وسلم- في الحج والعمرة: لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك. فهي إعلان بإجابة الله -تعالى- في دعوته عباده إلى حج بيته، إجابة بعد إجابة وإخلاص له، وإقبال عليه، واعتراف بحمده، ونعمه، وإفراد له بذلك، وبملك جميع المخلوقات لا شريك له في ذلك كله، وكان ابن عمر -رضي الله عنهما- يزيد مضمون هذه التلبية؛ تأكيدا حيث يضيف إليها تلبية مضمونها : لبيك وسعديك، والخير بيديك والرغباء إليك والعمل، فمنتهى العمل إلى الله -تعالى- قصدًا وثوابًا.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- memberitahu tatacara talbiah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam haji dan umrah, yaitu "Labbaik Allāhumma labbaik. Labbaik lā syarīka laka labbaik (Aku memenuhi panggian-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggian-Mu. Aku memenuhi panggian-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu). Ini merupakan deklarasi hamba-Nya dengan merespon panggilan Allah -Ta'ālā- untuk melaksanakan haji ke rumah-Nya. Jawaban (respon) setelah jawaban dan keikhlasan untuk-Nya, menghadap kepada-Nya, mengakui pujian dan kenikmatan-Nya, dan meng-Esakan Allah dengan itu, serta kekuasaan-Nya terhadap seluruh makhluk. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua itu. Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menambahkan redaksi talbiah tersebut, sebagai penguat, yaitu, "Labbaik, labbaik wa sa’daik wal khairu biyadaik war ragbā`u ilaika wal ‘amal (Aku memenuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Kebaikan ada di tangan-Nya, dengan mengharap pahala dan amalan". Akhir perjalanan amal adalah kepada Allah -Ta'ālā- baik tujuan maupun pahala ganjaran.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4535

 
Hadith   694   الحديث
الأهمية: حُمِلْتُ إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وَالقَمْلُ يَتَنَاثَرُ على وجهي. فقال: ما كُنْتُ أُرَى الوَجَعَ بَلَغَ بِكَ ما أَرَى -أو ما كنت أُرَى الجَهْدَ بَلَغَ بك ما أَرى-! أَتَجِدُ شاة؟ فقلت: لا. فقال: صُمْ ثلاثة أيام، أو أطعم ستة مساكين
Tema: Aku dibawa kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedangkan kutu-kutu bertebaran di wajahku. Beliau bersabda, "Tidak pernah diperlihatkan kepadaku penderitaan yang menimpamu sebagaimana yang aku lihat" - atau "Tidak pernah diperlihatkan kepadaku kepayahan yang menimpamu sebagaimana aku lihat! Apakah engkau memiliki domba?" Aku jawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Puasalah tiga hari atau berilah makanan kepada enam orang miskin"

عن عبد الله بن مَعْقِلٍ قال: «جلستُ إلى كَعْبِ بن عُجْرَةَ، فسألته عن الفدية، فقال: نزلت فِيَّ خاصة. وهي لكم عامة. حُمِلْتُ إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وَالقَمْلُ يَتَنَاثَرُ على وجهي. فقال: ما كُنْتُ أُرَى الوَجَعَ بَلَغَ بِكَ ما أَرَى -أو ما كنت أُرَى الجَهْدَ بلغ بك ما أَرى-! أَتَجِدُ شاة؟ فقلت: لا. فقال: صم ثلاثة أيام، أو أطعم ستة مساكين -لكل مسكين نصف صاع-».   
وفي رواية: «فأمره رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن يُطْعِمَ فَرَقًا بَيْنَ سِتَّةِ ، أو يُهْدِي شَاةً ، أو يصوم ثلاثة أيام».

Dari Abdullah bin Ma'qil, ia berkata, "Aku duduk bersama Ka'ab bin 'Ujrah lalu menanyakan tentang fidiah kepadanya." Ia menjawab, " Satu ayat turun khusus untukku dan (hukumnya) umum untuk kalian. Aku dibawa kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedangkan kutu-kutu bertebaran di wajahku. Beliau bersabda, "Tidak pernah diperlihatkan kepadaku penderitaan yang menimpamu sebagaimana yang aku lihat" - atau "Tidak pernah diperlihatkan kepadaku kepayahan yang menimpamu sebagaimana aku lihat! Apakah engkau memiliki domba?" Aku jawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Puasalah tiga hari atau berilah makanan kepada enam orang miskin - setiap orang miskin setengah Ṣā'! " Dalam riwayat lain, "Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruhnya memberi makan tiga Ṣā' untuk enam orang atau menyembelih domba atau puasa tiga hari."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
رأى النبي -صلى الله عليه وسلم- كَعْب بن عُجْرَةَ -رضي الله عنه- في الحديبية وهو محرم، وإذا القمل يتناثر على وجهه من المرض، فَرَقَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- لحاله وقال: ما كنت أظن أن المشقة بلغت منك هذا المبلغ، الذي أراه. ثم سأله: أتجد شاة فقال: لا، فأنزل الله -تبارك وتعالى-: {فَمَنْ كَانَ مِنْكُم مَرِيضَاً أوْ به أذَىً مِنْ رَأسِه فَفِدْية مِنْ صِيَامٍ أوْ صَدَقَةٍ أوْ نُسُكٍ} الآية.
وعند ذلك خيَّره النبي -صلى الله    عليه وسلم- بين صيام ثلاثة أيام، أو إطعام ستة مساكين، لكل مسكين نصف صاعٍ من بُرٍّ، أو غيره، ويكون ذلك كفارة عن حلق رأسه، الذي اضطر إليه في إحرامه، من أجل ما فيه من هوام، وفي الرواية الأخرى، خيَّره بين الثلاثة.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat Ka'ab bin 'Ujrah di Ḥudaibyiah dalam keadaan ihram. Tiba-tiba kutu-kutu bertebaran di wajahnya karena penyakit. Tentu saja Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merasa kasihan melihat keadaannya. Beliau bersabda, "Aku tidak mengira bahwa kepayahan telah menimpamu seperti ini sebagaimana aku lihat." Lantas beliau bertanya kepadanya, "Apakah engkau memiliki domba?" Ia menjawab, "Tidak." Lalu Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- menurunkan firman-Nya, "Jika di antara kalian ada yang sakit atau punya gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib membayar fidiah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban." Saat itulah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan pilihan kepadanya antara puasa tiga hari atau memberi makan enam orang miskin; setiap orang miskin mendapatkan setengah ṣā' gandum atau makanan pokok lainnya, dan itu menjadi kafarat mencukur rambut yang terpaksa dia lakukan saat ihram karena adanya kutu-kutu pengganggu. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memberinya tiga pilihan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4536

 
Hadith   695   الحديث
الأهمية: قَدِمَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وأصحابه صَبِيحَةَ رَابِعَةٍ، فأمرهم أن يجعلوها عمرة، فقالوا: يا رسول الله، أَيُّ الحِلِّ؟ قال: الحِلُّ كُلُّهُ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya datang (ke Makkah) pada pagi hari keempat (Żulḥijjah) lalu beliau memerintahkan mereka untuk menjadikan ihram tersebut untuk umrah. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tahallul apa?" Beliau bersabda, "Tahallul seluruhnya."

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- قال: «قَدِمَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وأصحابه صَبِيحَةَ رَابِعَةٍ، فأمرهم أن يجعلوها عمرة، فقالوا: يا رسول الله، أَيُّ الحِلِّ؟ قال: الحِلُّ كُلُّهُ».

Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya datang (ke Makkah) pada pagi hari keempat (Żulḥijjah) lalu beliau memerintahkan mereka untuk menjadikan ihram tersebut untuk umrah. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tahallul apa?" Beliau bersabda, "Tahallul seluruhnya!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر ابن عباس -رضي الله عنهما-: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- وأصحابه قدموا مكة في حجة الوداع، صبيحة اليوم الرابع من ذي الحجة، وكان بعضهم محرماً بالحج، ومنهم القارنون بين الحج والعمرة.
فأمر من لم يَسُقِ الْهَدْيَ من هاتين الطائفتين، بأن يحلوا من حجهم، ويجعلوا إحرامهم عمرة، فكبُر عليهم ذلك، ورأوا أنه عظيم أن يتحللوا التحلل الكامل، الذي يبيح الجماع، ثم يحرمون بالحج، ولذا سألوه فقالوا: يا رسول الله: أي الحِلُّ، ما التحلل الذي نفعله؟ فقال -صلى الله عليه وسلم- الحِلُّ كلُّه، فيباح لكم ما حُرِّمَ عليكم قبل الإحرام فامتثلوا -رضي الله عنهم-.
Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya datang ke Makkah ketika haji wada' pada pagi hari keempat Żulḥijjah. Sebagian mereka berihram untuk haji, dan sebagian lagi menggabungkan antara haji dan umrah. Lantas beliau memerintahkan kepada orang yang tidak membawa hadyu (binatang) dari kedua kelompok ini agar melakukan tahallul dari ibadah haji mereka dan menjadikan ihramnya untuk umrah. Ternyata hal tersebut memberatkan mereka, dan mereka memandang bahwa alangkah bagusnya untuk melakukan tahallul yang sempurna, yang membolehkan melakukan hubungan badan lalu mereka melakukan ihram untuk haji. Karena itulah mereka bertanya kepada beliau. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, tahallul apa? Apa tahallul yang harus kami lakukan?" Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tahallul seluruhnya sehingga dibolehkan bagi kalian apa yang diharamkan sebelum ihram." Mereka pun -raḍiyallāhu 'anhum- melaksanakan perintah tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4537

 
Hadith   696   الحديث
الأهمية: أوصاني خليلي -صلى الله عليه وسلم- بثلاث: صيام ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ من كل شهر، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وأن أُوتِرَ قبل أن أنام
Tema: Kekasihku -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpesan kepadaku dengan tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat duha dan melaksanakan salat witir sebelum tidur.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: «أوصاني خليلي -صلى الله عليه وسلم- بثلاث: صيام ثَلاثَةِ أَيَّامٍ من كل شهر، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وأن أُوتِرَ قبل أن أنام».

Kekasihku -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpesan kepadaku dengan tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Duha dan melaksanakan salat witir sebelum tidur.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
اشتمل هذا الحديث الشريف على ثلاث وصايا نبوية كريمة:
الأولى: الحث على صيام ثلاثة أيام من كل شهر؛ لأن الحسنة بعشر أمثالها، فيصير صيام ثلاثة الأيام كصيام الشهر كله.
والأفضل أن تكون الثلاثة، الثالث عشر، والرابع عشر، والخامس عشر، كما ورد في بعض الأحاديث.
الثانية: أن يصلي الضحى، وأقلها ركعتان، لاسيما في حق من لا يصلي من الليل، كأبي هريرة الذي اشتغل بدراسة العلم أول الليل.
وأفضل وقتهما، حين تَرْمَضُ الْفِصَالُ ،كما جاء في حديث آخر.
الثالثة: أن من لا يقوم آخر الليل، فليوتر قبل أن ينام، كيلا يفوت وقته.
Hadits mulia ini mencakup tiga wasiat kenabian yang mulia:
Pertama: anjuran untuk melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan. Sebab, kebaikan itu bernilai sepuluh kali lipat. Dengan demikian, puasa tiga hari menjadi seperti puasa satu bulan penuh. Yang utama, tiga hari ini adalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas dari setiap bulannya, sebagaimana dikemukakan dalam beberapa hadits.
Kedua: hendaknya melaksanakan salat Duha, minimal dua rakaat. Apalagi bagi orang yang tidak melaksanakan salat malam, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Hurairah yang sibuk belajar ilmu di awal malam. Waktu salat Duha yang paling utama adalah ketika anak unta yang disapih merasakan panas terik sebagaimana dikemukakan dalam hadits lain.
Ketiga: orang yang tidak bisa bangun di akhir malam, hendaknya dia melakukan salat witir sebelum tidur agar waktunya tidak terlewatkan darinya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4538

 
Hadith   697   الحديث
الأهمية: كيف كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يسيرُ حِينَ دَفَعَ؟ قال: كان يَسيرُ العَنَقَ، فإذا وجد فَجْوَةً نَصَّ
Tema: Bagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan ketika berangkat dari Arafah ke Muzdalifah?" Ia menjawab, "Beliau berjalan sedang-sedang saja. Jika menemukan tempat lapang, beliau berjalan dengan cepat."

عن عُرْوَةَ بن الزُّبَيْرِ قال: «سُئل أُسَامَةُ بن زَيْدٍ -وأنا جالس- كيف كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يسيرُ حِينَ دَفَعَ؟ قال: كان يَسيرُ العَنَقَ، فإذا وجد فَجْوَةً نَصَّ».

Dari Urwah bin Az-Zubair, ia berkata, "Usamah bin Zaid ditanya - saat itu aku sedang duduk - "Bagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan ketika berangkat dari Arafah ke Muzdalifah?" Ia menjawab, "Beliau berjalan sedang-sedang saja. Jika menemukan tempat lapang, beliau berjalan dengan cepat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان أُسَامَة بن زَيْدٍ -رضى الله عنهما- رَديف النبي -صلى الله عليه وسلم- من عَرَفَة إلى مُزْدَلِفَةَ.
فكان أعلم الناس بسير النبي -صلى الله عليه وسلم- فسُئل عن صفته، فقال: كان يسير العَنَق، وهو: انبسَاط السير ويسره في زحمة الناس، لئلا يؤذي به، فإذا وجد فُرْجَة ليس فيها أحد من الناس حرك دابته، فأسرع قليلاً؛ لعدم وجود الأذية في الإسراع حينئذ.
Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- membonceng di belakang Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Arafah ke Muzdalifah. Dia adalah orang yang paling tahu tentang langkah jalan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ia ditanya mengenai sifat jalan beliau. Ia menjawab, "Beliau berjalan pertengahan, yaitu berjalan dengan santai dan ringannya saat orang-orang berjejalan agar tidak mengganggu. Jika beliau menemukan celah lapang tanpa ada seorang manusia pun, maka beliau menggerakkan kendaraannya lalu berjalan dengan sedikit cepat karena tidak adanya gangguan dalam berjalan cepat saat itu."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4539

 
Hadith   698   الحديث
الأهمية: تَحَرَّوْا ليلة القَدْر في الوِتْرِ من الْعَشْرِ الأوَاخِرِ
Tema: Carilah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) di malam-malam ganjil sepuluh terakhir (Ramadan)!

عن عائشة أم المؤمنين -رضي الله عنها- أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «تَحَرَّوْا ليلة القَدْر في الوِتْرِ من الْعَشْرِ الأوَاخِرِ».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Carilah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) di malam-malam ganjil sepuluh terakhir (Ramadan)!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
تخبر أم المؤمنين عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أرشد لطلب إصابة ليلة القدر والاشتغال فيها بالعمل الصالح وقيام الليل، فتحري ليلة القدر يكون بذلك، وذلك في أوتار العشر الأواخر من رمضان.
Ummul Mukminin 'Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan petunjuk untuk mencari ketepatan malam kemuliaan dan menyibukkan diri pada malam itu dengan amal saleh dan salat malam. Mencari malam kemuliaan dapat dilakukan dengan itu, yaitu di malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4540

 
Hadith   699   الحديث
الأهمية: إن أَحَبَّ الصيام إلى الله صِيَامُ داود، وأحب الصلاة إلى الله صلاة داود، كان يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وكان يصوم يومًا ويفطر يومًا
Tema: Sesungguhnya sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud dan sebaik-baik salat di sisi Allah adalah salatnya Nabi Daud‎. Beliau biasa tidur separuh malam dan salat di sepertiga ‎malam terakhir dan tidur lagi di seperenamnya. Sedangkan beliau biasa berpuasa ‎sehari dan berbuka di hari berikutnya.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إن أَحَبَّ الصيام إلى الله صِيَامُ داود، وأحب الصلاة إلى الله صلاة داود، كان يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وكان يصوم يومًا ويُفطِرُ يومًا».

Dari Abdullah bin 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, Rasullullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud dan sebaik-baik salat di sisi Allah adalah salatnya Nabi Daud‎. Beliau biasa tidur separuh malam dan salat di sepertiga ‎malam terakhir dan tidur lagi di seperenamnya. Sedangkan beliau biasa berpuasa ‎sehari dan berbuka di hari berikutnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر عبد الله بن عَمْرِو -رضي الله عنهما- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- في هذا الحديث، أن أحب الصيام والقيام إلى الله تعالى صيام وقيام نبيه داود -عليه الصلاة والسلام- ،وذلك أنه كان يصوم يوماً ويفطر يوماً؛ لما فيه تحصيل العبادة وإعطاء الجسم راحته، وكان ينام النصف الأول من الليل    ليقوم نشيطاً خفيفاً إلى العبادة، فيصلي ثُلُثَهُ ثم ينام سُدُسَهُ الأخير؛ ليكون نشيطا لعبادة أول النهار، وهذه الكيفية هي التي رغب بها النبي -صلى الله عليه وسلم-.
Di dalam hadits ini Abdullah bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- ‎menginformasikan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa puasa dan ‎salat yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah puasa dan salat Nabi-‎Nya Daud -'alaihissalām-, yakni beliau dahulu biasa berpuasa ‎sehari dan berbuka/tidak berpuasa pada hari berikutnya, karena dengan ‎cara tersebut seseorang dapat beribadah dan memberikan tubuh waktu ‎untuk istirahat. Beliau dahulu juga biasa tidur di pertengahan malam ‎pertama agar bangun dalam keadaan semangat dan ringan untuk ‎melaksanakan ibadah. Lalu beliau salat pada sepertiga malam terakhir, ‎kemudian tidur pada seperenam malam terakhir agar beliau menjadi ‎semangat untuk beribadah pada permulaan siang (waktu pagi). Tatacara ‎inilah yang dianjurkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4541

 
Hadith   700   الحديث
الأهمية: لا صوم فوق صوم أخي داود -شَطْرَ الدَّهَرِ-، صم يومًا وأفطر يومًا
Tema: Tidak ada puasa melebihi puasa saudaraku, Daud - separuh masa-; puasalah satu hari dan berbukalah satu hari

عن عبد الله بن عَمْرِو بن العاص -رضي الله عنهما- قال: «أُخبِر رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أني أقول: والله لَأَصُومَنَّ النهار، وَلَأَقُومَنَّ الليل مَا عِشْتُ. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أنت الذي قلتَ ذلك؟ فقلتُ له: قد قُلتُه -بأبي أنت وأمي-. فقال: فإنك لا تستطيع ذلك، فصُم وأفطِر، وَقُمْ وَنَمْ ، الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وذلك مثل صيام الدَّهْرِ. قلت: فإني أُطِيقُ أفضل من ذلك. قال: فصم يوما وأَفطر يومين. قلت: أُطِيقُ أفضل من ذلك. قال: فصم يوما وأفطر يوما، فذلك مثل صيام داود، وهو أفضل الصيام. فقلت: إني أُطِيقُ أفضل من ذلك. قال: لا أفضل من ذلك»، وفي رواية: «لا صوم فوق صوم أخي داود -شَطْرَ الدَّهَرِ-، صم يوما وأفطر يوما».

Dari Abdullah bin 'Amru bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā -, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberitahu tentang ucapan saya yaitu, "Demi Allah, aku akan selalu berpuasa di siang hari dan bangun sepanjang malam untuk salat selama aku hidup." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah engkau orang yang mengatakan demikian?" Aku jawab, "Aku yang mengatakannya -demi bapak dan ibuku yang menjadi tebusanmu-." Beliau bersabda, "Engkau tidak akan sanggup melakukan itu. Puasalah dan berbukalah, lakukan salat malam dan tidurlah, (dan berpuasalah) tiga hari setiap bulan, karena sesungguhnya kebaikan itu (pahalanya) dilipat gandakan sepuluh kali. Puasa seperti itu bagaikan puasa sepanjang masa."
Aku berkata, "Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda, "Puasalah satu hari dan berbukalah dua hari!" Aku berkata, "Aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda, "Puasalah satu hari dan berbukalah satu hari, itulah puasa seperti puasa Daud dan itulah puasa yang paling utama." Aku berkata, "Aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda, "Tidak ada yang lebih utama dari itu." Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidak ada puasa melebihi puasa saudaraku, Daud -separuh masa-. Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أُخْبِرَ أن عبد الله بن عَمْرٍو -رض الله عنهما- أقسم على أن يصوم فلا يُفطر، ويقوم فلا ينام كلَ عمره، فسأله: هل قال ذلك؟ فقال: نعم. فقال: إن هذا يشق عليك ولا تحتمله، وأرشده إلى الجمع بين الراحة والعبادة فيصوم ويفطر، ويقوم وينام، ويقتصر على صوم ثلاثة أيام من كل شهر؛ ليحصل له أجر صيام الدهر. فأخبره أنه يُطيق أكثر من ذلك، وما زال يطلب الزيادة من الصيام حتى انتهى إلى أفضل الصيام، وهو صيام داود عليه السلام، وذلك أن يصوم يوماً، ويفطر يوماً. فطلب المزيد لرغبته في الخير -رضي الله عنه- فقال -صلى الله عليه وسلم-: لا صوم أفضل من ذلك.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberitahu bahwa Abdullah bin 'Amru telah bersumpah akan berpuasa tanpa berbuka dan melakukan salat malam tanpa tidur sepanjang usianya. Lantas beliau bertanya, "Apakah dia mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Sesungguhnya ini berat bagimu dan engkau tidak akan mampu melakukannya." Beliau membimbingnya untuk menghimpun antara istirahat dan ibadah; berpuasa dan berbuka, salat malam dan tidur, serta membatasi diri puasa tiga hari setiap bulan agar memperoleh pahala puasa sepanjang masa.
Abdullah bin 'Amru memberitahu beliau bahwa dia mampu lebih dari itu. Ia terus-menerus meminta tambahan puasa hingga sampai ke puasa paling utama, yaitu puasa Daud -'alaihi as-salām-; dia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Dia pun masih meminta tambahan karena hasratnya kepada kebaikan. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4542

 
Hadith   701   الحديث
الأهمية: خَمسٌ من الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ، يُقْتَلْنَ في الحَرَمِ: الغُرابُ، وَالحِدَأَةُ، وَالعَقْرَبُ، وَالفَأْرَةُ، وَالكَلْبُ العَقُورُ
Tema: Ada lima macam binatang yang semuanya fasik (jahat), diperbolehkan untuk dibunuh di tanah haram ‎‎(Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas).

عن عائشة -رضي الله عنها- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «خمسٌ من الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ، يُقْتَلنَ في الحَرَمِ: الغرابُ، وَالحِدَأَةُ، وَالعَقْرَبُ، وَالفَأْرَةُ، وَالكَلْبُ العَقُورُ».
وفي رواية: « يقتل خَمْسٌ فَوَاسِق في الْحِلِّ    وَالْحَرَمِ ».

Tema: Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada lima macam binatang yang semuanya fasik (jahat), diperbolehkan untuk dibunuh di tanah haram ‎‎(Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas). Dalam suatu riwayat disebutkan: Diperbolehkan membunuh lima jenis binatang yang bersifat fasik (jahat) di tanah halal dan di tanah haram (Makkah dan Madinah).

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث تخبر عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أمر بقتل خمس من الدواب كلهن يتصف بالفسق، سواء في الحِل أو الحرم، ثم بين تلك الخمس بقوله: الغُرابُ والحِدَأَةُ، وَالعَقْرَبُ، وَالفَأْرَةُ، والكلب العَقُورُ.   
فهذه خمسة أنواع من الحيوانات، وصفت بالفسق، وهو خروجها بطبعها عن سائر الحيوانات، بالتعدي والأذى.
ونبه بها معدودة، لاختلاف أذاها، فيلحق بها ماشاكلها في فسقها من سائر الحيوانات، فتقتل لأذيتها واعتدائها، فإن الحرم لا يجيرها والإحرام لا يعيذها.
Di dalam hadis ini, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menginformasikan bahwa ‎Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk membunuh lima ‎macam binatang buas, semuanya bertabiat mengganggu dan ‎membahayakan, baik di tanah halal maupun di tanah haram (Makkah dan ‎Madinah). Kemudian beliau menjelaskan kelima binatang tersebut ‎dengan sabda beliau: Burung gagak, rajawali, kalajengking, tikus, ‎dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas). Inilah kelima jenis hewan tersebut, disifatkan dengan al-fisq ‎‎(jahat) karena hewan tersebut keluar dari tabiat kebanyakan hewan. Beliau memperingatkan dengan menyebut beberapa jenis ‎hewan saja karena gangguan dan bahayanya berbeda-beda. Maka hewan-hewan lain yang ‎serupa dalam hal gangguan dan bahayanya juga termasuk di dalamnya. Jadi hewan tersebut boleh ‎dibunuh karena gangguan dan bahayanya, maka sungguh tanah Haram tidak ‎dapat melindunginya dan keadaan ihram (yang seharusnya tidak boleh membunuh ‎hewan) tidak dapat menghindarkannya (dari perintah membunuhnya).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4543

 
Hadith   702   الحديث
الأهمية: لا يَلبسُ القميص ولا العَمَائِمَ ولا السَّرَاوِيلاَتِ ولا البَرَانِسَ وَلاَ الخِفَافَ إلا أحَدٌ لاَ يجِدُ نَعْلَيْنِ، فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْهُمَا أسفلَ من الكعبين
Tema: Tidak boleh memakai baju, serban, celana, burnus (pakaian bertopi) dan khuff kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, ia boleh menggunakan khuff, dan ia harus memotongnya di bawah mata kaki.

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- «أن رجلًا قال يا رسول الله، ما يَلْبَسُ المُحْرِمُ مِنَ الثياب؟ قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: لا يلبسُ القميص، ولا العَمَائِمَ ، وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ، ولا البَرَانِسَ، ولا الخِفَافَ، إلا أحدٌ لا يجِدُ نَعْلَيْنِ، فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْهُمَا أسفلَ من الكعبين، وَلا يَلْبَسْ من الثياب شيئا مَسَّهُ زَعْفَران أوْ وَرْسٌ»، وللبخاري: «ولا تَنْتَقِبُ المرأة، وَلا تلبس الْقُفَّازَيْنِ».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, pakaian apa yang boleh dipakai oleh orang yang berihram? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, “(Seorang yang berihram) Tidak boleh memakai baju, serban, celana, burnus (pakaian bertopi) dan khuff kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, ia boleh menggunakan khuff, dan ia harus memotongnya di mata kaki. Dan jangan memakai pakaian yang terkena minyak za'faran atau wars”. Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan, “Bagi wanita (yang berihram) tidak boleh memakai niqab (cadar) dan sarung tangan."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قد عرف الصحابة -رضي الله عنهم- أن للإحرام هيئة تخالف هيئة الإحلال، ولذا سأل رجلٌ النبي -صلى الله عليه وسلم- عن الأشياء المباحة، التي يلبسها المحرم.
ولمّا كان من اللائق أن يكون السؤال عن الأشياء التي يجتنبها، لأنها معدودة قليلة وقد أُعْطِي -صلى الله عليه وسلم- جوامع الكلم أجابه ببيان الأشياء التي يجتنبها المحرم ويبقى ما عداها على أصل الحل، وبهذا يحصل العلم الكثير.
فأخذ -صلى الله عليه وسلم- يَعُدُّ عليه ما يحرم على الرجل المحرم من اللباس، منبها بكل نوع منها على ما شابهه من أفراده، فقال:
لا يلبس القميص، وكل ما فُصِّل وَخِيطَ على قدر البدن، ولا العمائم، والبرانس، وكل ما يغطى به الرأس، ملاصقاً له، ولا السراويل، وكل ما غطي به -ولو عضواً- كالقفازين ونحوهما، مخيطاً أو مُحِيطاً، ولا الخفاف ونحوهما، مما يجعل بالرجلين ساترين للكعبين، من قطن أو صوف، أو جلد أو غير ذلك.
فمن لم يجد وقت إحرامه نعلين، فَلْيَلْبَسْ الخفين ولْيَقْطَعْهُما من أسفل الكعبيِن، ليكونا على هيئة النعلين.
ثم زاد -صلى الله عليه وسلم- فوائد لم تكن في السؤال، وإنما المقام يقتضيها، فَبيَّن ما يحرم على المحرم مطلقاً من ذكر وأنثى، فقال:
ولا يلبس شيئاً من الثياب، أو غيرها مَخِيطاً أو غير مخيط، إذا كان مُطَيَّباً بالزعفران أو الورس، منبهاً بذلك على اجتناب أنواع الطيب.
ثم بيَّن ما يجب على المرأة، من تحريم تغطية وجهها وإدخال كفيها فيما يسترهما، فقال: "ولا تنتقب المرأة، ولا تلبس القفازين".
Para sahabat –raḍiyallāhu 'anhum- telah mengetahui bahwa keadaan orang yang berihram berbeda dengan orang yang tidak berihram. Oleh karena itu, seseorang bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang apa saja yang boleh dipakai oleh orang yang berihram. Karena pertanyaan yang tepat untuk diajukan seharusnya adalah tentang apa saja yang harus dihindari karena hal itu lebih sedikit, dan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah dianugrahi jawami'ul kalim (perkataan yang ringkas bermakna luas) sehingga beliau memberikan jawaban dengan menerangkan apa saja yang tidak boleh dipakai oleh orang yang berihram, dan selain itu hukumnya tetap boleh untuk dipakai, sehingga dengan demikian dapat diperoleh ilmu dan pengetahuan yang banyak. Kemudian beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan kepadanya pakaian apa saja yang diharamkan untuk dipakai oleh orang yang berihram dan semua yang serupa dengannya. Beliau bersabda, “Tidak boleh memakai baju, dan semua pakaian yang dibentuk dan dijahit untuk menutupi badan, serban, burnus (pakaian bertopi), dan penutup kepala yang menempel langsung di atasnya, celana, pakaian yang menutupi anggota tubuh meskipun itu hanya menutupi satu anggota tubuh seperti kaos tangan dan sejenisnya, baik dijahit ataupun dililitkan, “khuff” (sejenis sepatu) dan yang semisalnya yang biasa dipakai untuk alas kaki yang menutupi mata kaki, baik itu yang terbuat dari bahan kapas, wol, kulit atau bahan lainnya. Siapa yang tidak memiliki sandal ketika ia berihram, maka dia boleh memakai sepatu, namun hendaknya ia memotongnya sampai di bawah mata kaki sehingga ia menjadi seperti sandal. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menambahkan beberapa faedah yang tidak ditanyakan, namun masih dalam lingkup pertanyaan tersebut. Beliau menjelaskan tentang pakaian yang dilarang secara mutlak bagi orang yang berihram baik laki-laki ataupun perempuan, beliau bersabda, “Dan jangan memakai pakaian atau yang lainnya, baik itu yang dijahit ataupun tidak, jika diolesi minyak za'faran dan wars. Ini berisi penjelasan tentang diharamkannya memakai berbagai macam minyak wangi. Lalu beliau menerangkan apa yang wajib bagi wanita, berupa larangan menutupi wajah serta kedua telapak tangannya. Beliau bersabda, “Bagi wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab (cadar) dan sarung tangan."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4544

 
Hadith   703   الحديث
الأهمية: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قد تَوَاطَأَتْ في السبعِ الأواخر، فمن كان مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا في السبعِ الأواخر
Tema: ِAku melihat mimpi-mimpi kalian itu saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencari Lailatul Qadar carilah pada tujuh malam terakhir.

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-: أن رجالا من أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- أرُوا ليلة القدر في المنام في السبع الأواخر. فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-:« أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر، فمن كان مُتحرِّيها فليتحرّها في السبع الأواخر».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwasanya beberapa orang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat Lailatul Qadar dalam mimpinya pada tujuh malam terakhir. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku melihat mimpi-mimpi kalian itu saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencari Lailatul Qadar carilah pada tujuh malam terakhir."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
ليلة القدر ليلة شريفة عظيمة، فيها تضاعف الحسنات وتكفر السيئات، وتقدر الأمور.
ولما علم الصحابة -رضي الله عنهم- فضلها وكبير منزلتها، أحبوا الاطلاع على وقتها، ولكن الله -سبحانه وتعالى- بحكمته ورحمته بخلقه أخفاها عنهم ليطول تلمسهم لها في الليالي، فيكثروا من العبادة التي تعود عليهم بالنفع.
فكان الصحابة يرونها في المنام، واتفقت رؤاهم على أنها في السبع الأواخر من شهر رمضان، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع، فمن كان متحرياً فليتحرَّها في السبع الأواخر"، وفي رواية: "العشر الأواخر"، خصوصاً في أوتار تلك العشر، فإنها أرجى، فَلْيُحْرَص المسلم على رمضان، وعشره الأخير أكثر، وليلة سبع وعشرين أبلغ.
Lailatul Qadar merupakan malam yang mulia dan agung. Pada malam itu kebaikan-kebaikan berlipat ganda, dosa-dosa dihapus dan segala urusan ditentukan. Ketika para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- mengetahui keutamaan dan besarnya kedudukan malam itu, mereka pun menginginkan untuk mengetahui waktunya. Hanya saja Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan hikmah dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya menyembunyikan malam itu dari mereka agar mereka mencarinya dalam waktu yang lama di beberapa malam, sehingga mereka memperbanyak ibadah yang manfaatnya kembali kepada mereka. Para sahabat melihat malam itu dalam mimpinya ketika tidur dan mimpi mereka ada kesesuaian bahwa malam itu pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku melihat mimpi-mimpi kalian itu saling bersesuaian pada tujuh (malam terakhir), maka barangsiapa mencari lailatul Qadar carilah pada tujuh (malam terakhir)." Dalam riwayat lain "sepuluh (malam terakhir)." Khususnya di malam-malam ganjil di sepuluh malam itu, karena di malam-malam itu paling diharapkan. Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh pada bulan Ramaḍan, lebih-lebih lagi pada sepuluh malam terakhir. Terlebih lagi pada malam kedua puluh tujuh.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4545

 
Hadith   704   الحديث
الأهمية: إذا أقبل الليل من هَهُنا، وأدْبَر النهار من ههنا؛ فقد أفطر الصائم
Tema: Apabila malam telah tampak dari sini dan siang sudah pergi dari sana, maka orang yang berpuasa sudah dibolehkan untuk berbuka.

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إذا أقبل الليل من هَهُنا، وأَدْبَرَالنهار من ههنا، فقد أفطر الصائم».

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Apabila malam telah tampak dari sini dan siang sudah pergi dari sana, maka orang yang berpuasa sudah dibolehkan untuk berbuka.'"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
وقت الصيام الشرعي من طلوع الفجر إلى غروب الشمس.
ولذا، فقد أفاد النبي -صلى الله عليه وسلم- أمته: أنه إذا أقبل الليل من قِبل المشرق، وأدبر النهار من قِبل المغرب -بغروب الشمس، كما في رواية: (إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ)- فقد دخل الصائم في وقت الإفطار الذي لا ينبغي له تأخيره عنه، بل يُعاب بذلك، امتثالاً لأمر الشارع، وتحقيقًا للطاعة، وتمييزًا لوقت العبادة عن غيره، وإعطاء للنفس حقها، من مُتَعِ الحياة المباحة.
قوله: "فقد أفطر الصائم" يحتمل معنيين:
أ- إما أنه أفطر حكماً بدخول الإفطار ولو لم يتناول مفطراً، ويكون الحث على تعجيل الفطر في بعض الأحاديث معناه الحث على فعل الإفطار حسًّا ليوافق المعنى الشرعي.
ب- وإما أن يكون المعنى : دخل في وقت الإفطار ويكون الحث على تعجيل الفطر على بابه وهذا أولى، ويؤيده رواية البخاري "فقد حلَّ الإفطار".
Waktu puasa yang disyariatkan, yaitu dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Untuk itu, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberitahu umatnya bahwa jika malam telah tampak dari arah timur dan siang sudah pergi dari arah barat dengan terbenamnya matahari sebagaimana dalam riwayat, "Apabila malam telah tampak dari sini dan siang sudah pergi dari sana, dan matahari sudah terbenam, maka orang yang berpuasa sudah dibolehkan untuk berbuka" maka orang yang berpuasa sudah masuk waktu berbuka sehingga tidak selayaknya dia mengakhirkannya. Bahkan tindakan itu tercela.
Hal tersebut dalam rangka melaksanakan perintah Allah, merealisasikan ketaatan, membedakan waktu ibadah dari yang lainnya dan memberikan hak kepada jiwa untuk menikmati perhiasan kehidupan yang dibolehkan. Sabda Nabi, "Maka sudah dibolehkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka" mengandung dua makna:
1. Dia berbuka secara hukum dengan masuk waktu buka meskipun tidak menyantap makanan berbuka. Dengan demikian, perintah untuk menyegerakan berbuka puasa dalam beberapa hadits mengandung arti perintah untuk melaksanakan buka puasa secara nyata agar sesuai dengan makna yang disyariatkan.
2. Bisa juga maknanya: sudah masuk waktu buka dan perintah untuk menyegerakan berbuka sesuai dengan keadaannya dan ini lebih utama. Ini dipertegas oleh riwayat Al-Bukhari, "Maka sudah dihalalkan untuk berbuka puasa."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4546

 
Hadith   705   الحديث
الأهمية: ليس فيما دُون خمس أَوَاقٍ صدقة، ولا فيما دون خمس ذَوْدٍ صدقة، ولا فيما دُونَ خمسة أَوْسُقٍ صدقة
Tema: Harta di bawah lima awāq tidak diwajibkan zakat. Juga harta di bawah lima żaud tidak wajib zakat. Dan harta di bawah lima awsuq tidak wajib zakat.

عن أبي سعيد الْخُدْرِي -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «ليس فيما دون خمس أَوَاقٍ صدقة، ولا فيما دون خمس ذَوْدٍ صدقة، ولا فيما دُونَ خمسة أَوْسُقٍ صدقة».

Dari Abu Said Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Harta di bawah lima awāq tidak diwajibkan zakat. Juga harta di bawah lima żaud tidak wajib zakat. Dan harta di bawah lima awsuq tidak wajib zakat.'"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الزكاة، مواساة بين الأغنياء والفقراء، ولذا فإنها لا تؤخذ ممن ماله قليل لا يُعدَّ به غنيا.
فالشارع بين أدنى حد لمن تجب عليه، وأما من يملك دون الحد الأدنى، فإنه فقير لا يؤخذ منه شيء.
فصاحب الفضة، لا تجب عليه حتى يكون عنده خمس أَوَاقٍ، وكل أوقية أربعون درهما، فيكون نصابه منها مائتي درهم ، تعادل: خَمْسَمائَةٍ وتسعين جرامًا.
وصاحب الإبل لا تجب عليه الزكاة، حتى يكون عنده خمسٌ فصاعدا، وما دون ذلك ليس فيها زكاة.
وصاحب الحبوب والثمار، لا تجب عليه، حتى يكون ما عنده خمسة أَوسُقٍ، و"الوَسْقُ" ستون صاعا، فيكون نصابه ثَلاثُمِائةِ صاعٍ.
Zakat adalah wujud timbang rasa antara orang-orang kaya dengan orang-orang fakir. Untuk itu, zakat tidak diambil dari orang yang hartanya sedikit dan tidak dianggap kaya. Allah telah menjelaskan batasan minimal bagi orang yang wajib zakat. Adapun orang yang memiliki harta di bawah batas minimal, maka ia orang fakir sehingga tidak ada sesuatu pun yang diambil darinya. Pemilik perak tidak diwajibkan untuk zakat hingga dia memiliki lima awqiyah. Setiap awqiyah adalah empat puluh dirham sehingga nisabnya sebanyak dua ratus dirham. Ini setara dengan lima ratus sembilan puluh gram. Pemilik unta tidak diwajibkan zakat sampai dia memiliki lima unta atau lebih. Sedangkan jumlah di bawah itu tidak diwajibkan zakat. Pemilik biji-bijian dan buah-buahan tidak wajib zakat hingga dia memiliki lima awsuq. Satu wasaq adalah enam puluh ṣā'. Dengan demikian, nisabnya adalah tiga ratus ṣā'.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4547

 
Hadith   706   الحديث
الأهمية: يا رسول الله، إني كُنْتُ نَذَرْتُ في الجَاهِلِيَّةِ أن أَعْتَكِفَ لَيْلَةً في المسجد الحَرَامِ ؟ قال: فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ
Tema: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar pada masa jahiliyah untuk i'tikaf satu malam - dalam riwayat lain - satu hari di masjidil haram? Beliau bersabda, "Penuhi nazarmu!"

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال: قلت: يا رسول الله، إني كنت نَذَرْتُ في الجَاهلية أن أعتكف ليلة -وفي رواية: يومًا- في المسجد الحرام ؟ قال: «فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ».

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar pada masa jahiliyah untuk i'tikaf satu malam - dalam riwayat lain - satu hari di masjidil haram?' Beliau bersabda, "Penuhi nazarmu!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
نذر عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- في الجاهلية أن يَعتكف ليلة في المسجد الحرام، فسأل النبي -عليه الصلاة والسلام- عن حكم نَذْرِهِ الذي حصل منه في الجاهلية فأمره -عليه الصلاة والسلام- أن يوفي بِنَذْرِهِ .
Tema: Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- pernah bernazar pada masa jahiliyah untuk i'tikaf satu malam di masjidil haram. Lantas ia bertanya kepada Nabi mengenai hukum nazarnya - yang terjadi pada masa jahiliyah - Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkannya untuk memenuhi nazar itu.
Taisir Al-Allam, hlm (353), Tanbih Al-Afham, (3/480)

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4548

 
Hadith   707   الحديث
الأهمية: إذا رَأَيْتمُوه فَصُومُوا، وإذا رَأَيْتُمُوه فَأفْطِروُا، فإن غُمَّ عليكم فَاقْدُرُوا له
Tema: Jika kalian sudah melihat hilal maka berpuasalah! Jika kalian melihatnya berbukalah! Jika bulan itu tertutup awan, perkirakanlah!

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذا رَأَيْتمُوه فَصُومُوا، وإذا رَأَيْتُمُوه فَأفْطِروُا، فإن غُمَّ عليكم فَاقْدُرُوا له».

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika kalian sudah melihat hilal maka berpuasalah! Jika kalian melihatnya berbukalah! Jika bulan itu tertutup awan, perkirakanlah!'"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أحكام الشرع الشريف تُبْنَى على الأصل، فلا يُعْدَل عنه إلا بيقين.
ومن ذلك: أن الأصل بقاء شعبان، وأن الذمة بريئة من وجوب الصيام، ما دام أن شعبان لم تُكْمَلْ عدته ثلاثين يوما، فيعلم أنه انتهى، أو يُرَى هلال رمضان، فيُعْلَمُ أنه دخل.
ولذا فإن النبي -صلى الله عليه وسلم-، علّق صيام شهر رمضان وفطره برؤية الهلال.
فإن كان هناك مانع من غيم، أو قَتَرٍ، أو نحوهما، فيُكْمل عدة شعبان ثلاثين يوما؛ لأن الأصل بقاؤه فلا يُحْكَم بخروجه إلا بيقين، والقاعدة: "أن الأصل بقاء ما كان على ما كان".
Berbagai hukum syariat yang mulia dibangun di atas sumber sehingga tidak bisa dipalingkan darinya kecuali dengan keyakinan. Diantaranya bahwa hukum asalnya adalah tetapnya bulan Sya'bān dan bebasnya tanggung jawab dari kewajiban berpuasa selama Sya'bān itu belum sempurna tiga puluh hari, sehingga dapat diketahui bahwa Sya'bān sudah usai, atau terlihat hilal Ramadan sehingga diketahui bahwa sudah masuk Ramadan. Untuk itu, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengaitkan puasa bulan Ramadan dan bukanya dengan melihat hilal. Jika ada penghalang berupa awan atau debu atau selain keduanya maka bilangan Sya'bān disempurnakan jadi tiga puluh hari; karena pada asalnya bulan Sya'bān tetap berlanjut sehingga tidak dihukumi keluar darinya kecuali dengan keyakinan. Kaidah: Asal sesuatu itu tetap sesuai dengan keadaannya semula.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4549

 
Hadith   708   الحديث
الأهمية: لَوِ اسْتَقْبَلْتُ من أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ؛ ما أَهْدَيْتُ، ولولا أن معي الهَدْيَ لَأَحْلَلْت
Tema: Kalau aku bisa mengulang kembali apa yang telah lewat, aku tidak akan menyembelih, dan seandainya aku ‎tidak membawa al-hadyu (hewan sembelihan), tentu aku akan bertahallul.

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- قال: «أَهَلَّ النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- وأصحابُه بالحج، وليس مع أحد منهم هَدْيٌ غير النبي -صلى الله عليه وسلم- وطلحة، وقدم علي -رضي الله عنه- من اليمن. فقال: أَهْلَلْتُ بما أَهَلَّ به النبي -صلى الله عليه وسلم- فأمر النبي -صلى الله عليه وسلم- أصحابه: أن يجعلوها عمرة، فيطوفوا ثم يُقَصِّرُوا ويَحِلُّوا، إلا من كان معه الهَدْي، فقالوا: ننطلق إلى مِنًى وَذَكَرُ أَحَدِنَا يَقْطُرُ؟   
فبلغ ذلك النبي - صلى الله عليه وسلم- فقال: لَوِ اسْتَقْبَلْتُ من أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ ؛ ما أَهْدَيْتُ ، ولولا أن معي الهَدْيَ لَأَحْلَلْتُ.   
وحاضت عائشة. فَنَسَكَتْ المنَاسِك كلها، غير أنها لم تَطُفْ بالبيت. فلما طَهُرت وطافت بالبيت قالت: يا رسول الله، تَنْطَلِقُونَ بحج وعمرة، وأنطلق بحج؟ فأمر عبد الرحمن بن أبي بكر: أن يخرج معها إلى التَّنْعِيمِ ، فاعتمرت بعد الحج».

Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- `Anhuma, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan ‎para sahabatnya berihram untuk haji, tidak ada seorangpun dari mereka yang memiliki hadyu ‎‎(hewan sembelihan) selain Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Ṭalḥah. Sementara itu Ali -raḍiyallāhu 'anhu- 'anhu- baru datang dari Yaman dengan membawa al-hadyu lalu berkata, “Aku ‎berihram (berniat haji) sebagaimana Nabi berihram. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ‎memerintahkan para sahabatnya agar menjadikan ihram mereka sebagai umrah, lalu merekapun ‎melaksanakan tawaf, kemudian mencukur rambut, lalu bertahalul, kecuali mereka yang ‎membawa hadyu. Kemudian mereka berkata: “Apakah kami akan berangkat menuju Mina padahal kemaluan (zakar) ‎salah seorang dari kami menetes (karena berjimak -edit)?‎" Hal ini kemudian sampai kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda, “Kalau aku bisa mengulang kembali apa yang telah lewat, aku tidak akan menyembelih, dan seandainya aku ‎tidak membawa hadyu (hewan sembelihan), tentu aku akan bertahalul.‎"
Dan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengalami haid sedangkan dia telah menuntaskan seluruh ‎manasik kecuali ṭawaf di Kakbah Baitullah. Ketika dia sudah suci, dia melaksanakan tawaf di ‎Baitullah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalian berangkat dengan niat haji dan umrah, ‎sedangkan aku dengan niat haji saja?”. Maka beliau perintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar ‎agar pergi bersama Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ke Tan'im. Maka Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ‎melaksanakan umrah setelah melaksanakan haji.‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يصف جابر بن عبد الله رضيَ الله عنهما حجة النبي صلى الله عليه وسلم بأنه وأصحابه أهلُّوا بالحج، ولم يَسُق أحدٌ منهم الْهَدْيَ إلا النبي صلى الله عليه وسلم وطلحة بن عبيد الله رضيَ الله عنه، وكان علي بن أبي طالب رضيَ الله عنه في اليمن، فقدم، ومن فقهه أحرم وعلَّق إحرامه بإحرام النبي صلى الله عليه وسلم.
فلما قدموا مكة، أمرهم النبي صلى الله عليه وسلم أن يفسخوا إحرامهم من الحج إلى العمرة، ويكون طوافهم وسعيهم للعمرة، ثم يقصروا ويُحِلُّوا التحلل الكامل. هذا في حق من لم يسق الهدي.
أما من ساقه - ومنهم النبي صلى الله عليه وسلم فبقوا -بعد طوافهم وسعيهم- على إحرامهم.
فقال الذين أُمِرُوا بفسخ حجهم إلى عمرة -متعجبين ومستعظمين-: كيف نتحلل ونجامع أهلنا ثم ننطلق إلى "مِنى" مُهِلين بالحج، ونحن حديثو عهد بذلك؟.
فبلغ النبيّ صلى الله عليه وسلم مقَالَتهم واستعظام ذلك في نفوسهم، فطمأن أنفسهم بما هو الحق وقال:
لو استقبلت من أمري ما استدبرت، ما سُقْتُ الهَدْىَ الذي منعني من التحلل، ولأحللت معكم. فرضيت أنفسهم واطمأنت قلوبهم.
وحاضت عائشة رضيَ الله عنها قُرْبَ دخولهم مكة، فصارت قارنة؛ لاًن حيضها منعها من الطواف بالبيت، وفعلت المناسك كلها غير الطواف والسعي.
فلما طهرت وطافت بالبيت طواف حجها، صار في نفسها شيء، إذ كان أغلب الصحابة -ومنهم أزواج النبي صلى الله عليه وسلم- قد فعلوا أعمال العمرة وحدها وأعمال الحج. وهي قد دخلت عمرتها في حجها.
فقالت: يا رسول الله، تنطلقون بحج وعمرة وأنطلق بحج؟.
فطيَّب خاطرها، وأمر أخاها عبد الرحمن أن يخرج معها إلى التنعيم، فاعتمرت بعد الحج.
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- mensifati haji Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa ‎beliau dan para sahabatnya berihram untuk haji, tidak ada seorangpun dari mereka yang ‎membawa hadyu (hewan sembelihan) kecuali Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Ṭalḥah bin ‎Ubaidillah. Dan Ali bin Abi Ṭalib baru tiba dari Yaman, berdasarkan pemahamannya diapun ‎langsung berihram dan mengaitkan ihramnya tersebut dengan ihram Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.‎
Ketika mereka telah tiba di Makkah, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan mereka ‎untuk merubah ihram haji mereka menjadi umrah, sehingga ṭawaf dan sa'i mereka adalah ‎untuk ibadah umrah, kemudian mencukur rambut dan bertahallul dengan sempurna. Ini hanya ‎berlaku khusus bagi mereka yang tidak membawa hadyu.‎
Adapun bagi mereka yang membawanya –diantaranya adalah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ‎maka mereka tetap dalam keadaan ihram mereka– setelah ṭawaf dan sa'i. Para ‎sahabat yang diperintahkan untuk merubah ihram haji mereka menjadi umrah berkata, ‎‎“Bagaimana bisa kami bertahalul dan menggauli istri-istri kami lalu berangkat ke Mina padahal ‎kami adalah orang-orang yang berihram untuk haji, dan kami baru saja melakukan itu?‎
Lalu perkataan mereka tersebut sampai kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan ‎keheranan dalam hati mereka akan hal itu, kemudian beliau menenangkan mereka dengan ‎kebenaran dan bersabda, “Kalau aku bisa mengulang kembali apa yang telah lewat, aku ‎tidak akan menyembelih, dan seandainya aku tidak membawa hadyu, sudah pasti aku akan bertahalul ‎bersama kalian,” Lalu merekapun rida dan tenanglah hati mereka.‎
Dan Aisyah mengalami haid sebelum mereka memasuki Makkah, sehingga hajinya menjadi ‎haji qiran; karena haid menghalanginya untuk melakukan tawaf di baitullah, dan ia ‎melakukan seluruh manasik selain tawaf dan sa'i.‎
Tatkala dia telah suci dan melakukan ibadah ṭawaf di baitullah untuk ibadah hajinya, ‎terbesitlah sesuatu di dalam dirinya, jika mayoritas para sahabat –termasuk istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang lain- telah melakukan rangkaian amalan ibadah umrah dan haji ‎secara terpisah, sementara ibadah umrah yang dilakukannya adalah bersamaan di dalam ‎rangkaian ibadah hajinya. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalian berangkat dengan ‎niat haji dan umrah, sedangkan aku dengan niat haji saja?” Kemudian beliaupun menenangkan ‎kekhawatirannya tersebut dan memerintahkan saudaranya yaitu Abdurrahman agar keluar ‎bersama Aisyah ke Tan'im, lalu diapun melaksanakan umrah setelah haji.‎

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4550

 
Hadith   709   الحديث
الأهمية: إنَّ اللهَ لا يَنْظُرُ إلى أَجْسامِكُمْ، ولا إلى صُوَرِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمَالِكُمْ
Tema: Sesungguhnya Allah tidak memandang pada fisik kalian, tidak pula pada bentuk rupa kalian, tetapi Dia memandang pada hati dan amal-amal kalian.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ، ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Sesungguhnya Allah tidak memandang pada fisik kalian, tidak pula pada bentuk rupa kalian, tetapi Dia memandang pada hati dan amal-amal kalian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إن الله لا يثيبكم ولا يجازيكم على أجسامكم وصوركم ولا يحصل لكم القرب منه سبحانه بذلك، ولكن تحصل المجازاة على ما في قلوبكم من الإخلاص والصدق وعلى الأعمال الصالحة التي تقومون بها
Tema: Sesungguhnya Allah tidak akan memberi pahala dan tidak akan memberikan kalian ganjaran berdasarkan indahnya fisik dan rupa kalian, dan tidak pula kedekatan dari-Nya tercapai dengan hal itu. Tetapi, ia dicapai dengan hal yang ada dalam hati kalian berupa keikhlasan, ketulusan, dan berbagai amal saleh yang kalian kerjakan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4555

 
Hadith   710   الحديث
الأهمية: إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام
Tema: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual-beli khamar, bangkai, babi dan patung-patung.

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- أنه سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول عام الفتح وهو بمكة:
«إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخِنزير والأصنام»، فقيل: يا رسول الله أرأيت شحوم الميتة، فإنه يُطلى بها السفن، ويُدهن بها الجلود، ويَستصبِح بها الناس؟ قال: «لا، هو حرام» ، ثم قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-عند ذلك: «قاتل الله اليهود، إن الله حرم عليهم الشحوم، فأَجْمَلوه، ثم باعوه، فأكلوا ثمنه».

Dari Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwasannya dia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada tahun penaklukan saat beliau di Makkah, "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual-beli khamar, bangkai, babi, dan patung-patung." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai lemak bangkai yang digunakan untuk memoles perahu-perahu dan meminyaki kulit-kulit, serta dijadikan penerangan oleh manusia?" Beliau menjawab, "Tidak. Dia haram." Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada saat itu, "Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Allah mengharamkan lemak bagi mereka lalu mereka mencairkannya lalu menjualnya dan memakan hasil penjualannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاءت هذه الشريعة الإسلامية السامية، بكل ما فيه صلاح للبشر، وحذّرت من كل ما فيه مضرة فأباحت الطيبات وحرمت الخبائث، ومن تلك الخبائث المحرمة هذه الأشياء الأربعة المعدودة في هذا الحديث، حيث ذكر جابر أنه سمع النبي -صلى الله عليه وسلم- ينهى عن بيعها بمكة عام الفتح, فالخمر والميتة والخنزير والأصنام, لا يحل بيعها ولا أكل ثمنها, لأنها عناوين المفاسد والمضار، ثم ذكر جابر أن بعض الصحابة قالوا: يا رسول الله! أرأيت شحوم الميتة؟ فإنه يطلى بها السفن لسد المسام الخشبية فلا تغرق، ويدهن بها الجلود فتلين، ويستصبح بها الناس أي يشعلون بها سرجهم، فقال -صلى الله عليه وسلم-: (هو حرام), ثم قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عند ذلك -منبها على أن التحيل على محارم الله، سبب لغضبه ولعنه-: لعن الله اليهود, إن الله -سبحانه- لما حرم عليهم شحوم الميتة، أذابوه، ثم باعوه, مع كونه حرم عليهم، فأكلوا ثمنه.
والضمير في قوله: "هو حرام" قيل: هو راجع إلى البيع، وقيل راجع إلى الاستعمال, وكونه راجعا إلى الانتفاع والاستعمال هو ما مالت إليه اللجنة الدائمة, وعلى هذا الرأي يحرم الانتفاع بشحوم الميتة، أو أي جزء منها، إلا ما خص بالدليل، كجلد الميتة إذا دبغ، والعلة والله أعلم من تحريم الانتفاع بشحوم الميتة فيما ذكر في الحديث نجاستها، فما حرم عينه لنجاسته حرم ثمنه والانتفاع به، وحرم تناوله من باب أولى.
Syariat Islam yang luhur datang dengan membawa kebaikan bagi umat manusia dan memperingatkan segala hal yang mengandung bahaya, lalu membolehkan hal-hal yang baik dan mengharamkan hal-hal yang buruk. Di antara hal buruk yang diharamkan yaitu empat hal yang disebutkan dalam hadis ini. Jābir menuturkan bahwa dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang menjual keempat hal tersebut di Makkah pada tahun penaklukkan. Dengan demikian, khamar, bangkai, babi, dan patung-patung tidak boleh dijual dan dimakan hasil penjualannya karena semua itu merupakan simbol-simbol kerusakan dan bahaya. Selanjutnya Jābir menuturkan bahwa beberapa sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai lemak bangkai? Sesungguhnya lemak bangkai digunakan untuk melumuri kapal-kapal agar menyumbat pori-pori kayu sehingga tidak tenggelam, dan digunakan untuk meminyaki kulit supaya lembut, serta orang-orang menjadikannya untuk penerangan. Yakni, orang-orang menyalakan pelitanya menggunakan lemak bangkai tersebut?" Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Itu haram." Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda -saat itu- sambil mengingatkan bahwa membuat rekayasa terhadap hal-hal yang diharamkan Allah merupakan sebab kemurkaan dan kutukan-Nya. Allah telah melaknat orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Allah -Subḥānahu- ketika mengharamkan lemak bangkai kepada mereka, mereka justru mencairkannya lalu menjualnya padahal lemak itu haram. Kemudian mereka memakan hasil penjualannya. Kata ganti dalam "Itu haram" ada yang mengatakan kembali kepada jual-beli. Ada juga yang berpendapat kembali kepada penggunaan. Dan keadaan kata ganti kembali kepada pemanfaatan dan penggunaan merupakan pendapat yang lebih dipegang oleh Al-Lajnah Ad-Dāimah (Komite Tetap Fatwa). Atas dasar pendapat itu maka diharamkan memanfaatkan lemak bangkai atau bagian apapun dari bangkai kecuali yang dikhususkan oleh dalil seperti kulit bangkai jika disamak. Sedangkan 'illat (alasan) -dan hanya Allah Yang Maha Tahu- diharamkannya memanfaatkan lemak bangkai sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut karena najis. Dengan demikian, sesuatu yang diharamkan karena najis maka hasil penjualan dan pemanfaatannya pun haram. Dan, lebih utama lagi diharamkan mengonsuminya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4556

 
Hadith   711   الحديث
الأهمية: إن بالمدينة لَرِجَالًا ما سِرْتُم مَسِيرًا، ولا قَطَعْتُم وَادِيًا، إلا كانوا مَعَكُم حَبَسَهم المرض
Tema: Sesungguhnya di Madinah ada lelaki-lelaki yang tidaklah kalian tempuh perjalanan atau menyusuri lembah melainkan mereka bersama kalian, mereka tertahan oleh sakit.

عن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصاري -رضي الله عنهما-، قال: كنا مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في غَزَاةٍ، فقال: «إن بالمدينة لَرِجَالًا ما سِرْتُم مَسِيرًا، ولا قَطَعْتُم وَادِيًا، إلا كانوا مَعَكُم حَبَسَهم المرضُ».
وفي رواية: «إلا شَرَكُوكُم في الأَجْرِ».
وعن أنس - رضي الله عنه - قال: رجعنا من غزوة تبوك مع النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: «إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شِعْبَا، ولا واديا، إلا وهم معنا؛ حبسهم العذر».

Dari Abu Abdullah Jābir Ibn Abdullah al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, kami bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam peperangan. Beliau bersabda, "Sesungguhnya di Madinah ada lelaki-lelaki yang tidaklah kalian tempuh perjalanan atau menyusuri lembah melainkan mereka bersama kalian, mereka tertahan oleh sakit." Dalam riwayat lain, "Melainkan mereka menyertai kalian dalam pahala." Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bersabda, "Ada kaum yang kita tinggalkan di Madinah, yang mana tidaklah kita lalui daerah dan lembah melainkan mereka bersama kita. Mereka tertahan oleh uzur."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر -صلى الله عليه وسلم- عن رجال ما حبسهم عن الجهاد في سبيل الله عز وجل إلا المرض ونحوه من الأعذار، فيخبر أنه ما سار الغُزاة سيرا ولا قطعوا واديا ولا شِعبا إلا وكُتِبَ لهؤلاء ثواب ذلك العمل.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan mengenai para pria yang tercegah ikut berjihad fi sabilillah -'Azza wa Jalla- karena sakit dan sebab uzur lain. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan, bahwa tidaklah para tentara mujahid menempuh perjalanan, menyusuri lembah dan tebing melainkan dicatatkan untuk mereka pahala aktivitas tersebut.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4557

 
Hadith   712   الحديث
الأهمية: أوليس قد جعل الله لكم ما تَصَّدَّقُون: إن بكل تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وكل تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وكل تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وكلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً
Tema: Bukankah Allah telah memberi kalian apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, setiap takbir ada sedekah, setiap tahmid ada sedekah dan di setiap tahlil ada sedekah.

عن أبي ذر الغفاري -رضي الله عنه- أن ناسًا من أصحاب رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- قالوا للنبي -صلى الله عليه وآله وسلم-: يا رسول الله، ذهب أهل الدُّثُور بالأجور: يُصلون كما نُصلِّي ويَصُومون كما نصومُ، ويَتصدقون بفُضُول أموالِهم.
قال: أوليس قد جعل الله لكم ما تَصَّدَّقُون: إن بكل تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وكل تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وكل تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وكلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وأمرٌ بمعروفٍ صَدَقَةٌ، ونَهْيٌ عن مُنكرٍ صَدَقَةٌ، وفي بُضْع أحدكم صدقة.
قالوا: يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوتَه ويكونُ له فيها أجر؟
قال أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وِزْرٌ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرٌ.

Dari Abu Dzarr al-Gifari -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa Ālihi wa sallam-, "Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya pergi (mati) membawa pahala-pahala; yakni mereka salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah telah memberi kalian apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, setiap takbir ada sedekah, setiap tahmid ada sedekah dan di setiap tahlil ada sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah dan dalam jimak salah seorang dari kalian ada sedekah." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala dalam perbuatan itu?" Beliau menjawab, "Apa pendapat kalian seandainya ia menyalurkannya dalam keharaman, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menyalurkannya pada yang halal, ia memperoleh pahala."

عن أبي ذر -رضي الله عنه- أن ناسا قالوا: يا رسول الله ذهب أهل الأموال بالأجور وأخذوها عنا، فهم يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ويتصدقوا بأموالهم الزائدة عن حاجتهم، فنحن وهم سواء في الصلاة وفي الصيام، ولكنهم يفضلوننا بالتصدق بما أعطاهم الله -تعالى- من فضل المال ولا نتصدق.
فأخبرهم النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه إذا فاتتهم الصدقة بالمال فهناك الصدقة بالأعمال الصالحة، فللإنسان بكل تسبيحة صدقة وكل تكبيرة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة.
ثم أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم-: أن الرجل إذا أتى امرأته فإن في ذلك صدقة.
فقالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر.
قال: أرأيتم لو زنى ووضع الشهوة في الحرام هل يكون عليه وزر؟ قالوا: نعم، قال فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر.

Dari Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa sejumlah orang berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi membawa pahala dan mereka mengambilnya dari kami. Mereka itu salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa dan mereka menyedekahkan harta mereka yang lebih dari kebutuhan. Kami dan mereka sama dalam salat dan puasa, namun mereka mengungguli kami dengan menyedekahkan sebagian kelebihan harta yang Allah berikan pada mereka, sedangkan kami tidak bisa sedekah." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabari mereka bahwa apabila sedekah harta tidak dapat mereka raih, masih ada sedekah dengan amal-amal saleh. Bagi manusia di setiap tasbih ada sedekah, di setiap takbir ada sedekah, di setiap tahmid ada sedekah dan di setiap tahlil ada sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah dan melarang kemungkaran adalah sedekah. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan bahwa apabila suami mendatangi istrinya maka padanya terdapat sedekah. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Apa pendapat kalian andai ia berzina dan menyalurkan syahwatnya dalam keharaman, apakah ia berdosa?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Demikian pula apabila ia menyalurkannya pada yang halal, ia memperoleh pahala."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4558

 
Hadith   713   الحديث
الأهمية: إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستح فاصنع ما شئت
Tema: Sesungguhnya di antara ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah, "Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu!"

عن أبي مسعود الأنصاري -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إنَّ مما أدرَكَ الناسُ من كلام النبوة الأولى إذا لم تستحي فاصنعْ ما شِئْتَ».

Dari Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya di antara ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah, "Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu!'"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إن مما أُثِرَ عن الأنبياء السابقين الوصية بالحياء, والحياء صفة في النفس تحمل الإنسان على فعل ما يجمل ويُزين، وترك ما يُدَنِّس ويشين، وهو من خصال الايمان فإذا لم يمنع المرءَ الحياءُ الذي هو من الإيمان من ارتكاب ما يشينه فما الذي سيمنعه؟
Tema: Sesungguhnya di antara warisan yang ditinggalkan oleh para Nabi terdahulu ialah berupa wasiat dengan sifat malu. Malu adalah sifat dalam jiwa yang membawa manusia untuk melakukan apa yang baik dan indah serta meninggalkan apa yang mengotori dan menodai. Malu merupakan perangai iman. Jika malu yang merupakan bagian dari iman tidak mencegah seseorang dari melakukan sesuatu yang menodainya, lantas apa yang akan mencegahnya?

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4559

 
Hadith   714   الحديث
الأهمية: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
Tema: Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.‎

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إنما الأعمال بِالنيَّات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرتُه إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرتُه لدنيا يصيبها أو امرأةٍ ينكِحها فهجرته إلى ما هاجر إليه».

Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.‎ Maka siapa yang niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena ‎Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau karena ‎seorang wanita yang akan ia nikahi, maka hijrahnya itu karena apa yang ia tuju”.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
هذا حديث عظيم الشأن, وقد عدّه بعض العلماء ثلث الإسلام, فالمؤمن يثاب بحسب نيته، وعلى قدر صلاحها، فمن كانت أعماله خالصة لله فهي مقبولة ولو كانت قليلة يسيرة بشرط موافقة السنة، ومن كانت أعماله رياء للناس وليست خالصة لله فهي مردودة وإن كانت عظيمة كثيرة.
وكل عمل ابتُغِي به غير وجه الله, سواء كان هذا المُبتغى امرأة أو مالأ أو جاهًا أو غير ذلك من أمور الدنيا؛ فإن هذا يكون ردًّا على صاحبه, لا يقبله الله منه, إذ إن شرطي قبول العمل الصالح: أن يكون العمل خالصًا لله, وأن يكون موافقًا لهدي رسول الله -صلى الله عليه وسلم-.
Hadis ini memiliki kedudukan yang sangat agung, bahkan sebagian ulama ‎menganggapnya sepertiga Islam.‎ Seorang muslim akan diberikan balasan pahala sesuai dengan niatnya dan sesuai dengan ‎kadar ketulusan niat tersebut. Siapa saja yang amalannya ikhlas karena Allah, ‎maka amalan itu akan diterima meskipun kecil dan sedikit dengan syarat harus sesuai Sunnah. Dan siapa saja yang beramal karena ingin dilihat orang lain, ‎tidak ikhlas karena Allah, maka amalannya tersebut tertolak meskipun itu adalah amalan yang ‎besar dan banyak.‎ Setiap amalan yang dilakukan bukan untuk mengharap keridaan Allah, baik yang ‎diharapkannya itu adalah seorang wanita, harta, kemuliaan, atau hal lainnya dari perkara-‎perkara duniawi; maka amalan tersebut akan tertolak, Allah tidak akan menerimanya, karena ‎syarat diterimanya suatu amalan adalah dua, yaitu: amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas ‎karena Allah, dan harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.‎

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4560

 
Hadith   715   الحديث
الأهمية: بينما نحن جلوس عند رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديدُ بياض الثياب شديد سواد الشعر لا يُرى عليه أثرُ السفر ولا يعرفه منا أحد
Tema: Suatu hari ketika kami bermajelis bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam pekat, tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan padanya dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya

عن عمر -رضي الله عنه- قال: «بينما نحن جلوسٌ عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ذات يوم إذ طَلَعَ علينا رجلٌ شديد بياض الثياب، شديد سَواد الشعر، لا يُرى عليه أثرُ السفر ولا يعرفه منَّا أحدٌ، حتى جلس إلى النَّبيِّ -صلى الله عليه وسلم-، فأسنَد ركبتيْه إلى ركبتيْه، ووضع كفَّيه على فخذيْه، وقال: يا محمد أخبرْني عن الإسلام؟ فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: الإسلامُ أن تشهدَ أن لا إله إلا الله وأنَّ محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتُؤتيَ الزكاة، وتصومَ رمضان، وتحجَّ البيت إن استطعتَ إليه سبيلاً، قال: صدقتَ، فعَجِبْنا له يَسأله ويُصدِّقه، قال: فأخبرْني عن الإيمان؟ قال: أن تؤمنَ بالله وملائكته وكُتبه ورسُله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدَر خيره وشرِّه، قال: صدقتَ، فأخبرْني عن الإحسان؟ قال: أن تعبدَ الله كأنَّك تراه، فإن لَم تكن تراه فإنَّه يراك، قال: فأخبرني عن الساعة؟ قال: ما المسؤول عنها بأعلمَ مِن السائل، قال: فأخبرني عن أمَاراتِها؟ قال: أنْ تلِدَ الأَمَةُ ربَّتَها، وأنْ تَرَى الحُفاةَ العُراة العَالَة رِعاءَ الشاءِ يَتَطاوَلون في البُنيان، ثمَّ انطلق فَلَبِثَ مليًّا ثم قال: يا عمر أتدري مَن السائل؟ قلتُ: الله ورسوله أعلم، قال: فإنَّه جبريلُ أتاكم يعلِّمُكم دينَكم».

Umar -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, "Suatu hari ketika kami bermajelis bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam pekat, tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan padanya dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, hingga dia duduk di hadapan Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau seraya berkata, 'Wahai Muhammad! Terangkanlah kepadaku tentang Islam!' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, 'Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah apabila engkau mampu melakukannya.' Orang itu berkata, 'Engkau benar.' Kami pun heran, karena ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, 'Terangkanlah kepadaku tentang iman!' Beliau menjawab, 'Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.' Orang itu berkata, 'Engkau benar. Terangkanlah kepadaku tentang ihsan!' Beliau bersabda, 'Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.' Orang itu berkata lagi, 'Beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat!' Beliau menjawab, 'Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.' Orang itu berkata, 'Kalau begitu, terangkan padaku tentang tanda-tandanya!' Beliau menjawab, 'Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa mengenakan pakaian, sangat miskin, dan pekerjaannya menggembalakan kambing, mereka berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah.' Lantas orang itu pergi. Nabi diam sebentar lalu berkata, 'Wahai Umar! Tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?' Aku Jawab, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian'."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
خرج    جبريل -عليه السلام- على الصحابة -رضي الله عنهم- بصورة رجل لا يُعرف، وهم جلوس عند النبي -صلى الله عليه وسلم-، فجلس بين يدي النبي -صلى الله عليه وسلم- جلسة المتعلم المسترشد، فسأله عن الإسلام، فأجابه بهذه الأركان التي تتضمن الإقرار بالشهادتين، والمحافظة على الصلوات الخمس، وأداء الزكاة لمستحقيها، وصيام شهر رمضان بنية صادقة، وأداء فريضة الحج على المستطيع، فصدقه، فاستغرب الصحابة من سؤاله الدال على عدم معرفته فيما يظهر ثم تصديقه له، وسأله عن الإيمان، فأجابه بهذه الأركان الستة المتضمنة أن الله هو الخالق الرازق، المتصف بالكمال المنزه عن النقص، وأن الملائكة التي خلقها الله عباد مكرمون لا يعصون الله -تعالى- وبأمره يعملون، والإيمان بالكتب المنزلة على الرسل من عند الله -تعالى-، وبالرسل المبلغين عن الله دينه، وأن الإنسان يبعث بعد الموت ويحاسب، ثم سأله عن الإحسان فأخبره أن الإحسان أن يعبد الله كأنه يشاهده -سبحانه-، فإن لم يقم بهذه العبادة، فليعبد الله -تعالى- خوفًا منه؛ لعلمه أنه مطلع لا تخفى عليه خافية، ثم بيَّن أن علم الساعة لا يعلمه أحد من الخلق، وأن من علامات الساعة كثرة السراري وأولادها، أو كثرة عقوق الأولاد لأمهاتهم يعاملونهن معاملة الإماء، وأن رعاة الغنم والفقراء تبسط لهم الدنيا في آخر الزمان؛ فيتفاخرون في زخرفة المباني وتشييدها، وكل هذه الأسئلة والأجوبة عليها لتعليم هذا الدين الحنيف من جبريل لقول رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: "هذا جبريل أتاكم يعلمكم دينكم".
Jibril -'alaihis-salām- menemui para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenal. Saat itu mereka sedang duduk bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas Jibril duduk di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan posisi duduk orang yang belajar dan meminta petunjuk. Kemudian ia bertanya kepada beliau tentang Islam. Beliau pun menjawabnya dengan rukun-rukun yang mencakup penetapan dua kalimat syahadat, memelihara salat lima waktu, menunaikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, puasa di bulan Ramadan dengan niat yang benar, dan melaksanakan ibadah haji bagi orang yang mampu. Ia pun membenarkan beliau. Tentu saja para sahabat heran terhadap pertanyaannya yang menunjukkan ketidaktahuannya sebagaimana yang tampak lalu dia membenarkannya. Dia juga bertanya kepada beliau mengenai iman, dan beliau menjawabnya dengan rukun-rukun yang enam yang mencakup bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki, yang memiliki sifat kesempurnaan yang suci dari kekurangan, dan sesungguhnya para malaikat yang Allah ciptakan adalah hamba-hamba mulia yang tidak pernah durhaka kepada Allah -Ta'ālā- dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Juga menjelaskan tentang iman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul dari sisi Allah -Ta'ālā-, iman kepada para Rasul yang menyampaikan agama-Nya, dan bahwa manusia akan dibangkitkan dan dihisab setelah kematian. Kemudian dia bertanya tentang ihsan. Maka beliau pun menyampaikan bahwa ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan dia menyaksikan-Nya, dan jika dia tidak mampu melaksanakan ibadah dengan sifat tersebut, hendaknya dia menyembah Allah -Ta'ālā- karena takut kepada-Nya karena pengetahuannya bahwa Dia menyaksikannya, tanpa ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa ilmu mengenai hari Kiamat tidak ada satu pun makhluk yang mengetahuinya, dan bahwa tanda-tanda Kiamat adalah banyaknya budak perempuan dan anak-anaknya, atau banyaknya kedurhakaan anak-anak kepada para ibu mereka yang mereka perlakukan layaknya budak perempuan. Juga bahwa dunia dibentangkan kepada para penggembala kambing dan orang-orang fakir di akhir zaman sehingga mereka pun saling membanggakan diri dengan hiasan bangunan dan pembangunannya. Semua pertanyaan dan jawaban tersebut merupakan pengajaran agama yang lurus ini dari Jibril; berdasarkan sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4563

 
Hadith   716   الحديث
الأهمية: دَعْ ما يَرِيبك إلى ما لا يَرِيبك
Tema: Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu dan beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukanmu!

عن الحسن بن علي بن أبي طالب -رضي الله عنهما- قال: حفظت من رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم-: «دَعْ ما يَرِيبك إلى ما لا يَرِيبك».

Dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, Saya menghafal dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam-, "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu dan beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukanmu!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
على المؤمن أن يترك ما يشك في حله خشية أن يقع في الحرام وهو لا يشعر؛ بل عليه أن ينتقل مما يشك فيه إلى ما كان حِله متيقنًا ليس فيه شبهة ليكون مطمئن القلب، ساكن النفس، راغبًا في الحلال الخالص، متباعدًا عن الحرام والشبهات وما تتردد فيه النفس.
Hendaknya seorang mukmin meninggalkan sesuatu yang diragukan kehalalannya karena khawatir jatuh ke dalam keharaman, tanpa dia rasakan. Ia juga harus beralih dari sesuatu yang diragukan kepada sesuatu yang diyakini kehalalannya dan tidak mengandung syubhat (kesamaran) agar harinya tenang, jiwanya tenteram, menyukai kehalalan yang murni, menjauhi keharaman dan syubhat serta hal-hal yang meragukan dalam jiwa.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4564

 
Hadith   717   الحديث
الأهمية: كان النبي-صلى الله عليه وسلم- يأمرُنا إذا كنا سَفْرًا -أو مُسافرين- أن لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِن جَنَابَةٍ، لكن مِن غَائِطٍ وبَوْلٍ ونَوْمٍ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh kami, jika kami sedang safar, supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya karena buang air besar atau kecil.

عن زر بن حبيش قال: أتيت صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ -رضي الله عنه- أسأله عن المسحِ على الخُفَّيْنِ، فقال: ما جاء بك يا زِرُّ؟ فقلت: ابتغاءَ العلمِ، فقال: إنَّ الملائكةَ تَضعُ أجنحتَها لطالبِ العلمِ رِضًى بما يطلب، فقلت: إنه قد حَكَّ في صدري المسحُ على الخُفَّيْنِ بعد الغَائِطِ والبَوْلِ، وكنتَ امرءًا من أصحابِ النبي -صلى الله عليه وسلم- فجئتُ أَسْأَلُكَ هل سمعتَه يذكر في ذلك شيئا؟ قال: نعم، كان يأمرُنا إذا كنا سَفْرًا -أو مُسافرين- أن لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِن جَنَابَةٍ، لكن مِن غَائِطٍ وبَوْلٍ ونَوْمٍ، فقلت: هل سمعتَه يذكُرُ في الهَوَى شيئا؟ قال: نَعم، كُنَّا مع رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- في سَفَرٍ، فبينا نحن عنده إذ ناداه أعرابي بصوت له جَهُورِيٍّ: يا محمدُ، فأجابه رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- نَحْوًا مِنْ صوته: «هَاؤُمُ» فقلت له: وَيْحَكَ! اغْضُضْ من صوتك فإنك عند النبي -صلى الله عليه وسلم- وقد نُهيتَ عن هذا! فقال: واللهِ لا أَغْضُضُ، قال الأعرابي: المرءُ يُحِبُّ القومَ ولَمَّا يَلْحَقْ بهم؟ قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: «المرَّءُ مع مَن أَحَبَّ يَومَ القِيامَةِ». فما زَال يحدِّثُنا حتى ذكر بَابًا من المغْرِبِ مسيرةُ عَرضِهِ أو يَسِيرُ الرَّاكِبُ في عَرْضِهِ أربعينَ أو سبعينَ عَامًا -قال سفيانُ أحدُ الرواة: قِبَلَ الشَّامِ- خَلَقَهُ اللهُ تعالى يومَ خَلقَ السَّمَاوَاتِ والأرضَ مَفْتُوحًا للتوبةِ لا يُغْلَقُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ.

Dari Zirr bin Ḥubaisy, ia berkata, Aku mendatangi Ṣafwān bin 'Assāl -raḍiyallāhu 'anhu- untuk menanyakan soal mengusap dua buah sepatu. Ṣafwān berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau datang ini wahai Zirr?", Aku menjawab, "Karena ingin mencari ilmu." Ia berkata lagi, "Sesungguhnya para malaikat itu meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena rida dengan apa yang mereka cari." Aku berkata, "Sebenarnya sudah tergerak dalam hatiku akan mengusap kedua sepatu itu sehabis buang air besar atau kecil, dan engkau adalah termasuk salah seorang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka dari itu aku datang untuk menanyakan apakah engkau pernah mendengar beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerangkan tentang hal itu?" Ṣafwān menjawab, "Iya pernah, jika kami sedang dalam keadaan safar, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh kami supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya karena buang air besar atau kecil, atau karena habis tidur, maka tidak perlu dilepaskan." Aku berkata lagi, "Apakah engkau pernah mendengar beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan sesuatu tentang persoalan cinta?" Dia menjawab, "Ya pernah, yaitu ketika kami bersama dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah perjalanan, ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba ada seorang arab badui memanggil beliau dengan suara yang keras sekali, ia berkata, "Wahai Muhammad." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawabnya dengan suara yang sama keras, “Kemarilah!” Lalu aku berkata kepada orang tersebut, "Celaka engkau! Pelankanlah suaramu, sebab engkau sedang berada di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan engkau dilarang untuk berperilaku seperti itu." Orang itu berkata, Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku. Badui berkata,“Ada orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia tidak dapat menyamai (derajat kemuliaan) mereka?” Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, “Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.” Kemudian Ṣafwān berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak henti-hentinya memberitahukan apa saja kepada kami, sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang lebarnya sama dengan jarak perjalanan seorang pengendara selama empat puluh atau tujuh puluh tahun. Sufyān (salah seorang perawai) mengatakan, "tempatnya di arah Syam." Allah –'Azzā wa Jallā- menciptakan pintu tersebut pada hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi, pintu tersebut senantiasa terbuka untuk menerima tobat hingga saat terbitnya matahari dari sebelah barat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء زرُّ بن حبيش إلى صفوان بن عسال -رضي الله عنه- يسأله عن المسح على الخفين، فسأله عن السبب الذي جاء من أجله، فقال زر: جئتُ من أجل العلم، فأخبره صفوان أن الملائكة تكف أجنحتها عن الطيران وتلتزم السكينة توقيرا لطالب العلم ورِضًى بما يطلب.
فقال زر: إنه قد صار عندي توقف وشك في المسح على الخفين بعد البول أو الغائط هل هذا جائز أو لا؟
فبين له صفوان بن عسَّال -رضي الله عنه- أن ذلك جائز لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- أمرهم إذا كانوا مسافرين أن لا ينزعوا خفافهم إلا إذا كان سيغتسل من الجنابة فلا بد من نزع الخف ونحوه، ولكن عند الوضوء من غائط وبول ونوم فإنه يجوز أن يمسح.
ثم إن زر بن حبيش سأل صفوان بن عسال: هل سمع من النبي -صلى الله عليه وسلم- يقول في الهوى -أي: المحبة- شيئًا؟
فقال: نعم، ثم ذكر قصة الأعرابي الذي كان جهوري الصوت فجاء ينادي: يا محمد؛ بصوت مرتفع.
فقيل له: ويحك أتنادي رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بصوت مرتفع؟ والله -عز وجل- يقول: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ} (الحجرات: 2)، ولكن الأعراب لا يعرفون الآداب كثيراً؛ لأنهم بعيدون عن المدن وبعيدون عن العلم.
فأجابه النبي -صلى الله عليه وسلم- بصوت مرتفع كما سأل الأعرابي؛ لأن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أكمل الناس هديًا، يعطي كل إنسان بقدر ما يتحمله عقله، فخاطبه النبي -صلى الله عليه وسلم- بمثل ما خاطبه به، قال له الأعرابي: "المرء يحب القوم ولما يلحق بهم"، يعني: يحب القوم ولكن عمله دون عملهم؛ لا يساويهم في العمل، مع من يكون؟ أيكون معهم أو لا؟
فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "المرء مع من أحب يوم القيامة".
ثم قال: فما زال يحدثنا النبي -صلى الله عليه وسلم- حتى ذكر بابا من المغرب بين طرفيه أو يسير الراكب بينهما أربعين أو سبعين عاما قِبلَ الشام، خلقه الله -عز وجل- يوم خلق السماوات والارض مفتوحًا لقبول التوبة حتى تطلع الشمس من المغرب.
Zirr bin Ḥubaisy datang menemui Ṣafwān bin 'Assāl -raḍiyallāhu 'anhu- untuk bertanya tentang persoalan mengusap dua sepatu. Lalu Ṣafwān bertanya tentang alasan kedatangannya. Zirr lalu menjawab, "Aku datang untuk menuntut ilmu." Maka Ṣafwān pun memberitahukan kepadanya bahwa para malaikat menutup sayapnya agar tidak terbang dan senantiasa tenang karena memuliakan orang yang menuntut ilmu serta keridaan mereka dengan ilmu yang ia cari. Kemudian Zirr berkata, "Sesungguhnya ada keraguan dari diriku terkait mengusap kedua sepatu setelah buang air kecil atau buang air besar, apakah hal ini boleh dilakukan atau tidak?" Lalu Ṣafwān bin 'Assāl -raḍiyallāhu 'anhu- menjelaskan bahwa hal itu boleh dilakukan; karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh mereka (para sahabat), jika mereka sedang dalam kondisi safar supaya tidak melepaskan sepatu kecuali jika hendak mandi janabah, maka harus melepaskan sepatu dan yang semisalnya. Tetapi kalau hanya untuk berwudu karena membuang air besar atau kecil, atau karena habis tidur, maka dibolehkan untuk mengusapnya. Kemudian Zirr bin Ḥubaisy bertanya kembali kepada Ṣafwān bin 'Assāl, "Apakah ia pernah mendengar dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengatakan sesuatu tentang cinta?" Dia menjawab, "Iya pernah." Kemudian ia menyebutkan kisah seorang arab badui yang memiliki suara lantang, ia datang lalu memanggil, "Wahai Muhammad!" dengan suara keras. Kemudian dikatakan kepada orang tersebut, Celaka engkau! Apakah engkau memanggil Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan suara yang keras? Padahal Allah –'Azzā wa Jallā- telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Ḥujurāt: 2). Namun mayoritas arab badui tidak mengenal adab sopan santun karena mereka jauh dari perkotaan dan ilmu. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawabnya dengan suara yang sama keras seperti ia ketika bertanya karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah orang yang paling sempurna prilakunya, beliau menyampaikan pada setiap orang sesuai dengan apa yang dapat dipahami oleh akalnya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbicara dengannya seperti kadar pembicaraan orang tersebut kepada beliau. Orang tersebut berkata kepada beliau, “Ada orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia tidak dapat menyamai (derajat kemuliaan) mereka.” Yakni dia mencintai kaum tersebut tapi amalannya lebih sedikit dibandingkan amalan mereka; dia sama sekali tidak menyamai banyaknya amalan mereka, lantas bersama siapakah dia nanti (di akhirat)? Apakah ia akan bersama mereka atau tidak? Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, “Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.” Kemudian Ṣafwān berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak henti-hentinya memberitahukan apa saja kepada kami, sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang lebarnya sama dengan jarak perjalanan seorang pengendara selama empat puluh atau tujuh puluh tahun, tempatnya di arah Syam, Allah –'Azzā wa Jallā- menciptakan pintu tersebut pada hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi, pintu tersebut senantiasa terbuka untuk menerima tobat hingga saat terbitnya matahari dari sebelah barat."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis hasan sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4565

 
Hadith   718   الحديث
الأهمية: صلاةُ الرجلِ في جماعةٍ تَزِيدُ على صلاتهِ في سُوقِهِ وبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Tema: Salat seseorang dengan berjemaah lebih banyak pahalanya daripada salat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20-an derajat.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «صلاةُ الرجلِ في جماعةٍ تَزِيدُ على صلاتهِ في سُوقِهِ وبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً، وذلك أنَّ أحدَهُم إذا توضأَ فأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ أتى المسجدَ لا يُرِيدُ إلا الصلاةَ، لا يَنْهَزُهُ إلا الصلاةُ لم يخطُ خطوةً إلا رُفِعَ له بها درجةٌ، وحُطَّ عنه بها خطيئةٌ حتى يدخلَ المسجدَ، فإذا دخل المسجد كان في الصلاةِ ما كانت الصلاةُ هي تَحْبِسُهُ، والملائكةُ يُصلونَ على أحدِكُم ما دَامَ في مَجْلِسِهِ الذي صَلَّى فيه، يقولون: اللهُمَّ ارْحَمْهُ، اللهُمَّ اغْفِرْ له، اللهُمَّ تُبْ عليه، ما لم يُؤْذِ فِيهِ، ما لم يُحْدِثْ فِيهِ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Salat seseorang dengan berjemaah lebih banyak pahalanya daripada salat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20-an derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk salat, maka tiap ia melangkah satu langkah akan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai dia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan salat selama ia menunggu hingga salat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat salat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah tobatnya.” Hal itu berlangsung selama ia tidak berbuat kejelekan (mengganggu) dan tidak berhadas (batal wudu) di masjid.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إذا صلى الإنسان في المسجد مع الجماعة كانت هذه الصلاة أفضل من الصلاة في بيته أو في سوقه سبعاً وعشرين مرة؛ لأن الصلاة مع الجماعة قيام بما أوجب الله من صلاة الجماعة.
ثم ذكر السبب في ذلك: بأن الرجل إذا توضأ في بيته فأسبغ الوضوء، ثم خرج من بيته إلى المسجد لا يخرجه إلا الصلاة، لم يخط خطوة إلا رفع الله بها درجة وحط عنه بها خطيئة، سواء أقرب مكانه من المسجد أم بعد، وهذا فضل عظيم، حتى يدخل المسجد، فإذا دخل المسجد فصلى ما كتب له، ثم جلس ينتظر الصلاة، فإنه في صلاة ما انتظر الصلاة، وهذه أيضاً نعمة عظيمة، لو بقيت منتظراً للصلاة مدة طويلة، وأنت جالس لا تصلي، بعد أن صليت تحية المسجد، وما شاء الله، فإنه يحسب لك أجر الصلاة.
والملائكة تدعوا له ما دام في مجلسه الذي صلي فيه، تقول: "اللهم صل عليه، اللهم اغفر له، اللهم ارحمه، اللهم تب عليه"، وهذا أيضًا فضل عظيم لمن حضر بهذه النية وبهذه الأفعال.
Apabila seseorang salat di masjid berjemaah, maka salat ini lebih utama dari salat di rumahnya atau di pasarnya sebanyak duapuluh tujuh kali. Sebab, salat berjemaah merupakan bentuk melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah berupa salat berjemaah. Setelah itu disebutkan sebabnya, yaitu bahwa seseorang apabila wudu di rumahnya lalu menyempurnakan wudunya. Selanjutnya keluar dari rumahnya ke masjid. Tidak ada yang membuatnya keluar kecuali salat. Tidaklah ia melangkahkan satu langkah melainkan Allah mengangkat dengannya satu derajat dan menggugurkan satu dosa, baik tempatnya sangat dekat dari masjid atau jauh. Ini adalah keutamaan yang besar sampai dia masuk masjid. Apabila sudah masuk masjid lalu mendirikan salat yang telah ditentukan untuknya (tahiyyatul masjid dan lainnya), lalu duduk menanti salat (wajib), maka ia terhitung dalam salat selama menunggu salat itu. Ini juga adalah kenikmatan besar. Seandainya engkau menunggu salat dalam waktu yang lama dan engkau duduk tanpa melaksanakan salat setelah melaksanakan salat tahiyatul masjid - sesuai kehendak Allah, Dia menghitung hal itu sebagai pahala salat untukmu. Para malaikat pun mendoakannya selama dia ada di majlis tempatnya melaksanakan salat. Mereka mengucapkan, "Ya Allah, selamatkanlah dia. Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, terimalah tobatnya." Ini juga merupakan keutamaan yang besar bagi orang yang hadir dengan niat tersebut dan melakukan berbagai amalan itu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4566

 
Hadith   719   الحديث
الأهمية: كل سُلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس: تَعْدِلُ بين اثنين صدقةٌ، وتُعِينُ الرجلَ في دابتِه فتَحملُهُ عليها أو تَرفعُ له عليها متاعَهُ صَدَقَةٌ، والكلمةُ الطيبةُ صدقةٌ
Tema: Setiap persendian/ruas tulang manusia ada sedekahnya (yang wajib dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang dalam kendaraannya lalu menaikkannya ke atas kendaraan dan mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, serta perkataan yang baik pun adalah sedekah.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه-    قال رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم-: «كل سُلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس: تَعْدِلُ بين اثنين صدقةٌ، وتُعِينُ الرجلَ في دابتِه فتَحملُهُ عليها أو تَرفعُ له عليها متاعَهُ صَدَقَةٌ، والكلمةُ الطيبةُ صدقةٌ، وبكل خُطْوَةٍ تمشيها إلى الصلاة صدقةٌ، وتُميط الأذَى عن الطريق صدقةٌ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Setiap persendian/ruas tulang manusia ada sedekahnya (yang wajib dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang dalam kendaraannya lalu menaikkannya ke atas kendaraan dan mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, serta perkataan yang baik pun adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah dan menyingkirkan rintangan/gangguan dari jalan adalah sedekah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كلُّ يوم تطلع فيه الشمس فعلى جميع تلك السلامى -وهي ستون وثلاثمائة- صدقة في ذلك اليوم، ثم ذكر بعد ذلك أمثلة مِمَّا تحصل به الصدقة، وهي فعلية وقولية، وقاصرة ومتعدِّية، ومعنى قاصرة أي نفعها لفاعلها، ومتعدية أي نفعها يصل للآخرين.
وما ذكره النَّبيُّ -صلى الله عليه وسلم- في هذا الحديث هو من قبيل التمثيل لا الحصر، فالعدل بين الاثنين يكون في الحكم أو الصلح بين متنازعين بالعدل، وهو قوليٌّ متعدٍّ، وإعانة الرَّجل في حمله على دابَّته أو حمل متاعه عليها هو فعليٌّ متعدٍّ، وقول الكلمة الطيِّبة يدخل تحته كلُّ كلام طيِّب من الذِّكر والدعاء والقراءة والتعليم والأمر والمعروف والنهي عن المنكر وغير ذلك، وهو قوليٌّ قاصرٌ ومتعدٍّ، وكلُّ خطوة يمشيها المسلم إلى الصلاة صدقة من المسلم على نفسه، وهو فعليٌّ قاصر، وإماطة الأذى عن الطريق من شوك أو حجر أو زجاج وغير ذلك، وهو فعليٌّ متعدٍّ.
Setiap hari saat matahari terbit, diwajibkan kepada seluruh persendian tulang - yang berjumlah tiga ratus enampuluh ruas - untuk bersedekah pada hari itu. Selanjutnya beliau menuturkan berbagai contoh yang dapat dijadikan sebagai sedekah. Contoh-contoh itu bersifat perbuatan dan ucapan, yang terbatas dan yang meluas. Yang dimaksud dengan terbatas, yakni manfaatnya hanya untuk pelakunya, dan yang dimaksud meluas yaitu manfaatnya sampai menyebar ke orang lain. Apa yang diutarakan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis ini sebagai contoh perwakilan bukan pembatasan. Tindakan keadilan di antara dua orang bisa dilakukan dalam keputusan atau mendamaikan antara dua orang yang berselisih dengan cara yang adil. Itu adalah sesuatu yang bersifat ucapan yang meluas. Membantu seseorang naik ke kendaraannya atau menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya adalah bersifat perbuatan yang meluas. Sedangkan mengucapkan perkataan yang baik mencakup segala perkataan baik berupa zikir, doa, membaca, mengajar, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran dan sebagainya. Itu adalah hal yang bersifat ucapan yang terbatas dan meluas. Setiap langkah yang diayunkan oleh seorang muslim menuju salat adalah sedekah dari orang muslim untuk dirinya. Ini perbuatan yang bersifat individu terbatas. Membuang duri atau batu atau kaca (beling) dan sebagainya dari jalan adalah perbuatan yang sifatnya meluas.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4568

 
Hadith   720   الحديث
الأهمية: كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أو عَابِرُ سَبِيلٍ
Tema: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.‎

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- بَمنكِبي فقال: كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أو عَابِرُ سَبِيلٍ».
وكان ابن عمر -رضي الله تعالى عنهما- يقول: إذا أمسيتَ فلا تَنْتَظِرْ الصباحَ، وإذا أصبحتَ فلا تَنْتَظِرْ المساءَ، وخُذْ من صِحَّتِكَ لمرضِكَ، ومن حَياتِكَ لموتِكَ.

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memegang kedua pundakku lalu bersabda, "Jadilah engkau di ‎dunia seperti orang asing atau musafir!"‎
Dan Ibnu 'Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Apabila engkau berada di sore hari ‎maka janganlah menunggu hingga pagi hari, dan apabila engkau berada di pagi ‎hari maka janganlah menunggu hingga sore hari! Pergunakanlah waktu sehatmu ‎untuk (menyongsong) waktu sakitmu, dan pergunakanlah hidupmu untuk (menyambut) kematianmu!"‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحديث يدور على التخفف من الدنيا، وترك الانشغال بها عن الآخرة، وتقصير الأمل مما فيها، والحث على طلب الصالحات، والتحذير من تسويف التوبة، واغتنام وقت الصحة قبل نزول المرض، ووقت الفراغ قبل حدوث المشغل.
Hadis tersebut berbicara seputar anjuran meringankan diri dari urusan ‎dunia, meninggalkan kesibukan dengannya yang dapat melalaikan ‎dari urusan akhirat, memendekkan angan-angan dari kemewahannya, motivasi untuk mencari kebaikan demi kebaikan, dan peringatan ‎dari sikap menunda-nunda tobat, serta mempergunakan waktu sehat ‎sebelum ditimpa penyakit, dan waktu luang sebelum ‎datangnya kesibukan.‎

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4704

 
Hadith   721   الحديث
الأهمية: لا تَحَاسَدُوا، ولا تَنَاجَشُوا ولا تَبَاغَضُوا، ولا تَدَابَرُوا، ولا يَبِعْ بَعْضُكم على بَيْعِ بعضٍ، وكُونوا عبادَ الله إخوانًا
Tema: Janganlah saling mendengki, saling meninggikan harga lelang tidak untuk membeli, saling membenci, saling membelakangi dan jangan sebagian kalian menjual (merecoki) jual beli yang lain, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara!

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «لا تَحَاسَدُوا، ولا تَنَاجَشُوا ولا تَبَاغَضُوا، ولا تَدَابَرُوا، ولا يَبِعْ بَعْضُكم على بَيْعِ بعضٍ، وكُونوا عبادَ الله إخوانًا، المسلمُ أخُو المسلمِ لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَكذبه ولا يَحْقِرُه، التقوى ههنا -ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بِحَسْبِ امرِئٍ من الشَّرِّ أن يَحْقِرَ أخَاه المسلمَ، كُلُّ المسلمِ على المسلمِ حرامٌ: دَمُهُ ومَالُهُ وعِرْضُهُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Janganlah saling mendengki, saling meninggikan harga lelang tidak untuk membeli, saling membenci, saling membelakangi dan jangan sebagian kalian menjual (merecoki) jual beli yang lain, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim saudara muslim lainnya, tidak boleh menzalimi, menipu, membohongi dan merendahkannya. Takwa itu di sini –beliau menunjuk dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang itu berbuat buruk kala menghina saudaranya muslim. Setiap muslim terhadap muslim lain haram darah, harta dan kehormatannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث يرشدنا النبي الكريم -صلى الله عليه وسلم- إلى ما يجب علينا معشر المسلمين، بأن نكون متحابين متآلفين متعاملين فيما بيننا معاملة حسنة شرعية تهدينا إلى مكارم الأخلاق، وتبعدنا عن مساوئها، وتذهب عن قلوبنا البغضاء، وتجعل معاملة بعضنا لبعض معاملة سامية خالية من الحسد، والظلم، والغش وغير ذلك مما يستجلب الأذى والتفرق؛ لأن أذية المسلم لأخيه حرام سواء بمال أو بمعاملة أو بيد أو بلسان، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه، وإنما العز والشرف بالتقوى.
Dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengarahkan kita pada apa-apa yang wajib dipraktekkan oleh kita sebagai kaum muslimin. Hendaknya kita saling mencintai, berlemah lembut, mempergauli sesama kita dengan pergaulan yang baik lagi seusai syariat, yang menghantar pada akhlak mulia. Yang menjauhkan kita dari keburukan dan mengusir dari hati-hati kita kebencian. Menjadikan pergaulan diantara kita pergauluan yang mulia, tanpa kedengkian, kezaliman, penipuan dan lain sebagainya yang mengakibatkan kelabilan dan perpecahan, karena menyakiti saudara muslim diharamkan, baik dengan harta, pergaulan, tangan dan lisan. Setiap muslim terhadap muslim yang lain haram darah, harta dan kehormatannya. Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan itu pada ketakwaan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4706

 
Hadith   722   الحديث
الأهمية: أن رجلًا قال للنبي -صلى الله عليه وآله وسلم-: أوصني، قال لا تَغْضَبْ فردَّدَ مِرارًا، قال لا تَغْضَبْ
Tema: Seseorang berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berilah aku wasiat!" Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali. Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!"

عن أبي هريرة -رضي الله عنه-: أن رجلًا قال للنبي -صلى الله عليه وآله وسلم-: أوصني، قال لا تَغْضَبْ فردَّدَ مِرارًا، قال لا تَغْضَبْ».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Seseorang berkata kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berilah aku wasiat!" Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali. Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
طلب أحد الصحابة -رضوان الله عليهم- من النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يأمره بشيء ينفعه في الدنيا والآخرة، فأمره ألا يغضب، وفي وصيته "لا تغضب" دفع لأكثر شرور الإنسان.
Salah seorang sahabat -raḍiyallāhu 'anhu- meminta dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suatu nasihat yang bermanfaat bagi dirinya di dunia dan akhirat. Maka beliau menyuruhnya agar jangan marah. Dalam wasiat beliau "Jangan engkau marah" dapat mengusir mayoritas pemicu keburukan manusia.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4709

 
Hadith   723   الحديث
الأهمية: لا ضَرَرَ ولا ضِرَارَ
Tema: Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه-    أن رسول الله -صلى الله وعليه وسلم- قال: «لا ضَرَرَ ولا ضِرَارَ».

Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحديث يمثل قاعدة الإسلام في الشرائع وقواعد الأخلاق والتعامل بين الخلق، وهي دفع الضرر عنهم بمختلف أنواعه ومظاهره، فالضرر محرم وإزالة الضرر واجب، والضرر لا يزال بالضرر، والمضار محرمة.
Hadis ini merupakan salah satu kaidah Islam dalam syariat, akhlak, dan interaksi dengan sesama makhluk. Yaitu menangkal bahaya dari mereka dengan beragam jenis dan indikasinya. Tindakan membahayakan adalah haram dan melenyapkan tindakan tersebut adalah wajib. Bahaya sendiri tidak boleh dihilangkan dengan bahaya dan tindakan membahayakan itu haram.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Malik]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4711

 
Hadith   724   الحديث
الأهمية: لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث: الثَّيِّبُ الزاني، والنفسُ بالنفس، والتاركُ لدينه المفارقُ للجماعة
Tema: Tidak dihalalkan darah seorang muslim, kecuali (karena ia) melakukan salah satu dari tiga hal; orang yang telah menikah namun berzina, membunuh orang, dan keluar dari agama lagi memisahkan diri dari jemaah.

عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم-: «لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث: الثَّيِّبُ الزاني، والنفسُ بالنفس، والتاركُ لدينه المفارقُ للجماعة».

Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- bersabda, "Tidak dihalalkan darah seorang muslim, kecuali (karena ia) melakukan salah satu dari tiga hal; orang yang telah menikah namun berzina, membunuh orang, dan keluar dari agamanya lagi memisahkan diri dari jemaah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
دم المسلم حرام لا يحل إلا بإحدى الخصال الثلاث المذكورة في الحديث، من تزوج ووطئ في نكاح صحيح ثم زنى بعد ذلك، و من قتل مسلما عمدا بغير حق، والتارك للإسلام المفارق لجماعة المسلمين، وما في معناها، فلا يجوز إراقة دم المسلم بغير هذه الثلاث، وما يرجع إليها ويجري مجراها مما لم يُذكر في الحديث نصا، ومن ذلك: قتل اللوطي ومن أتى ذات محرم، فمرده إلى الخصلة الأولى، كما يرجع قتل الساحر ونحوه إلى الخصلة الثالثة، وهكذا.
Darah seorang muslim haram (ditumpahkan) kecuali oleh salah satu dari tiga perkara yang disebutkan dalam hadis; orang yang sudah kawin dan berhubungan badan dalam pernikahan yang sah lalu melakukan zina, orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja tanpa sebab yang dibenarkan, dan orang yang keluar dari Islam lagi memisahkan diri dari jemaah kaum muslimin. Demikianlah, tidak dibolehkan menumpahkan darah seorang muslim tanpa tiga sebab tersebut. Begitu pula berbagai masalah yang berakar darinya dan sejalan dengannya yang tidak disebutkan dalam hadis secara tekstual. Di antaranya, membunuh orang yang melakukan tindakan homoseksual/sodomi, bersetubuh dengan mahram, maka (hukumnya) dikembalikan kepada poin yang pertama, sebagaimana membunuh tukang sihir dan sebagainya dikembalikan kepada poin ketiga. Demikian seterusnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4714

 
Hadith   725   الحديث
الأهمية: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علينا، فبابٌ نتمسك به جامع؟
قال: لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله -عز وجل-

Tema: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak kepada kami, apakah ada satu bab komprehensif yang bisa kita pegang? Beliau bersabda, "Biasakanlah lisanmu terus-menerus basah oleh zikir kepada Allah -'Azza wa Jalla-!

عن عبد الله بن بسر -رضي الله عنه- قال: أتى النبي -صلى الله عليه وسلم- رجل، فقال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علينا، فبابٌ نتمسك به جامع؟
قال: «لا يزال لسانك رَطْبًا من ذكر الله -عز وجل-».

Dari Abdullah bin Bisr -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak kepada kami, apakah ada satu bab komprehensif yang bisa kita pegang?' Beliau bersabda, "Biasakanlah lisanmu terus-menerus basah oleh zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla!"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث أن رجلاً من الصحابة الكرام طلب من الرسول صلى الله عليه وسلم أن يدله على أمر سهل جامع شامل لخصال الخير، فأرشده الرسول صلى الله عليه وسلم إلى ذكر الله، فقال: لا يزال لسانك رطباً، أي غضًا من ذكر الله، تديم تكراره آناء الليل والنهار، فاختاره له صلى الله عليه وسلم الذكر لخفته وسهولته عليه ومضاعفة أجره ومنافعه العظيمة التي لا تُعَد.
Dalam hadis ini disebutkan bahwa seorang lelaki dari sahabat yang mulia datang meminta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar menunjukkannya kepada satu hal yang mudah, komprehensif dan mencakup sifat-sifat baik.
Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan padanya zikir kepada Allah. Beliau bersabda, "Biasakanlah lisanmu terus-menerus basah!" yakni, basah dengan zikir kepada Allah, senantiasa mengulang-ulanginya sepanjang siang dan malam. Lantas beliau memilih zikir untuknya karena ringan, mudah, pahalanya berlipat ganda dan manfaat-manfaatnya yang besar, tak terhingga.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4716

 
Hadith   726   الحديث
الأهمية: لا يؤمنُ أحدُكم حتى يحبَّ لأخيه ما يحبُّ لنفسِه
Tema: Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia mencintai dirinya sendiri.

عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يؤمنُ أحدُكم حتى يحبَّ لأخيه ما يحبُّ لنفسِه».

Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia mencintai dirinya sendiri."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
على المؤمن كامل الإيمان أن يحب لأخيه المسلم ما يحب لنفسه، ومعنى هذه المحبة هي مواساته أخاه بنفسه في جميع الأمور التي فيها نفع، سواء دينية أو دنيوية، من نصح وإرشاد إلى خير وأمر بمعروف ونهي عن منكر، وغير ذلك مما يوده لنفسه، فإنه يرشد أخاه إليه، وما كان من شيء يكرهه وفيه نقص أو ضرر فإنه يبعده عنه.
Seyogianya bagi seorang mukmin yang memiliki iman sempurna agar mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Makna kecintaan ini ialah mengulurkan bantuan kepada saudaranya dengan dirinya sendiri dalam segala urusan yang mengandung manfaat, baik secara agama ataupun duniawi, berupa nasihat dan bimbingan kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran, dan hal-hal lainnya yang disukai untuk dirinya sendiri. Ia menunjukkan hal itu kepada saudaranya. Dan apapun yang tidak disukainya serta mengandung kekurangan atau bahaya, hendaknya ia menjauhkan itu dari saudaranya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4717

 
Hadith   727   الحديث
الأهمية: لكَ ما نويتَ يا يزيدُ، ولك ما أخذتَ يا معن
Tema: Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid, sedangkan bagimu apa yang telah engkau ambil, wahai Ma'in.

عن معن بن يزيد بن الأخنس -رضي الله عنهم- قال: كان أبي يزيدُ أَخْرجَ دَنَانِيرَ يتصدقُ بها، فوضعها عند رجلٍ في المسجدِ، فجِئْتُ فأخذتُها فأَتَيْتُهُ بها، فقال: واللهِ، ما إيَّاكَ أردتُ، فخَاصَمْتُهُ إلى رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فقال: «لكَ ما نويتَ يا يزيدُ، ولك ما أخذتَ يا معنُ».

Dari Ma'in bin Yazid bin Al-Akhnas -raḍiyallāhu 'anhum-, ia berkata, "Ayahku, Yazid mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan. Lantas ia meletakkan dinar-dinar itu di sisi seseorang di masjid. Aku pun datang lalu mengambil dinar-dinar itu dan membawanya kepada ayahku. Ia berkata, "Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki (untuk sedekah itu)." Aku pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bersabda,"Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid, sedangkan bagimu apa yang telah engkau ambil, wahai Ma'in."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخرج يزيد بن الأخنس دراهم عند رجل في المسجد؛ ليتصدق بها على الفقراء، فجاء ابنه معن فأخذها، فقال له: ما أردتُ أن أتصدق بهذه الدراهم عليك، فذهبا ليتحاكما إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "لك يا يزيد ما نويتَ لأنك أوصلت الصدقة إلى فقير من فقراء المسلمين فوجب لك الأجر على نيتك، ولك يا معن ما أخذت" لأنك أخذته بوجه صحيح وقد كان ابنه من المستحقين لهذه الصدقة.
Yazid bin Al-Akhnas mengeluarkan beberapa dirham kepada seseorang di mesjid agar ia bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir. Lantas anaknya, Ma'in datang lalu mengambil dirham-dirham tersebut. Orang Yazid berkata kepada anaknya, "Aku tidak berkehendak untuk bersedekah dengan dirham-dirham ini kepadamu." Lalu keduanya pergi untuk mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu Beliau bersabda, "Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid, karena engkau telah menyampaikan sedekah kepada salah satu kaum muslimin yang fakir. Dengan demikian, engkau harus memperoleh balasan atas niatmu, sedangkan bagimu apa yang telah engkau ambil." Sebab, engkau mengambilnya dengan cara yang sah dan anaknya termasuk orang yang layak mendapatkan sedekah itu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4719

 
Hadith   728   الحديث
الأهمية: لو أنكم توكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا، وتروح بطانا
Tema: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki; yaitu dia pergi pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.

عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «لو أنكم كنتم توَكَّلُون على الله حق توَكُّلِهِ لرزقكم كما يرزق الطير، تَغْدُو خِمَاصَاً، وتَرُوحُ بِطَاناَ».

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki; yaitu dia pergi pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يرشدنا هذا الحديث إلى أن نتوكل على الله تعالى في جميع أمورنا، وحقيقة التوكل: هي الاعتماد على الله عز وجل في استجلاب المصالح ودفع المضار في أمور الدنيا والدين؛ فإنه لا يعطي ولا يمنع ولا يضر ولا ينفع إلا هو سبحانه وتعالى، وأن على الإنسان فعل الأسباب التي تجلب له المنافع وتدفع عنه المضار مع التوكل على الله {وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}, {وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ}،فمتى فعل العبد ذلك رزقه الله كما يرزق الطير التي تخرج صباحا وهي جياع ثم تعود مساءً وهي ممتلئة البطون.
Hadis ini membimbing kita agar bertawakal kepada Allah -Ta'ālā- dalam segala urusan kita. Hakikat tawakal ialah bersandar kepada Allah -'Azza wa Jalla- dalam rangka mendatangkan kemaslahatan dan menolak bahaya dalam berbagai urusan dunia dan agama. Tidak ada yang memberi, mencegah, membahayakan, dan memberi manfaat kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, dan hendaknya manusia melaksanakan sebab-sebab yang dapat mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya darinya dengan bertawakal kepada Allah, karena: "Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkannya." (QS. Aṭ-Ṭalāq: 3). "Dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri." (QS. Yūsuf: 67). Ketika seorang hamba melaksanakan itu, pasti Allah memberinya rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; yaitu ia keluar di pagi hari dalam keadaan lapar lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4721

 
Hadith   729   الحديث
الأهمية: لو يُعْطَى الناسُ بدَعْوَاهُم لادَّعى رجالٌ أموالَ قومٍ ودِمَاءَهُم، لكنَّ البينةَ على المدَّعِي واليَمِينَ على من أَنْكَرَ
Tema: Jika semua orang dipenuhi klaimnya, niscaya akan ada orang yang mengklaim harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi bukti harus diajukan bagi yang menuduh dan sumpah bagi yang mengingkari

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «لو يُعْطَى الناسُ بدَعْوَاهُم لادَّعى رجالٌ أموالَ قومٍ ودِمَاءَهُم، لكنَّ البينةَ على المدَّعِي واليَمِينَ على من أَنْكَرَ».

Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika semua orang dipenuhi klaimnya, niscaya akan ada orang yang mengklaim harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi bukti harus diajukan bagi yang menuduh dan sumpah bagi yang mengingkari."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحديث أصل في عدم قبول الدعوى المجردة عن الأدلة والقرائن، وتحليف المنكِر؛ تحقيقا للعدل، وإقامة للحق، وصونا للنفس والمال، فكل من ادعى دعوى خالية عن برهان فهي مردودة وسواء كانت في الحقوق والمعاملات أو في مسائل الإيمان والعلم.
Hadis ini merupakan dalil tidak diterimanya sebuah klaim tanpa dalil dan petunjuk, dan sumpah bagi orang yang mengingkari demi merealisasikan keadilan, menegakkan kebenaran dan melindungi jiwa serta harta. Setiap orang yang menuntut dengan klaim tanpa argumentasi, maka tuntutan itu ditolak, baik berkaitan dengan hak dan muamalat atau dalam berbagai masalah iman dan ilmu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Baihaqi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4722

 
Hadith   730   الحديث
الأهمية: ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه
Tema: "Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya."

عن المِقْدَام بن مَعْدِي كَرِبَ -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «ما مَلَأ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا من بطن، بِحَسْبِ ابن آدم أُكُلَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَه،ُ فإن كان لا مَحَالةَ، فَثُلُثٌ لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لِنَفَسِهِ».

Dari Al-Miqdām bin Ma'dikarib -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يرشدنا النبي الكريم -صلى الله عليه وسلم- إلى أصل من أصول الطب، وهي الوقاية التي يقي بها الإنسان صحته، وهي التقليل من الأكل، بل يأكل بقدر ما يسد رمقه ويقويه على أعماله اللازمة، وإن شر وعاء مُلئ هو البطن لما ينتج عن الشبع من الأمراض الفتاكة التي لا تحصى عاجلاً أو آجلاً باطناً أو ظاهراً، ثم إن الرسول -صلى الله عليه وسلم- قال: إذا كان الإنسان لابد له من الشبع، فليجعل الأكل بمقدار الثلث، والثلث الآخر للشرب، والثلث للنفس حتى لا يحصل عليه ضيق وضرر، وكسل عن تأدية ما أوجب الله عليه في أمر دينه أو دنياه.
Nabi yang mulia -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membimbing kita kepada salah satu sumber medis, yaitu tindakan preventif yang dapat digunakan oleh manusia untuk memelihara kesehatannya. Yaitu sedikit makan. Bahkan makan sekedar untuk menjaga jiwa dan raganya serta menguatkannya dalam berbagai kerja (aktivitasnya) yang wajib. Sesungguhnya seburuk-buruk wadah yang diisi adalah perut, karena kenyang dapat menimbulkan berbagai penyakit mematikan yang tidak terhitung, cepat atau lambat, lahir dan batin. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika memang manusia terpaksa harus kenyang, hendaknya ia menjadikan makanan itu sepertiga bagian, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lagi untuk nafas sehingga tidak mengalami kesesakan dan bahaya serta malas menunaikan apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepadanya berupa urusan agamanya atau dunianya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4723

 
Hadith   731   الحديث
الأهمية: مانهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم
Tema: Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah, dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah, dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
دلنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه إذا نهانا عن شيء وجب علينا اجتنابه بدون استثناء، وإذا أمرنا بشيء فعلينا أن نفعل منه ما نطيق.
ثم حذرنا حتى لا نكون كبعض الأمم السابقة حينما أكثروا من الأسئلة على أنبيائهم مع مخالفتهم لهم فعاقبهم الله بأنواع من الهلاك والدمار، فينبغي أن لا نكون مثلهم حتى لا نهلك كما هلكوا.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan kepada kita bahwa apabila beliau melarang kita dari sesuatu, maka kita wajib menjauhinya tanpa ada pengecualian. Namun, apabila beliau menyuruh kita dengan sesuatu, hendaknya kita melaksanakannya semampu kita. Selanjutnya beliau mengingatkan kita agar tidak menjadi seperti sebagian umat yang lampau, yaitu ketika mereka banyak bertanya kepada para nabinya disertai pengingkaran terhadap mereka, Allah pun mengazab mereka dengan bermacam-macam azab dan kehancuran. Dengan demikian, kita tidak boleh seperti mereka agar kita tidak binasa sebagaimana mereka telah binasa.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4725

 
Hadith   732   الحديث
الأهمية: مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَد
Tema: Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: "من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد " وفي رواية " مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ".

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” Dalam riwayat lain: “Siapa yang membuat suatu perkara baru yang tidak ada asalnya dalam agama kami, maka perkara tersebut tertolak.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كل عمل أو قول لم يوافق الشريعة في وجوهها كافة؛ بحيث لم تدل عليه أدلتها وقواعدها    فهو مردود على صاحبه غير مقبول منه.
Setiap perbuatan atau perkataan yang tidak sesuai dengan syariat dalam segala aspeknya; yang berbagai dalil dan kaidahnya tidak menunjukkan kepada hal itu, maka perbuatan atau perkataan itu dikembalikan pada pelakunya dan tidak diterima.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4792

 
Hadith   733   الحديث
الأهمية: مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ
Tema: Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يفيد الحديث أن الله -سبحانه وتعالى- يقبل التوبة من عبده المذنب ما لم تطلع الشمس من مغربها؛ لأنها نهاية وقت قبول التوبة وهي من علامات الساعة الكبرى.
Hadis ini memberi faedah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menerima tobat hamba-Nya yang berdosa sebelum terbit matahari dari barat, karena itu merupakan batas akhir waktu diterimanya tobat dan itu merupakan salah satu tanda kiamat besar.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4797

 
Hadith   734   الحديث
الأهمية: مَن نَفَّسَ عن مؤمنٍ كُرْبَةً من كُرَبِ الدُّنيا نَفَّسَ اللهُ عنه كُرْبَةً من كُرَبِ يومِ القِيَامَة، ومن يَسَّرَ على مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخرةِ، ومن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنيا والآخرةِ
Tema: Siapa yang melapangkan seorang mukmin dari kesusahan dunia, niscaya Allah melapangkan baginya kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup (aib) seorang muslim, niscaya Allah menutup (aibnya) di dunia dan akhirat

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- قال: «مَن نَفَّسَ عن مؤمنٍ كُرْبَةً من كُرَبِ الدُّنيا نَفَّسَ اللهُ عنه كُرْبَةً من كُرَبِ يومِ القِيَامَة، ومن يَسَّرَ على مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخرةِ، ومن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنيا والآخرةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كَانَ العبدُ في عَوْنِ أَخِيهِ، ومن سَلَكَ طَرِيقًا يَلتَمِسُ فِيهِ عِلمًا سَهَّلَ اللهُ له به طريقًا إلى الجنةِ، وما اجْتَمَعَ قَوْمٌ في بيتٍ من بيوتِ اللهِ يَتْلُونَ كتابَ اللهِ ويَتَدَارَسُونَهُ بينهم إلا نَزَلَتْ عليهم السَّكِينَةُ وغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وحَفَّتْهُمُ الملائِكَةُ، وذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِندَهُ، ومَن بَطَّأ به عمله لم يُسرع به نَسَبُهُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam-, beliau bersabda, "Siapa yang melapangkan seorang mukmin dari kesusahan dunia, niscaya Allah melapangkan baginya kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup (aib) seorang muslim, niscaya Allah menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah sambil membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun kepada mereka ketenangan dan mereka diliputi rahmat serta dinaungi oleh para malaikat. Dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Siapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يفيدنا هذا الحديث الشريف: أن من فرج كربة عن مسلم، أو سهل أمرا متعسرا عليه، أو ستر عليه هفوة أو زلة فإن الله يجازيه من جنس أعماله التي نفع بها، وأن الله -تعالى- يعين العبد بتوفيقه في دنياه وآخرته حينما يساعد أخاه المسلم على أموره الشاقة عليه، وأن من سلك طريقا حسيا كالمشي إلى مجالس الذكر أو مجالس العلماء المحققين العاملين بعلمهم يريد التعلم، أو سلك الطريق المعنوي المؤدي إلى حصول هذا العلم كمذاكراته ومطالعته وتفكيره وتفهمه لما يُلقى عليه من العلوم النافعة وغير ذلك، فمن سلك هذا الطريق بنية صالحة صادقة وفقه الله للعلم النافع المؤدي إلى الجنة، وأن المجتمعين في بيت من بيوت الله لتلاوة القرآن العزيز ومدارسته يعطيهم الله من الطمأنينة وشمول الرحمة وحضور الملائكة والثناء عليهم من الله في الملأ الأعلى، وأن الشرف كل الشرف بالأعمال الصالحة لا بالأنساب والأحساب.
Hadis mulia ini menunjukkan kepada kita bahwa: Orang yang melapangkan kesusahan dari seorang muslim, memudahkan urusan yang sulit bagi seseorang, menutupi kesalahannya atau kekeliruannya, sesungguhnya Allah akan membalasnya dengan jenis amalnya yang bermanfaat. Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- menolong seorang hamba dengan taufik-Nya di dunia dan di akhirat, ketika ia membantu saudaranya yang muslim saat berada dalam kesulitan. Sesungguhnya orang yang menempuh jalan nyata, seperti berjalan ke majlis zikir atau majlis para ulama sejati yang mengamalkan ilmunya, demi menimba ilmu, juga menempuh jalan maknawi yang mengarah kepada tercapainya ilmu itu, seperti melakukan diskusi, telaah, meresapi dan memahami berbagai ilmu bermanfaat yang telah diberikan kepadanya, dan sebagainya, maka siapa saja yang menempuh jalan ini dengan niat yang baik dan benar, niscaya Allah memberinya taufik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hingga menuntunnya ke surga. Dan sesungguhnya orang-orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Al-Qur`ān yang mulia dan mempelajarinya, niscaya Allah menganugerahkan kepada mereka ketenangan, kesempurnaan rahmat, kehadiran malaikat, dan pujian Allah terhadap mereka di hadapan makhluk yang ada di tempat tinggi (malaikat pilihan). Sesungguhnya segala kemuliaan itu dengan amal saleh bukan dengan nasab dan martabat sosial.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4801

 
Hadith   735   الحديث
الأهمية: وَاللهِ إني لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وأَتُوبُ إليهِ في اليومِ أَكْثَرَ من سَبْعِينَ مَرَّةً
Tema: Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «وَاللهِ إني لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وأَتُوبُ إليهِ في اليومِ أَكْثَرَ من سَبْعِينَ مَرَّةً».

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Ṣakhr ad-Dausi -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
النبي -صلى الله عليه وسلم- الذي غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر: يقسم أنه يستغفر الله ويتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة، واستغفار النبي -صلى الله عليه وسلم- لا يلزم أن يكون لذنوب ارتكبها ولكن ذلك لكمال عبوديته وتعلقه بذكره -سبحانه-، واستشعاره عظم حق الله -تعالى- وتقصير العبد مهما عمل في شكر نعمه، وهو من باب التشريع للأمة من بعده، إلى غير ذلك من الحكم.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- yang sudah Allah ampuni dosa-dosanya yang terlah berlalu dan yang akan datang bersumpah bahwa beliau memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. Istigfar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- tidak mesti karena beliau melakukan dosa, akan tetapi itu merupakan kesempurnaan ibadah dan ketergantungan beliau dengan zikir kepad Allah, dan beliau merasakan keagungan hak Allah, serta kekurangan beliau meskipun sudah mensyukuri nikmat-Nya. Ini juga sekaligus sebagai syariat untuk umat setelah beliau, dan berbagai hikmah lainnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4808

 
Hadith   736   الحديث
الأهمية: يا أيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ، فَإنِّي أَتُوبُ في اليَّومِ مائةَ مَرَّةٍ
Tema: Wahai manusia bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.

عن الأغر بن يسار المزني -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «يا أيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ، فَإنِّي أَتُوبُ في اليَّومِ مائةَ مَرَّةٍ».

Dari Al-Agar Ibn Yasar Al-Muzani -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai manusia bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
النبي -صلى الله عليه وسلم- الذي غُفِرَ له ما تقدم من ذنبه وما تأخر: يأمر الناس بالتوبة والاستغفار، ويخبر عن نفسه -صلى الله عليه وسلم- أنه يستغفر الله ويتوب إليه في اليوم مائة مرة وهو بذلك يحث الأمة على هذا العمل الصالح، واستغفار النبي -صلى الله عليه وسلم- لا يلزم أن يكون لذنوب ارتكبها ولكن ذلك لكمال عبوديته وتعلقه بذكره سبحانه، واستشعاره عظم حق الله تعالى وتقصير العبد مهما عمل في شكر نعمه، وهو من باب التشريع للأمة من بعده، إلى غير ذلك من الحكم.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang memerintahkan manusia untuk bertobat dan istigfar. Beliau memberitahukan bahwa beliau meminta ampun dan bertobat kepada Allah seratu kali dalam sehar. Dengan itu beliau ingin memotivasi umatnya untuk melakukan amal saleh ini. Istigfar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mesti karena beliau melakukan dosa, akan tetapi itu merupakan kesempurnaan ibadah dan ketergantungan beliau dengan zikir kepad Allah, dan beliau merasakan keagungan hak Allah, serta kekurangan beliau meskipun sudah mensyukuri nikmat-Nya. Ini juga sekaligus sebagai syariat untuk umat setelah beliau, dan berbagai hikmah lainnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4809

 
Hadith   737   الحديث
الأهمية: يا عبادي، إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا فلا تَظَالموا، يا عبادي، كلكم ضالٌّ إلا من هديتُه فاستهدوني أهدكم
Tema: "Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram atas kamu sekalian, maka janganlah kamu sekalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kamu sekalian itu sesat, kecuali yang Ku-beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian."

عن أبي ذر الغفاري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما يرويه عن ربه: «يا عبادي، إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا فلا تَظَالموا، يا عبادي، كلكم ضالٌّ إلا من هديتُه فاستهدوني أَهْدَكِم، يا عبادي، كلكم جائِعٌ إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم، يا عبادي، كلكم عارٍ إلا من كسوتُه فاسْتَكْسُوني أَكْسُكُم، يا عبادي، إنكم تُخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوبَ جميعًا فاستغفروني أغفرْ لكم، ياعبادي، إنكم لن تَبلغوا ضَرِّي فتَضُرُّونِي ولن تَبْلُغوا نَفْعِي فتَنْفَعُوني، يا عبادي، لو أن أولَكم وآخِرَكم وإنسَكم وجِنَّكم كانوا على أتْقَى قلبِ رجلٍ واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئًا، يا عبادي، لو أن أوَّلَكم وآخِرَكم وإنسَكم وجِنَّكم كانوا على أفْجَرِ قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك من ملكي شيئًا، يا عبادي، لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صَعِيدٍ واحد فسألوني فأعطيت كلَّ واحدٍ مسألتَه ما نقص ذلك مما عندي إلا كما يَنْقُصُ المِخْيَطُ إذا أُدخل البحر، يا عبادي، إنما هي أعمالكم أُحْصِيها لكم ثم أُوَفِّيكُم إياها فمن وجد خيرًا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه».

Abu Żarr Al-Gifāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya: "Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram atas kamu sekalian; maka janganlah kamu sekalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu sesat, kecuali yang Aku beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu lapar, kecuali yang Aku beri makan; maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu telanjang, kecuali yang Aku beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian itu selalu melakukan kesalahan di waktu siang dan malam, sedangkan Aku mengampuni semua dosa; maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kamu sekalian tidak akan bisa menimpakan mudarat kepada-Ku sehingga dapat membahayakan-Ku, dan kamu sekalian tidak akan bisa memberi manfaat kepada-Ku sehingga bermanfaat bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Jika kamu sekalian yang awal hingga yang akhir, baik dari bangsa manusia maupun dari bangsa jin, bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kamu sekalian, maka hal itu tidak akan menambah sedikit pun pada kekuasaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Jika kamu sekalian yang awal hingga yang akhir, baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin, berkumpul di satu tempat yang luas dan memohon kepada-Ku, kemudian Aku mengabulkan permohonan mereka, maka hal itu tidak akan mengurangi kekayaan yang Aku miliki, melainkan seperti jarum yang dicelupkan ke laut dan diangkat lagi. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mencatat amal perbuatanmu dan Aku membalasnya, maka siapa yang mendapat kebaikan, maka hendaklah memuji Allah, dan siapa yang mendapat selain itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali dirinya sendiri."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يفيدنا هذا الحديث القدسي المشتمل على فوائد عظيمة في أصول الدين، وفروعه، وآدابه بأن الله سبحانه حرم الظلم على نفسه تفضلاً منه وإحساناً إلى عباده، وجعل الظلم محرمًا بين خلقه فلا يظلم أحد أحدًا، وأن الخلق كلهم ضالون عن طريق الحق إلا بهداية الله وتوفيقه، ومن سأل الله وفقه وهداه، وأن الخلق فقراء إلى الله محتاجون إليه، ومن سأل الله قضى حاجته وكفاه، وأنهم يذنبون بالليل والنهار والله تعالى يستر ويتجاوز عند سؤال العبد المغفرة، وأنهم لا يستطيعون مهما حاولوا بأقوالهم وأفعالهم أن يضروا الله بشيء أو ينفعوه، وأنهم لو كانوا على أتقى قلب رجل واحد أو على أفجر قلب رجل واحد ما زادت تقواهم في ملك الله، ولا نقص فجورهم من ملكه شيئًا؛ لأنهم ضعفاء فقراء إلى الله محتاجون إليه في كل حال وزمان ومكان، وأنهم لو قاموا في مقام واحد يسألون الله فأعطى كل واحد ما سأل ما نقص ذلك مما عند الله شيئاً؛ لأن خزائنه سبحانه ملأى لا تغيضها نفقة، سحاء الليل والنهار، وأن الله يحفظ جميع أعمال العباد ويحصيها ما كان لهم وما كان عليهم، ثم يوفيهم إياها يوم القيامة فمن وجد جزاء عمله خيرًا فليحمد الله على توفيقه لطاعته، ومن وجد جزاء عمله شيئا غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه الأمارة بالسوء التي قادته إلى الخسران.
Hadis qudsi ini yang mencakup berbagai faedah besar dalam pokok-pokok agama, cabang-cabangnya, dan adab-adabnya, menunjukkan kepada kita bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah mengharamkan kezaliman kepada diri-Nya sebagai keutamaan dan kebajikan dari-Nya untuk para hamba-Nya. Dia menjadikan kezaliman haram di antara para makhluk-Nya, karena itu seseorang tidak boleh menzalimi orang lain. Dan sesungguhnya manusia itu seluruhnya tersesat dari jalan kebenaran, kecuali dengan adanya hidayah dan taufik dari Allah; siapa yang memohon pada Allah, niscaya Dia memberinya taufik dan hidayah itu. Sesungguhnya makhluk itu fakir kepada Allah dan membutuhkan-Nya; siapa yang memohon kepada Allah, niscaya Allah memenuhi kebutuhannya dan mencukupinya. Sesungguhnya mereka itu berbuat dosa di malam dan siang hari, sedangkan Allah -Ta'ālā- menutupi dan memberikan ampunan ketika seorang hamba memohon ampunan. Sesungguhnya mereka itu tidak akan mampu -meskipun telah berusaha dengan ucapan dan perbuatan- untuk membahayakan Allah atau memberikan manfaat untuk-Nya dengan sesuatu. Sesungguhnya mereka itu meskipun semuanya berada dalam kondisi hati orang yang paling bertakwa atau dalam kondisi hati orang yang paling durhaka, maka ketakwaan mereka tidak akan menambah kekuasaan Allah dan kedurhakaan mereka tidak akan mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan Allah, karena mereka itu lemah, fakir kepada Allah, dan membutuhkan-Nya di setiap keadaan, masa, dan tempat. Seandainya mereka itu berada di satu tempat untuk memohon kepada Allah lalu Dia memberi apa yang diminta oleh setiap orang, tentunya hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun apa yang ada di sisi Allah. Sebab, perbendaharaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- itu penuh (melimpah), tidak akan berkurang dengan adanya nafkah sepanjang malam dan siang. Sesungguhnya Allah menjaga dan menghitung semua amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk, lalu Dia akan membalas amalan mereka pada hari Kiamat. Siapa yang mendapatkan balasan amalnya berupa kebaikan, hendaknya ia memuji Allah atas taufik-Nya untuk menaati-Nya, dan siapa yang mendapatkan balasan amalnya bukan kebaikan, hendaknya ia tidak mencela kecuali nafsunya yang menyeret dirinya pada keburukan dan menggiringnya pada kerugian.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4810

 
Hadith   738   الحديث
الأهمية: يا غلام، إني أعلمُك كلمات: احْفَظِ اللهَ يحفظْك، احفظ الله تَجِدْه تجَاهَك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا اسْتَعَنْتَ فاسْتَعِن بالله
Tema: Wahai anak muda! Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa untaian kalimat, "Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu! Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu! Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah!"

عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما- قال: كنت خلف النبي -صلى الله عليه وسلم- يوماً فقال يا غلام، إني أعلمك كلمات: «احْفَظِ اللهَ يحفظْك، احفظ الله تَجِدْه تُجَاهَك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا اسْتَعَنْتَ فاسْتَعِن بالله، واعلمْ أن الأمةَ لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يَضرُّوك بشيء لم يَضرُّوك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف».
وفي رواية: «احفظ الله تَجِدْه أمامك، تَعرَّفْ إلى الله في الرَّخَاء يَعرِفْكَ في الشِّدة، واعلم أنَّ ما أخطأَكَ لم يَكُنْ ليُصِيبَكَ، وما أصَابَكَ لم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، واعلم أن النصرَ مع الصبرِ، وأن الفرجَ مع الكَرْبِ، وأن مع العُسْرِ يُسْرًا».

Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku berada di belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada suatu hari. Beliau bersabda, "Nak, Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa untaian kalimat, 'Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah! Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu guna memberikan kebaikan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka seluruhnya bersatu guna menimpakan keburukan padamu, mereka tak akan mampu kecuali sebatas apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.'” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapatinya berada di depanmu. Ingatlah Allah ketika engkau dalam kelapangan, maka Dia akan mengingatmu ketika engkau dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan luput darimu. Dan ketahuilah, bahwa pertolongan Allah bersama kesabaran; kelapangan itu bersama derita; dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث العظيم يتوجه النبي -صلى الله عليه وسلم-    لهذا الغلام وهو ابن عباس -رضي الله عنهما- بوصايا جليلة    تتضمن أن يحفظ أوامر الله تعالى ونواهيه على كل أحيانه وفي كل أوقاته، ويصحح له النبي عقيدته في الصغر فما من خالق إلا الله، وما من قادر دون الله، وما من مدبر للأمر مع الله، ولا واسطة بين العبد وبين ربه ومولاه، فهو سبحانه المأمول عند نزول المصاب، وهو سبحانه المرجو عند حلول العقاب، وغرس النبي -عليه السلام- في نفس ابن عباس -رضي الله عنهما- الإيمان بقدر الله وقضائه فكل شيء بقدره -سبحانه- وقضائه.
Dalam hadis agung ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mewasiati anak belia ini, yaitu Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dengan wasiat mulia yang berisi penjagaan terhadap peritah-perintah dan larangan Allah -Ta'ālā- di setiap saat dan waktu. Nabi meneguhkan akidahnya sejak dini bahwa tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada yang Mahakuasa selain Allah, tidak ada pengatur segala perkara selain Allah, serta tidak ada pemisah antara hamba dengan Tuhan sekaligus pelindungnya dalam perihal tawakal dan doa. Dialah Allah yang menjadi harapan saat turunnya musibah, Dialah yang menjadi harapan ketika turunnya musibah. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menanamkan dalam jiwa Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- keimanan terhadap kada dan takdir Allah; bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir-Nya, baik berupa kebaikan ataupun keburukan, dan bahwa manusia tak memiliki kuasa untuk mewujudkan segala yang mereka inginkan, karena semua itu tak akan terwujud kecuali atas izin Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4811

 
Hadith   739   الحديث
الأهمية: يَغزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ فإذا كانوا بِبَيْدَاءَ من الأرضِ يُخْسَفُ بأَوَّلِهِم وَآخِرِهِم
Tema: Ada satu pasukan hendak menyerang Ka'bah, tatkala mereka berada di Baidā` (tanah yang lapang), mereka dibenamkan (seluruhnya ke dalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.”

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «يَغزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ فإذا كانوا بِبَيْدَاءَ من الأرضِ يُخْسَفُ بأَوَّلِهِم وَآخِرِهِم قالت: قلتُ: يا رسول الله، كيف يخسف بأولهم وآخرهم وفيهم أَسْوَاقُهُم وَمَنْ ليس منهم؟! قال: «يخسف بأولهم وآخرهم ثم يُبْعَثُونَ على نِيَّاتِهِم».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara marfū', Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Ada satu pasukan hendak menyerang Ka’bah, tatkala mereka berada di Baidaa' (tanah yang lapang) mereka dibenamkan (seluruhnya ke dalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata, Saya bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam yang tak ada sangkut pautnya) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab, “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر -صلى الله عليه وسلم- عن جيش عظيم يغزو بيت الله الحرام، حتى إذا كانوا في صحراء واسعة خسف الله بهم الأرض، فسألته أم المؤمنين عائشة -رضي الله عنها- عن الذين جاءوا للبيع والشراء، ليس لهم قصد سيء في غزو الكعبة، وفيهم أناس ليسوا منهم تبعوهم من غير أن يعلموا بخطتهم؛ فأخبرها -صلى الله عليه وسلم- أنهم سيخسف بهم لأنهم معهم وسيبعثون ويعاملون عند الحساب على نياتهم فيعامل كل بقصده من الخير والشر.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang pasukan besar yang bakal menyerang Baitul Haram. Hingga saat mereka berada di gurun lapang yang luas, bumi pun terbelah menenggelamkan mereka. Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya mengenai orang-orang yang bersama mereka hanya ingin berjual-beli/berdagang, tidak berniat buruk turut menyerang Ka'bah. Bersama mereka juga ada orang-orang yang ikut tanpa tahu rencana pasukan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa mereka semua akan turut dibenamkan karena berada bersama pasukan itu. Dan mereka akan dibangkitkan di akhirat, saat hari perhitungan sesuai niatnya. Masing-masing akan diperlakukan sesuai dengan tujuannya; baik dan buruknya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4812

 
Hadith   740   الحديث
الأهمية: عرِضَتْ عَلَيّ أعمالُ أُمتي، حَسَنُهَا وسَيِّئُهَا فَوَجَدت في مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيق، ووَجَدتُ في مَسَاوِئ أَعْمَالِهَا النُّخَاعَة تَكُون في المَسْجِد لا تُدْفَن
Tema: Dibentangkan kepadaku amal-amal umatku. Yang baik dan buruk. Aku dapati pada kebaikan amal mereka menyingkirkan gangguan dari jalan, dan aku dapati dari keburukan amal mereka, dahak di masjid yang tidak ditimbun (dibersihkan).

عن أبي ذر -رضي الله عنه- قال: قال النبي -صلى الله عليه وسلم-:«عُرِضَتْ عَلَيَّ أعمالُ أُمتي، حَسَنُهَا وسَيِّئُهَا فَوَجَدتُ في مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ، ووَجَدتُ في مَسَاوِئِ أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةُ تَكُونُ في المَسْجِدِ لا تُدْفَنُ».

Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Dibentangkan kepadaku amal-amal umatku. Yang baik dan buruk. Aku dapati pada kebaikan amal mereka menyingkirkan gangguan dari jalan, dan aku dapati dari keburukan amal mereka, dahak di masjid yang tidak ditimbun (dibersihkan)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
عرض الله -عز وجل- أعمال الأمة على نبينا -صلى الله عليه وسلم-، فوجد من محاسنها: إزالة ما يؤذي المارة من الطريق، ووجد من سيئها أن يبصق الإنسان في المسجد ولا يزيلها بالدفن أو بغيره.
Allah -'Azza wa Jalla- membentangkan amal umat kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau dapati di antara kebaikan mereka, menyingkirkan gangguan dari jalan, dan didapati dari keburukan amal mereka, seseorang yang meludah di masjid dan tidak dibersihkan dengan ditimbun atau selainnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4813

 
Hadith   741   الحديث
الأهمية: عُرِضَتْ عَلَيَّ الجَنَّةُ والنَّارُ، فَلَمْ أَرَ كاليومِ في الخيرِ والشرِ، ولو تَعْلَمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
Tema: Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.

عن أنس -رضي الله عنه- قال: خَطَبَنَا رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- خُطْبَةً ما سمعتُ مثلها قَطُّ، فقال: «لو تَعْلَمُونَ ما أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا». فَغَطَّى أَصْحَابُ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وُجُوهَهُم، ولهم خَنِينٌ.
وفي رواية: بَلَغَ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- عن أَصْحَابِهِ شَيْءٌ فَخَطَبَ، فقال: «عُرِضَتْ عَلَيَّ الجَنَّةُ والنَّارُ، فَلَمْ أَرَ كاليومِ في الخيرِ والشرِ، ولو تَعْلَمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا». فما أَتَى على أصحابِ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يومٌ أَشَدُّ مِنْهُ، غَطَّوا رُءُوسَهُمْ ولهم خَنِينٌ.

Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu--, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berkhutbah dengan khutbah yang belum pernah aku dengar sama sekali. Beliau bersabda, "Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis." Para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menutupi wajah mereka sambil menangis hingga terisak-isak.
Dalam riwayat lain, sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai para sahabatnya, kemudian beliau berkhutbah. Beliau bersabda, “Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Perawi mengatakan,) “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis hingga terisak sesenggukan.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
وعظ النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه موعظة لم يسمعوا مثلها قط، وكان من جملتها أن قال: عرضت علي الجنة والنار، فلم أر خيراً أكثر مما رأيته اليوم في الجنة، ولا شراً أكثر مما رأيته اليوم في النار، ولو تعلمون ما أعلم من أهوال الآخرة وما أُعِد في الجنة من نعيم وفي النار من العذاب الأليم لضحكتم قليلا ًوبكيتم كثيراً، فما جاء على أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يوم أشد منه؛ فبكوا بكاء شديداً.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi petuah kepada para sahabatnya dengan petuah yang tak pernah mereka dengar seperti itu sebelumnya. Di antara petuah itu beliau bersabda, "Ditampakkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah aku melihat kebaikan melebihi yang aku lihat, tidak pula keburukan yang lebih buruk dari yang aku saksikan hari ini. Jika kalian tahu apa yang aku ketahui dari keadaan akhirat, berupa kenikmatan yang dipersiapkan di surga dan azab yang pedih di neraka, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Tidak ada hari yang lebih berat bagi para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari hari itu. Mereka pun menangis terisak-isak.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4814

 
Hadith   742   الحديث
الأهمية: لا تَقْتُلْهُ، فَإِنْ قَتَلْتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَقْتُلَهُ، وَإِنَّكَ بِمَنْزِلَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ كَلِمَتَهُ التي قالَ
Tema: Jangan bunuh dia! Jika engkau membunuhnya, sungguh dia di posisimu sebelum engkau membunuhnya dan engkau di posisinya sebelum mengatakan perkataan yang diucapkannya.

عن المقداد بن الأسود -رضي الله عنه- قال: قُلْتُ لرسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَرَأَيْتَ إِنْ لَقِيتُ رَجُلًا مِن الكفارِ، فَاقْتَتَلْنَا، فضربَ إِحْدَى يَدَيَّ بالسيفِ، فَقَطَعَهَا، ثُمَّ لَاذَ مِنِّي بشجرةٍ، فقال: أَسْلَمْتُ للهِ، أَأَقْتُلُهُ يا رسولَ اللهِ بَعْدَ أَنْ قَالها؟ فقال: «لا تَقْتُلْهُ» فقلتُ: يا رسولَ اللهِ، قَطَعَ إِحْدَى يَدَيَّ، ثُمَّ قال ذلك بعد ما قَطَعَهَا؟! فقال: «لا تَقْتُلْهُ، فَإِنْ قَتَلْتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَقْتُلَهُ، وَإِنَّكَ بِمَنْزِلَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ كَلِمَتَهُ التي قالَ».

Dari Al-Miqdād ibn Al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wasallam-, bagaimana menurutmu jika aku bertemu seorang kafir, kemudian kami saling serang. Dia memukul salah satu tanganku dengan pedang hingga putus, kemudian dia bersembunyi di balik pohon dan berkata, 'Aku masuk Islam.' Apakah aku bunuh saja dia setelah mengucapkannya? Nabi menjawab, 'Jangan kau bunuh dia.' Aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wasallam-, sebelah tanganku dipotongnya, kemudian dia mengatakan perkataan itu setelah membuat buntung?!' Beliau bersabda, 'Jangan bunuh dia! Jika engkau membunuhnya, sungguh dia di posisimu sebelum engkau membunuhnya dan engkau di posisinya sebelum mengatakan perkataan yang diucapkannya'."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
سأل المقداد بن الأسود -رضي الله عنه- رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، فقال: أخبرني يا رسول الله، إن لقيتُ رجلا من المشركين فاقتتلنا، فضربني بالسيف فقطع إحدى يدي، ثم استتر مني بشجرة، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله؛ أفقتله بعد أن قالها؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تقتله. فقال المقداد: قطع إحدى يدي، ثم قال ذلك بعد ما قطعها؛ لئلا يُقتل؟ فقال صلى الله عليه وسلم: لا تقتله؛ فإنك إن قتلته بعد نطقه بذاك؛ فإنه بعد الإتيان بها بمنزلتك من عصمة الدم قبل أن تقتله، وإنك بمنزلته في إهدار الدم قبل أن يقول كلمته التي قالها.
Al-Miqdād bin al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia berkata, "Jika aku bertemu seorang musyrik, kemudian kami berduel. Kemudian dia menyabetkan pedangnya dan memutus satu tanganku, lalu bersembunyi dariku di balik pohon dan berkata, 'Abu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah'. Apakah aku boleh membunuh dia setelah mengucapkannya?' Nabi menjawab, 'Jangan kau bunuh dia!' Al-Miqdad bertanya, 'Sebelah tanganku buntung! Dia berikrar masuk islam setelah memotongnya agar tidak dibunuh.' Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jangan bunuh dia! Jika engkau membunuhnya setelah mengucapkan (syahadat), dia di posisimu (sebagai muslim), terjaga darahnya sebelum engkau bunuh, dan engkau di posisinya terkait bolehnya darahmu ditumpahkan sebelum dia mengucapkan perkataan yang diucapkannya (syahadat)."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4815

 
Hadith   743   الحديث
الأهمية: يا أسامةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لا إلهَ إلَّا اللهُ؟
Tema: Wahai Usāmah! Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh?

عن أسامة بن زيد -رضي الله عنهما-، قال: بَعَثَنَا رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- إلى الحُرَقَةِ من جُهَيْنَةَ فَصَبَّحْنَا القَوْمَ على مِيَاهِهِم، ولَحِقْتُ أنا ورجلٌ من الأنصارِ رجلًا منهم، فلما غَشِينَاهُ، قال: لا إله إلا الله، فَكَفَّ عنه الأَنْصَارِيُّ، وطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، فَلَمَّا قَدِمْنَا المدينةَ، بَلَغَ ذَلِكَ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- فقال لي: «يا أسامةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لا إلهَ إلَّا اللهُ؟!» قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ، إنما كان مُتَعَوِّذًا، فقال: «أَقَتَلْتَهُ بعد ما قال: لا إلهَ إلَّا اللهُ؟!» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حتى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لم أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ.
وفي رواية: فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «أَقَالَ: لا إلهَ إلا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟!» قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ، إنما قَالَهَا خَوْفًا من السِّلَاحِ، قال: «أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟!» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ.
وعن جندب بن عبد الله -رضي الله عنه-: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَ بَعْثًا مِن المسلمينَ إلى قومٍ من المشركينَ، وأنهم الْتَقَوا، فَكَانَ رجلٌ مِن المشركينَ إذا شَاءَ أَنْ يَقْصِدَ إلى رجلٍ مِن المسلمينَ قَصَدَ له فَقَتَلَهُ، وأَنَّ رجلًا مِن المسلمينَ قَصَدَ غَفْلَتَهُ. وكُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ أسامةُ بْنُ زيدٍ، فَلَمَّا رَفَعَ عَلَيْهِ السَّيْفَ، قال: لا إلهَ إلا اللهُ، فَقَتَلَهُ، فجاءَ البَشِيرُ إلى رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَسَأَلَهُ وأَخْبَرَهُ، حتى أَخْبَرَهُ خَبَرَ الرجلِ كَيْفَ صَنَعَ، فَدَعَاهُ فَسَأَلَهُ، فقال: «لِمَ قَتَلْتَهُ؟» فقال: يا رسولَ اللهِ، أَوْجَعَ في المسلمينَ، وقَتَلَ فُلانًا وفُلانًا، وسَمَّى له نَفَرًا، وإِنِّي حَمَلْتُ عليهِ، فَلَمَّا رَأَى السَّيْفَ، قال: لا إلهَ إلا اللهُ. قال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «أَقَتَلْتَهُ؟» قال: نعم. قال: «فَكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ، إذا جَاءَتْ يَومَ القِيَامَةِ؟» قال: يا رسولَ اللهِ، اسْتَغْفِرْ لِي. قال: «وكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ إذا جَاءَتْ يَوْمَ القِيَامَةِ؟» فجعل لا يَزِيدُ على أَنْ يقولَ: «كَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ إذا جَاءَتْ يَوْمَ القيامةِ».

Dari Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu-ma, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah. Kami serang mereka secara mendadak di pagi buta di pusat air mereka. Aku dan seorang lelaki dari Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh". Orang Anshar tersebut menahan dirinya dari membunuhnya. Sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga ia terbunuh. Sesampainya kami di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bertanya kepadaku, "Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan saja." Beliau bersabda, " Apakah kamu membunuh dia setelah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Beliau terus-menerus mengulangi perkataan itu kepadaku hingga aku berangan-angan andai diriku belum masuk Islam sebelum hari itu."
Dalam satu riwayat, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bukankah ia telah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh", mengapa engkau tetap membunuhnya?" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata." Beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut senjata atau tidak?" Beliau mengulang-ulang ucapannya itu hingga diriku menghayal lebih baik aku masuk Islam mulai hari itu saja."
Dari Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan pasukan dari kaum muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan mereka bertemu (kontak senjata -edit). Kemudian jika seorang lelaki dari kaum musyrikin mengincar seorang dari kaum muslimin ia membunuhnya. Lantas ada seseorang dari kaum muslimin mengincar orang itu di waktu lengahnya. Kita semua menduga bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Namun, ia tetap dibunuh olehnya?"
Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya kepadanya dan orang itu bercerita sampai akhirnya orang itu memberitahukan pula tentang orang yang membunuh. Orang itu lalu dipanggil oleh beliau dan menanyakan hal tersebut kepadanya. Beliau bersabda, "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti kaum muslimin dan telah membunuh si fulan dan si fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan, "Aku menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah ia engkau bunuh?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian beliau bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Beliau tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata, "Lalu apa yang engkau lakukan terhadap ia (Lā ilāha illallāh), jika kalimat itu datang pada hari kiamat?"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
بعث النبيُّ صلى الله عليه وسلم أسامةَ بن زيد في سرية إلى الحرقة من جهينة، فلما وصلوا إلى القوم وغشوهم، هرب من المشركين رجل، فلحقه أسامة ورجل من الأنصار يتبعانه يريدان قتله، فلما أدركاه قال: لا إله إلا الله، أما الأنصاري فتركه لما قال لا إله إلا الله، وأما أسامة فقتله، فلما رجعوا إلى المدينة، وبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم قال لأسامة: "أقتلته بعد أن قال لا إله إلا لله". قال: نعم يا رسول الله؛ إنما قالها يتعوذ بها من القتل، ويستجير بها. قال: "أقتلته بعد أن قال لا إله إلا الله". قال: نعم قالها يتعوذ من القتل، وقد آذى المسلمين وقتل منهم فلانا وفلانا، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا شققت عن قلبه حتى تعتقد ذلك وتجزم به؛ فكيف تصنع بلا إله إلا الله إذا جاءت يوم القيامة، من يشفع لك، ومن يحاج عنك ويجادل إذا جيء بكلمة التوحيد وقيل لك: كيف قتلت من قالها؟!
يقول أسامة رضي الله عنه: حتى تمنيت أني لم أكن أسلمت قبل هذا اليوم؛ لأنه لو كان كافرًا ثم أسلم عفا الله عنه، لكنه الآن فعل هذا الفعل وهو مسلم.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Usāmah bin Zaid bersama satu pasukan ke Al-Ḥuraqah dari suku Juhainah. Saat mereka sampai ke kaum tersebut dan mendekati mereka, tiba-tiba ada seorang lelaki musyrik yang kabur lalu dikejar oleh Usāmah dan seorang lelaki dari Ansar. Keduanya mengikuti orang itu hendak membunuhnya. Saat keduanya berhasil menemukan orang itu, ternyata orang itu mengucapkan, "Lā ilāha illallāh." Lelaki Ansar itu membiarkannya saat orang itu mengucapkan, "Lā ilāha illallāh," sedangkan Usāmah membunuhnya. Saat mereka kembali ke Madinah dan berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda kepada Usāmah, "Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh?" Usāmah menjawab, "Ya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu demi melindungi diri dari pembunuhan dan mencari perlindungan dengannya." Beliau bersabda, "Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan "Lā ilāha illallāh?" Usāmah menjawab, "Ya. Dia mengucapkan kata-kata itu untuk berlindung dari pembunuhan. Padahal dia sudah menyakiti kaum muslimin dan membunuh si fulan dan si fulan." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau meyakininya dan memastikannya. Lantas apa yang akan engkau lakukan, jika kalimat Lā ilāha illallāh datang pada hari kiamat? Siapa yang akan memberi syafaat kepadamu? Siapa yang akan membelamu dan mendebat jika kalimat tauhid didatangkan dan dikatakan kepadamu, "Kenapa engkau membunuh orang yang mengucapkan kalimat itu?' Usamah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Hingga aku berharap bahwa diriku belum masuk Islam sebelum hari ini." Sebab, jika dia masih kafir lalu masuk Islam, pasti Allah memaafkannya. Tetapi dia sekarang melakukan tindakan tersebut saat sudah menjadi muslim."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim dengan dua riwayatnya - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4816

 
Hadith   744   الحديث
الأهمية: أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فقال: اللهم اغْفِرْ لي ذَنْبِي، فقال اللهُ تبارك وتعالى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، ويَأْخُذُ بالذَّنْبِ
Tema: Ada seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu ia berkata, "Ya Allah! Ampunilah dosaku." Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pun berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa dan ia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما يَحْكِي عن ربه تبارك وتعالى، قال: «أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فقال: اللهم اغْفِرْ لي ذَنْبِي، فقال اللهُ تبارك وتعالى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، ويَأْخُذُ بالذَّنْبِ، ثم عَادَ فَأَذْنَبَ، فقال: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي، فقال تبارك وتعالى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ له رَبًّا، يَغْفِرُ الذَّنْبَ، ويَأْخُذُ بالذَّنْبِ، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَفْعَلْ ما شَاءَ»
Tema: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu riwayat yang diceritakannya dari Rabb-nya -Tabāraka wa Ta'ālā-, Allah berfirman, "Ada seorang hamba melakukan suatu dosa lalu ia berkata, 'Ya Allah! Ampunilah dosaku.'" Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pun berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa dan ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa." Selanjutnya hamba tersebut mengulangi dosanya, lalu berkata, "Wahai Rabbku! Ampunilah dosaku." Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pun berfirman, "Hamba-Ku berbuat dosa lagi, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman. Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku ini, maka silakan ia berbuat sekehendak hatinya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
إذا فعل العبد ذنبا، ثم قال: اللهم اغفر لي ذنبي، يقول الله تبارك وتعالى: فعل عبدي ذنبا، فعلم أن له ربا يغفر الذنب، فيستره ويتجاوز عنه، أو يعاقب عليه، ثم عاد فأذنب، فقال: يا رب اغفر لي ذنبي، فقال الله تبارك وتعالى: فعل عبدي ذنبا، فعلم أن له ربا يغفر الذنب، فيستره ويتجاوز عنه، أو يعاقب عليه، قد غفرت لعبدي، فليفعل ما شاء من الذنوب ويتبعها بالتوبة الصحيحة، فما دام يفعل هكذا، يذنب ويتوب أغفر له، فإن التوبة تهدم ما قبلها.
Jika seorang hamba melakukan dosa lalu berkata, "Ya Allah! Ampunilah dosaku." Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- akan berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa. Dia mengetahui bahwa dirinya memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa." Selanjutnya Allah menutupi dosanya dan memaafkannya atau menurunkan azabnya. Selanjutnya ia kembali melakukan dosa lalu berkata, "Wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku." Allah -Tābaraka wa Ta'ālā- lalu berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa. Dia mengetahui bahwa dirinya memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa." Lantas Allah menutupi dosanya dan memaafkannya atau mengazabnya. Ia lalu berfirman, "Aku sudah mengampuni hamba-Ku. Karena itu, silakan ia mengerjakan dosa sesukanya dan mengikutinya dengan tobat yang benar. Selama dia melakukan hal itu; berdosa lalu bertobat, pasti Aku memaafkannya. Sesungguhnya tobat dapat menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4817

 
Hadith   745   الحديث
الأهمية: كانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ في رُكُوعِهِ وسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، يَتَأَوَّلُ القُرْآنَ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terbiasa banyak mengucapkan doa berikut dalam rukuk dan sujudnya, "Subḥānaka Allāhumma Rabbanā wa biḥamdika, Allāhummagfirlī" (Maha Suci Engkau Rabb kami, dan Maha Terpuji Engkau. Ya Allah, ampunilah kami). Beliau mengaplikasikan Al-Qur`ān."

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: ما صَلَّى رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- صلاةً بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ عليه: (إذا جاء نصر الله والفتح) إلا يقول فيها: «سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وبِحَمْدِكَ، اللهمَّ اغْفِرْ لِي».
وفي رواية: كانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ في رُكُوعِهِ وسُجُودِهِ: «سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي»، يَتَأَوَّلُ القُرْآنَ.
وفي رواية: كَانَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ: «سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَ‍مْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ». قالتْ عَائِشَةُ: قلتُ: يا رسولَ اللهِ، ما هذهِ الكلماتُ التي أراكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُها؟ قال: «جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا (إذا جاء نصر الله والفتح)... إلى آخر السورة».
وفي رواية: كانَ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ: «سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ». قالتْ: قلتُ: يا رسولَ اللهِ، أراكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وأَتُوبُ إليهِ؟ فقالَ: «أَخْبَرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إليهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا: إذا جاء نصر الله والفتح، فَتْحُ مَكَّةَ، ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجاً، فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان تواباً».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendirikan salat setelah turun ayat kepada beliau, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan," melainkan di dalam salatnya mengucapkan, "Subḥānaka Allāhumma Rabbanā wa biḥamdika, Allāhummagfirlī" (Maha Suci Engkau Rabb kami, dan Maha Terpuji Engkau. Ya Allah, ampunilah kami)". Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- banyak mengucapkan (doa berikut) dalam rukuk dan sujudnya, "Subḥānaka Allāhumma Rabbanā wa biḥamdika, Allāhummagfirlī (Maha Suci Engkau Rabb kami dan Maha Terpuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku)", beliau mengamalkan Al-Qur`ān. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperbanyak ucapan (doa berikut) sebelum wafatnya, "Subḥānallāhi wa biḥamdihi astagfirullāha wa atūbu ilaihi (Maha Suci Allah dan Maha Terpuji. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu)". Aisyah berkata, "Aku bertanya, wahai Rasulullah, mengapa aku lihat engkau sering mengucapkan doa -doa tersebut?" Beliau menjawab, "Telah dijadikan tanda untukku pada umatku. Jika aku melihatnya, aku mengucapkan kata-kata itu, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan" sampai akhir surat." Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperbanyak ucapan, "Subḥānallāhi wa biḥamdihi astagfirullāha wa atūbu ilaihi (Maha Suci Allah dan Maha Terpuji. Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya)". Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, aku melihatmu banyak mengucapkan "Subḥānallāhi wa biḥamdihi astagfirullāha wa atūbu ilaihi?" Beliau menjawab, "Rabbku memberitahuku bahwa aku akan melihat satu tanda pada umatku. Apabila aku melihatnya, aku memperbanyak ucapan, "Subḥānallāhi wa biḥamdihi astagfirullāha wa atūbu ilaihi," dan aku sudah melihatnya, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." Itulah penaklukan Makkah. "dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قالت عائشة -رضي الله عنها-: ما صلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صلاةً بعد أن نزلت سورة النصر إلا وقال في ركوعها وسجودها: سبحانك اللهم وبحمدك اللهم اغفر لي، يعمل بما أُمِرَ به في القرآن في قوله (فسبح بحمد ربك واستغفره).
وأخبرت -رضي الله عنها- أنها سألت النبي -صلى الله عليه وسلم- عن هذه الكلمات التي أصبح يقولها في الركوع والسجود فأخبرها أن الله تبارك وتعالى أخبره أنه سيرى علامة في أمته، فإذا رآها أكثر من قول: سبحان الله وبحمده أستغفر الله وأتوب إليه.
وهذه العلامة: (إذا جاء نصر الله والفتح –فتح مكة- ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجاً فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان تواباً).

Tema: Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak melakukan salat setelah turun surat an-Naṣr melainkan mengucapkan dalam rukuk dan sujudnya (doa), "Subḥānaka Allāhumma Rabbanā wa biḥamdika, Allāhummagfirlī (Mahasuci Engkau ya Allah, dan Maha Terpuji Engkau, ya Allah ampunilah aku)". Beliau mengamalkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya dalam Al-Qur`ān pada firman-Nya, "Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya." Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- juga mengabarkan bahwa dia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai doa-doa yang selalu diucapkannya dalam rukuk dan sujud. Beliau memberitahunya bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- mengabarkan kepada beliau bahwa beliau akan melihat satu tanda pada umatnya. Jika beliau melihatnya, beliau (harus) memperbanyak ucapan, "Subḥānallāhi wa biḥamdihi astagfirullāha wa atūbu ilaihi (Mahasuci Allah dan Maha Terpuji. Aku memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Nya)". Tanda ini adalah, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih dengan seluruh riwayat-riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4826

 
Hadith   746   الحديث
الأهمية: كان أَحَبَّ الثِّيَابِ إلى رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- القَمِيصُ
Tema: Pakaian yang paling disenangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah gamis

عن أم سلمة -رضي الله عنها- قالت: كان أَحَبَّ الثِّيَابِ إلى رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- القَمِيصُ.

Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Pakaian yang paling disenangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah gamis."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان أحب الثياب إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- القميص؛ لأنه أستر من الإزار والرداء، ولأنه قطعة واحدة يلبسها الإنسان مرة واحدة فهي أسهل من أن يلبس الإزار أولا ثم الرداء ثانيا.
ولكن مع ذلك لو كنت في بلد يعتادون لباس الأزر والأردية ولبست مثلهم فلا حرج والمهم ألا تخالف لباس أهل بلدك فتقع في الشهرة وقد نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- عن لباس الشهرة.
"Pakaian yang paling disenangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah gamis." Sebab, gamis lebih menutupi daripada sarung dan selendang. Ini juga merupakan sehelai pakaian yang dikenakan oleh manusia satu kali saja. Ia lebih mudah daripada memakai sarung lebih dahulu lalu selendang. Meskipun demikian, jika engkau berada di satu negara yang penduduknya sudah terbiasa mengenakan sarung dan selendang dan engkau memakai pakaian seperti mereka, maka tidak berdosa . Yang penting jangan sampai engkau mengenakan pakaian yang berbeda dengan pakaian penduduk negerimu sehingga timbul sorotan (menarik perhatian). Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang pakaian demi ketenaran (popularitas).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4827

 
Hadith   747   الحديث
الأهمية: أَنَّ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذا رَفَعَ مَائِدَتَهُ، قال: الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ، وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau telah mengangkat hidangannya (‎selesai makan), beliau mengucapkan, "Segala puji hanya milik Allah dengan pujian yang banyak, yang ‎baik lagi penuh dengan keberkahan, tidak ada yang (bisa) mencukupi-Nya, tidak ada yang ampu meninggalkan-Nya, ‎serta tidak ada yang tidak membutuhkan-Nya, wahai Rabb kami."‎

عن أبي أمامة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذا رَفَعَ مَائِدَتَهُ، قال: «الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ، وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا».

Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau ‎telah mengangkat hidangannya (selesai makan), beliau mengucapkan, "Segala puji hanya ‎milik Allah dengan pujian yang banyak, yang baik lagi penuh dengan keberkahan, tidak ada yang (bisa) ‎mencukupi-Nya, tidak ada yang mampu meninggalkan-Nya, serta tidak ada yang tidak membutuhkan-Nya, wahai ‎Rabb kami."‎

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
معنى الحديث: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يعلم أصحابه السنة بأقواله وأفعاله، ومن الأذكار المأثورة عنه عند الانتهاء من طعامه أنه كان "إذا رفع مائدته" أي إذا فرغ من أكله، وبدأ في رفع آنية الطعام التي أمامه "قال: الحمد لله" ومعناه أن الثناء    والشكر كله في الحقيقة لله وحده دون سواه.
"حمداً كثيراً" أي ثناءً كثيراً يليق بجلاله، وجماله وكماله، وشكراً جزيلاً يوازي نعمه التي لا تحصى، ومنته التي لا تستقصى (وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا)
وقوله: "طيباً" أي: خالصاً من الرياء والسمعة.
"مباركاً" أي مقترناً بالقبول الذي لا يرد؛ لأن البركة معناها الخير. والعمل الذي لا يقبل لا خير فيه.
"غير مَكْفِي" أي نحمده -عز وجل- حال كونه هو الكافي لعباده، ولا يكفيه أحد من خلقه؛ لأنه لا يحتاج إلى أحد.
"ولا مودع" حال أخرى أي ونحمده -سبحانه- حال كونه غير متروك، أي لا يتركه منا أحد لحاجتنا جميعاً إليه.
Makna hadis ini adalah bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajarkan sunnah kepada ‎para sahabatnya dengan perkataan dan perbuatan. Di antara zikir yang ma`ṡūr dari beliau ‎adalah zikir setelah makan, yaitu bahwa beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila telah mengangkat hidangannya, ‏yakni apabila beliau telah selesai makan dan mulai membereskan ‎tempat makanan yang ada dihadapannya,‎ beliau mengucapkan alḥamdulillāh yang maknanya adalah bahwa seluruh pujian dan syukur sebenarnya hanyalah milik Allah saja ‎dan bukan yang lainnya. "Hamdan kaṡīran" yakni‎ pujian yang banyak yang sesuai dengan kemuliaan-Nya, keindahan serta ‎kesempurnaan-Nya. Dan juga syukur yang banyak yang sesuai dengan nikmat-Nya yang ‎tidak terhitung serta anugerah-Nya yang tidak terbatas. "Dan jika kamu ‎menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya." Sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ‎‏"ṭayyiban" yakni ikhlas tanpa ada unsur ria dan sum'ah ‎‎(ingin dilihat dan didengar orang lain).‎ ‏"Mubārakan" yakni yang disertai dengan penerimaan yang tidak ditolak; karena makna keberkahan ‎adalah kebaikan. Dan amalan yang tidak diterima adalah amalan yang tidak mengandung ‎kebaikan.‎ ‏"Gaira makfiyyin"‏‎ yakni memuji Allah –'Azza wa Jalla- dimana Dia adalah Yang Maha Memberi ‎Kecukupan kepada hamba-hamba-Nya, dan tidak ada seorangpun dari makhluk-Nya yang ‎memberi-Nya kecukupan; karena Allah tidak membutuhkan siapapun.‎ ‏"Wa lā muwadda'in"‏‎ yakni memuji-Nya –Subḥānahu wa Ta'ālā- sebagai Zat yang tidak ditinggalkan, yakni ‎tidak seorangpun dari kita yang meninggalkan Allah karena kita semua butuh kepada-Nya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4828

 
Hadith   748   الحديث
الأهمية: كان رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- إذا فَاتَتْهُ الصَّلَاةُ مِنَ الليلِ مِن وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ، صَلَّى من النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
Tema: Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak sempat melakukan salat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau melakukan salat pada waktu siang sebanyak dua belas rakaat.

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: كان رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- إذا فَاتَتْهُ الصَّلَاةُ مِنَ الليلِ مِن وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ، صَلَّى من النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak sempat melakukan salat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau melakukan salat pada waktu siang sebanyak dua belas rakaat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا ترك قيام الليل من وجع أو غيره صلى من النهار ثنتي عشرة ركعة؛ لأنه -صلى الله عليه وسلم- كان يوتر بإحدى عشر ركعة، فإذا مضى الليل ولم يوتر لنوم أو شبهه؛ فإنه يقضي هذه الصلاة، لكن لما فات وقت الوتر صار المشروع أن يجعله شفعا.
Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan salat malam karena sakit atau halangan lainnya, beliau melakukan salat pada waktu siang sebanyak dua belas rakaat, karena beliau salat witir sebelas rakaat. Apabila waktu malam berlalu dan beliau tidak sempat melaksanakan salat witir karena tidur atau hal lainnya, maka beliau mengqaḍa' salat itu. Namun ketika waktu salat witir terlewatkan, maka disyariatkan menjadikannya genap.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4829

 
Hadith   749   الحديث
الأهمية: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُومُ من اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاه
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- shalat malam sampai kedua kakinya bengkak

عن عائشة -رضي الله عنها- والمغيرة بن شعبة -رضي الله عنه-: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان يقوم من الليل حتى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فقلت له: لم تَصْنَعُ هذا يا رسول الله، وقد غفر اللهُ لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟ قال: «أَفَلَا أحب أن أكونَ عبدا شَكُورًا».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dan Mugīrah Ibn Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa dahulunya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya kepadanya, "Kenapa engkau lakukan sampai seperti ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidakkah bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur!".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يقوم بالتهجد من الليل حتى تتشقق قدماه، فقالت له عائشة -رضي الله عنها-، -ظنا منها أنه إنما يعبد الله خوفًا من الذنب وطلبًا للمغفرة والرحمة، وهو قد تحقق له غفران الله تعالى فلا يحتاج لذلك-: لِمَ تصنع هذا يا رسول الله وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، فقال لها النبي -صلى الله عليه وسلم-: أفلا أحب أن أكون عبدا شكورا، فهذه العبادة سببها الشكر على المغفرة.
Dahulu Nabi -salallahu 'alaihi wasallam- bangun untuk salat tahajud di malam hari, hingga kakinya pecah-pecah. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata kepada beliau -karena menyangka bahwa beliau melakukannya karena takut dosa, mengharap ampunan Allah dan rahmat-Nya. Padahal pengampunan Allah -Ta'ālā- telah sudah beliau dapatkan, sehingga tidak perlu melakukannya-, "Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidakkah bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur?" Jadi ibadah ini motivasinya adalah guna bersyukur atas pengampunan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4830

 
Hadith   750   الحديث
الأهمية: أنّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بَرِيءٌ من الصَّالِقَةِ وَالحَالِقةِ وَالشَّاقَّةِ
Tema: Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlepas diri dari wanita yang berteriak keras, mencukur rambut dan merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah).

عن أبي مُوسَى عبد اللَّه بن قيس -رضي الله عنه- «أنّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بَرِيءَ من الصَّالِقَةِ وَالحَالِقةِ وَالشَّاقَّةِ».

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais -raḍiyallāhu 'anhu-, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlepas diri dari wanita yang berteriak keras, mencukur rambut, dan merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لله -عز وجل- الحكمة التامة والتصرف الرشيد في ما أخذ وما أعطى، ومن عارض في هذا ومانعه فكأنما يعترض على قضاء الله وقدره الذي هو عين المصلحة والحكمة وأساس العدل والصلاح.
ولذا فإن النبي -صلى الله عليه وسلم- ذكر أنه من تسخطَ وجزع من قضاء الله فهو على غير طريقته المحمودة، وسنته المنشودة، إذ قد انحرفت به الطريق إلى ناحية الذين إذا مسهم الشر جزعوا وهلعوا؛ لأنهم متعلقون بهذه الحياة الدنيا فلا يرجون بصبرهم على مصيبتهم ثواب الله ورضوانه.
فهو بريء ممن ضعف إيمانهم؛ فلم يحتملوا وَقعَ المصيبة حتى أخرجهم ذلك إلى التسخط القلبي، أو القولي: بالنياحة والندب والدعاء بالويل والثبور، أو الفعلي: كنتف الشعور وشق الجيوب؛ إحياءً لعادة الجاهلية.
وإنما أولياؤه الذين إذا أصابتهم مصيبة سلَّموا بقضاء الله -تعالى-، وقالوا: {إِنَّا لله وإِنا إليه رَاجعُونَ. أولئِكَ عَلَيهِم صَلَوات مِنْ رَبِّهِم وَرَحمَة وَأولئِكَ هُمُ المُهتدُونَ}.
Milik Allah hikmah yang sempurna dan tindakan bijaksana terkait apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Orang yang menentang dan melawan hal ini, maka seakan-akan dia menentang ketentuan dan takdir Allah yang merupakan sumber kemaslahatan dan kebijaksanaan, dan pondasi keadilan dan kebaikan. Untuk itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa orang yang murka dan putus asa terhadap ketetapan Allah, maka dia tidak berada di jalannya yang terpuji dan sunahnya yang diinginkan. Sebab, dengan perbuatan itu dia telah menyimpang jalan menuju arah orang-orang yang jika didera keburukan, mereka cemas dan berkeluh-kesah karena mereka menggantungkan diri kepada kehidupan dunia ini. Mereka tidak mengharapkan pahala dan keridaan Allah dengan kesabarannya terhadap musibah tersebut. Maka Nabi berlepas diri dari kelemahan iman mereka karena tidak mampu memikul hentakan musibah sehingga mengeluarkan mereka pada kemarahan hati atau ucapan dengan teriakan, ratapan dan doa kecelakaan, serta kehancuran; atau perbuatan seperti mencabut rambut, merobek saku (baju) untuk menghidupkan tradisi jahiliah. Sesungguhnya para wali Allah adalah orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka tunduk kepada ketetapan Allah -Ta'ālā - dan mengatakan, "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4849

 
Hadith   751   الحديث
الأهمية: من أكل ثومًا أو بصلًا؛ فَلْيَعْتَزِلْنَا -أَوْ لِيَعْتَزِلْ مسجدنا-، وليقعد في بيته
Tema: Siapa saja yang memakan bawang putih atau bawang merah, hendaknya ia menjauhi kami -atau hendaknya ia menjauhi masjid kami- dan duduk saja di rumahnya.

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «من أكل ثومًا أو بصلًا؛ فَلْيَعْتَزِلْنَا -أَوْ لِيَعْتَزِلْ مسجدنا-، وليقعد في بيته.
وأُتي بِقِدْرٍ فيه خَضِرَاتٌ من بُقُولٍ، فوجد لها ريحًا، فسأل فأخبر بما فيها من البقول، فقال: قَرِّبُوهَا إلى بعض أصحابي، فلما رآه كره أكلها، قال: كل؛ فإني أُنَاجِي من لا تُنَاجِي».
عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «من أكل الثوم والبصل والْكُرَّاثَ فلا يقربن مسجدنا؛ فإن الملائكة تَتَأَذَّى مما يَتَأَذَّى منه بنو آدم».

Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa memakan bawang putih atau bawang merah, hendaknya ia menjauhi kami -atau hendaknya ia menjauhi masjid kami- dan duduk saja di rumahnya. Pernah disuguhkan periuk berisi sayuran hijau, dan beliau mencium bau darinya, maka beliau menanyakannya. Beliau pun diberitahu sayur-sayuran yang ada di dalamnya. Lalu beliau bersabda, "Berikanlah kepada sebagian sahabatku." Manakala Rasulullah melihat sahabat tersebut enggan memakannya, beliau bersabda, "Makanlah, sesungguhnya aku bermunajat kepada Zat Yang tidak engkau munajati." Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersada, "Barangsiapa memakan bawang putih, bawang merah dan bawang perei, maka janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya para malaikat itu terganggu dengan sesuatu yang manusia merasa terganggu dengannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
المطلوب أن يكون المُصلِّى على أحسن رائحة وأطيبها، لاسيما إذا كان يريد أداء صلاته في المجامع العامة؛
ولذا أمر النبي -صلى الله عليه وسلم-، من أكل ثوماً أو بصلاً نيئين أن يتجنب مساجد المسلمين، ويؤدى صلاته في بيته، حتى تذهب عنه الرائحة الكريهة، التي يتأذى منها المصلون والملائكة المقربون.
ولما جِيء إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- بقدر من خضروات وبقول، فوجد لها ريحاً كريهة، أمر أن تقرب إلى من حضر عنده من أصحابه، فلما رأى الحاضر كراهته -صلى الله عليه وسلم- لها، ظن أنها محرمة، فتردد في أَكلها، فأخبره أنها ليست بمحرمة، وأنه لم يكرهها لأجل حرمتها، وأمره بالأكل، وأخبره أن المانع له من أكلها أنه -صلى الله عليه وسلم- له اتصال مع ربه، ومناجاة لا يصل إليها أحد؛ فيجب أن يكون على أحسن حال لدى القرب من ربه -جل وعلا-، ولأن مراعاة المصالح العامة بدفع الأذية عن المؤمنين أولى من مراعاة مصالحه الخاصة بحضور الجماعة، والتي كانت السبب في تفويتها.
Seharusnya orang yang salat itu berada dalam aroma yang paling baik dan wangi, apalagi bila ia hendak menunaikan salat di tempat umum (masjid atau tanah lapang). Oleh sebab itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah orang yang memakan bawang putih atau bawang merah yang mentah agar menjauhi masjid kaum Muslimin dan mengerjakan salat di rumahnya, sampai hilang bau tak sedapnya yang mengganggu jamaah salat dan para malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Ketika dihidangkan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- periuk berisi sayuran, lalu beliau mencium bau kurang sedap, beliau memerintahkan supaya sayuran tersebut diberikan kepada sahabat yang ada di samping beliau. Ketika orang itu melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menyukainya, ia mengira sayuran tersebut haram, sehingga ia ragu-ragu memakannya. Maka beliau memberitahukan bahwa sayuran itu tidak haram, dan beliau membencinya bukan karena haram. Beliau memerintah orang tersebut memakannya dan mengabarkan bahwa yang menghalangi beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakannya adalah beliau memiliki kedekatan dengan Rabb dan munajat yang tidak dicapai seorang pun, sehingga beliau harus berada dalam kondisi paling baik kala berdekatan dengan Rabb -Jalla wa 'Alā-. Juga karena menjaga maslahat umum dengan menghindari sesuatu yang mengganggu kaum Mukminin lebih utama dibanding menjaga kepentingan pribadi menghadiri jamaah, di mana bau tak sedap tersebut adalah penyebab dia tidak bisa menghadiri salat jamaah.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4850

 
Hadith   752   الحديث
الأهمية: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى على النَّجَاشِيِّ، فكنت في الصفّ الثاني، أو الثالث
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat (gaib) untuk Najasyi. Saat itu aku berada di saf kedua atau ketiga

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- «أن النبي -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى على النَّجَاشِيِّ، فكنت في الصفّ الثاني، أو الثالث».

Dari Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat (gaib) untuk Najasyi. Saat itu aku berada di saf kedua atau ketiga."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبر جابر بن عبدالله -رضي الله عنهما- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- صلى على النجاشي صلاة الغائب، وأنه كان ممن صلى إلا أنه لا يذكر هل كان في الصف الثاني أو الثالث؟ هذا إذا كان الشك منه، ولم يكن من الراوي.
Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat gaib untuk Najasyi. Jābir termasuk salah satu yang mengikuti salat gaib tersebut. Hanya saja dia sangsi; apakah saat itu dia berada di saf kedua atau ketiga. Ini jika keraguan tersebut dari Jābir sendiri, bukan dari perawi hadis ini.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4851

 
Hadith   753   الحديث
الأهمية: حديث ذي اليدين في سجود السهو
Tema: Hadis Żul Yadain tentang sujud sahwi

عن أبي هُرَيْرَةَ -رضي الله عنه- قال: «صلَّى بنا رسول الله-صلى الله عليه وسلم- إحدى صَلاتَيْ الْعَشِيِّ -قال ابن سِيرِينَ وسمَّاها أبو هُرَيْرَةَ، ولكن نسيت أنا- قال: فصلَّى بنا ركعتين، ثم سلَّم، فقام إلى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ في المسجد، فَاتَّكَأَ عليها كأنه غضبان ووضع يده اليُمنى على اليُسرى، و شَبَّكَ بين أصابعه، وخرجت السَّرَعَانُ من أبواب المسجد فقالوا: قَصُرَتِ الصلاة -وفي القوم أبو بكر وعمر- فهابا أن يكلماه، وفي القوم رجل في يديه طُول، يقال له: ذو اليدين فقال: يا رسول الله، أنسيت؟ أم قَصُرَتِ الصلاة؟ قال: لم أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ، فقال: أكما يقول ذو اليدين؟ فقالوا: نعم، فتقدَّم فصلَّى ما ترك، ثم سلَّمَ، ثم كبَّر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه فكبَّر، ثم كبَّر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبَّر، فربما سألوه: ثم سلّم؟ قال: فَنُبِّئْتُ أن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قال: ثم سلَّمَ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melaksanakan salah satu salat dari dua salat sore -Ibnu Sirin berkata, "Abu Hurairah menyebutkannya namun aku lupa-. Abu Hurairah berkata, "Beliau salat bersama kami dua rakaat, kemudian salam. Lantas beliau bangkit menuju sebatang kayu yang membentang di dalam masjid. Beliau bersandar ke kayu tersebut, sepertinya sedang marah, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri serta menganyam jari-jari beliau. Orang-orang cepat pergi keluar dari pintu-pintu masjid sambil mengatakan, "salat telah diqasar (diringkas)." Di tengah-tengah mereka ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya enggan bicara kepada beliau. Di antara mereka juga ada seorang laki-laki yang tangannya panjang. Orang itu dijuluki Żul Yadain (yang punya dua tangan), lalu Ia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau salat memang diqasar?" Beliau menjawab, "Aku tidak lupa dan salat juga tidak diqasar." Lalu beliau bertanya, "Apakah benar seperti yang dikatakan Żul Yadain?" Orang-orang menjawab, "Ya." Lantas beliau maju dan mengerjakan rakaat salat yang beliau tinggalkan, kemudian salam. Kemudian beliau bertakbir dan sujud seperti sujud beliau tadinya atau lebih lama. Kemudian mengangkat kepala dan bertakbir. Kemudian bertakbir lagi dan sujud seperti sujud beliau tadinya atau lebih lama. Kemudian mengangkat kepala dan bertakbir." Barangkali mereka bertanya, "Apakah kemudian beliau salam?" Maka aku diberitahu bahwa 'Imrān bin Ḥuṣain berkata, "Kemudian beliau salam."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الرسل أكمل الناس عقولاً، وأثبتهم قلوباً، وأحسنهم تحمُّلاً، وأقومهم بحق الله -تعالى- ومع هذا فإنهم لم يخرجوا عن حدود البشرية، ورسول الله -صلى الله عليه وسلم- أكمل الرسل في هذه الصفات، ومع ذلك فقد طرأ عليه النسيان بحكم بشريته؛ ليشرع الله لعباده أحكام السهو، ويروي أبو هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- صلى بأصحابه: إما صلاة الظهر أو العصر، وأن أبا هريرة عينها لكن نسي ابن سِيرِين، فلما صلى الركعتين الأوليين سلّم، ولما كان صلى الله عليه وسلم كاملًا، لا تطمئن نفسه إلا بالعمل التام؛ شعر بنقص وخلل، لا يدرى ما سببه، فقام إلى خشبة مَعْروضة في قبلة المسجد واتَّكأ عليها بنفس قَلِقَة، وَشبَّك بين أصابعه.
وخرج المسرعون من المصلين من أبواب المسجد، وهم يتناجون بينهم، بأن أمراً حدث، وهو قصر الصلاة؛ وكأنهم أكبروا مقام النبوة أن يطرأ عليه النسيان، ولهيبته -صلى الله عليه وسلم- في صدورهم لم يَجْرُؤ واحد منهم أن يفاتحه في هذا الموضوع الهام، بما في ذلك أبو بكر وعمر -رضي الله عنهما- خاصة وقد شاهدوا منه التأثر والانقباض.
إلا أن رجلًا من الصحابة يقال له ذو اليدين قطع هذا الصمت، بأن سأل النبي -صلى الله عليه وسلم- بقوله: يا رسول الله، أنسيت أم قَصُرَت الصلاة؟ لم يجزم بواحد منهما؛ لأن كل منهما محتمل في ذلك العهد، فقال -صلى الله عليه وسلم- -بناء على ظنه-: لم أنْسَ ولم تُقْصَر.
حينئذ لما علم ذو اليدين أن الصلاة لم تُقْصَر، وكان متيقنًا أنه لم يصلها إلا ركعتين، علم أنه -صلى الله عليه وسلم- قد نَسِيَ، فقال: بل نسيت.
فأراد -صلى الله عليه وسلم- أن يتأكد من صحة خبر ذي اليدين؛ لأنه يخالف ظنه من تمام الصلاة فطلب النبي -صلى الله عليه وسلم- ما يرجِّح قوله، فقال لمن حوله من أصحابه: أكما يقول ذو اليدين من أني لم أصلِّ إلا ركعتين؟ فقالوا: نعم، حينئذ تقدم -صلى الله عليه وسلم- فصلى ما ترك من الصلاة.
وبعد التشهد سلَّم، ثم كبَّر وهو جالس، وسجد مثل سجود صُلْب الصلاة أو أطول، ثم رفع رأسه من السجود فكَبَّرَ، ثم كبَّر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبَّر، ثم سلَّم ولم يتشهد.
Para Rasul adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling kokoh hatinya, paling baik ketabahannya dan paling sempurna dalam menunaikan hak Allah -Ta'ālā-. Namun demikian, mereka tidak keluar dari batas-batas sebagai manusia biasa. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merupakan Rasul paling sempurna dalam sifat-sifat ini, meskipun demikian beliau pernah lupa sebagai seorang manusia sehingga Allah mensyariatkan hukum-hukum sahwi (lalai/lupa) untuk hamba-hambanya. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat bersama para sahabat, bisa jadi salat Zuhur atau salat Asar. Abu Hurairah menyebutkan salat ini namun Ibnu Sirin lupa. Ketika telah mengerjakan dua rakaat pertama beliau salam. Oleh karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu sosok yang sempurna, jiwa beliau tidak tenang kecuali dengan amal yang sempurna, beliau merasa ada yang kurang atau salah. Beliau tidak tahu apa sebabnya. Lantas beliau bangkit menuju sebatang kayu yang terbentang di depan masjid dan bersandar padanya dengan jiwa yang gundah sambil menganyam jari-jari tangan.
Jamaah salat yang cepat pergi keluar dari pintu-pintu masjid, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka bahwa satu perkara telah terjadi, yaitu perkara salat yang telah diqasar. Sepertinya mereka menganggap mustahil kedudukan seorang Nabi dapat terkena lupa. Dan karena kewibawaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hati mereka, tak seorang pun dari mereka berani berinisiatif menanyakan permasalahan penting ini pada beliau. Termasuk Abu Bakar dan Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, terlebih lagi mereka melihat beliau murung dan muram.
Namun seorang sahabat yang dijuluki Żul Yadain memecah keheningan ini dengan bertanya pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau salat memang diqasar?” Ia tidak memastikan salah satu dari keduanya karena masing-masing mungkin terjadi pada masa itu. Beliau –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab –berdasarkan keyakinan beliau-, “Aku tidak lupa dan salat tidak diqasar.”
Ketika itulah, saat Żul Yadain tahu salat tidak diqasar dan ia yakin beliau hanya mengerjakan dua rakaat, ia tahu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah lupa. Maka ia berkata, “Engkau telah lupa.”
Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ingin memastikan kebenaran berita Żul Yadain ini karena berbeda dengan keyakinan beliau bahwa salat telah sempurna. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencari sesuatu yang dapat menguatkan perkataannya, maka beliau bertanya pada para sahabat yang ada di sekitar beliau, “Apakah benar seperti yang diucapkan Żul Yadain bahwa aku hanya salat dua rakaat?” Mereka menjawab, “Ya.” Ketika itulah beliau langsung maju, lalu mengerjakan rakaat salat yang ditinggalkan.
Selesai tasyahud beliau salam. Kemudian bertakbir dalam posisi duduk dan sujud seperti sujud utama dalam salat, atau lebih lama. Kemudian mengangkat kepala dari sujud lalu bertakbir. Kemudian bertakbir lagi dan sujud seperti sujud beliau tadinya atau lebih lama. Berikutnya, beliau mengangkat kepala dan bertakbir. Kemudian langsung salam dan tidak bertasyahud.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4853

 
Hadith   754   الحديث
الأهمية: جاء جبريل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ما تعدون أهل بدر فيكم؟ قال: من أفضل المسلمين
Tema: Jibril datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Apa kedudukan Ahli Badar di antara kalian?" Beliau menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama"

عن رفاعة بن رافع الزرقي -رضي الله عنه- قال: جاء جبريل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ما تَعُدُّونَ أهل بدر فيكم؟ قال: «من أفضل المسلمين» أو كلمة نحوها. قال: وكذلك من شهد بدرا من الملائكة.

Dari Rifā'ah bin Rāfi' Az-Zarqi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Jibril datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Apa kedudukan Ahli Badar di antara kalian?" Beliau menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama" atau kalimat yang seperti itu. Lantas Jibril berkata, "Demikian juga para malaikat yang mengikuti perang Badar."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبرنا الصحابي الجليل رفاعة رضي الله عنه أن جبريل عليه السلام أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال له: ما منزلة الذين شهدوا الجهاد في غزوة بدر، وقد نصر الله نبيه والمؤمنين الذين كانوا معه فيها نصرا مؤزرا فقال صلى لله عليه وسلم: هم من أفضل المسلمين عندنا, فرد جبريل عليه السلام: وأيضا الذين حضروها وقاتلوا من الملائكة.
Sahabat agung, Rifā'ah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa Jibril -'alaihissalām- datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya kepadanya, "Bagaimana kedudukan orang-orang yang mengikuti perang Badar, -dalam perang itu Allah telah menolong Nabi-Nya dan kaum mukminin yang ikut bersamanya dengan kemenangan telak-. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama di antara kami." Lantas Jibril berkata, "Demikian juga kalangan para malaikat yang hadir dan mengikuti perang Badar."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4925

 
Hadith   755   الحديث
الأهمية: كان جذع يقوم إليه النبي -صلى الله عليه وسلم- يعني في الخطبة - فلما وضع المنبر سمعنا للجذع مثل صوت العشار، حتى نزل النبي -صلى الله عليه وسلم- فوضع يده عليه فسكن
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berdiri di atas sebatang pohon (kurma) ketika berkhotbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon (kurma) tersebut seperti suara binatang yang bunting sehingga Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun lalu meletakan tangannya padanya. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- قال: كان جِذْعٌ يقوم إليه النبي -صلى الله عليه وسلم- يعني في الخطبة - فلما وُضعَ المنبر سمعنا للجِذْعِ مثل صوت العِشَارِ، حتى نزل النبي -صلى الله عليه وسلم- فوضع يده عليه فَسَكَنَ. وفي رواية: فلما كان يوم الجمعة قعد النبي -صلى الله عليه وسلم- على المنبر، فصاحت النخلة التي كان يخطب عندها حتى كادت أن تَنْشَقُّ، وفي رواية: فصاحت صِيَاحَ الصبي، فنزل النبي -صلى الله عليه وسلم- حتى أخذها فَضَمَّها إليه، فجعلت تَئِنُّ أَنِينَ الصبي الذي يُسَكَّتُ حتى اسْتَقَرَّتْ، قال: «بَكَتْ على ما كانت تسمع من الذِّكْرِ».

Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berdiri di atas sebatang pohon (kurma) ketika berkhotbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon (kurma) tersebut seperti suara binatang yang bunting sehingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun lalu meletakan tangannya padanya. Setelah itu, batang pohon itu pun diam." Dalam satu riwayat disebutkan, "Ketika hari Jum'at, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar, lalu batang kurma yang biasa beliau berkhotbah di atasnya berteriak, sehingga batang kurma itu hampir terbelah. " Dalam riwayat lain disebutkan, "Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun sehingga memegangnya lalu memeluknya. Setelah itu, mulailah batang kurma itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan (tangisannya) sampai ia terdiam. Beliau bersabda, "Ia menangis karena zikir yang dulu biasa ia dengar."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
اتخذ النبي -صلى الله عليه وسلم- جذع نخلة منبراً له؛ فلما استبدله النبي -صلى الله عليه وسلم- سمُع صوت الجذع وبكاءه بسبب ما كان يسمع من الذكر، فنزل النبي -صلى الله عليه وسلم- فوضع يده عليه فَسَكَنَ. وفي رواية: فنزل النبي -صلى الله عليه وسلم- حتى أخذها فَضَمَّها إليه، وكان ذلك في خطبة الجمعة.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadikan pohon kurma sebagai mimbarnya. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menukarnya (dengan yang lain) maka terdengar suara dan tangisan dari pohon tersebut, karena biasanya dia sering mendengarkan zikir. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meletakkan tangannya di pohon tersebut sehingga dia menjadi tenang. Dalam riwayat lain, "Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun sehingga memegangnya lalu memeluknya. Itu terjadi ketika beliau sedang melakukan khotbah Jum'at.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4927

 
Hadith   756   الحديث
الأهمية: لا يلدغ المؤمن من جحر واحد مرتين
Tema: Tidak sepantasnya seorang mukmin dipatuk (binatang berbisa) dua kali di lobang yang sama.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُلْدَغُ المؤمنُ من جُحْرٍ واحد مرتين».

Dari Abu Hurairah –raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila seseorang berkata, 'Celakalah manusia,' maka ia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبرنا النبي الكريم -صلى الله عليه وسلم- أن المؤمن لا يصاب من مكان واحد مرتين، فينبغي أن يكون حازمًا حذرًا متيقظًا لا يؤتى من الغفلة فينخدع.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang mulia mengabarkan kepada kita bahwa seorang mukmin tidak sepantasnya terjerat/terperosok ke dalam dosa dua kali di tempat yang sama. Seharusnya dia sigap dan waspada jangan sampai lalai hingga terpedaya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4928

 
Hadith   757   الحديث
الأهمية: بين النفختين أربعون قالوا: يا أبا هريرة أربعون يوما؟ قال: أبيت، قالوا: أربعون سنة؟ قال: أبيت. قالوا: أربعون شهرا؟ قال: أبيت
Tema: Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh. Ada yang bertanya, "Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab, "Aku enggan menjawab." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh tahun?" Dia menjawab, "Aku tidak peduli." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh bulan?" Dia menjawab, "Aku tidak peduli."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «بين النفختين أربعون» قالوا: يا أبا هريرة أربعون يومًا؟ قال: أَبَيْتُ. قالوا: أربعون سنة؟ قال: أَبَيْتُ. قالوا: أربعون شهرا؟ قال: أَبَيْتُ. «ويَبْلَى كل شيء من الإنسان إلا عَجْبُ الذَّنَب، فيه يُرَكَّبُ الخلق، ثم يُنْزِلُ الله من السماء ماء فَيَنْبُتُونَ كما يَنْبُتُ الْبَقْلُ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya, "Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab, "Aku enggan menjawab." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh tahun?" Dia menjawab, "Aku tidak peduli." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh bulan?" Dia menjawab, "Aku enggan menjawab." Dan semua bagian manusia akan hancur kecuali tulang ekor. Darinya (tulang ekor) manusia dibangkitkan. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يخبرنا الصحابي الجليل أبو هريرة -رضي الله عنه- أنه سمع النبي -صلى الله عليه وسلم- يذكر أن المدة التي تكون بين نفخة الصعق ونفخة البعث أربعون, فسئل -رضي الله عنه- عن هذا العدد؟ هل يقصد به الأيام أو الشهور أو السنوات؟ فامتنع عن الجواب, إشارة منه إلى أنه لم يسمع شيئا في ذلك من الرسول -صلى الله عليه وسلم-, ثم ذكر أن الله -تعالى- يرسل مطرًا غليظًا كمني الرجال، فينبت منه الناس في قبورهم كما تنبت حبة السيل ثم تخرج, ثم يقوم الناس إلى يوم الحساب لرب العالمين.
Sahabat yang mulia Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa dia telah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa jarak waktu antara tiupan (sangkakala) yang mematikan dan tiupan yang membangkitkan adalah empat puluh. Lantas Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ditanya tentang jumlah ini, apakah yang dimaksud dengannya hari, bulan, atau tahun? Namun dia menolak untuk menjawab sebagai isyarat darinya bahwa dia tidak mendengar sesuatu tentang itu dari Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah -Ta’ālā- mengirimkan hujan lebat yang kental seperti sperma laki-laki, maka tumbuhlah darinya manusia di dalam kuburan-kuburan mereka sebagaimana tumbuhnya biji-bijian, kemudian mereka keluar, kemudian manusia berdiri menuju hari hisab (yang akan dilakukan) oleh Rabb semesta alam.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4929

 
Hadith   758   الحديث
الأهمية: يصلون لكم، فإن أصابوا فلكم، وإن أخطئوا فلكم وعليهم
Tema: Mereka (para penguasa) mengimami salat kalian. Jika (salat) mereka benar, kalian (dan mereka) mendapatkan bagian pahalanya. Namun jika mereka salah kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: "يُصَلُّونَ لكم، فإن أصابوا فلكم، وإن أخطأوا فلكم وعليهم".

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mereka (para penguasa) mengimami salat kalian. Jika (salat) mereka benar, kalian (dan mereka) mendapatkan bagian pahalanya. Namun jika mereka salah kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن هناك أئمة يعني أمراء يصلون لكم، فإن أحسنوا فلكم ولهم الأجر، وإن أساءوا فلكم الأجر على الصلاة وعليهم وزر الإساءة فيها، وهذا وإن كان في الأمراء فإنه يشمل أيضًا أئمة المساجد، كل منهم على حسب إحسانه للصلاة أو إساءتها، وفي الحديث إشارة إلى أنه يجب الصبر على ولاة الأمر وإن أساءوا في الصلاة وإن لم يصلوها على وقتها، فإن الواجب ألا نشذ عنهم وأن نؤخر صلاة الجماعة كما يؤخرون، وحينئذ يكون تأخيرنا للصلاة عن أول وقتها يكون تأخيرًا بعذر لأجل موافقة الجماعة وعدم الشذوذ ويكون بالنسبة لنا كأننا صلينا في أول الوقت، والتأخير مشروط بألا يخرج وقت الصلاة، وأن الشذوذ عن الناس وعن ولاة الأمور والبعد عنهم وإثارة الناس عليهم ونشر مساوئهم كل هذا مجانب للدين الإسلامي.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa akan ada para imam, yaitu para penguasa yang mengimami salat kalian. Jika mereka salat dengan baik maka pahalanya untuk kalian dan mereka. Jika mereka salat dengan buruk maka bagi kalian pahala salat dan bagi mereka dosa keburukan dalam salat. Meskipun hadis ini tertuju pada para penguasa, namun ia juga mencakup para imam masjid. Masing-masing mereka mendapatkan balasan sesuai dengan baik dan buruknya salatnya. Hadis ini mengandung isyarat untuk sabar terhadap para pemimpin meskipun mereka salat dengan buruk dan walaupun mereka tidak melaksanakan salat tepat pada waktunya. Adapun kewajiban kita adalah tidak menyelisihi mereka dan hendaknya mengakhirkan salat berjamaah sebagaimana mereka mengakhirkannya, karena pada saat itu tindakan kita mengakhirkan salat dari awal waktunya merupakan penangguhan karena ada uzur untuk tetap bersama jamaah dan tidak menyelisihinya, sehingga bagi kita seakan-akan tetap melaksanakan salat di awal waktu. Tentunya syarat pengakhiran atau penundaan ini adalah tidak boleh keluar dari waktu salat. Adapun menyelisihi amalan orang banyak dan para pemimpin, menjauh dari mereka, memprovokasi manusia terhadap mereka, dan menyebarkan keburukan-keburukan mereka, maka itu merupakan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4931

 
Hadith   759   الحديث
الأهمية: عجب الله -عز وجل- من قوم يدخلون الجنة في السلاسل
Tema: Allah -'Azzā wa Jallā- takjub terhadap suatu kaum yang masuk Surga dalam keadaan terbelenggu

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: {كنتم خير أمة أُخْرِجَتْ للناس} قال: "خَيْرُ النَّاسِ للنَّاسِ يَأتُونَ بهم في السَّلاسِلِ في أعْنَاقِهِمْ حتى يَدْخُلُوا في الإسلام".
وعنه أيضا -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «عَجِبَ الله -عز وجل- مِنْ قوم يَدْخُلُونَ الجنة في السَّلاسِلِ».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, ”Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Ia berkata, "Sebaik-baik manusia (yang berjasa) kepada manusia lainnya adalah manusia yang menawan mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.”
Dan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga, dari Nabi -ṣalallahu'alaihi wasalam-, beliau bersabda, “Allah -'Azzā wa Jallā- takjub terhadap suatu kaum yang masuk Surga dalam keadaan terbelenggu.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
عَجِب الله -سبحانه- لقوم يُقادون إلى الجنة بالسلاسل، وهم قوم كانوا من الكفار يأسرهم المسلمون في الجهاد، ثم يُسلمون فيكون هذا الأسر سببًا في إسلامهم ودخولهم الجنة, ويعتبر الحديث الثاني كالتفسير والبيان للحديث الموقوف الأول, وقد وصف هؤلاء الآسرون في أثر أبي هريرة -رضي الله عنه- بأنهم خير الناس للناس, إذ كانوا سببًا في هداية هؤلاء المأسورين, وصدّر -رضي الله عنه- كلامه بالآية؛ لأن هذا مظهر من المظاهر الذي تتجلى فيه خيرية هذه الأمة.
Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā- takjub terhadap orang-orang yang ditarik untuk masuk ke Surga dengan menggunakan rantai. Mereka adalah orang kafir yang ditawan oleh kaum Muslimin dalam jihad, kemudian mereka masuk Islam, sehingga penawanan ini menyebabkan mereka masuk Islam dan masuk Surga. Hadis kedua dianggap sebagai tafsir dan penjelasan dari hadis mauqūf yang pertama. Dalam aṡar Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- para penawan tersebut disifati bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya karena mereka telah menjadi sebab jalan hidayah bagi para tawanan. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- memulai perkataannya dengan ayat Al-Qur`ān karena ini adalah salah satu tanda di antara tanda-tanda keutamaan umat ini.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Sahih dengan dua riwayatnya]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4932

 
Hadith   760   الحديث
الأهمية: أحب البلاد إلى الله مساجدها، وأبغض البلاد إلى الله أسواقها
Tema: Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasarnya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «أحَبُّ البلاد إلى الله مَساجِدُها، وأبغض البلاد إلى الله أسْوَاقُها».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-, beliau bersabda, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasarnya.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث بيان أن أحبَّ الأماكن وأفضلها عند الله -عز وجل- هي المساجد، وذلك لما فيها من إقامة الصلوات، وذكر الله وحلق العلم، وما فيها من تعليم الناس أمور دينهم، وفي المقابل فإن أبغض الأماكن وأشدها كراهية عند الله -عز وجل- هي الأسواق، لما فيها من اللغط واللغو، وكثرة الحلف والغش والكذب، والغفلة عن ذكر الله -تعالى-.
Dalam hadis ini terdapat penjelasan bahwa tempat yang paling dicintai Allah -'Azzā wa Jallā- dan yang paling istimewa adalah masjid, karena menjadi tempat-tempat didirikannya salat, zikir, majelis ilmu dan pengajaran manusia tentang urusan-urusan agama mereka. Sebaliknya, tempat-tempat yang paling dibenci Allah -'Azzā wa Jallā- adalah pasar, karena di dalamnya terdapat senda gurau, hal-hal yang memalingkan dari Allah, banyaknya sumpah, penipuan, kebohongan serta kelalain dari zikir kepada Allah -Ta'ālā-.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4933

 
Hadith   761   الحديث
الأهمية: إن المقسطين عند الله على منابر من نور: الذين يعدلون في حكمهم وأهليهم وما ولوا
Tema: “Sesungguhnya orang-orang yang bersikap adil di sisi Allah itu akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya: (yaitu) orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, dan keluarga serta apa yang mereka pimpin.”

عن عبد الله بن عمرو بن العاص - رضي الله عنهما- قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إن المُقْسِطين عند الله على منابر من نور: الذين يعدلون في حكمهم وأهليهم وما ولَوُاْ».

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah: (yaitu) orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, dan keluarga serta apa yang mereka pimpin.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في الحديث بشارة للذين يحكمون    بالحق والعدل بين الناس الذين تحت إمرتهم وحكمهم، وأنهم على منابر من نور حقيقة إكرامًا لهم يوم القيامة عند الله -عز وجل-.
وهذه المنابر عن يمين الرحمن -تعالى-، وفيه إثبات اليمين واليد له -سبحانه- دون تعطيل أو تكييف أو تشبيه أو تحريف.
Dalam hadis tersebut terdapat kabar gembira bagi orang yang mengadili dengan kebenaran dan keadilan di antara manusia yang berada di bawah kekuasaan dan hukumnya, bahwa mereka nanti akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya hakiki sebagai penghormatan bagi mereka di sisi Allah -'Azza wa Jalla- pada hari Kiamat. Mimbar-mimbar tersebut berada di sebelah kanan Ar-Raḥmān -Ta'ālā-. Dalam hadis ini juga terdapat penetapan sifat kanan dan tangan bagi Allah tanpa melakukan ta'ṭīl (menafikan sifat-Nya), menetapkan kaifiat, tasybīh (menyamakan sifat-Nya dengan makhluk), ataupun taḥrīf (merubah maknanya).

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4935

 
Hadith   762   الحديث
الأهمية: كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون بعدي خلفاء فيكثرون
Tema: Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «كانت بنو إسرائيل تَسُوسُهُمُ، الأنبياء، كلما هلك نبي خَلَفَهُ نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون بعدي خلفاء فيكثرون»، قالوا: يا رسول الله، فما تأمرنا؟ قال: «أوفوا ببيعة الأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، واسألوا الله الذي لكم، فإنَّ الله سائلهم عما اسْتَرْعَاهُم».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat kepada (khalifah) yang pertama kemudian kepada yang berikutnya, lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كانت بنو إسرائيل تتولى الأنبياء أمرهم كما يفعل الولاة والأمراء بالرعية، كلما مات نبي جاء بعده نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون خلفاء كثيرون يحكمون الناس. فقال الصحابة -رضي الله عنهم-: إذا كثر بعدك الخلفاء فوقع التشاجر والتنازع بينهم فما تأمرنا أن نفعل؟ فأجابهم النبي -صلى الله عليه وسلم- بقوله: "أوفوا ببيعة الأول" وأعطوهم حقهم وإن لم يعطوكم حقكم؛ لأن الله سيسألهم عن حقكم، ويثيبكم بما لكم عليهم من الحق.
Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi, seperti yang dilakukan oleh para pemimpin dan kepala negara terhadap rakyatnya. Setiap kali seorang Nabi meninggal dunia, maka akan datang seorang Nabi sepeninggalnya. Namun tidak ada Nabi lagi sesudahku, (kata Rasulullah), dan akan ada banyak khalifah yang memimpin manusia. Maka para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bertanya, “Jika sepeninggalmu akan banyak khalifah, lalu terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka, maka apa perintahmu untuk kami lakukan?” (Beliau berpesan agar) kalian memenuhi baiat (khalifah) yang pertama, dan tunaikanlah hak mereka meskipun mereka tidak memberikan hak kalian; karena Allah pasti akan menanyai mereka tentang hak kalian, dan akan memberikan balasan untuk kalian atas hak kalian yang seharusnya mereka penuhi”.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4936

 
Hadith   763   الحديث
الأهمية: اللهم من ولي من أمر أمتي شيئا فشق عليهم، فاشقق عليه، ومن ولي من أمر أمتي شيئا فرفق بهم، فارفق به
Tema: Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut.

عن عائشة -رضي الله عنها- قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- يقُولُ في بيتي هَذَا: «اللهم من وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، ومن وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَرَفَقَ بهم، فَارْفُقْ به».

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda di rumahku ini, "Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في هذا الحديث بيان عظم أمر الولاية، وقد دعا النبي -صلى الله عليه وسلم- أنَّ مَن ولي مِن أمر الناس شيئاً فضيَّق عليهم أن يعامله الله بالمثل، ومن عاملهم بالعدل والانصاف والرحمة واللين أن يجازيه على ذلك، والجزاء من جنس العمل.
Hadis ini menjelaskan besarnya urusan pemerintahan. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa bahwa barangsiapa membawahi sedikit saja dari urusan manusia, lalu ia menyusahkan mereka, maka Allah akan memperlakukannya seperti itu juga. Dan barangsiapa memperlakukan manusia dengan adil, objektif, kasih-sayang, dan lemah-lembut, maka Dia akan membalasnya. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4938

 
Hadith   764   الحديث
الأهمية: من يحرم الرفق، يحرم الخير كله
Tema: Siapa yang terhalang dari kelembutan maka dia terhalang dari seluruh kebaikan

عن جرير بن عبد الله -رضي الله عنه- قالَ: سمعتُ رَسُولَ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- يقُولُ: «من يُحْرَمِ    الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الخير كله».

Dari Jarir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu-,dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang terhalang dari kelembutan maka dia terhalang dari seluruh kebaikan".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحديث حث على الرفق في جميع الأمور، وأن من تصرف بالعنف والشدة فإنه يحرم الخير فيما فعل.
Hadis ini mendorong kita untuk berlaku lembut dalam segala urusan. Orang yang bertindak kasar dan anarkis akan terhalang dari kebaikan dalam perbuatannya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4939

 
Hadith   765   الحديث
الأهمية: كنت أمشي مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وعليه برد نجراني غليظ الحاشية، فأدركه أعرابي فجبذه بردائه جبذة شديدة
Tema: Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan selendang buatan negeri Najran yang kasar tepinya, lalu seorang badui mengejar beliau dan menarik selendang beliau dengan keras.

عن أنس -رضي الله عنه- قَالَ: كُنْتُ أمشي مَعَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وَعَلَيْهِ بُرْد نَجْرَانيٌّ غَلِيظُ الحَاشِيَةِ، فأدْرَكَهُ أعْرَابِي فَجَبذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَة شَديدة، فَنَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبيِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ أثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَة الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِه، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مُر لِي مِنْ مَالِ اللهِ الَّذِي عِنْدَكَ. فَالتَفَتَ إِلَيْهِ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ.

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan selendang buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu seorang badui mengejar beliau dan menarik selendang beliau dengan keras. Aku lihat di permukaan pundak beliau terdapat bekas tepi selendang, karena kerasnya tarikan orang badui itu. Lantas orang itu berkata, 'Wahai Muhammad! Perintahkanlah agar aku diberikan harta Allah yang ada padamu!' Beliau lalu menoleh padanya sembari tersenyum, kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya pemberian."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر أنس رضي الله عنه فقال: (كنت أمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليه برد) أي: ثوب مخطط    (نجراني): أي منسوب إلى نجران بلد باليمن، (غليظ الحاشية) أي: الطرف (فأدركه أعرابي) أي لحقه (فجبذه) أي: فجذب الأعرابي النبي صلى الله عليه وسلم "بردائه جبذة شديدة".
قال أنس: فنظرت إلى صفحة عاتق رسول الله صلى الله عليه وسلم): وهو موضع من المنكب (قد أثرت بها) أي: في صفحته. (حاشية الرداء من شدة جبذته) ثم قال الأعرابي:( يا محمد)! والظاهر أنه كان من المؤلفة، فلذلك فعل ما فعله، ثم خاطبه باسمه قائلا على وجه العنف مقابلاً لبحر اللطف (مر لي) أي: مر وكلاءك بأن يعطوا لي أو مر بالعطاء لأجلي (من مال الله الذي عندك) أي من غير صنيع لك في إعطائك، كما صرح في رواية حيث قال: "لا من مالك ولا من مال أبيك". قيل: المراد به مال الزكاة، فإنه كان يصرف بعضه إلى المؤلفة، (فالتفت إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم) فنظر إليه تعجبا (فضحك) أي تلطفا (ثم أمر له بعطاء).

Tema: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan burd (selendang)" yaitu pakaian yang bergaris, "yang berasal dari Najran" yaitu sebuah negeri di Yaman. Makna: "Yang kasar tepinya", yakni ujungnya. "Lalu seorang badui mengejar beliau", yakni mengikuti beliau. Makna: "Menarik selendang beliau," yakni orang badui itu menarik selendang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan keras.
Anas berkata, "Aku lihat di permukaan pundak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," yaitu sebuah lokasi di pundak, "terdapat bekas," yakni, di permukaan pundak, "ujung selendang, karena kerasnya tarikannya." Kemudian orang badui itu berkata, "Wahai Muhammad!" Secara lahir laki-laki badui ini termasuk di antara orang yang sedang dijinakkan hatinya (mualaf). Oleh karena itu, dia melakukan apa yang dilakukannya itu. Selanjutnya dia memanggil Nabi dengan menyebut nama beliau secara kasar padahal laut kelembutan lebih luas, ia berkata, "Perintahkanlah!" Yaitu, perintahkanlah para wakilmu agar mereka memberikanku! Atau perintahkanlah pemberian untukku! Makna: "Sebagian dari harta Allah yang ada padamu", yakni yang engkau tidak memiliki jasa pada apa yang engkau berikan, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam sebuah riwayat, dia berkata, "Bukan yang berasal dari hartamu dan bukan pula dari harta bapakmu." Ada yang berpendapat, maksudnya ialah harta zakat, sebab sebagian harta zakat itu diberikan kepada orang yang dijinakkan hatinya (mualaf). "Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menoleh padanyanya", yakni beliau memandangnya karena heran. "Lalu beliau tersenyum," untuk menampakkan sikap ramah, "kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya pemberian."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4940

 
Hadith   766   الحديث
الأهمية: ألا أخبركم بمن يحرم على النار؟ أو بمن تحرم عليه النار؟ تحرم على كل قريب، هين، لين، سهل
Tema: Apakah kalian (ingin) aku kabari tentang orang yang diharamkan atas neraka? Atau tentang orang yang neraka diharamkan atasnya? Neraka diharamkan atas setiap orang yang dekat, rendah hati, lembut dan memudahkan (orang lain).

عن ابن مسعود -رضي الله عنه- مرفوعاً: «ألا أخبركم بمن يحرم على النار؟ أو بمن تحرم عليه النار؟ تحرم على كل قريب هَيِّنٍ لَيِّنٍ سهل».

Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Apakah kalian (ingin) aku kabari tentang orang yang diharamkan atas neraka? Atau tentang orang yang neraka diharamkan atasnya? Neraka diharamkan atas setiap orang yang dekat, rendah hati, lembut dan memudahkan (orang lain)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
ألا أخبركم بمن يُمنع عن النار، أو تُمنع عنه، تمنع على كل قريب من الناس بمجالستهم في أماكن الطاعة وملاطفتهم قدر الاستطاعة، وكل حليم لين الجانب، سَمْحٍ في معاملة الناس.
“Tidakkah kalian ingin aku kabari tentang orang yang dihalangi dari neraka, atau neraka dihalangi darinya? Neraka itu dihalangi dari setiap orang yang dekat dengan orang lain dalam majlis mereka di tempat-tempat ketaatan, mencandai mereka sesuai kemampuan, juga setiap orang yang santun dan rendah hati serta bersikap lapang dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4943

 
Hadith   767   الحديث
الأهمية: كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذا دَخَلَ العَشْرُ أَحْيَا الليلَ، وأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئْزَرَ
Tema: Dahulunya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika sudah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan maka beliau menghidupkan malamnya, membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang

عن عائشة -رضي الله عنها-    قالت: كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذا دَخَلَ العَشْرُ أَحْيَا الليلَ، وأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئْزَرَ.

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Dahulunya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika sudah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan maka beliau menghidupkan malamnya, membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا دخل العشر الأواخر من رمضان أحيا الليل كله بأنواع الطاعات، وأيقظ أهله للصلاة، واجتهد في العبادة زيادة على عادته، وتفرغ لها واعتزل نساءه.
Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramaḍan, menghidupkan seluruh malamnya dengan berbagai ketaatan, membangunkan keluarganya untuk melakukan salat, bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi kebiasaannya, fokus melakukannya dan menjauhi istrinya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4944

 
Hadith   768   الحديث
الأهمية: هو في النَّارِ،    فذهبوا ينظرونَ إليهِ، فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا.
"Dia di neraka." Para sahabat pun pergi untuk melihat keadaannya lalu mereka dapati di sisinya pakaian (mantel) hasil rampasan perang yang diambilnya dengan diam-diam."

عن عبد الله بن عمرو -رضي الله عنهما- قال: كان على ثَقَلِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ يُقالُ له كِرْكِرَةٌ، فماتَ، فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «هو في النَّارِ». فذهبوا ينظرونَ إليهِ، فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا
Tema: Dari Abdullah Ibn 'Amru -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Dahulunya ada seseorang yang bekerja untuk Nabi dipanggil Kirkiroh meninggal dunia. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Dia di neraka.' Para sahabat pun pergi untuk melihat keadaannya lalu mereka dapati padanya pakaian (mantel) hasil rampasan perang yang diambilnya dengan diam-diam."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان المسؤول عن أمتعة النبي -صلى الله عليه وسلم- رجل اسمه كركرة فمات؛ فأخبر رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه في النار يعذب على معصيته، أو أنه في النار إن لم يعف الله عنه، فذهب الصحابة يبحثون عن السبب في ذلك؛ فوجدوا عباءة قد سرقها من الغنيمة.
Dahulunya penanggung jawab barang bawaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seorang bernama Kirkaroh, kemudian ia meninggal. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa dia di neraka disiksa karena maksiat yang dilakukannya atau di neraka jika tidak diampuni Allah. Para sahabat berusaha mencari tahu apa sebab hal itu. Mereka dapati padanya pakaian/mantel yang dicurinya dari harta hasil rampasan perang.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4945

 
Hadith   769   الحديث
الأهمية: إِنَّ اللهَ جَعَلَنِي عَبْدًا كَرِيمًا، ولم يَجْعَلْنِي جَبَّارًا عَنِيدًا
Tema: Sesungguhnya Allah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan bukan sebagai orang yang angkuh lagi kejam

عن عبدِ اللهِ بنِ بُسْرٍ -رضي الله عنه- قال: كان للنبيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَصْعَةٌ يقالُ لها: الغَرَّاءُ يحملها أَرْبَعَةُ رِجَالٍ؛ فلما أَضْحَوْا وسَجَدُوا الضُّحَى أُتِيَ بتلك القَصْعَةِ -يعني وَقَدْ ثُرِدَ فيها- فالتَفُّوا عليها، فلَمَّا كَثُرُوا جَثَا رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فقال أعرابيٌّ: ما هذه الجِلْسَةُ؟ فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّ اللهَ جَعَلَنِي عَبْدًا كَرِيمًا، ولم يَجْعَلْنِي جَبَّارًا عَنِيدًا»، ثم قال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «كُلُوا مِنْ حَوَالَيْهَا، ودَعُوا ذِرْوَتَهَا يُبَارَكْ فِيهَا».

Dari Abdullah bin Busr -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut Al-Garrā` yang biasanya harus dibawa oleh empat orang. Pada waktu Duha setelah mereka shalat Duha, mangkuk itu dibawakan dan telah berisikan makanan di dalamnya. Mereka berkumpul mengelilingi mangkuk tersebut. Ketika mereka telah banyak, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk berlutut. Seorang Arab baduwi berkata, "Ada acara apa ini?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan bukan sebagai orang yang angkuh lagi kejam." Lantas beliau meneruskan, "Makanlah dari sisi-sisinya dan biarkan dulu bagian yang paling atas (tengahnya), niscaya ia (makanan itu) akan diberkahi."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
كان للنبي صلى الله عليه وسلم وعاء يؤكل فيه يقال له الغراء يحملها أربعة رجال، فلما دخلوا في وقت الضحى وصلوا صلاة الضحى جيء بها وفُتَّ الخبز فيها، فاستداروا حولها، فلما كثروا وضاقت بهم الحلقة قعد النبي صلى الله عليه وسلم على ركبتيه جالسا على ظهور قدميه توسعة على إخوانه، فقال أعرابي من الحاضرين: ما هذه الجِلسة يا رسول الله! لما فيها من التواضع، فقال صلى الله عليه وسلم: إن الله جعلني عبدا كريما بالنبوة والعلم، ولم يجعلني جَبَّارًا عنيدًا، فلم يكن صلى الله عليه وسلم متكبرًا ولا جائرًا، ثم قال صلى الله عليه وسلم: كلوا من حواليها ودعوا ذروتها يبارك فيها، فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالأكل من جوانبها وترك أعلاها وبين أن ذلك من أسباب البركة في الطعام.
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki sebuah mangkuk besar untuk makan yang disebut Al-Garrā`. Mangkuk itu dibawa oleh empat orang. Saat mereka masuk waktu Duha dan setelah selesai shalat Duha, maka mangkuk besar itu dibawa dan roti dileburkan ke dalamnya. Selanjutnya mereka duduk melingkari mangkuk tersebut. Saat mereka sudah banyak dan lingkaran tersebut sempit, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun duduk di atas kedua lututnya. Beliau duduk di atas punggung kedua kakinya agar memberi ruang untuk saudara-saudaranya. Seorang Arab baduwi yang hadir saat itu berkata, "Duduk macam apa ini, wahai Rasulullah!" karena beliau duduk dengan rendah hati. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku hamba yang murah hati dengan kenabian dan ilmu dan Dia tidak menjadikanku hamba yang kejam lagi pembangkang." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukan orang sombong dan tidak pula lalim.
Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Makanlah dari sisi-sisinya dan biarkan dulu bagian yang paling atasnya (tengahnya), niscaya ia akan diberkahi." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk makan dari berbagai sisinya dan meninggalkan bagian atasnya serta beliau menjelaskan bahwa hal itu termasuk sebab keberkahan dalam makanan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4946

 
Hadith   770   الحديث
الأهمية: كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قِيلَ: وَمَنْ يَأْبَى يا رسولَ اللهِ؟ قال: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، ومَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Tema: "Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan." Beliau ditanya, "Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Orang yang mematuhiku ia akan masuk surga dan orang yang durhaka kepadaku maka ia telah enggan."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أَبَى». قيل: ومَنْ يَأْبَى يا رسول الله؟ قال: «من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أَبَى».

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan." Beliau ditanya, "Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Orang yang mematuhiku ia akan masuk surga dan orang yang durhaka kepadaku maka ia telah enggan."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يحدِّث أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم بشّر أمته فقال:
(كل أمتي يدخلون الجنة) أي أمة الإجابة
ثم استثنى عليه الصلاة والسلام فقال: (إلا من أبى) أي: من عصى منهم بترك الطاعة التي هي سبب لدخولها؛ لأن من ترك ما هو سبب لشيء لا يوجد بغيره فقد أبى أي امتنع؛ فاستثناؤهم تغليظًا عليهم، أو أراد أمة الدعوة: ومن أبى من كفر بامتناعه عن قبولها.
فقال الصحب الكرام: (ومن يأبى يا رسول الله):
فأجابهم عليه الصلاة والسلام: (من أطاعني) أي انقاد وأذعن لما جئت به (دخل الجنة).
وأما (ومن عصاني) بعدم التصديق أو بفعل المنهي (فقد أبى): أي فله سوء المنقلب بإبائه.
وعليه: فمن أبى إن كان كافرًا لا يدخل الجنة أصلاً، وأما من كان مسلمًا فإنه لا يدخلها حتى يطهر بالنار، وقد يدركه العفو فلا يعذب أصلاً وإن ارتكب جميع المعاصي.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi kabar gembira kepada umatnya, beliau bersabda, "Seluruh umatku akan masuk surga"; yakni, umat yang menerima dakwah beliau. Selanjutnya beliau memberi pengecualian, beliau bersabda, "Kecuali orang yang enggan (menolak)"; yakni, orang yang durhaka di antara mereka dengan meninggalkan ketaatan yang merupakan sebab masuk surga, karena orang yang meninggalkan satu-satunya sebab terwujudnya suatu perkara, berarti ia telah menolak perkara itu. Pengecualian mereka (dari segenap umat) di sini, merupakan peringatan keras kepada mereka. Atau bisa juga maksud orang yang enggan tersebut adalah umat yang didakwahi (bukan umat Islam), yakni orang-orang yang kufur dengan menolak dakwah Islam. Para sahabat yang mulia bertanya, "Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mematuhiku"; yakni, tunduk dan patuh terhadap apa yang aku bawa, "maka ia masuk surga." Adapun "orang yang durhaka kepadaku"; dengan tidak membenarkanku atau melakukan hal yang dilarang, "maka ia telah enggan"; yakni, baginya tempat kembali yang buruk karena penolakannya. Selanjutnya, orang yang enggan itu, apabila dia orang kafir, maka sama sekali tidak akan masuk surga. Adapun jika ia seorang muslim, maka ia tidak akan masuk surga sampai dibersihkan (dosanya) dengan neraka. Namun, boleh saja dia mendapatkan ampunan sehingga ia sama sekali tidak disiksa, meskipun dia telah melakukan semua kemaksiatan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4947

 
Hadith   771   الحديث
الأهمية: كُنَّا على عَهْدِ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- نَأْكُلُ ونحنُ نَمْشِي، ونَشْرَبُ ونحنُ قِيَامٌ
Tema: Di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kami makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri.

عن ابنِ عُمَرَ -رضي الله عنهما-، قال: كُنَّا على عَهْدِ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- نَأْكُلُ ونحنُ نَمْشِي، ونَشْرَبُ ونحنُ قِيَامٌ.

Dari Ibu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kami makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
فعل الصحابة رضي الله عنهم يدل على أن الشرب من قيام جائزٌ، لإقراره عليه الصلاة والسلام لذلك، والأفضل في الأكل والشرب أن يكون الإنسان قاعدا؛ لأن هذا هو هدي النبي صلى الله عليه وسلم الأغلب، أما الشرب وهو قائم فإنه صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى عن ذلك، لكن هذا الحديث دليل على أن النهي ليس للتحريم، ولكنه خلاف الأولى بمعنى: أن الأحسن والأكمل أن يشرب الإنسان وهو قاعد وأن يأكل وهو قاعد، ولكن لا بأس أن يشرب وهو قائم، وأن يأكل وهو قائم.
Perbuatan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- menunjukan bahwa minum saat berdiri boleh, dengan restu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas perbuatan mereka. Tetapi yang utama saat seseorang makan dan minum hendaknya duduk, karena begitulah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang biasa beliau lakukan. Adapun terkait minum berdiri mak adi riwayat valid dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau melarang mimun sambil berdiri. Akan tetapi hadis ini menjadi dalil bahwa pelarangan itu bukan pengharaman, hanya menyelisihi yang lebih utama. Maknanya, yang lebih baik saat makan dan minum adalah duduk, tetapi tidak mengapa minum dan makan dalam keadaan berdiri.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4948

 
Hadith   772   الحديث
الأهمية: كَيْفَ أَنْعَمُ! وصَاحِبُ القَرْنِ قَدِ التَقَمَ القَرْنَ، واسْتَمَعَ الإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
Tema: Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkan (sangkakala) ke dalam mulut (siap siaga) dan ia hanya menunggu izin, kapan diperintahkan untuk meniup sangkakalanya maka dia akan meniupnya

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- مرفوعاً: «كَيْفَ أَنْعَمُ! وصَاحِبُ القَرْنِ قَدِ التَقَمَ القَرْنَ، واسْتَمَعَ الإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ»، فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ على أصحابِ رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فقال لهم: «قُولُوا: حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الوَكِيلُ».

Dari Abu Sa'id Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara mafrū', "Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkan (sangkakala) ke dalam mulut (siap siaga) dan ia hanya menunggu izin, kapan diperintahkan untuk meniup sangkakalanya maka dia akan meniupnya." Berita ini terasa berat sekali oleh para sahabat, kemudian beliau bersabda, "Ucapkanlah "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik yang menjamin)."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كيف أفرح والملك الموكل بالنفخ في الصور قد وضع فاه عليه، يستمع وينتظر الإذن متى يؤمر بالنفخ فينفخ فيه.
فكأن ذلك ثقل    على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم واشتد عليهم ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، قولوا: حسبنا الله ونعم الوكيل أي هو كافينا.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa- sallam bersabda, "Bagaimana aku bisa senang sementara malaikat yang bertugas meniup sangkakala sudah meletakkan mulutnya di sangkakala sambil mendengar dan menunggu izin kapan dia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia akan meniupnya." Tentu saja hal itu memberatkan para sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka, "Ucapkanlah "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik yang menjamin)." Yakni, Dia yang menjamin kita.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4949

 
Hadith   773   الحديث
الأهمية: لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟
Tema: Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?"

عن أبي بَرْزَةَ نَضْلَةَ بن عبيد الأسلمي -رضي الله عنه- مرفوعاً: «لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟».

Daru Abu Barzah Naḍlah bin Ubaid Al-Aslami -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?"

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لا تزول قدما عبد من موقفه للحساب إلى جنة أو نار حتى يسأل عن حياته فيم أفناها؟ في طاعة أم معصية؟ وعن علمه فيم فعل فيه؟ هل عمل بما علمه أم لا؟ وعن ماله من أين جاء به ؟ أمِنْ حلال أم حرام؟ وفيم أنفقه؟ في طاعة الله أم في معصية الله؟ وفي جسمه فيم أبلاه؟ في طاعة الله أم في معصيته.
Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (perhitungan), ke surga atau ke neraka, hingga ia ditanya mengenai hidupnya, untuk apa ia habiskan? Apakah dalam ketaatan atau kemaksiatan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Apakah dia mengamalkan apa yang diketahuinya atau tidak? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Apakah dari (sumber) yang halal atau haram? Untuk apa ia belanjakan? Dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepada-Nya? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan? Dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepada-Nya?

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Dārimi]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4950

 
Hadith   774   الحديث
الأهمية: لا تَقُلْ: عليك السلامُ، عليك السلامُ تَحِيَّةُ الموتى، قل: السلامُ عليك
Tema: "Jangan kau katakan, 'Alaikassalām karena ucapan 'Alaikassalām adalah penghormatan untuk orang yang telah meninggal dunia." Ucapkanlah, "Assalāmu'alaika"

عن أبي جرَيٍّ جابر بن سُلَيْمٍ -رضي الله عنه- قال: رأيت رجلاً يصْدُرُ الناس عن رأيه، لا يقول شيئاً إلا صدروا عنه، قلت: من هذا؟ قالوا: رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. قلت: عليك السلام يا رسول الله - مرتين - قال: «لا تقل: عليك السلام، عليك السلام تحية الموتى، قل: السلام عليك» قال: قلت: أنت رسول الله؟ قال: «أنا رسول الله الذي إذا أصابك ضُرٌّ فدعوته كشفه عنك، وإذا أصابك عام سَنَةٍ فدعوته أنْبَتَهَا لك، وإذا كنت بأرض قَفْرٍ أو فَلَاةٍ فَضَلَّتْ راحلتك، فدعوته ردها عليك» قال: قلت: اعْهَدْ إِليَّ. قال: «لا تَسُبَنَّ أحداً» قال: فما سَبَبْتُ بعده حُرًّا، ولا عبداً، ولا بعيراً، ولا شاة، «ولا تحْقِرَنَّ من المعروف شيئاً، وأن تكلم أخاك وأنت مُنْبَسِط إليه وجهك، إنَّ ذلك من المعروفِ، وارفعْ إزارك إلى نصف الساق، فإِنْ أبيت فإلى الكعبين، وإياك وإسبال الإزار، فإنها من المَخِيلَةِ. وإِنَّ اللهَ لا يحب المَخِيلَةَ؛ وإِنِ امرُؤٌ شتمك وعَيَّرَكَ بما يعلم فيك فلا تُعَيِّرْهُ بما تعلم فيه، فإِنَّما وبال ذلك عليه».

Dari Abu Juray Jābir bin Sulaim -raḍiyallāhu 'anhu-, seraya berkata, "Aku melihat seorang lelaki yang perkataannya ditaati manusia. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Orang-orang menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku berkata, " 'Alaikassalām, wahai Rasulullah -dua kali-" Beliau bersabda, "Jangan kau katakan, ''Alaikassalām, karena ucapan 'Alaikassalām adalah penghormatan untuk orang yang telah meninggal dunia. Ucapkanlah, "Assalāmu'alaika." Abu Juray bin Sulaim berkata, "Aku bertanya, 'Apakah engkau Rasulullah?'" Beliau menjawab, "Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkan malapetaka itu darimu. Apabila engkau dilanda kekeringan selama satu tahun, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menumbuhkan (tumbuh-tumbuhan) untukmu. Jika engkau berada di tanah gersang atau padang pasir lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada-Nya, niscaya Dia mengembalikan unta itu kepadamu." Juray bin Sulaim berkata, "Aku berkata, 'Perintahkanlah kepadaku.'" Beliau bersabda, "Janganlah engkau mencela siapa pun." Juray berkata, "Setelah itu aku tidak pernah lagi mencela baik kepada orang merdeka atau hamba sahaya atau unta atau domba." "Janganlah engkau menghina kebaikan sedikit pun. Hendaklah engkau berbicara kepada saudaramu dengan wajah berseri-seri karena hal itu termasuk kebaikan. Angkatlah kain sarungmu sampai ke pertengahan betis. Jika engkau tidak mau, maka sampai ke kedua kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung, karena itu termasuk kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Sesungguhnya akibat buruknya akan menimpanya.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال جابر بن سليم رضي الله عنه: أبصرت رجلاً يرجع الناس إلى قوله، لا يقول لهم شيئاً إلا فعلوه، فقلت لهم: من هذا، قالوا: هذا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت عليك السلام يا رسول الله، عليك السلام يا رسول الله، فقال صلى الله عليه وسلم: لا تقل عليك السلام فإنها تحية الموتى، ولكن قل: السلام عليك. فقلت: أأنت رسول الله، قال: نعم أنا رسول الله؛ أي: أنا الذي أرسله الله الذي إذا أصابك فقر ومصيبة فدعوته بتضرع وافتقار؛ رفع عنك ذلك الضرر، وإذا أصابك عام قحط لم تنبت الأرض فيه شيئاً فدعوته؛ أوجد لك فيها النبات ونمَّاه لك، وإذا كنت في أرض ليس فيها ماء ولا ناس، وضاعت راحلتك فدعوته؛ ردها عليك.فقلت له: أوصني بما ينفعني، قال: لا تشتم أحداً. فما سببت بعد ذلك حراً ولا عبداً ولا بعيراً ولا شاة، ثم قال صلى الله عليه وسلم: ولا تترك شيئاً من المعروف استصغاراً له، ولا تحقر خطابك لأخيك وفي وجهك البشر له؛ فإن ذلك من المعروف، وارفع إزارك وغيره من الثياب إلى نصف الساق، فإن تركت فعل ذلك، فارفع إلى الكعبين؛ فلا جناح فيما بين الكعبين إلى نصف الساق، واحذر من إسبال الإزار فإنه من الكبر والعجب والله جل وعلا لا يحب ذلك، وإن أحد شتمك أو عيَّرك بما فيك من الذنوب والأفعال القبيحة، فلا تعيِّره بما فيه؛ إن عاقبة ذلك عليه يوم القيامة، وقد يعجل بعضه في الدنيا.
Jābir bin Sulaim -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku melihat seseorang yang perkataannya menjadi rujukan manusia. Setiap kali berbicara kepada manusia, niscaya mereka mengerjakannya. Aku bertanya kepada orang-orang, "Siapakah dia?" Orang-orang menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku berkata, " 'Alaikassalām, wahai Rasulullah, 'Alaikassalām wahai Rasulullah " Beliau bersabda, "Jangan kau katakan, " 'Alaikassalām karena ucapan 'Alaikassalām adalah penghormatan untuk orang yang telah meninggal dunia." Ucapkanlah, "Assalāmu'alaika" Aku bertanya, "Apakah engkau Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, aku adalah utusan Allah," yaitu aku adalah orang yang diutus Allah. Jika engkau ditimpa kefakiran dan musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan penuh harap, niscaya Dia menghilangkan malapetaka darimu. Jika engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun di mana pada saat itu bumi tidak menumbuhkan tumbuhan, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengadakan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Jika engkau berada di gurun yang tidak ada air dan manusia serta untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada-Nya, niscaya Dia mengembalikan unta itu kepadamu." Aku berkata kepada beliau, "Berpesanlah dengan sesuatu yang bermanfaat bagiku." Beliau bersabda, "Janganlah engkau mencela siapa pun." Sejak itu aku tidak pernah lagi mencela baik kepada orang merdeka atau hamba sahaya atau unta atau domba." Lantas beliau bersabda, "Janganlah engkau tinggalkan kebaikan sedikit pun karena menganggapnya remeh, janganlah engkau entengkan ucapanmu kepada saudaramu sedang di wajahmu ada keceriaan untuknya karena hal itu adalah kebaikan. Angkatlah kain sarungmu dan pakaian lainnya sampai ke pertengahan betis. Jika engkau tidak melakukannya, maka angkatlah sampai ke kedua kaki. Tidak ada dosa antara dua mata kaki sampai ke pertengahan betis. Jauhilah memanjangkan kain sarung, karena itu termasuk kesombongan dan kecongkakan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu berupa dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan buruk, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Sesungguhnya akibat buruknya akan menimpanya pada hari kiamat. Terkadang sebagiannya disegerakan di dunia."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4952

 
Hadith   775   الحديث
الأهمية: اصْبِرُوا، فإنه لا يأتي زمانٌ إلا والذي بعده شَرٌّ منه حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُم
Tema: Bersabarlah! Sesungguhnya tidak datang zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnya hingga kalian berjumpa Tuhan kalian

عن الزبير بن عدي، قال: أَتَيْنَا أنسَ بنَ مَالِكٍ -رضي الله عنه- فَشَكَوْنَا إليه ما نَلْقَى من الحَجَّاجِ، فقال: «اصْبِرُوا، فإنه لا يأتي زمانٌ إلا والذي بعده شَرٌّ منه حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُم» سمعتُه من نَبِيِّكُم -صلى الله عليه وسلم-.

Dari Az-Zubair Ibn 'Adi, dia berkata, "Kami mendatangi Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- dan mengadu kepadanya apa yang kami dapati dari prilaku Hajjāj." Anas berkata, "Bersabarlah! Sesungguhnya tidak datang zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnya hingga kalian berjumpa Tuhan kalian." Aku mendengarnya dari Nabi kalian -salallahu 'alaihi wasallam-.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
جاء الزبير بن عدي ومعه جماعة إلى أنس بن مالك -رضي الله عنه- خادم رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، يشكون إليه ما يجدون من الحجاج بن يوسف الثقفي، أحد الأمراء لخلفاء بني أمية، وكان جبارًا عنيدًا معروفًا بالظلم وسفك الدماء، فأمرهم أنس -رضي الله عنه- بالصبر على جور ولاة الأمور، وأخبرهم أنه لا يأتي على الناس زمان إلا والذي بعده أشر منه حتى يلقوا ربهم، وأنه سمعه من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-.
والشر ليس شرًّا مطلقًا عامًّا، بل قد يكون شرًّا في بعض المواضع، ويكون خيرًا في مواضع أخرى.
Az-Zubair Ibn 'Adi bersama beberapa orang yang lain mendatangi Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, pelayan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengadukan perlakuan Hajjāj bin Yusuf aṡ-Ṡaqafi, salah seorang gubenur Khalifah Bani Umayyah kepada mereka.Hajjāj terkenal zalim dan suka menumpahkan darah. Dia bengis dan keras kepala. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meminta mereka untuk bersabar atas ketidakadilan pemimpin. Dan dia mengabarkan kepada mereka, bahwa tidak datang zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk hingga mereka berjumpa Tuhan mereka. Hal itu didengarnya dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Keburukan yang dimaksud bukanlah keburukan mutlak secara umum, tetapi keburukan pada sebagian perkara dan terdapat kebaikan pada perkara yang lain.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4953

 
Hadith   776   الحديث
الأهمية: لمَّا كان غَزْوَةُ تَبُوكَ، أَصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فقالوا: يا رسولَ اللهِ، لَوْ أَذِنْتَ لنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنَا فَأَكَلْنَا وَادَّهَنَّا؟
Tema: Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang ditimpa kelaparan sehingga mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin kepada kami, maka kami akan menyembelih unta-unta kami lalu memakannya dan membuat minyak dengan lemaknya?"

عن أبي هريرة، أو أبي سعيد الخدري -رضي الله عنهما- -شك الراوي- قال: لما كان غزوة تبوك، أصاب الناس مجاعة، فقالوا: يا رسول الله، لو أَذِنْتَ لنا فنحرنا نوَاضِحَنَا فأكلنَا وَادَّهَنَّا؟ فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «افعلوا» فجاء عمر -رضي الله عنه- فقال: يا رسول الله، إن فعلت قَلَّ الظَّهْرُ، ولكن ادْعُهُمْ بفضل أَزْوَادِهِمْ، ثمَ ادْعُ الله لهم عليها بالبركة، لعل الله أن يجعل في ذلك البركة. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «نعم» فدعا بنِطَعٍ فبسطه، ثم دعا بفضل أَزْوَادِهِمْ، فجعل الرجل يجيء بكف ذُرَةٍ، ويجيء بكف تمر، ويجيء الآخر بِكَسْرَةٍ، حتى اجتمع على النِّطَعِ من ذلك شيء يسير، فدعا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالبركة، ثم قال: «خذوا في أوعيتكم» فأخذوا في أوعيتهم حتى ما تركوا في العسكر وعاء إلا مَلَئُوهُ وأكلوا حتى شبعوا وفضل فضْلَةً، فقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: «أشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله، لا يلقى الله بهما عبد غير شاك فَيُحْجَبَ عن الجنة».

Dari Abu Hurairah -atau Abu Sa'īd Al-Khudri- raḍiyallāhu 'anhumā- perawi ragu-, ia berkata, "Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang ditimpa kelaparan sehingga mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin kepada kami, maka kami akan menyembelih unta-unta kami lalu memakannya dan membuat minyak dengan lemaknya?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lakukanlah!" Tiba-tiba Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, jika Anda melakukannya, maka binatang tunggangan menjadi sedikit, akan tetapi mintalah kepada mereka sisa bekal mereka, lalu mohonlah kepada Allah agar memberikan keberkahannya. Mudah-mudahan Allah menjadikan keberkahan dalam bekal itu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Ya." Lantas beliau meminta karpet kulit lalu membentangnya. Selanjutnya beliau meminta sisa-sisa bekal mereka. Seorang lelaki datang dengan membawa satu genggam gandum, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa serpihan (roti), sehingga terkumpullah sisa-sisa bekal yang sedikit itu di atas karpet kulit. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon keberkahan, lalu bersabda, "Simpanlah bekal ini di bejana-bejana kalian." Lantas mereka menyimpan bekal itu di bejana-bejana mereka sehingga tidak ada satu pun bejana di barak melainkan sudah penuh. Mereka makan hingga kenyang dan masih tersisa. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa dua kalimat itu tanpa ada keraguan yang dapat menghalanginya masuk surga."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
في زمن غزوة تبوك أصاب الناس مجاعةٌ، فقالوا: يا رسول الله، لو أذنت لنا فنحرنا إبلنا، فأكلنا لحومها، وادهنا بشحومها، فأذن لهم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وقال: افعلوا. فجاء عمر -رضي الله عنه-، فقال: يا رسول الله؛ إن فعلت ذلك نقصت الدواب التي تحملنا، وصارت قليلة، ولكن اجعلهم يأتون بباقي طعامهم، ثم ادع الله عليها بالبركة؛ لعل الله أن يجعل في ذلك الخير ويبارك في القليل، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: نعم، فدعا ببساط من جلد فبسطه ثم دعا ببقية طعامهم، فجعل الرجل يجيء بذرة بمقدار الكف، وآخر بتمر، وآخر بقطعة خبز حتى اجتمع عليه من ذلك شيء يسير، فدعا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالبركة، ثم قال: (خذوا في أوعيتكم)، فأخذوا حتى ما تركوا في الجيش وعاء إلا ملؤوه، فأكلوا حتى شبعوا وبقيت منه بقية، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله، لا يلقى اللهَ بهما عبدٌ بعد موته غير شاك فيمنع عن الجنة، بل لا بد له من دخولها، إما ابتداء مع الناجين، أو بعد إخراجٍ من النار.
Orang-orang menderita kelaparan ketika perang Tabuk lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami untuk menyembelih unta kami lalu kami memakan dagingnya dan memakai minyak dengan lemaknya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengizinkan mereka dan bersabda, "Kerjakanlah!" Tiba-tiba Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, jika aku lakukan itu, maka binatang-binatang yang membawa kita akan menjadi berkurang dan sedikit. (Menurutku) hendaknya engkau memanggil mereka agar membawa sisa makanan mereka lalu mohonlah keberkahan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah menjadikan kebaikan dalam makanan ini dan memberikan keberkahan dalam makanan yang sedikit ini." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya." Lantas beliau meminta permadani dari kulit lalu membentangkannya kemudian meminta sisa-sisa makanan mereka. Seorang lelaki datang dengan membawa gandum segenggam, yang lainnya membawa kurma, dan yang lainnya membawa septong roti, sehingga terkumpullan makanan yang sedikit. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-memohon keberkahan lalu bersabda, "Simpanlah di bejana-bejana kalian." Mereka pun mengambil makanan itu hingga tidak ada satu pun bejana yang mereka tinggalkan di dalam pasukan melainkan sudah mereka penuhi. Selanjutnya mereka makan sampai kenyang dan makanan itu masih tersisa. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa dua kalimat itu setelah kematiannya tanpa ada keraguan yang dapat menghalanginya masuk Surga, maka ia pasti akan masuk Surga baik pertama kali bersama orang-orang yang selamat atau pun setelah dikeluarkan dari Neraka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4955

 
Hadith   777   الحديث
الأهمية: الْحَرْبُ خَدْعَةٌ
Tema: Perang itu muslihat

عن أبي هريرة وجابر -رضي الله عنهما- أنَّ النبيَّ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- قالَ: «الْحَرْبُ خَدْعَةٌ».

Dari Abu Hurairah dan Jābir -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perang adalah tipuan/muslihat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الحَرْبُ خَدْعَة أي أن خداع الكفار والمَكر بهم في الحرب جائز، لأجل إصابتهم وإلحاق الضرر بهم، مع انعدام الخسائر بين المسلمين، ولا يُعَدُّ هذا مذموما ًفي الشرع، بل هو من الأمور المطلوبة.
قال ابن المنيّر -رحمه الله-: "الحرب الجيدة لصاحبها الكاملة في مقصودها إنما هي المخادعة لا المواجهة، وذلك لخَطِر المواجهة وحصول الظَفَر مع المخادعة بغير خطر".
ولا يدخل في الخدعة الغدر، وهو مخالفة العهد والاتفاق بين المسلمين وأعدائهم، قال -تعالى-: (فإما تخافن من قوم خيانة فانبذ إليهم على سواء إن الله لا يحب الخائنين) أي: إن كان بينكم وبين قوم عهد فأعلمهم بإلغائه قبل محاربتهم، لتكونوا وإياهم على حد سواء.
"Perang itu tipu muslihat." Yakni, dibolehkan melakukan tipu daya dan muslihat kepada orang-orang kafir dalam perang demi menyerang mereka dan menimpakan bahaya kepada mereka tanpa menyebabkan kerugian di kalangan kaum Muslimin. Secara syariat tindakan ini tidak dianggap tercela, tetapi itu merupakan bagian dari hal yang diharuskan. Ibnul Munir, -raḥimahullāhu- berkata, "Perang yang baik bagi pelakunya dan yang sempurna tujuannya yaitu dengan saling tipu bukan konfrontasi (berhadap-hadapan langsung). Sebab, konfrontasi itu menimbulkan bahaya. Sedangkan pencapaian kemenangan dapat dilakukan dengan tipu daya tanpa menimbulkan bahaya." Pengkhianatan tidak termasuk muslihat, yaitu menyalahi janji dan kesepakatan antara kaum Muslimin dan musuh mereka. Allah -Ta'ālā- berfirman: (Jika kalian khawatir akan pengkhianatan suatu kaum maka batalkanlah perjanjian dengan mereka bersama-sama, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat) artinya jika antara kalian dan suatu kaum terdapat perjanjian, maka beritahukan pembatalannya sebelum memerangi mereka agar kedua belah pihak sama-sama mengetahui.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4956

 
Hadith   778   الحديث
الأهمية: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال يومَ خَيْبَرٍ: «لَأُعْطِيَنَّ هذه الرايةَ رَجُلًا يحب اللهَ ورسولَه يَفْتَحُ اللهُ على يديه»
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada perang Khaibar, "Sungguh, aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال يوم خيبر: «لَأُعْطِيَنَّ هذه الراية رجلا يحب الله ورسوله يفتح الله على يديه» قال عمر -رضي الله عنه-: ما أحببتُ الإمارة إلا يومئذ، فَتَسَاوَرْتُ لها رجاء أَنْ أُدْعَى لها، فدعا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- علي بن أبي طالب -رضي الله عنه- فأعطاه إياها، وقال: «امش ولا تلتفت حتى يفتح الله عليك» فسار عليٌّ شيئا ثم وقف ولم يلتفت فصرخ: يا رسول الله، على ماذا أقاتل الناس؟ قال: «قَاتِلْهُمْ حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله، وأَنَّ محمدًا رسولُ اللهِ، فإذا فعلوا فقد منعوا منك دماءهم وأموالهم إلا بحقها، وحسابهم على الله».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada perang Khaibar, "Aku benar-benar akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya." Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh, aku tidak pernah menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali hanya pada hari itu saja." Ia berkata, "Lalu aku pun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji itu." Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil Ali bin Abi Ṭālib dan beliau memberikan panji itu kepadanya seraya bersabda, "Berangkatlah dan janganlah kamu menoleh ke belakang hingga Allah memenangkanmu!" Kemudian Ali berjalan lalu berhenti dengan tidak menoleh ke belakang seraya berseru, 'Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia?" Beliau menjawab, "Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah! Jika mereka telah melaksanakan hal itu berarti mereka telah mencegahmu untuk menumpahkan darah mereka dan mengambil harta mereka kecuali yang menjadi haknya (Islam) sedang hisab (perhitungan) mereka ada di sisi Allah."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يوم غزوة خيبر: لأعطين هذه الراية رجلا يحب الله ورسوله يفتح الله على يديه بعض حصون خيبر، قال عمر -رضي الله عنه-: فما تمنيت الإمارة إلا يومئذ، رجاء أن يصيبه ما قاله النبي -عليه الصلاة والسلام-، يقول: فتطاولت رجاء أن أُدعى لها، فدعا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عليَّ بن أبي طالب -رضي الله عنه- فأعطاه إياها، وقال: امش ولا تلتفت حتى يفتح الله عليك؛ لئلا يشغلك ذلك الالتفات عن كمال التوجه، فمشى قليلا ثم وقف ولم يلتفت لئلا يخالف نهي رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم رفع صوته وسأل الرسول -صلى الله عليه وسلم-: على ماذا أقاتل الناس؟ فقال: قاتلهم حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، فإذا قالوها فقد منعوا منك دماءهم وأموالهم إلا بحقها؛ فيؤخذ بذلك الحق كالنفس بالنفس والزكوات، وأما ما بينهم وبين الله -تعالى- فإن صدقوا وآمنوا نفعهم ذلك في الآخرة ونجوا من العذاب كما نفعهم في الدنيا؛ وإلا فلا ينفعهم، بل يكونون منافقين من أهل النار.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada perang Khaibar, "Aku benar-benar akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan kepadanya untuk menaklukkan beberapa benteng Khaibar." Umar -raḍiyallāhu 'anhu- bersabda, "Sungguh, aku tidak pernah menginginkan kepemimpinan kecuali hanya pada hari itu saja." Dengan harapan dia memperoleh apa yang disabdakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia berkata, "Aku pun memanjang-manjangkan leher dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji itu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dan beliau memberikan panji itu kepadanya seraya bersabda, "Berangkatlah dan janganlah kamu menoleh ke belakang hingga Allah memenangkanmu!" Agar tindakan menoleh itu tidak melalaikannya dari menghadap secara sempurna. Kemudian Ali berjalan sebentar lalu berhenti dengan tidak menoleh ke belakang agar tidak menyalahi larangan Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ia mengangkat suaranya dan bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, 'Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia?" Beliau menjawab, "Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah! Jika mereka telah melaksanakan hal itu berarti mereka telah mencegahmu untuk menumpahkan darah mereka dan mengambil harta mereka kecuali yang menjadi haknya (Islam). Harta tersebut diambil dengan hak tersebut seperti jiwa dengan jiwa dan berbagai zakat. Sedangkan antara mereka dengan Allah -Ta'āla-, jika mereka benar dan beriman maka hal itu akan berguna bagi mereka di akhirat dan selamat dari azab sebagaimana berguna bagi mereka di dunia. Jika tidak, maka iman tersebut tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan mereka menjadi orang-orang munafik yang termasuk penghuni neraka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4958

 
Hadith   779   الحديث
الأهمية: يا رسولَ اللهِ، هَلْ لِي أَجْرٌ فِي بَنِي أبي سَلَمَةَ أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْهِمْ، وَلَسْتُ بِتَارِكَتِهِمْ هَكَذَا وهَكَذَا إنما هُمْ بَنِيَّ؟ فقال: نَعَمْ، لَكِ أَجْر مَا أَنْفَقْتِ عَلَيْهِمْ
Tema: "Wahai Rasulullah, apakah aku akan mendapat pahala apabila aku memberi nafkah kepada putra-putra Abu Salamah, sedangkan aku tidak akan membiarkan mereka berkeliaran mencari makan ke sana-kemari. Mereka adalah anak-anakku?" Beliau menjawab, "Ya, kamu mendapatkan pahala dari apa yang kamu nafkahkan kepada mereka."

عن أم سلمة -رضي الله عنها-، قالت: قلت: يا رسول الله، هل لي أجرٌ في بني أبي سلمة أن أُنْفِقَ عليهم، ولستُ بتاركتهم هكذا وهكذا إنما هم بَنِيَّ؟ فقال: «نعم، لك أجرُ ما أنفقتِ عليهم».

Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku akan mendapat pahala apabila aku memberi nafkah kepada putra-putra Abu Salamah, sedangkan aku tidak akan membiarkan mereka berkeliaran mencari makan kesana-kemari. Mereka adalah anak-anakku?" Beliau menjawab, "Ya, kamu mendapatkan pahala dari apa yang kamu nafkahkan kepada mereka."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
قالت أم سلمة رضي الله عنها لرسول الله صلى الله عليه وسلم: هل لي ثواب أخروي في أني أنفق على عيالي من أبي سلمة وأكفيهم، ولا أدعهم يتفرقون في طلب القوت؟ أم أنه لا أجر لي لأني أفعل ذلك شفقة لأنهم أبنائي؟ فأخبرها النبي صلى الله عليه وسلم أن لها أجرًا في إنفاقها عليهم.
Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apakah aku akan mendapatkan pahala akhirat apabila aku memberi nafkah kepada anak-anakku dari Abu Salamah dan memberi kecukupan kepada mereka, dan aku tidak akan membiarkan mereka gelabakan mencari makan? Ataukah aku tidak memperoleh pahala, sebab aku melakukan itu karena kasihan, mereka itu adalah anak-anakku?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya bahwa dia akan mendapat pahala dari pemberian nafkahnya kepada mereka.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4959

 
Hadith   780   الحديث
الأهمية: قَدْ كُنَّا زَمَنَ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- لا نَجِدُ مِثْلَ ذَلِكَ الطَّعَامَ إِلَّا قَلِيلًا، فإذا نحن وَجَدْنَاهُ، لم يَكُنْ لنا مَنَادِيلُ إلَّا أَكُفَّنَا، وسَوَاعِدَناَ، وأَقْدَامَنَا، ثُمَّ نُصَلِّي ولا نَتَوَضَّأُ
Tema: Dahulu di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kami jarang mendapati makanan seperti itu. Jika kami mendapatinya, kami tidak punya sapu tangan, selain mengusapkan (bekas lemaknya) ke tangan, lengan dan kaki, kemudian kami shalat tanpa (memperbaharui) wudu.

عن سعيد بن الحارث: أنه سأل جابرا -رضي الله عنه- عن الوضوء مما مَسَّتِ النارُ، فقال: لا، قد كنا زمن النبي - صلى الله عليه وسلم - لا نجد مثل ذلك الطعام إلا قليلا، فإذا نحن وجدناه، لم يكن لنا مَنَادِيلُ إلا أَكُفَّنَا، وسَوَاعِدَنَا، وأَقْدَامَنَا، ثم نصلي ولا نتوضأ.

Dari Sa'īd bin Al-Ḥāriṡ, bahwa dia bertanya kepada Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengenai (batalnya) wudu setelah makan sesuatu yang tersentuh api. Jābir menjawab, 'Tidak (batal).' Dahulu di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kami jarang mendapati makanan seperti itu. Jika kami mendapatinya, kami tidak punya sapu tangan, selain mengusapkan (bekas lemaknya) ke tangan, lengan dan kaki, kemudian kami shalat tanpa (memperbaharui) wudu.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
سأل سعيدُ بن الحارث جابرَ بن عبد الله رضي الله عنه عن الوضوء مما مسته النار بطبخ أو شوي ونحو ذلك هل يجب أم لا؟ فقال جابر: لا يجب الوضوء منه ثم بين دليله في ذلك، فقال: قد كنا في زمان النبي صلى الله عليه وسلم لا نجد مثل ذلك الطعام إلا قليلا، فإذا وجدناه لم يكن لنا مناديل نمسح بها دَسَم الطعام؛ ولكن كنا نمسح أصابعنا بعد لعقها بأكفنا وسواعدنا وأقدامنا، ثم نصلي ولا نتوضأ.
Sa'īd bin Al-Ḥāriṡ bertanya pada Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- apakah harus berwudu bila mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan api atau dibakar? Apakah itu diwajibkan atau tidak? Jābir menjawab, 'Tidak wajib wudu. Kemudian menjelaskan dalilnya. Dia berkata, 'Kami dahulu bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jarang mendapati makanan seperti itu. Jika ada, kami tidak punya sapu tangan yang dapat mengelap lemak makanan. Kami pun mengusapkan jari-jemari setelah menjilatinya ke tangan, lengan dan kaki, kemudian kami shalat tanpa (memperbaharui) wudu.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4960

 
Hadith   781   الحديث
الأهمية: لما خَلَقَ اللهُ الخَلْقَ كَتَبَ في كِتَابٍ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي
Tema: Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku."

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «لما خلق اللهُ الخَلْقَ كتب في كتاب، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تَغْلِبُ غضبي».
وفي رواية: «غَلَبَتْ غضبي»
وفي رواية: «سَبَقَتْ غضبي».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku." Dalam satu riwayat, "Telah mengalahkan murka-Ku." Dalam riwayat lain, "Telah mendahului kemarahan-Ku."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لما خلق الله -عز وجل- الخلق كلهم كتب في كتاب عنده فوق العرش: إن رحمتي أكثر وأغلب عليَّ من غضبي. قال -تعالى-: (ورحمتي وسعت كل شيء)، وهذا يحمل المسلم على عدم اليأس والقنوط.
Ketika Allah -'Azza wa Jalla- menciptakan semua makhluk, maka Dia pun menulis di dalam kitab, dan kitab itu ada di sisi-Nya di atas 'Arasy yang isinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku." Dia berfirman, "Sesungguhnya rahmat-Ku melingkupi segala sesuatu." Ini membuat seorang Muslim untuk tidak berputus asa.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4961

 
Hadith   782   الحديث
الأهمية: لو أن لابنِ آدمَ واديًا من ذَهَبٍ أَحَبَّ أن يكونَ له واديانِ، ولَنْ يملأَ فَاهُ إلا الترابُ، ويَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Tema: Seandainya anak keturunan Adam itu memiliki satu lembah emas, niscaya ingin punya dua. Padahal (pada akhirnya) tenggorokannya tidak akan terisi selain tanah. Dan Allah menerima tobat mereka yang bertobat.

عن عبد الله بن عباس وأنس بن مالك وعبد الله بن الزبير وأبي موسى الأشعري -رضي الله عنهم- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «لو أن لابنِ آدمَ واديًا من ذَهَبٍ أَحَبَّ أن يكونَ له واديانِ، ولَنْ يملأَ فَاهُ إلا الترابُ، ويَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ».

Dari Abdullah bin Abbās, Anas bin Malik, Abdullah bin Zubair dan Abu Musa al-Asy'ary -raḍiyallāhu 'anhum-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seandainya anak keturunan Adam itu memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin punya dua. Padahal (akhir hidupnya) tenggorokannya tidak akan terisi selain tanah. Dan Allah menerima tobat mereka yang bertobat."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه لو حصل لابن آدم واديا مملوءا من ذهب، لأحب من حرصه الذي هو طبعه أن يكون له واديان آخران، وأنه لا يزال حريصا على الدنيا حتى يموت ويمتلئ جوفه من تراب قبره.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan, bahwa seandainya anak keturunan Adam memiliki lembah yang penuh dengan emas, niscaya ketamakan yang menjadi tabiatnya, akan berangan punya dua lembah emas yang lain. Dan dia akan terus berambisi terhadap dunia hingga mati dan rongganya berisi tanah kuburnya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4963

 
Hadith   783   الحديث
الأهمية: إِزْرَةُ المسلمِ إلى نِصْفِ السَّاقِ، ولا حَرَجَ -أو لا جُنَاحَ- فيما بينه وبين الكَعْبَيْنِ، فما كان أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ فهو في النَّارِ، ومَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لم يَنْظُرِ اللهُ إليهِ
Tema: Sarung/celana lelaki muslim hingga setengah betis, tidaklah mengapa -tak berdosa- bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار».
وعن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إِزْرَة المسلم إلى نصف الساق، ولا حرج -أو لا جُناح- فيما بينه وبين الكعبين، فما كان أسفل من الكعبين فهو في النار، ومن جر إزاره بطَرا لم ينظر الله إليه».

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, “Kain apa saja yang di bawah kedua mata kaki tempatnya di dalam neraka.”
Dari Abu Sa'id al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sarung/celana lelaki muslim hingga setengah betis, tidaklah mengapa -tak berdosa- bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya”.

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الهيئة المستحبة في اتزار المؤمن أن يكون الثوب إلى نصف الساق، ولا حرج على المؤمن إذا أرخى ثوبه فيما بين نصف الساق والكعبين، وما كان أسفل الكعبين من القدم ويعلوه الإزار فإنه يعذب عقوبة لإسباله ثوبه، ومن جر ثوبه تكبرا وطغيانا عند تتابع نِعم الله عز وجل عليه لم ينظر الله له يوم القيامة.
Kondisi yang dianjurkan pada pakaian bawah mukmin, hendaknya sampai pertengahan betis. Tidak mengapa jika dijulurkan lagi antara pertengahan betis dan mata kaki. Adapun yang melampaui mata kaki dari pakaian itu akan di azab sebagai hukuman melakukan isbal pakaian. Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong dan bermegah-megahan saat mendapat limpahan nikmat Allah -'Azza wajalla-, ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Sahih dengan dua riwayatnya]    ← →    Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4964

 
Hadith   784   الحديث
الأهمية: ما زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجَارِ حَتَّى ظَنَنتُ أَنَه سَيُورثه
Tema: Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tetangga, sampai aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.

عن عائشة -رضي الله عنها-, وعبد الله بن عمر-رضي الله عنهما- قالا: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «ما زال جبريل يوصيني بالجار، حتى ظننت أنه سيورِّثه».

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dan Abdullah Ibn Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ”Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tetangga, sampai aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.”

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
ما زال جبريل يوصيني بالاعتناء بالجار، حتى ظننت أنه سينزل الوحي الذي يأتي به جبريل بتوريث الجار.
Malaikat Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk peduli terhadap tetangga, hingga aku menyangka akan turun wahyu yang dibawa Jibril untuk menetapkan hak waris bagi tetangga.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4965

 
Hadith   785   الحديث
الأهمية: ما عَابَ رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka makanan itu, beliau menyantapnya. Apabila tidak menyukainya, beliau membiarkannya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: ما عاب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- طعاما قط، إن اشتهاه أكله، وإن كرهه تركه.

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka makanan itu, beliau menyantapnya. Apabila tidak menyukainya, beliau membiarkannya."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
لم يعب النبي -صلى الله عليه وسلم- أبدا فيما مضى طعاما، ولكنه إن اشتهاه أكله وإلا تركه ولا يعيبه.
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah mencela makanan, tetapi apabila beliau menyukai makanan itu, beliau menyantapnya. Jika tidak, beliau pun membiarkannya dan tidak mencelanya.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4966

 
Hadith   786   الحديث
الأهمية: ما يَكُنْ عندي من خيرٍ فلن أَدَّخِرَهُ عَنْكُم، ومَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، ومَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، ومَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وما أُعْطِيَ أَحَدٌ عطاءً خَيرًا وأَوسعَ من الصبرِ
Tema: "Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allah akan memulyakannya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allah) maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran".

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- مرفوعاً: أنَّ ناسًا من الأنصارِ سألوا رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - فأعطاهم، ثم سألوه فأعطاهم، حتى نَفِدَ ما عنده، فقال لهم حين أنفقَ كلَّ شيءٍ بيده: «ما يَكُنْ عندي من خيرٍ فلن أَدَّخِرَهُ عَنْكُم، ومَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفِّهُ اللهُ، ومَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، ومَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ. وما أُعْطِيَ أَحَدٌ عطاءً خَيرًا وأَوسع من الصبرِ».

Dari Abu Sa'îd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwa ada sebagian orang dari Ansar yang meminta-minta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau beri. Kemudian minta lagi dan diberi lagi, sampai yang beliau miliki habis. Beliau berkata kepada mereka ketika apa yang beliau miliki sudah habis, "Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allah akan memulyakannya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allah) maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran".

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
سأل ناس من الأنصار رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاهم ثم سألوه فأعطاهم، حتى نفد ما عنده، ثم أخبرهم أنه لا يمكن أن يدخر شيئا عنهم فيمنعهم، ولكن ليس عنده شيء، وحثهم على الاستعفاف والاستغناء والصبر.
فأخبرهم أنه من يستغن بما عند الله عما في أيدي الناس؛ يغنه الله عز وجل، فالغنى غنى القلب، فإذا استغنى الإنسان بما عند الله عما في أيدي الناس؛ أغناه الله عن الناس، وجعله عزيز النفس بعيدًا عن السؤال.
وأنه من يستعفف عما حرم الله عليه من النساء يعفه الله عز وجل ويحميه ويحمي أهله أيضًا.
وأنه من يتصبر يصبره الله، أي يعطيه الله الصبر.
وما من الله على أحد بعطاء من رزق، أو غيره؛ خيرًا وأوسع من الصبر.
Ada orang-orang dari Ansar meminta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian diberi. Lalu minta lagi dan diberi lagi. Hingga habis apa yang beliau punya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tidak mungkin beliau menyimpan sesuatu, untuk disembunyikan dari mereka. Tetapi sudah tidak tersisa apa pun pada beliau. Beliau menasehati mereka agar menjaga kehormatan, merasa cukup dan bersabar.
Beliau mengabarkan, bahwa siapa yang merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah dari harta yang ada di tangan manusia, Allah akan mencukupinya. Kaya yang hakiki tentunya kaya hati. Jika seseorang telah merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah, dari apa yang ada di tangan manusia, Allah cukupkan dia dari rasa butuh kepada manusia. Menjadikannya punya harga diri (martabat), jauh dari meminta-minta.
Siapa yang menjaga kemuliaan diri dari perkara yang Allah haramkan seperti wanita (lawan jenis), Allah jadikan dia mulia, Allah melindunginya dan juga keluarganya. Dan siapa yang berusaha sabar, Allah jadikan dia penyabar. Maksudnya Allah beri dia kesabaran.
Dan tidaklah Allah mengaruniai kepada seseorang pemberian atau rezeki atau lainnya, yang lebih baik dan lebih lapang daripada sabar.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4967

 
Hadith   787   الحديث
الأهمية: مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ على بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّات
Tema: Perumpamaan salat lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir deras (melimpah) di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian, ia mandi dari air sungai itu lima kali sehari.

عن جابر -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ على بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ».
وعن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «أَرَأَيْتُمْ لو أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ منه كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ. شَيْءٌ؟» قالوا: لا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قال: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الخَطَايَا».

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perumpamaan shalat lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir deras (melimpah) di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian, ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali." Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotoran tubuhnya walau sedikit?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya." Beliau bersabda, "Maka itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
شبه -صلى الله عليه وسلم- الدَّنَسَ المعنوي بالدنس الحسي، فكما أن الاغتسال كل يوم خمس مرات يذهب الوسخ، فكذلك الصلوات الخمس تذهب الذنوب.
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyamakan kotoran maknawi dengan kotoran yang tampak. Sebagaimana mandi setiap hari lima kali dapat menghilangkan kotoran, demikian pula salat lima waktu dapat melenyapkan berbagai dosa.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4968

 
Hadith   788   الحديث
الأهمية: مَثَلُ المُؤْمِنِينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الجَسَدِ إذا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى له سَائِرُ الجَسَدِ بالسَّهَرِ والحُمَّى
Tema: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hubungan mereka, kasih sayangnya, dan tolong-menolong diantara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh mengeluh, maka sekujur tubuh kan mengeluh tak dapat tidur dan merasakan demam."

عن النعمان بن بشير -رضي الله عنه- مرفوعاً: «مَثَلُ المُؤْمِنِينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الجَسَدِ إذا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى له سَائِرُ الجَسَدِ بالسَّهَرِ والحُمَّى».

Dari An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hubungan mereka, kasih sayangnya, dan tolong-menolong diantara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh mengeluh, maka sekujur tubuh kan mengeluh tak dapat tidur dan merasakan demam."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
مثل المؤمنين في رحمة بعضهم لبعض، وتواصلهم، وتعاونهم، كمثل الجسد بالنسبة إلى جميع أعضائه، إذا تألم منه شيء دعا بقية أعضائه إلى المشاركة في الألم وما ينتج عنه من عدم النوم والحرارة.
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang sebagian mereka terhadap yang lainnya, komunikasi di antara mereka dan kerjasamanya, laksana satu tubuh dengan semua organ tubuhnya. Jika ada satu organ tubuh yang merasa sakit, ia kan menyeru anggota tubuh lainnya untuk turut serta dalam merasakan sakit dan dampaknya berupa terjaga dan demam.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4969

 
Hadith   789   الحديث
الأهمية: مَثَلِي وَمَثَلُكُم كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الجَنَادِبُ والفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيها، وهو يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُم عَنِ النَّارِ، وأنتم تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي
Tema: Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah belalang-belalang dan laron berjatuhan ke dalam api itu, sedangkan orang itu selalu berusaha mengusirnya dari api itu. Dan aku memegang ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku

عن جابر بن عبد الله وأبو هريرة -رضي الله عنهم- مرفوعاً: «مثلي ومثلُكم كمثل رجلٍ أَوْقَدَ نارًا فجعل الجنادِبُ والفَرَاشُ يَقَعْنَ فيها، وهو يَذُبُّهُنَّ عنها، وأنا آخذٌ بحُجَزِكُم عن النار، وأنتم تَفَلَّتُون من يَدَيَّ».

Dari Jābir bin Abdillah dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā-, secara marfū', (Nabi bersabda), "Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah belalang-belalang dan laron berjatuhan ke dalam api itu, sedangkan orang itu selalu berusaha mengusirnya dari api itu. Dan aku memegang ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
يبين النبي صلى الله عليه وسلم أن حاله مع أمته كحال رجل في برية، أوقد نارًا فجعل الجنادب والفراش يقعن فيها؛ لأن هذه هي عادة الفراش والجنادب والحشرات الصغيرة، إذا أوقد إنسان نارًا في البر؛ فإنها تأوي إلى هذا الضوء. ويقول: لأمنعنكم من الوقوع فيها، ولكنكم تفلتون من يدي، وذلك بمخالفة النبي صلى الله عليه وسلم وترك سنته.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa kondisinya bersama umatnya seperti keadaan seorang lelaki di padang pasir. Dia menyalakan api lalu belalang-belalang dan laron jatuh di dalamnya karena inilah kebiasaan laron, belalang-belalang dan serangga-serangga kecil, apabila ada manusia yang menyalakan api di tanah lapang, ia mendatangi cahaya itu. Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mencegah kalian jatuh ke dalam api itu, tetapi kalian melepaskan diri dari tanganku yaitu dengan menentang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan meninggalkan Sunnahnya."

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4970

 
Hadith   790   الحديث
الأهمية: الشهداء خمسة: المطعون والمبطون، والغريق، وصاحب الهدم، والشهيد في سبيل الله
Tema: Syuhada ada lima golongan: orang yang kena wabah (ṭa'ūn), orang yang sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang syahid di jalan Allah

عن أبي هريرة -رضي الله عنه-    قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «الشهداء خمسة: المطعون والمبطون، والغريق، وصاحب الهَدْمِ، والشهيد في سبيل الله».
   وفي رواية «ما تَعُدُّونَ الشهداء فيكم؟» قالوا: يا رسول الله، من قتل في سبيل الله فهو شهيد. قال: «إن شهداء أمتي إذا لقليل» قالوا: فمن هم يا رسول الله؟ قال: «من قتل في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في الطاعون فهو شهيد، ومن مات في البطن فهو شهيد، والغريق شهيد».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Syuhada ada lima golongan: orang yang kena wabah (ṭa'ūn), orang yang sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang syahid di jalan Allah." Dalam sebuah riwayat (disebutkan): "Siapa para syuhada menurut kalian?" Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, syahid adalah orang yang terbunuh di jalan Allah." Beliau bersabda, "Kalau begitu, sungguh sedikit para syuhada umatku." Para sahabat berkata, "Kalau begitu, wahai Rasulullah, siapakah para syuhada itu?" Beliau menjawab, "Orang yang terbunuh di jalan Allah adalah syahid, orang yang meninggal di jalan Allah adalah syahid, orang yang mati kena wabah adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid."

 
Penjelasan Hadits بيان الحديث
 
الشهداء في الجملة خمسة، الذي ضربه الطاعون ومات به وهو وباء فتاك، والذي يموت بمرض البطن، والذي يموت من الغرق وقد ركب البحر ركوبا غير محرم، أو في السيول والمسابح ونحوها، والذي يموت تحت الهدم كأن سقط عليه جدار، والمقتول في سبيل الله -تعالى-، وهو أعلى الأنواع، وكذلك من مات في سبيل الله بسبب غير القتال، والشهداء الأربعة الأول شهداء في أحكام الآخرة لا الدنيا فيغسلون ويصلى عليهم، والعدد في الحديث ليس للحصر.
Secara global syuhada itu terdiri dari lima golongan: orang yang kena ṭa'ūn dan meninggal dunia, ṭa'ūn adalah wabah mematikan; orang yang mati karena penyakit perut; orang yang mati tenggelam karena berlayar untuk pelayaran yang tidak diharamkan, atau karena banjir, (tenggelam di) kolam renang dan lainnya; orang yang meninggal dunia di bawah reruntuhan seperti orang yang tertimpa dinding, dan orang yang terbunuh di jalan Allah, inilah jenis syahid paling tinggi. Demikian juga orang yang meninggal dunia di jalan Allah bukan karena pertempuran. Keempat syuhada pertama adalah para syuhada dalam hukum-hukum akhirat, bukan dunia. Mereka dimandikan dan disalatkan (seperti biasa). Jumlah dalam hadis ini bukan sebagai batasan.

 

Grade And Record التعديل والتخريج
 

[Hadis sahih]    ← →    Muttafaq 'alaih]
 
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 4971



© EsinIslam.Com Designed & produced by The Awqaf London. Please pray for us