Bahasa Indonesia
- Beranda    - Sepuluh Teratas    - Topik Baru    - Kirim Berita    - Pencarian    - Bahasa Musyawarah    - Bahasa Anggota    - Ulasan    - Anda Pribadi Pesan    - Survei    - Majalah    - Arsip Cerita    - Isi    - Tautan Web    - Unduhan    - Pertanyaan Sering    - Merekomendasikan Kami    - Ensiklopedi   

 

 
Random Headlines


Informasi Umum - Teknologi dan profesi
[ Informasi Umum - Teknologi dan profesi ]

·Doa Penyembuhan Dan Perlindungan Dari Segala Macam Penyakit
·Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Kesalahan Ulama
·Berbahagialah Mengemban Amanah
·Hindarilah Syirik ... Bertauhidlah! (Sebuah pelajaran dari Al Qur’an surat Yusuf
·Hakim yang Adil dan Bijaksana
·Tingkatan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
·Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
·Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Who's Online

Saat ini ada, 3 tamu 0 member yang sedang online.

Anda bukan member. Silakan daftar di sini, gratis!

Search




Languages




Categories Menu

Blok ini kosong.

Login

Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

Big Story of Today

Belum ada berita besar hari ini.

Old Articles

Thursday, November 29
· Al-Khulu’ (Minta Cerai): Definisi Al-Khulu’ (Minta Cerai), Hukum Khulu’ Dalam Sy
· Apa Yang Harus Dilakukan Seorang Da'i
· Memotivasi Para Pemuda Kepada Kebaikan
· Fenomena Tahdzir, Cela-Mencela Sesama Ahlus Sunnah Dan Solusinya
· ‘Iddah: Definisi ‘Iddah - Alwajiz, Nikah, Macam-Macam ‘Iddah, Isteri Yang Ditala
· Berdakwah Kepada Orang Yang Sudah Terkontaminasi Kebudayaan Tertentu
· Penutup - Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah
· Al-Istibra’ (Masa Menunggu Bagi Seorang Wanita Setelah Mengandung), Al-Hadhanah
Friday, June 29
· Proses Dan Perkembangan Janin Di Rahim
· Perbedaan Yang Wajib Diimani
· Bagaimana Darah Haid Terjadi
· Berbahagialah Mengemban Amanah
· Etika Safar
· Ziarah Antar Muslimah
· Mengapa Wanita Harus Berhijab?
· Tidur Dalam Tatanan Sunnah
· Hindarilah Syirik ... Bertauhidlah! (Sebuah pelajaran dari Al Qur’an surat Yusuf
· Waspada, Syirik Di Sekitar Kita
· Jika Wanita Muslimah Berobat Ke Dokter Lelaki?
· Wajibkah Mengulangi Syahadat Di Hadapan Imam?
· Tujuan Ziarah Kubur Dalam Kaca Mata Sufi
Thursday, May 10
· Arti Penting Wanita dalam Kehidupan
· Saat Terjadi Pertikaian
· AsSalam: Makna as-Salam - Buah Mengimani Nama Allah as-Salam
· Buah Keimanan
· Sifat Shalat Nabi (bagian ke 14): Ruku’ - Tata Cara Ruku’
· Hakim yang Adil dan Bijaksana
· Nabi Muhammad Wafat
· Nasehat Untuk Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
· Mengingkari Kemungkaran Mendulang Berkah dalam Meneladani Para Rasul

Artikel Lama


Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah
 
 
Teologi Islam Dan Ajaran Dasar Islam
Oleh Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah

Segala puji hanya milik Allah, yang telah mempersatukan hati orang-orang beriman, yang mendorong mereka untuk berkumpul dan bersatu, serta memperingatkan mereka dari perpecahan dan perselisihan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, yang menciptakan dan menentukan, menetapkan syari’at dan memudahkannya. Allah Maha Penyayang terhadap hama-hambaNya yang beriman. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, yang memerintahkan untuk memberikan kemudahan dan kabar gembira. Beliau bersabda.



يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا

“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari”

Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau yang disucikan, serta para sahabat beliau yang disebutkan oleh Allah sebagai orang-orang keras terhadap orang-orang kafir dan amat lemah lembut terhadap sesama mereka. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tadi juga tercurah kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar sampai hari kiamat.

Ya Allah berilah aku petunjuk, dan tunjukkanlah (kebenaran) padaku serta jadikanlah aku sebagai sebab bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk.

Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari rasa dengki dan luruskanlah lisanku dalam menyampaikan kebenaran.

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar tidak menjadi orang yang menyesatkan atau disesatkan, orang yang menggelincirkan atau yang digelincirkan, orang yang mendzalimi atau didzalimi, membodohi atau dibodohi.

Amma ba’du.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka menisbatkan (menyandarkan) diri kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berpegang teguh kepada Sunnahnya.

Beliau bersabda.

فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ مِنْ بَعِدِيْ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah sesudahku yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah tersebut, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian”

Beliau juga telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi sunnah beliau. Dalam hal ini beliau bersabda.

وَإِيَّاكُمْ وَ مَحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah kalian terhadap segala perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru seperti itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”

Dalam hadits yang lain beliau bersabda.

فَمَن رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”

Keadaan Ahlus Sunnah ini berbeda dengan kelompok lainnya, yaitu kalangan para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah. Para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah menempuh jalan yang tidak ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Akidah Ahlus Sunnah tampak sejak Nabi diangkat menjadi rasul dan selama beliau masih hidup, sedangkan akidah ahli hawa (para pengikut hawa nafsu) muncul setelah beliau wafat. Ada yang muncul pada akhir generasi sahabat; ada yang muncul setelah generasi sahabat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan kepada para sahabat beliau bahwa barangsiapa di antara mereka berumur panjang niscaya akan menjumpai perpecahan dan perselisihan. Rasulullah bersabda.

وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخِتِلاَفًا كَشِيرًا

“Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang berumur panjang maka dia akan melihat perselisihan”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada mereka untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifahnya yang mendapatkan petunjuk (Khulafa’ Ar-Rasyidah). Rasulullah juga telah memperingtkan kita agar menjauhi perkara-perkara yang baru dalam agama, dan memberitahukan bahwa semua itu adalah sesat.

Suatu hal yang sangat tidak masuk akal bila para sahabat tidak mengetahui kebenaran dan petunjuk (dengan jelas dan gamblang) sementara orang-orang yang datang setelah mereka lebih mengetahui kebenaran dan petunjuk. Sesungguhnya bid’ah yang diada-adakan orang-orang setelah generasi sahabat itu tidak lain dalah keburukan. Seandainya bid’ah yang mereka ada-adakan itu lebih baik, niscaya para sahabat akan melakukannya terlebih dahulu.

Bid’ah adalah keburukan yang menimpa banyak orang yang datang setelah para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang melakukan penyimpangan terhadap apa-apa yang dilakukan dan dipegangi oleh para sahabat Radhiyallahu anhu. Imam Malik berkata.

لَنْ يَصلُحَ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّ لُهَا

“Umat ini tidak akan baik kecuali dengan hal-hal yang telah menyebabkan baik generasi awalnya”

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah selalu menyandarkan dirinya kepada sunnah. Adapun selain Ahlus Sunnah, seperti kelompok Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah dan Al-Imamiyah Itsna ‘Asyaariyah, mereka menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan kepada tokoh-tokoh mereka, seperti kelompok Jahmiyah, Zaidiyah, Asy’ariyah, dan Ibadiyah.

Dalam hal ini, tidak bisa Ahlus Sunnah dikatakan sebagai Wahabiyah, yaitu dinisbatkan kepada Syaikh Muhamamad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Hal ini karena Ahlus Sunnah tidak pernah menyandarkan diri kepada beliau baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Syaikh Muhamamd bin Adbul Wahhab sendiri tidak pernah mengajarkan sesuatu yang baru untuk kemudian ajaran tersebut dinisbatkan kepada dirinya. Bahkan sebaliknya, beliau adalah orang yang teguh mengikuti jalan para Salafush Shalih, menampakkan, menyebarkan dan mengajak orang-orang untuk berpegang teguh dengan Sunnah.

Memang ada sementara orang yang menyebut Ahlus Sunnah sebagai aliran wahabi. Pemberian gelaran ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka dan dengki atas gencarnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Gelaran seperti ini sengaja dihembuskan agar orang-orang ragu mengikuti kebenaran dan petunjuk yang diajarkan beliau. Gelaran seperti itu juga digunakan agar orang-orang tetap tenggelam dalam bid’ah yang mereka ada-adakan, tindakan yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah.

Imam Syahtibi berkata dalam kitab Al-I’tisham (I/79), “Abdurrahman Al-Mahdi berkata, ‘Malik bin Anas pernah ditanya tentang Ahlus Sunnah.’ Beliau menjawab, ‘Dia adalah nama yang tidak mempunyai sandaran selain As-Sunnah. Kemudian beliau membaca firman Allah.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah jalan tersebut ! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya” [Al-An’am : 153]

Ibnul Qayyim berkata dalam kitab Madarijus Salikin (III/179), “Pernah sebagai Imam (Ulama terkemuka) kaum muslimin ditanya tentang sunnah. Mereka menjawab, ‘As-Sunnah adalah nama yang tidak mempunyai sandaran melainkan As-Sunnah itu sendiri.’ Maksudnya bahwa Ahlus Sunnah tidak mempunyai nama yang dijadikan penisbatan selain As-Sunnah”.

Dalam kitab Al-Intiqa (hal.35) karya Ibnu Abdil Barr disebutkan bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik. Orang tersebut bertanya, ‘Siapakah Ahlus Sunnah ?’. Beliau menjawab, “Ahlus Sunnah adalah orang yang tidak mempunyai julukan tertentu untuk mengenali diri mereka. Mereka bukanlah jahmi, tidak pula qadari, juga bukan rafidhi”.

Tidak diragukan lagi, menjadi kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan di setiap tempat untuk saling bersatu dan saling berkasih sayang di antara mereka, serta saling menolong dalam perkara kebaikan dan takwa.

Akan tetapi, sungguh amat disayangkan, sekarang ini banyak muncul pertentangan dan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah. Sebagian dari mereka sibuk mencela saudaranya sesama Ahlus Sunnah, memprovokasi orang-orang untuk menjauhi, dan terkadang melakukan tindakan boikot terhadapnya. Padahal sikap seperti itu semestinya dialamatkan kepada orang-orang yang bukan Ahlus Sunnah, yaitu kepada orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Adapun sesama Ahlus Sunnah hendaknya ditumbuhkan sikap saling lemah lembut dan saling berkasih sayang. Kalau umpanya suatu ketika mereka perlu mengingatkan saudaranya yang salah, itupun hendaknya dilakukan dengan cara yang halus dan lembut.

Memperhatikan keadaan yang seperti itu, saya memandang perlu menulis beberapa nasehat untuk mereka. Saya memohon keapda Allah Ta’ala semoga Dia berkenan memberikan manfaat dari kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan ini.

Dengan tulisan ini saya tidak lain hanyalah bermaksud mengadakan perbaikan semampu saya. Dan tulisan ini hanya akan membawa manfaat bila mendapat taufik dari Allah Ta’ala. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan hanya kepadaNya-lah saya kembali. Selanjutnya, kitab ini saya beri judul : Rifqan Ahlassunnah Bi Ahlissunnah (Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah).

Saya bermohon semoga Allah memberi taufik dan keteguhan kepada saya, juga kepada semuanya, serta memperbaiki hubungan mereka, mempertautkan hati mereka, menunjuki mereka jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004]
 
 
 Posted By Dipublikasi pada Sunday, 02 December 2012 oleh MediaIndonesianTeam
 
 
:-: Go Home :-: Go Top :-:
 
 
 
Comments & Debates :-: التعليقات والمحاورات

 
 
For Your Membership Comments And Registered Debates Please, See Below Or Register Here :-: للحصول على تعليقات عضويتك و مناقشات الأعضاء انظر من فضلك أدناه أو سجّل هنا
 
 
:-: Go Home :-: Go Top :-:
 

Link Terkait

· Lebih Banyak Tentang Teologi Islam Dan Ajaran Dasar Islam
· Berita oleh MediaIndonesianTeam


Berita terpopuler tentang Teologi Islam Dan Ajaran Dasar Islam:
Bagaimana Darah Haid Terjadi


Nilai Berita

Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa Sangat Bagus Bagus Biasa Jelek

Opsi


 Versi Cetak Versi Cetak


Associated Topics

Teologi Islam Dan Ajaran Dasar Islam

"Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah" | Login/Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini
 

 
EsinIslam The Muslim World Portal For Islamics, News, Fatwas, Audios, Videos, Muslim News, Quranic Islamic Articles, Radio, Audio Quran, TV Channels, Fatwa Rulings, Muslim News Newspapers Magazines Headlines Articles Forums Schools, Universities, Colleges, Mosques, Qur'an, Hadith, Sunnah, Fiqh, Prayers, Salat, Fasting Ramadan, Vidoes, Books On EsinIslam.Com And Muxlima.Com

  







:-: Go Home :-: Go Top :-: