Penjelajah Hadis Bahasa Indonesia مكتشف الحديث باللغة الإنجليزية
Hadith 2 الحديث
الأهمية: دخل علينا رسول الله -صلى الله عليه
وسلم- حين توُفِّيَتْ ابنته،
فقال: اغْسِلْنَهَا ثلاثًا، أو خمسًا، أو أكثر من ذلك -إن رَأَيْتُنَّ ذلك-
بماء وَسِدْرٍ، واجعلن في الأخيرة كافورًا -أو شيئًا من كافور- فإذا
فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- masuk menemui kami ketika putrinya meninggal dunia lalu beliau
bersabda, "Mandikanlah ia tiga atau lima kali atau lebih dari itu -jika
kalian memandang hal itu perlu- dengan air dan daun bidara, lalu gunakan
kapur barus di basuhan terakhir -atau sebagian dari kapur barus-. Jika
kalian sudah selesai, panggillah aku!" |
عن أُمّ عَطِيَّةَ الأنصارية -رضي الله
عنها- قالت: «دخل علينا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حين تُوُفِّيَتْ
ابنته، فقال: اغْسِلْنَهَا ثلاثا، أو خمسا، أو أكثر من ذلك -إن
رَأَيْتُنَّ ذلك- بماء وَسِدْرٍ، واجْعَلْنَ في الأخيرة كافُورا -أو شيئا
من كافور- فإذا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي ». فلما فَرَغْنَا آذَنَّاهُ،
فأعطانا حَقْوَهُ، وقال: أَشْعِرْنَهَا بِهِ -تعني إزاره-.
وفي رواية
«أو سَبْعا»، وقال: « ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا ومَواضِعِ الوُضوء منها»
وإن أُمّ عَطِيَّةَ قالت: وجعلنا رأسها ثلاثة قُرُون».
Dari Ummu 'Aṭiyyah al-Anṣāriyyah
-raḍiyallahu 'anha-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- masuk menemui kami ketika putrinya meninggal dunia lalu beliau
bersabda, "Mandikanlah ia tiga atau lima kali atau lebih dari itu -jika
kalian memandang hal itu perlu- dengan air dan daun bidara, lalu gunakan
kapur barus di basuhan terakhir -atau sebagian dari kapur barus-. Jika
kalian sudah selesai, panggillah aku!" Setelah selesai, kami memanggil
beliau. Lantas beliau memberikan kain penutup badannya kepada kami dan
bersabda, "Kenakanlah kain ini kepadanya." Yaitu kain sarung beliau.
Dalam riwayat lain, "Atau tujuh." Beliau bersabda, "Mulailah dari
anggota bagian kanannya dan tempat-tempat wudunya." Ummu 'Aṭiyyah
berkata, "Lantas kami menjadikan rambut kepalanya tiga kepang."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
لما تُوُفيت
زينب -رضي الله عنها-، وهي بنت النبي -صلى الله عليه وسلم- ، دخل
النبي -صلى الله عليه وسلم- على النسوة اللاتي يغسلنها، وفيهن "أم عطية
الأنصارية" ليعلمهن صفة غسلها، لتخرج من هذه الدنيا إلى ربها، طاهرة نقية
فقال: اغسلنها ثلاثاً، أو خمسا، ليكون قطع غسلهن على وتر أو أكثر من ذلك،
إن رَأيْتُنَّ أنها تحتاج إلى الزيادة على الخمس، وأنه لازم.
وليكون
الغسل أنقى، والجسد أصلب، اجعلن مع الماء سدراً، وفي الأخيرة كافورا، لتكون
مطيبة بطيب يبعد عنها الهوام، ويشد جسدها، ووصاهن أن يبدأن بأشرف أعضائها،
من الميامن، وأعضاء الوضوء، وأمرهن - إذا فرغن من غسلها على هذه الكيفية-
أن يخبرنه.
فلما فرغن
وأعلمنه، أعطاهن إزاره الذي باشر جسده الطاهر، ليشعرنها إياه، أي ليكون مما
يلي جسدها، فيكون بركة عليها في قبرها، وقد نقضت النسوة اللاتي يغسلن زينب
رأسها وغسلنه وجعلنه ثلاثة قرون الناصية قرن والجانبان قرنان وألقينه
خلفها.
Ketika Zainab -raḍiyallahu 'anha-
putri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- masuk menemui para wanita yang memandikannya, dan di
antara mereka ada Ummu `Aṭiyyah al-Anṣāriyyah, untuk mengajari mereka
tata cara memandikannya agar dia keluar dari dunia menuju Rabbnya dalam
keadaan suci dan bersih. Beliau bersabda, "Mandikanlah dia tiga atau
lima kali supaya bilangan memandikan mereka ganjil atau lebih dari itu,
jika kalian memandang bahwa dia membutuhkan lebih dari lima, dan itu
memang keharusan. Juga supaya pemandian lebih bersih dan jasadnya lebih
kuat, maka hendaknya air dicampur dengan daun bidara, dan basuhan
terakhir dicampur dengan kapur barus agar ia wangi dengan wewangian yang
dapat menjauhkannya dari serangga dan menguatkan tubuhnya. Beliau
berpesan kepada mereka agar memulai dengan anggota tubuh paling mulia;
dari bagian kanan dan anggota wudu, dan memerintahkan mereka -jika
mereka sudah selesai dari memandikannya sesuai dengan tata cara itu-
hendaknya mereka memberitahu beliau. Setelah mereka selesai dan
memberitahu beliau, beliau memberikan kain sarungnya yang menyelimuti
tubuhnya yang suci kepada mereka agar mereka mengenakannya kepada
putrinya sehingga menjadi keberkahan baginya di kuburnya. Para wanita
yang memandikan Zainab menguraikan rambutnya, mencuci dan menjadikannya
tiga kepang; satu kepang di ubun-ubun, dua kepang di kedua sisi, dan
mereka meletakkannya di belakangnya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 1751 |
|
Hadith 3 الحديث
الأهمية: حجَّ بي مع رسول الله -صلى الله عليه
وسلم- في حجة الوداع، وأنا ابن سبع سنين
Tema: Aku diajak menunaikan haji bersama
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika haji wada' saat aku
berusia tujuh tahun. |
عن السَّائب بن يزيد -رضي الله عنهما-
قال: «حُجَّ بي مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في حجة الوداع، وأنا ابن
سبع سنين».
Dari As-Saib bin Zaid -raḍiyallāhu
'anhumā, ia berkata, "Aku diajak menunaikan haji bersama Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika haji wada' saat aku berusia tujuh
tahun".
Penjelasan Hadits بيان الحديث
السائب بن يزيد -رضي الله عنهما-
صحابيٌّ صغير، حجَّ به أهْلُهُ على عهد النبي -صلى الله عليه وسلم- فأدرك
حجة الوداع، وأقرهم النبي -عليه الصلاة والسلام- على الحج بالصبيان،
وتُحسَبُ له حجة تطوع، لكن إذا بلغ يَلْزَمُهُ أن يحج مَرةً أخرى حجة
الإسلام، ويفعل الصَّبِيُّ في الحج مثل فعل الكبير من الإحرام والتَّجرُّد
مِنَ المخِيطِ والتلبية ونحوها، فإذا عجز عنها فعلها عنه وَلِيُّهُ، كأبيه
وأمه.
As-Sā`ib bin Yazīd -raḍiyallāhu
'anhumā- adalah sahabat junior. Keluarganya mengajaknya menunaikan haji
pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mendapati haji wada'.
Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- menyetujui perbuatan mereka yang
menghajikan anak kecil dan haji tersebut terhitung sebagai haji sunnah
baginya. Jika sudah baligh maka dia tetap harus menunaikan haji sekali
lagi sebagai haji Islam (haji wajib). Anak kecil yang menunaikan ibadah
haji harus melakukan apa yang dilakukan orang dewasa berupa (niat)
ihram, menanggalkan pakaian berjahit, bertalbiyah dan seterusnya. Jika
dia tidak mampu melakukannya, maka walinya yang mewakilinya, seperti
bapak atau ibunya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Bukhari]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2750 |
|
Hadith 4 الحديث
الأهمية: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حَج
على رَحل وكانت زاملته
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- menunaikan haji dengan menunggang unta yang sekaligus menjadi
pengangkut barang-barangnya. |
عن أنس بن مالك -رضي الله عنه-: أنَّ
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حَجَّ على رَحْلٍ وكانتْ زَامِلَتَهُ.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu
'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan
haji dengan menunggang unta yang sekaligus menjadi pengangkut
barang-barangnya.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
حجَّ النبيُّ -عليه الصلاة والسلام- على
ظهر البعير من غير محملٍ وهو الشيء الذي يوضع على البعير، ولم يكن له بعيرٌ
آخر يحمل عليه طعامه ومتاعه، بل يجعَلُهُ معه على هذا البعير،مما يدل على
زهده وتقلله من الدنيا -عليه السلام-، والحديث لا يَدُلُّ على تحريم ركوب
الدواب المريحة والفاخرة في الحج، وإن كان التقلُّلُ من الرفاهية والتنعم
في الحج هو الأفضل اقتداءً برسول الله -صلى الله عليه وسلم-.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menunaikan haji dengan menunggang unta tanpa tempat barang, yaitu tempat
meletakkan sesuatu di atas unta. Beliau tidak memiliki unta lain untuk
membawa makanan dan barang-barangnya. Karenanya, beliau meletakkan semua
barang itu di unta yang ditungganginya. Hal ini menunjukkan sifat beliau
yang zuhud dan bersahaja dalam urusan dunia. hadis ini tidak menunjukkan
diharamkannya mengendarai kendaraan yang nyaman dan mewah dalam ibadah
haji, meskipun menghindari sikap mewah dan bersenang-senang dalam ibadah
haji lebih utama untuk meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam-. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Bukhari]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2751 |
|
Hadith 5 الحديث
الأهمية: رباط يوم وليلة خير من صيام شهر وقيامه،
وإن مات جرى عليه عمله الذي كان يَعمل، وأجري عليه رزقه، وأمن الفتان
Tema: Ribāṭ (berjaga-jaga di garis
perbatasan) sehari semalam lebih baik daripada puasa dan salat malam
selama satu bulan. Jika ia meninggal dunia maka amalan yang pernah ia
lakukan masih tetap mengalir (pahalanya), rezekinya masih tetap
diberikan, dan ia aman dari fitnah kubur (pertanyaan Munkar dan Nakir). |
عن سلمان الفارسي -رضي الله عنه-
مرفوعاً: «رباط يوم وليلة خير من صيام شهر وقيامه، وإن مات جرى عليه عمله
الذي كان يعمل، وأُجْرِيَ عليه رزقه، وأَمِنَ الفَتَّانَ».
Dari Salman Al Farisi -raḍiyallāhu
'anhu- yang diriwayatkan secara marfū', (Nabi bersabda), "Ribāṭ
(berjaga-jaga di garis perbatasan) sehari semalam lebih baik daripada
puasa dan salat malam selama satu bulan. Jika ia meninggal dunia maka
amalan yang pernah ia lakukan masih tetap mengalir (pahalanya),
rezekinya masih tetap diberikan, dan ia aman dari fitnah kubur
(pertanyaan Munkar dan Nakir)."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
حراسة يوم وليلة في سبيل الله لحماية
المسلمين خير من صيام شهر وقيام ليله، وإذا مات المجاهد بقي أجر عمله
مستمراً لا ينقطع، و كذلك يرزق من الجنة ؛لأنه حي عند ربه في الجنة، وتحصل
له كرامة بأن لا يأتيه الملكان ليسألاه، وذلك لأنه مات مرابطاً في سبيل
الله -تعالى-، مع العلم أن الرباط من الجهاد في سبيل الله، لأنه ملازمة
أماكن الحدود لحماية المسلمين من الكفار.
Melakukan penjagaan sehari semalam di
jalan Allah demi melindungi kaum muslimin lebih baik dari puasa dan
salat malam selama satu bulan. Jika mujahid ini meninggal dunia, maka
pahala amalnya akan terus mengalir tanpa terputus. Demikian juga ia
diberi rezeki dari surga karena ia tetap hidup di sisi Tuhannya di
surga, dan ia memperoleh kemuliaan dengan tidak didatangi dua malaikat
(Munkar dan Nakir) untuk bertanya kepadanya. Hal ini disebabkan karena
ia meninggal dunia sebagai murabith (penjaga perbatasan) di jalan Allah.
Perlu diketahui bahwa ribath (menjaga wilayah perbatasan) termasuk jihad
di jalan Allah, karena dia tinggal di perbatasan tersebut demi menjaga
umat Islam dari ancaman orang kafir. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Muslim]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2752 |
|
Hadith 6 الحديث
الأهمية: عمرة في رمضان تعدل حجة - أو حجة معي
Tema: Umrah di bulan Ramadan sebanding
dengan haji - atau haji bersamaku. |
عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما-
مرفوعاً: «عمرة في رمضان تعدل حجة - أو حجة معي».
Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu
'anhumā- secara marfū', (Nabi bersabda), "Umrah pada bulan Ramadan
sebanding dengan haji - atau haji bersamaku."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أداء عمرة في شهر رمضان يماثل أجرها أجر
حجة تطوع أو حجة مع النبي -صلى الله عليه وسلم-، والمقصود في الشرف والأجر،
لا أن العمرة في رمضان يحصل بها فريضة الحج.
Melaksanakan umrah di bulan Ramadan
memiliki pahala yang sebanding dengan haji taṭawwu' (sunnah) atau haji
bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maksudnya terkait kemuliaan
dan pahalanya. Jadi bukan berarti bahwa umrah di bulan Ramadan bisa
menggantikan haji yang wajib. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2753 |
|
Hadith 7 الحديث
الأهمية: كان النبي-صلى الله عليه وسلم- يعتكف في
كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما
Tema: Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- beriktikaf setiap bulan Ramaḍan selama sepuluh hari. Namun pada
tahun beliau wafat, beliau beriktikaf dua puluh hari. |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: كان
النبي-صلى الله عليه وسلم- يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام
الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-,
dia berkata, Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf
setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat,
beliau beriktikaf dua puluh hari.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كان النبيُّ -عليه الصلاة والسلام-
يلزمُ المسجدَ مُنقطِعَاً لعبادة الله في كل رمضان عشرة أيامٍ، وكان يعتكف
في العشر الأوسط منه رجاء إدراك ليلة القدر، فلما عَلِمَ أنها في العشر
الأواخر منه اعتكفها، ثم اعتكف في العام الذي ماتَ فِيهِ عِشرين يوماً
زيادة في الطاعة والتقرب لله -تعالى-.
Dahulu Nabi -'alaihiṣṣalātu was
sallām- berdiam di masjid, memfokuskan diri guna beribadah kepada Allah
setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Kala itu beliau beriktikaf
sepuluh hari di pertengahan bulan, dengan harapan mendapati lailatul
qadar. Setelah beliau mengetahui bahwa lailatul qadar ada di sepuluh
hari terakhir, beliau beriktikaf di hari-hari itu. Kemudian pada tahun
beliau wafat, beliau beriktikaf dua puluh hari, sebagai tambahan
ketaatan dan taqarrub kepada Allah –Ta'ālā-. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Bukhari]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2754 |
|
Hadith 8 الحديث
الأهمية: كانت عكاظ، ومجنة، وذو المجاز أسوَاقًا
في الجاهلية، فتأَثموا أن يتجروا في المواسم، فنزلت: ليس عليكم جناح أن
تبتغوا فضلًا من ربكم
Tema: Dahulunya Ukāẓ, Majinnah, dan Żul
Majāz adalah pasar-pasar di masa jahiliyah. Mereka merasa berdosa
berjualan pada musim (haji), maka turunlah ayat, "Tidak ada dosa bagimu
untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu." |
عن عبد الله بن عباس -رضي الله عنهما-
قال: كانت عُكَاظُ،
ومَجِنَّةُ، وذُو المجَازِ أسوَاقَاً في الجاهلية، فَتَأَثَّمُوا أنْ
يَتَّجِرُوا في المواسم، فنزلت: {ليس عليكم جناح أن تبتغوا فضلاً من ربكم}
"البقرة" (198) في مواسم الحج.
Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, "Dahulunya Ukāẓ, Majinnah, dan Żul Majāz adalah
pasar-pasar di masa jahiliyah. Mereka merasa dosa berjualan pada musim
(haji), maka turunlah ayat, "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia
(rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu" (Al-Baqarah: 198) di musim-musim
haji.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كانت هذه الأماكن أسواقاً للمشركين من
قبل الإسلام يُتَاجِرُون فيها في أيام الحج، فخاف الصحابة -رضي الله عنهم-
أن يأثموا إذا تَاجَرُوا فيها في أيام الحج، فأنزل الله هذه الآية
ليُبَيِّنَ لهم أنَّ التجارة في موسم الحج لا تُفْسِدُهُ مع أداء النسك على
الوجه الشرعي، على أنَّ التجارة في الحج جائزةٌ، لكنَّ الأولى والأحسن
التفرغ لأداء نسك الحج، فهذا هو الأفضل.
Dulunya tempat-tempat itu merupakan
pasar milik orang musyrikin sebelum Islam. Mereka berdagang di
pasar-pasar itu pada musim haji. Lantas para sahabat merasa khawatir
akan berdosa jika mereka berjualan di pasar-pasar itu pada musim haji,
maka Allah pun menurunkan ayat tersebut untuk menjelaskan kepada mereka
bahwa berjualan di musim haji tidak akan merusak ibadah haji bila
melaksanakan ibadah haji sesuai syariat. Meskipun jual-beli pada musim
haji itu boleh, namun lebih utama dan lebih baik adalah memfokuskan diri
untuk melaksanakan ibadah haji, inilah yang paling utama. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Bukhari]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2755 |
|
Hadith 9 الحديث
الأهمية: كل ميت يختم على عمله إلا المرابط في
سبيل الله، فإنه يَنْمي له عمله إلى يوم القيامة، ويؤمن فتنة القبر
Tema: Setiap orang yang meninggal ditutup
amalnya, kecuali murābiṭ (orang yang menjaga perbatasan negara Islam) di
jalan Allah. Sesungguhnya amalnya tetap bertambah sampai hari kiamat dan
ia aman dari fitnah kubur |
عن فَضَالَةُ بنُ عُبَيْدٍ وسلمان
الفارسي وعقبة بن عامر الجهني -رضي الله عنهم- مرفوعاً: «كُلُّ مَيِّتٍ
يُخْتَمُ على عَمَلِهِ إلا الُمرَابِطَ في سبيل الله، فإنه يَنْمِي لَهُ
عَمَلَهُ يوم القيامة،
ويُؤَمَّنُ فتنة القبر».
Dari Fuḍālah bin Ubaid dan Salmān Al
Fārisi serta 'Uqbah bin 'Āmir Al Juhani -raḍiyallāhu 'anhum- secara
marfū', (Nabi bersabda), "Setiap orang yang meninggal ditutup amalnya,
kecuali murābiṭ (orang yang menjaga perbatasan negara Islam) di jalan
Allah. Sesungguhnya amalnya tetap bertambah sampai hari kiamat dan ia
aman dari fitnah kubur."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كُلُّ مَيِّتٍ يَنْقَطِعُ عَمَلُهُ
بالموتِ فلا يُكْتَبُ لَهُ أجرٌ جديدٌ، إلا المرابِطَ في سبيل الله الذي
يَحرِسُ حُدُودَ المسلمين،فإنَّ الله يُكْرِمُهُ ببقاءِ أجْرِ
عَمَلِهِ،ويَأْمَنُ فِتنَةَ القَبْرِ فلا يسأله الملكان.
Setiap orang yang meninggal dunia maka
amalnya terputus dengan kematiannya sehingga tidak dicatat pahala baru
baginya, kecuali murābiṭ di jalan Allah, yaitu orang yang menjaga daerah
perbatasan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah memuliakannya dengan
kelanggengan pahala amalnya dan ia aman dari fitnah kubur sehingga tidak
ditanya oleh dua malaikat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Tirmiżi -
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2756 |
|
Hadith 10 الحديث
الأهمية: من حج، فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم
ولدته أمه
Tema: Siapa yang melakukan ibadah haji tanpa
berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali (tanpa dosa) sebagaimana
waktu ia dilahirkan oleh ibunya |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً:
«مَنْ حَجَّ، فلَمْ يَرْفُثْ، وَلم يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمَ وَلَدْتُهُ
أُمُّهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang melakukan ibadah haji tanpa
berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali (tanpa dosa) sebagaimana
waktu ia dilahirkan oleh ibunya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
مَنْ حَجَّ لله -تعالى- ولم يَصْدُرْ
منه كلامٌ قبيحٌ ولا فعلٌ سيءٌ أثناء المناسك، ولم يأتِ بمعصيةٍ رَجَعَ
مِنْ حَجِّهِ مَغْفُوراً له، كما يُولَدُ الصَّبِيُّ سَالماً من الذُّنُوب،
وتكفيرُ الحجِّ للذُّنُوب والخطايا خاصٌّ بصغائر الذنوب، أما الكبائرُ فلا
بُدَّ لها من التوبة.
Siapa yang berhaji karena Allah
-Ta'ālā- dan tidak melontarkan ucapan yang tidak senonoh, tidak pula
melakukan perbuatan buruk selama mengerjakan manasik haji, dan juga
tidak bermaksiat, maka ia pulang dari hajinya dalam keadaan diampuni
dosa-dosanya seperti bayi yang dilahirkan dalam kondisi suci dari dosa.
Ibadah haji hanya menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan kecil, adapun
dosa-dosa besar maka harus dihapus dengan tobat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2758 |
|
Hadith 11 الحديث
الأهمية: لَكُنَّ أفضل الجهاد: حج مبرور
Tema: Tetapi jihad yang paling utama bagi
kalian (kaum wanita) adalah haji mabrur |
عن عائشة -رضي الله عنها- قالت:
قُلتُ: يا رَسُولَ الله، نَرَى الجهادَ أفضلَ العمل، أفلا نُجاهِد؟
فقال: «لَكُنَّ أفضلُ الجهادِ: حجٌّ مبرور».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-
berkata, Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami memandang bahwa jihad
adalah amal yang paling utama, apakah kami boleh berjihad?" Beliau
menjawab, "Tetapi jihad yang paling utama bagi kalian (kaum wanita)
adalah haji mabrur."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كانت أم المؤمنين عائشةُ -رضيَ الله
عنها- والنساءُ معها يعتقدن أنَّ أفضل الأعمال وأكثرها أجراً الجهاد في
سبيل الله ومقاتلة الأعداء، فأرشَدَهُنَّ -عليه الصلاة والسلام- إلى جهادٍ
أفضل في حقهن من القتال، وهو الحج الذي لا إثم يخالطه، سُمِّيَ الحجُّ
جهاداً لأنه جهادٌ للنفس، وفيه بذلٌ للمال وطاقة البدن.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu
'anhā- dan para wanita yang bersamanya meyakini bahwa amal yang paling
utama dan paling banyak pahalanya adalah jihad di jalan Allah dan
memerangi musuh. Lantas Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam -
menunjukkan kepada mereka jihad yang lebih utama bagi mereka
dibandingkan berperang, yaitu haji yang tidak dicampuri dengan dosa.
Haji dinamakan jihad karena itu merupakan perjuangan melawan diri, di
dalamnya juga terdapat penggunaan harta dan kekuatan badan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Bukhari]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2759 |
|
Hadith 12 الحديث
الأهمية: يا عباس، يا عم رسول الله، سلوا الله
العافية في الدنيا والآخرة
Tema: Wahai ‘Abbās, wahai paman Rasulullah,
mintalah al-‘āfiyah kepada Allah di dunia dan akhirat |
عن أبي الفضل العباس بن عبد المطلب -رضي
الله عنه- قال: قلتُ: يا رسول الله عَلِّمْنِي شيئا أسأله الله -تعالى-،
قال: «سَلُوا اللهَ َالعافية» فمكثتُ أياما،ً ثم جِئْتُ فقلتُ: يا رسول
الله علمني شيئا أسأله الله -تعالى-، قال لي: «يا عباس، يا عَم رسول الله،
سَلُوا الله العافية في الدنيا والآخرة».
Dari Abu Al-Faḍl Al-‘Abbās bin ‘Abdul
Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku berkata, "Wahai
Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allah
-Ta'ālā-". Beliau menjawab, "Mintalah al-'āfiyah (keselamatan) kepada
Allah." Lalu aku tinggal selama beberapa hari, kemudian menemui beliau
lagi, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku sesuatu yang aku
minta kepada Allah -Ta'ālā-." Beliau berkata kepadaku, "Wahai ‘Abbās,
wahai paman Rasulullah, mintalah al-'āfiyah kepada Allah di dunia dan
akhirat.”
Penjelasan Hadits بيان الحديث
هذا الحديث من جوامع كلمه -صلى الله
عليه وسلم-، فقد سأله عمه العباس -رضي الله عنه- أن يعلمه دعاءً، فعلمه
دعاءً هو عبارة عن جملة قصيرة، شديدة الإيجاز عميقة الدلالة، استوعبت خير
الدنيا والآخرة، وتنكير لفظ (شيئاً) للتعظيم؛ لأنه يريد شيئاً يسيراً
قولياً يسأل الله به ليس به كلفة مع عظم الأجر فقال: «سلوا الله العافية»،
وعدم تقييد العافية بشيء يجعلها عافية عامة تستلزم السلامة من كل شر دينوي
وأخروي.
Hadis ini termasuk Jawāmi’ al-Kalim
yang diucapkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Paman beliau,
Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- meminta diajarkan sebuah doa. Maka beliaupun
mengajarkan kepadanya sebuah doa berupa ungkapan yang singkat, sangat
ringkas namun maknanya sangat dalam, mencakup kebaikan dunia dan
akhirat. Kata “syai an” (sesuatu) digunakan dalam bentuk nakirah untuk
mengagungkan perkara ini; karena yang dimaksudkan adalah sesuatu yang
ringan diucapkan dalam meminta kepada Allah, tidak memberatkan (susah
untuk dihafalkan), namun besar pahalanya. Maka Nabi bersabda, “Mintalah
al-‘āfiyah kepada Allah!” Tidak diikatnya kata al-‘āfiyah (keselamatan)
dengan apapun, menjadikan kata ini bersifat umum sehingga meliputi
keselamatan dari segala bentuk keburukan di dunia dan akhirat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Sahih li gairihi] ← → Diriwayatkan oleh Tirmiżi -
Diriwayatkan oleh Ahmad]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2932 |
|
Hadith 13 الحديث
الأهمية: أَتَى رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
رَسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ- فَنَادَاهُ: يَا
رَسُولَ الله، إنِّي زَنَيْتُ
Tema: Seorang lelaki Muslim datang kepada
Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau di masjid. Lantas
orang itu menyeru beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah
berzina." |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال:
«أَتَى رجل مِنَ المسلمين رسولَ -صلى الله عليه وسلم- وهو في المسجد
فَنَادَاهُ: يا رسول الله، إنِّي زَنَيْتُ، فَأَعْرَضَ عنه، فَتَنَحَّى
تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَقَالَ: يا رسول الله، إنِّي زَنَيْت، فأعرض عنه،
حَتَّى ثَنَّى ذلك عليه أَرْبَعَ مَرَّاتٍ.
فَلَمَّا
شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبع شهادات: دَعَاهُ رَسُولُ الله -صلى الله عليه
وسلم-، فَقَالَ: أَبِكَ جُنُونٌ؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَهَلْ أُحْصِنْت؟
قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ الله: اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ».
قَالَ
ابْنُ شِهَابٍ: فَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ.
سَمِعَ جَابِرَ بنَ عَبْدِ الله يَقُولُ: «كُنْت فِيمَنْ رَجَمَهُ،
فَرَجَمْنَاهُ بِالمُصَلَّى، فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ هَرَبَ،
فَأَدْرَكْنَاهُ بِالحَرَّةِ، فَرَجَمْنَاهُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-,
ia berkata, "Seorang lelaki Muslim datang kepada Rasulullah - ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- saat beliau di masjid. Lantas orang itu menyeru
beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Beliau
berpaling darinya. Orang itu pun berpindah ke hadapan beliau lalu
berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Beliau pun
berpaling darinya hingga orang itu mengulang perkataannya empat kali.
Setelah orang itu bersaksi terhadap dirinya empat kali, Rasulullah -
ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun memanggilnya lalu bertanya, "Apakah
engkau gila?" Orang itu menjawab, "Tidak." Beliau bertanya, "Apakah
engkau sudah menikah?" Orang itu menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda,
"Bawalah oleh kalian orang ini lalu rajamlah." Ibnu Syihāb berkata, Abu
Salamah bin Abdurrahman memberitahuku bahwa dia mendengar Jābir bin
Abdullah mengatakan, "Aku termasuk orang yang merajamnya. Kami
merajamnya di lapangan tempat salat. Saat (lemparan) batu membuatnya
kesakitan, ia pun kabur lalu kami menemukannya di lorong kampung. Kami
pun merajamnya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أَتَى مَاعِزُ بنُ مَالِك الْأَسْلَمِيّ
-رضي الله عنه- إلى النّبي -صلى الله عليه وسلم- وهو في المسجد، فناداه
واعْتَرَفَ على نَفْسِهِ بالزِّنا، فأَعَرَضَ عنه النبي -صلى الله عليه
وسلم-، لَعَلَّه يَرْجِع فَيتُوب فيما بَيْنَه وبَين اللهِ -تعالى-، ولكن
قدْ جاء غاضِباً على نفسِهِ، جازِماً على تَطْهِيرِها بالحدِّ، فقَصدُه من
تِلْقَاء وجههِ مَرَّةً أُخْرَى، فاعْتَرَفَ بالزِّنا أيضاً.
فأَعْرَضَ
النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- أيْضاً، حتى شَهِدَ على نَفْسِه بالزِّنا
أربع مرات، حِينَئِذٍ اسْتَثْبَتَ النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- عن حَالِه،
فسَأَلَه: هلْ بِهِ مِنْ جُنُون؟ قالَ: لا، وسَأَلَ أَهْلَهُ عن عَقْلِه،
فأَثْنوا عَلَيِه خَيْراً، ثُمَّ سَأَلَهُ: هلْ هُو مُحْصَنٌ أمْ بِكْر لا
يجبُ عليه الرَّجْم؟ فأخْبَرَه أَنَّهُ مُحْصَن، وسَأَلَهُ: لَعَلَّهُ لَم
يَأْتِ ما يُوجِبُ الحدَّ، مِنْ لَمْسٍ أَوْ تَقْبِيل، فصَرَّحَّ بحقيقةِ
الزِّنا.
فلمَّا
اسْتَثَبَتَ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ كُلِّ ذلك، وتَحَقَّقَ مِنْ وُجُوبِ
إِقَامَةِ الحَدِّ، أَمَرَ أَصْحَابَه أَنْ يَذْهَبُوا بِهِ فَيَرْجُمُوه.
فَخَرَجُوا بِهِ إِلى بَقِيعِ الْغَرْقَدِ -وهُو مُصَلَى الجَنَائِزِ-
فَرَجَمُوه، فلمَّا أَحَسَّ بِحَرِّ الحِجَارَةِ، طَلَبَ النَّجَاةَ،
ورَغِبَ في الفِرَارِ مِنَ الموتِ، لأن النفس البشرية لا تتحمل ذلك،
فَهَرَبَ، فأَدْركُوه بالْحَرَّة، فأَجْهَزُوا عَلَيْه حتَى مَاتَ، -رحمه
الله ورَضِي عنه-.
Mā'iz bin Mālik Al-Aslami -raḍiyallāhu
'anhu- datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau di
masjid. Dia menyeru beliau dan mengakui telah berzina. Lantas Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpaling darinya dengan harapan dia
kembali lalu bertaubat atas dosa yang dilakukan antara dirinya dengan
Allah -Ta'āla-. Hanya saja dia telah datang dengan kondisi marah kepada
dirinya dan bertekad untuk membersihkan dirinya dengan hukuman. Dia pun
menghadap kepada beliau sekali lagi lalu mengakui perbuatan zina. Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun kembali berpaling hingga dia bersaksi
terhadap dirinya empat kali bahwa dia telah berzina. Pada saat itulah
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memastikan keadaan dia lalu bertanya
kepadanya, "Apakah ia gila?" Dia menjawab, "Tidak." Beliau juga bertanya
kepada keluarganya mengenai akalnya. Mereka memujinya dengan baik.
Beliau bertanya lagi, "Apakah dia sudah menikah atau masih perjaka
sehingga tidak harus dirajam?" Ia memberitahu beliau bahwa dirinya sudah
menikah. Beliau bertanya lagi barangkali dia melakukan sesuatu yang
tidak mewajibkan dijatuhi hukuman, berupa meraba atau mencium. Ternyata
dia berterus-terang dengan kenyataan telah berzina. Setelah Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memastikan segalanya dan sudah terbukti
adanya kewajiban untuk menjatuhkan hukuman, beliau pun memerintahkan
para sahabatnya untuk membawa orang itu lalu mereka merajamnya. Para
sahabat pun membawanya pergi menuju Baqī' Al-Garqad -yaitu tempat salat
jenazah- lalu mereka merajamnya. Saat orang itu merasakan panasnya batu,
ia pun memohon keselamatan dan ingin melarikan diri dari kematian karena
jiwa manusia tidak sanggup memikul hal itu. Dia pun kabur lalu para
sahabat menemukannya di lorong kampung. Mereka pun merajamnya kembali
hingga meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya dan meridainya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2933 |
|
Hadith 14 الحديث
الأهمية: أَجْرَى النَّبِيُّ -صلى الله عليه
وسلم- مَا ضُمِّرَ مِنْ الْخَيْلِ: مِنْ الْحَفْيَاءِ إلَى ثَنِيَّةِ
الْوَدَاعِ
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
memacu kuda yang sudah dirampingkan dari Al-Ḥafya ke Ṡaniyyatil Wadā' |
عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
قال: «أَجْرَى النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- ما ضُمِّرَ مِن الْخَيْل:
مِنْ الْحَفْيَاءِ إلَى ثَنِيَّةِ الوَداع، وَأَجْرَى ما لَمْ يُضَمَّرْ:
مِنْ الثَّنِيَّةِ إلَى مسجد بني زُرَيْقٍ. قَال ابن عمر: وَكنْتُ فِيمَن
أَجْرى. قَالَ سفيان: مِن الْحَفْيَاء إلى ثَنِيَّة الوداع: خمسة أمْيال،
أو سِتَّة، ومن ثَنِيَّة الوداع إلى مسجد بني زُرَيْقٍ: مِيلٌ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memacu kuda
yang sudah dirampingkan dari Al-Hafya ke Ṡaniyyatil Wadā', dan memacu
kuda yang tidak dikuruskan dari Ṡaniyyatil Wadā' ke masjid Bani Zuraiq.
Ibnu Umar berkata, "Aku termasuk orang yang memacu (kuda)." Sufyān
berkata, "Dari Al-Ḥafya ke Ṡaniyyatil Wadā' berjarak lima atau enam mil,
dan dari Ṡaniyyatil Wadā' ke masjid Bani Zuraiq berjarak satu mil'."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- مستعداً
للجهاد، قائماً بأسبابه، عملا بقوله -تعالى-: {وَأعِدوا لهم مَا استطعتم
مِنْ قوةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الخَيلِ ترْهِبُونَ بِهِ عَدُو الله وعدوكم} فكان
يضمر الخيل ويُمَرِّنُ أصحابه على المسابقة عليها ليتعلموا ركوبها، والكرّ
والفَرّ عليها، ويقدر لهم الغايات التي يبلغها جَرْيُهَا المُضَمَّرَة على
حدة، وغير المضمَّرة على حدة، لتكون مُدَرَّبة مُعَلَّمة، وليكون الصحابة
على استعداد للجهاد، ولذا فإنه أجرى المضمرة -وهي التي أُطعمت وجُوِّعت
باعتدال حتى قويت- ما يقرب من ستة أميال، وغير المضمَّرة ميلًا، وكان عبد
الله بن عمر -رضي الله عنه- أحد شباب الصحابة المشاركين في ذلك.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
senantiasa siap siaga untuk jihad dan melaksanakan berbagai perangkatnya
sebagai implementasi firman Allah -Ta'āla-, "Dan persiapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu." Beliau merampingkan kuda dan
melatih para sahabat untuk lomba pacuan kuda supaya mereka belajar
menungganginya, maju dan mundur di atas kuda. Beliau sendiri menentukan
batas yang harus dicapai oleh kuda yang sudah dikuruskan dan kuda yang
tidak dikuruskan agar kuda-kuda itu terlatih dan terbina, dan supaya
para sahabat selalu siaga untuk jihad. Untuk itu, beliau memacu kuda
al-Muḍammarah -kuda yang diberi makan lalu dibiarkan lapar secara
seimbang sampai kuda itu kuat- sekitar enam mil. Sedangkan kuda yang
tidak dikuruskan dipacu satu mil. Abdullah bin Umar - raḍiyallāhu 'anhu-
termasuk salah seorang sahabat muda yang berpartisipasi dalam kegiatan
ini. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2934 |
|
Hadith 15 الحديث
الأهمية: إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلا
يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا
Tema: Apabila salah seorang di antara kalian
selesai makan, maka janganlah ia mengusap (membersihkan) jari-jarinya
hingga ia menjilatinya atau menjilatkannya (ke orang lain).
Penjelasan Hadits بيان الحديث
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ -رضي الله عنهما-
أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: ««إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ
طَعَامًا فَلا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا، أَوْ يُلْعِقَهَا».
Dari Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-
bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila
salah seorang di antara kalian telah selesai makan, maka janganlah ia
mengusap (membersihkan) jari-jarinya hingga ia menjilatinya atau
menjilatkannya (ke orang lain)."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أمر النَّبِي -صلى الله عليه وسلم- مَنْ
أكل طَعَاماً ألا يَمْسَحَ يده أَو يغسلها حتى يَلْعَقَها أَو يُلْعِقَها،
وقد جاءت علة هذا في بعض الروايات أَنَّهُ لا يَدْرِي في أيّ طَعامِه
الْبَرَكَة، ومِنْ أَجْلِ ذَلِك أَمَرَ النَّبي -صلى الله عليه وسلم-
بِلَعْقِ الأَصَابِعِ فَلَعَلَّ الْبَرَكَة فِيمَا عَلِقَ بِها مِنْ
الطَّعَام.
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- memerintahkan kepada orang yang telah selesai makan agar tidak
mengusap tangannya atau membasuhnya hingga ia menjilatinya atau
menjilatkannya (ke orang lain). Dalam beberapa riwayat disebutkan illat
(penyebab) tindakan ini, yaitu karena dia tidak tahu di bagian makanan
manakah terdapat keberkahan. Karena itu, Nabi Muhammad -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk menjilati jari-jari, siapa tahu
keberkahan ada pada makanan yang menempel di jari-jarinya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2935 |
|
Hadith 16 الحديث
الأهمية: إذَا جَمَعَ الله -عَزَّ وَجَلَّ-
الأَوَّلِينَ وَالآخَرِينَ: يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ، فَيُقَالُ:
هَذِهِ غَدْرَةُ فُلانِ بْنِ فُلانٍ
Tema: Ketika Allah mengumpulkan umat-umat
yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir (kelak di hari kiamat), maka
akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, "Ini
adalah bendera si pengkhianat fulan bin fulan". |
عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
مرفوعاً: "إذا جمع الله -عز وجل- الأَوَّلِينَ والآخِرين: يرفع لكل غادر
لِوَاءٌ، فيقال: هذه غَدْرَةُ فلان بن فلان".
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- secara marfū`: "Ketika Allah mengumpulkan umat-umat yang
terdahulu dan umat-umat yang terakhir (kelak di hari kiamat), maka akan
dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan: "Ini adalah
bendera si pengkhianat fulan bin fulan".
Penjelasan Hadits بيان الحديث
إذا جمع الله الأولين والآخرين يوم
القيامة جيء بكل غادر ومعه علامة غدرته، وهي اللواء المقترن به، فيفتضح بها
بين الناس.
Ketika Allah mengumpulkan umat-umat
yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir pada hari kiamat, maka setiap
pengkhianat dibawa bersama tanda pengkhianatannya, yaitu bendera yang
disertakan kepadanya sehingga tersingkaplah aibnya di tengah-tengah
manusia. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2936 |
|
Hadith 17 الحديث
الأهمية: أن عمر بن الخطاب اسْتَشَارَ النَّاسَ
فِي إمْلاصِ الْمَرْأَةِ
Tema: Umar bin Al-Khaṭṭāb bermusyawarah
dengan para sahabat tentang orang yang menggugurkan janin wanita hamil.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ -رضي الله
عنه- أَنَّهُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فِي إمْلاصِ الْمَرْأَةِ، فَقَالَ
الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ: «شَهِدْت النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم-
قَضَى فِيهِ بِغُرَّةٍ- عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ- فَقَالَ: ائتني بِمَنْ
يَشْهَدُ مَعَك، فَشَهِدَ مَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ».
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu
'anhu-, bahwasanya dia bermusyawarah dengan para sahabat tentang orang
yang menggugurkan janin wanita hamil. Al-Mugīrah bin Syu'bah berkata,
"Aku pernah menyaksikan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menetapkan
hukum dalam perkara tersebut dengan memerdekakan budak -laki-laki atau
perempuan-. Lantas Umar berkata, "Bawalah untukku orang yang bersaksi
bersamamu." Selanjutnya Muhammad bin Maslamah menjadi saksi bersamanya.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
وضعَت امرأة ولدها ميتاً قبلَ أوان
الولادة على إثر جنايةٍ عليها.
وكان من
عادَة الخليفة العادل عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- أن يستَشير أصحابه
وعلماءَهم في أموره وقضاياه فحين أسقطت هذه المرأة جنيناً ميتاً غيرَ
تامٍّ، أشكل عليه الحكم في ديته، فاستشار الصحابة -رضي الله عنهم- في ذلك.
فأخبرَه
المغيرةُ بن شعبة أنه شهِد النبي -صلى الله عليه وسلم- قضَى بدية الجنين
"بغرَّة" عبد أو أمة.
فأراد عمر
التَّثبُتَ من هذا الحكم، الذي سيكون تشريعاً عاماً إلى يوم القيامة.
فأكَّد
على المغيرة أن يأتي بمن يشهد على صدق قوله وصحة نقله، فشهد محمد بن مسلمة
الأنصاري على صدق ما قال، -رضي الله عنهم أجمعين-.
Seorang wanita melahirkan anaknya
dalam keadaan mati sebelum waktu kelahiran disebabkan tindakan jahat
terhadapnya. Khalifah yang adil, Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-
sudah terbiasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dan para ulama
sahabat dalam berbagai perkara dan problematikanya. Ketika wanita
tersebut menggugugurkan janin yang belum sempurna dalam keadaan mati,
hal ini membuat khalifah menemukan kesulitan dalam menetapkan diyat
janin. Beliau pun bermusyawarah dengan para sahabat -radhiyallahu
'anhum- mengenai hal ini. Al-Mugīrah bin Syu'bah memberitahunya bahwa
dirinya pernah menyaksikan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menetapkan diat janin adalah dengan memerdekakan budak -laki-laki atau
perempuan-. Maka Umar ingin memastikan keputusan ini yang nantinya akan
menjadi landasan hukum yang umum sampai hari kiamat. Lantas beliau
menegaskan kepada Al-Mugīrah agar mendatangkan orang yang bersaksi atas
kebenaran ucapannya dan keabsahan nukilannya. Maka Muhammad bin Maslamah
Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- bersaksi atas kebenaran ucapannya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2937 |
|
Hadith 18 الحديث
الأهمية: اسْتَفْتَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ
رَسُولَ الله فِي نَذرٍ كَانَ عَلَى أُمهِ، تُوُفِّيَتْ قَبْلَ أَنْ
تَقْضِيَهُ، قَالَ رَسُولُ الله-صلى الله عليه وسلم-: فَاقْضِهِ عَنْها
Tema: Sa'ad bin 'Ubādah pernah meminta fatwa
kepada Rasulullah tentang nazar ibunya yang meninggal dunia sebelum
menunaikannya? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Tunaikanlah atas namanya!" |
عن عَبْدُ الله بْنُ عَبَّاسٍ -رضي الله
عنه- قال: «استَفْتَى سعد بن عُبَادَةَ رسول الله في نَذْرٍ كان على أمِّه،
تُوُفِّيَتْ قبل أَنْ تقضيَهُ، قال رسول الله-صلى الله عليه وسلم-:
فاقْضِهِ عنها».
Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, "Sa'ad bin 'Ubādah pernah meminta fatwa kepada
Rasulullah tentang nazar ibunya yang meninggal dunia sebelum
menunaikannya? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Tunaikanlah atas namanya!"
Penjelasan Hadits بيان الحديث
تُوفِيَت أُمُّ سَعْدٍ ولَمْ تَقْضِ
نَذْراً عَلَيْهَا، فسأل ابْنُها سَعْدُ بْنُ عُبَادَة النَّبِيَّ -صلى
الله عليه وسلم- أَنْ يَقْضِيَهُ عَنْهَا، فأجاز له ذلك، وقال: (اقضه
عنها).
Tema: Ibu Sa'ad meninggal dunia dan belum
menunaikan nazarnya. Lantas anaknya, Sa'ad bin Ubadah, bertanya kepada
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, apakah ia boleh mengqaḍa
(menggantinya), maka Nabi membolehkan hal tersebut. Beliau bersabda,
"Qaḍakanlah (gantikanlah) atas namanya." |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2938 |
|
Hadith 19 الحديث
الأهمية: أَتَى النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم-
عَيْنٌ مِنْ الْمُشْرِكِينَ، وَهُوَ فِي سَفَرِه
Tema: Seorang mata-mata kaum musyrikin
mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau berada dalam
perjalanan. |
عن سلمة بن الأكوع -رضي الله عنه- قال:
«أَتَى النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- عَيْنٌ مِنْ الْمُشْرِكِينَ،
وَهُوَ فِي سَفَرِهِ، فَجَلَسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ
انْفَتَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-: اُطْلُبُوهُ
وَاقْتُلُوهُ فَقَتَلْتُهُ، فَنَفَّلَنِي سَلَبَهُ».
فِي
رِوَايَةٍ «فَقَالَ: مَنْ قَتَلَ الرَّجُلَ؟ فَقَالُوا: ابْنُ الأَكْوَعِ
فَقَالَ: لَهُ سَلَبُهُ أَجْمَعُ».
Dari Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu
'anhu- ia berkata, "Seorang mata-mata kaum musyrikin mendatangi Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau berada dalam perjalanan.
Orang itu duduk bersama sahabat-sahabat beliau dan berbincang-bincang,
kemudian pergi. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Kejar dan bunuhlah ia!" Maka aku membunuhnya. Lantas beliau memberikan
harta rampasannya kepadaku." Dalam riwayat lain, "Beliau bertanya,
"Siapa yang membunuh orang itu?" Mereka menjawab, "Ibnu al-Akwa'." Maka
beliau bersabda, "Ia berhak memiliki harta rampasannya, semuanya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
هذا الحديث في بيان حكم الإسلام فيمن
يتجسس على المسلمين من الكفار الحربيين؛ فقد أخبر سلمة بن الأكوع -رضي الله
عنه-، قال: "أتى النبي -صلى الله عليه وسلم- عين من المشركين" العين
الجاسوس سمي به؛ لأن عمله بالعين، أو لشدة اهتمامه بالرؤية واستغراقه فيها
كأن جميع بدنه صار عينا. "وهو": أي والحال أن النبي -صلى الله عليه وسلم-
"في سفر، فجلس أي: الجاسوس، عند أصحابه يتحدث، ثم انفتل أي: انصرف، فقال
النبي -صلى الله عليه وسلم-: اطلبوه واقتلوه فقتلته، أي: فطلبته فوجدته
فقتلته، فنَفَّلَنِي أي: أعطاني نفلًا، وهو ما يخص به الرجل من الغنيمة،
ويزاد على سهمه، "سَلَبه": أي: ما كان عليه من الثياب والسلاح سمي به؛ لأنه
يسلب عنه، ويدخل في السلب: المركب وما عليه من السرج والآلة، وما معه على
الدابة من مال، وما على وسطه من ذهب وفضة.
Hadis ini menerangkan penjelasan hukum
Islam terkait orang yang memata-matai kaum Muslimin dari kelompok kafir
harbi. Salamah bin al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan dengan
menuturkan, "Seorang mata-mata kaum musyrikin mendatangi Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Kata "al-'ain" artinya mata-mata,
dinamakan demikian karena kerjanya dengan al-'ain (mata), atau karena ia
sangat serius dan tenggelam dalam hal melihat sehingga seolah-olah
seluruh tubuhnya menjadi mata. Kalimat "wa huwa", artinya kondisi Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. "Ia duduk" yakni
mata-mata itu duduk bersama para sahabat Rasulullah dan
berbincang-bincang. Kemudian ia "infatala", yakni pergi. "Lantas Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kejar dan bunuhlah ia!" Maka
aku membunuhnya." Yakni, aku mencarinya, lalu aku menemukannya dan
berhasil membunuhnya. Kalimat "fanaffalani" artinya beliau memberiku
nafal, yaitu ganimah yang khusus diberikan pada seseorang dan
ditambahkan pada bagiannya. Kata "salabahu" artinya, pakaian dan senjata
yang dibawa orang itu. Dinamakan demikian, karena barang-barang ini
dirampas (yuslabu) dari dirinya. Termasuk dalam salab (barang rampasan)
adalah kendaraan dan apa yang ada di atasnya seperti pelana, peralatan,
harta yang dibawa di atas kendaraan tersebut dan emas serta perak yang
ada dalam muatannya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq
'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2939 |
|
Hadith 20 الحديث
الأهمية: اقْتَتَلَتْ امْرَأَتَانِ مِنْ
هُذَيْلٍ، فَرَمَتْ إحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ، فَقَتَلَتْهَا وَمَا
فِي بَطْنِهَا
Tema: Ada dua orang wanita dari kabilah
Hużail bertengkar. Salah seorang dari mereka melempar yang lain dengan
batu, hingga ia dan janin dalam kandungannya mati. |
عن أبي هُرَيْرة -رضي الله عنه- قال:
«اقْتَتَلَتْ امْرَأَتَانِ مِنْ هُذَيْلٍ، فرمَت إحداهما الأخرى بحجر،
فَقَتَلَتْهَا وَمَا فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إلَى النَّبِيِّ -صلى
الله عليه وسلم- فَقَضَى رسول الله: أَنَّ دِيَةَ جَنِينِهَا غُرَّةٌ-
عَبْدٌ، أَوْ وَلِيدَةٌ- وَقَضَى بِدِيَةِ المرأة على عَاقِلَتِهَا،
وَوَرَّثَهَا وَلَدَهَا وَمَنْ مَعَهُمْ، فَقَامَ حَمَلُ بنُ النَّابِغَةِ
الهُذَلِيُّ، فَقَالَ: يا رسول الله، كيف أغرم من لا شَرِبَ وَلا أَكَلَ،
وَلا نَطَقَ وَلا اسْتَهَلَّ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ؟ فقال رَسول الله
-صلى الله عليه وسلم-: «إنما هذا من إخوان الكُهَّان» من أجْل سَجْعِهِ
الَّذِي سَجَعَ.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
ia berkata, “Ada dua orang wanita dari kabilah Hużail bertengkar. Salah
seorang dari mereka melempar yang lain dengan batu, hingga ia dan janin
dalam kandungannya mati. Lalu mereka (kabilah Hużail) mengajukan masalah
itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka Rasulullah
memutuskan bahwa diat janin dalam kandungannya adalah (memerdekakan)
budak laki-laki atau perempuan. Dan beliau memutuskan bahwa diat
perempuan tersebut harus dibayar oleh kerabat perempuan pembunuh (dari
pihak bapaknya), lalu beliau memutuskan pewarisan diat itu kepada
anak-anak dan ahli waris perempuan yang terbunuh tersebut. Maka
berdirilah Ḥamal bin Nābigah al-Hużali seraya berkata, “Wahai
Rasulullah, bagaimana bisa saya harus membayarkan diat janin yang tidak
makan dan tidak minum, tidak bicara dan tidak menangis, padahal hal
seperti ini mestinya tidak ada diatnya!?” Maka Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini adalah saudaranya tukang
tenung." Beliau menjulukinya demikian lantaran omongan bersajak yang ia
ucapkan.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
اختصَمت امرأتان ضرتان من قبيلة
هُذَيْل، فرمت إحداهما الأخرى بحجرٍ صغير، لا يَقتل غالباً، ولكنَّه قتلها
وقتل جنينَها الذي في بطنها.
فقضى
النبي -صلى الله عليه وسلم- أن دية الجنين، عبداً أو أمة، سواءً أكان
الجنينُ ذكراً أم أنثى، وتكون ديته على القاتلة.
وقضى
للمرأة المقتولة بالدية، لكون قتلها شبه عمد، وتكون على عاقلة المرأة، لأن
مبناها على التناصُر والتعادل، ولكون القتل غير عمد.
وبما أن
الدية ميراث بعد المقتولة فقد أخذها ولدها ومن معهم من الورثة، وليس
للعاقلة منه شيء.
فقال
حَمَلُ بنُ النابغة -وهو والد القاتلة-: يا رسول الله، كيف نغرمُ مَن سقطَ
ميتاً، فلم يأكل، ولم يشرب، ولم ينطق، حتى تُعرَفَ بذلك حياته؟ يقول ذلك
بأسلوبٍ خطابي مسجُوع.
فكرِه
النبي -صلى الله عليه وسلم- مقالَته، لما فيها من ردِّ الأحكام الشرعية
بهذه الأسجاع المتكلفة المشابهة لأسجاع الكهان الذين يأكلون بها أموال
الناس بالباطل.
Dua orang perempuan yang dimadu dari
kabilah Hużail bertengkar, lalu salah seorang di antara keduanya
melempar yang lainnya dengan batu kecil yang pada umumnya tidak akan
dapat membunuh, namun batu tersebut membunuh perempuan itu beserta janin
yang berada di dalam kandungannya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- memutuskan bahwa diat janin tersebut adalah membebaskan budak
laki-laki atau perempuan, baik janin tersebut laki-laki ataupun
perempuan, dan diat itu harus dibayar oleh si perempuan pembunuh. Dan
beliau memutuskan juga adanya diat untuk perempuan yang terbunuh
tersebut karena pembunuhannya dalam bentuk "syibhul-'amd" (tidak sengaja
membunuh). Diat ini wajib dibayar oleh kerabat wanita pembunuh itu dari
pihak ayahnya, karena pondasi diat ini dibangun di atas saling
tolong-menolong dan keadilan/penyamarataan serta karena pembunuhan
tersebut tidak disengaja. Karena diat itu adalah harta warisan perempuan
yang terbunuh (setelah ia wafat), maka diat itu diambil oleh anaknya dan
ahli warisnya, adapun kerabat dari pihak ayah (perempuan yang terbunuh),
maka tidak mendapatkan apa pun. Lalu Ḥamal bin Nābigah -yang merupakan
ayah perempuan yang membunuh tersebut- berkata, “Wahai Rasulullah!
Bagaimana bisa kami membayar diat janin yang mati keguguran, ia belum
makan, belum minum, dan belum berbicara hingga diakui dengan itu
kehidupannya?" Ia mengucapkan hal itu dengan retorika yang bersajak.
Namun Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membenci ucapannya karena di
dalamnya terdapat bantahan terhadap hukum-hukum syariat dengan
sajak-sajak berlebihan yang menyerupai mantra-mantra tukang tenung, yang
mana mereka memakan harta manusia lewat mantra-mantra itu dengan cara
yang batil. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2940 |
|
Hadith 21 الحديث
الأهمية: أَلا أُنَبِّئكُمْ بِأَكْبَرِ
الكَبَائِرِ
Tema: Maukah aku beritahukan kepada kalian
tentang dosa-dosa besar yang paling besar? |
عن أبي
بَكْرَةَ- رضي الله عنه - عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال:
«أَلا أُنَبِّئُكم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِر؟»- ثَلاثا- قُلْنَا: بَلى يا
رسول الله، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِالله وَعُقُوقُ الوالدين، وكان
مُتَّكِئاً فَجَلس، وَقَال: ألا وَقَوْلُ الزور، وَشهَادَةُ الزُّور»، فَما
زال يُكَرِّرُها حتى قُلنَا: لَيْتَه سَكَت.
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu-
meriwayatkan dari Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau
bersabda, "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar
yang paling besar?" Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Kami
menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "(Yaitu)
menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau pada
waktu itu bersandar, lalu duduk kemudian meneruskan sabdanya, "Ingatlah
juga perkataan palsu dan kesaksian palsu." Beliau terus-menerus
mengulanginya sampai kami berkata, "Andai saja beliau diam (berhenti)."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال
لأصحابه: ألا أنبئكم أي أخبركم بأكبر الكبائر فذكر هذه الثلاث التي هي
الإشراك بالله، وهو اعتداء على مقام الألوهية، وأخذٌ لحقه سبحانه وتعالى،
وإعطاؤه لمن لا يستحقه من المخلوقين العاجزين، وعقوق الوالدين ذنب فظيع؛
لأنه مكافأة للإحسان بالإساءة لأقرب الناس، وشهادة الزور عامَّة لكل قول
مُزوَّر ومكذوب يراد به انتقاص مَن وقع عليه بأخذ من ماله أو اعتداء على
عرضه أو نحو ذلك.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- bersabda kepada para sahabatnya, "Maukah aku beritahukan kepada
kalian," yakni, aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang
paling besar. Lantas beliau menyebutkan tiga dosa tersebut. Pertama,
menyekutukan Allah, yaitu pelanggaran terhadap kedudukan ulūhiyyah
(keilahian-Nya), merampas hak Allah -Subhānahu wa Ta'ālā-, dan
menyerahkannya kepada yang tidak pantas mendapatkannya dari kalangan
makhluk yang lemah. Kedua, durhaka kepada kedua orang tua yang merupakan
dosa yang keji karena merupakan tindakan membalas kebaikan dengan
keburukan kepada manusia yang paling dekat. Ketiga, kesaksian palsu yang
bersifat umum bagi setiap ucapan palsu dan dusta yang bertujuan
menzalimi orang lain dengan mengambil hartanya, menodai kehormatannya,
atau selain itu. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2941 |
|
Hadith 22 الحديث
الأهمية: أَنَّ جَارِيَةً وُجِدَ رَأْسُهَا
مَرْضُوضاً بَيْنَ حَجَرَيْنِ
Tema: Seorang budak perempuan ditemukan
dalam keadaan kepalanya cedera di antara dua batu |
عن أنَسُ بنُ مالك -رضي الله عنه- قال:
«أَنَّ جَارِيَةً وُجِدَ رَأْسُهَا مَرْضُوضاً بَيْنَ حَجَرَيْنِ، فَقِيلَ
من فَعَلَ هَذَا بِك: فُلانٌ، فُلانٌ؟ حَتَّى ذُكِرَ يَهُودِيٌّ،
فَأَوْمَأَتْ بِرَأْسِهَا، فَأُخِذَ الْيَهُودِيُّ فَاعْترف، فَأَمَرَ
النَّبِي -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَضَّ رَأْسَهُ بَيْنَ حَجَرَيْنِ».
وَلِمُسْلِمٍ وَالنَّسَائِيَّ «أَنَّ يَهُودِيّاً قَتَلَ جَارِيَةً عَلَى
أَوْضَاحٍ، فَأَقَادَهُ رَسُولُ الله».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, "Sesungguhnya seorang budak perempuan ditemukan
dalam keadaan kepalanya cedera di antara dua batu. Lantas ia ditanya
siapa yang telah melakukan ini kepadamu; fulan dan fulan? Hingga
disebutkan kepadanya seorang Yahudi. Budak itu menganggukkan kepalanya.
Selanjutnya orang Yahudi tersebut ditangkap lalu dia pun mengaku. Lantas
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar kepala orang
Yahudi itu juga dicederai di antara dua batu." Dalam riwayat Muslim
dan An-Nasā`i disebutkan, "Sesungguhnya seorang Yahudi membunuh seorang
budak perempuan demi mengambil perhiasan peraknya. Lantas Rasulullah
melakukan kisas kepadanya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
وُجِد على عهد النبي -صلى الله عليه
وسلم- جاريةٌ قد دُقَّ رأسها بين حَجَرين و بها بقية من حياة، فسألوها عن
قاتلها يُعدِّدون عليها من يظنون أنهم قتلوها، حتى أتَوا على اسم يهودي
فأومأت برأسها أي نعم، هو الذي رضَّ رأسها، فصار متهماً بقتلها، فأخذوه
وقرروه حتى اعترف بقتلها، من أجل حُلي فضة عليها فأمر النبي -صلى الله عليه
وسلم- أن يُجازَى بمثل ما فعل، فرُضَّ رأسه بين حجرين.
Pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- ada seorang budak perempuan yang kepalanya diremukkan di antara
dua batu namun masih ada sisa kehidupan dalam dirinya. Lantas
orang-orang menanyakan pembunuhnya dengan menyebutkan nama-nama yang
diduga membunuhnya hingga mereka menyebutkan satu nama Yahudi. Budak
perempuan itu pun menganggukkan kepalanya mengiyakan bahwa dialah yang
telah meremukkan kepalanya. Dengan demikian orang Yahudi tersebut
dituduh membunuhnya. Lantas mereka menangkapnya dan meminta
keterangannya hingga dia pun mengakui telah membunuhnya demi memperoleh
perhiasan perak yang dikenakannya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
pun memerintahkan agar orang itu mendapatkan balasan setimpal. Akhirnya
kepala orang itu diremukkan di antara dua batu. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2943 |
|
Hadith 23 الحديث
الأهمية: أَمَرَنَا رَسُولُ الله -صلى الله عليه
وسلم-بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- menyuruh kami dengan tujuh hal dan melarang kami dari tujuh hal |
عن البراء بن عازِب -رضي الله عنهما-
قال: «أَمرَنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم-بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عن
سَبْعٍ: أَمَرْنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ،
وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ (أَوْ الْمُقْسِمِ)،
وَنَصْرِ الْمَظْلُوم، وَإِجابة الدَّاعي، وَإِفْشاءِ السَّلامِ.
وَنَهَانَا عن خَوَاتِيمَ- أَو عن تَخَتُّمٍ- بِالذَّهَب، وَعَنْ الشُّرب
بِالْفِضَّة، وعن المَيَاثِر، وعن الْقَسِّيِّ، وَعن لُبْسِ الحرِيرِ،
وَالإِسْتَبْرَقِ، وَالدِّيباج».
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menyuruh kami dengan tujuh hal dan melarang kami dari tujuh hal. Beliau
menyuruh kami untuk menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah,
mendoakan orang yang bersin, melaksanakan sumpah (atau membebaskan orang
yang bersumpah), menolong orang yang dianiaya, memenuhi undangan orang
yang mengundang dan menebarkan salam. Beliau melarang kami mengenakan
cincin emas, minum dengan (wadah) dari perak, mengenakan al-mayāṡir,
al-qassī, harīr, istabraq, dan dibaj (semua jenis pakaian yang terbuat
dari sutera atau campuran sutera)."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
بُعِثَ النبي -صلى الله عليه وسلم-
ليُتم مكارم الأخلاق، ولذا فإنه يحث على كل خلق وعمل كريمين، وينهى عن كل
قبيح، ومنْ ذلك ما في هذا الحديث من الأشياء التي أمر بها وهي: عيادة
المريض التي فيها قيام بحق المسلم، وتَرويح عنه، ودُعاء له، واتباع
الجنازة، لما في ذلك من الأجر للتابع والدعاء للمتبوع، والسلام على أهل
المقابر والعِظة والاعتبار، وتشميت العاطس إذا حمد الله فيقال له: يرحمك
الله. وإبرار قسم المقسم إذا دعاك لشيء وليس عليك ضرر فتبر قسمه، لئلا
تُحوجه إلى التكفير عن يمينه، ولتجيب دعوته وتجبر خاطِرَهُ، ونصر المظلوم
من ظالمه لما فيه من رد الظلم، ودفع المعتدي وكفه عن الشر، والنهي عن
المنكر، وإجابة من دعاك، لأنَّ في ذلك تقريبا بين القلوب وتصفية النفوس،
وفي الامتناع الوحشة والتنافر.
فإن كانت
الدعوة لزواج فالإجابة واجبة، وإن كانت لغيره فمستحبة، و إفشاء السلام، وهو
إعلانه وإظهاره لكل أحد، وهو أداء للسنة، ودعاء للمسلمين من بعضهم لبعض،
وسبب لجلب المودة.
أما
الأشياء التي نهى عنها في هذا الحديث فالتختم بخواتم الذهب للرجال، لما فيه
من التأنث والميوعة، وانتفاء الرجولة، وعن الشرب بآنية الفضة، لما فيه من
السَّرَفِ والتكبر، وإذا منع الشرب مع الحاجة إليه فسائر الاستعمالات أولى
بالمنع والتحريم، وعن المياثر، والقسي، والحرير، والديباج، والإستبرق، وهي
من أنواع الحرير على الرجال؛ فإنها تدعو إلى اللين والترف اللذين هما سبب
العطالة والدَّعَةَ، والرجل يطلب منه النشاط والصلابة والفتوة، ليكون
دائماً مستعداً للقيام بواجب الدفاع عن دينه وحرمه ووطنه.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Karena itu, beliau menyuruh
kepada setiap akhlak dan amal yang mulia dan melarang segala yang buruk.
Di antaranya hal-hal yang diperintahkan dalam hadis ini, yaitu:
menjenguk orang sakit yang merupakan tindakan menunaikan hak seorang
muslim, membuatnya senang dan mendoakannya; mengantar jenazah karena di
dalamnya mengandung pahala bagi orang yang mengantar dan doa bagi
jenazah, salam kepada penghuni kubur, nasihat dan pelajaran; mendoakan
orang yang bersin apabila dia memuji Allah dengan mengucapkan, "Semoga
Allah merahmatimu"; melaksanakan sumpah jika dia menyerumu kepada
sesuatu padahal tidak ada bahaya bagimu, sehingga engkau melaksanakan
sumpahnya agar engkau tidak membuatnya harus membayar kafarat atas
sumpahnya; memenuhi undangan saudaranya sesama muslim dan menghibur
hatinya; menolong orang yang dianiaya dari orang yang menganiayanya
karena hal itu mengandung tindakan menolak kezaliman, mencegah orang
yang bertindak sewenang-wenang, mencegahnya dari kejahatan, dan melarang
dari kemungkaran; memenuhi undangan orang yang mengundangmu karena hal
itu dapat mendekatkan antar hati dan membersihkan jiwa, sedangkan tidak
memenuhi undangan dapat menimbulkan kesepian dan perselisihan. Jika
undangan berupa undangan pernikahan, maka memenuhi undangannya adalah
wajib, sedangkan jika selain itu maka hukumnya sunah; menebarkan salam,
yaitu memberitahukan dan menampakkannya bagi setiap orang. Ini merupakan
pelaksanaan sunah dan doa bagi kaum muslimin di antara mereka serta
sarana mendatangkan kecintaan. Adapun hal-hal yang dilarang dalam
hadis ini, yaitu: mengenakan cincin dari emas bagi laki-laki karena
mengandung sifat feminim dan ketidakstabilan serta menafikan sifat
kejantanan; melarang minum dengan wadah perak karena mengandung sikap
berlebih-lebihan dan sombong, jika minum dilarang padahal dibutuhkan,
maka larangan dan pengharaman lebih utama terhadap berbagai penggunaan
lainnya; dan melarang mengenakan al-mayāṡir, al-qassī, harīr, istabraq
dan dibaj (semua jenis pakaian yang terbuat dari sutera atau campuran
sutera). Itu merupakan macam-macam sutera yang dilarang bagi laki-laki.
Sebab, hal itu mendorong sikap lembek dan bermewah-mewah yang merupakan
penyebab kelembaman dan puas dini. Padahal seorang lelaki dituntut
bersemangat, tangguh dan gagah berani agar senantiasa siap siaga untuk
melaksanakan kewajiban membela agama, kehormatan dan tanah airnya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2944 |
|
Hadith 24 الحديث
الأهمية: إنَّ الله يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا
بِآبَائِكُمْ
Tema: Sesungguhnya Allah melarang kalian
bersumpah dengan nama bapak leluhur kalian. |
عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال:
قَالَ رَسُولُ الله-صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ الله يَنْهَاكُمْ أَن
تَحْلِفُوا بِآبَائِكم».
وَلمسلم:
«فَمَن كان حَالِفا فَلْيَحْلِف بِالله أو لِيَصْمُت».
وَفِي
رِوَايَةٍ قَالَ عُمَرُ -رضي الله عنه- قال: «فَوَالله ما حَلَفْتُ بِهَا
منذ سَمِعْت رَسُولَ الله يَنْهَى عَنْهَا، ذَاكراً وَلا آثِراً».
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu
'anhu- mengatakan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak
kalian." Dalam riwayat Muslim, "Maka siapa yang bersumpah hendaknya ia
bersumpah dengan nama Allah atau diam saja." Dalam riwayat lain, Umar
-raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Maka demi Allah, aku tidak pernah
bersumpah dengannya (nama bapak leluhur) sejak aku mendengar Rasulullah
melarangnya, baik berupa ucapan pribadiku (secara sengaja) maupun berupa
ucapan orang lain yang aku ceritakan."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
سمِع رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم-
عمرَ -رضي الله عنه- وهو
يَحْلِفُ بِأَبيه فَنَادَاهم النَّبي -صلى الله عليه وسلم- رافِعَاً
صَوْتَه:«إنَّ الله يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ» فَامْتَثَلَ
الصَّحَابَةُ أَمْرَ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَصْبحُوا لا
يَحلِفُون إلا بالله، حتَّى ذكر عُمَرُ أنَّه لم يحلِف بغير الله منذُ سَمع
رسولَ الله- صلى الله عليه وسلم – ينهى عن ذلك، لا مُتعمِّداً ولا ناقِلاً
لحلِف غيرِه بغيرِ الله .
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- mendengar Umar -raḍiyallāhu 'anhu- bersumpah dengan nama
ayahnya, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyeru mereka dengan
suara tinggi, "Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama
bapak leluhur kalian." Maka para sahabatpun melaksanakan perintah
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ini, dan mereka tidak
bersumpah kecuali dengan nama Allah, sampai-sampai Umar menyebutkan
bahwa ia tidak lagi bersumpah dengan selain nama Allah semenjak ia
mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarangnya, tidak
dalam keadaan sengaja maupun dalam keadaan menceritakan sumpah orang
lain dengan selain nama Allah. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2945 |
|
Hadith 25 الحديث
الأهمية: أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم-
أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ، فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَةٍ نَحوَ
أَرْبَعِينَ
Tema: Seorang lelaki yang telah minum khamar
dibawa ke hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau
mencambuknya dengan pelepah kurma sebanyak empat puluh kali |
عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- «أَنَ
النّبي -صلى الله عليه وسلم- أُتِي بِرَجُل قَدْ شَرِب الْخَمْرَ،
فَجَلَدَهُ بِجَريدة نحو أربعين»
Tema: Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu
'anhu-, "Bahwasanya seorang lelaki yang telah minum khamar dibawa ke
hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau mencambuknya
dengan pelepah kurma sebanyak empat puluh kali."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
شرب رجل الخمر على عهد النبي -صلى الله
عليه وسلم-، فجلده بجريدة من سَعَفِ النخل نحو أربعين جلدة، وجلد أبو بكر
-رضي الله عنه- شارب خمر في خلافته مثل جلد النبي -صلى الله عليه وسلم-،
فلما جاءت خلافة عمر، وكثرت الفتوحات، واختلط المسلمون بغيرهم، كَثُرَ
شربهم لها، فاستشار علماء الصحابة في الحد الذي يطبقه عليهم ليردعهم كعادته
في الأمور الهامة، والمسائل الاجتهادية، لأن الناس زادوا في عهده من شرب
الخمر، فقال عبد الرحمن بن عوف: اجعله مثل أخف الحدود، ثمانين. وهو حد
القاذف، فجعله عمر ثمانين جلدة، فهذه الزيادة تعزير راجع للإمام.
Pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- ada seorang lelaki minum khamar lalu beliau mencambuknya empat
puluh cambukan dengan pelepah kurma. Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-
mencambuk peminum khamar pada masa pemerintahannya seperti cambukan Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setelah datang pemerintahan Umar dan
banyak terjadi penaklukkan serta kaum Muslimin bercampur-baur dengan
selain mereka, ternyata banyak orang yang minum khamar. Lantas Umar
berkonsultasi dengan para ulama di kalangan sahabat mengenai hukuman
yang akan diterapkan kepada mereka untuk mencegah mereka sebagaimana
kebiasaannya dalam urusan-urusan penting dan berbagai masalah
ijtihadiyah. Sebab, pada masanya orang yang minum khamar semakin
bertambah banyak. Abdurrahman bin 'Auf berkata, "Tetapkan cambukannya
seperti hukuman (hudud) paling ringan, yaitu delapan puluh cambukan
seperti hukuman orang yang menuduh zina." Selanjutnya Umar menetapkan
delapan puluh cambukan. Tambahan ini merupakan kebijakan yang
dikembalikan ke imam. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2946 |
|
Hadith 26 الحديث
الأهمية: أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم-
قَطَعَ فِي مِجَنٍّ قيمته ثلاثة دراهم
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
memotong (tangan pencuri) perisai seharga tiga dirham
Penjelasan Hadits بيان الحديث
عبدُ الله بنُ عمر رضي اللهُ عنهما
«أَنَّ النَّبِي -صلى الله عليه وسلم- قَطَع فِي مِجَنٍّ قِيمَتُهُ -وَفِي
لَفْظٍ: ثَمَنُهُ- ثَلاثَةُ دَرَاهِمَ».
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- (berkata), "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
memotong (tangan pencuri) perisai seharga tiga dirham."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أمَّنَ الله -عز وجل- دماء الناس
وأعراضهم وأموالهم، بكل ما يكفل ردع المفسدين المعتدين؛ لذلك جعل عقوبة
السارق (الذي أخذ المال من حرزه على وجه الاختفاء) قطع العضو الذي تناول به
المال المسروق، ليكفر القطع ذنبه وليرتدع هو وغيره عن الطرق الدنيئة،
وينصرفوا إلى اكتساب المال من
الطرق الشرعية الكريمة، فيكثر العمل، وتستخرج الثمار فيعمر الكون وتعز
النفوس.
ومن حكمته
تعالى أن جعل النصاب الذي تقطع فيه اليد، ما يعادل ثلاثة دراهم أي ربع
دينار من الذهب، حماية للأموال، وصيانة للحياة، ليستتب الأمن، وتطمئن
النفوس، وينشر الناس أموالهم للكسب والاستثمار.
ويعادل
ذلك جراما وربع الربع من الجرامات؛ لأن الدينار 4.25 جم.
Allah -'Azza wa Jalla- menjaga darah
manusia, kehormatan dan harta benda mereka dengan segala hal yang dapat
menghalangi para perusak dan orang-orang zalim. Oleh sebab itu, Allah
menetapkan hukum pencuri -yang mengambil harta dari tempat
penyimpanannya dengan sembunyi-sembunyi- yaitu memotong organ tubuh yang
mengambil harta tersebut, agar pemotongan ini menghapus dosanya,
mencegah dia serta orang lain dari berbagai jalan yang hina tersebut,
dan agar mereka beralih untuk mencari rezeki dari berbagai jalan yang
disyariatkan dan mulia. Dengan demikian, pekerjaan menjadi banyak,
buah-buahan dapat dihasilkan, alam semesta menjadi makmur dan jiwa
menjadi mulia. Di antara kebijaksanaan Allah -Ta'āla- ialah menjadikan
ukuran minimal dipotongnya tangan karena mencuri berupa harta yang
setara tiga dirham, sama dengan seperempat dinar emas, demi melindungi
harta benda dan memelihara kehidupan agar rasa aman kembali stabil,
jiwa-jiwa menjadi tenang dan orang-orang menggunakan harta bendanya
untuk memperoleh penghasilan dan investasi. Seperempat dinar emas itu
setara dengan 1,1/16 gram, sebab satu dinar setara 4.25 gram. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2947 |
|
Hadith 27 الحديث
الأهمية: إنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إلَى رَسُولِ
الله فَذَكَرُوا لَهُ: أَنَّ امْرَأَةً مِنْهُمْ وَرَجُلاً زَنَيَا
Tema: Orang-orang Yahudi datang kepada
Rasulullah lalu menuturkan kepada beliau bahwa seorang wanita dan lelaki
dari mereka telah berzina. |
عن عبدُ الله بنُ عمر-رضي الله عنهما-
قال: «إن الْيهود جاءوا إلى رسول الله فَذَكَرُوا لَه: أَنَّ امرأة منهم
وَرجلا زنيا. فَقَال لَهُمْ رَسُولُ الله-صلى الله عليه وسلم-: مَا
تَجِدُون في التَّوراة، في شأْن الرَّجم؟ فَقَالوا: نَفضحهم وَيُجْلَدُون.
قَال عبد الله بن سَلام: كذبتم، فيهَا آية الرَّجْم، فَأَتَوْا بِالتَّوراة
فَنَشَرُوهَا، فَوَضعَ أحدهم يَده عَلَى آيَة الرَّجْم فقرأ ما قبلها وما
بعدها. فَقَال لَه عبد الله بن سَلام: ارْفَعْ يدَك. فَرَفَعَ يده، فَإذا
فيهَا آيَةُ الرَّجم، فَقَال: صدَقَ يا محَمَّد، فأمر بِهِما النَّبِيُّ
صلى الله عليه وسلم فَرُجِما. قَال: فرأيت الرَّجلَ: يَجْنَأُ عَلَى المرأة
يَقِيهَا الْحجارة».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, Sesungguhnya orang-orang Yahudi datang kepada
Rasulullah lalu menuturkan kepada beliau bahwa seorang wanita dan lelaki
dari mereka telah berzina. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bertanya kepada mereka, "Apakah kalian menemukan dalam Taurat tentang
rajam?" Mereka menjawab, "Kami mengumumkan dan mencabuknya." Abdullah
bin Salam berkata, "Kalian berdusta. Di dalam Taurat ada ayat rajam."
Lantas mereka membawa Taurat lalu membukanya. Kemudian salah seorang
dari mereka meletakkan tangannya di ayat rajam lalu membaca ayat
sebelumnya dan setelahnya. Abdullah bin Salam berkata kepada orang itu,
"Angkat tanganmu!" Orang itu pun mengangkat tangannya. Ternyata di
tempat yang ditutup itu ada ayat rajam. Ia berkata, "Wahai Muhammad, ia
benar." Selanjutnya Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan
agar keduanya dirajam. Abdullah bin Umar berkata, "Aku lihat laki-laki
itu mendekati si wanita untuk melindunginya dari batu." |
عندما حصل الزِّنا عند اليَهود بَيْنَ
رجل وامرأَة في العهد النبوي جَاءُوا إلى النَّبِي -صلى الله عليه وسلم-
يُرِيدُونَ أَنَّ يَحْكُمَ بَيْنَهُم، لعلّهم يجدون حُكْمَاً أَخَفَّ
مِّمَّا فِي التَّوْرَاةِ، وهو الرجم، فَسَأَلَهُم النَّبِيُّ -صلى الله
عليه وسلم- عن حُكْمِ الله فِي التَّوْرَاةِ، ليفضحهم لا ليعمل بها،
فَكَذَبُوا عليه وقالوا: الحُكْم عندهم فَضْحُ الزَّانِيَيْن. فَكَذَّبَهَم
عَبْدُ اللهِ بْنُ سلام -رضي الله عنه-، وعندَما فَتَحُوا التَّوْرَاةَ
وجَدُوا الحُكْمَ فِيها بِرَجْمِ الزَّانِي الْمُحْصَن فَأَمَرَ بِهما
فُرُجِمَا.
وشريعتنا
حاكمة على غيرها من الشرائع، وناسخة لها، ولكن النبي -صلى الله عليه وسلم-
في هذا الحديث سألهم عن حكم التوراة في الرجم؛ ليقيم عليهم الحجة من كتابهم
الذي أنكروا أن يكون فيه رجم المحصن، وليبيِّن لهم أن كتب الله متفقة على
هذا الحكم الخالد، الذي فيه ردع المفسدين.
Ketika terjadi perzinaan di kalangan
Yahudi antara seorang lelaki dan perempuan pada masa Nabi, mereka pun
mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka ingin agar beliau
menetapkan hukum di antara mereka dengan harapan mereka menemukan hukum
yang lebih ringan daripada dalam Taurat, yaitu rajam. Lantas Nabi -
ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada mereka tentang hukum Allah
dalam Taurat untuk membuka aib mereka, bukan untuk menerapkannya.
Ternyata mereka mendustakannya dan mengatakan, "Hukumannya menurut
mereka berupa mencemarkan kehormatan kedua pelaku zina." Abdullah bin
Salam -raḍiyallāhu 'anhu- membantah mereka. Saat mereka membuka Taurat,
ternyata mereka menemukan hukumannya dalam Taurat berupa rajam terhadap
pelaku zina muhṣan. Beliau pun memerintahkan untuk merajam keduanya.
Syariat agama kita menjadi hakim untuk syariat-syariat lainnya dan
sekaligus menasakhnya, tetapi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam
hadis ini bertanya kepada mereka tentang hukum rajam dalam Taurat,
gunanya untuk menegakkah hujjah kepada mereka dari kitab mereka sendiri
yang mereka ingkari bahwa di dalamnya terdapat hukum rajam terhadap
pezina, dan juga untuk menjelaskan kepada mereka bahwa kitab-kitab Allah
sepakat terhadap hukum yang kekal ini, yang mana hukum tersebut akan
membuat jera orang-orang yang berbuat kerusakan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2948 |
|
Hadith 28 الحديث
الأهمية: أَنَّ امْرَأَةً وُجِدَتْ فِي بَعْضِ
مَغَازِي النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- مَقْتُولَةً
Tema: Seorang wanita di temukan gugur
terbunuh dalam suatu peperangan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. |
عن عَبْدُ الله بن عمر -رضي الله عنهما-
«أَنَّ امْرَأَةً وُجِدَتْ فِي بَعْضِ مَغَازِي النَّبِيِّ -صلى الله عليه
وسلم- مَقْتُولَةً، فَأَنْكَرَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- قَتْلَ
النِّسَاءِ، وَالصِّبْيَانِ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā-, "Bahwasanya seorang wanita di temukan gugur terbunuh dalam
sebuah peperangan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengecam pembunuhan terhadap wanita dan
anak-anak."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
إنكار النبي -صلى الله عليه وسلم- قتل
النساء والصبيان يدل على تحريم قتلهم، وقوله في بعض الأحاديث الواردة في
هذا المعنى: (ما كانت هذه لتقاتل) تنبيه على علة النهي عن قتل النساء؛ لأن
الغالب فيهن عدم المقاتلة وإن كان في بعضهن شر وشجاعة لكن الحكم عُلِّق على
الأغلب، فمن قاتلت قوتلت.
Kecaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- terhadap pembunuhan wanita dan anak-anak (dalam perang)
menunjukkan haramnya membunuh mereka. Sabda beliau dalam sebagian hadis
yang diriwayatkan senada dengan ini, "Wanita ini tidak mungkin ikut
berperang", untuk mengingatkan sebab larangan membunuh wanita. Karena
umumnya para wanita tidak berperang meskipun sebagian mereka memiliki
kejahatan dan keberanian, akan tetapi hukum itu dikaitkan dengan kondisi
dominan. Siapa di antara mereka yang ikut berperang maka ia layak
diperangi. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2949 |
|
Hadith 29 الحديث
الأهمية: يَعَضُّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ كَمَا
يَعَضُّ الْفَحْلُ، لا دِيَةَ لَك
Tema: Seseorang dari kalian menggigit
saudaranya sebagaimana kuda jantan menggigit, maka tidak ada diat
untukmu. |
عن عمران بن حصين -رضي الله عنهما- «أن
رجلا عَضَّ يَدَ رجل؛ فَنَزَعَ يَدَهُ من فِيهِ؛ فوقعت ثَنِيَّتُهُ؛
فاختصما إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: يَعَضُّ أحدُكم أخاه كما
يَعَضُّ الفَحْلُ؛ لا دِيَةَ لك».
Dari 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu
'anhumā- bahwasanya seseorang pernah menggigit tangan orang lain. Lantas
orang itu menarik tangannya dari mulut orang yang menggigit itu hingga
gigi serinya copot. Kemudian kedua orang ini mengadukan perkara tersebut
kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau bersabda,
"Seseorang dari kalian menggigit saudaranya sebagaimana kuda jantan
menggigit, maka tidak ada diat untukmu."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
اعْتَدَى رجلٌ على آخر فعَضَّ يدَه؛
فانتزعَ المعْضُوضُ يدَه من فمِ العاضِّ؛ فسقطت ثنيتاه؛ فاختَصما إلى النبي
-صلى الله عليه وسلم-.
العاضُّ
يُطالبُ بديةِ ثنيتيه السَّاقطتين، والمعضُوضُ يدافع عن نفسه بأنَّه يريد
إنقاذَ يده من أسنانه.
فأنكر
النبي -صلى الله عليه وسلم- على المدَّعِي العاضِّ، كيف يفعل مثل ما يفعله
غِلاظُ الحيوانات؟ وقال: يعضُّ أحدُكم أخاه، ثم بعد هذا يأتي ليُطالِب
بديةِ أسنانه الجانية؟! ليس لك دية؛ فالبادي هو المعتدِي.
Seorang lelaki menyerang orang lain
lalu menggigit tangannya. Lantas orang yang digigit menarik tangannya
dari mulut orang yang menggigit hingga dua gigi serinya copot. Kemudian
kedua orang itu mengadukan perkara tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam-. Orang yang menggigit menuntut diat dua giginya yang
copot, dan orang yang digigit membela diri bahwa dia hendak
menyelamatkan tangannya dari gigi-giginya. Nabi pun menolak pendakwa
yang menggigit. Bagaimana bisa dia melakukan tindakan seperti yang
dilakukan binatang buas. Beliau bersabda, "Seseorang dari kalian
menggigit saudaranya setelah itu dia menuntut diat untuk giginya yang
jahat? Engkau tidak mendapatkan diat, karena yang memulai itulah yang
berbuat kesalahan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2950 |
|
Hadith 30 الحديث
الأهمية: أَنَّ رَسُولَ الله-صلى الله عليه وسلم-
اصْطَنَعَ خَاتَماً مِنْ ذَهَبٍ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- pernah membuat sebuah cincin emas. |
عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
«أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - اصْطَنَعَ خَاتَمًا من ذهب، فكان
يجعل فَصَّهُ في باطن كَفِّهِ إذا لَبِسَهُ، فصنع الناس كذلك، ثم إنه جلس
على المنبر فَنَزَعَهُ فقال: إني كنت أَلْبَسُ هذا الخَاتَمَ , وأجعل
فَصَّهُ من داخل, فرمى به ثم قال: والله لا أَلْبَسُهُ أبدا فَنَبَذَ الناس
خَواتِيمَهُمْ».
وفي
لفظ «جعله في يده اليمنى».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah membuat
sebuah cincin emas, dan ketika memakainya beliau meletakkan matanya di
bagian dalam telapak tangan, maka kemudian orang-orang pun membuat
cincin emas. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas
mimbar tiba-tiba beliau mencabut cincinnya lalu bersabda, “Sesungguhnya
aku telah memakai cincin ini dan aku meletakkan matanya dari bagian
dalam (perut telapak tangannya).” Kemudian beliau membuang cincin
tersebut lalu bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi
untuk selamanya.” Maka orang-orang juga membuang cincin mereka. Dalam
lafal lain disebutkan, “beliau memakainya di tangannya yang sebelah
kanan."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أمر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يصنع
له خاتم من ذهب، وكان إذا لبسه جعل فصه في باطن كفه اليمنى، فتبعه الصحابة
على ذلك وصنعوا كما صنع، ثم بعد فترة جلس النبي -صلى الله عليه وسلم- على
المنبر ليراه الناس، ثم قال: إني كنت ألبس هذا الخاتم، وأجعل فصه في داخل
كفي، ثم رماه وقال: والله لا ألبسه أبدا، وكان ذلك بعد تحريمه، فرمى
الصحابة خواتيمهم اقتداء برسول الله -صلى الله عليه وسلم-.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
meminta agar dibuatkan untuknya cincin emas. Dahulu jika beliau
memakainya maka bagian matanya beliau letakkan di bagian dalam telapak
tangannya. Kemudian para sahabat mengikuti beliau dan membuat cincin
seperti yang telah beliau buat. Setelah beberapa waktu, Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar agar orang-orang dapat
melihatnya, lalu bersabda, “Sesungguhnya aku telah memakai cincin ini
dan aku meletakkan matanya di bagian dalam telapak tanganku.” Kemudian
beliau membuang cincin tersebut dan bersabda, “Demi Allah, aku tidak
akan memakainya lagi untuk selamanya.” Dan itu beliau lakukan setelah
turunnya hukum pengharaman (memakai emas bagi laki-laki). Maka para
sahabat pun melemparkan cincin mereka karena mengikuti Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2951 |
|
Hadith 31 الحديث
الأهمية: كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ
Tema: Semua minuman yang memabukkan adalah
haram |
عن عائشة رضي الله عنها: «أَنَّ رسول
الله-صلى الله عليه وسلم-
سُئِل عن الْبِتْعِ؟ فقال: كل شَرَابٍ أَسْكَر فهو حَرَامٌ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya tentang al-bit'u
(minuman fermentasi madu yang memabukkan). Maka beliau menjawab, "Semua
minuman yang memabukkan adalah haram."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
سئل النبي -صلى الله عليه وسلم- عن شرب
البتع الذي هو نبيذ العسل، فأتى -صلى الله عليه وسلم- بجواب عام شامل،
مفاده أنه لا عبرة باختلاف الأسماء، ما دام المعنى واحداً، والحقيقة واحدة.
فكل شراب
أسكر، فهو خمر محرَّم، من أي نوع أخذ.
وهو من
جوامع كَلِمه -صلى الله عليه وسلم- وحسن بيانه عن ربه، ولهذا جاء من العلم
في مدة بعثته بما يسعد البشرية في الدنيا والآخرة.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
ditanya tentang al-bit'u yang merupakan minuman memabukkan dari hasil
fermentasi madu. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan
jawaban yang komprehensif yang intinya; tidak perlu memedulikan
perbedaan nama selagi substansi dan hakikatnya sama. Setiap minuman yang
memabukkan adalah khamar yang diharamkan meskipun dibuat dari jenis
apapun. Jawaban beliau ini termasuk Jawāmi'ul Kalim Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (ucapan yang singkat namun bermakna luas
dan padat), dan termasuk keindahan penjelasan beliau yang berasal dari
Rabb-nya. Oleh sebab itu, selama masa kerasulannya yang singkat, beliau
sukses menyebarkan berbagai ilmu yang mampu membahagiakan manusia di
dunia dan akhirat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2952 |
|
Hadith 32 الحديث
الأهمية: أَيُّهَا النَّاسُ، لا تَتَمَنَّوْا
لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَاسْأَلُوا الله الْعَافِيَةَ
Tema: Wahai manusia, janganlah kalian
mengharapkan bertemu musuh! Mohonlah keselamatan kepada Allah! |
عن عبد الله بن أبي أوفى -رضي الله عنه-
أَنَّ رسول الله-صلى الله عليه وسلم-
فِي بَعْض أَيَّامه التي لَقِي فيها العدو انتظر، حتى إذا مَالَتِ
الشمس قام فِيهم، فقال: «أَيُّها الناس، لا تَتَمَنَّوْا لِقَاء
الْعَدُوِّ، وَاسْأَلوا الله الْعافية فَإِذا لَقِيتموهم فَاصْبِرُوا،
وَاعلموا أَنَّ الْجَنَّة تحت ظِلال السُّيوف ثُمَّ قَال النَّبِي صلى الله
عليه وسلم: اللهمَّ مُنزِلَ الْكتاب، وَمُجْرِيَ السَّحاب، وَهازم
الأَحْزاب: اهْزِمهم، وَانصُرنا علَيهم».
Dari Abdullah bin Abi Aufa
-raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- dalam sebuah pertempurannya saat hendak bertemu musuh, beliau
menunggu hingga matahari condong lalu berdiri di tengah-tengah para
sahabat. Beliau bersabda, "Wahai manusia, janganlah kalian mengharapkan
bertemu musuh! Mohonlah keselamatan kepada Allah! Jika kalian telah
bertemu musuh maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa Surga itu di bawah
bayangan kilatan pedang." Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- bersabda, "Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang menjalankan
awan, Yang mengalahkan pasukan! Kalahkanlah mereka dan tolonglah kami
melawan mereka!"
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يخبر عبد الله بن أبي أوفى الصحابي -رضي
الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- لقي العدو في بعض أيامه فانتظر
ولم يبدأ بالقتال إلا بعد أن زالت الشمس، ولما زالت الشمس قام فيهم
-والمعتاد أن يكون ذلك بعد الصلاة- قام فيهم خطيباً فنهاهم عن تمني لقاء
العدو لما فيه من الإعجاب بالنفس، وأن يسألوا الله العافية، ثم قال: فإذا
لقيتموهم فاصبروا. أي إن حقق الله ذلك وابتليتم بلقاء العدو فاصبروا عند
ذلك واتركوا الجزع، واعلموا أن لكم إحدى الحسنيين إما أن ينصركم الله على
عدوكم وتكون لكم الغلبة، ويجمع الله لكم بين قهر العدو في الدنيا والثواب
في الآخرة، وإما أن تُغلبوا بعد أن بذلتم المجهود في الجهاد فيكون لكم
الثواب الأخروي، أما قوله: واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف. فمعناه أن
الجهاد يؤدي إلى الجنة
ن ثم دعا
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ربه بشرعه المنزل وقدرته الكاملة أن ينصر
المسلمين على عدوهم وبالله التوفيق.
Abdullah bin Abi Aufa -raḍiyallāhu
'anhu- mengabarkan bahwa dalam sebuah pertempuran, Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- hendak bertemu musuh lalu beliau menunggu, namun
pertempuran tidak dimulai melainkan setelah matahari condong. Setelah
matahari condong, beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat -biasanya
dilakukan setelah salat- sambil berkhotbah melarang mereka untuk
mengharapkan bertemu musuh, karena hal itu termasuk kesombongan, dan
hendaknya mereka memohon keselamatan kepada Allah. Selanjutnya beliau
bersabda, "Jika kalian telah bertemu musuh maka bersabarlah," yakni,
jika Allah mewujudkan hal tersebut dan kalian diuji dengan bertemu musuh
maka bersabarlah dan janganlah cemas serta ingatlah bahwa bagi kalian
dua kebaikan; baik Allah menolong kalian terhadap musuh dan kalian
mendapatkan kemenangan sehingga Allah menghimpun untuk kalian antara
keberhasilan mengalahkan musuh di dunia dan pahala di akhirat; ataupun
kalian dikalahkan setelah kalian mencurahkan segenap usaha dalam jihad
sehingga bagi kalian pahala akhirat. Adapun sabdanya, "Dan ketahuilah
bahwa Surga itu di bawah bayangan pedang." Artinya bahwa jihad
menghantarkan ke Surga. Setelah itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- berdoa kepada Rabb-nya dengan syariat yang diturunkan dan
kekuasaan-Nya yang sempurna agar menolong kaum muslimin mengalahkan
musuhnya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2953 |
|
Hadith 33 الحديث
الأهمية: نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ وَهِيَ مِنْ
خَمْسَةٍ: مِنْ الْعِنَبِ، وَالتَّمْرِ، وَالْعَسَلِ، وَالْحِنْطَةِ،
وَالشَّعِيرِ
Tema: Telah turun pengharaman khamar (arak),
dan khamar itu terbuat dari lima jenis: anggur, kurma, madu, gandum, dan
jawawut |
عن عَبْدُ الله بن عمر-رضي الله عنهما-
أن عمر قال -على منبر رسول الله- -صلى الله عليه وسلم- : "أما بعد، أيها
الناس، إنه نزل تحريم الخمر وهي من خمسة: مِنَ العنب، والتمر، والعسل،
والحنطة، والشعير. والخمر: مَا خَامَرَ العَقْلَ. ثَلاثٌ وَدِدْتُ أَنَّ
رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- كَانَ عَهِدَ إلَيْنَا فِيهَا عَهْداً
نَنْتَهِي إلَيْهِ: الجَدُّ، والكَلالَةُ، وأَبْوَابٌ مِنَ الرِّبَا".
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- bahwasanya Umar pernah berkata -di atas mimbar Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ammā Ba'du. Wahai manusia, sesungguhnya
telah turun firman Allah mengenai pengharaman khamar (arak) yang terbuat
dari lima jenis: anggur, kurma, madu, gandum dan jawawut. Dan khamar
adalah sesuatu yang menutupi akal. Tiga hal yang aku sangat menginginkan
bila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpesan kepada kita
dengan pesan yang sangat jelas, yaitu masalah (warisan) kakek,
Al-Kalālah (orang meninggal yang tidak memiliki orang tua dan anak), dan
pintu-pintu riba."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
خطب عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- في
مسجد رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وعلى منبره هذه الخطبة، وقرر فيها
-رضي الله عنه- أن الخمر ما خامر العقل، فالخمر لا يختص بالعنب، بل حتى
الشراب المسكر المصنوع من التمر أو العسل أو الحنطة خمر، وقد ذكر عمر -رضي
الله عنه- في خطبته أن ثلاث مسائل فيها إشكال عندهم، تمنى أن لو كان عهد
النبي -صلى الله عليه وسلم- في هذه الثلاث المسائل عهداً إلى أمته ينتهون
إليه فيها، وهي: ميراث الجد، وميراث كل ميت لا ولد له ولا والد، وبعض أبواب
الربا، والحمد لله أن الحكم في هذه الثلاث المسائل معلوم، وليس معنى هذا أن
النبي -صلى الله عليه وسلم- لم يبينهن، فقد أتم الرسالة، وأدى الأمانة،
وبلغ عن الله ما هو أخفى وأقل شأنا منهن، ولكن عمر -رضي الله عنه- يريد أن
يكون فيها نص صريح واضح لا يحتمل الاجتهاد.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu
'anhu- menyampaikan khutbah di masjid Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- dan di atas mimbar beliau. Dalam khutbahnya, dia menetapkan
bahwa khamar itu sesuatu yang menutupi akal. Khamar itu tidak hanya
khusus terbuat dari anggur saja, tetapi sampai minuman memabukkan yang
terbuat dari kurma, madu, gandum adalah termasuk khamar. Umar
-raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan dalam khutbahnya bahwa ada tiga
permasalahan yang rumit bagi mereka. Dia berharap seandainya pada masa
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada keputusan tentang tiga hal itu
kepada umatnya di mana mereka akan merujuk padanya. Tiga hal itu tentang
warisan kakek, warisan orang mati yang tidak memiliki anak dan orang
tua, dan mengenai beberapa pintu riba. Segala puji bagi Allah bahwa
hukum mengenai ketiganya sudah diketahui. Ini tidak berarti bahwa Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menjelaskannya. Sebab, beliau sudah
menyempurnakan risalah, menunaikan amanah dan telah menyampaikan dari
Allah hal yang lebih samar dan lebih kecil urusannya dari ketiganya.
Namun, Umar -raḍiyallāhu 'anhu- menginginkan dalam hal tersebut ada nas
yang jelas dan terang tanpa ada kemungkinan untuk ijtihad. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2954 |
|
Hadith 34 الحديث
الأهمية: أَنَّ قُرَيْشاً أَهَمَّهُمْ شَأْنُ
الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ
Tema: Orang-orang Quraisy dibuat risau oleh
urusan seorang wanita dari kabilah Bani Makhzūm yang mencuri. |
عن عَائِشَةُ -رضي الله عنها- «أَنَّ
قُرَيْشا أَهَمَّهُم شَأن المَخْزُومِيَّة التي
سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فيها رسول الله -صلى الله عليه
وسلم-؟، فقالوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ
عليه إلا أسامة بن زيد حِبُّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
فَكَلَّمَهُ أسامة، فَقَالَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ الله؟
ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فقال: إنَّمَا أَهْلَكَ الذين مِنْ قَبْلِكُمْ
أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أَقَامُوا
عليه الحد، وَأَيْمُ الله: لَوْ أَنَّ فاطمة بنت محمد سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ
يَدَهَا».
وَفِي
لَفْظٍ «كانت امرأة تَسْتَعِيرُ المَتَاعَ وَتَجْحَدُهُ، فَأَمَرَ النبي
-صلى الله عليه وسلم- بِقَطْعِ يَدِهَا».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa
orang-orang Quraisy dibuat risau oleh urusan seorang wanita dari kabilah
Bani Makhzūm yang mencuri. Mereka berkata, “Siapa yang mau membicarakan
urusan ini dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?”. Sebagian
mereka berkata, “Siapa lagi yang berani melakukannya selain Usāmah bin
Zaid, kesayangan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.” Maka Usamah
berbicara dengan beliau, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu akan
memberikan syafaat (rekomendasi keringanan hukuman) terhadap orang yang
melanggar salah satu hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri dan
berkhotbah seraya bersabda, “Sesungguhnya faktor yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah karena jika ada orang terpandang di
antara mereka mencuri, mereka membiarkannya, dan sekiranya yang mencuri
itu orang lemah di antara mereka, maka mereka menegakkan hukuman atas
dirinya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya
kupotong tangannya.” Dalam redaksi lain disebutkan, “Dahulu ada seorang
wanita meminjam barang, kemudian dia mengingkarinya. Lalu Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan supaya dipotong tangannya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كانت امرأة من بني مخزوم تستعير المتاع
من الناس احتيالاً، ثم تجحده.
فاستعارت
مرةً حُلِيًا فجحدته، فوُجِدَ عندها، وبلغ أمرها النبي -صلى الله عليه
وسلم- فعزم على تنفيذ حد الله -تعالى- بقطع يدها، وكانت ذات شرف، ومن أسرة
عريقة في قريش.
فاهتمت
قريش بها وبهذا الحكم الذي سينفذ فيها، وتشاوروا فيمن يجعلونه واسطة إلى
النبي -صلى الله عليه وسلم- ليكلمه في خلاصها، فلم يروا أولى من أسامة بن
زيد، فإنه المقرب المحبوب للنبي -صلى الله عليه وسلم-، فكلمه أسامة.
فغضب منه
-صلى الله عليه وسلم- وقال له - منكراً عليه: - "أتشفع في حدٍّ من حدود
الله"؟
ثم قام
خطيبا في الناس ليبين لهم خطورة مثل هذه الشفاعة التي تعطل بها حدود الله،
ولأن الموضوع يهم الكثير منهم، فأخبرهم أن سبب هلاك من قبلنا في دينهم وفي
دنياهم: أنهم يقيمون الحدود على الضعفاء والفقراء، ويتركون الأقوياء
والأغنياء، فتعم فيهم الفوضى وينتشر الشر والفساد، فيحق عليهم غضب الله
وعقابه.
ثم أقسم
-صلى الله عليه وسلم- وهو الصادق المصدوق- لو وقع هذا الفعل من سيدة نساء
العالمين ابنته فاطمة- أعاذها الله من ذلك- لنفذ فيها حكم الله تعالى -صلى
الله عليه وسلم-.
Ada seorang wanita dari kabilah Bani
Makhzūm yang biasa meminjam barang dari orang lain sebagai bentuk
penipuan, lalu dia mengingkarinya. Suatu ketika wanita itu meminjam
perhiasan, lalu ia mengingkarinya. Namun ternyata perhiasan tersebut
didapatkan ada pada dirinya. Perkara ini sampai kepada Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- dan beliau bertekad menegakkan hukum Allah -Ta'ālā-
yaitu dengan memotong tangannya. Wanita tersebut adalah orang terhormat
dan berasal dari keturunan bangsawan Quraisy. Maka kaum Quraisy pun
disibukkan oleh perkara wanita tersebut beserta hukuman yang akan
diberikan padanya. Mereka lalu bermusyawarah untuk membahas tentang
siapa yang akan mereka jadikan sebagai perantara agar berbicara kepada
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk meminta pembebasannya. Mereka
tidak mendapati orang yang paling tepat untuk urusan tersebut selain
Usāmah bin Zaid, sebab dia adalah orang yang dekat dan dicintai oleh
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu Usāmah berbicara kepada Nabi,
namun beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- malah sangat marah seraya
bersabda untuk mengingkari perbuatannya, “Apakah kamu akan meminta grasi
untuk orang yang melanggar salah satu hukum Allah?” Kemudian beliau
berkhotbah di hadapan orang-orang untuk menjelaskan tentang bahaya
memberikan syafaat seperti ini yang dapat menjadikan hukum-hukum Allah
tidak ditegakkan dan juga karena persoalan ini menyita perhatian orang
banyak, maka beliau memberitahukan kepada mereka bahwa salah satu faktor
kebinasaan orang-orang sebelum kita dalam urusan agama dan dunia mereka
adalah karena mereka menegakkan hukum terhadap orang-orang lemah dan
fakir, namun tidak menegakkan hukum terhadap orang-orang kuat dan kaya.
Hal itu membuat kekacauan di antara mereka serta membuat kejahatan dan
kerusakan menyebar secara luas, sehingga akhirnya mereka ditimpa
kemurkaan dan siksa Allah -Ta'ālā-. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- bersumpah -dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya-
bahwa jika perbuatan mencuri ini dilakukan oleh putrinya Fatimah yang
merupakan penghulu wanita dunia -yang Allah telah lindungi dari
perbuatan tersebut- maka sungguh beliau akan menegakkan hukum Allah
-Ta'ālā- terhadap putrinya tersebut. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2955 |
|
Hadith 35 الحديث
الأهمية: أَتَيْتُ رَسُولَ الله -صلى الله عليه
وسلم- فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، إنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ،
أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ
Tema: Aku pernah datang kepada Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah!
Sesungguhnya kami berada di negeri kaum Ahli Kitab, bolehkah kita makan
di wadah-wadah mereka?" |
عن أبي ثَعْلبة الخُشني -رضي الله عنه-
قال: «أَتَيْتُ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقلت: يا رسول الله، إنا
بأرض قوم أهل كتاب، أَفَنَأْكُلُ في آنِيَتِهِم؟ وفي أرض صيد، أَصِيدُ
بِقَوْسِي وبِكَلْبِي الذي ليس بِمُعَلَّمٍ، وبِكَلْبِي المُعَلَّمِ، فما
يَصلح لي؟ قال: أمَّا مَا ذَكَرْتَ- يعني من آنية أهل الكتاب-: فإِنْ
وجدْتُمْ غيرها فلا تأكلوا فيها، وإِنْ لم تَجِدُوا فاغسِلوهَا، وكلوا
فِيهَا، وما صدتَ بِقَوْسِكَ، فذَكَرْتَ اسمَ الله عَلَيه فَكُلْ، وما
صِدْتَ بِكَلْبِكَ المُعَلَّمِ، فَذَكَرْتَ اسْمَ الله عليه فَكُلْ، وما
صِدْتَ بِكَلْبِكَ غيرِ المُعَلَّمِ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُلْ».
Dari Abu Ṡa'labah Al-Khusyani
-raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku pernah datang kepada Rasulullah -
ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah!
Sesungguhnya kami berada di negeri kaum Ahli Kitab, bolehkan kami makan
di wadah-wadah mereka? Dan ketika di area perburuan; aku berburu dengan
panahku dan anjingku yang tidak terlatih, serta anjingku yang terlatih,
apa yang sebaiknya aku lakukan?" Beliau bersabda, "Adapun apa yang
engkau sebutkan -maksudnya wadah Ahli Kitab-, jika engkau masih
menemukan wadah lainnya maka jangan makan di wadah tersebut. Jika tidak
menemukan selainnya, cucilah wadah-wadah itu dan makanlah dengannya.
Sedangkan hewan yang engkau buru dengan panahmu lalu engkau menyebut
nama Allah padanya maka makanlah! Adapun binatang yang engkau buru
dengan anjingmu yang terlatih lalu engkau menyebut nama Allah padanya
maka makanlah! Sedangkan hewan yang engkau buru dengan anjingmu yang
tidak terlatih lalu engkau sempat menyembelihnya maka makanlah!"
Penjelasan Hadits بيان الحديث
ذكر أبو ثعلبة -رضي الله عنه- للنبي
-صلى الله عليه وسلم- أنهم مبتلون بمجاورة أهل الكتاب، والمراد بهم اليهود
أو النصارى، فهل يحل لهم أن يأكلوا في أوانيهم مع الظن بنجاستها؟ فأفتاه
بجواز الأكل فيها، ومن باب أولى استعمالها في غير الأكل بشرطين:
1- أن لا يجدوا غيرها. 2- وأن يغسلوها.
وذكر له
أنهم بأرض صيد، وأنه يصيد بقوسه وبكلبه المعلم على الصيد وآدابه، وبكلبه
الذي لم يتعلم، فما يصلح له ويحل من صيد هذه الآلات؟ فأفتاه بأن ما صاده
بقوسه فهو حلال، بشرط أن يذكر اسم الله -تعالى- عند إرسال السهم.
وأما ما
تصيده الكلاب، فما كان منها معلماً وذكر اسم الله عند إرساله فهو حلال
أيضاً، وأما الذي لم يتعلم، فلا يحل صيده إلا أن يجده الإنسان حياً ويذكيه
الذكاة الشرعية.
Abu Ṡa'labah -raḍiyallāhu 'anhu-
menuturkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa mereka diuji
hidup berdampingan dengan Ahli Kitab. Maksudnya orang-orang Yahudi atau
Nasrani. Apakah boleh bagi mereka untuk makan di wadah-wadah Ahli Kitab
yang diduga bernajis? Lantas beliau memfatwakan dibolehkannya makan di
wadah-wadah tersebut. Hanya saja lebih utama menggunakannya selain untuk
makan dengan dua syarat: 1- Mereka tidak menemukan wadah yang lain.
2 - Hendaknya mereka mencucinya (lebih dulu). Dia menuturkan kepada
beliau bahwa mereka berada di area perburuan dan dia sendiri berburu
dengan panahnya dan anjingnya yang sudah dilatih untuk berburu dan
adab-adabnya, dan dengan anjingnya yang tidak dilatih. Lantas apa yang
baik dan boleh dari perburuan dengan alat-alat tersebut? Beliau
memberikan fatwa kepadanya bahwa apa yang diburu dengan panahnya halal
untuknya dengan syarat menyebut nama Allah -Ta'āla- saat melepas anak
panah. Sedangkan binatang yang diburu oleh anjing, jika anjing itu
terlatih dan disebutkan nama Allah saat melepasnya maka binatang buruan
itu juga halal. Sedangkan anjing yang tidak dilatih maka hasil buruannya
tidak halal kecuali apabila seseorang menemukan buruan tersebut masih
hidup dan dia sempat menyembelihnya dengan penyembelihan sesuai syariat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2956 |
|
Hadith 36 الحديث
الأهمية: تَوَكَّلَ الله لِلْمُجَاهِدِ فِي
سَبِيلِهِ إنْ تَوَفَّاهُ: أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يُرْجِعَهُ
سَالِماً مَعَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ
Tema: Allah menjamin untuk orang yang
berjihad di jalan-Nya, jika Dia mewafatkannya maka Dia akan
memasukkannya ke dalam surga, atau Dia mengembalikannya dalam keadaan
selamat dengan membawa serta pahala atau ganimah (rampasan perang). |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي
-صلى الله عليه وسلم- قال: «انْتَدَبَ الله (ولمسلم: تَضَمَّنَ الله)
لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ، لا يُخْرِجُهُ إلاَّ جِهَادٌ فِي سَبِيلِي،
وإيمان بي، وتصديق برسلي فهو عَلَيَّ ضامن: أَنْ أُدْخِلَهُ الجنة، أو
أرجعه إلى مسكنه الذي خرج منه، نائلًا ما نال من أجر أو غنيمة».
ولمسلم:
«مثل المجاهد في سبيل الله -والله أعلم بمن جاهد في سبيله- كَمَثَلِ
الصَّائِمِ القائم، وَتَوَكَّلَ الله لِلْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِهِ إنْ
تَوَفَّاهُ: أن يدخله الجنة، أو يرجعه سالما مع أجر أو غنيمة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Allah menjamin
(dalam riwayat Muslim, Allah menanggung) untuk orang yang keluar di
jalan-Nya, di mana tidak ada yang mendorongnya keluar selain jihad di
jalan-Ku, keimanan pada-Ku, dan pembenaran kepada rasul-rasul-Ku, maka
Aku menjamin untuk memasukkannya ke surga atau mengembalikannya ke
tempat tinggal asalnya ia berangkat dengan memperoleh pahala atau
ganimah." Dalam riwayat Muslim, "Perumpamaan orang yang berjihad di
jalan Allah -Allah lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya-,
seperti orang yang terus-menerus berpuasa dan salat, dan Allah menjamin
untuk orang yang berjihad di jalan-Nya, jika Dia mewafatkannya, untuk
memasukkannya ke surga, atau Dia memulangkannya dalam keadaan selamat
dengan membawa serta pahala atau ganimah.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
في هذا الحديث ضمان من الله لمن خرج في
سبيله لا يخرجه إلا جهاد في سبيله مؤمناً مخلصاً أنه ضامن على الله واحدًا
من ثلاثة أو اثنتين منها فإن قتل فهو ضامن على الله أن يدخله الجنة وإن بقي
فقد تضمن الله أن يرجعه إلى مسكنه بما نال من أجر أو غنيمة أي من أجر بدون
غنيمة أو يجمع الله له بين الغنيمة والأجر.
أما
الرواية الثانية التي عزاها صاحب العمدة إلى مسلم وهي متفق عليها وفيها أن
فضيلة الجهاد في سبيل الله أي التي تقوم مقام الجهاد أمر لا يستطيعه البشر
وذلك كالآتي: أن يكون بدلاً من الخروج يدخل في مصلاه فيواصل الصلاة والصيام
والقيام ولهذا قال -صلى الله عليه وسلم- لا تستطيعونه.
Dalam hadis ini terdapat jaminan dari
Allah bagi orang yang keluar untuk berjihad, di mana tidak ada yang
mendorongnya keluar selain jihad di jalan Allah dengan keimanan dan
keikhlasan, bahwa ia dijamin oleh Allah untuk mendapatkan salah satu
dari tiga atau dua perkara. Yakni, jika ia terbunuh maka Allah menjamin
akan memasukkannya ke dalam surga, dan jika ia tetap hidup maka Allah
menjamin untuk memulangkannya ke tempat tinggalnya dengan membawa pahala
atau ganimah, yakni pahala tanpa ganimah, atau Allah menggabungkan
untuknya antara ganimah dan pahala. Adapun riwayat kedua yang
disandarkan pengarang kitab Al-'Umdah pada Imam Muslim, dan disepakati
kesahihannya. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa keutamaan jihad di
jalan Allah hanya dapat disamai oleh sebuah urusan yang tidak bisa
dilakukan manusia. Urusan tersebut yaitu: sebagai ganti dari berjihad
tersebut, dia masuk ke tempat salatnya lalu terus mengerjakan salat,
puasa dan salat malam. Oleh sebab ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- bersabda, "Kalian tak akan sanggup melakukannya." |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih dengan seluruh
riwayat-riwayatnya]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2957 |
|
Hadith 37 الحديث
الأهمية: أَنْفَجْنَا أَرْنَباً بِمَرِّ
الظَّهْرَانِ فَسَعَى الْقَوْمُ فَلَغَبُوا
Tema: Kami pernah dikagetkan oleh seekor
kelinci (dari lubangnya) di Marr aẓ-Ẓahrān lalu orang-orang mengejarnya
hingga kelelahan. |
عن أنس -رضي الله عنه- قال:
«أَنْفَجْنَا أَرْنَباً بِمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى الْقَوْمُ
فَلَغَبُوا، وَأَدْرَكْتُهَا فَأَخَذْتُهَا، فَأَتَيْتُ بِهَا أَبَا
طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا وَبَعَثَ إلَى رَسُولِ الله-صلى الله عليه وسلم-
بِوَرِكِهَا وَفَخِذَيْهَا فَقَبِلَهُ».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia
berkata, "Kami pernah dikagetkan oleh seekor kelinci (dari lubangnya) di
Marr aẓ-Ẓahrān (nama lembah di sebelah utara Makkah, red.) lalu
orang-orang mengejarnya hingga kelelahan. Aku mendapatkan kelinci itu
dan berhasil menangkapnya lalu aku membawanya kepada Abu Ṭalḥah. Lantas
dia menyembelihnya dan mengirimkan bagian pinggul dan pahanya kepada
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau pun menerimanya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- وأصحابه
في سَفَرٍ، ولعلَّهُم قد نزلُوا في ذلك المكَان الذي هُو مَر الظَّهْرَان؛
فَلَقَدْ نَزَلَ في هذا الموْضِع رَسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-
بأصحابه في عامِ الْفَتْحِ، فَأَثَارُوا أَرْنَباً فَسَعَى الْقَوْمُ خلفها
لِيَأْخُذُوها، قَالَ فَتعبواوا وأدْرَكتُها، وكان أنس بن مالك في ذلك
الوقت في ريْعَانِ شَبَابِهِ، فَأَخَذَهَا وذَهَبَ بِها إلى زَوْجِ
أُمِّهِ، وهو أبو طلحة -رضي الله عنه-، فَذَبَحَهَا وأَهْدَى مِنْهَا إِلى
رسولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- الفخذين والورك-وهُو مُلْتَقَى الظَّهْرِ
مَعَ مَرْبَطِ الرِّجْل-؛ فَقَبِلَها، ولَعَلَّه قَدْ أَكَلَ مِنْهَا.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
dan para sahabatnya sedang dalam perjalanan. Barangkali beliau singgah
di satu tempat yang berada di Marr aẓ-Ẓahrān (nama lembah di sebelah
utara Makkah, red). Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- singgah di
lokasi ini pada tahun pembebasan kota Makkah. Lantas mereka dikejutkan
oleh seekor kelinci. Lantas orang-orang mengejarnya untuk menangkapnya
hingga mereka kelelahan. Aku dapat menangkap kelinci tersebut. Saat itu
Anas bin Malik masih muda belia-, lalu dia berhasil menangkap kelinci
itu dan membawanya kepada suami ibunya (bapak tirinya), yaitu Abu Ṭalḥah
-raḍiyallāhu 'anhu-. Abu Ṭalḥah pun menyembelih kelinci itu dan
menghadiahkan bagian dua pahanya dan pinggulnya kepada Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau menerima hadiah itu, dan mungkin
saja beliau telah memakan sebagiannya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2958 |
|
Hadith 38 الحديث
الأهمية: أَنَّ رَسُولَ الله -صلى الله عليه
وسلم- سَمِعَ جَلَبَةَ خَصْمٍ بِبَابِ حُجْرَتِهِ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- pernah mendengar suara gaduh orang yang sedang bersengketa di
depan pintu kamarnya. |
عن أُمُّ سَلَمَة -رضي الله عنها- أن
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ جَلَبَةَ خَصْمٍ بِبَابِ
حُجْرَتِهِ، فَخَرَجَ إلَيْهِمْ، فقال: «ألا إنما أنا بشر، وإنما يأتيني
الخصم، فلعل بعضكم أن يكون أبلغ من بعض؛ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَادِقٌ؛
فَأَقْضِي لَهُ، فمن قضيت له بحق مسلم فإنما هي قطعة من نار،
فَلْيَحْمِلْهَا أَوْ يَذَرْهَا».
Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-
bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendengar suara
gaduh orang yang sedang bersengketa di depan pintu kamarnya. Lalu beliau
keluar menemui mereka seraya bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya aku
hanyalah manusia biasa. Hanya saja orang yang bersengketa datang
kepadaku mengadukan perkaranya. Mungkin saja ada sebagian pihak yang
lebih pandai dalam berbicara daripada pihak lainnya, sehingga aku
mengira bahwa dialah yang benar lalu aku putuskan bahwa dialah yang
menang. Maka, siapa yg aku menangkan perkaranya terhadap hak seorang
Muslim, sesungguhnya itu merupakan sepotong api neraka, maka silakan dia
membawanya atau meninggalkannya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
سمع النبي -صلى الله عليه وسلم- أصوات
خصوم مختلطة؛ لما بينهم من المنازعة والمشاجرة عند بابه، فخرج إليهم؛ ليقضي
بينهم، فقال:
إنما أنا
بشر مثلكم، لا أعلم الغيب، ولا أخبر ببواطن الأمور؛ لأعلم الصادق منكم من
الكاذب، وإنما يأتيني الخصم لأحكم بينهم، وحكمي مبني على ما أسمعه من حجج
الطرفين وبيِّناتهم وأيْمَانِهِم، فلعل بعضكم يكون أبلغ وأفصح وأبينَ من
بعض؛ فأحسب أنه صادق مُحِق؛ فأقضي له، مع أن الحق -في الباطن- بجانب خصمه،
فاعلموا أن حكمي في ظواهر الأمور لا بواطنها، فلن يحل حراما؛ ولذا فإن من
قضيت له بحق غيره وهو يعلم أنه مبطل، فإنما أقطع له قطعة من النار،
فليحملها إِن شاء، أو ليتركها، فعقاب ذلك راجع عليه، والله بالمرصاد
للظالمين.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mendengar suara-suara gaduh orang-orang yang sedang berselisih ketika
terjadi perselisihan dan pertikaian di antara mereka di depan pintu
(kamar) beliau. Lantas beliau keluar untuk menetapkan keputusan di
antara mereka seraya bersabda, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa
seperti kalian. Aku tidak mengetahui hal yang gaib dan tidak bisa
memberitahukan hal-hal yang tersembunyi. Aku tidak mengetahui siapa yang
benar dan bohong di antara kalian. Hanya saja orang datang kepadaku
untuk mengadukan perkaranya agar aku menetapkan keputusan di antara
mereka. Sedangkan keputusanku itu berdasarkan berbagai argumentasi yang
aku dengar dari kedua belah pihak, bukti-bukti, dan sumpah mereka.
Mungkin saja sebagian kalian ada yang lebih pandai dan bagus dalam
berbicara daripada pihak lainnya, sehingga aku mengira dia orang yang
jujur dan benar, padahal kebenaran -secara batin- ada di pihak lawannya.
Karena itu, ketahuilah bahwa keputusanku dalam hal-hal yang tampak bukan
hal-hal yang tersembunyi, sehingga tidak bisa menghalalkan yang haram.
Untuk itu, jika aku memenangkan keputusan baginya atas hak seorang
Muslim padahal dia tahu dirinya salah, maka sesungguhnya aku telah
memberinya sepotong api neraka. Jika dia mau, silakan bawa dan jika
tidak silakan tinggalkan karena hukumannya kembali kepada dirinya
sendiri, dan Allah Maha Mengawasi orang-orang yang berbuat kezaliman. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2959 |
|
Hadith 39 الحديث
الأهمية: أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- نَهَى
عَنْ النَّذْرِ، وَقَالَ: إنَّ النَّذْرَ لا يَأْتِي بِخَيْرٍ، وَإِنَّمَا
يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
melarang nazar seraya bersabda, "Sesungguhnya nazar tidak mendatangkan
kebaikan, dan nazar itu hanya dikeluarkan dari orang yang bakhil." |
عن ابن عمر -رضي الله عنهما- عن النبي
-صلى الله عليه وسلم- «أنه نهى عن النذر، وقال: إنّ النَّذْرَ لا يأتي
بخير، وإنما يُسْتَخْرَجُ به من البخيل».
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-
dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau melarang
nazar seraya bersabda, "Sesungguhnya nazar tidak mendatangkan kebaikan,
dan nazar itu hanya dikeluarkan dari orang yang bakhil."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- عن
النذر، وعلل نهيه بأنه لا يأتي بخير؛ وذلك لما يترتب عليه من إيجاب الإنسان
على نفسه شيئًا هو في سعة منه، فيخشى أن يقصر في أدائه، فيتعرض للإثم، ولما
فيه من إرادة المعاوضة مع الله -تعالى- في التزام العبادة معلقة على حصول
المطلوب، أو زوال المكروه.
وربما ظن
-والعياذ بالله- أن الله -تعالى- أجاب طلبه؛ ليقوم بعبادته.
لهذه
الأسباب وغيرها، نهى عنه النبي -صلى الله عليه وسلم-؛ إيثارا للسلامة،
وطمعا في جود الله -تعالى- بلا مقابل ولا شرط، وإنما بالرجاء والدعاء.
وليس في
النذر فائدة، إلا أنه يستخرج به من البخيل، الذي لا يقوم إلا بما وجب عليه
فعله وتحتم عليه أداؤه، فيأتي به مكرها، متثاقلا، فارغا من أساس العمل، وهي
النية الصالحة، والرغبة فيما عند الله -تعالى-.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
melarang nazar dan menjelaskan sebab larangannya, bahwa nazar tidak
mendatangkan kebaikan. Sebab, nazar menyebabkan seseorang mewajibkan
sesuatu terhadap dirinya padahal dia sebenarnya terbebas dari nazar itu.
Dengan demikian dia dikhawatirkan lalai dalam menunaikannya sehingga
rentan menghadapi dosa. Juga karena nazar itu mengandung keinginan
kompensasi dari Allah -Ta'ālā- dalam melaksanakan ibadah karena
dikaitkan dengan tercapainya tujuan atau hilangnya bahaya. Mungkin saja
dia mengira - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- bahwa Allah
mengabulkan permohonannya agar dia beribadah kepada-Nya. Karena
sebab-sebab itu dan lainnya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
melarangnya demi mengutamakan keselamatan dan tekad meraih kemurahan
dari Allah -Ta'ālā- tanpa imbalan dan syarat, tetapi dengan harapan dan
doa. Nazar tidak mengandung manfaat melainkan ia dikeluarkan dari orang
yang bakhil, yang hanya melakukan apa yang diwajibkan kepadanya dan
harusan ditunaikannya, sehingga kemudian ia menunaikannya dengan
terpaksa dan berat hati serta kosong dari pondasi amal, yaitu niat yang
baik dan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah -Ta'ālā-. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2960 |
|
Hadith 40 الحديث
الأهمية: إنِّي وَالله- إنْ شَاءَ الله- لا
أَحْلِفُ عَلَى يَمِينٍ، فَأَرَى غَيْرَهَا خَيْراً مِنْهَا إلاَّ أَتَيْتُ
الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، وَتَحَلَّلْتُهَا
Tema: Demi Allah, sesungguhnya aku -insya
Allah- tidak mengucapkan suatu sumpah lalu aku melihat lainnya lebih
baik dari sumpah tersebut, kecuali aku melakukan yang lebih baik dan aku
membebaskan diri dari sumpah itu. |
عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه-
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: «إنّي والله -إنْ
شاء الله- لا أَحلف على يمين، فأرى غيرها خيراً منها إلاَّ أَتيتُ الَّذِي
هو خير، وتحلَّلْتُهَا».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Demi Allah, sesungguhnya aku -insya Allah- tidak mengucapkan suatu
sumpah lalu aku melihat lainnya lebih baik dari sumpah tersebut, kecuali
aku melakukan yang lebih baik dan aku membebaskan diri dari sumpah itu."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- أخبر
عن نفسِه بأنَّه إذا حَلَفَ على يَمِينٍ ثم بعد ذلك رأى أنَّ الخيرَ في
عدَمِ الاستمرار عليها تَركَها بِتَرك ما حَلَفَ عليه وكفَّرَها التزم الذي
هو خير من فعل أو ترك.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mengabarkan tentang diri beliau, bahwasanya apabila beliau mengucapkan
suatu sumpah kemudian setelah itu beliau melihat lebih baik tidak
melanjutkan sumpah tersebut, beliau pasti meninggalkanya, yakni
meninggalkan apa yang beliau sumpahi dan beliau membayar kafaratnya.
Beliau melakukan apa yang lebih baik, berupa perbuatan maupun ucapan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2961 |
|
Hadith 41 الحديث
الأهمية: أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ
Tema: Perkara pertama yang diputuskan di
antara manusia pada hari kiamat adalah terkait darah. |
عن عبد الله بن مَسعود -رضي الله عنه-
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: «أَوَّلُ مَا يُقْضَى
بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ».
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Perkara pertama yang diputuskan di antara manusia di hari kiamat ialah
masalah darah."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يُحَاسِبُ الله -تعالى- الْخَلَائِقَ
يوم القيامة، ثُمَّ يَقْضِى بينهم بعدله، ويبدأ من المظالم
بالْأَهم، وبما أَنَّ الدِّمَاء هي أَعْظم وأَهَمُّ ما يكون من
المظَالمِ فِإِنَّهَا أَوْلُ مَا يُقْضَى بِهِ منها في ذلك اليومِ العظيمِ،
وهذا فيما بين العباد في المظالم، أما أعمال العبد فأول ما ينظر فيه
الصلاة.
Allah -Ta'ālā- akan menghisab semua
makluk di hari kiamat, kemudian memutuskan di antara mereka dengan
keadilan-Nya. Dia memulai dengan yang paling penting dari
perkara-perkara kezaliman. Dan karena darah (pembunuhan) adalah perkara
kezaliman paling besar dan paling penting, maka perkara ini menjadi yang
pertama diputuskan di hari besar tersebut. Ini terkait
kezaliman-kezaliman di antara hamba. Sedangkan amal hamba yang paling
pertama dilihat adalah salat. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi
Muslim]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2962 |
|
Hadith 42 الحديث
الأهمية: بعثَ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم-
سَرِيَّةً إلَى نَجْدٍ فخَرَجَ ابن عمر فِيهَا
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- pernah mengirimkan ekspedisi perang ke negeri Najed. Maka Ibnu
Umar pun keluar untuk bergabung dengan ekspedisi tersebut. |
عن عبد الله بن عمر-رضي الله عنهما-
قال: «بعث رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- سَرِيَّةً إلَى نَجْدٍ فخرجَت
فِيهَا، فَأَصَبْنَا إبِلاً وَغَنَماً، فبلغتْ سُهْمَانُنَا اثْنَيْ عَشَرَ
بَعِيراً، وَنَفَّلَنَا رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- بَعِيراً
بَعِيراً».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah
mengirimkan ekspedisi perang ke negeri Najed. Maka aku pun keluar untuk
bergabung dengannya. Kami berhasil mendapatkan ganimah unta dan kambing.
Bagian ganimah kami (masing-masing) mencapai dua belas unta dan
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masih menambah lagi
masing-masing satu ekor unta."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يخبر عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- بعثهم في سرية إلى نجد فأصابوا غنائم كثيرة
من إبل وغنم، فنال كل واحد منهم اثني عشر بعيراً، وأعطاهم زيادة على ذلك
بعيراً لكل واحد فوق عدد سهامهم.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah
mengutus mereka (para sahabat) dalam suatu ekspedisi perang ke negeri
Najed. Mereka mendapatkan ganimah yang banyak terdiri dari unta dan
kambing. Setiap sahabat memperoleh dua belas unta, dan beliau memberikan
tambahan atas bagian ganimah mereka berupa satu ekor unta untuk setiap
orang. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2963 |
|
Hadith 43 الحديث
الأهمية: تُقْطَعُ الْيَدُ فِي رُبْعِ دِينَارٍ
فَصَاعِداً
Tema: Tangan (pencuri) dipotong karena
(mencuri) seperempat dirham atau lebih. |
عن عائشةُ -رضي اللهُ عنها- مرفوعًا:
«تُقْطَعُ الْيَدُ فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَصَاعِداً».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara
marfū', "Tangan (pencuri) dipotong karena (mencuri) seperempat dirham
atau lebih."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أمَّن الله -عز وجل- دماء الناس
وأعراضهم وأموالهم، بكل ما يكفل ردع المفسدين المعتدين.
فجعل
عقوبة السارق -الذي أخذ المال من حرزه على وجه الاختفاء- قطع العضو الذي
تناول به المال المسروق؛ ليكفر القطع ذنبه، وليرتدع هو وغيره عن الطرق
الدنيئة، وينصرفوا إلى اكتساب المال من الطرق الشرعية الكريمة؛ فيكثر
العمل، وتستخرج الثمار؛ فيعمر الكون، وتعز النفوس.
ومن حكمته
-تعالى- أن جعل المقدار الأدنى الذي تقطع بسرقته اليد، ما يعادل ربع دينار
من الذهب؛ حماية للأموال، وصيانة للحياة؛ ليستتب الأمن، وتطمئن النفوس،
وينشر الناس أموالهم للكسب والاستثمار.
Allah -'Azza wa Jalla- mengamankan
darah manusia, kehormatan dan harta benda mereka dengan segala hal yang
dapat menjamin terhalangnya para perusak dan orang-orang zalim. Allah
menetapkan hukum pencuri -yang mengambil harta dari tempat
penyimpanannya dengan sembunyi-sembunyi- yaitu memotong organ tubuh yang
mengambil harta yang dicuri itu, agar pemotongan ini menghapus dosanya,
mencegah dia serta orang lain dari berbagai jalan yang hina tersebut,
dan agar mereka beralih untuk mencari rezeki dari berbagai jalan yang
disyariatkan dan mulia. Dengan demikian, pekerjaan menjadi banyak,
buah-buahan dapat dihasilkan, sehingga semesta menjadi makmur dan jiwa
menjadi mulia. Di antara kebijaksanaan Allah -Ta'ālā- ialah menjadikan
ukuran minimal dipotongnya tangan karena mencuri berupa harta yang
setara dengan seperempat dinar emas, demi melindungi harta benda dan
memelihara kehidupan agar rasa aman kembali stabil, jiwa-jiwa menjadi
tenang, dan orang-orang menggunakan harta bendanya untuk memperoleh
penghasilan dan investasi. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2964 |
|
Hadith 44 الحديث
الأهمية: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا
يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ
Tema: Ambillah sebagian hartanya dengan
secara baik-baik sesuai dengan apa yang mencukupi kebutuhanmu dan
kebutuhan anak-anakmu! |
عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: «دخلت
هند بنت عُتْبَةَ- امرأَة أَبِي سفيان- على رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
فقالت: يا رسول الله، إنَّ أَبَا سُفْيَان رَجُلٌ شَحِيحٌ، لا يُعْطِيني من
النفقة ما يكفيني ويكفي بَنِيَّ، إلاَّ ما أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ
عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رسول الله:
خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia
menuturkan, Hindun binti 'Utbah -istri Abu Sufyan- menemui Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah!
Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang yang kikir, ia tidak memberiku
nafkah yang dapat mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan anakku, kecuali
apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku
berdosa?" Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab,
"Ambillah sebagian hartanya secara baik-baik sesuai dengan apa yang
mencukupi kebutuhanmu dan kebutuhan anak-anakmu!"
Penjelasan Hadits بيان الحديث
اسْتَفْتَت هند بِنْتُ عُتْبَة رسول
الله -صلَّى الله عليه وسلم- أَنَّ زوجها لا يعطيها ما يكفِيها هي
وأَبناءها من النفقة، فهل لها أن تأخذ من مال زوجها أَبي سُفيان بغير علمه؟
فأفتاها بجواز ذلك إِذا أَخذت قَدْرَ الكفاية بالمعروف، أي دون زيادة
وتعدي.
Hindun binti 'Utbah meminta fatwa
kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa suaminya tidak
memberikan nafkah yang dapat mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan
anak-anaknya. Apakah ia boleh mengambil sebagian harta Abu Sufyan tanpa
sepengetahuannya? Lalu beliau memberinya fatwa akan bolehnya hal
tersebut apabila ia mengambil sejumlah yang dapat mencukupi kebutuhan
dengan cara yang baik, yakni tidak lebih dan tidak melampau batas. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2965 |
|
Hadith 45 الحديث
الأهمية: دَبَّرَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ
غُلاماً لَهُ
Tema: Seorang laki-laki dari kalangan Ansar
hendak memerdekakan budaknya sepeninggal dirinya. |
عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما-
قال: دَبَّرَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ غُلاماً لَهُ-، وَفِي لَفْظٍ: بَلَغَ
النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم-: أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ أَعْتَقَ
غُلاماً لَهُ عنْ دُبُرٍ- لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَاعَهُ
رَسُولُ الله بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ، ثُمَّ أَرْسَلَ ثَمَنَهُ إلَيْهِ.
Dari Jabir bin Abdillah -raḍiyallāhu
'anhumā- ia berkata, "Seorang laki-laki dari kalangan Ansar hendak
memerdekakan budaknya sepeninggal dirinya." -dalam lafal lain
disebutkan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendapatkan berita
bahwa seorang sahabatnya akan memerdekakan hamba sahayanya sepeninggal
dirinya- padahal dia tidak memiliki harta selain budak itu. Lantas
Rasulullah menjualnya dengan harga delapan ratus dirham lalu mengirimkan
hasil penjualannya kepada sahabat tersebut.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
علق رجل من الأنصار عتق غلامه بموته،
ولم يكن له مال غيره، فبلغ ذلك النبي -صلى الله عليه وسلم-، فَعَدَّ هذا
العتق من التفريط، ولم يقرَّه على هذا الفعل، فردَّه وباع غلامه بثمانمائة
درهم، أرسل بها إليه، فإن قيامه بنفسه وأهله أولى له وأفضل من العتق، ولئلا
يكون عالَةً على الناس.
ومثل هذه
الأحاديث فيها أحكام يتعرف عليها الإنسان ولو لم يعمل بها، ولا ينبغي أن
يترك تعلمها وفهمها بحجة أنه لا يوجد رقيق اليوم، فإن الرق موجود في أماكن
من أفريقيا، وقد يعود مرة أخرى، وكان موجودًا من قديم الزمان وحتى جاء
الإسلام وبعد ذلك، ولكن الإسلام يتشوف للحرية والعتق إذا حصل الرق.
Seorang laki-laki dari kalangan Ansar
mengaitkan kemerdekaan budaknya dengan kematiannya. Padahal dia tidak
memiliki harta benda selainnya. (Berita) mengenai hal itu sampai kepada
Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau pun menganggap
pembebasan ini sebagai tindakan melampaui batas dan beliau tidak
membenarkan perbuatan tersebut. Lantas beliau menolak orang itu dan
menjual budaknya seharga delapan ratus dirham. Beliau mengirimkan hasil
penjualan budak itu kepadanya. Sebab, mengurus dirinya dan keluarganya
lebih prioritas dan utama dari pembebasan budak agar dia tidak menjadi
beban bagi manusia. Hadis-hadis seperti ini mengandung hukum-hukum yang
diketahui manusia meskipun tidak diamalkannya, tetapi tidak selayaknya
untuk tidak mempelajari dan memahaminya dengan alasan sekarang ini tidak
ada perbudakan. Sesungguhnya perbudakan itu masih tetap ada di berbagai
tempat di Afrika dan bisa jadi akan terjadi lagi. Perbudakan ada sejak
lama sekali sampai datang Islam dan setelahnya. Hanya saja Islam
mengharapkan kemerdekaan dan pembebasan jika terjadi perbudakan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2966 |
|
Hadith 46 الحديث
الأهمية: رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ الله خَيْرٌ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
Tema: Ribāṭ (berjaga-jaga di daerah
perbatasan) sehari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan
seisinya. |
عن سهل بن سعد -رضي الله عنه- مرفوعًا:
«رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ الله خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا،
وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا
عَلَيْهَا، وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ الله
وَالْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا».
Dari Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu
'anhu- secara marfū`, "Ribāṭ (bersiap siaga di daerah perbatasan) sehari
di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat cemeti
salah seorang di antara kalian di Surga lebih baik daripada dunia dan
seisinya, dan berangkat di sore hari atau berangkat di pagi hari untuk
berperang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- بأن
مقام يوم في الرباط أو غدوة في سبيل الله وموضع سوط الواحد منهم في الجنة
كل ذلك خير من الدنيا وما عليها، ذلك لأن الجنة باقية والدنيا فانية وقليل
الباقي خير من كثير الفاني.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mengabarkan bahwa menetap satu hari untuk ribāṭ (bersiap siaga di daerah
perbatasan), atau berangkat pada pagi hari untuk berperang di jalan
Allah, serta tempat cemeti salah seorang dari mereka di Surga, semua itu
lebih baik dari dunia dan seisinya. Sebab, Surga itu abadi dan dunia itu
fana. Sedikit yang abadi lebih baik dari yang banyak namun fana. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2967 |
|
Hadith 47 الحديث
الأهمية: سُئِلَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-
عَنِ الأَمَةِ إذَا زَنَتْ وَلَمْ تُحْصَنْ
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
ditanya mengenai budak wanita bila berzina sedangkan dia belum menikah. |
عن أبي هُرَيْرة وزَيْدُ بْنُ خَالِدٍ
الْجُهَنِيِّ -رضي الله عنهما- أنه سُئِلَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-
عَنِ الأَمَةِ إذَا زَنَتْ وَلَمْ تُحْصَنْ؟ قَالَ: «إنْ زَنَتْ
فَاجْلِدُوهَا، ثُمَّ إنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوهَا، ثُمَّ إنْ زَنَتْ
فَاجْلِدُوهَا، ثُمَّ بِيعُوهَا وَلَوْ بِضَفِيرٍ».
قالَ ابنُ
شِهابٍ: «ولا أَدري، أَبَعْدَ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعةِ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
dan Zaid bin Khālid al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwasannya Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya mengenai budak wanita bila
berzina sedangkan dia belum menikah?" Beliau menjawab, "Jika dia berzina
maka cambuklah! Lalu jika dia berzina lagi maka cambuklah! Kemudian
apabila berzina lagi maka cambuklah! Setelah itu juallah meskipun dengan
(harga) seutas tali!" Ibnu Syihāb berkata, "Aku tidak tahu, apakah
setelah tiga atau empat kali."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
سُئِلَ النبيُّ -صلى الله عليه وسلم-
عَنْ حَدِّ الأَمَةِ إذا زَنَتْ ولَم تُحْصَنْ، أي لَم تتزوج، فأخْبَرَ
-صَلَّى اللهُ عليه وسلم-: أَنَّ عَلَيْها الْجَلْدَ، وجَلْدُها نِصْفُ ما
على الحُرَّة مِنَ الحَدِّ، فَيكُون خمسين جَلْدَة؛ لقوله تعالى: (فَإِذَا
أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى
الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ).
ثُمَّ إذا
زَنَتْ ثانيةً، تُجْلَدُ خمسين جلدةً أيْضاً لَعَلَهَا تَرْتَدِع عَنِ
الفَاحِشَة.
فإذا
زَنَت الثالثة ولم يَرْدَعْها الحَدُّ ولم تَتُبْ إلى اللهِ -تعالى-
وتَخْشَ الفَضِيحة حِينئذٍ فاجْلِدُوها الحدَّ وبِيْعُوها، ولو بأقلِّ
ثَمَن وهو الحبل الرَّخِيص؛ لأنَّه لا خَيْر في بقائِها، وليس في
اسْتقامَتها رجاءٌ قريب وبُعْدُها أوْلَى من قُرْبِها؛ لِئَلَّا تكون
سَبَبَ شرٍّ في البيت الذي تُقيمُ فيه.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
ditanya mengenai hukuman bagi seorang budak wanita jika berzina dan
tidak menjaga kehormatan dirinya, yakni belum menikah. Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- memberitahukan bahwa dia harus dicambuk. Cambukannya
setengah jumlah hukuman seorang perempuan merdeka yaitu lima puluh kali
cambukan, berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Apabila mereka telah
berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka
(hukuman) bagi mereka setengah dari apa (hukuman) perempuan-perempuan
merdeka (yang bersuami)." Lalu jika dia berzina lagi untuk kedua kalinya
maka ia dicambuk lagi sebanyak lima puluh kali dengan harapan dia
menjadi jera dari perbuatan keji ini. Jika dia berzina untuk ketiga
kalinya dan tidak jera dengan hukuman dan tidak bertaubat kepada Allah
-Ta'ālā- serta tidak takut cela, maka pada saat itu cambuklah ia sebagai
hukuman dan juallah dia, meskipun hanya dengan harga sangat murah, yaitu
(seharga) tali yang murah. Sebab, tidak ada kebaikan untuk menahan budak
wanita itu, dan tidak ada harapan yang dekat untuk berubah menjadi baik,
serta jauhnya budak wanita itu lebih utama dari dekatnya, agar tidak
menjadi sebab keburukan di rumah yang ditempatinya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2968 |
|
Hadith 48 الحديث
الأهمية: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ الله
هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ الله
Tema: Orang yang berperang agar kalimat
Allah menjadi tinggi, maka dialah yang berperang di jalan Allah |
عن أبي موسى الأشعري-رضي الله عنه- قال:
«سُئِلَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- عَنْ الرَّجُلِ: يُقَاتِلُ
شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذَلِكَ فِي
سَبِيلِ الله؟ فَقَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم-: مَنْ قَاتَلَ
لِتَكُونَ كَلِمَةُ الله هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ الله».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu
'anhu- ia berkata, "Rasulullah -șallāhu 'alaihi wa sallam- pernah
ditanya mengenai seseorang yang berperang karena keberanian, berperang
karena dendam dan berperang karena ria, manakah di antara mereka yang
berperang di jalan Allah?" Rasulullah -șallāhu 'alaihi wa sallam-
menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka
dialah yang berperang di jalan Allah."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
سأل رجل النبي -صلى الله عليه وسلم- عن
الرجل يقاتل اًعداء الدين، ولكن الحامل له على القتال هو إظهار الشجاعة
والإقدام أمام الناس.
وعن الرجل
يقاتل حمية لقومه، أو لوطنه.
ويقاتل
الثالث رياءً أمام أنظار الناس أنه من المجاهدين في سبيل الله المستحقين
للثناء والتعظيم.
فمن
المقاتل في سبيل الله من هؤلاء الثلاثة؟
فأجاب صلى
الله عليه وسلم- بأوجز عبارة وأجمع معنى، وهي: أن من قاتل لتكون كلمة الله
هي العليا، فهو الذي في سبيل الله، وما عدا هذا، فليس في سبيل الله، لأنه
قاتل لغرض آخر.
والأعمال
مترتبة على النيات، في صلاحها وفسادها، وهذا عام في جميع الأعمال فالأثر
فيها للنية، صلاحاً وفسادا، وأدلة هذا المعنى كثيرة.
Seorang lelaki pernah bertanya kepada
Nabi -șallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai orang yang memerangi musuh
agama, tetapi motivasinya berperang adalah untuk memperlihatkan
keberanian dan keperkasaan kepada manusia; dan orang yang berperang
karena ingin membalas dendam untuk kaumnya atau tanah airnya; dan yang
ketiga berperang karena ria di hadapan manusia bahwa dia termasuk
pejuang di jalan Allah yang pantas memperoleh pujian dan penghormatan.
Siapakah dari ketiga orang itu yang termasuk pejuang di jalan Allah?
Nabi -șallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab dengan ungkapan ringkas dan
makna yang komprehensif, yaitu bahwa orang yang berjuang agar kalimat
Allah menjadi tinggi, maka dialah pejuang di jalan Allah. Selain itu,
tidak dikatakan berperang di jalan Allah, karena dia berperang untuk
tujuan lain. Amal-amal itu tergantung kepada niat dalam kebaikan dan
kerusakannya. Ini bersifat umum dalam semua amal. Dengan demikian,
dampak dari amal itu tergantung niat dari segi baik dan rusaknya, dan
dalil mengenai makna ini banyak sekali. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2969 |
|
Hadith 49 الحديث
الأهمية: أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ،
وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ -رضي الله عنهما-، شَكَوَا الْقَمْلَ إلَى
رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم-
Tema: Abdurrahman bin 'Auf dan Az-Zubair bin
Al-'Awwām -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah mengeluhkan adanya kutu kepada
Rasulullah -șallāhu 'alaihi wa sallam-. |
عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أَنَّ
عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ -رضي الله
عنهم-، شَكَوَا الْقَمْلَ إلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- فِي
غَزَاةٍ لَهُمَا فَرَخَّصَ لَهُمَا فِي قَمِيصِ الْحَرِيرِ وَرَأَيْته
عَلَيْهِمَا.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu
'anhu-, "Bahwasanya Abdurrahman bin 'Auf dan Az-Zubair bin Al-'Awwām -
raḍiyallāhu 'anhum- pernah mengeluhkan adanya kutu kepada Rasulullah
-șallāhu 'alaihi wa sallam- dalam peperangan yang diikuti keduanya, lalu
beliau memberikan keringanan kepada keduanya untuk mengenakan pakaian
sutera dan aku melihat keduanya mengenakannya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
من يسر الدين الإسلامي أنه يرخص في
الشيء المحرم لعلة توجب الترخيص وقد رخص الشارع -صلى الله عليه وسلم-
للزبير وعبدالرحمن -رضي الله عنهما-
في لبس قمص الحرير مع كونه محرَّمًا على الرجال لكونه يدفع القمل
بما جعل الله -سبحانه وتعالى- فيه من الطبيعة المنافية لذلك وكذلك فيه دواء
للحكة، وكذلك كل من كان مثلهما.
Di antara kemudahan agama Islam yaitu
memberikan keringanan pada sesuatu yang haram karena ada sebab yang
mengharuskan adanya keringanan. Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
memberikan keringanan kepada Az-Zubair dan Abdurrahman -raḍiyallāhu
'anhumā- untuk mengenakan pakaian sutra, meskipun pakaian itu diharamkan
untuk kaum laki-laki, guna mencegah kutu. Sebab, pakaian sutra ini
diciptakan oleh Allah -Ta'ālā- mengandung sifat yang dapat mengusir
kutu. Juga mengandung obat untuk gatal-gatal. Demikian juga dibolehkan
bagi setiap orang yang mengalami seperti keduanya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2970 |
|
Hadith 50 الحديث
الأهمية: ضَحَّى النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-
بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقَرْنَيْنِ
Tema: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
pernah berkurban dengan dua ekor domba berwarna putih campur hitam dan
bertanduk. |
عن أنس بن مالكٍ -رضي الله عنه- قال:
«ضَحَّى النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-
بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقَرْنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ،
وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu
'anhu- ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berkurban
dengan dua ekor domba berwarna putih campur hitam dan bertanduk. Beliau
menyembelihnya sendiri dengan tangan beliau, dengan mengucapkan
basmalah, bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi kedua domba
itu."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
من تأكد الأضحية أن النبي -صلى الله
عليه وسلم- حث عليها وفعلها -صلى الله عليه وسلم-، فقد ضحى بكبشين، في
لونهما بياض وسواد ولكل منهما قرنان.
فذبحها
بيده الشريفة لأنها عبادة جليلة قام بها بنفسه، وذكر اسم الله -تعالى-
عندها استعانة بالله لتحل بها البركة ويشيعها الخير، وكبر الله -تعالى-
لتعظيمه وإجلاله، وإفراده بالعبادة، وإظهار الضعف والخضوع بين يديه -تبارك
وتعالى-.
بما أن
إحسان الذبحة مطلوب -رحمة بالذبيحة، بسرعة إزهاق روحها- فقد وضع رجله
الكريمة على صفاحهما، لئلا يضطربا عند الذبح، فتطول مدة ذبحهما، فيكون
تعذيباً لهما، والله رحيم بخلقه.
Untuk menguatkan hukum berkurban, maka
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selain memotivasi untuk melakukannya
maka beliaupun mempraktekkannya. Beliau berkurban dengan dua ekor domba
yang berwarna putih campur hitam dan masing-masing memiliki dua tanduk.
Beliau menyembelih kedua ekor domba itu karena kurban merupakan ibadah
agung, maka beliau melakukannya sendiri. Beliau menyebut nama Allah
-Ta'ālā- saat menyembelihnya dengan tujuan memohon pertolongan kepada
Allah agar kurban itu mendapatkan keberkahan dan menyebarkan kebaikan.
Beliau juga bertakbir kepada Allah -Ta'ālā- untuk mengagungkan-Nya dan
memuliakan-Nya, mengesakan-Nya dalam ibadah, dan memperlihatkan
kelemahan dan ketundukan di hadapan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-. Karena
berbuat baik kepada hewan sembelihan merupakan hal yang dituntut
-sebagai kasih sayang kepada binatang sembelihan dan untuk mempercepat
hilangnya nyawa-, maka beliau meletakkan kakinya yang mulia di atas
pinggang kedua domba itu agar tidak bergoncang saat penyembelihan yang
menyebabkan masa penyembelihannya menjadi lama, lalu menjadi siksaan
bagi kedua ekor domba itu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepada
makhluk-Nya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2971 |
|
Hadith 51 الحديث
الأهمية: عُرِضْتُ عَلَى رَسُولِ الله-صلى الله
عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ، وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ؛ فَلَمْ
يُجِزْنِي
Tema: Aku menawarkan diri kepada Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk ikut) dalam perang Badar, saat itu
usiaku empat belas tahun, akan tetapi beliau tidak membolehkanku. |
عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
قال: «عُرِضْتُ عَلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- يوم أُحُدٍ،
وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ؛ فَلَمْ يُجِزْنِي، وعرضت عليه يوم
الخندق، وأنا ابنُ خَمْسَ عَشْرَةَ فَأَجَازَنِي».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, "Aku menawarkan diri kepada Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- (untuk ikut) dalam perang Badar, saat itu usiaku
empat belas tahun, akan tetapi beliau tidak membolehkanku."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أخبر عبد الله بن عمر -رضي الله عنه-
أنه عُرض للذهاب إلى الغزو على رسول الله -صلى الله عليه وسلم- -من باب عرض
العسكر على الأمير- في وقعة أحد، وكانت في السنة الثالثة من الهجرة، وعمره
أربع عشرة سنة، فرده النبي -صلى الله عليه وسلم- من الذهاب إلى الحرب؛
لصغره، ثم عرض عليه في عام الخندق وكانت في السنة الخامسة، وعمره خمس عشرة
سنة، فأجازه النبي -صلى الله عليه وسلم- في المقاتلة، فلعله كان يوم أحد في
أول الرابعة عشر، ويوم الخندق في آخر الخامسة عشر.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-
mengabarkan bahwa ia menawarkan diri untuk berangkat perang kepada
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagai bentuk pengajuan
prajurit kepada panglimanya- dalam perang Badar. Ini terjadi pada tahun
ketiga hijriah dan umurnya empat belas tahun. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi
wa sallam- menolaknya untuk pergi berperang karena umurnya masih kecil.
Selanjutnya ia mengajukan diri di perang Khandaq pada tahun kelima
hijriah dan usianya sudah lima belas tahun. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- membolehkannya untuk ikut berperang. Barangkali perang Uhud
terjadi saat umurnya awal empat belas tahun, dan pada perang Khandaq
umurnya akhir lima belas tahun. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2972 |
|
Hadith 52 الحديث
الأهمية: غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ الله، أَوْ
رَوْحَةٌ: خَيْرٌ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَت
Tema: Berangkat di waktu pagi atau sore hari
(untuk berjihad) di jalan Allah lebih baik daripada tempat terbit dan
terbenamnya matahari. |
عن أبُي أَيُوب الأنصَارِيّ -رضي الله
عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ
الله، أَوْ رَوْحَةٌ: خَيْرٌ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
وَغَرَبَتْ».
عن أنس
-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «غَدْوَةٌ فِي
سَبِيلِ الله، أَوْ رَوْحَةٌ: خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا».
Dari Abu Ayyūb Al-Anṣāri -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Berangkat di waktu pagi hari atau sore (untuk berjihad) di jalan Allah
lebih baik daripada tempat terbit dan terbenamnya matahari (dunia dan
seisinya)." Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Berangkat di
waktu pagi hari atau di sore (untuk berjihad) di jalan Allah lebih baik
daripada dunia dan seisinya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
هذان الحديثان يظهران فضل الجهاد في
سبيل الله، ولو كان يسيرًا بقدر الغدوة أو الروحة، فكيف بالكثير الذي فيه
مصابرة للأعداء ومقارعة لهم؟، وهذا هو الأصل في المراد بسبيل الله: أنه
الجهاد باليد للكفار.
وينبغي أن
يعلم أن طلب العلم الشَّرعي نوع عظيم من الجهاد في سبيل الله، وأن الانتصار
للحق، ودحض حجج الزنادقة والملحدين والغربيين المبشرين الذين يحاربون
الإسلام، ويريدون القضاء عليه، هو من أعظم الجهاد في سبيل الله.
فالقصد من
الجهاد، إظهار الإسلام ونصره، فكَبتُ هؤلاء، من الجهاد الكبير العظيم،
اللهم وفق المسلمين لنصر دينهم، وإعلاء كلمتك، إنك قريب مجيب.
Kedua hadis ini menjelaskan keutamaan
jihad di jalan Allah meskipun ringan sekadar berangkat di waktu pagi
atau sore hari. Bagaimana dengan hal yang besar berupa keberanian
melawan musuh dan berperang dengan mereka. Inilah maksud pokok dari
(berjihad) di jalan Allah, yaitu berjihad dengan tangan (kekuatan)
melawan orang-orang kafir. Perlu diketahui bahwa menuntut ilmu agama pun
merupakan bagian yang agung dari jihad di jalan Allah. Sesungguhnya
membela kebenaran dan mematahkan argumentasi kelompok zindiq, ateis,
para missionaris barat yang memerangi Islam dan hendak menghancurkannya,
merupakan jihad yang paling agung di jalan Allah. Tujuan jihad adalah
menegakkan Islam dan menolongnya. Dengan demikian, membendung mereka
termasuk jihad yang besar dan agung. Ya Allah, berilah kaum Muslimin
taufik untuk menolong agama mereka dan meninggikan kalimat-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan permohonan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq
'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2973 |
|
Hadith 53 الحديث
الأهمية: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُولَ الله؟
قَالَ: لا، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُنِي
أَعَافُهُ، قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ، فَأَكَلْتُهُ، وَالنَّبِيُّ
-صلى الله عليه وسلم-
يَنْظُرُ
Tema: Apakah itu haram wahai Rasulullah?
Beliau menjawab, "Tidak, akan tetapi binatang ini tidak ada di wilayah
kaumku sehingga aku merasa tidak menyukainya." Khalid berkata, "Lalu aku
menarik daging itu dan memakannya, sementara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- melihatku."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ -رضي الله عنهما-
قَالَ: «دخلت أنا وخالد بن الوليد مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بيت
ميمونة، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ فَأَهْوَى إلَيْهِ رَسُولُ الله -صلى
الله عليه وسلم- بِيَدِهِ، فقال بعض النِّسْوَةِ في بيت ميمونة: أخبروا
رسول الله بما يريد أن يأكل، فرفع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يده،
فقلت: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: لا، وَلَكِنَّهُ لَمْ
يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ، قال خالد:
فَاجْتَرَرْتُهُ، فَأَكَلْتُهُ، وَالنَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-
يَنْظُرُ».
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-,
ia mengatakan, "Aku dan Khalid bin Walid bersama Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- masuk ke rumah Maimunah. Lalu dihidangkanlah daging
ḍabb (biawak gurun) bakar. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mengulurkan tangan beliau ke daging ini. Maka beberapa wanita yang ada
di rumah Maimunah mengatakan, "Beritahukan pada Rasulullah apa yang
hendak beliau makan." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mengangkat kembali tangan beliau. Aku berkata, "Apakah itu haram wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak, akan tetapi binatang ini tidak ada
di wilayah kaumku sehingga aku merasa tidak menyukainya." Khalid
berkata, "Lalu aku menarik daging itu dan memakannya, sementara Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihatku."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
جَاءَت أُمُّ حَفِيد بِنتُ الحارِث،
وهِي هُزَيلَة بنت الحارث جاءَت إلى أُخْتِهَا مَيْمُونَة زَائِرَةً لَها
ومَعها شَيءٌ من الهدَايا وكان من ضِمْن الهدَايا ضَبٌّ، وقَدْ حَضَرَ
ذَلِكَ الْغَدَاء أَبْنَاءُ أَخوَات ميمونة،
فخالد بن الوليد هُو ابن أُخْتِها؛ ميمُونة خَالَتُه، وعبدالله بن
عباس والفضل بن عباس هي خالتُهما أيضاً.
ولما
وُضِعَ الغَدَاءُ ومَدَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ إلى اللحْمِ
لِيَأْكُل منْه قالت نِسْوَةٌ ممن في البيت أخْبِرُوا رسولَ اللهِ -صلى
الله عليه وسلم- بما يريد أنْ يَأْكُل، فقِيلَ لَه: إنَّه لَحمُ ضب فرفع
يدَه ولم يأكل فقال له خالد: أحرامٌ هو يا رسول الله؟ قَال: لا ولكنه لم
يكُن بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُني أعافُهُ، أي: أتقذر منه قال خالد:
فاجتررته فأكلته والنبي -صلى الله عليه وسلم- ينظر.
Ummu Ḥafīd binti al-Ḥāriṡ, namanya
Huzailah binti al-Ḥāriṡ, datang mengunjungi saudarinya, Maimunah (istri
Nabi). Ia membawa suatu hadiah, yang di antaranya adalah daging ḍabb
(biawak gurun). Hidangan makan siang tersebut dihadiri oleh anak-anak
saudari-saudari Maimunah, yaitu Khalid bin Walid yang merupakan putra
saudari Maimunah, artinya Maimunah adalah bibi Khalid. Juga Abdullah bin
Abbas dan Faḍl bin Abbas yang mana Maimunah merupakan bibi mereka
berdua. Manakala makan siang telah dihidangkan dan Nabi -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- mengulurkan tangannya ke daging untuk memakan
sebagiannya, wanita-wanita yang ada di rumah tersebut berkata,
"Beritahukan pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jenis
hidangan yang ingin beliau makan tersebut!" Maka disampaikan pada beliau
bahwa itu daging ḍabb. Beliau pun menarik kembali tangan beliau dan
tidak memakannya. Khalid bertanya, "Apakah daging ini haram wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak. Hanya saja binatang ini tidak ada
di wilayah kaumku sehingga aku merasa tidak menyukainya." Yakni, beliau
merasa jijik memakannya. Khalid mengatakan, "Lantas aku menarik daging
itu dan memakannya, sementara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
melihatku." |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2974 |
|
Hadith 54 الحديث
الأهمية: كُنَّا عند أبي موسى الأشعريّ -رضي الله
عنه- فَدَعَا بِمَائِدَةٍ، وعليها لَحْمُ دَجَاجٍ
Tema: Kami berada di rumah Abu Musa
Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- lalu dia meminta suguhan hidangan dan di
atasnya daging ayam. |
عن زَهْدَم بن مُضَرِّبٍ الْجَرْمي
قالَ: «كنا عند أبي موسى الأشعري، فدعا بمائدة وعليها لحم دجاج، فدخل رجل
من بني تَيْمِ الله أَحْمَرُ، شَبِيهٌ بِالمَوَالِي، فقال له: هَلُمَّ،
فَتَلَكَّأَ، فقال له: هَلُمَّ، فإني رأيتُ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
يأكل منه».
Dari Zahdam bin Muḍarrib Al-Jarmi, ia
berkata, "Kami berada di rumah Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-
lalu dia meminta suguhan hidangan dan di atasnya daging ayam. Lantas
seorang lelaki dari Bani Taimullāh datang; dia berkulit merah menyerupai
orang non-Arab. Abu Musa Al-Asy'ari berkata kepadanya, "Kemarilah."
Orang itu tetap di tempatnya. Abu Musa Al-Asy'ari berkata lagi,
"Kemarilah. Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- memakannya (daging ayam)."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يروي زَهْدَمُ بن مُضَرِّب الجَرْمِي
أنه كان هو وقوم معه عند أبي موسى الأشعري، فدَعا بمائدَة فجِيء بها إليهم
وعليها لحم دجاج، فدخل رجل مِنْ بَنِي تَيم الله أحْمر اللون شبيه بالموالي
-يعني الأعاجم-، فقال له أبو
موسى داعيًا له إلى الطعام: هلم إلى الغداء فتلكأ وأبى أن يأتي، فقال له
أبو موسى: إني رأيت رسول الله يأكل منه.
Zahdam bin Muḍarrib Al-Jarmi
meriwayatkan bahwa dia bersama kaumnya berada bersama Abu Musa
Al-Asy'ari. Lantas Abu Musa Al-Asy'ari meminta suguhan hidangan untuk
mereka dan di atas hidangan itu ada daging ayam. Tiba-tiba masuklah
seorang lelaki dari Bani Taimullāh berkulit merah menyerupai orang
non-Arab. Abu Musa mengajak orang itu makan, "Mari makan siang." Orang
itu tetap di tempatnya dan menolak untuk datang." Lantas Abu Musa
berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah
memakannya (daging ayam)." |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2975 |
|
Hadith 55 الحديث
الأهمية: قَاتَلَ الله الْيَهُودَ، حُرِّمَتْ
عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ، فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا
Tema: Semoga Allah membinasakan orang-orang
Yahudi, karena telah diharamkan bagi mereka lemak tetapi mereka
mencairkannya lalu menjualnya |
عن عبد الله بن عباسٍ -رضي الله عنهما-
قال: بلغَ عمرَ -رضي الله عنه- أن فلانًا باعَ خمرًا. فقال: قاتلَ الله
فلانًا! ألم يعلم أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال: "قاتلَ الله
اليهودَ، حُرِّمت عليهم الشُّحومُ، فجَمَلُوها، فباعُوها".
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, "Umar -raḍiyallāhu 'anhu- memperoleh berita bahwa
seseorang menjual khamar. Lantas ia berkata, 'Semoga Allah membinasakan
si fulan! Tidakkah dia tahu bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- pernah bersabda, 'Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi,
karena telah diharamkan bagi mereka lemak tetapi mereka mencairkannya
lalu menjualnya'."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
بلغ عمر بن الخطاب -رضي الله عنه-: أن
رجلا أراد التحيُّل على الانتفاع بالخمر من غير شربها فباعها.
وهذه حيلة
مكشوفة محرمة، ولذا فإن عمر -رضي الله عنه- دعا عليه دعاء كدعاء النبي -صلى
الله عليه وسلم- على اليهود المتحيلين فقال: قاتله الله، ألم يعلم أن
التحيُّل حرام؟ لأنه مخادعة اللَه ورسوله، فقد قال النبي -صلى الله عليه
وسلم-: "قاتل الله اليهود، لما حرم الله عليهم الشحوم، عمدوا إلى الانتفاع
بها بالحيلة، إذ غَيَّروا الشحم عن صفته، فأذابوه، ثم باعوه، فأكلوا ثمنه
وقالوا -تحيُّلًا وخداعًا-: "لم نأكل الشحم المحرم علينا" وهم يخادعون الله
وهو خادعهم.
Umar bin al-Khaṭṭab -raḍiyallāhu
'anhu- memperoleh berita bahwa seseorang hendak melakukan tipu muslihat
untuk memanfaatkan khamar tanpa meminumnya kemudian menjualnya. Ini
merupakan tipu muslihat yang jelas dan haram. Untuk itu, Umar
-raḍiyallāhu 'anhu- mendoakan keburukan kepadanya sebagaimana doa buruk
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk orang-orang Yahudi yang
melakukan tipu muslihat. Umar berkata, "Semoga Allah membinasakannya!
Tidakkah dia tahu bahwa tipu muslihat itu haram? Karena merupakan tipuan
terhadap Allah dan Rasul-Nya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda, "Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Ketika Allah
mengharamkan (makan) lemak kepada mereka, mereka sengaja memanfaatkannya
dengan menggunakan tipu muslihat dengan cara mengubah sifat lemak, yaitu
mereka mencairkannya lalu menjualnya dan memakan hasilnya. Mereka -
dengan trik dan tipu daya- berkata, "Kami tidak makan lemak yang
diharamkan kepada kami." Mereka hendak menipu Allah, padahal Allah-lah
yang menipu mereka. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2976 |
|
Hadith 56 الحديث
الأهمية: قال سليمان بن دَاوُد -عليهما السلام-:
لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ على سبعينَ امرأةً، تَلِدُ كُلُّ امرأة منهن
غُلامًا يُقاتل في سبيل الله
Tema: Sulaiman bin Daud -'alaihima as-salām-
berkata, "Sungguh malam ini aku akan menggilir tujuh puluh istriku;
setiap istri akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan berperang di
jalan Allah." |
عن أبي هُريرة -رضي الله عنه- عن
النبيِّ -صلى الله عليه وسلم- قال: "قال سليمان بن داود -عليهما السلام-:
لَأَطُوفنَّ الليلةَ على سَبْعينَ امرأةً، تَلِدُ كلُّ امرأةٍ منهن غُلامًا
يقاتلُ في سبيلِ الله، فقِيل له: قل: إن شاءَ الله، فلم يَقُلْ، فطافَ
بهنَّ، فلم تَلِدْ منهن إلا امرأةٌ واحدةٌ نصفَ إنسانٍ". قال: فقال رسولُ
الله -صلى الله عليه وسلم-: "لو قالَ: إن شاء الله لم يَحْنَثْ، وكان
دَرَكًا لحاجتهِ".
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-,
dari Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sulaiman
bin Daud -'alaihima as-salām- berkata, 'Sungguh malam ini aku akan
menggilir tujuh puluh istriku; setiap istri akan melahirkan seorang anak
lelaki yang akan berperang di jalan Allah.' Seseorang berkata,
'Ucapkanlah, 'InsyāAllah.' Namun, Sulaiman tidak mengucapkannya. Lantas
dia menggilir mereka. Ternyata tidak ada seorang istri pun yang
melahirkan kecuali seorang istri yang melahirkan anak setengah
manusia'." Abu Hurairah berkata, "Lantas Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi
wa sallam- bersabda, "Seandainya dia mengucapkan, 'Insyā Allah' tentu
dia tidak akan melanggar sumpahnya dan ia akan memperoleh keinginannya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
قال نبي الله سليمان -عليه السلام-
لجلِيسِه: إنه سيطوف في ليلة واحدة عَلى سَبعين امرأةٍ من زوجاته
ويُجامعهن، وكان التعدد بهذا القدر جائزًا في شريعته أو من خصائصه، والنية
أن تَلِدَ كُلُّ واحدة منهنَّ غُلاماً يُقَاتِل في سبيل الله -تعالى-، فقال
له جليسُه: قل: إن شاء الله، فنسي ولم يقل وطاف بنسائِه كما قال، ولم تَلِد
منهنَّ إلا امْرأة واحدة نصفَ إنسانٍ، أي سقطًا غير مكتمل الخلقة، وقد أخبر
النبي -صلى الله عليه وسلم-
أنَّ سليمان -عليه السلام- لَو قال: إن شاء الله، لم يحنث في يمينه، ولكَان
قوله هذا سبباً لإدْرَاكِ حَاجَتِه وتحقيق رغبته.
Nabiyullāh Sulaimān -'alaihi as-salām-
berkata kepada teman duduknya bahwa dalam satu malam dia akan menggilir
tujuh puluh istrinya dan menyetubuhi mereka. Saat itu, memiliki banyak
istri dengan jumlah tersebut dibolehkan dalam syariatnya atau termasuk
kekhususannya. Niat dia agar setiap istri melahirkan seorang anak yang
akan berperang di jalan Allah - Ta'āla-. Teman duduknya berkata,
"Ucapkanlah Insya Allah." Ternyata Sulaiman lupa dan tidak
mengucapkannya. Ia menggilir istri-istrinya sebagaimana diucapkannya dan
tidak ada seorang pun dari istrinya yang melahirkan kecuali seorang
istri yang melahirkan anak setengah manusia. Yakni, gugur dalam keadaan
fisiknya tidak sempurna. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan
bahwa jika Sulaiman -'alaihi as-salām- mengucapkan "InsyāAllah" niscaya
dia tidak akan melanggar sumpahnya, dan ucapan ini pasti menjadi sebab
kebutuhannya terpenuhi dan hasratnya terwujud. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2977 |
|
Hadith 57 الحديث
الأهمية: أنَّ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم-
قَسَمَ فِي النَّفَلِ: لِلْفَرَسِ سَهْمَيْنِ، وَلِلرَّجُلِ سَهْمًا
Tema: Bahwasannya Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam-membagikan harta rampasan perang untuk tentara berkuda
dua bagian dan untuk tentara pejalan kaki satu bagian. |
عن عبد الله بن عمر-رضي الله عنهما-
«أَنَّ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قَسَمَ فِي النَّفَلِ:
لِلْفَرَسِ سَهْمَيْنِ، وَلِلرَّجُلِ سَهْمًا».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā-, "Bahwasannya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam-membagikan harta rampasan perang untuk tentara berkuda dua bagian
dan untuk tentara pejalan kaki satu bagian."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يخبر عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قسم في النفل للفرس سهمين وللرجل سهماً، أي
أن المجاهد الذي يشارك في الحرب بقرسه يأخذ ثلاثة أضعاف من يشارك بلا فرس،
ذلك بأن غَنَاء وإثخان الفرس في الحرب أكثر من غَنَاء وإثخان الرجل وحده
بدون فرس، وقد أشار إلى ذلك القرآن الكريم حيث يقول الله -عز وجل-:
(فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحاً فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعاً فَوَسَطْنَ بِهِ
جَمْعاً) [العاديات: 3- 5]، في هذا تنويه بالخيل، وإشارة إلى غنائها في
الحرب، وقد قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: (الخيل في نواصيها الخير إلى
يوم القيامة) رواه بلفظه: البخاري (ح2849) ومسلم (ح1871).
Tema: Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
membagikan harta rampasan perang untuk tentara berkuda dua bagian dan
untuk tentara pejalan kaki satu bagian. Maksudnya, seorang mujahid yang
ikut berperang dengan kudanya mendapatkan tiga kali lipat bagian mujahid
yang tidak berkuda. Hal itu karena kegunaan dan kekuatan tentara berkuda
dalam pertempuran lebih banyak dari kegunaan dan kekuatan seorang
tentara tanpa kuda. Hal itu sebagaimana diisyaratkan oleh Alquran
al-Karim di mana Allah -`Azza wa Jalla- berfirman, "Dan kuda yang
menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi, sehingga menerbangkan
debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-'Ādiyāt: 3-5).
Ini mengandung pujian terhadap kuda dan isyarat kegunaannya dalam
pertempuran. Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kuda (yang
digunakan jihad fi sabilillah) di ubun-ubunnya termaktub mendatangkan
kebaikan sampai hari kiamat." Diriwayatkan oleh Bukhari dengan lafalnya
(2849), dan Muslim (1871). |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2978 |
|
Hadith 58 الحديث
الأهمية: أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ
فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ
Tema: Simpanlah sebagian hartamu karena itu
lebih baik bagimu |
عن كَعْب بن مالك -رضي الله عنه- قال:
قلتُ: يا رسولَ الله، إن مِن تَوبتي أن أَنْخَلِعَ مِنْ مالي؛ صدقةً إلى
الله وإلى رسولِه، فقال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم-: "أمسِكْ عليك
بعضَ مالِكَ؛ فهو خيرٌ لكَ".
Dari Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai
bentuk taubatku, aku akan mengeluarkan seluruh hartaku sebagai sedekah
kepada Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda, "Simpanlah sebagian hartamu karena itu lebih baik bagimu."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
كان كعب بن مالك الأنصاري -رضي الله
عنه- أحد الثلاثة الذين خُلِّفُوا عن غزوة تبوك بلا نفاق ولا عذر، فلما رجع
النبي -صلى الله عليه وسلم- من تلك الغزوة، هجرهم، وأمر أصحابه بهجرهم،
ومازالوا مهجورين، حتى نزلت توبتهم ورضي الله عنهم، فرضي الرسول والصحابة،
فكان من شدة فرح كعب برضا الله عنه وقبول توبته أن أراد أن يتصدق بكل ماله
لوجه الله -تعالى-، فأرشده النبي -صلى الله عليه وسلم- إلى غير ذلك بأن
يمسك بعض ماله، فالله -تعالى- لما علم صدق نيته وحسن توبته، غفر له ذنبه،
وتجاوز عنه، ولو لم يفعل هذا، فالله لا يكلف نفساً إلا وسعها، وقد أنفق بعض
ماله، فرحا برضا الله -تعالى-، وليجد ثوابه مُدَّخراً عنده وأبقى بعضه،
ليقوم بمصالحه ونفقاته الواجبة من مؤونة نفسه، ومؤونة من يعول، والله رؤوف
بعباده.
Ka'ab bin Mālik al-Anṣāri -raḍiyallāhu
'anhu-, satu dari tiga orang yang tidak ikut perang Tabuk tanpa ada
kemunafikan dan alasan. Tatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
kembali dari perang tersebut, beliau pun mengucilkan mereka dan menyuruh
para sahabat untuk isolasi mereka. Mereka terus-menerus tidak diajak
bicara sampai turun penerimaan taubat mereka sehingga Rasul dan para
sahabat pun rida. Karena sangat gembira dengan keridaan Allah dan
penerimaan taubat, Ka'ab pun hendak menyedekahkan seluruh hartanya
karena Allah -Ta'āla-. Lantas Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menunjukannya kepada hal lain agar dia menyimpan sebagian hartanya.
Sebab, ketika Allah -Ta'āla- mengetahui niatnya yang benar dan taubatnya
yang baik, Dia pun mengampuni dosanya dan memaafkannya meskipun dia
tidak bersedekah. Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai
kesanggupannya. Akhirnya ia menginfakkan sebagian hartanya karena senang
dengan keridaan Allah -Ta'āla- dan supaya mendapatkan pahala sedekahnya
di sisi-Nya, dan dia menyisakan sebagian harta tersebut untuk digunakan
bagi kepentingannya, dan nafkahnya yang wajib berupa biaya dirinya
sendiri dan biaya orang yang menjadi tanggungannya. Allah Maha Belas
kasihan kepada hamba-hamba-Nya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2979 |
|
Hadith 59 الحديث
الأهمية: مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ
يَقْتَطِعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، هُوَ فِيهَا فَاجِرٌ، لَقِيَ
الله -عَزَّ وَجَلَّ- وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ
Tema: Siapa bersumpah dengan sumpah yang
memaksa untuk merebut harta seorang Muslim, sedangkan dia berdusta dalam
sumpahnya tersebut, niscaya ia bertemu Allah dalam keadaan Dia murka
kepadanya |
عن الأشعث بنِ قيسٍ قال: كان بيني وبين
رجُلٍ خُصومةٌ في بئرٍ، فاخْتصمْنا إلى رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم-
فقال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم-: "شاهِداك، أو يمينهُ"، قلتُ: إذًا
يحلِف ولا يُبالي! فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: "مَن حَلف على
يمينِ صَبْرٍ، يَقْتَطِعُ بها مالَ امرىءٍ مُسلمٍ، هو فيها فاجِرٌ، لَقِيَ
الله وهو عليه غضبانُ".
Dari Al-Asy'aṡ bin Qais, ia berkata,
"Terjadi pertengkaran antara aku dengan seorang lelaki mengenai sumur.
Lalu kami mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam-. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda, "Siapa dua orang saksimu atau orang itu menyatakan sumpahnya."
Aku berkata, "Jika demikian, tentu dia mau bersumpah dan dia tidak
mempedulikan aku!" Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda, "Siapa bersumpah dengan sumpah yang memaksa untuk merebut
harta seorang Muslim, sedangkan dia berdusta dalam sumpahnya tersebut,
niscaya ia bertemu Allah dalam keadaan Dia murka kepadanya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
هذا الحديث تضَمَّن قصة
الأَشْعَث بن قَيْس حين تشاجَرَ مع خَصْم لَهُ بِسبب بِئْرٍ
فتحَاكَمَا إلى رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم- فقال رسول الله -صلى الله
عليه وسلم-:" شَاهِدَاكَ أَوْ يَمِينُهُ"، فظَن الأشعَث بنُ قَيْسٍ أنّ
خَصْمَهُ يَحْلِف ولا يهمُّه ما الإثمُ في ذلك فأخْبَرَ رسولَ الله -صلى
الله عليه وسلم- بذلك فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: "مَنْ حَلَفَ عَلَى
يَمِينِ صَبْرٍ يَقْتَطِعُ......الحديث
وفي هذا
الحديث وعيد شديد لمن اقتطع مال امرئ بغير حق، وإنما اقتطعه وأخذه بخصومته
الفاجرة، ويمينه الكاذبة الآثمة، فهذا يلقى الله وهو عليه غضبان، ومن غضب
اللَه عليه فهو هالك.
Hadis ini berisi kisah Al-Asy'aṡ bin
Qais ketika berselisih dengan lawannya disebabkan sumur. Lantas keduanya
mengajukan perkara ini kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam - bersabda, "Siapa dua orang
saksimu atau orang itu menyatakan sumpahnya." Al-Asy'aṡ bin Qais menduga
bahwa lawannya tentu mau bersumpah dan tidak mempedulikan dosa dalam hal
itu. Lantas ia mengabarkan hal tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam-. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Siapa yang bersumpah dengan sumpah yang memaksa untuk merebut harta
seorang Muslim... dan seterusnya. Dalam hadis ini terdapat ancaman keras
bagi orang yang mengambil harta seseorang tanpa hak. Ia mengambil dan
merampasnya dengan memperkarakannya secara curang, sumpahnya dusta dan
berbuat dosa. Orang ini akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan Dia
murka kepadanya. Orang yang dimurkai Allah pasti binasa. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2980 |
|
Hadith 60 الحديث
الأهمية: عَبْدِي بَادَرَنِي بِنَفْسِهِ،
حَرَّمْت عَلَيْهِ الْجَنَّة
Tema: Hamba-Ku mendahului-Ku dengan
(membunuh) dirinya, maka Aku haramkan baginya surga.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
جُنْدُبُ بن عبد اللهِ البجلي -رضي الله
عنه- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم -: «كان فيمن كان
قبلكم رجل به جُرْحٌ فَجَزِعَ؛ فأخذ سكِّينا فحَزَّ بها يده، فما رَقَأَ
الدم حتى مات، قال الله -عز وجل-: عبدي بَادَرَنِي بنفسه، حرمت عليه
الجنة».
Jundub bin Abdillah al-Bajali
-raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki di antara umat sebelum kalian yang
terluka. Ia tidak sabar lalu ia mengambil sebilah pisau kemudian
memotong tangannya yang mengakibatkan darahnya mengalir dan tidak
berhenti hingga dia meninggal dunia. Lantas Allah -'Azza wa Jalla-
berfirman, "Hamba-Ku mendahului-Ku dengan (membunuh) dirinya, maka Aku
haramkan surga untuknya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
حدَّثَ النبي -صلى الله عليه وسلم-
أصحابَه عن رجلٍ كان فيْمَن قَبلَنا من الأمم الماضية فيه جُرْحٌ مؤلمٌ
جَزِع منه، فأَيِسَ من رحمة الله -تعالى- وشفائه، ولم يصبر على ألمه رجاءَ
ثوابه؛ لضعفِ داعي الإيمان واليقين في قلبه، فأخذ سكيناً فقطع بها يده،
فأصابه نزيف في دمه، فلم يرقأْ وينقطع حتى مات.
قال الله
-تعالى- ما معناه: هذا عبدي استبطأ رحمتي وشفائي، ولم يكن له جَلَدٌ على
بلائي؛ فعَجَّل إليَّ نفسَه بجنايته المحرمة، وظنَّ أنه قصَّر أجله بقتله
نفسه؛ لذا فقد حرمت عليه الجنة، ومن حرم الجنة؛ فالنار مثواه.
ولا شك في
علم الله -تعالى- السابق ومشيئته وقضائه لفعل هذا القاتل.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menuturkan kepada para sahabatnya mengenai seorang lelaki dari umat
terdahulu sebelum kita. Ia menderita luka menyakitkan yang membuatnya
tidak sabar kemudian putus asa dari rahmat Allah -Ta'ālā- dan
kesembuhan-Nya. Dia juga tidak sabar terhadap rasa sakitnya demi
mengharap pahala-Nya, karena lemahnya motif iman dan keyakinan dalam
hatinya. Lantas ia mengambil sebilah pisau lalu memotong tangannya
sehingga ia mengalami lemas karena pendarahan. Darah itu mengalir terus
dan tidak berhenti hingga ia meninggal dunia. Allah -Ta'ālā- berfirman
yang artinya, "Inilah hamba-Ku, dia menganggap lambat rahmat dan
kesembuhan-Ku, dan tidak memiliki ketabahan terhadap ujian-Ku. Sehingga
ia menyegerakan dirinya kepada-Ku (bunuh diri) dengan kejahatannya yang
diharamkan. Dia mengira bahwa dirinya telah memendekkan ajalnya dengan
bunuh diri. Sebab itu, Aku mengharamkan surga untuknya. Barangsiapa yang
diharamkan baginya surga, maka neraka sebagai tempat tinggalnya. Tidak
ada keraguan dalam ilmu Allah -Ta'ālā- yang terdahulu dan kehendak serta
keputusan-Nya terkait perbuatan pembunuh tersebut. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2981 |
|
Hadith 61 الحديث
الأهمية: أَنَّ رَسُولَ الله-صلى الله عليه وسلم-
كَانَ يُنَفِّلُ بَعْضَ مَنْ يَبْعَثُ فِي السَّرَايَا لأَنْفُسِهِمْ
خَاصَّةً سِوَى قَسْمِ عَامَّةِ الْجَيْشِ
Tema: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam- memberikan tambahan (harta rampasan) kepada sebagian orang yang
beliau utus dalam peperangan untuk diri mereka secara khusus selain
bagian yang didapat semua pasukan. |
عن عَبْدُ الله بن عمر-رضي الله عنهما-
«أَنَّ رَسُولَ الله-صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُنَفِّلُ بَعْضَ مَنْ
يَبْعَثُ فِي السَّرَايَا لأَنْفُسِهِمْ خَاصَّةً سِوَى قَسْمِ عَامَّةِ
الْجَيْشِ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhu-, "Bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan
tambahan (harta rampasan) kepada sebagian orang yang beliau utus dalam
peperangan untuk diri mereka secara khusus selain bagian yang didapat
semua pasukan."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يخبر عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان يُنَفِّل بعضَ مَن يبعث في السرايا
لأنفسهم خاصة، أي: يعطيهم نسبةً مما غنموا خاصة بهم دون سائر الجيش؛ وذلك
تشجيعاً وحفزاً لهم على الجهاد.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
memberi tambahan bagian kepada sebagian pasukan yang beliau utus dalam
peperangan untuk diri mereka secara khusus. Maksudnya, beliau memberi
mereka secara khusus persentase harta yang berhasil mereka rampas, yang
tidak diberikan kepada anggota pasukan lainnya. Ini untuk memotivasi dan
memompa semangat jihad mereka. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2982 |
|
Hadith 62 الحديث
الأهمية: كَانَتْ أَمْوَالُ بَنِي النَّضِيرِ:
مِمَّا أَفَاءَ الله عَلَى رَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا لَمْ
يُوجِفْ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ بِخَيْلٍ وَلا رِكَابٍ
Tema: Harta benda Bani Naḍīr adalah fa`i
(pemberian Allah) kepada Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat
kaum Muslimin tidak memacu kuda dan kendaraan perang |
عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال:
«كانت أموال بَنِي النَّضِيرِ: مِمَّا أَفَاءَ الله على رسوله -صلى الله
عليه وسلم- مِمَّا لم يُوجِفْ الْمسلمون عليه بِخَيْلٍ وَلا رِكَابٍ وكانت
لرسول الله خالصاً، فكان رسول الله-صلى الله عليه وسلم- يَعْزِلُ نفقة
أَهْلِهِ سَنَةً، ثُمَّ يجعل مَا بقي في الْكُرَاعِ، وَالسلاحِ عُدَّةً فِي
سبيل الله -عز وجل-».
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, "Harta benda Bani Naḍīr adalah fa`i (pemberian
Allah) kepada Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat kaum
Muslimin tidak memacu kuda dan kendaraan perang. Harta fa`i itu murni
milik Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau menyisihkan
untuk nafkah keluarganya selama setahun, dan sisanya untuk tungganggan
dan peralatan perang di jalan Allah."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
لما قدم النبي -صلى الله عليه وسلم-
المدينة مهاجراً، وجد حولها طوائف من اليهود، فوادعهم وهادنهم، على أن
يبقيهم على دينهم، ولا يحاربوه، ولا يعينوا عليه عَدُوا.
فقتل رجل
من الصحابة يقال له عمرو بن أمية الضمري -رضي الله عنه- رجلين من بنى عامر،
يظنهما من أعداء المسلمين.
فتحمل
النبي -صلى الله عليه وسلم- دية الرجلين، وخرج إلى قرية بنى النضير
يستعينهم على الديتين.
فبينما هو
جالس في أحد أسواقهم ينتظر إعانتهم، إذ نكثوا العهد وأرادوا قتله.
فجاءه
الوحي من السماء بغدرهم، فخرج من قريتهم مُوهِماً لهم وللحاضرين من أصحابه
أنه قام لقضاء حاجته، وتوجه إلى المدينة.
فلما أبطأ
على أصحابه، خرجوا في أثره فأخبرهم بغدر اليهود- قبَّحَهُمُ الله تعالى-
وحاصرهم في قريتهم ستة أيام، حتى تمَّ الاتفاق على أن يخرجوا إلى الشام
والحِيرَة وخَيبَرَ.
فكانت
أموالهم فَيْئاً بارداً، حصل بلا مشقة تلحق المسلمين، إذ لم يُوجِفُوا عليه
بخيل ولا ركاب.
فكانت
أموالهم لله ولرسوله، يَدَخِّرُ منها رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قوت
أهله لمدة سنة، ويصرف الباقي في مصالح المسلمين العامة، وأولاها في ذلك
الوقت عُدةُ الجهاد من الخيل والسلاح، ولكل وقت ما يناسبه من المصارف
للمصالح العامة.
Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi
wa sallam- hijrah ke Madinah, maka beliau menemukan beberapa komunitas
Yahudi. Beliau berdamai dengan mereka, yaitu dengan membiarkan mereka
tetap di atas ajaran agama mereka, mereka tidak boleh memeranginya, dan
tidak menolong musuh-musuhnya untuk mengalahkannya. Seorang sahabat yang
bernama 'Amru bin Umayyah Aḍ-Ḍamri -raḍiyallāhu 'anhu- membunuh dua
orang dari Bani 'Āmir yang keduanya dikira sebagai musuh kaum Muslimin.
Maka Rasulullah lah yang menanggung diat kedua orang tersebut dan beliau
keluar menuju perkampungan Bani Naḍīr untuk meminta bantuan mereka guna
membayar diat dua orang yang terbunuh. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu
'alaihi wa sallam- duduk-duduk di pasar mereka sambil menanti bantuan
mereka, tiba-tiba mereka merusak perjanjian dan hendak membunuh beliau.
Seketika itu datanglah wahyu dari Allah memberitahukan pengkhianatan
mereka. Maka, beliau segera keluar meninggalkan perkampungan mereka
dengan memperlihatkan kepada mereka dan para sahabat seolah-olah beliau
ingin membuang hajat, dan langsung menuju Madinah. Ketika sudah lama
beliau belum juga kembali, maka para sahabat menyusul beliau, maka
beliau pun memberitahukan kepada mereka bahwa orang-orang Yahudi itu
telah berkhianat dan bersekongkol -semoga Allah menjelekkan mereka-
hendak membunuh beliau. Setelah itu beliau mengepung perkampungan Yahudi
Bani Naḍīr selama enam hari sampai ada kesepakatan mereka harus pergi ke
Syām, Ḥirah, dan Khaibar. Dan harta benda mereka menjadi fa`i (rampasan)
tanpa perang dan susah payah kaum Muslimin, karena mereka tidak memacu
kuda dan kendaraan perang. Harta benda orang Yahudi itu menjadi milik
Allah dan Rasul-Nya. Lalu Rasulullah menyediakan nafkah setahun untuk
keluarganya. Dan sisanya untuk kepentingan umum kaum Muslimin, terutama
sekali pada waktu itu adalah peralatan perang, seperti kuda dan senjata.
Dan setiap masa pasti ada hal yang paling sesuai dalam rangka memenuhi
kepentingan umum ini. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2983 |
|
Hadith 63 الحديث
الأهمية: مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ
الله عَلَيْهِ، فَكُلُوهُ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ، وَسَأُحَدِّثُكُمْ
عَنْ ذَلِكَ، أَمَّا السِّنُّ: فَعَظْمٌ، وَأَمَّا الظُّفْرُ: فَمُدَى
الْحَبَشَةِ
Tema: (Alat) apa saja yang dapat mengalirkan
darah dan disebut Nama Allah (pada saat menyembelih hewan) maka makanlah
(sembelihan itu), asalkan tidak menggunakan gigi dan kuku. Aku akan
ungkapkan pada kalian penyebabnya; adapun gigi merupakan tulang
sedangkan kuku adalah pisaunya orang Habasyah. |
عن رَافِع بْن خَدِيج -رضي الله عنه-
قال: «كُنَّا مَعَ رَسُولِ الله-صلى الله عليه وسلم- بِذِي الْحُلَيْفَةِ
مِنْ تِهَامَةَ، فَأَصَابَ النَّاسَ جُوعٌ فَأَصَابُوا إبِلاً وَغَنَماً،
وَكَانَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- فِي أُخْرَيَاتِ الْقَوْمِ،
فَعَجِلُوا وَذَبَحُوا وَنَصَبُوا الْقُدُورَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ -صلى
الله عليه وسلم- بِالْقُدُورِ فَأُكْفِئَتْ، ثُمَّ قَسَمَ فَعَدَلَ
عَشَرَةً مِنْ الْغَنَمِ بِبَعِيرٍ، فَنَدَّ مِنْهَا بَعِيرٌ فَطَلَبُوهُ
فَأَعْيَاهُمْ، وَكَانَ فِي الْقَوْمِ خَيْلٌ يَسِيرَةٌ، فَأَهْوَى رَجُلٌ
مِنْهُمْ بِسَهْمٍ، فَحَبَسَهُ الله، فَقَالَ: إنَّ لِهَذِهِ الْبَهَائِمِ
أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الْوَحْشِ، فَمَا نَدَّ عَلَيْكُمْ مِنْهَا
فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا، قُلْتُ: يَا رَسُولُ الله، إنَّا لاقُو
الْعَدُوِّ غَداً، وَلَيْسَ مَعَنَا مُدىً، أَفَنَذْبَحُ بِالْقَصَبِ؟
قَالَ: مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ الله عَلَيْهِ، فَكُلُوهُ،
لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ، وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ، أَمَّا
السِّنُّ: فَعَظْمٌ، وَأَمَّا الظُّفْرُ: فَمُدَى الْحَبَشَةِ».
Dari Rāfi' bin Khadīj -raḍiyallāhu
'anhu- ia berkata, "Kami pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi
wa sallam- di Żul Ḥulaifah di Tihāmah. Orang-orang merasa lapar, lalu
mereka mendapatkan unta dan kambing. Sementara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi
wa sallam- berada di barisan belakang orang-orang ini. Mereka tidak
sabar, menyembelih dan menyiapkan periuk-periuk (untuk memasaknya).
Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan supaya
periuk-periuk itu ditumpahkan isinya. Kemudian beliau membagi (ganimah
tersebut) sama rata di mana bagian 10 ekor kambing sama dengan 1 ekor
unta. Tetapi kemudian ada seekor unta yang lari, mereka mengejarnya
hingga kelelahan. Sementara itu di antara mereka hanya ada sedikit kuda.
Lantas salah seorang dari mereka yang membidiknya dengan anak panah
hingga akhirnya Allah menakdirkannya dapat membunuh unta tersebut. Maka
beliau bersabda, "Sesungguhnya binatang-binatang ini memiliki sifat liar
seperti sifat liar binatang buas. Maka jika di antara binatang ini yang
melarikan diri, lakukanlah kepadanya seperti ini." Aku berkata, "Wahai
Rasulullah, kita akan bertemu musuh esok hari sementara kita tidak
memiliki pisau. Bolehkah kita menyembelih dengan tongkat?" Beliau
menjawab, "Apa yang bisa menumpahkan darah dengan disebut nama Allah
maka makanlah, kecuali yang ditumpahkan dengan gigi dan kuku. Aku akan
ungkapkan pada kalian akan sebabnya; gigi termasuk tulang sedangkan kuku
adalah pisau bangsa Habasyah (Ethiopia).
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يخبر رافع بن خديج -رضي الله عنهما-
أنهم كانوا في غزوة من الغزوات مع النبي -صلى الله عليه وسلم- بمكان يقال
له: ذو الحليفة، وأنهم أصابوا نعماً كثيرة، فذبحوا من تلك النعم قبل قسمته
ولم ينتظروا القسمة، وكان النبي -صلى الله عليه وسلم- متأخراً فأتى إليهم
وقد نصبوا القدور، فعمد إلى القدور فكفأها ورملها، أي: حشاها بالتراب،
وقال: إن النهبة ليست بأحل من الميتة، ثم قسم فعدل البعير بعشر من الغنم،
وحينئذ ذبح كل منهم مما أصاب، أي: من نصيبه الخاص به، ففر بعير منها ولم
يقدروا عليه؛ لقلة الخيل، ورماه رجل بسهم فحبسه الله، فقال النبي -صلى الله
عليه وسلم-: إن لهذه البهائم أوابد كأوابد الوحش، فما ند عليكم منها
فاصنعوا به هكذا.
ثم سألوا
النبي -صلى الله عليه وسلم- عن الذبح بأي وسيلة، فأخبرهم أن كل ما يسيل
الدم، واقترن مع الذبح التسمية، فهو مما يجوز الأكل به، ولكن الظفر سواء
كان متصلًا بيد الإنسان أو منفصلًا
من إنسان أو غيره فلا يجوز؛ لأنها سكاكين الكفار، وكذلك السن لا
تجوز التذكية به؛ لأنه عظم.
Rāfi' bin Khadīj -raḍiyallāhu 'anhu-
mengabarkan bahwa mereka sedang dalam sebuah peperangan bersama
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sebuah tempat bernama Żul
Ḥulaifah, dan mereka mendapatkan banyak hewan (rampasan perang, red).
Mereka menyembelih sebagian binatang ini sebelum dibagi dan tidak
menunggu pembagian. Sementara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada
di belakang. Lalu beliau datang kepada mereka ketika mereka telah
menyiapkan periuk. Beliau menuju periuk-periuk ini lalu menumpahkannya
dan mengisinya dengan debu, dan bersabda, "Sesungguhnya barang rampasan
tidak lebih halal dibanding bangkai." Kemudian beliau membagi dengan
menyamakan 1 ekor unta dengan 10 ekor kambing. Saat itulah,
masing-masing mereka menyembelih apa yang diperoleh dari bagian yang
khusus untuknya. Lalu seekor unta lari dan mereka tidak dapat mengejar
karena minimnya kuda. Akhirnya seseorang membidiknya dengan anak panah,
dan akhirnya Allah menakdirkannya dapat membunuh unta tersebut. Maka
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya
binatang-binatang ini memiliki sifat liar seperti sifat liar binatang
buas. Maka bila ada dari binatang ini yang melarikan diri, lakukanlah
kepadanya seperti ini!" Kemudian mereka bertanya kepada Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang alat menyembelih. Beliau
memberitahukan bahwa setiap alat yang bisa menumpahkan darah dan
menyembelih disertai dengan menyebut nama Allah, maka binatang yang
disembelih boleh dimakan. Akan tetapi kuku yang masih bersambung dengan
manusia maupun terpisah tidak boleh untuk menyembelih, karena kuku
adalah pisau orang-orang kafir. Demikian pula gigi tidak boleh
dipergunakan untuk menyembelih. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2984 |
|
Hadith 64 الحديث
الأهمية: لا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلا
الدِّيبَاجَ، وَلا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلا
تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهِمَا؛ فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ
فِي الآخِرَةِ
Tema: Janganlah kalian memakai sutra dan
pakaian dari sutra! Janganlah kalian minum di wadah emas dan perak!
Jangan pula makan di piring emas dan perak! Sesungguhnya barang-barang
itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di
akhirat. |
عن حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ -رضي
الله عنهما- مرفوعاً: «لا تلْبَسُوا الحرير ولا الديباج، ولا تشربوا في
آنية الذهب والفضة ولا تأكلوا في صِحَافِهِمَا؛ فإنَّهَا لهم في الدنيا
ولكم في الآخرة».
Dari Hużaifah bin Al-Yamān
-raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Janganlah kalian memakai sutra dan
pakaian dari sutra! Janganlah kalian minum di wadah emas dan perak!
Jangan pula makan di piring emas dan perak! Sesungguhnya barang-barang
itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di
akhirat."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
نهى النبي -صلى الله عليه وسلم- الرجال
عن لُبس الحرير والديباج؛ لما في لبسهما للذكَر من الميوعة والتأنث،
والتشبه بالنساء الناعمات المترفات.
والرجل
يطلب منه الخشونة والقوة والفتوة.
كما نهى
كُلًّا من الرجال والنساء عن الأكل والشرب في صِحَاف الذهب والفضة
وآنيتهما؛ والحكمة كما قال -صلى الله عليه وسلم-: أن الأكل فيهما في الدنيا
للكفار الذين تعجلوا طيباتهم في حياتهم الدنيا، واستمتعوا بها، وهي لكم
-أيها المسلمون خالصة- يوم القيامة إذا اجتنبتموها؛ خوفاً من الله -تعالى-
وطمعًا فيما عنده، فمنعًا من التشبه بهم وامتثالًا لأمر الله -تعالى-
حُرِّمت.
كما أن من
لبس الحرير من الرجال في الدنيا فقد تعجل متعته؛ ولذا فإنه لن يلبسه في
الآخرة، ومن تعجل شيئاً قبل أوانه بطريق محرم عوقب بحرمانه والله شديد
العقاب.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
melarang para lelaki memakai sutra dan pakaian dari sutra, karena jika -
lelaki- memakai keduanya akan menimbulkan kemayu dan sifat feminim,
serta menyerupai para wanita yang lembut dan genit. Padahal lelaki itu
dituntut untuk keras, kuat dan perkasa. Beliau juga melarang laki-laki
dan perempuan makan dan minum di piring dan bejana dari emas dan perak.
Hikmahnya sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,
"Sesungguhnya makan di atas wadah dari emas dan perak di dunia untuk
orang-orang kafir yang menyegerakan hal-hal yang baik untuk mereka dalam
kehidupan dunia dan mereka menikmatinya. Sedangkan bejana-bejana itu
untuk kalian -wahai kaum Muslimin yang tulus- pada hari kiamat jika
kalian menghindarinya karena takut kepada Allah -Ta'ālā-, terobsesi
dengan apa yang ada di sisi-Nya. Keduanya diharamkan demi mencegah
tindakan menyerupai mereka dan untuk melaksanakan perintah Allah
-Ta'ālā-. Para lelaki yang mengenakan sutra di dunia, maka ia telah
menyegerakan kesenangannya. Karena itu, dia tidak akan memakainya di
akhirat. Barangsiapa tergesa-gesa kepada sesuatu sebelum waktunya dengan
cara yang haram, maka dia dihukum dengan cara tidak akan memperolehnya.
Sungguh, Allah Mahakeras siksaan-Nya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2985 |
|
Hadith 65 الحديث
الأهمية: لا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ؛ فَإِنَّهُ
مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الآخِرَةِ
Tema: Janganlah kalian mengenakan sutra,
karena sungguh orang yang mengenakannya di dunia tidak akan
mengenakannya di akhirat. |
عن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: «لا تَلْبَسُوا الحَرِير؛
فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ في الدنيا لم يَلبَسه في الآخرة».
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu
'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Jangan kalian mengenakan sutra, karena sungguh orang yang mengenakannya
di dunia tidak akan mengenakannya di akhirat."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
في هذا الحديث نهي عن لبس الحرير
للرجال، وأن عقوبة لابسه أنه لا يلبسه في الآخرة؛ لأن الجزاء من جنس العمل.
Hadis ini mengandung larangan
mengenakan sutra bagi laki-laki, dan sangsi bagi orang yang nekat
mengenakannya ialah ia tidak akan mengenakannya di akhirat, karena
balasan itu sejenis dengan perbuatan. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2986 |
|
Hadith 66 الحديث
الأهمية: لا يُجْلَدُ فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ
إلاَّ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ الله
Tema: Seseorang tidak boleh dicambuk lebih
dari sepuluh kali cambukan kecuali saat melaksanakan salah satu had di
antara had-had Allah. |
عن أبي بردة هانئ بن نيار البلوي -رضي
الله عنه-: أنه سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «لا يُجْلَدُ فوق
عشَرة أَسْواط إلا في حَدٍّ مِن حُدود الله».
Dari Abu Burdah, Hāni` bin Niyār
Al-Balawi -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa dia mendengar Rasulullah
-ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bersabda, “Seseorang tidak boleh dicambuk
lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali saat melaksanakan salah satu
had di antara had-had Allah.”
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يراد بحدود الله -تعالى- أوامره
ونواهيه، فهذه لها عقوبات رادعة عنها، إما مقدرة، كالزنا والقذف أو غيره
مقدرة، كالإفطار في نهار رمضان، ومنع الزكاة، وغير ذلك من قبل المحرمات، أو
ترك الواجبات.
وهناك
تأديبات وتعزيرات للنساء والصبيان، لغير معصية الله، إنما تفعل لتقويمهم
وتهذيبهم، فهذه لا يزاد فيها على عشرة أسواط، ما داموا لم يتركوا واجبًا من
واجبات دينهم، أو يفعلوا محرمًا عليهم من ربهم.
Yang dimaksud had-had Allah -Tā'alā-
di sini adalah perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya yang
apabila dilanggar maka memiliki hukuman yang membuat jera. Adakalanya
jenis hukuman itu ditentukan, seperti hukuman berzina, menuduh zina;
ataupun tidak ditentukan secara tegas, seperti hukuman makan di siang
hari bulan Ramadan, menolak zakat dan hal-hal haram lainnya; atau karena
meninggalkan kewajiban. Di samping itu ada hukuman yang bersifat
pembinaan dan takzir untuk anak-anak dan wanita lantaran adanya
pelanggaran selain maksiat yang mereka lakukan. Hukuman jenis ini
dijatuhkan pada mereka dengan tujuan meluruskan dan mendidik, sehingga
tidak boleh dihukum dengan cambukan lebih dari sepuluh kali cambukan
selama mereka tidak meninggalkan kewajiban agama atau melakukan larangan
Rabb mereka. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2987 |
|
Hadith 67 الحديث
الأهمية: لايَحْكُمْ أَحَدٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ
وَهُوَ غَضْبَانُ
Tema: Janganlah seseorang di antara kalian
mengadili di antara dua orang (yang berselisih) ketika ia sedang marah! |
عن عبد الرحمن بن أبي بكرة قال: «كتب
أبي -أو كتبتُ له- إلى ابنه عبيد الله بن أبي بَكْرَةَ وَهُوَ قَاضٍ
بِسِجِسْتَانَ: أَنْ لا تَحْكُمْ بَيْنَ اثْنَيْنِ وأنت غضبان، فإني سمعت
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: لايحكم أحد بين اثنين وهو غضبان».
وَفِي
رِوَايَةٍ: «لا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بين اثْنَيْنِ وهو غَضْبَانُ».
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, ia
berkata, "Ayahku menulis -atau aku menuliskan- surat untuk putranya,
Ubaidullah bin Abi Bakrah, yang menjadi hakim di Sijistān: bahwa jangan
engkau mengadili di antara dua orang ketika engkau sedang marah.
Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda, "Janganlah seseorang di antara kalian mengadili di antara dua
orang (yang berselisih) ketika ia sedang marah!" Dalam riwayat lain,
"Janganlah seorang hakim memutuskan perkara di antara dua orang ketika
ia sedang marah!"
Penjelasan Hadits بيان الحديث
نَهى الشارع الحكيم أنْ يحكم الحاكِم
بَيْنَ النَّاسِ وَهُو غَضْبَان؛ ذلك لأَنَّ الغَضَبَ يُؤَثر على التوازُن
الشخصي للإنسان فلذلك لا يُؤْمَن أَنْ يَظْلِمً أَوْ يُخطِئ الصَّواب في
حالِ غَضَبِهِ؛ فَيَكُون ذَلِكَ ظُلْماً على المحْكُومِ عَلَيْهِ وحَسْرَةً
عَلى الحاكِمِ وإثماً عليه.
Allah sebagai Pembuat syariat Yang
Maha Bijaksana melarang hakim mengadili di antara manusia saat ia sedang
marah. Yang demikian itu karena marah bisa mempengaruhi kestabilan sikap
seseorang. Oleh sebab itu, ia beresiko bisa menzalimi atau tidak tepat
dalam memutuskan perkara di saat ia sedang marah. Sehingga ini bisa
menjadi tindak kezaliman pada orang yang dikalahkan, serta penyesalan
dan dosa bagi hakim itu. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2988 |
|
Hadith 68 الحديث
الأهمية: لَوْ أَنَّ رَجُلاً -أَوْ قَالَ:
امْرَأً- اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إذْنِكَ؛ فَحَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ،
فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ: مَا كَانَ عَلَيْك جُنَاحٌ
Tema: Seandainya seorang laki-laki -atau
seseorang- mengintipmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan
kerikil hingga engkau membuat matanya tercungkil, maka engkau tak
berdosa. |
عن أبي هُريرة -رضي اللهُ عنه- مرفوعًا:
«لو أن رجلا -أو قال: امْرَأً- اطَّلَعَ عليك بغير إِذْنِكَ؛ فَحَذَفْتَهُ
بحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عينه: ما كان عليك جُنَاحٌ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
secara marfū', "Seandainya seorang laki-laki -atau seseorang-
mengintipmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan kerikil
hingga engkau membuat matanya tercungkil, maka engkau tak berdosa."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه
إذا اطلع إنسانٌ على أحدٍ بغير إذنه من وراء بابه، أو من فوق جداره، أو غير
ذلك، ففقأ عينه بأن يرمي حصاة؛ فتصيب عينه، أو أن يطعن عينه بحديدة، فليس
على هذا المتلِف إثمٌ ولا قصاصٌ؛ لأن الناظر هو المتعدي والجاني بفعله هذا.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
mengabarkan bahwa jika seseorang mengintip orang lain tanpa seizinnya
dari balik pintunya, dari atas dindingnya atau dari tempat lain, lalu
dia melemparkan kerikil dan mengenai matanya hingga tercungkil atau
menusuk matanya dengan besi, maka ia tak ada dosa dan kisas bagi orang
yang melakukan kerusakan tersebut. Sebab, orang yang memandang
(mengintip) itu sendiri yang berlaku aniaya dan jahat dengan
perbuatannya itu. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2989 |
|
Hadith 69 الحديث
الأهمية: مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ فِي
حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ الله
Tema: Aku belum pernah melihat orang yang
berambut (panjang melebihi cuping telinga) dan mengenakan pakaian
berwarna merah yang lebih tampan dari Rasulullah. |
عن البراء بن عازب -رضي الله عنهما-
قال: «ما رأيتُ من ذِي لِمَّةٍ في حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أحسنَ من رسول الله
-صلى الله عليه وسلم-، له شَعْرٌ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ، بعيدُ ما بين
المَنْكِبَيْنِ، ليس بالقصير ولا بالطويل».
Dari Al-Barā' bin 'Āzib -raḍiyallāhu
'anhumā-, ia berkata, "Aku belum pernah melihat orang yang berambut
(panjang) dan mengenakan pakaian berwarna merah yang lebih tampan dari
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Beliau memiliki rambut yang
terurai sampai ke kedua bahunya. Jarak antara dua bahunya jauh, postur
beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
وصف البراء بن عازب -رضي الله عنهما-
نبي الله -صلوات الله وسلامه عليه- في هذا الحديث وصفًا يدل على حسنه
وجماله، فأخبر أنه لم ير أحدًا شعره يصل إلى شحمة أذنيه، ويلبس حلة حمراء
أحسن من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم ذكر شيئًا من وصفه، فأخبر أنه
كان بعيد المنكبين، ولم يكن معيبًا لا بالطول ولا بالقصر-صلى الله عليه
وسلم-.
Al-Barā' bin 'Āzib -raḍiyallāhu
'anhumā- menggambarkan (fisik) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam
hadis ini dengan penggambaran yang menunjukkan keelokan dan ketampanan
beliau. Ia memberitahukan bahwa dirinya belum pernah melihat seorang pun
yang rambutnya sampai ke daun telinganya dan mengenakan pakaian berwarna
merah yang lebih tampan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Lalu ia menuturkan sebagian bentuk fisik beliau, yaitu jarak antara
kedua bahu beliau cukup lebar, tidak memiliki kekurangan; postur tubuh
beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2990 |
|
Hadith 70 الحديث
الأهمية: مَا مِنْ مَكْلُومٍ يُكْلَمُ فِي
سَبِيلِ الله، إلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَكَلْمُهُ يَدْمَى:
اللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ
Tema: Tidaklah satu luka (yang dialami)
orang yang terluka di jalan Allah, melainkan ia pasti datang pada hari
kiamat dalam keadaan lukanya mengeluarkan darah. Warnanya warna darah
dan wanginya wangi minyak kasturi. |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: «ما من مَكْلُومٍ يُكْلَمُ في
سبيل الله، إلا جاء يومَ القيامة، وكَلْمُهُ يَدْمَى: اللَّونُ لَوْنُ
الدَّمِ، والرِّيحُ رِيحُ المِسْكِ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-,
ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Tidaklah satu luka (yang dialami) orang yang terluka di jalan Allah,
melainkan ia pasti datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya
mengeluarkan darah. Warnanya warna darah dan wanginya wangi minyak
kasturi."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يُبَينُ النبي -صلى الله عليه وسلم- فضل
الجهاد في سبيل الله -تعالى- وما ينال صاحبه، من حسن المثوبة، بأن الذي
يجرح في سبيل الله فيُقْتَلُ أو يبرأ، يأتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق
بِوِسَام الجهاد والبلاء فيه، إذ يجيء بجرحه طَريًّا، فيه لون الدم، وتفوح
منه رائحة المسك.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menjelaskan keutamaan jihad di jalan Allah -Ta'ālā- dan pahala yang
baik, yang akan diperoleh oleh pelakunya, bahwa orang yang terluka di
jalan Allah hingga terbunuh atau sembuh, maka pada hari kiamat akan
datang di hadapan semua manusia dengan mengenakan selendang jihad dan
musibah dalam jihad. Dia datang dengan membawa lukanya yang segar;
warnanya warna darah dan darinya semerbak wangi minyak kasturi. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2991 |
|
Hadith 71 الحديث
الأهمية: مَنْ أَعْتَقَ شِرْكاً لَهُ فِي عَبْدٍ،
فَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ الْعَبْدِ؛ قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيمَةَ
عَدْلٍ، فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ، وَعَتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ
Tema: Siapa yang memerdekakan bagiannya dari
satu budak, sedangkan jumlah hartanya yang ia miliki (untuk memerdekakan
budak itu) mencapai harga budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan
harga yang adil, lalu ia memberi sekutu-sekutunya sesuai bagian
masing-masing, dan budak tersebut merdeka dengan cara ini. |
عن عَبْدُ الله بن عمر-رضي الله عنهما-
عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَن أَعْتَقَ شِرْكًا له في عَبْدٍ,
فكان له مالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ العَبْدِ: قُوِّمَ عليه قِيمَةَ عَدْلٍ ,
فأعطى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ, وعَتَقَ عليه العَبْدُ , وإلا فقد عَتَقَ
منه ما عَتَقَ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda,
"Siapa yang memerdekakan bagiannya dari satu budak, sedangkan jumlah
hartanya yang ia miliki (untuk memerdekakan budak itu) mencapai harga
budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan harga yang adil, lalu ia
memberi sekutu-sekutunya sesuai bagian masing-masing, dan budak tersebut
merdeka dengan cara ini. Adapun jika ia tidak memiliki harta senilai
budak tersebut, maka ia telah memerdekakan bagiannya saja dari budak
tersebut."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
من كان له شراكة، ولو قليلة، في عبد، أو
أمة، ثم أعتق جزءا منه، عتق نصيبه بنفس الإعتاق، فإن كان المعتق موسرا
-بحيث يستطيع دفع قيمة نصيب شريكه- عتق العبد كله، نصيب المعتق ونصيب
شريكه، وينظر قيمة نصيب شريكه التي تساويها في السوق وأعطى شريكه القيمة.
وإن لم
يكن موسرا -بحيث لا يملك قيمة نصيب صاحبه- فلا إضرار على صاحبه، فيعتق
نصيبه فقط، ويبقى نصيب شريكه رقيقا كما كان.
Siapa yang memiliki bagian
persekutuan, meskipun sedikit, dalam satu budak laki-laki atau
perempuan, kemudian ia memerdekakan bagiannya maka bagiannya tersebut
merdeka dengan pembebasan itu. Jika orang yang memerdekakan ini berharta
-di mana ia mampu membayar harga bagian sekutunya- maka budak tersebut
merdeka secara keseluruhan baik dari segi bagian orang yang memerdekakan
ataupun bagian sekutunya. Lalu ia melihat harga bagian sekutunya (pada
budak itu) yang setara di pasaran dan memberi sekutunya harga tersebut.
Namun jika ia tidak berharta -yakni ia tidak memiliki harta senilai
bagian sekutunya- maka pembebasannya tersebut sama sekali tidak
merugikan sekutunya karena ia memerdekakan bagiannya saja, sedang bagian
sekutunya (pada budak itu) tetap sebagai budak seperti sedia kala. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2992 |
|
Hadith 72 الحديث
الأهمية: مَنْ أَعْتَقَ شِقْصَاً مِنْ مَمْلُوكٍ،
فَعَلَيْهِ خَلاصُهُ كُلُّهُ فِي مَالِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ؛
قُوِّمَ الْمَمْلُوكُ قِيمَةَ عَدْلٍ
Tema: Barangsiapa yang memerdekakan satu
bagian dari budak (yang dimiliki bersama), maka ia harus membebaskannya
secara keseluruhan dengan hartanya. Namun jika ia tidak memiliki harta,
budak itu dihargai dengan adil. |
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن رسول
الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «من أعتق شِقْصَاً مِنْ مملوك، فعليهِ
خَلاصُهُ كله في ماله، فإِنْ لم يكن له مال؛ قُوِّمَ المملوك قِيمَةَ
عَدْلٍ، ثمَّ اُسْتُسْعِيَ العبد، غير مَشْقُوقٍ عليه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-
dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa
yang memerdekakan satu bagian dari budak (yang dimiliki bersama), maka
ia harus membebaskannya secara keseluruhan dengan hartanya. Namun jika
ia tidak memiliki harta, budak itu dihargai dengan adil, kemudian budak
tersebut dipekerjakan (untuk menebus dirinya) tanpa memberatkannya."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أن من أعتق نصيباً له في مملوك؛ فإن
المعتق يلزمه عتق المملوك كله إذا كان له مال، أي: للمعتِق مال يتحمل ذلك،
بأن يدفع لشركائه قيمة حصتهم في المملوك ليصبح حرًّا، أما إذا لم يكن له
مال، أو له مال لا يتحمل ذلك، أو يترتب عليه إضرار به؛ فإنه في هذه الحالة
يخير العبد بين أمرين:
الأول: أن
يبقي نفسه في الملك بقدر الحصة التي بقيت فيكون مبعضاً، أي بعضه رقيق وبعضه
معتق؛ فإنه يجوز له في هذه الحالة أن يبقى مملوكاً مبعضاً.
الثاني:
أن يعمل ليدفع لمن لم يعتقه نصيبه، بعد أن يقوم المملوك قيمة عدل، ويسمى
الاستسعاء.
Orang yang memerdekakan bagiannya dari
budak (yang dimiliki bersama), maka orang yang memerdekakan ini harus
membebaskan budak tersebut secara keseluruhan, apabila ia memiliki
harta. Artinya, orang yang membebaskan tersebut memiliki harta yang
cukup untuk memerdekakan, yaitu dengan membayar harga bagian partnernya
dalam budak itu supaya menjadi merdeka. Adapun bila ia tidak memiliki
harta, atau mempunyai harta namun tidak mencukupi atau berpotensi
menimbulkan bahaya pada dirinya, maka dalam kondisi ini budak diberi dua
pilihan. Pertama, ia membiarkan dirinya dalam perbudakan sesuai bagian
yang belum dimerdekakan sehingga ia menjadi budak muba'aḍ, yakni
sebagian dirinya budak dan sebagian lain merdeka. Dalam kondisi seperti
ini ia boleh menjadi budak muba'aḍ. Kedua, ia bekerja untuk membayar
kepada partner yang belum memerdekakan bagiannya setelah budak ini
dihargai secara adil, dan ini disebut al-istis'ā`. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2993 |
|
Hadith 73 الحديث
الأهمية: مَنْ اقْتَنَى كَلْباً -إلاَّ كَلْبَ
صَيْدٍ، أَوْ مَاشِيَةٍ- فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ
قِيرَاطَانِ
Tema: Siapa yang memelihara anjing -kecuali
anjing untuk berburu atau menjaga ternak- maka pahala orang itu akan
berkurang dua qirāṭ setiap hari. |
عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما-
قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَن اقْتَنَى كَلْبًا
-إلا كلبَ صَيْدٍ، أو مَاشِيَةٍ- فإنه يَنْقُصُ من أَجْرِهِ كل يوم
قِيرَاطَانِ».
قال سالم:
وكان أبو هريرة يقول: «أو كلبَ حَرْثٍ»، وكان صَاحِبَ حَرْثٍ.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu
'anhumā- secara marfū', "Siapa yang memelihara anjing -kecuali anjing
untuk berburu atau menjaga ternak- maka pahala orang itu akan berkurang
dua qirāṭ setiap hari." Sālim berkata, "Abu Hurairah berkata, "Atau
anjing untuk menjaga tanaman." Dia sendiri pemilik tanaman.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
الكلب من البهائم الخسيسة القذرة؛ ولهذا
نهى الشرع الشريف الطاهر عن اقتنائه؛ لما فيه من المضار والمفاسد، من
ابتعاد الملائكة الكرام البررة عن البيت الذي هو فيه، ولما فيه من الإخافة
والترويع والنجاسة والضرر، ولما في اقتنائه من السفه.
ومن
اقتناه نقص من أجره كل يوم شيء عظيم، قُرِّب معناه بالقيراطين والله أعلم
قدر ذلك؛ لأن هذا عصى الله باقتنائه وإصراره على ذلك.
فإذا دعت
الحاجة إليه جاز اقتناؤه في أحد ثلاثة أشياء:
الأولى:
حراسة الغنم التي يخشى عليها من الذئب والسارقين.
الثانية:
حراسة الحرث.
الثالثة:
إذا قصد به الصيد.
فلهذه
المنافع يسوغ اقتناؤه وتزول اللائمة عن صاحبه.
Anjing termasuk binatang hina dan
kotor. Karena itu, syariat yang mulia dan suci melarang untuk
memeliharanya karena mengandung berbagai bahaya dan kerusakan. Di
antaranya malaikat yang mulia dan dekat dengan Allah akan menjauhi rumah
yang di dalamnya ada anjing. Anjing juga menimbulkan ketakutan,
kengerian, najis dan bahaya. Dan memelihara anjing merupakan kebodohan.
Orang yang memelihara anjing maka pahalanya akan berkurang sangat banyak
setiap hari. Diperkirakan maknanya sebesar dua qirāṭ dan Allah lebih
mengetahui ukuran itu. Hal ini disebabkan orang itu telah durhaka kepada
Allah karena memeliharanya dan terus melakukannya. Hanya saja jika ada
keperluan, maka dibolehkan untuk memelihara anjing dalam tiga hal:
Pertama: menjaga kambing yang dikhawatirkan (akan dimangsa) serigala dan
para pencuri. Kedua: menjaga tanaman. Ketiga: jika bertujuan untuk
berburu. Untuk berbagai manfaat ini, maka dibolehkan memelihara
anjing dan hilanglah celaan terhadap pemiliknya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2994 |
|
Hadith 74 الحديث
الأهمية: مَنْ حَلَفَ على يَمِينٍ بِمِلَّةٍ غير
الإِسْلامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فهو كما قال
Tema: Siapa bersumpah dengan sumpah atas
nama agama non-Islam secara dusta dan sengaja maka sumpah itu berlaku
seperti yang diucapkannya. |
عن ثابِت بْن الضَّحَاكِ -رضي الله عنه-
أنه بايع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تحت الشجرة، وأن رسول الله -صلى
الله عليه وسلم- قال: «من حلف على يمين بملة غير الإسلام، كاذبا
مُتَعَمِّدًا فهو كما قال، ومن قتل نفسه بشيء عُذِّبَ به يوم القيامة، وليس
على رجل نَذْرٌ فيما لا يملك» وَفِي رِوَايَة: «ولَعْنُ المؤمنِ
كَقَتْلِهِ». وفي رواية: «من ادَّعَى دَعْوَى كَاذِبَةً لِيَتَكَثَّرَ بها
لم يَزِدْهُ اللهُ -عزَّ وجل- إلا قِلَّةً».
Dari Ṡābit bin Aḍ-Ḍaḥḥāk -raḍiyallāhu
'anhu-, bahwa dia berbaiat kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa
sallam- di bawah pohon (Riḍwan) dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa
sallam- bersabda, “Siapa bersumpah dengan sumpah atas nama agama
non-Islam secara dusta dan sengaja maka sumpah itu berlaku seperti yang
diucapkannya; Siapa bunuh diri dengan sesuatu maka kelak di hari kiamat
akan disiksa dengannya; dan seseorang tidak boleh bernazar dengan
sesuatu yang tidak dimilikinya.” Dalam sebuah riwayat, “Melaknat orang
Mukmin sama saja dengan membunuhnya.” Dalam riwayat lainnya, “Siapa
mendakwa dengan dakwaan dusta untuk memperkaya diri maka Allah tidak
menambahkannya kecuali kemiskinan.”
Penjelasan Hadits بيان الحديث
روى ثابت بن الضحاك الأنصاري -أحد
المبايعين تحت الشجرة بيعة الرضوان يوم الحديبيِة- عن النبي -صلى الله عليه
وسلم- أنه قال ما معناه: من حلف على يمين بغير شريعة الإسلام، كأن يقول: هو
يهودي أو نصرانيّ، أو هو مجوسي، أو هو كافر أو بريء من الله ورسوله إن كان
كذا وكذا، متعمدًا كاذبًا في يمينه، فهو كما نسب نفسه إليه من إحدى الملل
الكافرة.
ومن قتل
نفسه بشيء، كسيف، أو سكين، أو رصاص، أو غير ذلك من آلات القتل، عُذب به يوم
القيامة.
ومن نذر
شيئاً لم يملكه كأن ينذر عتق عبد فلان، أو التصدق بشيء من مال فلان، فإن
نذره لاغ لم ينعقد؛ لأنه لم يقع موقعه، ولم يحل محله.
ومن لعن
مؤمنا، فكأنما قتله، لاشتراك اللاعن والقاتل بانتهاك حرم الله -تعالى-،
واكتساب الإثم، واستحقاق العذاب.
ومن تكبر
وتكثر بالدعاوى الكاذبة التي ليست فيه، من مال أو علم أو نسب أو شرف أو
منصب أو غيرها، مريدا بذلك التطاول، لم يزده الله إلا ذلَّةً وحقارة،؛ لأنه
أراد رفع نفسه بما ليس فيه، فجزاؤه من جنس مقصده.
Ṡābit bin Aḍ-Ḍaḥḥāk Al-Anṣārī -salah
seorang peserta Baiat Riḍwan pada saat Hudaibiyah- meriwayatkan dari
Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-, bahwa beliau bersabda yang
penjelasannya sebagai berikut, "Siapa bersumpah dengan selain syariat
Islam, seperti mengucapkan bahwa: Dirinya Yahudi, dirinya Nasrani,
dirinya Majusi, dirinya kafir, atau dia berlepas diri dari Allah dan
Rasul-Nya, jika dia seperti ini dan itu, dan dia mengucapkannya secara
sadar dan dusta dalam sumpahnya ini, maka berarti ia seperti yang ada
dalam muatan sumpahnya, yaitu memeluk salah satu agama bukan Islam
tersebut. Siapa bunuh diri dengan suatu alat, seperti pedang, pisau,
pistol atau alat mematikan lainnya maka dengan alat itu pula dia kelak
di hari Kiamat akan disiksa. Siapa yang bernazar dengan sesuatu yang
bukan miliknya, seperti bernazar akan memerdekakan budak milik orang
lain, atau bernazar menyedekahkan harta temannya maka nazarnya itu tidak
sah, karena tidak pada tempatnya. Siapa yang melaknat seorang Mukmin
maka sama saja dengan membunuhnya, karena ada kesamaan antara orang yang
melaknat dengan pembunuh, yaitu keduanya sama-sama merusak hal yang
menjadi hak Allah -Ta'ālā-, juga masing-masing mendapatkan dosa dan
berhak mendapatkan siksa. Siapa yang menyombongkan diri dan banyak
mengklaim sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harta benda, ilmu,
nasab, kemuliaan, pangkat atau lainnya dengan klaim yang dusta dengan
tujuan menghina dan meremehkan sesama, maka Allah tidak akan menambahkan
untuknya kecuali kehinaan dan kerendahan, karena dia hendak mengangkat
status dirinya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya sehingga balasannya
adalah sesuai tujuannya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2995 |
|
Hadith 75 الحديث
الأهمية: مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ
يَقْتَطِعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، هُوَ فِيهَا فَاجِرٌ، لَقِيَ
الله وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَان
Tema: Siapa yang bersumpah dengan sumpah
yang memaksa untuk merebut harta seorang Muslim, sedangkan dia berdusta
dalam sumpahnya tersebut, niscaya ia bertemu Allah dalam keadaan Dia
murka kepadanya. |
عن عبد الله بن مسعودٍ -رضي الله عنه-
مرفوعًا: (من حلف على يَمِينِ صَبْرٍ يَقْتَطِعُ بها مال امرئ مسلم، هو
فيها فاجر، لقي الله وهو عليه غضبان)، ونزلت: (إن الذين يشترون بعهد الله
وأيمانهم ثمنا قليلا) إلى آخر الآية".
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu
'anhu- secara marfū', "Siapa yang bersumpah dengan sumpah yang memaksa
untuk merebut harta seorang Muslim, sedangkan dia berdusta dalam
sumpahnya tersebut, niscaya ia bertemu Allah sedang Dia murka
kepadanya." Dalam hal ini turun ayat yang artinya, "Sesungguhnya
orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah
mereka dengan harga yang sedikit...". (Āli 'Imrān: 77)
Penjelasan Hadits بيان الحديث
الحديث وعيد شديد لمن أخذ مال امْرِئ
بغير حق، وإنما أخذه بخصومته الفاجرة، ويمينه الكاذبة الآثمة.
فهذا
يلْقَى الله وهو عليه غضبان، ومن غضب الله عليه فهو هالك، ثم تلا النبي-صلى
الله عليه وسلم- هذه الآية الكريمة، مصداقا لهذا الوعيد الأكيد الشديد من
القرآن الكريم.
Hadis ini adalah ancaman keras bagi
orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan.
Ia mengambilnya dengan permusuhannya yang jahat dan sumpah dustanya.
Maka orang ini akan bertemu Allah sedang Dia murka kepadanya.
Barangsiapa dimurkai Allah maka ia akan binasa. Kemudian Nabi
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat yang mulia ini untuk
membenarkan ancaman tegas dan keras ini dari Al-Qur'ān al-Karīm. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2996 |
|
Hadith 76 الحديث
الأهمية: مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاحَ
فَلَيْسَ مِنَّا
Tema: Siapa yang mengangkat senjata kepada
kami, maka ia bukan termasuk golongan kami |
عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- عن
النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاحَ
فَلَيْسَ مِنَّا».
Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyyallāhu
'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa
beliau bersabda, "Siapa yang mengangkat senjata kepada kami, maka ia
bukan termasuk golongan kami."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
يبين النبي -صلى الله عليه وسلم- أن
المؤمنين إخوة، يتألم بعضهم لألم بعضهم الآخر ويفرح لفرحه، وأن كلمتهم
واحدة فهم يد على من عاداهم.
فيلزمهم
الاجتماع والطاعة لإمامهم، وإعانته على من بغى وخرج عليه؛ لأن هذا الخارج
شق عصا المسلمين، وحمل عليهم السلاح، وأخافهم فيجب قتاله، حتى يرجع ويفئ
إلى أمر الله -تعالى-؛ لأن الخارج عليهم والباغي عليهم، ليس في قلبه، لهم
الرحمة الإنسانية، ولا المحبة الإسلامية، فهو خارج عن سبيلهم فليس منهم،
فيجب قتاله وتأديبه.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
menjelaskan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara; sebagian mereka
ikut menderita dengan penderitaan sebagian yang lain dan ikut gembira
dengan kegembiraannya. Mereka satu kata; mereka bersatu-padu melawan
orang yang memusuhi mereka. Sehingga mereka harus bersatu serta taat
kepada pemimpin mereka dan membelanya melawan orang yang zalim dan
memberontak kepadanya. Sebab orang yang memberontak tersebut telah
memecah belah persatuan kaum muslimin, mengangkat senjata kepada mereka,
dan menakut-nakuti mereka sehingga wajib diperangi sampai ia kembali dan
rujuk kepada perintah Allah - Ta'ālā-. Karena orang yang memberontak
kepada kaum muslimin dan menzalimi mereka, di dalam hatinya tidak
terdapat kasih sayang Islam. Di dalam hadis ini terkandung ancaman keras
yang menunjukkan bahwa dosa ini termasuk dosa besar yang menunjukkan
ancaman dan peringatan sehingga pelakunya wajib diperangi dan diberikan
pelajaran. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2997 |
|
Hadith 77 الحديث
الأهمية: مَنْ قَتَلَ قَتِيلاً لَهُ عَلَيْهِ
بَيِّنَةٌ فَلَهُ سَلَبُهُ
Tema: Siapa yang membunuh seorang musuh (di
medan jihad) dan ia mempunyai saksi, maka harta orang tersebut menjadi
miliknya |
عن أبي قتادة الأنصاري -رضي الله عنه-
قال: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُول الله -صلى الله عليه وسلم- إلَى حُنَيْنٍ
-وَذَكَرَ قِصَّةً- فَقَالَ رَسُولُ الله-صلى الله عليه وسلم-: مَنْ قَتَلَ
قَتِيلاً لَهُ عَلَيْهِ بَيِّنَةٌ فَلَهُ سَلَبُهُ» قَالَهَا ثَلاثاً.
Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri
-raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Kami keluar bersama Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ke Ḥunain –dan ia menyebutkan sebuah
kisah-, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Siapa
yang membunuh seorang musuh (di medan jihad) dan ia mempunyai saksi,
maka harta orang tersebut menjadi miliknya.” Beliau mengucapkannya tiga
kali.
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال يوم
حنين: من قتل قتيلاً له عليه شاهد أو دليل فله سلبه، أي: له ثياب المقتول
وسلاحه، ودابته التي قاتل عليها، وأن أبا قتادة قتل رجلاً، وقال لمن حوله:
إني قتلت رجلاً، فأقسم على من عرف ذلك أن يشهد لي قالها ثلاثاً.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-
bersabda pada hari Ḥunain, "Siapa yang membunuh musuh (di medan jihad)
dan ia memiliki saksi atau bukti maka harta orang tersebut menjadi
miliknya." Yakni ia berhak mendapatkan pakaian orang yang terbunuh
tersebut, senjatanya dan hewan tunggangan yang ia gunakan berperang. Dan
bahwasanya Abu Qatādah membunuh seseorang lalu ia berkata kepada
orang-orang di sekitarnya, "Sesungguhnya aku telah membunuh seorang
musuh maka aku bersumpah terhadap orang yang mengetahui hal itu agar
bersaksi untukku." Ia mengucapkannya tiga kali. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2998 |
|
Hadith 78 الحديث
الأهمية: غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ الله -صلى الله
عليه وسلم- سَبْعَ غَزَوَاتٍ، نَأْكُلُ الْجَرَادَ
Tema: Kami berperang bersama Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebanyak tujuh kali, kami selalu makan
belalang |
عن عَبْد اللهِ بن أبي أوفى -رضي الله
عنهما- قال: «غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- سَبْعَ
غَزَوَاتٍ، نَأْكُلُ الْجَرَادَ».
Dari Abdullah bin Abi Aufa
-raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebanyak tujuh kali, kami selalu makan
belalang."
Penjelasan Hadits بيان الحديث
أنَّ الله سبحانه وتعالى رَزَقَ
أصْحَابَ رَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - بِسَبْع غَزَوَات
يَمُدَّهُم بِالْجَرَاد لعدم وجود القُوتِ عندهم كما أمدَّهم بالعنْبر الذي
خرَجَ من البَحْرِ فأكلوا منه في غزوة أخرى.
Allah –Subḥānahu wa Ta'ālā- memberi
rezeki kepada sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berupa
belalang pada tujuh kali peperangan karena mereka tidak memiliki
persediaan logistik, sebagaimana Allah telah memberi mereka makanan
sejenis ikan paus yang keluar dari lautan, maka merekapun memakannya
pada peperangan yang lainnya. |
Grade And Record التعديل والتخريج
[Hadis sahih] ← → Muttafaq 'alaih]
Referensi: Ensiklopedia Hadits @ 2999 |
|
©
EsinIslam.Com Designed & produced by The Awqaf London. Please pray for us
|